Anda di halaman 1dari 31

TUGAS RESUME TENTANG TEMPERATUR

PEMOTONGAN DAN KEAUSAN PAHAT

Dosen Pembimbing : Kardiman, ST.,MT.

Disusun Oleh :
Didik Yanuari 1441177005017
Anggadita Bayu P 1441177005045
Mochamad Zamaluddin 1441177005074
Teguh Masum 1441177005095

Dio Alif Bayu P 1441177005160

Adie Triyono 1441177005205

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN S1


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI SINGAPERBANGSA KARAWANG
2016
BAB V

TEMPERATUR PEMOTONGAN

DAN KEAUSAN PAHAT

Hampir seluruh enersi pemotongan diubah menjadi panas*melalui proses gesekan ,


antara garam dengan pahat dan anatara pahat dengan benda kerja, serta proses perusakan
ikatan molekuler atau ikatan ato pada biang geser ( shear plane ) . Panas ini sebagian besar
terbawa oleh geram , sebagian merambat melalui pahat dan sisa nya mengalir melalui benda
kerja. Panas yang timbul tersebut cukup besar dan karena luas bidang kontak relatip kecil
,maka temperatur pahat, terutama pada bidang geram dan bidang utama, akan sangat tinggi.
Karena tekanan yang besar akibat gaya pemotongan serta temperatur yang tinggi maka
permukaan aktif dari pahat akan mengalami keausan. Keausan tersebut makin lama makin
membesar yang selain memperlemah pahat juga akan memperbesar gaya pemotongan
sehingga dapat menimbulkan kerusakan fatal oleh sebab itu pembahasan atas pengaruh
berbagai variabel proses pemotongan terhadap temperatur pemotongan dan mekanisme
kerusakan/keausan pahat akan merupakan inti dari bab ini .Tujuan nya jelas, karena dengan
menguasai pengetahuan tersebut proses permesinan dapat di rencanakan dengan lebih baik ,
dimana kecepatan penghasilan geram dapat di pertinggi dengan kenaikan temperatur yang
relatip rendah atau untuk mencapai umur pahat yang tinggi .

5.1. Temperatur pemotongan.

Kerja/energi mekanis dalam proses pemotongan yang bebas getaran seluruh nya di
ubah menjadi panas/kalor . Enersi mekanis persatuan waktu atau daya mekanis yang diubah
menjadi enersi panas persatuan waktu tersebut dapat di tuliskan sebagai berikut :

Qsh QY Q
Q= + + ;W 5.1

Dimana, Q=panas total yang dihasilkan perdetik

F v .V
= 60 ; J/s atau W
*sebagian kecil diserap oleh getaran yang mungkin terjadi dalam proses pemotongan.

Qsh = Panas yang dihasilkan pada bidang geser

Fs. V s

= 60 ; J/s atau W

QY = panas yang dihasilkan perdetik pada bidang geram

F Y .V e

= 60 ; J/s atau W

Q = Panas yang dihasilkan perdetik pada bidamg utama.

Berdasarkan hasil penelitian pada berbagai kondisi pemotongan, prosentasi panas yang
dihasilkan pada bidang geser, bidang geram dan bidang utama masing-masing berkisar
diantara harga 80%, dan 2% .

Panas tersebut sebagian akan terbawa oleh geram, sebagian mengalir kepahat dan
benda kerja dengan presentase sebagai berikut :

QC QS QW
Q= + + ;W

(5.2)

C=
Dimana; Q Panas yang terbawa oleh geram dengan prosentase sekitar 75%

QS = Panas yang merambat merelalui pahat dengan prosentase sekitar 20%

QW = Panas yang merambat melalui benda kerja dengan prosentase sekitar

5%
Gambar 5.1 Menunjukan prosentase panas pada proses gurdi sebagai fungsi darikecepatan
potong . Semakin tinggi kecepatan potong semakin besar prosentase panas yang terbawa oleh
geram .
Gambar 5.1. Distribusi panas dalam proses menggurdi .

Panas total yang ditimbulkan permenit dapat di hitung dari rumus berikut :

kS
Q = .A.V. ; J/min

FV
Dimana, =gaya potong ; N

KS
= .A

KS =gaya potong spesifik * ; N/mm2

A =Penampang geram ; mm2

V =kecepatan potong ; m/min

Panas yang terbawa oleh geram adalah :

Q C = C .w. c W : J/min

(5.4)

C 0K
Dimana , = Kenaikan temperatur geram ; .

