Anda di halaman 1dari 33

LAPORAN PRAKTIKUM KESETIMBANGAN KIMIA

KESETIMBANGAN UAP-CAIR PADA SISTEM BINER

disusun oleh
Nama : Landep Ayuningtias
NIM : 151810301065
Kelompok : 6
Asisten : Mulik Kholifah

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
JEMBER
2017
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kesetimbangan fase uap-cair adalah suatu kondisi dimana cairan dan gas berada
pada kesetimbangan satu sama lain atau kondisi dimana kecepatan evaporasi sama dengan
kecepatan kondensasi pada tingkat molekuler. Suatu substansi yang berada pada
kesetimbangan uap-cair umumnya disebut sebagai fluida jenuh. Kesetimbangan uap-cair
dapat ditentukan ketika ada variabel yang tetap (konstan) pada suatu waktu tertentu. Saat
kesetimbangan model ini, kecepatan antara molekul-molekul campuran yang membentuk
fase uap sama dengan kecepatan molekul-molekulnya membentuk cairan kembali.
Salah satu contoh aplikasi dari percobaan kesetimbangan uap cair ini adalah
pembuatan tabung gas LPG. Proses pembuatan tabung gas LPG ini menggunakan prinsip
distilasi, yaitu tekanan uap dalam tabung bila semakin besar akan mengubah gas di dalam
tabung menjadi cair. Prinsip distilasi yang digunakan sangat penting dipelajari oleh
mahasiswa. Karena dengan begitu praktikan akan memperoleh nilai dari densitas dan
fraksi mol dari larutan biner dan pengaruhnya antar satu sama lain.
Kesetimbangan uap cair dapat ditentukan ketika ada variabel yang tetap (konstan)
pada suatu waktu tertentu. Saat tercapainya kesetimbangan, kecepatan antara molekul-
molekul campuran yang membentuk fase uap sama dengan kecepatan molekul-molekulnya
membentuk cairan kembali. Data kesetimbangan uap cair merupakan data termodinamika
yang diperlukan dalam perancangan dan pengoperasian kolom-kolom distilasi. Adapun
hal-hal yang berpengaruh dalam sistem ksetimbangannya yaitu : Tekanan (P), Suhu (T),
konsentrasi komponen A dalam fase liquid (x) dan konsentrasi komponen A dalam fase uap
(y).

1.2. Tujuan
Percobaan ini memiliki tujuan yaitu mempelajari sifat larutan biner dengan
membuat diagram temperatur versus komposisi, dengan menentukan indeks biasnya.
BAB 2. LANDASAN TEORI

2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)


2.1.1 Akuades
Akuades memiliki rumus molekul H2O. Akuades didapatkan melalui proses penyulingan
sehingga tidak mengandung mineral. Akuades berfase cair, tidak berwarna, tidak berbau,
dan tidak berasa. bahan ini tergolong bahan yang stabil sehingga tidak memerlukan
penyimpanan khusus. Akuades tidak menyebabkan korosi pada mata, kulit, dan tidak
berbahaya apabila terhirup maupun tertelan. Akuades termasuk bahan yang aman,
sehingga tindakan pertama yang perlu dilakukan apabila terjadi tumpahan kecil maupun
besar yaitu, dengan mengepel tumpahan dengan lap kering yang mudah menyerap
(Anonim, 2017).
2.1.2 Etanol
Etanol memiliki rumus kimia adalah CH 3CH2OH. Etanol berwujud cair, barbau
seperti alkohol, dan tidak berwarna. Etanol memiliki titik didih sebesar 78,5 C, titik leleh
-114,1 C, berat jenis 0,789 dan tekanan uap 5,7 kPa. Bahan ini mudah larut dalam air
dingin dan air panas. Bahan ini berbahaya untuk kulit, mata, menelan dan inhalasi.
Penanganan untuk bahan yang tidak sengaja tertelan diusahakan tidak memaksakan
memuntah kecuali diarahkan oleh tenaga medis. Pakaian ketat dikendurkan seperti kerah,
dasi dan ikat pinggang (Anonim, 2017).

2.2. Landasan Teori


Larutan dikatakan ideal jika larutan tersebut mengikuti hukum Roult pada seluruh
kisaran komposisi sistem. Hukum Roult dalam bentuknya yang lebih umum didefinisikan
sebagai fugasitas dari tiap komponen dalam larutan yang sama dengan keadaan serta fraksi
molnya dalam larutan tersebut, yakni :
f 1 =X 1 f 1 (2.1)
Sedangkan hubungan antara tekanan parsial dan komposisinya dalam larutan merupakan
pendekatan dalam hal larutan yang mempunyai komponen tekanan parsial kecil.
0
P1=X 1 P1 (2.2)

