Anda di halaman 1dari 29

MINIATUR ALAT KONTROL AIR OTOMATIS

Disusun Oleh:

Fina Khiliyatus Jannah


NIS:
9950696962

Hirzi Chandani
NIS :
9950828450

SMA SUGAR GROUP


SITE PT. GULA PUTIH MATARAM
LAMPUNG TENGAH
2013
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Projek : Alat Kontrol Air Otomatis


Disusun Oleh : Fina Khiliyatus Jannah (NIS : 9950696962 )
Hirzi Chandani (NIS : 9950828450)

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal 8 Februari 2013 oleh:

Wakil Kepala Sekolah


Guru Pembimbing Bidang Kesiswaan Kepala Sekolah

Sugeng Riyanto Nugrohodi Joko Muhammad Nur


KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena rahmat dan hidayah-Nya,

penulis dapat menyelesaikan penulisan karya tulis ini.

Karya tulis yang berjudul Alat Kontrol Air Otomatis bertujuan untuk

memudahkan penggunaan pompa air dalam pengisian tangki air sehingga dapat

mengurangi penggunaan energi yang ada serta mengurangi jumlah air yang

terbuang saat tangki sudah penuh.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang

telah membimbing saya untuk menyelesaikan proyek ini. Sebagian dari mereka

perlu disebutkan secara khusus, yaitu:

1. Bapak Sugeng Riyanto, selaku guru pembimbing.

2. Bapak Nugrohodi, selaku wakil kepala sekolah bidang kesiswaan.

3. Bapak Joko Muhammad Nur, selaku kepala sekolah

4. Orang tua dan teman-teman yang telah memberikan saran dan kritik terhadap

proyek ini.

Penulis mengakui bahwa penulisan karya tulis ini belum sempurna. Untuk itu

penulis harapkan saran dan kritik yang dapat membangun penulis menjadi lebih

baik. Semoga karya tulis ini berguna bagi pembaca.

Lampung, 8 Februari 2013

Penulis
DAFTAR ISI

halaman
LEMBAR PENGESAHAN... i
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI.. iii
DAFTAR TABEL.. iv
DAFTAR GAMBAR......... v
ABSTRAK.vi
BAB I PENDAHULUAN..1
1.1 Latar Belakang. 1
1.2 Rumusan Masalah... 2
1.3 Tujuan dan Manfaat. ....2
1.4 Hipotesis.................. 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 3
2.1 Kapasitor................. 3
2.2 Dioda
2.3 Relay
2.4 Transformator
2.5 Resistor
2.6 Rangkaian Pengukur Ketinggian Air..
2.7 Asas Bernoulli
2.8 Prinsip Kontinuitas
BAB III PROSEDUR PEMBUATAN ALAT...
3.1 Alat dan Bahan
3.2 Cara Pembuatan
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Desain dan Rangkaian.
4.2 Hasil.
4.3 Pembahasan.
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan..................
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA....
DAFTAR TABEL