W = berat geram yang terbentuk permenit ; g/min


W W
= Z. =A. V.
Z = Kecepatan pembentukan geram ; cm3/min

W
= berat spesipik material/benda kerja ; g/cm3

cW
= Panas spesifik benda kerja ; J/ (g.K)

q
Apabila menyatakan rasio dari panas yang dibuang oleh geram terhadap panas total

yang dihasilkan proses pemotong , maka :

QC c . A . V . w . Cw
q
= Q = K s . A .V

C P c C vw
q W CW

= KS = KS

c vw
Dimana , = panas spesifik volumetris dari benda kerja ; J/(cm3K ) .

Dengan demikian temperatur geram relatif terhadap temperatur kerja paling tinggi hanya
akan mencapai :

*merupakan sifat benda kerja dan dipengaruhi oleh kondisi pemotongan , akan di bahas lebih
lanjut bab vlll, rumus empiris gaya pemotongan .

Ks
c
= C vw ; oC

q
Yaitu bila harga mencapai satu ( umumnya berharga 70% s/d 75% ) .

Persamaan 5.7 menyatakan bahwa benda kerja yang mempunyai gaya potong spesifik yang
rendah serta panas spesifik volumetris yang tinggi akan menghasilkan temperatur geram yang
relatif rndah .

Meskipun prosentiase panas yang terbawa geram sangat tinggi tidaklah berarti bahwa
temperatur geram menjadi lebih tinggi dari temperatur pahat . panas mengalir bersama-sama
geram yang selalu terbentuk dengan kecepatan tertetu, sedangkan panas yang merambat
mellui pahat terjadi sebagai proses konduksi panas yang di pengaruhi oleh konduktifitas
panas material pahat serta penampang pahat yang relatif kecil . Dengan demikian temperatur
rata-rata pahat akan lebih tinggi (kurang lebih dua kali nya ) dari pada temperatur rata-rata
geram . Garam 5.2 menunjukan temperatur rata-rata geram , serta temperatur benda kerja ,
sebagai fungsi dari kecepatan potong dalam proses mengefreis .
Gambar 5.2. Temperatur pahat , geram dan benda kerja sebagai fungsi dari kecepatan
potong dalam proses mengefreis .

Distributor temperatur pada ujung pahat yang baru saja terbentuk diperlihatkan seperti
gambar 5.3.*Dari gambar tersebut dapat di simpulkan bahwa temperatur tertinggi terjadi pada
bidang geram pada daerah agak jauh dari mata potong yaitu kurang lebih pada lokasi dimana
geram yang melengkung mulai berpisah dengan permukaan pahat .

*Di perkirakan berdasarkan percobaan labolatorium dengan teknik foto graphi yang
menunjukan perbedaan warna akibat perbedaan temperatur .
Gambar 5.3. Distribusi temperatur dalam proses pemotongan .

5.2 pengaruh variabel proses terhadap temperatur pemotongan

Analisa dimensional banyak digunakan secara intensif dalam memecahkan masalah


perpindahan panas dan aliran fluida dengan hasil yang memuaskan. Oleh sebab itu analsa
tersebut dapat pula dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah temperatur pemotongan ini.
Pada garis besarnya analisa dimensional berusaha untuk mencari besaran tak berdimensi yang
didapatkan dengan cara menggabungkan berbagai besaran fisik yang diperkirakan
mempunyai pengaruh yang paling dekat dengan masalah yang dihadapi. Kemudian dilakukan
percobaan untuk melihat kolerasi antara dua atau beberapa besaran tak berdimensi.

