Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM LINGKUNGAN I

PENETAPAN COD DAN BILANGAN PERMANGANAT

Oleh:

Kelompok 2

1 Aulia Ramandha (1142005003)


2 Dessy Fadiilah (1142005008)

Asisten:
Fithri Zakiyah

TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS BAKRIE

JAKARTA

2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.1.1 Penetapan COD
COD atau Chemical Oxygen Demand merupakan kebutuhan oksigen
untuk proses kimia. Hasil penetapan COD banyak digunakan untuk
pengukuran beban pencemaran dari suatu buangan rumah tangga dan buangan
industri. Hasil penetapan ini menunjukkan kebutuhan oksigen total untuk
mengoksidasi bahan-bahan organik dalam sampel air menjadi CO2 dan air,
dan ini merupakan informasi tambahan terhadap test BOD sebagai parameter
pencemar.

Dibandingkan dengan penetapan BOD, penetapan COD memakan


waktu yang relatif lebih singkat. Dan hasil penetapan ini sangat bermanfaat
dalam mengidentifikasi kondisi toksok dan adanya bahan-bahan yang non
biodegradable.

Penetapan COD didasarkan atas kenyataan bahwa hampir semua


senyawa organik dapat dioksidasi dengan bantuan oksidator jumlah dalam
kondisi asam. Aminonitrogen akan diubah menjadi ammonia nitroge (NH 4+)
dan pada oksidasi selanjutnya akan diubah menjadi nitrat (NO3). Selama
proses penetapan COD, bahan-bahan organik akan diubah menjadi CO2 dan
air tanpa melihat kemampuan asimilasi secara biologis terhadap bahan-bahan
tersebut. Sebagai contoh, glukosa dan lignin akan dioksidasi secara tuntas,
sehingga hasil penetapan COD akan lebih besar dari pada hasil penetapan
BOD. Ada 2 metode penetapan COD yang sering dilakukan, yaitu :

Metode permanganat

Metode bichromat

Oksidasi oleh permanganat sangat bervariasi menurut jenis bahannya,


dan tingat oksidasinya juga sangat bervariasi menurut kekuatan reagen yang
dipergunakan. Diantara kedua metode tersebut, bichromat menghasilkan
tingkat oksidasi yang lebih tinggi, sehingga metode ini lebih banyak digunaan

2
pada saat ini. Selanjutnya pembicaraan mengenai COD hanya k=akan
ditunjukkan pada metode bichromat saja. Penentuan COD pada praktikum ini
akan menggunakan metode Spektrofotometri dan menggunakan COD reaktor.

1.1.2 Penetapan Bilangan Permanganat

Penentuan bilangan permanganat ditujukan untuk menentukan


kandungan zat organik di dalam air alam; seperti sungai, air sumur, atau air
permukaan yang bersih dan sumber air minum. Bilangan permanganat
menunjukkan banyaknya zat organik yang mampu teroksidasi oleh kalium
permanganat dalam suasana asam dan pemanasan. Pada prinsipnya penentuan
bilangan permanganat sama dengan penentuan COD, hanya penyajian data
dalam bilangan permanganat dinyatakan sebagai mg KMnO 4/liter sedangkan
COD dinyatakan dalam mg O2/liter.

Gangguan dalam analisa ini sama seperti yang ditunjukkan dalam


analisis COD, namun gangguan tersebut tidak begitu berarti bila analisis
ditujukan untuk memeriksa air bersih dengan kadar organik rendah dan zat
pengganggu rendah. Analisis terhadap air dengan kandungan zat organik yang
tinggi dan ada gangguan ion halogen dilakukan dengan menambah AgSO4.

