Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM LINGKUNGAN I

PENETAPAN OKSIGEN TERLARUT (DISSOLVED


OXYGEN/DO) DAN KEBUTUHAN OKSIGEN BIOKIMIAWI
(BIOCHEMICAL OXYGEN DEMAND/BOD)

Oleh:

Kelompok 2

1 Aulia Ramandha (1142005003)


2 Dessy Fadiilah (1142005008)

Asisten:
Fithri Zakiyah

TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KOMPUTER

UNIVERSITAS BAKRIE

JAKARTA

2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan sumber bagi kehidupan manusia. Salah satu sumber
air yang ada di permukaan bumi adalah sungai. Sungai sangat bermanfaat
bagi manusia dan tidak kalah pentingnya bagi biota air. Di samping itu,
sungai di DKI Jakarta merupakan suatu media yang rawan terhadap
pencemaran, dimana DKI Jakarta merupakan Propinsi besar yang penuh
akan industri dan padat akan penduduk. Tidak dapat disangkal lagi kalau
sungai di kota Jakarta merupakan tempat pembuangan limbah baik dari
hasil industri maupun limbah rumah tangga.
Pembuangan limbah ke dalam sungai, secara langsung maupun
tidak langsung akan berpengaruh terhadap pencemaran air, dan
mengakibatkan kualitas air sungai tidak sesuai dengan peruntukannya.
Selain itu, sungai yang tercemar juga akan berpotensi menjadi sumber
penyakit yang sering kita sebut sebagai waterborn disease yang akan
menurunkan derajat kesehatan bagi masyarakat disekitarnya.
Dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 115
tahun 2003 Tentang Pedoman Penentuan Status Air terdapat metode untuk
menentukan status mutu air dengan menggunakan system nilai dari US-
EPA (Environmental Protection Agency) dengan mengklasifikasikan
mutu air menjadi empat kelas, antara lain memenuhi baku mutu, cemar
ringan, cemar sedang dan cemar berat.
Untuk mengetahui pengaruh limbah terhadap kualitas air sungai,
maka perlu diketahui dari parameter-parameter yang dipengaruhi oleh
limbah. Salah satu sifat yang dapat diuji untuk menentukan tingkat
pencemaran air adalah BOD (Biological Oxygen Demand) dan COD
(Chemycal Oxygen Demand).
1.1.1 Penetapan DO .
Dalam menetapkan Oksigen Terlarut, metode yang digunakan
adalah metode Winkler yang dimodifikasi oleh Alstenberg untuk
menghilagkan pengaruh ion nitrit dalam air. Prinsip penetapannya
adalah, oksigen terlarut dalam air dipakai untuk mengoksidasi Mn++

2
menjadi endapan Mn4+ kembali dilarutkan menjadi Mn2+ dan I2
dilepaskan, yang dititrasi dengan Na2S2O3.
Untuk menjaga atau mencapai kualitas air sehingga dapat
dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan tingkat mutu air
yang diinginkan serta tidak menimbulkan pencemaran lingkungan di
daerah sekitar aliran sungai tersebut, maka perlu upaya pengendalian
dan pelestarian.
1.1.2 Penetapan BOD
Pada penetapan BOD yang dijelaskan dalam bab ini
merupakan suatu tes empiria dengan menggunakan prosedur
laboratorium yang standard untuk menentukan oksigen yang
diperlukan adalah oksigen yang dihabiskan dalam kondisi
percobaan/penetapan (inkubasi selama 5 hari pada temperatur 20C)
oleh mikroorganisme yang aerobik untuk degradasi/penguraian
senyawa organik yang terkandung dalam sampel air.
Prinsip penetapan BOD merupakan pelaksanaan proses
penguraian bahan organik laboratorium sebagaimana terjadi dalam
lingkungan alamiah.
Bahan organik + O2 + mikroorganisme aerobik CO2 + biogas
+ energi
Penguraian bahan organik tersebut sejalan dengan pemakaian
oksigen (O2). Dalam penetapan BOD, yang dianalisa adalah kadar
oksigen terlarutnya pada saat t = 0 dan t = 5 (untuk BOD5) pada
temperatur 20C untuk memperoleh hasil yang lebih teliti, perlu
dilakukan pengenceran sampel air yang diperiksa. Kondisi yang
harus dipenuhi dalam penetapan BOD adalah :
a. Bebas bahan beracun sehingga mengganggu pertumbuhan dan
kehidupan mikroorganisme
b. pH yang seuai
c. cukup bahan nutrien yang diperlukan oleh mikroorganisme
d. temperatur standar (20C)
e. ada mikroorganismedalam jumlah banyak