Berdasarkan logika, pengetahuan serta pengalaman dari hasil2 percobaan, maka


besaran-besaran fisik yang diperkirakan mempunyai pengaruh terhadap temperatur
pemotongan adalah sebagai berikut:

Temperatur E harus diikutkan


Daya pemotongan akan diubah menjadi enersi persatuan waktu, sehingga perlu
diikutkan besaran-besaran fisik yang mempengaruhi daya yaitu penampang geram(A),
gaya potong(Ks), dan kecepatan potong(V).
Perambatan panas dipengaruhi oleh konduktivitas panas. Karena sebagian panas
dibawa ke geram maka konduktivitas panas benda kerja(w) lebih penting dari pada
konduktivitas panas pahat (s).
Kenaikan temperatur dipengaruhi oleh kapasitas panas spesifik benda kerja (cw).
Panas spesifik ini apabila dikalikan dengan kerapatan massa (w) akan menghasilkan
panas spesifik volumetris (Cvw) , yang mana diperkirakan lebih cocok untuk dipilih
karena mempunyai kaitan dengan kecepatan penghasilan geram yang dihitung
berdasarkan volume material yang dibuang persatuan waktu.

Tabel rangkuman besaran fisik

Besaran fisik Simbol Dimensi dasar


Temperatur E
Penampang geram A L2
Kecepatan potong V L T -1
Gaya potong spesifik Ks M L-1 T-2
Konduktivitas panas benda kerja w M L T -3 -1
Panas spesifik volumetris(Cw Cvw M L-1 T-2 -1
w)

Menurut teorema phi dari buckungham karena ada 6 besaran fisik yang penting dengan 4
dimensi dasar maka paling sedikit dapat dibentuk dua besaran tak berdimensi guna
mengkorelasikan enam besaran fisik diatas. Dalam hal ini, karena ada 4 dimensi dasar maka
dipilih 4 besaran fisik yang mempunyai dimensi dasar yang cukup lengkapsebagai anggota
dari kedua besaran tak berdimensi tersebut. Dengan demikian dua besaran tak berdimensi
yang dimaksud :

1 =vaKsbwcCvwd E dan

2= veKsfwgCvwh A

Masukkan dimensi dasarnya kedalam persamaan, maka didapat:

1= La T-a. Mb L-b T-2b. Mc Lc T-3c -c. Md L-d T-2d -d

Supaya 1 tak berdimensi , jelas bahwa penjumlahan aljabar dari pangkat untuk masing-
masing dimensi dasar harus berharga nol, maka:
Pangkat dari dimensi panjang L akan berharga nol bila :

a-b+c-d=0

Pangkat dari dimensi waktu T akan berharga nol bila :

-a-2b-3c-2d=0

Pangkat dari dimensi massa M akan berharga nol bila :

B+cd=0

Pangkat dari dimensi temperatur akan berharga nol bila :

-c-d+1=0

Penyelesaian 4 persamaan diatas dengan 4 harga tak diketahui (a,b,c,d) akan menghasilkan

a=0;b=-1;c=0; dan d=1

dengan menggantikan harga tersebutpada persamaan maka diperoleh

Cvw E
1= Ks

dengan cara yang sama seperti diatas akan didapat e=2;f=0;g=-2;h=2 , sehingga

v 2 c 2 vw A
2 = 2w

korelasi antara dua besaran tak berdimensi dapat dicari dengan menggunakan serangkaian
percobaan yang memungkinkan penentuan beberapa pasangan harga. Sebagai percobaan
mula dapat dipilih cara yang paling sederhana yaitu dengan memilih satu kombinasi benda
kerja dan pahat yang tertentu yang mencakup dua set percobaan masing-masing dengan
besaran fisik yang diubah, yaitu kecepatan potong v dan kemudian penampang geram A.
Percobaan tersebut umumnya menghasilkan bentuk fungsi pangkat sebagai berikut:

1 = C . 2n
Salah satu hasil percobaan yang lebih intensif yang mencakup berbagai benda kerja dan
kondisi pemotongan adalah. Terlihat bahwa semua titik percobaan tersebar secara rambang
disekitar garis lurus yang merupakan fungsi linier setelah dilakukan transformasi logaritmis.

log 1 = log C + n log 2

Apabila besaran tak berdimensi digantikan dengan besaran fisik yang menjadi anggotanya
maka diperoleh:

Cvw E v 2. Cvw 2. A
Ks =c{ 2w }n

Dengan metode kuadrat kecil

C . Ks .V 2 n . An
Atau E = w2 n . Cvw 12 n

Untuk n=0.22, maka

C . Ks . V 0.44 . A 0.22
E = w 0.44 .Cvw 0.56
tiga hal yang dapat disimpulkan dari rumus diatas

Besaran fisik yang paling berpengaruh terhadap temperatur pemotongan adalah gaya
potong spesifik dari benda kerja .
Temperatur yang kurang lebih berbanding terbalik dengan akar dari besaran panas.
Kondisi pemotongan yang dipilih akan menentukan tinggi rendahnya temperatur
pemotongan.

