Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

EVOLUSI BURUNG ARCHAEOPTERYX

Dosen Pengampu:
Azza Nuzullah Putri, S.Pd., M.Pd

Oleh:

Ernis Erlina 140384205035

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
TANJUNGPINANG
2017
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. Wb

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga
alhamdulillah saya berhasil menyelesaikan makalah yang
berjudul Evolusi Burung Archaeopteryx ini pada waktunya.

Selesainya penyusunan ini berkat bantuan dari berbagai


pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami sampaikan
terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada yang
terhormat :

1. Ibu Azza Nuzullah Putri, S.Pd., M.Pd selaku dosen


pengampu mata kuliah Evolusi yang telah meluangkan waktu,
tenaga dan pikiran dalam pelaksanaan bimbingan,
pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian
penyusunan makalah ini.

2. Rekan-rekan semua di kelas Biologi 02 .

3. Secara khusus kami menyampaikan terima kasih kepada


keluarga tercinta yang telah memberikan dorongan dan
bantuan serta pengertian yang besar kepada kami dalam
menyelesaikan makalah ini.

Saya menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna.


Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat
kami harapkan. saya berharap semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak. Amin.

Tanjungpinang, 16 April 2017

2
Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................ii

DAFTAR ISI..........................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................4

1.1Latar Belakang.........................................................................................4

1.2 Rumusan Masalah..................................................................................6

1.3 Tujuan Masalah.......................................................................................7

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................8

2.1 Sejarah Perkembangan dan Bukti-Bukti Evolusi Burung


Archaeopteryx................................................................................................8

2.2 Penemuan Terbaru Tentang Burung Archaeopteryx.................9

BAB III PENUTUP...............................................................................................13

3.1 Kesimpulan.............................................................................................13

3.2 Saran........................................................................................................13

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................15

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam jangka


waktu tertentu. Dalam konteks biologi modern, evolusi berarti
perubahan frekuensi gen dalam suatu populasi. Akumulasi
perubahan gen ini menyebabkan terjadinya perubahan pada
makhluk hidup. Meskipun teori evolusi selalu diasosiasikan
dengan Charles Darwin, namun sebenarnya ide tentang teori
evolusi telah berakar sejak jaman Aristoteles. Namun demikian,
Darwin adalah ilmuwan pertama yang mencetuskan teori evolusi
yang telah banyak terbukti mapan menghadapi pengujian ilmiah.

Evolusi terjadi pada semua makhluk hidup salah satunya pada


kelompok Aves atau burung. Evolusionis menyatakan bahwa burung
berevolusi dari reptil dinosaurus berukuran kecil. Namun, setelah burung dan
reptil dibandingkan, diketahui kedua kelas makhluk hidup ini sangatlah berbeda
satu dari yang lain, dan evolusi apa pun tidak mungkin terjadi di antara keduanya.
Terdapat banyak perbedaan struktural antara burung dan reptil. Salah satu yang
terpenting adalah struktur rangka mereka. Dinosaurus, yang menurut evolusionis
dikatakan sebagai nenek moyang burung, memiliki rangka besar dan padat
dikarenakan struktur mereka yang kokoh. Sedangkan burung yang masih hidup
dan yang telah punah memiliki rangka berongga dan, karenanya, sangat ringan.
Struktur rangka ringan ini sangatlah penting bagi penerbangan burung.

1
Gambar. 1.1 burung dari dinosaurus
Perbedaan penting lain antara burung dan reptil adalah struktur
metabolisme mereka. Reptil memiliki laju metabolisme paling lambat di antara
makhluk hidup lainnya, sedangkan pada burung malah paling cepat. Sebagai
contoh, panas tubuh seekor burung gereja dapat mencapai 48C karena
metabolismenya yang cepat. Sebaliknya, reptil tidak mampu menghasilkan
panas tubuh mereka sendiri dan, sebagai gantinya, berjemur di bawah sinar
matahari. Reptil adalah hewan pengguna energi paling sedikit di alam,
sedangkan burung adalah binatang pemakai energi terbesar.

Sistem respirasi burung juga sangat berbeda dengan reptil. Reptil dan mamalia
memasukkan udara ke dalam paru-paru mereka melalui trakea dan kemudian
mengeluarkannya melalui saluran yang sama. Akan tetapi pada burung, udara mengalir
satu arah melalui saluran-saluran paru-paru mereka; dengan kata lain udara masuk dari
satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain. Berkat sistem pernapasan yang tak
dijumpai pada hewan kelas lain ini, burung mampu menggunakan udara dengan sangat
efisien. Sistem ini memungkinkan mereka untuk terbang pada ketinggian 8.000 meter
sekalipun, di mana jumlah oksigen sangatlah sedikit.