1.2 Tujuan Percobaan

3
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk :

1.2.1 Penetapan DO
Menentukan jumlah oksigen terlarut pada air sampel dengan metode
titrasi winkler (iodometri)

1.2.2 Penetapan BOD


Menentukan jumlah kebutuhan oksigen biokimiawi pada air sampel
dengan metode titrasi winkler (iodometri)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DO
Oksigen terlarut adalah jumlah oksigen dalam miligram yang
terdapat dalam satu liter air (ppt). Oksigen terlarut umumnya berasal dari
difusi udara melalui permukaan air, aliran air masuk, air hujan, dan hasil
dari proses fotosintesis plankton atau tumbuhan air. Oksigen terlarut
merupakan parameter penting karena dapat digunakan untuk mengetahui
gerakan masssa air serta merupakan indikator yang peka bagi proses-
proses kimia dan biologi.

4
Kadar oksigen yang terlarut bervariasi tergantung pada suhu,
salinitas, turbulensi air, dan tekanan atmosfer. Kadar oksigen terlarut juga
berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada
pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas
fotosintesis, respirasi, dam limbah (effluent) yang masuk ke badan air.
Selain itu, kelarutan oksigen dan gas-gas lain berkurang dengan
meningkatnya salinitas sehingga kadar oksigen di laut cenderung lebih
rendah daripada kadar oksigen di perairan tawar.
Oksigen terlarut yang terkandung di dalam air, berasal dari udara
dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua
mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya
termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Oksigen juga dibutuhkan untuk
oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dan reduksi bahan organik
dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu
perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil
fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut (SALMIN,
2000).

2.2 BOD
Kebutuhan oksigen biologi (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya
oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan
organik, pada kondisi aerobik. Pemecahan bahan organik diartikan bahwa
bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan
energinya diperoleh dari proses oksidasi. Parameter BOD, secara umum
banyak dipakai untuk menentukan tingkat pencemaran air buangan.
Penentuan BOD sangat penting untuk menelusuri aliran
pencemaran dari tingkat hulu ke muara. Sesungguhnya penentuan BOD
merupakan suatu prosedur bioassay yang menyangkut pengukuran
banyaknya oksigen yang digunakan oleh organisme selama organisme
tersebut menguraikan bahan organik yang ada dalam suatu perairan, pada
kondisi yang harnpir sama dengan kondisi yang ada di alam. Selama

5
pemeriksaan BOD, contoh yang diperiksa harus bebas dari udara luar
untuk rnencegah kontaminasi dari oksigen yang ada di udara bebas.
Konsentrasi air buangan/sampel tersebut juga harus berada pada suatu
tingkat pencemaran tertentu, hal ini untuk menjaga supaya oksigen terlarut
selalu ada selama pemeriksaan. Hal ini penting diperhatikan mengingat
kelarutan oksigen dalam air terbatas dan hanya berkisar 9 ppm pada suhu
20C (SALMIN, 2000).

6
BAB III

METODE

3.1 Waktu dan Tempat


3.1.1 Waktu
Pukul 07.00 WIB
3.1.2 Hari/Tanggal
Selasa, 17 Mei 2016
3.1.3 Tempat
Sungai disebrang pos polisi Tanjung Duren
061024LS dan 1064705BT

Lokasi
pengambilan
sampel

Gambar 3.1 : Lokasi pengambilan sampel Pos Polisi Tanjung Duren


3.2 Alat dan Bahan

Tabel 3.1 Pengambilan sampel

No. Alat Ukuran Jumlah Bahan Konsentrasi Jumlah


Sampai
Botol dan Sampel
1. - 1 - jirigen
batu air
penuh
2. Jirigen 2L 1

Tabel 3.2 Alat dan Bahan Uji Penetapan DO

No Alat Jumlah Bahan Jumlah


1 Pipet ukur 5 ml- 3 buah Air sampel 300 ml

7
No Alat Jumlah Bahan Jumlah
0,05
2 Erlenmayer 50 ml 1 buah Larutan MnSO4 1 ml
Botol winkler 300 1 buah Larutan alkali
3 1 ml
ml iodida azida
4 Buret 1 buah Larutan H2SO4 1 ml
5 Indikator kanji ~bening