Hal ini diperlukan pertimbangan dalam hal penaikan kecepatan penghasilan yang dapat
ditempuh dengan 2 cara:

Kecepatan potong tetap dan penampang naik dua kali, maka temperatur pemotongan akan
naik sebanyak:

E = (20.22-1)100% =17%

Penampang geram tetap dan kecepatan potong naik dua kali, maka maka temperatur
pemotongan akan naik sebanyak:

E = (20.44-1)100% =36%

Cara pertama cenderung dipilih bila sistem pemotongan cukup kaku, sebab kenaikan
penampang geram setaraf dengan kenaikan gaya pemotongan.

5.3 kerusakan dan keausan pahat

Dalam prakteknya umur pahat tidak hanya dipengaruhi oleh geometri pahat saja
melainkan juga oleh semua faktor yang berkaitan dengan proses permesinan yait antara lain,
jenis material benda kerja dan pahat, kondisi pemotongan, cairan pendingin dan jenis
pemesinan. Dalam berbagai situasi seperti iniproses pemesinan tidak akan berlangsung terus
sebagaimna yang dikehendaki karena makin lama pahat akan menunjukan tanda-tanda yang
menjurus kedalam kegagalan proses pemesinan.kerusakan atau keausan pahat akan terjadi
dan penyebabnya harus diketahui untuk menentukan tindakan koreksi sehingga dalam proses
pemesinan selanjutnya umur pahat akan relatif lebih tinggi.
5.3.1 bidang aktif pahat yang mengalami keausan

Selama proses pembentukan geram berlangsng, pahat dapat mengalami kegagalan dari
fungsinya yang normal karena berbagai sebab antara lain:

Keausan yang secara bertahap membesar


Retak yang menjalar
Deformasi plastis

Jenis kerusakan yang terahir jelas disebabkan oleh tekanan dan temperatur yang tinggi pada
bidang aktif pahar dimana kekerasan dan kekuatan material pahat akan turun bersama dengan
naiknya temperatur. Karena bentuk dan letaknya yang spesifik , keausan pada bidang geram
disebut dengan keausan kawah dan keausan pada bidang utama dinamakan keausan tepi.

Keausan tepi dapat diukur dengan menggunakan mikroskop, dimana bidang mata potong
diatur sehingga tegak lurus sumbu optis. Besar keausan dapat dihitung dengan mengukur
jarak antara mata potong sebelum terjadi kausan samapai kegaris rata-rata bekas keausan.
Sedangkan keausan kawah dapar diukur dengan memakai alat ukur kekasaran permukaan.
Selama proses pemotongan berlangsung kedua kerusakan berlangsung setaraf dengan
bertambahnya waktu pemotongan.untuk beberapa keadaan keausan kawah dapat tumbuh
dengan cepat, dan pada keadaan lain justru tidak terjadi.

Pada situasi tertentu permukaan aktif pahat tidak menunjukan tanda-tanda keausan yang
berarti, tetapi dalam pemakaian selanjutnya mata potong pahat tiba-tiba rusak. Hal ini
menunjukan bahwa penyebab dari keausan tidaklah merupakan suatu faktor yang unik yang
selalu sama tidak tergantung dari kondisi proses pemotongan.

5.3.2 bentuk geram

Geram hasil proses pemotongan dianggap material yang kontinu dengan tebal yang
beraneka ragam bentuknya tergantung dari material benda kerja, jenis proses pemesinan dan
kondisi pemotongan yang digunakan.
Ada 2 jenis geram:

Geram kontinu
Geram tak kontinu

Geram tak kontinu umumnya terbentuk dalam proses pemesinan dengan benda kerja yang
rabuh. Geram tersebut mendekati bentuk serpihan atau bahkan berupa serbuk, dan demikian
mempermudah untuk membuangnya. Geram yang kontinu mempersulit pembuangannya,
biasanya terjadi pada benda kerja yang ulet. Karena telah mengalami regangan yang tinggi,
geram akan lebih keras dari benda kerja, tajam dan temperatur tinggi.
5.3.3 mekanisme keausan dan kerusakan pahat