halaman
Tabel 1. Hasil Percobaan
DAFTAR GAMBAR

halaman
Gambar 1. Kapasitor
Gambar 2. Dioda
Gambar 3. Relay

Gambar 4. Bagian-bagian Transformator

Gambar 5. Transformator

Gambar 6. Lambang Transformator

Gambar 7. Resistor

Gambar 8. Rangkaian Pengukur Ketinggian Air

Gambar 9. Asas Bernoulli

Gambar 10. Pipa

Gambar 11. Pemasangan Komponen Elektronik

Gambar 12. Desain Rangkaian

Gambar 13. Pelekatan Rangkaian Elektronik

Gambar 14. Pemasangan Trafo dan Motor Listrik

Gambar 15. Pengujian Rangkaian

Gambar 16. Pemasangan Elektroda pada Stoples

Gambar 17. Pemasangan Alat pada Kotak Kayu

Gambar 18. Alat Kontrol Air Otomatis

Gambar 19. Rangkaian pada PCB

Gambar 20. Miniatur Alat


ABSTRAK
ALAT KONTROL AIR OTOMATIS

Oleh: Fina Khiliyatus Jannah


dan
Hirzi Chandani

Banyak masyarakat yang masih menggunakan cara manual yaitu dengan


menyalakan dan mematikan pompa air sesuai dengan keinginan untuk mengisi
tangki air. Hal ini bisa mengakibatkan kurang efisiennya penggunaan energi.
Selain itu, penggunaan cara tersebut mengakibatkan meningkatnya jumlah air
yang terbuang saat tangki sudah penuh dan pengguna lupa mematikan pompa air.
Oleh sebab itu, penulis terinspirasi untuk mengembangkan alat pengukur
ketinggian air menjadi alat kontrol air otomatis. Tujuan pembuatan alat ini adalah
untuk mengembangkan rangkaian dari alat pengukur ketinggian air.
Proyek ini dilakukan dengan melakukan modifikasi, yaitu melakukan
pengembangan dari alat pengukur ketinggian air. Proyek ini akan dilakukaan dari
bulan September 2011 sampai dengan Juni 2012 di perumahan blok F I30.
Dari alat pengukur ketinggian air, bisa didapatkan alat kontrol air
otomatis. Alat ini dapat menyalakan dan mematikan pompa air secara otomatis
sesuai dengan pengaturan yang dibuat.

Kata kunci: pompa air, energi, dan otomatis.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini, penggunaan energi masih perlu mendapatkan perhatian khusus.


Banyak masyarakat yang kurang memperhatikan keefisienan dari penggunaan
energi yang ada. Masyarakat cenderung menggunakan energi yang ada sesuai
dengan keinginannya. Jika dibiarkan terus-menerus, maka hal ini dapat
mengakibatkan adanya krisis energi. Seperti contohnya pada kasus pengisian
tangki penampungan air, masyarakat masih banyak menggunakan cara manual.
Saat kondisi tangki kosong, masyarakat menyalakan pompa air untuk mengisi
tangki tersebut secara manual. Kemudian, saat tangki sudah terisi penuh dengan
air, masyarakat mematikan pompa air tersebut secara manual pula.

Kasus seperti ini masih banyak ditemukan di lingkungan perumahan PT


GPM I. Masyarakat cenderung menggunakan cara manual tersebut dalam
melakukan pengisian pada tangki. Dalam penggunaan yang seperti ini, hal
tersebut mengakibatkan banyak energi yang terbuang, sehingga jumlah energi
listrik yang digunakan untuk mengisi tangki tersebut menjadi kurang terkontrol.
Selain itu, saat pengguna lupa mematikan air pada saat tangki sudah terisi penuh,
menyebabkan terbuangnya air dengan sia-sia.

Berkaitan dengan hal itu, ada rangkaian yang bisa dikembangkan menjadi
alat kontrol air otomatis untuk membantu masyarakan menyalakan dan
mematikan pompa air secara otomatis, yaitu alat pengukur ketinggian air
otomatis. Berdasarkan hal tersebut, penulis terinspirasi untuk membuat alat
kontrol air otomatis.
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dapat dirumuskan yaitu:


Bagaimana cara mengembangkan alat pengukur ketinggian air otomatis menjadi
alat kontrol air otomatis ?

1.3 Tujuan Penelitian

Membuat alat kontrol air otomatis melalui pengembangan dari rangkaian alat
pengukur ketinggian air otomatis.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Mengontrol penggunaan energi listrik yang digunakan untuk mengisi tangki
penampungan air secara manual.
1.4.2 Mengurangi jumlah air yang terbuang saat tangki air sudah penuh dan
pengguna lupa untuk mematikannya.

1.5 Hipotesis
Pembuatan alat kontrol air otomatis dapat dilakukan dengan cara merubah
rangkaian listrik menggunakan beberapa komponen baru dari rangkaian pengukur
ketinggian air otomatis.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kapasitor

Kapasitor (Kondensator) yang dalam rangkaian elektronika dilambangkan


dengan huruf "C" adalah suatu alat yang dapat menyimpan energi atau muatan
listrik di dalam medan listrik dengan cara mengumpulkan ketidakseimbangan
internal dari muatan listrik. Kapasitor ditemukan oleh Michael Faraday (1791-
1867). Satuan kapasitor disebut Farad (F).