Ciri lain yang menjadi tembok pemisah antara burung dan reptil adalah bulu,
struktur yang hanya terdapat pada burung. Tubuh reptil tertutupi sisik, sementara
burung tertutup oleh bulu. Singkatnya, perbedaan yang banyak antara burung dan reptil
dengan telak mematahkan pendapat evolusionis bahwa reptil berevolusi secara bertahap
dan perlahan menjadi burung. Burung dan reptil adalah dua kelas hewan yang telah
Allah ciptakan dalam keadaan sangat berbeda satu dari yang lain.

2
Alan Feduccia, seorang professor dari University of North Carolina, sangat
menentang teori yang mengatakan burung memiliki kekerabatan dengan dinosaurus
berdasarkan penemuan-penemuan ilmiah, kendatipun ia sendiri adalah seorang
evolusionis.

Terdapat sekitar 10.000 spesies burung di Dunia. seperti krokodilia, burung


adalah arkosaurus, namun hampir semua ciri-ciri anatominya telah termodifikasi
di dalam adaptasi untuk terbang.

Gambar. 1.2 Bentuk sayap dan bulu

(a) sayap adalah versi tungkai depan tetrapoda yang di model ulang. (b)
tulang-tulang kebanyakan burung memiliki struktur internal yang mirip sarang
lebah dan terisi dengan udara .(c) bulu terdiri dari batang pusat yang terdiri dari
udara., tempat tumbuhnya helaian bulu halus (vane). Helaian bulu halus tersusun
atas barbus, yang memiliki cabang-cabang kecil, disebut barbula. Burung
memiliki bulu kontur dan bulu halus. Bulu kontur adalah bulu yang kaku dan
memberikan bentuk aerodinamis pada sayap dan tubuh. Barbulanya memiliki kait
yang terkait ke barbula pada barbus yang bersebelahan. Saat membersihkan bulu,
burung menyusuri setiap bulu kontur denagn paruhnya, membetulkan posisi kait
dengan menyatukan barbus menjadi bentuk yang tepat. Bulu yang halus tidak
memiliki kait, dan susunan barbus yang bebas menghasilkan bulu yang sangat
halus yang menyediakan insulasi dengan memerangkap udara

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,


maka dirumuskan sebagai berikut :

3
1. Bagaimana sejarah perkembangan dan bukti-bukti
evolusi mengenai burung Archaeopteryx ?
2. Bagaimanakah temuan terbaru mengenai burung
Archaeopteryx ?

1.3 Tujuan Masalah

Adapun tujuan yang akan dicapai adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan dan


bukti-bukti evolusi mengenai burung Archaeopteryx ?
2. Untuk mengetahui bagaimanakah temuan terbaru
mengenai burung Archaeopteryx ?

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Perkembangan dan Bukti-Bukti Evolusi


Burung Archaeopteryx

Archaeopteryx berasal dari Bahasa Yunani


Kuno archaios yang berarti 'kuno'
dan pteryx yang bearti 'bulu unggas' atau 'sayap'; adalah
jenis burung paling awal dan primitif yang diketahui. Binatang ini
hidup pada periode Jura sekitar 155150 juta tahun lalu yang
saat ini dikenal sebagai wilayah Jerman bagian selatan.
Dalam Bahasa Jerman, Archaeopteryx dikenal sebagai Urvogel,
sebuah kata yang berarti "burung yang asli" atau "burung
pertama". Meskipun namanya yang asli berasal dari Bahasa
Jerman, Kata ini juga digunakan dalam Bahasa Inggris. Burung
modern adalah salah satu keturunan dari spesies ini, burung
adalah salah satu spesies dari klad dinosauria yang masih hidup
sampai saat ini.