Dimana : P1 = tekanan uap larutan


P0 = tekanan uap larutan murni
X 1 = mol fraksi larutan
Potensial kimia dari tiap komponen dalam larutan didefinisikan sebagai :
0
1=1 + R T ln X 1 (2.3)
(Dogra, 1990).
Semua komponen (pelarut dan zat terlarut) mengikuti Hukum Roult pada seluruh
selang konsentrasi dalam larutan ideal. Semua larutan encer yang tidak mempunyai
interaksi kimia di antara komponen-komponennya, Hukum Roult berlaku bagi pelarut,
baik ideal maupun tidak ideal. Tetapi Hukum Roult tidak berlaku pada zat terlarut pada
larutan tidak ideal encer. Perbedaan ini bersumber pada kenyataan : molekul-molekul
pelarut yang luar biasa banyaknya. Hal ini menyebabkan lingkungan molekul terlarut
sangat berbeda dalam lingkungan pelarut murni. Zat terlarut dalam larutan tak ideal encer
mengikuti Hukum Henry, bukan Hukum Roult (Petrucci, 1992).
Larutan juga dapat dikatakan sebagai larutan ideal apabila :
1. Homogen pada seluruh system mulai dari mol fraksi 0-1
2. Tidak ada entalpi pencampuran pada waktu komponen-komponen dicampur membentuk
larutan ( H pencampuran = 0 )
3. Tidak ada beda volume pencampuran, artinya volume larutan sama dengan jumlah
komponen yang dicampurkan ( V pencampuran = 0 )
(Tim Penyusun, 2017).
Sifat komponen larutan ideal adalah komponen yang satu akan mempengaruhi sifat
komponen yang lain, sehingga sifat larutan yang dihasilkan terletak diantara sifat kedua
komponennya. Contoh, sistem benzene-toluena. Larutan non ideal adalah larutan yang
tidak memiliki sifat di atas. Larutan ini dibagi dua golongan yaitu:
1. Larutan non ideal deviasi positif yang mempunyai volume ekspansi, dimana akan
menghasilkan titik didih maksimum pada sistem campuran itu. Contoh : sistem aseton-
karbondisulfida.
2. Larutan non ideal deviasi negative yang mempunyai volume kontraksi, dimana akan
menghasilkan titik didih minimum pada sistem campuran itu. Contoh : sistem benzene-
etanol dan sistem aseton-kloroform
(Tim Penyusun, 2017).
Transisi fase terjadi pada temperatur tertentu untuk suatu tekanan tertentu. Jadi,
pada tekanan 1 bar, es adalah stabil dan cair dibawah 0 0 C, tetapi diatas 00 C air cair lebih
stabil itu menunjukkan bahwa dibawah 00 C potensial kimia es lebih rendah dibandingkan
potensial kimia cairan. Sehingga _((s)) > _((i)) dan diatas 0 0 C, _((s)) < _((i)).
Temperatur transisi adalah temperatur dimana kedua potensial kimia bertemu _((s)) =
_((i)). Walaupun demikian, kita harus selalu membedakan antara termodinamika transisi
fase dan lajunya, dan transisi fase yang diramalkan karena termodinamika dapat
berlangsung terlalu lambat untuk mempunyai arti dalam praktikum (Oxtoby, dkk, 2001).