Struktur sebuah kapasitor terbuat dari 2 buah plat metal yang dipisahkan
oleh suatu bahan dielektrik. Bahan dielektrik merupakan sejenis bahan yang tidak
menghantarkan listrik yang dapat memiliki kutup dengan cara menempatkan
bahan dielektrik dalam medan listrik. Bahan-bahan dielektrik yang umum dikenal
misalnya udara vakum, keramik, gelas dan lain-lain. Jika kedua ujung plat metal
diberi tegangan listrik, maka muatan-muatan positif akan mengumpul pada salah
satu kaki metalnya dan pada saat yang sama muatan-muatan negatif terkumpul
pada ujung metal yang satu lagi. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju
ujung kutub negatif dan sebaliknya muatan negatif tidak bisa menuju ke ujung
kutub positif, karena terpisah oleh bahan dielektrik yang tidak konduktif. Muatan
elektrik ini tersimpan selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung kakinya. Di
alam bebas, fenomena kapasitor ini terjadi pada saat terkumpulnya muatan-
muatan positif dan negatif di awan.
Gambar 1. Kapasitor

2.2 Dioda

Dioda merupakan piranti tanpa linier karena grafik arus terhadap tegangan
bukan berupa garis lurus, hal ini karena adanya potensial penghalang (Potential
Barrier). Ketika tegangan dioda lebih kecil dari
tegangan penghambat tersebut maka arus dioda akan kecil, namun ketika
tegangan dioda melebihi potensial penghalang arus dioda akan naik secara cepat.
Dioda memiliki fungsi yang unik yaitu hanya dapat mengalirkan arus satu arah
saja.

Struktur dioda tidak lain adalah sambungan semikonduktor P dan N. Satu


sisi adalah semikonduktor dengan tipe P dan satu sisinya yang lain adalah tipe N.
Daerah P terdiri dari lubang, sedangkan daerah N terdiri dari elektron. Dengan
struktur demikian arus hanya akan dapat mengalir dari sisi P menuju sisi N.

Gambar 2. Dioda

2.3 Relay

Relay adalah komponen elektronika berupa saklar elektronik yang


digerakkan oleh arus listrik. Secara prinsip, relay merupakan tuas saklar dengan
lilitan kawat pada besi batang (solenoid) di dekatnya. Relay biasanya digunakan
untuk menggerakkan arus atau tegangan yang besar (misalnya peralatan listrik 4
ampere 220 Volt AC) dengan memakai arus atau tegangan yang kecil (misalnya
0.1 ampere 12 Volt DC). Relay terdiri dari coil dan contact, coil adalah
gulungan kawat yang mendapat arus listrik, sedang contact adalah sejenis saklar
yang pergerakannya tergantung dari ada tidaknya arus listrik di coil. Contact ada
2 jenis yaitu Normally Open dan Normally Closed. Normally Open adalah kondisi
awal sebelum relay diaktifkan open, sedangkan Normally Closed adalah kondisi
awal sebelum relay diaktifkan close. Secara sederhana, prinsip kerja dari relay,
yaitu ketika coil mendapat energi listrik (energized), akan timbul gaya
elektromagnet yang menarik armature yang berpegas, kemudian contact akan
menutup.

Gambar 3. Relay

2.4 Transformator (Trafo)

Transformator (trafo) adalah alat yang digunakan untuk menaikkan atau


menurunkan tegangan bolak-balik (AC). Transformator terdiri dari 3 komponen
pokok yaitu: kumparan pertama (primer) yang bertindak sebagai input, kumparan
kedua (skunder) yang bertindak sebagai output, dan inti besi yang berfungsi untuk
memperkuat medan magnet yang dihasilkan.
Gambar 4 . Bagian-Bagian Transformator

Gambar 5. Transformator Gambar 6. Lambang Transformator

Prinsip kerja dari sebuah transformator adalah sebagai berikut. Ketika


Kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan bolak-balik, perubahan
arus listrik pada kumparan primer menimbulkan medan magnet yang berubah.
Medan magnet yang berubah diperkuat oleh adanya inti besi dan dihantarkan inti
besi ke kumparan sekunder, sehingga pada ujung-ujung kumparan sekunder akan
timbul ggl induksi. Efek ini dinamakan induktansi timbal-balik (mutual
inductance).

Berdasarkan perbandingan antara jumlah lilitan primer dan jumlah lilitan


skunder transformator ada dua jenis yaitu:

1. Transformator step up yaitu transformator yang mengubah tegangan


bolak-balik rendah menjadi tinggi, transformator ini mempunyai jumlah
lilitan kumparan sekunder lebih banyak daripada jumlah lilitan primer (Ns
> Np).