1.2 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ini adalah untuk :

1.2.1 Penetapan COD

1. Menentukan jumlah kebutuhan oksigen kimiawi pada air sampel


2. Membandingkan besarnya jumlah COD yang didapat dengan
standar baku mutu yang ada

1.2.2 Penetapan Bilangan Permanganat

3
1. Menghitung kandungan KMnO4 di dalam air sebagai indikasi
adanya bahan-bahan organik dalam air.
2. Metode yang digunakan dalam penetapan bilangan permanganat
adalah titrasi permanganometri berdasarkan prinsip oksidasi-
reduksi

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Chemical Oxygen Demand (COD)


Kebutuhan oksigen kimiawi atau COD menggambarkan jumlah
total oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara
kimiawi, baik yang dapat didegradasi secara biologis maupun yang sukar
didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O (Boyd, 1998).
Keberadaan bahan organik dapat berasal dari alam ataupun dari
aktivitas rumah tangga dan industri. Perairan yang memiliki nilai COD
tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan perikanan dan petanian. Nilai
COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya kurang dari 29 mg/liter.
Sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari 200 mg/liter pada
limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/liter (UNISCO/WHO/UNEP.
1992).
Pengujian COD pada air limbah memiliki beberapa keunggulan
dibandingkan pengujian BOD. Keunggulan itu antara lain :
a. Sanggup menguji air limbah industri yang beracun yang tidak dapat
diuji dengan BOD karena bakteri akan mati.
b. Waktu pengujian yang lebih singkat, kurang lebih hanya 3 jam.
Chemical Oxygen Demand (COD) adalah jumlah oksigen (mgO2)
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang ada dalam 1 l
sampel air, dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber
oksigen. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat
organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses
mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut didalam
air.
Prinsip analisa COD yaitu sebagian besar zat organis melalui tes
COD ini dioksidasi oleh K2Cr2O7 dalam keadaan asam yang mendidih
seperti reaksi berikut :

5
E
2- +
CaHbOc + Cr2O7 + H CO2 + H2O + Cr3+ (Reaksi 1)

Zat organis Ag2SO4


( Warna Kuning ) ( Warna Hijau )

Reaksi ini berlangsung 2 jam, uap direfluks dengan alat kondensor, agar
zat organis volatil tidak lenyap ke luar.
Perak Sulfat Ag2SO4 ditambahkan sebagai katalisator untuk
mempercepat reaksi, sedang merkuri sulfat ditambahkan untuk
menghilangkan gangguan klorida yang pada umumnya ada didalam air
buangan.
Untuk memastikan bahwa hampir semua zat organis habis
teroksidasi maka zat pengoksidasi K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah
di refluks. K2Cr2O7 yang tersisa didalam larutan tersebut digunakan
untuk menentukan berapa oksigen yang telah terpakai. Sisa K2Cr2O7
tersebut ditentukan melalui titrasi dengan feroamonium sulfat (FAS),
dimana reaksi yang berlangsung adalah sebagai berikut :
6 Fe 2+ + Cr2O72- + 14 H+ 6 Fe 3+ + 2 Cr3+ + 7 H2O
( Reaksi 2 )
Indikator feroin digunakan untuk menetukan titik akhir titrasi yaitu
di saat warna hijau-biu larutan menjadi coklat-merah. Sisa K2Cr2O7 dalam
larutan blanko adalah K2Cr2O7 awal, karena diharapkan blanko tidak
mengandung zat organis yang dapat dioksidasi oleh K2Cr2O7 (Boyd, 1998).

2.2 Bilangan Permanganat

Penetapan kadar zat dalam praktek ini berdasarkan reaksi redoks dengan
KMnO4 atau dengan cara permanganometri. Hal ini dilakukan untuk menentukan
kadar reduktor dalam suasana asam dengan penambahan asam sulfat encer, karena
asam sulfat tidak bereaksi terhadap permanganat dalam larutan encer.Pembakuan
KMnO4 dibuat dengan melarutkan KMnO4 dalam sejumlah air, dan
mendidihkannya selama beberapa jam dan kemudian endapan MnO 2 disaring.
Endapan tersebut dibakukan dengan menggunakan zat baku utama, yaitu natrium

6
oksalat. Larutan KMnO4 yang diperoleh dibakukan dengan cara mentitrasinya
dengan natrium oksalat yang dibuat dengan pengenceran kristalnya pada suasana
asam. Pada pembakuan larutan KMnO4 0,1 N, natrium oksalat dilarutkan
kemudian ditambahkan dengan asam sulfat pekat, kemudian dititrasi dengan
KMnO4 sampai larutan berwarna merah jambu pucat. Setelah didapat volume
titrasi, maka dapat dicari normalitas KMnO4 (anonim, 2009.d).

Pada permanganometri titran yang digunakan adalah kalium permanganat.


