Anda di halaman 1dari 7

Nama kelompok: 1.

Farida samsi chadaria (7311415005)

2. Maulida Anisa (7311415006)

Rombel : Manajemen A 2015

BAB 11
KEKUATAN TENAGA KERJA
Kekuatan tenaga kerja adalah kualitas dan kuantitas masyarakat atau penduduk suatu
negara yang menjadi aset bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi menuju salah satu
kekuatan ekonomi dunia.

Perbedaan dalam Kondisi Tenaga Kerja

JEPANG

Jepang pernah berada diambang merebut posisi pimpinan ekonomi dunia. Akan tetapi, justru saat
ini negara tersebut sedang mengalami stagnansi ekonomi yang telah berlangsung selama lebih
dari satu dekade setelah periode puncak di tahun 1980. Keengganan untuk menghadapi
kelemahan struktural dan menerima risiko, menyebabkan jepang sebuah negara yang dengan
tegas melindungi kenyamanan dan kepastian status quo, mengalami malaise ekonomi dan sosial.
Akan tetapi akhir-akhir ini jepang mulai melakukan perubahan, salah satu perubahan tersebut
mulai menghilangnya kultur pekerjaan seumur hidup di jepang.perusahaan elite Toyota motor
cooperation mulai mempekerjakan desainer otomotif yang berpengalaman berdasarkan kontrak.
Mereka akan ditawari kenaikan gaji berdasarkan kemampuan bukan senioritas. Dalam dekade
sebelumnya, jumlah pekerjaan tetap di jepang berkurang lebih dari satu juta. Pekerjaan paruh
waktu justru megalami peningkatan. Perkembangan ini justru mengancam terciptanya
kesenjangan antara orang berada dengan orang tak punya. Menurunnya tingkat kelahiran di
jepang dan meningkatnya orang juga berkontribusi atas apa yang disebut oleh pemerintah jepang
sebagai krisis tenaga kerja.

CINA

Pergeseran Cina menuju ekonomi pasar adalah hal yang luar biasa. Sejak tahun 1978, proporsi
ekonomi nasional yang berasal dari perusahaan-perusahaan negara telah mengalami penurunan
dari 80% hingga hanya sekitar 15%. Pergeseran cina dari ekonomi pedesaan menjadi ekonomi
perkotaan juga tidak kalah mengesankan. Setidaknya 300 juta orang telah pindah dari desa ke
kota . Sebagai respons terhadap trend ini, kebutuhan cina akan SDM yang termpil juga
mengalami peningkatan. Sementara itu , jumlah murid yang lulus dari kampus-kampus di Cina
telah mengalami peningkatan lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2002.
Kualitas dan kuantitas dan komposisi dari ketersediaan tenaga kerja dalam sebuah negara
merupakan hal-hal yang penting bagi orang yang ingin menciptakan lapangan kerja, terutama
karena pencipta lapangan kerja harus efesien, berdaya saing, dan menguntungakan.

Kualitas tenaga kerja mengacu pada sikap, pendidikan dan kemampuan dari tenaga kerja
yang tersedia. Kuantitas tenaga kerja mengacu kepada jumlah tenaga kerja yang tersedia dengan
kemampuan yang sesuai dengan pencipta tenaga kerja.

Kondisi dan Trend Tenaga Kerja di Seluruh Dunia

KESELURUHAN UKURAN DAN SEKTOR TENAGA KERJA

Pada tahun 2008, dunia memiliki populasi 6,7 miliar, 46% diantaranya berusia dibawah 25 tahun
dan 27% berusia dibawah 15 tahun. Akibat dari tingginya angka kelahiran dan turunnya tingkat
kematian bayi, populasi di negara berkembang cenderung mengalami pertumbuhan dan sebagian
besar berusia muda. Sebaliknya di negara maju diperkirakan akan mengalami penurunan selama
beberapa tahun mendatang. Sebagai akibat dari berbagai faktor seperti rendahnya tingkat
kelahiran dan rendahnya tingkat imigrasi.

MENUANYA POPULASI

Cepatnya peningkatan proporsi populasi dunia yang berusia lebih dari 65 tahun telah menarik
banyak perhatian selama beberapa tahun belakangan. Tidak semua negara atau kawasan
mengalami kondisi yang sama dalam populasi usia lanjut. Trend ini lebih terdeteksi di negara-
negara maju, yang proporsi penduduk usia lanjutnya meningkat dari 10% menjadi 11,5% dan
proyeksinya akan meningkat 25,4% mendatang. Dibandingkan dengan negara maju, negara
berkembang hanya akan memiliki sekitar setengah seperenam populasi dunia yang berusia 20
hingga 64 tahun di tahun 2006. Diproyeksikan akan mengalami penuaan populasi yang lebih
lambat.