Sejak fosil Archaeopteryx ditemukan pertama kali di


Jerman tahun 1861, spesies ini sempat membuat bingung para
ilmuwan. 1861 merupakan waktu dua tahun, setelah Charles
Darwin mempublikasikan temuan itu dalam jurnal On The Origin
of Species. Dengan cakar dan gigi yang mirip dengan dinosaurus,
Archaeopteryx juga memiliki bulu layaknya seekor burung. Ini
membuktikan teori Darwin dalam jurnal itu yang menyebutkan
bahwa dinosaurus merupakan cikal bakal burung. Archaeopteryx
merupakan transisi dari dinosaurus menjadi burung. Darwin
menyebutnya sebagai Urvoger, dari bahasa Jerman yang berarti
'Burung Pertama'. Meskipun bukti burung dinosaurus belum
muncul hingga sekarang, banyak ilmuwan yang percaya bahwa
Archaeopteryx merupakan dinosaurus pertama yang mampu

5
terbang. Spesimen fosil yang berjumlah 11 itu dipublikasikan
pertama kali pada 2011 dan masih dalam keadaan baik.
Spesimen tersebut, dilengkapi dengan impresi bulu di seluruh
tulang. Bulu-bulu tersebut, berukuran panjang dan simetris di
bagian atas kaki. Namun,
sampai di bagian bawah,
ukurannya semakin
pendek. Para peneliti

menggambarkan 'celana' bulu ini sebagai penutup diri, alat


kamuflase, mengisolasi diri bahkan alat manuver saat berada di
bawah. "Memang tidak dirancang untuk membantu terbang,
tetapi cukup membantu saat melakukan pendaratan, mirip
dengan bulu burung elang dan sejenisnya," ujar Dr. Oliver Rauhut
dari Bavarian State Collection untuk Palaeontologi dan Geologi.
Menurut Dr. Rauhut, bulu-bulu ini menunjukkan poros yang kuat.
Ini merupakan bukti jika burung generasi pertama ini bisa
terbang.

6
Gambar. 1.3 Burung Achaeopteryx
Burung Achaeopteryx memiliki sayap berbulu namun masih
mempertahankan karakter-karakter nenek moyang seperti gigi, jari bercakar pada
sayp dan ekor yang panjang. Achaeopteryx terbang dengan baik pada kecepatan
tinggi, namun tidak seperti burung masa kini , ia tidak dapat lepas landas dari
posisi berdiri. Fosil-fosil burung berikutnya yang muncul pada periode kreta
menunjukkan hilangnya ciri-ciri nenek moyang dinosaurus tertentu secara
bertahap., misalnya gigi-gigi dan tungkai depan yang bercakar serta perolehan
inovasi inovasi ditemukan pada burung yang masih ada, termasuk ekor pendek
yang ditutupi bulu kipas.

2.2 Penemuan Terbaru Tentang Burung Archaeopteryx

Ketika pertama kali ditemukan di Jerman pada tahun 1861,


fragmen Archaeopteryx dielu-elukan sebagai hubungan yang
hilang antara burung dan dinosaurus serta menjadi bukti bagi
teori evolusi saat ini. Hewan seukuran gagak ini hidup sekitar
150 juta tahun yang lalu dan mempunyai bulu-bulu yang identik
dengan burung-burung modern. Tapi fragmen Archaeopteryx
juga memiliki gigi tajam, ekor panjang kurus dan jari-jari
bercakar.

Evolusionis mengemukakan fosil Archaeopteryx sebagai


satu-satunya bukti yang mendukung pernyataan mereka bahwa
burung berevolusi dari dinosaurus. Akan tetapi, berbagai
penemuan terakhir membuktikan makhluk ini hanyalah jenis

7
burung yang telah punah. Evolusionis menyatakan fosil burung
ini berbentuk setengah dinosaurus yang tidak dapat terbang
dengan baik.

Pernyataan kaum evolusionis ini berulang kali terbukti


keliru, dan runtuh untuk selamanya dengan ditemukannya fosil
Archaeopteryx pada tahun 1992. Tidak adanya sternum atau
tulang dada pada makhluk ini, yang berperan penting bagi otot-
otot penerbangan, dijadikan sebagai bukti terpenting yang
menunjukkan burung ini tidak dapat terbang dengan baik. Fosil
Archaeopteryx ketujuh yang ditemukan pada tahun 1992 telah
membuktikan, tulang dada yang selama ini dianggap tidak ada,
ternyata dimiliki oleh Archaeopteryx. Keberadaan tulang dada
ini membuktikan Archaeopteryx sebagai burung yang dapat
terbang dengan baik.