Kalium permanganat mudah diperoleh dan tidak memerlukan indikator kecuali
digunakan larutan yang sangat encer serta telah digunakan secara luas sebagai
pereaksi oksidasi selama seratus tahun lebih. Setetes permanganat memberikan
suatu warna merah muda yang jelas kepada volume larutan dalam suatu titrasi.
Kalium permanganat sukar diperoleh secara sempurna murni dan bebas sama
sekali dari mangan oksida. Lagipula, air suling yang biasa mungkin mengandung
zat-zat pereduksi yang akan bereaksi dengan kalium permanganat dengan
membentuk mangan dioksida.

Kalium permanganat dapat bertindak sebagai indikator, dan umumnya


titrasi dilakukan dalam suasan asam karena karena akan lebih mudah mengamati
titik akhir titrasinya. Namun ada beberapa senyawa yang lebih mudah dioksidasi
dalam suasana netral atau alkalis contohnya hidrasin, sulfit, sulfida, sulfida dan
tiosulfat .Reaksi dalam suasana netral yaitu :

MnO4 + 4H+ + 3e MnO4 +2H2O

Kenaikan konsentrasi ion hidrogen akan menggeser reaksi kekanan

Reaksi dalam suasana alkalis :

MnO4- + 3e MnO42-

MnO42- + 2H2O + 2e MnO2 + 4OH-

MnO4- + 2H2O + 3e MnO2 +4OH-

7
Reaksi ini lambat dalam larutan asam, tetapi sangat cepat dalam larutan
netral. Karena alasan ini larutan kalium permanganat jarang dibuat dengan
melarutkan jumah-jumlah yang ditimbang dari zat padatnya yang sangat
dimurnikan misalnya proanalisis dalam air, lebih lazim adalah untuk memanaskan
suatu larutan yang baru saja dibuat sampai mendidih dan mendiamkannya diatas
penangas uap selama satu /dua jam lalu menyaring larutan itu dalam suatu
penyaring yang tak mereduksi seperti wol kaca yang telah dimurnikan atau
melalui krus saring dari kaca maser.

Permanganat bereaksi secara cepat dengan banyak agen pereduksi


berdasarkan pereaksi ini, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau
penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi. Kalau bukan karena fakta
bahwa banyak reaksi permanganat berjalan lambat, akan lebih banyak kesulitan
lagi yang akan ditemukan dalam penggunaan reagen ini sebagai contoh,
permanganat adalah agen unsur pengoksida, yang cukup kuat untuk mengoksida
Mn(II) menjadi MnO2 sesuai dengan persamaan

3Mn2+ + 2MnO4- + 2H2O 5MnO2 + 4H+

Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi
cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 .

Tindakan pencegahan khusus harus dilakukan dalam pembuatan larutan


permanganat. Mangan dioksidasi mengkatalisis dekomposisi larutan
permanganate. Jejak-jejak dari MNO2 yang semula ada dalam permanganat. Atau
terbentuk akibat reaksi antara permanganat dengan jejak-jejak dari agen-agen
produksi didalam air, mengarah pada dekomposisi. Tindakan ini biasanya berupa
larutan kristal-kristalnya, pemanasan untuk menghancurkan substansi yang dapat
direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk
menghilangkan MNO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika
disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak
berubah selama beberapa bulan.

8
Penentuan besi dalam biji-biji besi adalah salah satu aplikasi terpenting
dalam titrasi-titrasi permanganat. Asam terbaik untuk melarutkan biji besi adalah
asam klorida dan timah (II) klorida sering ditambahkan untuk membantu proses
kelarutan.

Sebelum dititrasi dengan permanganat setiap besi (III) harus di reduksi


menjadi besi (II). Reduksi ini dapat dilakukan dengan reduktor jones atau dengan
timah (II) klorida. Reduktor jones lebih disarankan jika asam yang tersedia adalah
sulfat mengingat tidak ada ion klorida yang masuk. Jika larutannya mengandung
asam klorida seperti yang sering terjadi reduksi dengan timah (II) klorida akan
lebih memudahkan. Klorida ditambahkan kedalam larutan panas dari sampelnya
dan perkembangan reduksi diikuti dengan memperhatikan hilangnya warna
kuning dari ion besi (anonim,2009.c).