2. Transformator step down yaitu transformator yang mengubah tegangan


bolak-balik tinggi menjadi rendah, transformator ini mempunyai jumlah
lilitan kumparan primer lebih banyak daripada jumlah lilitan sekunder (Np
> Ns).
2.5 Resistor

Resistor adalah elemen dari jaringan listrik dan sirkuit elektronik dan di
mana-mana di sebagian besar peralatan elektronik. Praktis resistor dapat dibuat
dari berbagai senyawa dan film, serta resistensi kawat (kawat terbuat dari paduan
Resistivitas tinggi, seperti nikel / krom). Karakteristik utama dari sebuah resistor
adalah resistensi, toleransi, tegangan kerja maksimum dan power rating.
Karakteristik lainnya meliputi koefisien temperatur, kebisingan, dan induktansi.
Kurang terkenal adalah perlawanan kritis, nilai yang disipasi daya di bawah batas
maksimum yang diijinkan arus, dan di atas batas yang diterapkan tegangan.
Perlawanan kritis tergantung pada bahan yang merupakan resistor dan juga
dimensi fisik, melainkan ditentukan oleh desain. Resistor dapat diintegrasikan ke
dalam sirkuit hibrida dan dicetak, serta sirkuit terpadu. Ukuran, dan posisi lead
(atau terminal) yang relevan dengan peralatan desainer; resistor harus secara fisik
cukup besar untuk tidak terlalu panas ketika menghilangkan kekuasaan mereka.

Sebuah resistor adalah terminal dua komponen elektronik yang


menghasilkan tegangan pada terminal yang sebanding dengan arus listrik
melewatinya sesuai dengan hukum Ohm:

V=IxR
Gambar 7. Resistor

2.6 Rangkaian Pengukur Ketinggian Air Otomatis

Rangkaian ini merupakan rangkaian yang digunakan untuk mengukur


ketinggian air pada tangki. Secara otomatis, rangkaian ini akan menunjukkan
kondisi ketinggian air yang ditampilkan dengan output berupa LED. LED akan
menyala berdasarkan elektroda yang ada. Rangkaian ini terdiri dari lima
elektroda, yaitu ground, over, high, medium, dan low. LED akan menyala saat air
menyentuh elektroda sesuai dengan level yang ada.

Gambar 8. Rangkaian Pengukur Ketinggian Air

2.7 Asas Bernoullli

Prinsip ini ditemukan oleh Daniel Bernoullli (1700-1782), sehingga asas ini
dikenal dengan asas Bernoulli. Asas ini berbunyi :
Pada pipa mendatar (horizontal), tekanan fluida paling besar
adalah pada bagian yang kelajuan alirnya paling kecil, dan
tekanan paling kecil adalah pada bagian yang kelajuan alirnya
paling besar.

Asas ini menyatakan bahwa jumlah tekanan energi kinetik per satuan volume
selalu bernilai sama pada setiap titik sepanjang garis arus

Gambar 9. Asas Bernoulli


Keadaan 1 dan 2 dihubungkan dengan persamaan Bernoulli berikut.

Keterangan:
p1 dan p = tekanan di titik 1 dan 2 (N/m)
v1 dan v2 = kecepatan aliran di titik 1 dan 2 (m/s)
h1 dan h2 = ketinggian titik 1 dan 2 (m)
= massa jenis fluida (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (m/s2)

2.8 Persamaan Kontinuitas


Persamaan kontinuitas menyatakan bahwa debit aliran fluida selalu konstan.
Persamaan kontinuitas merupakan suatu persamaan yang menghubungkan
kecepatan fluida di suatu tempat dengan tempat lain. Debit aliran adalah besaran
yang menunjukkkan volume fluida yang mengalir melalui suatu penampang tiap
satuan waktu dirumuskan sebagai berikut.

Gambar 10. Pipa

Berdasarkan persamaan kontinuitas, debit fluida pada luas penampang yang


beerbeda-beda dirumuskan sebagai berikut.

Keterangan:
Q = debit aliran fluida (m3/s)
V = volume fluida (m3)
t = waktu (sekon)
v = kecepatan fluida (m/s)
A = luas penampang (m2)
BAB III
PROSEDUR PEMBUATAN ALAT

Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari modifikasi dan
eksperimen. Modifikasi dapat diartikan sebagai upaya melakukan perubahan
dengan penyesuaian-penyesuaian baik dalam segi fisik maupun material (fasilitas
dan perlengkapan) maupun dalam tujuan dan cara (metode, gaya, pendekatan,
aturan serta penilaian). Eksperimen adalah jenis penelitian yang merekayasa atau
mengatur kondisi tertentu sesuai dengan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini,
kondisi air diletakkan di dalam sebuah tabung kecil, sehingga alat kontrol air
dapat diuji kepekaannya.