Kerusakan pahat merupakan suatu faktor yang dominan atau gabungan dari faktor tertentu:

Proses abrasif
Proses kimiawi
Proses adhesi
Proses difusi
Proses oksidasi
Proses deformasi plastis
Proses keretakan dan kelelahan

5.3.3.1 proses abrasif

Permukaan dapat rusak karena adanya partikel yang keras pada benda kerja yang menggesek
bersamaan dengan aliran material benda kerja pada bidang geram dan bidang pahat. Proses
abrasif merupakan faktor dominan sebagai penyebab keasan pahat hss dengan kecepatan
potong yang relatif rendah.

5.3.3.2 proses kimiawi

Dua permukaan yang saking bergesekan dengan tekanan yang cukup besar beserta
lingkungan kimiawi yang aktif dapat menyebabkan interaksi antara material pahat dengan
benda kerja. Permukaan benda kerja yang baru saja terbentuk sangat aktif sehingga mudah
bereaksi kembali dan menempel pada permukaan pahat. Pada kecepatan potong yang
rendah,oksigen dalam udara pada celah diantara pahat dengan geram atau benda kerja
mempunyai peluang untuk bereaksi dengan material benda kerja, sehingga akan mengurangi
derajat penyatuan dengan permukaan pahat. Akibatnya daerah kontak dimana pergeseran
antara metal dengan metal akan lebih luas sehingga proses keausan karena gesekan akan
terjadi lebih cepat. Dengan demikian pelumas amat diperlukan untuk mengurangi kontak
antara metal dengan metal.
5.3.3.3 proses adhesi

Pada tekanan dan temperatur yang relatif tinggi, permukaan metal yang baru saja terbentuk
akan menempel dengan permukaan metal yang lain. Proses adhesi terjadi sekitar mata potong
pada bidang geram dan bidang utama pada dari pahat. Dengan demikian permukaan bidang
geram dan bidang utama didekat mata potong tidak pernah mengalami gesekan langsung
dengan aliran material benda kerj. Kontak hanya mungkin terjadi pada daerah disebelah
belakang dari daerah penempelan tersebut.
Karena pada semua kondisi pemotongan , proses adhesi didaerah dekat dekat mata potong
hampir selalu terjadi,maka daerah tersebut dinamakandaerah aliran, yang dapat digambarkan
sebagai aliran fluida yang mempunyai kecepatan aliran nol tepat pada batas pemisah. Bentuk
dan distribusi kecepatan aliran metal tergantung dari jenis material benda kerja dan kondisi
pemotongan., contohnya:

Benda kerja nikel dengan pahat karbida mempunyai afinitas yang besar sehingga
geram akan menempel dengan kuat, sebaliknya benda kerja magnesium mempunyai
afinitas yang lemah terhadap pahat hss
Pada kecepatan potong yang rendah aliran metal akan kurng teratur, sedangkan pada
kecepatan potong yang tinggi aliran metal tersebut lebih teratur.

Karena aliran maerial yang kurang teratur pada kecepatan potong yang rendah dan bila daya
adhesi atau afinitas antara material benda kerja dan material pahat cukup kuat maka akan
terjadi proses penumpukkan lapisan material benda kerja pada bidang geram didaerah dekat
mata potong.Penumpukkan material dalam proses pemesinan disebut BUE ( Built Up Edge )
yang mengubah geometri pahat ( sudut geram o ) karena berfungsi sebagai mata potong
yang baru dari pahat yang bersangkutan.BUE merupakan struktur yang dinamis, karena telah
mengalami regangan yang tinggi ,BUE dalam proses pemotongan baja akan menjadi strain
hardened dengan kekerasan antara 600 s/d 700 HV ,dengan struktur perlit yang patah dan
tersebar sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar 5.10
Jika kecepatan potong dinaikkan maka temperatur akan naik sehingga dapat mencapai
batas rekristalisasi dari BUE.Akibatnya struktur BUE akan melemah dan tidak tahan terhadap
stress geser yang tinggi.BUE akan lenyap dan diganti degan daerah aliran ( flow zone ) yang
mempunyai karakteristik aliran metal yang lebih teratur.
BUE yang terkelupas akan terbawa oleh geram dan sebagian yang lain akan
menempel pada bidang transien benda kerja.Kecepatan potong pada saat BUE menghilang
berkisar daintara harga v = 20 s s/d 30 m/min.Ditinjau dari kekasaran hasil pemotongan
,dapat BUE akan merugikan dalam prose pemotongan terputus atau bila getaran cukup besar,
pada saat beban kejut terjadi seluruh struktur BUE dapat terkelupas dan membawa sebagian
material pahat yaitu pada batas butir martensit ( pahat HSS ).Proses pertumbuhan dan
pengelupasan BUE terjadi secara periodik sehingga mata potong pahat akan cepat aus dan
pada suatu saat ujung pahat tidak kuat lagi menahan gaya pemotongan yang makin membesar
sehingga tidak terjadi kerusakan fatal.