Gambar 2.1 Diagram fase campuran biner


Diagram fase suatu zat memperlihatkan daerah-daerah tekanan dan temperatur
dimana berbagai fase bersifat stabil secara termodinamis. Batas-batas antara daerah-daerah
itu, yaitu batas-batas fase memperlihatkan nilai P dan T dimana dua fase berada dalam
kesetimbangan. Jika suatu komponen pelarut mendekati murni, komponen itu berperilaku
sesuai dengan hukum Roult dan mempunyai tekanan uap yang sebanding dengan fraksi
mol. Beberapa larutan menyimpang jauh dari hukum Roult. Walaupun demikian, dalam hal
ini hukum itu semakin dipatuhi jika komponen berlebihan (sebagai pelarut) sehingga
mendekati kemurnian. Bisa dikatakan bahwa hukum Roult ini menerangkan pendekatan
yang baik untuk pelarut selama larutan itu encer. Kimia memberi notasi kuantitatif yang
berhubungan dengan zat murni dengan superskrip, sehingga potensial kimia campuran A
adalah A, karena tekanan uap cairan murni pada kesetimbangan kedua potensial kimiawi
sama besar, sehingga keduanya dapat dieliminasi (Atkins, 1990).
Distilasi merupakan salah satu teknik pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih
suatu zat. Pemisahan senyawa volatil dan senyawa non volatil dapat menggunakan teknik
distilasi. Cairan yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih dahulu,
kemudian semua uap panas yang dihasilkan akan langsung masuk menuju pipa kondensor
yang dingin, dan mengembunkan uapnya menjadi bentuk cairan kembali, sehingga
dihasilkan zat cair yang diinginkan (Tim Penyusun, 2016).
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. Dalam penyulingan,
campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali
kedalam bantuk cairan. Zat yang memliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih
dahulu. Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan panas.
Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing
komponen akan menguap pada titik didihnya. Model ideal distilasi didasarkan pada hukum
raoult dan hukum dalton. Prinsip pada destilasi biasa adalah pemisahan dua zat atau lebih
yang mempunyai perbedaan titik didih. Zat-zat yang dipisahkan apabila mempunyai
perbedaan titik didih yang jauh berbeda, dapat digunakan metode isolasi biasa. Zat yang
memiliki titik didih rendah akan cepat terdestilasi daripada zat yang bertitik didih tinggi.
Uap zat yang bersifat volatil dan memiliki titik didih yang rendah akan masuk ke dalam
pipa pada kondensator (terjadi proses pendinginan) sehingga akan turun berupa tetesan-
tetesan yang turun ke dalam penampung atau disebut juga destilat. Alkohol yakni etanol
dan methanol yang masing-masingnya dicampur dengan air, akan terdestilasi dahulu.
Prinsip pemisahan campuran yang melewati dua fase, yakni gas menjadi fase cair
dinamakan dengan proses destilasi. Perbedaan titik didih dan tekanan uap membuat kedua
campuran ini berpisah. Semakin tinggi tekanan uap maka titik didih cairan tersebut
semakin tinggi. Penguapan dipengaruhi oleh titik cairan tersebut. Cairan yang memiliki
titik didih teredah, maka lebih cepat untuk mendidih (Soebagio, dkk, 2005).
Peralatan distilasi umumnya terdiri dari 3 bagian utama yaitu penyulingan,
pendingin, dan penampung kondensat. Penyulingan berfungsi menampung bahan yang
akan disuling. Pendingin berfungsi mengubah uap air yang mengandung minyak atsiri
menjadi zat cair. Penampung kondensat berfungsi untuk memisahkan minyak atsiri dari air
yang terkondensasi secara sempurna. Suatu kondensat akan mengalir dari kondensor ke
penampung kondensat dan akan terlihat minyak atsiri yang dihasilkan
(Sastrohamodjojo, 2004).
BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
Labu leher tiga 1 buah
Labu angsa 1 buah
Kondensor 1 buah
Piknometer 1 buah
Beaker gelas 100 mL 2 buah
Beaker gelas 150 mL 2 buah
Pipet tetes 3 buah
Termometer 1 buah
Pipet mohr 1 buah
Ball pipet 1 buah
Mantel pemanas 1 buah
Erlenmeyer 1 buah
Gelas ukur 10 mL 1 buah
Gelas ukur 25 mL 1 buah
Labu ukur 10 mL 2 buah
Labu ukur 100 mL 1 buah
Beaker gelas 50 mL 1 buah
Botol semprot 1 buah
Neraca analitik 1 buah

3.1.2 Bahan
Akuades
Etanol
3.2 Skema Kerja

Etanol

dibuat sebanyak 100 mL dengan konsentrasi sebesar 1%, 1,5%, 2%, dan
2,5% dari konsentrasi 10%
ditentukan masing-masing massa jenisnya pada tiap-tiap konsentrasi dengan
menggunakan piknometer
dimasukkan kedalam botol uji untuk masing-masing konsentrasi dan diukur
kandungannya menggunakan sensor alkohol
dilakukan distilasi untuk masing-masing konsentrasi dan dicatat titik
didihnya
diambil distilat dan residu, lalu didinginkan
dimasukkan kedalam botol uji untuk masing-masing konsentrasi dan diukur
kandungannya
BABmenggunakan
4. HASIL DAN sensor alkohol
PEMBAHASAN
dibuat grafik komposisi vs suhu untuk setiap alkohol yang diukur

Hasil
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Komposisi %Alkohol
Titik
No alkohol dalam Massa Jenis Sebelum Setelah
didih Residu
air (%) distilasi Destilasi
1. 1% 0,9815 g/mL 97 C 0,016 0,452 -3,867
2. 1,5% 0,9895 g/mL 96 C 0,344 1,484 -1,422
3. 2% 0,09899 g/mL 95 C 1,048 1,549 -0,988
4. 2,5% 0,9988 g/mL 94 C 1,578 1,909 0,339

Komposisi alkohol dalam air Fraksi Mol Alkohol


No
(%) Sebelum Distilasi Destilat Residu
1. 1% 0,0000615 0,00174 -0,0144
2. 1,5% 0,00133 0,0058 -0,00545
3. 2% 0,004082 0,006062 -0,00380
4. 2,5% 0,00613 0,00755 0,00132