Kalium permanganat merupakan oksidator kuat dalam larutan yang


bersifat asam lemah, netral atau basa lemah. Dalam larutan yang bersifat basa
kuat, ion permanganat dapat tereduksi menjadi ion manganat yang berwarna
hijau.Titrasi harus dilakukan dalam larutan yang bersifat asam kuat karena reaksi
tersebut tidak terjadi bolak balik, sedangakan potensial elektroda sangat
tergantung pada pH.

Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak
langsung dengan permanganometri seperti :

(1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai
oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4
berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat
inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion
logam yang bersangkutan.

(2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat.


Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula

9
larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat
tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya
dengan KMnO4. (anonim,2009.a).

10
BAB III

METODE

3.1 Waktu dan Tempat


3.1.1 Waktu
Pukul 07.00 WIB
3.1.2 Hari/Tanggal
Selasa, 10 Mei 2016
3.1.3 Tempat
Sungai disebrang pos polisi Tanjung Duren
061024LS dan 1064705BT

Lokasi
pengambilan
sampel

Gambar 3.1 : Lokasi pengambilan sampel Pos Polisi Tanjung Duren


3.2 Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Pengambilan sampel

No. Alat Ukuran Jumlah Bahan Konsentrasi Jumlah


Sampai
Botol dan Sampel
1. - 1 - jirigen
batu air
penuh
2. Jirigen 2L 1

Tabel 3.2 Alat dan Bahan Uji Penetapan COD

No Alat Jumlah Bahan Jumlah


1 Pipet ukur 5 ml- 1 buah Air sampel 2,5 ml

11
No Alat Jumlah Bahan Jumlah
0,05
Labu erlenmayer 1 buah
2 Larutan K2Cr2O7 1,5 ml
250 ml
3 Tabung COD 1 buah Larutan H2SO4 3,5 ml
4 Reaktor 1 buah Indikator Ferroin 1 tetes
1 buah Secukupny
5 Buret Larutan FAS 0,01 N
a

Tabel 3.3 Alat dan Bahan Uji Penetapan Bilangan Permanganat

No Alat Jumlah Bahan Jumlah


1 Pipet volum 50 ml 1 buah Air sampel 100 ml
Labu erlenmayer 250 1 buah Larutan KMnO4
2 13 ml
ml 0,01 N
3 Batu didih 3 buah H2SO4 8 N 5 ml
1 buah Asam Oksalat 0,01
4 Pemanas 10 ml
N

3.3 Metode
3.3.1 Metode Refluks Tertutp Secara Titrimetri Dengan Pengosidasi
K2Cr2O7 Untuk Penetapan COD

Metoda standar penentuan kebutuhan oksigen kimiawi


atau Chemical Oxygen Demand (COD) yang digunakan saat ini
adalah metoda yang melibatkan penggunaan oksidator kuat kalium
bikromat, asam sulfat pekat, dan perak sulfat sebagai katalis.
Senyawa organik dan anorganik, terutama organik dalam contoh uji
dioksidasi oleh Cr2O7-2 dalam refluks tertutup menghasilkan Cr3+.
Jumlah oksidan yang dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen
oksigen (O2 mg /L). Pada contoh uji dengan nilai COD yang lebih
tinggi, dilakukan pengenceran terlebih dahulu sebelum pengujian.
Selain itu dibutuhkan ampul dan tube tertentu yang terukur
volumenya tersedia di pasaran. Sampel yang telah direfluks secara
tertutup dapat langsung diukur menggunakan alat COD meter.

12
3.3.2 Metode Permanganometri Untuk Penetapan Bilangan
Permanganat

Titrasi permanganometri adalah suatu proses redoks dimana


garam kalium permanganat (KMnO4) digunakan sebagai zat standar.
Garam KMnO4 tidak dapat diperoleh dalam keadaan murni, karena
banyak mengandung oksida-oksidanya (MnO dan Mn2O3) sehingga
garam ini tidak dapat digunakan sebagai zat standar primer.
Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung pada analat
yang dapat dioksidasi seperti misalnya Fe 2+, asam atau garam oksalat
yang dapat larut, dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak
dapat dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung

Titrasi dengan KMnO4 dapat berlangsung menurut 3 cara:


1. Dalam larutan asam untuk menitrasi zat- zat secara langsung.
Zat- zat yang diselidiki dengan menggunakan KMnO4 yang
bertindak sebagai oksidator, sampai terjadi titik akhir titrasi ion
MnO4- akan tereduksi dengan reaksi:
MnO4- + 8H+ + 5e- Mn 2+ + 4H2O
Untuk membentuk suasana asam dalam larutan
digunakan H2SO4 encer, tetapi tidak dapat menggunakan HCl
karena HCl dapat tereduksi menjadi Cl2.
2. Dalam suasana asam untuk menitrasi zat tidak langsung.
Dilakukan dengan menambahkan zat pereduksi berlebih
atau setelah proses reduksi selesai, sisa zat pereduksi dititrasi
kembali dengan KMnO4. Penambahan warna ini oleh
penambahan KMnO4 tidak permanen sebab warna ini lama-
kelamaan akan memudar ini disebabkan oleh reaksi sebagai
berikut:
2H2O + 2MnO4 + 3Mn2+ 5MnO2 + 4H+
3. Dalam suasana netral atau sedikit basa.
Ion MnO 4- direduksi menjadi MnO2 yang kemudian
mengendap dengan reaksi:
MnO4- + 4H+ + 3e- MnO2 + 2H2O

13
Zat yang dititrasi dengan cara ini adalah sianida, alkohol,
gula dan aldehid.

3.4 Cara Kerja

Tabel 3.6 Cara Kerja Pengambilan Sampel

No
Keterangan Gambar
.

Menyiapkan alat berupa water sampel


1.
vertical

Alat pengambilan sampel dimasukan


2. ke dalam sungai dengan kedalaman
atau 2/3.

Air sampel yang dibotol dipindahkan


kedalam jerigen dan langsung ditutup
3.
agar tidak masuk oksigen kedalam
sampel.

Mengamati keadaan lingkungan


4.
sekitar pada saat pengambilan sampel.

14
Tabel 3.7 Cara Kerja Uji Penetapan COD

No. Cara kerja Gambar

Memipet 2,5 ml air sampel kedalam


1
tabung COD

Menambahkan 1,5 ml larutan


2 K2Cr2O7 kedalam tabung COD berisi
air sampel

Menambahkan 3,5 ml larutan H2SO4


3 kedalam tabung COD berisi air
sampel.

Memanaskan tabung COD ke reactor


4
selama 2 jam dengan suhu 160C

15
No. Cara kerja Gambar

Memindahkan larutan ke labu


5
erlenmayer 250 ml

Menambahkan 1 tetes indicator


6 ferroin hingga warna berubah hijau-
biru

Tabel 3.8 Cara Kerja Uji Penetapan Bilangan Permanganat

No. Cara kerja Gambar

Memipet 100 ml air sampel kedalam labu


1
erlenmayer

Menambahkan 3 batu didih dan 3ml


2
larutan KMnO4 0,01 N

16
No. Cara kerja Gambar

3 Menambahkan 5 ml asam sulfat 8 N

Memanaskan larutan diatas pemanas


4 hingga mendidih, kemudian
mendinginkan larutan

Menambahkan 10 ml larutan KMnO4


5 0,01 N diata pemanas, kemudian
panaskan selama 10 menit

Menambahkan 10 ml larutan asam


6 oksalat 0,01 N hingga warna larutan
menjadi bening

17
No. Cara kerja Gambar

Melakukan titrasi dengan larutan


7 KMnO4 0,01 N sampai larutan berwarna
merah muda seulas

18
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Pengamatan Insitu

N Parameter Keterangan Gambar


o
Pada pengambilan sampel,
cuaca di sekitar Sungai
Sekretaris cerah. Lokasi
Kondisi tepatnya di sebrang pos
1
lingkungan polisi tanjung duren
dengan koordinat
061024LS dan
1064705BT

Pengukuran suhu secara


insitu dengan menggunakan
2 Temperatur
termometer menghasilkan
suhu air sungai 26C

Pengukuran Daya Hantar


Listrik (DHL)
menggunakan
3 DHL
konduktometer
menghasilkan nilai DHL air
sungai 626 S/cm