Untuk proses pemotongan dengan kecepatan rendah dengan kondisi tanpa beban kejut
, BUE akan lebih stabil pengelupasan hanya pada lapisan atas BUE,sehingga permukaan
pahat terlindungi.Jika geram mempunyai bentuk serpihan ( pemotongan besi tuang ) dengan
adanya
BUE yang stabil umur pahat akan sangat panjang.Untuk geram kontinu , sedapat mungkin
proses pemesinnan direncanakan pada kondisi diman BUE tidak terbnetuk , karena selain
kekasaran permukaan keausan karena abrasi akan menjadi dominan ( adanya gerakan relatif
atau gesekan metal dengan metal.

PROSES DIFUSI

Proses difusi yaitu proses dimana terjadi pelekatan ( adhesi ) antara material benda
kerja dengan pahat di bawah tekanan dan temperatur yang tinggi serta adanya aliran metal
( geram dan permukaan terpotong relatif terhadap pahat ).Kecepatan keausan karena proses
difusi dipengaruhi oleh :
Daya larut ( solubility ) dari berbagai fasa dalam struktur maetrial pahat terhadap
material benda kerja,

Termperatur, dan

Kecepatan aliran metal yang melarutkan

Untuk pahat HSS ,atom besi dan karbon terdifusi sehingga butir karbidanya kan kehilangan
pegangan dan terkelupas terbawa oleh geseran metal benda kerja yang melekat karena adanya
tegangan geser yang tinggi.Pada pahat karbida ( Cemented cerbide ) Cobalt sebaagai pengikat
butiran karbida akan terdifusi , akan tetapi butiran tidak terkelupas.Hal ini disebabkan oleh
dua faktor , pertama karena ikatan antara butiran karbida cukup kompak (80 % volumenya
terdiri dari butiran karbida )dan kedua karena atom besi dari benda kerja akan terdifusi
kedalam struktur pahat sehingga mengantikan Cobalt sebagai pengikat.
Kecepatan difusi dipengaruhi oleh temperatur , dengan demikian bidang pahat yang
mempunyai temperatur yang tinggi akan mengalami keausan karena proses difusi.Pada
kecepatan potong yang tinggi ,keausan kawah ( crater wear ) pada bidang geram akan timbul
yang diawali dengan terjadinya meknisme difusi.Dalam hal yang khusus ,yaitu pada
pemotongan nikel ( dan paduannya ) mata potong menderita temperatur yang tinggi sehingga
tidak terjadi keausan kawah.
Kecepatan aliran metal menentukan kecepata proses difusi.Hal ini ditunjukkan bahwa
meskipun temperatur bidang utama pahat jauh lebih rendah dari temperatur bidang geram
yang sangat dekat dengan mata potong, akan tetapi justru keausan karena difusi terjadi pada
bidang utama.
Proses Oksidasi

Pada kecepatan potong yang tinggi ( temperatur yang tinggi ) ketahanan karbida atas
proses oksidasi akan menurun.Karbida dapat teroksidasi bila temperaturnya cukup tinggi dan
tidak ada perlindungan terhadap serangan oksigen dalam atmosfir.Akibatnya struktur material
pahat akan lemah dan tidak tahan akan deformasiyang disebabkan oleh gaya
pemotongan.Cairan pendingin dalam batas-batas tertentu mampu mencegah terjadinya proses
oksidasi.