4.2 Pembahasan
Percobaan kedua membahas mengenai kesetimbangan uap-cair pada sistem biner.
Kesetimbangan uap-cair terjadi pada saat kondisi kecepatan evaporasi sama dengan
kecepatan kondensasi pada level molekuler. Suatu substansi yang berada pada
kesetimbangan uap-cair umumnya disebut fluida jenuh. Kondisi seperti ini juga disebut
sebagai disebut titik didih. Larutan biner adalah larutan yang mengandung dua komponen
zat yang dapat melarut dengan baik. Komponen yang memiliki jumlah terbesar atau fraksi
terbesar dalam larutan disebut sebagai pelarut. Komponen yang memiliki fraksi terkecil
dalam larutan disebut sebagai zat terlarut. Pelarut yang digunakan dalam percobaan ini
adalah akuades. Zat terlarut yang digunakan dalam percobaan ini adalah etanol.
Pencampuran etanol dalam akuades menghasilkan larutan etanol.
Kegiatan percobaan ini dilakukan pencampuran antara etanol dan akuades, dan
diperoleh larutan yang tidak saling bercampur dan membentuk dua lapisan, lapisan atas
adalah etanol dan lapisan bawahnya akuades. Hal ini disebabkan etanol memiliki massa
jenis yang lebih rendah daripada massa jenis akuades. Setelah terjadi pencampuran antara
akuades dan etanol dilakukan pemanasan kemudian pendinginan dengan metode distilasi.
Saat mencapai suhu tertentu larutan ini akan bercampur dan akan saling memisah dan
membentuk dua fase kembali, dimana larutan tersebut menjadi keruh. Adapun prinsip kerja
dari distilasi ini adalah perbedaan titik didih antara zat terlarut dengan pelarut, sehingga
pada saat suhu tertentu, zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap terlebih
dahulu meninggalkan larutan kemudian melewati kondensor (pendingin) dan jatuh sebagai
cairan yang ditampung pada wadah distilat. Campuran etanol dan akuades merupakan
campuran azeotrop. Campuran azeotrop adalah campuran dimana komponen-
komponennya memiliki titik didih yang berdekatan. Sehingga akan sulit dipisahkan
menggunakan metode distilasi sederhana. Proses distilasi dihentikan bila campuran
tersebut sudah mencapai suhu kesetimbangan saat cairan yang berada di dalam labu leher
tiga mendidih untuk pertama kali. Cairan yang jatuh dalam labu distilat pada saat proses
distilasi disebut distilat yang berupa larutan etanol karena memiliki titik didih yang lebih
rendah dibandingkan akuades. Sedangkan cairan yang masih tertinggal di dalam labu leher
tiga dinamakan residu yang berupa akuades. Besarnya nilai densitas juga dipengaruhi oleh
titik didih campuran. Namun densitas juga sangat dipengaruhi oleh komposisi komponen
tertentu.
Kegiatan pertama yaitu menentukan densitas larutan etanol. Larutan etanol 10%
sebelumnya diencerkan pada konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%, masing-masing
sebanyak 100 mL. Etanol konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%, masing-masing ditentukan
densitasnya menggunakan piknometer pada suhu ruang. Piknometer memiliki volume 10
mL. Piknometer ditimbang terlebih dahulu untuk mengetahui massa awalnya. Piknometer
kemudian diisi dengan etanol konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%, kemudian ditimbang.
Selisish massa akhir (etanol dan piknometer) dengan massa piknometer awal akan
didapatkan massa etanol. Volume etanol sama dengan volume piknometer, yaitu 10 mL.
Berdasarkan data massa etanol, dan volume etanol maka didapatkan densitas larutan etanol
konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%. Nilai densitas etanol konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan
2,5% secara berurutan yaitu 0,9815 g/mL, 0,9895 g/mL, 0,09899 g/mL, dan 0,9988 g/mL.
Data hasil percobaan dan perhitugan menunjukkan hasil yang sesuai dengan literatur.
Menurut Chang (2004), densitas berbanding lurus dengan nilai konsentrasi, semakin besar
konsentrasi suatu larutan maka nilai densitasnya juga semakin besar. Hal tersebut
disebabkan, semakin besar nilai konsentrasi larutan, maka jumlah partikel dalam
larutannya semakin banyak, sehingga menghasilkan densitas yang lebih besar dengan
wadah volume (yang ditempati) yang sama. Adapun grafik massa jenis versus konsentrasi
dapat dilihat dari grafik dibawah ini:
densitas vs konsentrasi
1.01
1
1 f(x) = 0.01x + 0.97
0.99 R = 0.91
Densitas 0.99 Linear ()
0.98
0.98
0.97
0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 2.2 2.4 2.6

konsentrasi (%)