19
Pengukuran pH
menggunakan pHmeter
4 pH
menghasilkan nilai pH air
sungai 7,25

Pengukuran DO
menggunakan DOmeter
5 DO
menghasilkan nilai DO air
sungai 1,17 mg/L

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Uji COD

N Paramete Gambar Keterangan


o r
Pengukuran COD menggunakan
metode refluks tertutup secara
1. COD
titrtimetri menghasilkan konsentrasi
COD = 178,88 mg/L COD

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Uji Bilangan Permanganat

No Parameter Gambar Keterangan

Pengukuran bilangan permanganat


Bilangan menggunakan metode penganometri
1.
Permanganat menghasilkan konsentrasi KMnO4 =
50,244 mg/L KMnO4

4.2 Mapping Konsentarsi COD di Badan Sungai


Tabel 4.2.1 Keterangan gambar mapping konsentarsi COD

20
N Kelompo Debit C COD
Lokasi
o k (m/s) (mg/L)
1 1 Podomoro City 2.548 96.32
2 2 Polsek Tanjung Duren 2.56 178.88
3 3 Kolong Flyover Mall Ciputra 2.56 82.56
4 4 Halte Busway Grogol 0.2496 82.56
5 5 Belakang Mall Ciputra (a) 0.199 96.32
6 6 Belakang Mall Ciputra (a) 0.199 82.56
7 7 Belakang Mall Ciputra (b) 0.2 68.8
8 8 Jembatan Depan Medika 0.2 96.32
9 9 Jl. Tanjung Duren Barat No. 10 1.516 27.52
10 10 Jl. Tanjung Duren Barat No. 3 1.413 82.56
11 11 Jl. Tanjung Duren Barat No. 3 1.4495 39.2472
12 12 Jl. Tanjung Duren Utara 10 0.735 55.04
13 13 Jl. Tanjung Duren Utara 10 0.67 27.52
14 14 Jl. Tanjung Duren Utara X 2.02 13.76
15 15 Jl. Kali Sekretariat Utara (Bar Screen) 1.35 123.84
16 16 Jl. Kali Sekretariat Utara (Bar Screen) 0.692 68.8
17 17 Jl. Kali Sekretariat Utara (Jembatan Motor) 1.4495 28.06
18 18 Jl. Kali Sekretariat Utara (Jembatan Motor) 1.9572 29.22
19 19 Jl. Kali Sekretariat Utara 0.1375 95.64

4.3 Hasil Perhitungan


4.3.1 COD
Dik : VA = 0 ml
VB = 0,13 ml
NFAS = 0,043 N
BM = 8
Vsampel = 2,5 ml
Dit : mg/L COD
mg ( VBVA ) x NFASxBMx 1000
Jawab : L COD= Vsampel

( 0,130 ) x 0,043 x 8 x 1000 mg


=178,88 COD
2,5 L

4.3.2 Bilangan Permanganat


Dik : VA = 20 ml
VB = 5,9 ml
NKMnO4 = 0,01 N
BM = 31,6

21
VH2C2O4 = 10 ml
N H2C2O4 = 0,01 N
Vsampel = 100 ml
Dit : mg/L KMnO4
Jawab :

mg ( ( VA +VB ) KMNO 4 xNKNMO 4 ) ( VH 2 C 2 O 4 xNH 2 C 2 O 4 ) xBMx 1000


KMNO 4=
L Vsampel

( (20+ 5,9 ) x 0,01 )( 10 x 0,01 ) x 31,6 x 1000



100

= 50,244 mg/L KMnO4


4.3.3 Beban Pencemar untuk Konsentarsi COD
Q 19. C 19

( Q1. C 1 ) + ( Q 2.C 1 )+ (Q 3. C 3 ) + ( Q 4. C 4 ) ++
BPCOD=
1506.142168

100 21.1055

=71.8625

4.2 Pembahasan
4.3.1 Pengambilan Sampel
Air sampel diambil di sungai dekat pos polisi Tanjung Duren
pada hari Selasa, 10 Mei 2016 pukul 07.00. Air sungai yang diambil
keruh dengan banyak minyak dan sampah plastik di permukaan air
sungai. Terdapat pemukiman di kolong jembatan di dekat sungai.
Pada saat pengambilan sampel dilakukan kondisi langit cerah.
Sampel diambil sebanyak tiga kali sampai jerigen terisi penuh dan
tidak terdapat oksigen di dalamnya.
4.3.2 Temperatur
Saat melakukan pengambilan sampel, praktikan melakukan
pengamatan terhadap suhu dengan menggunakan termometer.
Termometer dicelupkan ke dalam air sampel dan didapatkan besar
suhu adalah 26C. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No
582 tahun 1995, kadar maksimum temperatur untuk air sungai