Tabel 3.3 Alat dan Bahan Uji Penetapan BOD

No Alat Jumlah Bahan Jumlah


1 Pipet volum 50 ml 1 buah Air sampel 15 ml
2 Pipet ukur 5 ml-0,05 3 buah Larutan MnSO4 1 ml
2 buah Larutan alkali
3 Pipet tetes 1 ml
iodida azida
Labu erlenmayer 250 1 buah
4 Larutan H2SO4 1 ml
ml
5 Botol winkler 300 ml 1 buah Larutan Na2S2O3 secukupnya
6 Indikator kanji ~bening

3.3 Metode
3.3.1 Metode Titrasi Winkler (Iodometri) Untuk Penetapan DO

Botol Winkler yang digunakan untuk mengambil sampel


harus bersih, dan telah dibilas dengan air suling terlebih dahulu,
kemudian dilanjutkan pengkondisian cairan yang akan digunakan
untuk mengisi botol. Hal yang sama juga berlaku untuk alat-alat
pengambilan sampel yang digunakan. Alat-alat ini harus bersih dan
tidak mengandung sisa dari bekas sampel yang lama, khususnya
tumbuhnya jamur dan lumut harus dicegah. Pengambilan sampel
dilakukan di sungai dibawah permukaan air sekitar 5 m. kemudian di
tempatkan dalam botol sampel/ botol winkler sampai penuh,
kemudian di tutup.
Selama penentuan oksigen terlarut, baik untuk DO maupun
BOD, diusahakan seminimal mungkin larutan sampai yang akan

8
diperiksa tidak berkontak dengan udara bebas. Sampel dalam botol
winkler kemudian ditentukan DO-nya dengan titrasi winkler.

3.3.2 Metode Titrasi Winkler (Iodometri) Untuk Penetapan BOD

Cara pengambilan sampel air untuk BOD sama dengan


pengambilan sampel air untuk DO. Perbedaannya adalah untuk
mengetahui nilai BOD diperlukan pengenceran. Oleh karena jumlah
oksigen terlarut dalam botol pada akhir inkubasi terbatas, sehingga
perlu diencerkan. Pengenceran ditentukan berdasarkan data COD
yang telah diketahui.
Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana,
yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel
segera setelah pengambilan contoh, kemudian mengukur kandungan
oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi selama 5 hari
pada kondisi gelap dan suhu tetap yang sering disebut dengan DO5.
Selisih DOi dan DO5 (DOi - DO5) merupakan nilai BOD yang
dinyatakan dalam miligram oksigen per liter. Pengukuran oksigen
dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi atau dengan
menggunakan alat yang disebut DO meter. Pada prakteknya,
pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu mengingat
kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi, sehingga
kemungkinan diperlukan penetralan, pengenceran, aerasi, atau
penambahan populasi bakteri. Pengenceran atau aerasi diperlukan
agar masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima. Karena jika nilai
oksigen yang terlarut tidak tersisa, maka nilai BOD tidak dapat
ditentukan

3.4 Cara Kerja

Tabel 3.6 Cara Kerja Pengambilan Sampel

9
No
Keterangan Gambar
.

Menyiapkan alat berupa water sampel


1.
vertical

Alat pengambilan sampel dimasukan


2. ke dalam sungai dengan kedalaman
atau 2/3.

Air sampel yang dibotol dipindahkan


kedalam jerigen dan langsung ditutup
3.
agar tidak masuk oksigen kedalam
sampel.

Mengamati keadaan lingkungan


4.
sekitar pada saat pengambilan sampel.