Gambar 4.1 Grafik massa jenis versus konsentrasi


Kegiatan kedua yaitu mengukur kadar alkohol larutan etanol konsentrasi 1%,
1,5%, 2%, dan 2,5%. Pengukuran kadar alkohol dilakukan sebelum dan sesudah distilasi.
Pengukuran kadar alkohol ditentukan menggunakan alat sensor alkohol. Berdasarkan
pengukuran kadar alkohol menggunakan sensor alkohol maka didapatkan data %volume
alkohol dalam larutan. Pengukuran kadar alkohol dari larutan etanol sebelum didistilasi
maka didapatkan %volume alkohol. Berdasarkan data massa jenis (densitas) larutan etanol
dan %volume alkohol pada masing-masing konsentrasi maka didapatkan nilai fraksi mol
etanol dalam larutan. Langkah selanjutnya yaitu dibuat grafik hubungan fraksi mol dengan
destilat, fraksi mol dengan residu dan fraksi mol dengan temperatur.
Pengukuran kadar alkohol pertama, dilakukan pada masing-masing larutan etanol
konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% sebelum dilakukan distilasi. Tujuan dilakukan
distilasi yaitu untuk mendapatkan distilat dalam keadaan murninya dan residunya.
Berdasarkan pengukuran menggunakan alat sensor alkohol, maka didapatkan %kadar
alkohol dalam larutan etanol konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% secara berurutan yaitu
0,016; 0,344; 1,048; dan 1,578. Adapun nilai fraksi mol etanol dalam larutan etanol
konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% sebelum dilakukan distilasi yaitu 0,0000615;
0,00133; 0,004082 dan 0,00613. Fenomena ini sesuai dengan literatur, menurut Atkins
(1990) besarnya konsentrasi berbanding lurus dengan fraksi mol. Semakin besar
konsentrasinya maka fraksi mol dari suatu zat juga memiliki bagian yang besar dalam
suatu campuran. Adapun hubungan grafiknya yaitu sebagai berikut:
Fraksi mol Versus % alkohol
(sebelum didistilasi)
2

1.5
f(x) = 257.14x + 0
R = 1
1
%Alkohol (sebelum distilasi) Linear ()
0.5

0
0 0.01 0.01

Fraksi mol

Gambar 2.2 grafik fraksi mol versus %alkohol (sebelum didistilasi)


Suhu pada saat cairan pertama kali mendidih (ditandai dengan terbentuknya uap yang jatuh
setelah kondensasi pertama) pada proses distilasi dicatat sebagai titik didih. Titik didih
diukur pada masing-masing konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%. Berdasarkan
pengukuran, maka diperoleh titik didih masing-masing konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan
2,5% secara berurutan yaitu sebesar 97 C, 96 C, 95 C, dan 94 C. Titik didih etanol
sekita 78 C sedangkan titik didih akuades sekitar 100 C. Sehingga hasil tersebut sesuai
dengan literatur. Semakin besar nilai fraksi mol etanol dalam campuran maka titik didih
campurannya semakin kecil karena fraksi terbesarnya dimiliki oleh zat yang memiliki titik
didih yang lebih rendah. Sehingga meningkatnya fraksi mol zat yang memiliki titik didih
lebih rendah akan menurunkan titik didihnya. Adapun grafiknya sebagai berikut:

Temperatur versus Fraksi Mol Etanol


0.01
0.01
f(x) = - 0x + 0.2
0.01
R = 0.98
0
Fraksi Mol Etanol 0 Linear ()
0
0
0
93 94 95 96 97 98

Titik Didih (C)

Gambar 2.3 grafik fraksi mol versus temperatur (titik didih)


Kegiatan selanjutnya yaitu melakukan distilasi pada masing-masing larutan etanol
konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%. Langkah selanjutnya yaitu mengukur kadar alkohol
pada campuran konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% setelah dilakukan distilasi. Kadar
alkohol yang diukur yaitu distilat dan residunya. Tujuan dilakukan pengukuran pada
distilat dan residunya yaitu untuk mengetahui kadar alkohol pada hasil pemisahan
(distilasi) dan kadar alkohol yang tersisa pada residunya (yang tidak ikut teruapkan).
Berdasarkan pengukuran menggunakan alat sensor alkohol, maka didapatkan %kadar
alkohol dalam distilat pada konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% secara berurutan yaitu
0,452; 1,484; 1,549; dan 1,909. Adapun nilai fraksi mol etanol pada distilat dengan
konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% yaitu 0,00174; 0,0058; 0,006062; dan 0,00755.
Fenomena ini sesuai dengan literatur, menurut Atkins (1990) besarnya konsentrasi
berbanding lurus dengan fraksi mol. Semakin besar konsentrasinya maka fraksi mol dari
suatu zat juga memiliki bagian yang besar dalam suatu campuran. Adapun hubungan
grafiknya yaitu sebagai berikut:

Fraksi mol etanol versus %alkohol distilat


2.5

2
f(x) = 251.7x + 0.02
1.5 R = 1
%alkohol 1 Linear ()