URBANISASI TENAGA KERJA

Populasi dan tenaga kerja di seluruh dunia telah mengalami pergesaran yang luar biasa dari desa
ke kota selama satu abad belakangan. Kurang dari 29% populasi dunia tinggal di perkotaan, dan
proporsi ini diperkirakan akan meningkat menjadi 60% pada tahun 2030. Meskipun di negara
maju tingkat urbanisasi lebih tinggi, pada periode 1975 hingga 2005 tingkat urbanisasi di negara
berkembang empat kali lipat lebih cepat karena negara-negara ini mengalami kenaikan populasi
yang cepat, serta peningkatan kondisi ekonomi. Karena penduduk berimigrasi dari desa ke kota,
terutama di negara-negara berkembang, mereka juga berpindah dari pekerjaan berbasis pertanian
ke pekerjaan sektor industri dan jasa.

PENGANGGURAN
Liberalisasi perdagangan merupakan kunci penggerak perkembangan negara dan ekonomi. Akan
tetapi, di waktu yang sama, liberalisasi perdagangan sering kali memiliki dampak jangka pendek
hingga menengah terhadap tenaga kerja. Hal ini merupakan persoalan dalam hal menciptakan
pemenang dan pihak yang kalah akibat efek perdagangan dan investasi, baik di dalam
maupun di luar negeri. Individu dan kelompok cenderung menjadi yang paling rentan terhadap
dampak negative internasionalisme, akibat dari kemampuan mereka untuk secara cepat dan
efektif mengatasi perubahan yang terkait perdagangan, termasuk masyarakat miskin,usia lanjut,
wanita, dan pekerja dengan kemampuan yang rendah. Yang menyertai permasalahan ini adalah
kenyataan bahwa sebagian besar negara berkembang tidak memiliki program yang mewadai
seperti program pelatihan kembali, bantuan untuk pengangguran, program pensiun (terutama
yang bisa disesuaikan oleh pemilik usaha) untuk mengatasi secara efektif situasi tersebut.

PEKERJA IMIGRAN

Tenaga kerja migran mengisi posisi-posisi mulai dari pekerjaan yang menuntut keterampilan
tinggi, seperti di sektor teknologi informasi atau kesehatan, hingga pekerjaan yang tidak begitu
menuntut ketrampilan para pekerjannya, yaitu sektor pertanian, kebersihan dan jasa rumah
tangga. Banyak pekerja migran terjebak dalam pekerjaan 3M mengotori, membahayakan, dan
merendahkan yang tidak mau dikerjakan oleh pekerja yang berasal dari negara tuan rumahnya
atau hanya sedikit dari mereka yang bersedia melakukan pekerjaan tersebut. Perpindahan
imigran sebagian besar merupakan pekerja yang tidak terlatih dalam skala besar di dalam dan
terutama di luar negeri telah menjadi persoalan pokok dalam manajemen SDM serta dalam
penetapan kebiajakan makro dan perdebatan politik.

PEKERJA ANAK

Menurut ILO 246 juta anak di dunia yang berusia 5 hingga 17 tahun bekerja di dalam kondisi
yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka dan pemanfaatan pekerja anak dianggap
eksploitatif, berbahaya dan kotor demi upah yang benar atau tidak diupah sama sekali. Pekerja
anak juga ada di negara-negara maju, meskipun proporsinya lebih rendah dibandingkan yang
biasa ditemukan di negara berkembang. Secara keseluruhan, hampir 70 persen pekerja anak
bekerja di sektor pertanian. UNICEF menyarankan hanya makan melarang pekerjaan yang dapat
membahayakan perkembangan dari anak-anak tersebut. Lembaga ini juga mengamati bahwa
memaksa anak untuk keluar dari pabrik dan bersekolah bisa aja justru berakibat buruk bagi
mereka kecuali keluarga mereka mengganti kerugian atas hilangnya penghasiklan, dan kebijakan
seperti itu dapat memperburuk kondisi mereka. Salah satu yang dilakukan oleh ILO adalah
convention on the right of the child (CRC). Empat prinsip utama CRC yaitu:

1. Tidak ada deskriminasi


2. Pengabdian demi kepentingan terbaik bagi anak-anak
3. Hak untuk hidup, selamat dan berkembang
4. Menghormati pandangan anak-anak
KERJA PAKSA

Kerja paksa yang secara umum terjadi di Asia Selatan dan Timur, Afrika bagian utara dan barat,
dan sebagian Amerika Latin, saat ini bisa melibatkan 27 juta orang. Wanita, anak-anak, dan pria
berpendapatan rendah biasanya menjadi korba kerja paksa. Bentuk perdagangan manusia dalam
laporan tersebut meliputi kerja ijon, kerja paksa, ikatan utang, kerja pkasa domestic, kerja paksa
anak, tentara anak, perdagangan seks, dan pelacuran, eksploitasi anak-anak untuk seks komersial,
dan wisata seks anak. Beberapa bentuk tenaga kerja dipaksa bekerja untuk upah yang kecil atau
tidak diupah sama sekali karena etnis atau status sosial mereka.