Tabel 3.7 Cara Kerja Uji Penetapan DO

10
No. Cara kerja Gambar

Memasukkan air sampel ke dalam


1
botol winkler hingga penuh

2 Menambahkan 1 ml alkali iodida

Menambahkan 1 ml MnSO4,
3 kemudian mendiamkan selama 10-15
menit sampai terbentuk endapan

4 Menambahkan 1 ml H2SO4 Tidak melakukan


Memindahkan larutan ke labu Tidak melakukan
5
erlenmayer 250 ml
Menambahkan indikator kanji Tidak melakukan
6
hingga warna larutan menjadi bening

Tabel 3.8 Cara Kerja Uji Penetapan BOD0 dan BOD5

11
No. Cara kerja Gambar

Memasukkan air sampel ke dalam botol


1
winkler sebanyak 15 ml

Melakukan pengenceran 20x


2 menggunakan aquades sampai volume
larutan 300 ml

3 Menambahkan 1 ml alkali iodida

Menambahkan 1 ml MnSO4, kemudian


4 mendiamkan selama 10-15 menit sampai
terbentuk endapan

5 Menambahkan 1 ml H2SO4

12
No. Cara kerja Gambar

Memindahkan 50 ml larutan ke labu


6
erlenmayer 250 ml

Melakukan titrasi dengan Na2S2O3 sampai


7
larutan menjadi warna kuning

Menambahkan indikator kanji hingga


8
warna larutan menjadi kehijauan

Melakukan titrasi kembali dengan


9 Na2S2O3 sampai larutan menjadi warna
bening

13
No. Cara kerja Gambar

Memasukkan air sampel ke dalam botol


10
winkler sebanyak 15 ml

Melakukan pengenceran 20x


11 menggunakan aquades sampai volume
larutan 300 ml

Melapisi seluruh permukaan botol


winkler dengan alumunium foil,
12
kemudian meletakkannya di inkubator
selama 5 hari

13 Menambahkan 1 ml alkali iodida

14
No. Cara kerja Gambar

Menambahkan 1 ml MnSO4, kemudian


14 mendiamkan selama 10-15 menit sampai
terbentuk endapan

15 Menambahkan 1 ml H2SO4

Memindahkan 50 ml larutan ke labu


16
erlenmayer 250 ml

Melakukan titrasi dengan Na2S2O3 sampai


17
larutan menjadi warna kuning

15
No. Cara kerja Gambar

Menambahkan indikator kanji hingga


18
warna larutan menjadi kehijauan

Melakukan titrasi kembali dengan


19 Na2S2O3 sampai larutan menjadi warna
bening

16
BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

Tabel 4.1 Pengamatan Insitu

N Parameter Keterangan Gambar


o
Pada pengambilan sampel,
cuaca di sekitar Sungai
Sekretaris cerah. Lokasi
Kondisi
1 tepatnya di sebrang pos
lingkungan
polisi tanjung duren dengan
koordinat 061024LS dan
1064705BT

Pengukuran suhu secara


insitu dengan menggunakan
2 Temperatur
termometer menghasilkan
suhu air sungai 26C

Pengukuran Daya Hantar


Listrik (DHL) menggunakan
3 DHL konduktometer menghasilkan
nilai DHL air sungai 630
S/cm

17
Pengukuran pH
menggunakan pHmeter
4 pH
menghasilkan nilai pH air
sungai 7,18

Pengukuran DO
menggunakan DOmeter
5 DO
menghasilkan nilai DO air
sungai 6,9 mg/L

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Uji DO

N Paramete Gambar Keterangan


o r
Pengukuran DO menggunakan
metode titrasi winkler (iodometri)
1. DO menghasilkan gumpalan putih susu
yang menandakan nilai DO = 0
mg/L DO

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan BOD

No Parameter Gambar Keterangan

18
Pengukuran BOD menggunakan
metode titrasi winkler (iodometri)
1. BOD
menghasilkan nilai BOD5 = 1,196
mg/L BOD

4.2 Hasil Perhitungan


4.2.1 DO
Dik : VNa2S2O3 = 0 ml
NNa2S2O3 = 0,0125 N
BM = 8
Vsampel = 297 ml
Dit : mg/L DO
mg VNa 2 S 2O 3 xNNa 2 S 2 O3 xBMx 1000
DO=
Jawab : L Vsampel
0 x 0,0125 x 8 x 1000 mg
=0 DO
297 L