0.5

0
0 0 0 0 0.01 0.01 0.01 0.01

Fraksi mol etanol

Gambar 2.4 grafik fraksi mol etanol versus %alkohol pada distilat
Kegiatan selanjutnya yaitu mengukur kadar alkohol pada residu pada konsentrasi
campuran 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5%. Residu adalah bagian yang tertinggal pada labu leher
tiga. Tujuan dilakukan pengukuran pada residunya yaitu untuk mengetahui kadar alkohol
yang tersisa pada campuran yang tidak ikut teruapkan. Berdasarkan pengukuran
menggunakan alat sensor alkohol, maka didapatkan %kadar alkohol pada residu pada
konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan 2,5% secara berurutan yaitu -3.867; -1,422 ; -0,988; dan
0,339. Adapun nilai fraksi mol etanol pada distilat dengan konsentrasi 1%, 1,5%, 2%, dan
2,5% yaitu -0,0144; -0,00545; -0,00380; dan 0,00132. Fenomena ini sesuai dengan
literatur, menurut Atkins (1990) besarnya konsentrasi berbanding lurus dengan fraksi mol.
Semakin besar konsentrasinya maka fraksi mol dari suatu zat juga memiliki bagian yang
besar dalam suatu campuran juga semakin besar. Adapun hubungan grafiknya yaitu
sebagai berikut:

Fraksi mol versus %alkohol pada residu


1

0
f(x) = 268.2x + 0.02
-0.02 -0.01
R = 1 0 0.01
-1

%alkohol pada residu -2


Linear ()
-3

-4

-5

Fraksi mol

Gambar 2.5 grafik fraksi mol etanol versus %alkohol pada residu
Grafik diatas menunjukkan hubungan antara fraksi mol dengan % residunya, karena proses
distilasi tidak dilakukan sampai selesai atau dihentikan setelah terbentuk beberapa satuan
volume distilat maka residu masih banyak mengandung etanol. Sehingga grafik yang
dihasilkan menunjukkan bahwa semakin besar fraksi mol etanol maka %alkohol dalam
residu juga semakin besar.
BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan mengenai kesetimbangan uap-cair pada sistem biner
(akuades:etanol) maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi etanol dalam
campuran biner dapat memperbesar fraksi mol etanol dalam campuran. Peningkatan fraksi
mol etanol dalam campuran membuat titik didih campurannya semakin rendah. Hal
tersebut disebabkan fraksi terbesarnya dimiliki oleh zat yang memiliki titik didih yang
lebih rendah. Sehingga meningkatnya fraksi mol zat yang memiliki titik didih lebih rendah
akan menurunkan titik didihnya.

5.2 Saran
Adapun saran yang dapat diberikan berdasarkan percobaan kesetimbangan uap-cair
pada sistem biner yaitu hendaknya penentuan densitas etanol menggunakan piknometer
diperhatikan pengisian etanol pada tanda batasnya. Sehingga didapatkan data yang akurat.
Daftar Pustaka

Anonim. 2017. Material Safety Data Sheet of Aquades [Serial Online].


http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsid= 9927402. [diakses 4 April 2017].
Anonim. 2017. Material Safety Data Sheet of ethanol [Serial Online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsid= 9923956. [diakses 4 April 2017].
Atkins, PW. 1990. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.
Dogra, SK dan S. Dogra. 1990. Kimia Fisik dan Soal-soal. Jakarta : Universitas Indonesia.
Oxtoby, David W., dkk. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, H.Ralph, dkk. 1992. Kimia Dasar Prinsip dan Aplikasi Modern Edisi Keempat
Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Sastrohamidjojo, H. Kimia Minyak Atsiri. Yogyakarta: Universias Gajah Mada.
Soebagio, dkk. 2005. Kimia Analitik II. Malang: UM Press.
Tim Penyusun. 2016. Petunjuk Praktikum Fisik II. Jember: Universitas Jember.
Tim Penyusun. 2017. Petunjuk Praktikum Kesetimbangan Kimia. Jember: Universitas
Jember.
LAMPIRAN
Pengenceran etanol
Vetanol x Metanol = Vair x Mair
Vetanol x 99,8% = 100 mL x 10%
Vetanol = 10 mL
Pembuatan Etanol 1%
Vetanol x Metanol = Vair x Mair
Vetanol x 10% = 100 mL x 1%
Vetanol = 10 mL
Pembuatan Etanol 1,5%
Vetanol x Metanol = Vair x Mair
Vetanol x 10% = 100 mL x 1,5%
Vetanol = 15 mL
Pembuatan Etanol 2%
Vetanol x Metanol = Vair x Mair
Vetanol x 10% = 100 mL x 2%
Vetanol = 20 mL
Pembuatan Etanol 2,5%
Vetanol x Metanol = Vair x Mair
Vetanol x 10% = 100 mL x 2,5%
Vetanol = 25 mL
Massa Jenis Etanol
Masa piknometer kosong = 35, gram
Massa Jenis 1%
m massa etanol
= =
v volume
( masa piknometer+ etanol )(massa piknometer kosong)
=
volume
42,165 gram32,350 gram
=
10 mL
9,815 gram
=
10 mL
gram
= 0,9815
mL
Massa Jenis 1,5%
m massa etanol
= =
v volume
( masa piknometer+ etanol )(massa piknometer kosong)
=
volume
42,245 gram32,350 gram
=
10 mL
9,895 gram
=
10 mL
gram
= 0,9895
mL
Massa Jenis 2%
m massa etanol
= =
v volume
( masa piknometer+ etanol )(massa piknometer kosong)
=
volume
42,249 gram32,350 gram
=
10 mL
9,899 gram
=
10 mL
gram
= 0,9899
mL
Massa Jenis 2,5%
m massa etanol
= =
v volume
massa etanol
=
volume
( masa piknometer+ etanol )(massa piknometer kosong)
=
volume
42,338 gram32,350 gram
=
10 mL
9,988 gram
=
10 mL
gram
= 0,9988
mL
densitas vs konsentrasi
1.01
1
1 f(x) = 0.01x + 0.97
0.99 R = 0.91
Densitas 0.99 Linear ()
0.98
0.98
0.97
0.8 1 1.2 1.4 1.6 1.8 2 2.2 2.4 2.6