BRAIN DRAIN

Saat pekerja terlatih bermigrasi dari negara berkembang, fenoma tersebut dikenal sebagai brain
drain. Mereka biasanya melakukan hal tersebut untuk mengambil kesempatan professional dan
alasan ekonomi. Brain drain telah menjadi persoalan serius bagi negara berkembang, terutama
saat migrasi berkaitan dengan kehilangan kaum professional terlatih seperti ilmuwan, spesialis
TI, insinyur, guru, dan pekerja sosial dibidang medis. Bank dunia menyatakan bahwa negara-
negara paling terkena dampak brain drain adalah negara-negara kecil dan miskin di Afrika,
Amerika Tengah, dan Karibia. Kebalikan brain drain akhir-akhir ini para pendidik dan pebisnis
di Amerika mulai khawatir mengenai kebalikan brain drain, sebuah trend yang berhubungan
dengan pertumbuhan alih daya dan kesediaan pemerintah federal untuk mengizinkan para
ilmuwan kontroversial untuk pindah ke negara lain. Situasi telah diperkuat dengan adanya
pembatasan terhadap visa kerja yang dikeluarkan setiap tahun bagi pekerja yang terlatih dari luar
negeri yang menghalangi kemampuan perusahaan untuk menarik bakat-bakat langka dan
meningkatkan kemungkinan bahwa pekerja terlatih asing ini akan tetap tinggal di negara mereka
atau mencari pekerjaan di negara ketiga.

PEKERJA TAMU

Negara yang menerima banyak pengungsi atau memiliki tingkat kelahiran yang tinggi mungkin
akan memiliki sedikit lapangan pekerjaan yang tersedia, akan tetapi ada juga negara yang
memiliki jumlah penduduk yang sangat sedikit. Prancis, Jerman, negara-negara Skandinavia dan
Swiss, semuanya memiliki tingkat kelahiran rendah, dan negara tersebut masuk kategori negara
terakhir. Negara-negara tersebut memiliki pekerja tamu untuk mengerjakan beberapa jenis
pekerjaan terutama di bidng jasa, pabrik, atau konstruksi. Sebagian besar pekerja tamu di negara-
negara ini berasal dari Turki, Eropa Timur, dan Afrika Utara. Pekerja tamu menyediakan tenaga
kerja bagi negara tuan rumah yang menguntungkan pada saat ekonomi berkembang. Akan tetapi
pada saat ekonomi melambat pekerja yang dibutuhkan lebih sedikit dan mucul permasalahan-
permasalahan. Jumlah pengangguran di antara warga negaranya meningkat, yang kemudian
menginginkan pekerjaan yang dimiliki oleh pekerja tamu untuk memuaskan warga negaranya
beberapa negara menolak memperbarui izin bekerja pekerja tamu.
PERTIMBANGAN DALAM KEBIJAKAN KEPEGAWAIAN

Perusahaan yang mempertimbangkan untuk berbisnis di pasar internasional harus


mempertimbangkan berbagai persoalan yang terkait dengan kebijakan kepegawaian yang
digunakan. Kebijakan tersebut seperti status sosial, sekisme, rasialisme, adanya minoritas di
dalam masyarakat tradisional, dan keseluruhan situasi tenaga kerja yang ditemui di Negara-
negara berkembang.

1. Status sosial

Beberapa orang menentukan status seseorang berdasarkan kasta atau kelas sosial
dimana ia dilahirkan. Contohnya adalah Negara India yang masih mempertahankan
system kasta, meskipun sering terjadi pertikaian yang berakibat pembunuhan atau
pembakaran rumah.

2. Sekisme
Tingkat kebebasan dan tanggapan wanita pada kekuatan buruh di Amerika Serikat
dan Eropa Barat umumnya lebih baik daripada di Negara lain.
Majikan harus mempertimbangkan sikap terhadap jenis kelamin di lingkungan
masyarakat dimana ia berada. Kaum wanita di Amerika Serikat mendapat tanggapan
positif di dunia bisnis ataupun sector lainnya, dan keberadaan wanita di sector ini
menguntungkan bagi dunia usaha. Tetapi terdapat banyak Negara dimana ketentuan adat,
perilaku atau agama kurang mendukung wanita dalam profesi bisnis.
3. Rasialisme
Konflik rasial dan diskriminasi hampir terjadi di seluruh belahan dunia. Konflik
perbedaan warna kulit terjadi di Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Inggris. Selain itu
di Afrika terjadi konflik rasial warga Arab, India, dan Pakistan melawan orang berkulit
hitam Afrika.
4. Adanya minoritas di dalam masyarakat tradisional
Masyarakat tradisional dan perilaku rasial terkadang menjadi masalah bagi
perusahaan. Banyak masyarakat menganggap rendah pedagang, perusahaan dan bankir,
oleh karena itu mereka memilih profesi sebagai politikus, ahli agama dan tentara. Dalam
masyarakat yang demikian, sangat memungkinkan pekerjaan yang dianggap sebagai
rendah.
5. Keseluruhan situasi tenaga kerja yang ditemui di Negara-negara berkembang
Situasi sector tenaga kerja di Negara-negara berkembang menghadapi beberapa
tantangan yang besar. Yang pertama adalah dampak kemiskinan, dimana berdampak pada
kualitas tenaga kerja. Tingkat pendidikan rendah yang ditemukan pada banyak Negara
berkembang, terutama kaum wanita, merupakan kerugian yang signifikan.
PENTINGNYA PERSIAPAN YANG TEPAT SAAT MASUK KE PASAR