22
golongan D yaitu suhu air normal 3C. Sehingga suhu air di Sungai
Sekertaris memenuhi batasan baku mutu untuk air sungai golongan
D.
4.3.3 pH
Setelah melakukan pengecekan suhu, praktikan melakukan
pengamatan terhadap besar pH dengan menggunakan alat pH meter,
dan didapatkan besar pH 7,25. Menurut Keputusan Gubernur DKI
Jakarta No 582 tahun 1995, kadar pH untuk air sungai golongan D
yaitu 6-8,6. Sehingga pH air di Sungai Sekertaris masih memenuhi
batasan baku mutu untuk air sungai golongan D
4.3.4 DO
Selain itu praktikan juga mengecek besar DO, yaitu 1,17 mg/L.
Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun 1995,
kadar DO untuk air sungai golongan C yaitu lebih besar dari 3 (<3).
Sedangkan menurut PP No 82 Tahun 2001 DO untuk air minum
golongan IV adalah 0. Dapat dikatakan kandungan DO dalam sampel
air Sungai Sekertaris masih memenuhi batasan baku mutu untuk air
sungai golongan IV menurut PP No 82 Tahun 2001, sedangkan
menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun 1995 tidak
memenuhi baku mutu untuk sungai golongan D. Rendahnya nilai
DO dapat menyebabkan reproduksi dan pertumbuhan ikan di dalam
sungai terhambat. DO yang baik besarnya lebih dari 5 mg/L.
4.3.5 DHL
Selain itu praktikan juga mengukur konduktifitas atau daya
hantar listrik di dalam sampel air. Setelah diukur, didapatkan besar
konduktivitas 626 s/cm. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta
No 582 tahun 1995, kadar DHL untuk air sungai golongan D yaitu
1000 umhos/cm. Sehingga konduktivitas air di Sungai Sekertaris
masih memenuhi batasan baku mutu untuk air sungai golongan D
4.3.6 COD

23
Penentuan kadar COD dilakukan menggunakan metode
refluks terturup secara titrimetri dengan pengoksida K2Cr2O7.
Penambahan sejumlah tertentu kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai
oksidator pada sampel yang telah ditambahkan asam pekat,
kemudian dipanaskan selama beberapa waktu. Selanjutnya,
kelebihan kalium bikromat ditera dengan cara titrasi. Dengan
demikian kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan
organik dalam sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat
ditentukan. Hasil dari pengamatan laboratorium menunjukan besar
konsentrasi COD air sampel sebesar 178,88 mg/L COD, sehingga
jika dibandingkan dengan baku mutu air sampel tidak memenuhi
kriteria sebagai air baku air minum karena telah melebihi batas
maksimum baku mutu yang telah ditetapkan.

Menurut Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota


Jakarta Nomor 122 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Air Limbah
Domestik Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang
menyataakan batas baku mutu COD sebesar 100 mg/l maka air yang
ada di Sungai sekretarissudah tidak berada dalam batas toleransi
untuk kategori limbah cair domestik juga.

Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 untuk


air golongan IV, nilai COD sebesar sebesar 100 mg/l, berdasarkan
peraturan tersebut maka air sampel melebihi batas nilai COD dalam
air serta air sampel tersebut tidak layak minum. Kandungan COD
berlebih di sungai akan mengakibatkan sungai menjadi kekurangan
oksigen akibat banyaknya senyawa organic yang dioksidasi.

Bahaya apabila COD melewati ambang batas adalah akan


berpengaruh pada kehidupan biota air, apabila COD tinggi maka
kandungan oksigen akan menjadi rendah sehingga oksigen yang

24
dibutuhkan oleh biota air kurang, dapat menyebabkan kematian pada
biota air. Kadar COD yang tinggi juga menunjukkan tingkat
pencemaran yang tinggi baik yang bersifat biologi dan bahan kimia,
karena semakin tinggi kadar pencemaran semakin tinggi pula kadar
oksigen yang digunakan oleh mikroorganisme pengurai untuk
menguraikan bahan pencemar di dalam air. Pencemaran air yang
tinggi dapat menjadi sumber penyakit.