konsentrasi (%)

Fraksi Mol
Sebelum destilasi
Fraksi Mol 1%
% etanol = % volume etanol
= 10 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 0,016 mL x 0,9815
mL
= 0,0157 gram
massa etanol
=
Mr etanol
0,0157 gram
= gram
46,068
mol
= 0,000341 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 0,016 mL
= 99,984 mL
gram
Massa air = 99,984 mL 1
mL
= 99,984 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
0,0157 gram
gram
46,068
mol
=
0,0157 gram 99,984 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,000341
=
0,000341l+5.549 mol
0.000341mol
=
5,5493 mol
= 6,15 105
Fraksi Mol 1,5%
% etanol = % volume etanol
= 15 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 0,344 mL x 0,9895
mL
= 0,340 gram
massa etanol
=
Mr etanol
0,340 gram
= gram
46,068
mol
= 0,00738 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 0,344
= 99,656 mL
gram
Massa air = 99,656 mL 1
mL
= 99,656 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
0,340 gram
gram
46,068
mol
=
0,340 gram 99,656 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,00738 mol
=
0,00738mol +5,530 mol
0,00738mol
=
5,537 mol
= 1,33 103

Fraksi Mol 2%
% etanol = % volume etanol
= 20 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 1,048 mL x 0,9899
mL
= 1,037 gram
massa etanol
=
Mr etanol
1,037 gram
= gram
46,068
mol
= 0,0225 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 1,048 mL
= 98,95 mL
gram
Massa air = 98,95 mL 1
mL
= 98,95 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
1,037 gram
gram
46,068
mol
=
1,037 gram 98,95 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,0225 mol
=
0,0225mol +5,49 mol
0,0225mol
=
5,512mol
= 4,082 103
Fraksi Mol 2,5%
% etanol = % volume etanol
= 25
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 1,578 mL x 0,9988
mL
= 1,576 gram
massa etanol
=
Mr etanol
1,576 gram
= gram
46,068
mol
= 0,034 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 1,578 mL
= 98,42 mL
gram
Massa air = 98,42 mL 1
mL
= 98,42 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
1,576 gram
gram
46,068
mol
=
1,576 gram 98,42 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,034 mol
=
0,034 mol+5,46 mol
0,034 mol
=
5,494 mol
= 6,13 103
Grafik Fraksi mol Vs Kandungan Etanol Sebelum Distilat
Fraksimol 0,0000615 0,00133 0,00408 0,00613
2
KandunganAlkohol 0,016 0,344 1,048 1,578

Fraksi mol Versus % alkohol


(sebelum didistilasi)
2

1.5
f(x) = 257.14x + 0
R = 1
1
%Alkohol (sebelum distilasi) Linear ()
0.5

0
0 0.01 0.01

Fraksi mol

Titik Didih Fraksi mol Sebelum Distilasi


97 C 0,0000615
96 C 0,00133
95 C 0,004082
94 C 0,00613
Temperatur versus Fraksi Mol Etanol
0.01
0.01
f(x) = - 0x + 0.2
0.01 R = 0.98
0
Fraksi Mol Etanol 0
Linear ()
0
0
0
93 94 95 96 97 98

Titik Didih (C)