Ketika tenaga asing memasuki pasar tenaga kerja, maka ia harus siap menerima
keuntungan dan kerugian. Perusahaan yang berhati-hati akan mengkaji tenaga kerja sebelum
memutuskan untuk melakukan investasi di suatu Negara. Untuk mendapatkan informasi tersebut,
perusahaan tersebut tidak harus datang ke Negara yang menjadi sasaran tetapi dapat melalui
handbook of labor statistic yang diterbitkan oleh kantor tenaga kerja internasional, PBB di
Jenewa, Swiss. handbook of labor statistic berisi mengenai informasi pemburuhan di seluruh
dunia, termasuk pemogokan atau pemutusan hubungan kerja, kerugian akibat pemogokan dan
rata-rata kerugian hari kerja pada sector non pertanian per 1000 orang.

Jumlah tenaga kerja di setiap Negara berbeda-beda dengan budaya dan peraturan
perburuhan serta tingkat militansi serikat buruh masing-masing. Perusahaan yang merencanakan
penanaman modal di Negara yang kurang berkembang dan masyarakat masih tradisional, perlu
mengkaji faktor kebudayaan, agama, dan faktor lainnya.

SERIKAT PEKERJA: EROPA, AMERIKA SERIKAT DAN JEPANG

Serikat pekerja sangat beragam antara negara yang satu dengan negara yang lain. Di
negara maju, serikat pekerja cenderung lebih efektif, tetapi jika membandingkan Eropa, Amerika
Serikat, dan Jepang, jelas terlihat bahwa serikat pekerja memiliki tujuan yang berbeda dan
mempengaruhi pekerja secara berbeda-beda pula.

Serikat pekerja di Eropa biasanya diidentifikasi dengan partai politik dan ideologi
sosialis.

Peraturan ketenagakerjaan di Amerika Serikat sebagian besar mengkhususkan diri pada


kerangka kerja penawaran kolektif. Penawaran kolektif adalah proses ketika serikat
mempresentasikan kepentingan dari tiap orang di unit penawaran (yang biasanya termasuk
anggota dan non anggota serikat) dalam negosiasi dengan manajemen.

Serikat pekerja di Jepang merupakan serikat pekerja berbasis perusahaan dibandingkan


secara industry dan sebagai akibatnya cenderung mementingkan kepentingan perusahaan.

Trend Keanggotaan Serikat Pekerja

Ada beberapa alas an terjadinya trend ini, yaitu:


1. Penyedia lapangan kerja telah berusaha untuk menjalankan bisnis tanpa serikat pekerja,
termasuk menempatkan pegawai dalam dewan direksi perusahaan dan melakukan rencan
bagi haasil.
2. Semakin banyak wanita dan remaja yang masuk ke pasar tenaga kerja.
3. Serikat pekerja telah berhasil.
4. Seiring transisi negara maju menuju ekonomi berdasarkan pengetahuan, pekerjaan
dibidang industry yang telah membentuk inti dari keanggotaan serikat mengalami
penurunan.

AKTIVITAS TENAGA KERJA DI PERUSAHAAN MULTINASIONAL

Internasionalisasi bisnis telah terjadi selama beberapa tahun. Serikat pekerja nasional
mulai melihat kesempatan bagi perusahaan untuk melepaskan diri dari pengorganisasian
jangkauan serikat melalui langkah yang relative sederhana, yaitu alih daya internasional dan
memindahkan produksi ke negara lain. Serikat melihat langkah tersebut sebagai hal yang
berbahaya. Untuk memerangi bahaya tersebut, serikat pekerja mulai:

1. Mengumpulkan dan menyebarluaskan informasi mengenai perusahaan


2. Berkonsultasi dengan serikat pekerja di negara lain
3. Berkoordinasi dengan kebijakan dan taktik serikat-serikat pekerja lain dalam menghadapi
beberapa perusahaan
4. Mendorong kode etik perusahaan internasional.