4.3.7 Bilangan Permanganat


Selain menguji nilai COD, besarnya bilangan permanganat pun
ikut di uji karena kedua pengujian terebut dilakukan untuk
mengetahui besarnya senyawa organic di dalam air. Penentuan besar
bilangan permanganat dilakukan menggunakan metode
permanganometri. Menurut Keputusan Gubernur No 582 tahun 1995
kadar KMnO4 yang masih diizinkan untuk sungai golongan A
sebesar 10 mg/L. Sedangkan dalam target opraional yang harus
dicapai pada tahun 2000 untuk air sungai golongan D kandungan
KMnO4 sebesar 25 mg/L. Sehingga air sampel dengan nilai KmnO4
sebesar 50,244 mg/L tidak memenuhi baku mutu. Kadar KMnO4
yang berlebih pada air sungai dapat menunjukkan nilai DO rendah,
karena banyaknya senyawa organic yang teroksidasi.
Dampak adanya ketetapan tersebut maka konsentrasi dari zat
organik yang berada di badan air sungai sekretaris tidak memenuhi
baku mutu. Dengan banyaknya zat organik yang terdapat di suatu
perairan maka akan semakin memperkecil kandungan oksigen
terlarut yang ada di perairan tersebut.
Dari hasil perhitungan juga ditetapkan bahwa air ini tidak
boleh digunakan untuk air minum karena kandungan permanganat
yang diperbolehkan dalam baku mutu air minum adalah 25 mg/L.
Tetapi jika masih ingin menjadikan air yang ada di sungai sekretaris
tersebut maka diperlukan penelitian lebih lanjut yang tujuannya

25
untuk mereduksi kadar permanganat yang ada dalam badan air di
sungai sekretaris tersebut.
.

26
BAB V
KESIMPULAN

Dari hasil analisa yang dilakuakan dan telah dibahas pada bab
pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Besarnya konsentrasi COD air sampel sebesar 178,88 mg/L COD.
2. Jika dilihat dari Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus
Ibukota Jakarta Nomor 122 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Air
Limbah Domestik Di Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang
menyatakan batas baku mutu COD sebesar 100 mg/l maka air yang
ada di Sungai sekretaris sudah tidak berada dalam batas toleransi
untuk kategori limbah cair domestik.
3. Jika dilihat dari PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air yang menyatakan
batas minimum COD 10 mg/l dan batas maksimum COD 100 mg/l,
maka air sampel tidak memenuhi kriteria sebagai air baku air
minum karena telah melebihi batas maksimum baku mutu yang
telah ditetapkan.
4. Jumlah bilangan permanganat yang didapat ialah sebesar 50,244
mg/L
5. Kadar permanganat pada air sungai tidak sesuai dengan standar
baku mutu Keputusan Gubernur No 582 tahun 1995 Di Provinsi
Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyatakan bahwa kadar KMnO4
yang masih diizinkan untuk sungai golongan D KMnO4 sebesar
25 mg/L.
6. Air ini tidak boleh digunakan untuk air minum karena kandungan
permanganat yang diperbolehkan dalam baku mutu air minum
adalah 25 mg/L.
BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

27
Tim Dosen Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Trisakti. 2016.
Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan. Jakarta: Trisakti.

Keputusan Gubernur No.582 tahun 1995 tentang penetapan peruntukan dan baku
mutu air sungai / badan air serta baku mutu air limbah cair di wilayah
DKI Jakarta

Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air

Arifin. 2007. Penentuan COD (Chemical Oxygen Demand) Dalam Sampel Air.
Diakses pada 15 mei 2016 pukul 12.42 dari
http://dokumen.tips/documents/cod-fatma.html.

Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 122 Tahun
2005 Tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik Di Provinsi Daerah
Khusus Ibukota Jakarta

28
LAMPIRAN

29
Sumber : Keputusan Gubernur Nomor 582 tahun 1995

30
Sumber : Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001

31