Destilat
Fraksi Mol 1%
% etanol = % volume etanol
= 10 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 0,452 mL x 0,9815
mL
= 0,443 gram
massa etanol
=
Mr etanol
0,443 gram
= gram
46,068
mol
= 0,00961 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 0,452 mL
= 99,548 mL
gram
Massa air = 99,548 mL 1
mL
= 99,548 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
0,443 gram
gram
46,068
mol
=
0,443 gram 99,548 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,00961 mol
=
0,00961mol+ 5,52mol
0,00961mol
=
5,530 mol
= 1,74 103
Fraksi Mol 1,5%
% etanol = % volume etanol
= 20 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 1,484 mL x 0,9895
mL
= 1,468 gram
massa etanol
=
Mr etanol
1,468 gram
= gram
46,068
mol
= 0,0319 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 1,484 mL
= 98,516 mL
gram
Massa air = 98,516 mL 1
mL
= 98,516 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
1,468 gram
gram
46,068
mol
=
1,468 gram 98,516 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,0319mol
=
0,0319moll+5,47 mol
0,0319moll
=
5,50 mol
= 5,8 103
Fraksi Mol 2%
% etanol = % volume etanol
= 20 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 1,549 mL x 0,9899
mL
= 1,533 gram
massa etanol
=
Mr etanol
1,533 gram
= gram
46,068
mol
= 0,0333 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 1,549 mL
= 98,451 mL
gram
Massa air = 98,451 mL 1
mL
= 98,451 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
1,533 gram
gram
46,068
mol
=
1,533 gram 98,451 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,0333 mol
=
0,0333mol +5,46 mol
0,0333mol
=
5,493 mol
= 6,062 103
Fraksi Mol 2,5%
% etanol = % volume etanol
= 25 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 1,909 mL x 0,9988
mL
= 1,907 gram
massa etanol
=
Mr etanol
1,907 gram
= gram
46,068
mol
= 0,0414 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 1,909 mL
= 98,091 mL
gram
Massa air = 98,091 mL 1
mL
= 98,091 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
1,907 gram
gram
46,068
mol
=
1,907 gram 98,091 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,0454 mol
=
0,0414 mol+5,44 mol
0,0414 moll
=
5,48 mol
= 7,55 103

Grafik Fraksimol Vs Kandungan Etanol Distilat


Fraksimol 0,0017 0,0058 0,00606 0,00755
4 2
KandunganAlkoho 0,452 1,484 1,549 1,909
l

Fraksi mol etanol versus %alkohol distilat


2.5

2
f(x) = 251.7x + 0.02
1.5 R = 1
%alkohol 1 Linear ()

0.5

0
0 0 0 0 0.01 0.01 0.01 0.01

Fraksi mol etanol

Residu
Fraksi Mol 1%
% etanol = % volume etanol
= 10 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= -3.867 mL x 0,9815
mL
= -3,79 gram
massa etanol
=
Mr etanol
3,79 gram
= gram
46,068
mol
= - 0,082 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL (-3,867) mL
= 103,867 mL
gram
Massa air = 103,867 mL 1
mL
= 103,867 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
3,79 gram
gram
46,068
mol
=
3,79 gram 103.867 gram
+
gram g ram
46,068 18,02
mol mol
0,082 mol
=
0,082 mol+5,76 mol
0,082 mol
=
5,678 mol
= -1,44 102
Fraksi Mol 1,5%
% etanol = % volume etanol
= -1,422
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= -1,422 mL x 0,9895
mL
= - 1,40 gram
massa etanol
=
Mr etanol
1,40 gram
= gram
46,068
mol
= - 0,0305 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL (-1,422) mL
= 101,422 mL
gram
Massa air = 101,422 mL 1
mL
= 101,422 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
1,40 gram
gram
46,068
mol
=
1,40 gram 101,422 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,0305 mol
=
0,0305 mol+5,62 mol
0,0305 mol
=
5,589 mol
3
= -5,45 10

Fraksi Mol 2%
% etanol = % volume etanol
= 20 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= -0,988 mL x 0,9899
mL
= -0,978 gram
massa etanol
=
Mr etanol
0,978 gram
= gram
46,068
mol
= -0,0212 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL (-0,988)
= 100,988 mL
gram
Massa air = 100,988 mL 1
mL
= 100,988 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
0,978 gram
gram
46,068
mol
=
0,978 gram 100,988 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,0212 mol
=
0,0212 mol+5,60 mol
0,0212 mol
=
5,578 mol
= -3,80 103
Fraksi Mol 2,5%
% etanol = % volume etanol
= 25 mL
Massa Etanol = % volume etanol x etanol
gram
= 0,339 mL x 0,9988
mL
= 0,3385 gram
massa etanol
=
Mr etanol
0,3385 gram
= gram
46,068
mol
= 0,00734 mol
Vair = 100 %volume etanol
= 100 mL 0,339 mL
= 99,661 mL
gram
Massa air = 99,661 mL 1
mL
= 99,661 gram
massa etanol
Mr etanol
Xetanol =
massa etanol massa aquades
+
Mr etanol Mr aquades
0,3385 gram
gram
46,068
mol
=
0,3385 gram 99,661 gram
+
gram gram
46,068 18,02
mol mol
0,00734 mol
=
0,00734 mol+5,53 mol
0,00734 mol
=
5,537 mol
= 1,32 103
Grafik Fraksimol Vs Kandungan Etanol pada Residu
Fraksimol -0,0144 -0,00545 -0,00380 0,00132
KandunganAlkohol -3.867 -1,422 -0,988 0,339

Fraksi mol versus %alkohol pada residu


1

0
f(x) = 268.2x + 0.02
-0.02 -0.01
R = 1 0 0.01
-1

%alkohol pada residu -2


Linear ()
-3

-4

-5

Fraksi mol