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat yang digunakan berupa:


Solder
PCB
Tenol
Kabel kontrol
Terminal listrik
Stoples
Kaki lampu
Paku
Lampu 220 V
Palu
3.1.2 Bahan yang digunakan yaitu:
Resistor R1, R2, R3: 470
Resistor R4, R5, R6: 1
Transistor Q1-4: A1015
LED 5 mm
Trafo 220 V/12 V
Dioda 3 A
Elco: 1ooo F
Relay: 12 V
Motor listrik: 12 V
Air
Kayu
3.2 Cara Pembuatan

Langkah langkah membuat alat kontrol air otomatis:


1. Menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan sesuai dengan yang telah
disebutkan.
2. Merangkai bahan komponen elektronik, kecuali trafo dan motor listrik sesuai
dengan gambar rangkaian pada PCB.

Gambar 11. Pemasangan Komponen Elektronik Gambar 12. Desain Rangkaian


3. Melekatkan komponen tersebut pada PCB dengan menggunakan solder dan
tenol.

Gambar 13. Pelekatan Komponen Elektronik


4. Menghubungkan trafo dan motor listrik pada rangkaian tersebut.

Gambar 14. Pemasangan Trafo dan Motor Listrik


5. Melakukan uji coba rangkaian tersebut pada air.
Gambar 15. Pengujian Rangkaian
6. Memasangkan elektroda pada stoples sesuai dengan ukuran pada desain.

Gambar 16. Pemasangan Elektroda pada Stoples


7. Membuat kotak dari kayu untuk rangkaian dan mengganti motor listrik dengan
lampu 220 V sebagai pengganti pompa air.

Gambar 17. Pemasangan Alat pada Kotak Kayu Gambar 18. Alat Kontrol Air Otomatis
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Desain Rangkaian

Dalam percobaan yang saya lakukan ini, menghasilkan sebuah alat kontrol air
yang berasal dari pengembangan alat pengukur ketinggian air.

Gambar 12. Desain Rangkaian

Gambar di atas menjelaskan rangkaian alat kontrol air otomatis. Rangkaian ini
terdiri dari rangkaian paralel dimana arus yang mengalir terbagi untuk lima
elektroda. Pada rangkaian alat ini mendapatkan tambahan komponen relay
sehingga dapat mengatur kerja dari pompa air secara otomatis.
Gambar 19. Rangkaian pada PCB

Gambar ini merupakan gambar komponen yang sudah dipasang pada PCB. Pada
rangkaian tersebut, terdapat kabel berwarna kuning biru yang menghubungkan
rangkaian dengan trafo. Sedangkan kabel merah biru menghubungkan rangkaian
dengan motor listrik.

Gambar 20. Miniatur Alat

Pada gambar ini, rangkaian dipasang pada kotak kayu dan komponen motor listrik
diganti dengan menggunakan kaki lampu.
4.2 Hasil

Tabel 1. Hasil Percobaan

PERCOBAAN ALAT HASIL

Motor listrik LED belum menyala

Karena pada saat


menyolder, kondisi
1
solder terlalu panas.

Motor listrik LED belum menyala

2 Karena ada beberapa


komponen yang
kurang menempel
pada rangkaian.

3 Motor listrik Sukses

LED menyala

4 Lampu Sukses

LED menyala

4.3 Pembahasan

Dari hasil percobaan, alat kontrol air otomatis dibuat dari pengembangan
alat pengukur ketinggian air. Alat ini dapat menunjukkan ketinggian air pada
tangki air sesuai dengan pengaturan ketinggian yang sudah diatur dengan
menghasilkan nyala pada LED. Selain itu, alat tersebut dapat bekerja secara
otomatis untuk mematikan pompa air saat tangki sudah penuh dan menghidupkan
pompa air saat tangki dalam keadaan kosong.

Cara kerja alat ini yaitu, saat rangkaian sudah dihubungkan ke sumber listrik
dan kondisi tangki kosong, maka relay pokok yang terletak di dekat sumber
tegangan pada gambar berada pada posisi Normally Closed (NO) dan secara
otomatis membuat pompa air menyala. Kemudian saat posisi air berada pada
elektroda low, maka LED low akan menyala dan relay yang berada di atas
rangkaian sebelumnya, berubah posisi dari Normally Open (NO) menjadi
Normally Closed (NC).