Proses Deformasi Plastis

Kekuatan pahat akan menahan tegangan tekan ( compresive stress ) merupakan sifat
dari material pahat yang dapat dipengaruhi oleh temperatur.Hal inilah yang merupakan faktor
utama yang membatasi kecepatan penghasilan geram bagi suatu jenis pahat.Pahat HSS lebih
lemah dibandingkan pahat Karbida, sehingga kekerasan benda kerja yang dapat dipotong
dengan HSS umumnya < 350 HV ( mungkin juga sampai 450 asal kecepatan potong dan
penanmpang geram diperkecil ).Deformasi plastis juga dapat terjadi pada lapisan terluar
pahat HSS, itu karena bila pojok pahat mengalami beban kejut ( impact load ).Untuk itu perlu
dpilpih pahat dari jenis yang lebih ulet.

Proses Keretakkan dan Kelelahan


Retak yang terjadi pada mata potong yang menjalar sampai terjadi stress
concentration yang besar sehingga pahat akan patah disebut Kelelahan.Kelelahan dibedakan
menjadi dua macam yaitu kelelahan mekanis dan termis.Kelelahan mekanis disebabkan oleh
beban yang berfluktusi, sedangkan kelelahan termis disebabkan oleh tegangan yang
berfluktuasi oleh variasi temperatur.
BUE pada pahat karbida dapat menyebabkan terjadinya keretakan karena koefisien
muai material karbida lebih rendah dari pada koefisien muai baja
KESIMPULAN

Semakin besar daya maka panas pemotongan semakin tinggi.Daya pemotogan yang
tinngi akan terjadi apabila di inginkan kecepatan geram yang tinggi atau da;am proses
pemesinan dari benda kerja yang memiliki gaya spesifik lebih tinggi.
Temperatur pahat lebih dipengaruhi oleh kecepatan potong dari pada gerak
potong.Karena kecepatan potong menentukan tinggi rendahnya temperatur pahat ,
Keausan pahat dipengaruhi 2 faktor , yaitu proses yang dominan pada kecepatan
potong yang rendah dan tinggi.
Pada kecepatan potong yang rendah proses abrasif kimiawi, dan adhesi adalah
penyebab keausan/kerusakan pahat.Material benda kerja yang baru terpotong sangat kimiatif
sehingga langsung menempel pada bidang geram dan bidang utama pahat,karena adanya
penempelan benda kerja pada pahat maka darah tersbut tidak akan terjadi gesekan relatif
antara benda kerja dan pahatmelainkan flow zone.Karena kecepatan potong rendah kondisi
aliran metal tidak teratur dan karena gaya adhesi maka akan terjadi penumpukan mtaal pada
benda potong yang disebut BUE ( Built Up Edge )
Pada kecepatan potong yang rendah penyebab keausan pahat antara lain : proses
difusi, oksidasi, dan deformasi plastis.dan BUE tidak terbentuk dan aliran metal flow zone
lebih teratur.Proses difusi terjadi karena temperatur, tekanan, aliran metal yang tinngi.
Atom Besi dan karbon pada pahat HSS terdifusi sehingga butir karbida terkelupas.Atom
Karbon pada pahat Karbida dapat terdifusi bila temperatur tinggi.Semakin tinggi temperatur
pahat, maka kekuatan menurun dan dapat menyebakan deformasi plastis.Deformasi
dibedakan menjadi 2 yaitu ,deformasi karena beban tekan akan mengubah bentuk mata
potong, deformasi karena beban geser yang tinggi akan menyebakan keausan kawah ( crater
wear ).Selain keausan mata potong juga bisa mengalami kertakan karena fluktuasi mekanis
dan termis.
Dari pembahasan di atas tersimpul bahwa mekanisme keausan pahat bukan hal yang
sederhana, masih diperlukan penelitian lebih lanjut.Ketahanan terhadap keausan bukan
merupakan sifat unik dari materialpahat yang dapat dikorelasikan dengan sifat fisiknya
( kekerasan , kekuatan ) tapi dipengaruhi oleh jenis material benda kerja dan kondisi
pemotongan.Pengetahuan ats mekanisme keausan amat di pelukan trutama dalam usaha
menemukan jenis material pahat yang baru atau dalam pemilihan kondisi pemotongan yang
paling baik bagi suatu kombinasi jenis pahat dengan benda kerja tertentu.