4.2.2 BOD
Dik : VNa2S2O3(untuk DO0) = 18,5 ml
VNa2S2O3(untuk DO5) = 11,1 ml
NNa2S2O3 = 0,0125 N
BM = 8
Vsampel = 297 ml
Dit : mg/L BOD
VNa 2 S 2 O3 xNNa 2 S 2 O 3 xBMx 1000
Jawab : mg/L DO0 = Vsampel
18,5 x 0,0125 x 8 x 1000 mg
=6,229 DO
297 L

VNa 2 S 2O 3 xNNa2 S 2 O 3 xBMx 1000



mg/L DO5 Vsampel
18,9 x 0,0125 x 8 x 1000 mg
=6,363 DO
297 L

19
VNa 2 S 2O 3 xNNa 2 S 2 O 3 xBMx 1000

mg/L DOb,0 Vsampel

20,55 x 0,0125 x 8 x 1000 mg


=6,919 DO
297 L
VNa 2 S 2O 3 xNNa2 S 2 O 3 xBMx 1000

mg/L DOb,5 Vsampel
24,5 x 0,0125 x 8 x 1000 mg
=8,249 DO
297 L

mg/L BOD = (DO0 - DO5) (DOb,0 DOb,5)


= (6,229 6,363) (6,919 8,249)
= 1,196 mg/L BOD

4.2 Pembahasan
4.3.1 Pengambilan Sampel
Air sampel diambil di sungai dekat pos polisi Tanjung Duren
pada hari Selasa, 17 Mei 2016 pukul 07.00. Air sungai yang diambil
keruh dengan banyak minyak dan sampah plastik di permukaan air
sungai. Terdapat pemukiman di kolong jembatan di dekat sungai.
Pada saat pengambilan sampel dilakukan kondisi langit cerah.
Sampel diambil sebanyak tiga kali sampai jerigen terisi penuh dan
tidak terdapat oksigen di dalamnya.
4.3.2 Temperatur
Saat melakukan pengambilan sampel, praktikan melakukan
pengamatan terhadap suhu dengan menggunakan termometer.
Termometer dicelupkan ke dalam air sampel dan didapatkan besar
suhu adalah 26C. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No
582 tahun 1995, kadar maksimum temperatur untuk air sungai
golongan D yaitu suhu air normal 3C. Sehingga suhu air di Sungai
Sekertaris memenuhi batasan baku mutu untuk air sungai golongan
D.
4.3.3 pH
Setelah melakukan pengecekan suhu, praktikan melakukan
pengamatan terhadap besar pH dengan menggunakan alat pH meter,

20
dan didapatkan besar pH 7,18. Menurut Keputusan Gubernur DKI
Jakarta No 582 tahun 1995, kadar pH untuk air sungai golongan D
yaitu 6-8,6. Sehingga pH air di Sungai Sekertaris masih memenuhi
batasan baku mutu untuk air sungai golongan D
4.3.4 DO
Selain itu praktikan juga mengecek besar DO, yaitu 6,9 mg/L.
Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun 1995,
kadar DO untuk air sungai golongan C yaitu lebih besar dari 3 (<3).
Sedangkan menurut PP No 82 Tahun 2001 DO untuk air minum
golongan IV adalah 0. Dapat dikatakan kandungan DO dalam sampel
air Sungai Sekertaris masih memenuhi batasan baku mutu untuk air
sungai golongan IV menurut PP No 82 Tahun 2001 dan menurut
Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun 1995. Rendahnya
nilai DO dapat menyebabkan reproduksi dan pertumbuhan ikan di
dalam sungai terhambat. DO yang baik besarnya lebih dari 5 mg/L.
4.3.5 DHL
Selain itu praktikan juga mengukur konduktifitas atau daya
hantar listrik di dalam sampel air. Setelah diukur, didapatkan besar
konduktivitas 630 s/cm. Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta
No 582 tahun 1995, kadar DHL untuk air sungai golongan D yaitu
1000 umhos/cm. Sehingga konduktivitas air di Sungai Sekertaris
masih memenuhi batasan baku mutu untuk air sungai golongan D

4.3.6 DO0

Penentuan kadar DO0 dilakukan menggunakan metode titrasi


winkler (iodometri). Pada saat air sampel diteteskan larutan alkali
iodida azida dan larutan MnSO4, di dalam air sampel terdapat
gumpalan berwarna putih susu yang menandakan tidak adanya
oksigen terlarut dalam air sampel, atau karena kesalahan prosedur
dalam melakukan percobaan. Sehingga dalam percobaan ini

21
didapatkan nilai DO0 sebesar 0 mg/L DO dan praktikan tidak
melakukan langkah kerja selanjutnya, berupa penambahan H2SO4
pekat, penambahan indikator kanji, dan titrasi dengan larutan
Na2S2O3.

Menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun


1995, kadar DO untuk air sungai golongan C yaitu lebih besar dari 3
(<3). Sedangkan menurut PP No 82 Tahun 2001 DO untuk air
minum golongan IV adalah 0. Dapat dikatakan kandungan DO dalam
sampel air Sungai Sekertaris masih memenuhi batasan baku mutu
untuk air sungai golongan IV menurut PP No 82 Tahun 2000,
sedangkan menurut Keputusan Gubernur DKI Jakarta No 582 tahun
1995, sampel air tidak memenuhi baku mutu untuk sungai golongan
D.

4.3.7 BOD
Penentuan nilai BOD dilakukan menggunakan metode titrasi
winkler (iodometri). Menurut Peraturan Gubernur Provinsi DKI
Jakarta No 122 tahun 2005 kadar BOD yang masih diizinkan untuk
baku mutu limbah cair domestik sebesar 50 mg/L. Sedangkan dalam
target opraional yang harus dicapai pada tahun 2000 untuk air sungai
golongan D kandungan BOD5 sebesar 20 mg/L. Sehingga air sampel
dengan nilai BOD sebesar 1,196 mg/L masih memenuhi baku mutu.
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan

Dari hasil analisa yang dilakuakan dan telah dibahas pada bab
pembahasan maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1. Konsentrasi DO yang didapat ialah 0 mg/L, jika dibandingkan dengan
KepGub DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995 tentang Penetapan
Peruntukkan dan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air Serta Baku Mutu

22
Limbah Cair di Wilayah DKI Jakarta yang menyatakan bahwa
konsentrasi DO kurang dari 3 mg/l, maka konsentrasi ini termasuk
dalam kriteria baku mutu yang telah ditetapkan
2. Nilai DO 0 mg/l dapat diartikan tidak adanya mikroorganisme yang
hidup didalam perairan tersebut.
3. Setelah analisa diperoleh nilai BOD sebesar 1,196 mg/L, nilai ini
diperoleh setelah penentuan nilai DO5 terlebih dahulu.
4. Penentuan nilai BOD setelah 5 hari ditentukan karena setelah 5 hari
dari pengambilan air sampel diasumsikan proses penguraiaan bahan
organik yang dilakukan oleh mikroorganisme dengan menggunakan
oksigen sudah sempurna.
5. Nilai BOD yang dianalisa memenuhi baku mutu yang berlaku yaitu
KepGub DKI Jakarta No. 582 Tahun 1995 tentang Penetapan
Peruntukkan dan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air Serta Baku Mutu
Limbah Cair di Wilayah DKI Jakarta.

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Trisakti. 2016.


Penuntun Praktikum Laboratorium Lingkungan. Jakarta: Trisakti.

23
Keputusan Gubernur No.582 tahun 1995 tentang penetapan peruntukan dan baku
mutu air sungai / badan air serta baku mutu air limbah cair di wilayah
DKI Jakarta

Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran air

Permenkes No. 492/Menkes/Per/IV/2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air


Minum

Permenkes No. 416/Menkes/Per/IX/1990 Tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan


Kualitas Air

(http://www.airminumisiulang.com/news/48/20/04/2011) diakses tanggal 24 Mei


2016

(http://smk3ae.wordpress.com/2008/06/19/metode-pengolahan-kesadahan-
hardness-air-dengan-menggunakan-resin-penukar-ion/20/04/2011) diakses
tanggal 26 Mei 2016

(http://www.scribd.com/doc/20977187/Penyisihan-Kesadahan-Penukar-
Ion/20/04/2011) diakses tanggal 26 Mei 2016

24
LAMPIRAN

25
Sumber : Keputusan Gubernur Nomor 582 tahun 1995

26
Sumber : Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001

Sumber : Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No 122 Tahun 2005

27