Hal ini terjadi karena Ground dengan elektroda low terhubung oleh air.
Kemudian, saat air mencapai elektroda medium, maka elektroda medium
terhubung oleh Ground dan membuat LED medium menyala. Hal ini berlaku juga
untuk elektroda high, saat posisi air berada pada elektroda high, Ground dan
elektroda high akan terhubung dan menyebabkan LED pada elektroda high
menyala.Saat air berada pada elektroda over, maka posisi relay teratas akan
berubah dari Normally Closed (NC) menjadi Normally Open (NO) dan membuat
pompa air mati secara otomatis.

Dalam pembuatan miniatur, penulis menggunakan motor listrik sebagai


pengganti pompa air. Kemudian pada tahap selanjutnya, penulis mengganti motor
listrik dengan lampu. Hal ini dilakukan untuk menyamakan tegangan yang
digunakan pada pompa air dengan yang ada pada lampu, yaitu sebesar 220 Volt.
Saat memasangkan alat ini ke tangki, maka perlu menyesuaikan terlebih dulu
ketinggian tangki dengan jarak antar kabel detektor , contohnya: Tinggi tangki
125 cm -> jarak air dengan permukaan tangki = 3 cm, jarak antar LED = 24 cm,
jarak antara LED akhir dengan dasar tangki = 2 cm.

Pada penelitian ini, diperoleh data dalam bentuk tabel. Percobaan pertama
LED belum dapat menyala karena terdapat beberapa komponen yang rusak. Hal
ini disebabkan karena penggunaan solder yang terlalu panas. Pada percobaan
kedua juga rangkaian belum berfungsi dan LED belum menyala. Hal ini
disebabkan karena kurang menempelnya alat pada papan PCB. Pada percobaan
ketiga sukses, rangkaian sudah berfungsi dan LED menyala. Kemudian pada
percobaan keempat, motor listrik diganti dengan lampu dan hasilnya sukses,
rangkaian berfungsi dan LED juga menyala.
Rangkaian ini juga dapat diaplikasikan untuk mempelajari asas Bernoulli.
Pada stoples yang berisikan air pada alat ini bisa diamati perubahan ketinggian air
saat alat sedang bekerja. Hal ini mempengaruhi tekanan serta kecepatan yang
dimiliki oleh air tersebut pada ketinggian tertentu. Peristiwa ini berkaitan dengan
asas Bernoulli dimana jumlah energi kinetik per satuan volume dan energi
potensial per satuan volume selalu sama pada setiap titik ketinggian elektroda
sepanjang garis arus.

Rangkain ini juga dapat diaplikasikan untuk mengamati debit dari air yang
mengalir pada stoples. Volume dari air yang masuk ke dalam stoples tiap satuan
waktu menunjukkan debit aliran air tersebut.
BAB V

PENUTUP

5.1 Simpulan

Alat kontrol air otomatis dapat dibuat melalui pengembangan dari alat pengukur
ketinggian air, yaitu dengan cara menambahkan komponen tertentu, seperti relay,
dioda dan elco pada alat pengukur ketinggian air yang kemudian hasilnya bisa
digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

5.2 Saran

Bagi peneliti selanjutnya, penulis menyarankan agar peneliti selanjutnya dapat


melakukan pengembangan dari alat ini menjadi lebih baik lagi dengan
menambahkan speaker sebagai outputnya.

DAFTAR PUSTAKA
Arifianto, Deni. 2011. Kumpulan Rangkaian Elektronika Sederhana. Jakarta: PT
Kawan Pustaka.
Chasanah, Risdiyanti dan Rinawan Abadi. Detik-detik Ujian Nasional Fisika.
Klaten: PT Intan Pariwara.
Linggih, Suardhana dan Kamajaya. 1986. Penuntun Pelajaran Fisika. Bandung:
Ganeca Exact Bandung.
http://prihadisetyo.wordpress.com/2009/05/06/mengatur-kerja-pompa-air-secara-
otomatis/. Diunduh pada 28 November 2011.
http://mnoto.wordpress.com/2009/10/26/sistem-kontrol-penampung-air/. Diunduh
pada 28 November 2011.
http://soerya.surabaya.go.id/AuP/e-
DU.KONTEN/edukasi.net/SMP/Fisika/Transformator/. Diunduh pada 29
November 2011.
http://matrikpolinema.forumotion.com/t8-pengertian-dan-jenis-resistor . Diunduh pada 8
Januari 2013