Gambar. 1.4 Fosil Burung Achaeopteryx

1. Tulang-tulangnya berongga seperti pada burung modern.


2. Bulu-bulunya menunjukkan bahwa Archaeopteryx adalah
hewan terbang
dan berdarah panas.

8
3. Beberapa burung yang ada sekarang juga memiliki kuku
serupa pada sayap mereka.
4. Spesimen ketujuh dari Archaeopteryx yang baru saja
ditemukan telah memiliki tulang dada yang seimbang. Ini
menunjukkan bahwa burung tersebut memiliki otot terbang
kuat sebagaimana halnya pada burung modern.
5. Gigi pada rahangnya bukanlah bukti atas kekerabatannya
dengan reptil
sebagaimana dugaan evolusionis. Analisis menunjukkan
bahwa struktur gigi Archeopteryx sangatlah berbeda dari
yang ada pada reptile modern.

Selain itu, telah dibuktikan bahwa dua hal lain yang disebut
oleh evolusionis sebagai bentuk peralihan ketika mereka
mengemukakan Archaeopteryx, yakni cakar pada sayap dan gigi
pada mulutnya sama sekali bukanlah bukti yang menunjukkan
burung ini sebagai bentuk peralihan. Telah diketahui, dua spesies
burung yang masih hidup saat ini, yakni Touraco dan Hoatzin,
keduanya memiliki cakar pada sayapnya yang mereka gunakan
untuk berpegangan pada dahan pohon. Bulu dari semua burung
modern adalah asimetris. Bentuk ini memberikan fungsi
aerodinamis bagi burung. Fakta bahwa bulu Archaeopteryx juga
asimetris telah menggugurkan pendapat evolusionis bahwa
burung ini tidak dapat terbang

Gambar. 1.5 Bulu Burung Achaeopteryx

9
Selain itu, sepanjang sejarah telah ada berbagai jenis burung
yang memiliki gigi. Bahkan, menurut pengukuran oleh berbagai
ahli burung terkenal, seperti Martin, Stewart dan Whetstone,
struktur gigi Archaeopteryx benar-benar berbeda dengan
struktur gigi reptil. Seluruh penemuan ini menunjukkan bahwa
berbagai pernyataan evolusi, yang menyatakan Archaeopteryx
sebagai bentuk peralihan, tidak memiliki landasan ilmiah.

Gambar. 1.6 perbandingan paruh burung

Confuciusornis, yang fosilnya terlihat di sini, hidup dalam


periode geologis yang sama dengan Archaeopteryx. Berbeda
dengan Archaeopteryx, paruh burung ini tidak bergigi.
Penemuan ini mengungkapkan bahwa Archaeopteryx bukanlah
burung primitif, melainkan spesies burung yang sebenarnya.
Sejumlah spesies burung yang hidup sekarang memiliki ciri fisik
yang serupa dengan Archaeopteryx. Sebagai contoh, burung
hoatzin juga memiliki struktur mirip cakar pada sayapnya.

10
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Evolusi pada dasarnya berarti proses perubahan dalam


jangka waktu tertentu. Proses perubahan yang dimaksudkan
adalah perubahan yang terjadi pada makhluk hidup agar adaptif
dengan lingkungannya bukan proses berubahnya dari satu
individu menjadi individu lainnya. Evolusi berlangsung pada
semua makhluk hidup salah satunya berlangsung pada kelompok
aves. Evolusi pada aves mengalami masa perdebatan karena
para evolusionis beranggapan bahwa burung berasal dari reptil
atau dinosaurus. Hal ini sejalan dengan ditemukannya beberapa
fosil dari burung Archeopteryx yang dianggap berasal dari nenek
moyang dinosaurus. Namun beberapa tahun kemudia teori ini
dapat dibantah dengan berbagai bukti yang mampu
meruntuhkan bahwa burung Archeopteryx bukanlah berasal dari
nenek moyang dinosaurus tapi memang merupakan jenis burung
primitif pertama. Penemuan-penemuan terbaru yang membantah
teori sebelumnya sampai saat ini masih berkembang dan
bertahan dengan bukti-bukti yang ilmiah dan rasional.

3.2 Saran

Penyusun berharap hendaknya makalah ini dapat berguna dan bermanfaat


dalam menambah pengetahuan dan menjadi referensi mengenai Evolusi burung
Archeopteryx serta semoga pembaca tidak lagi salah konsep mengenai
pengertian evolusi.

11
DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N.A., J.B Reece & L.G. Mitchell.2012, Biologi. Edisi -8.
Terj. Dari: Biology. 8th ed. Oleh Manulu, W. Jakarta :
Erlangga.

Harun, yahya.2003. Menyibak Tabir Evolusi. Tej. Dari: End of


Darwinism. Oleh Effendi. Jakarta : PT. Globalmedia Cipta
Publishing.

https://id.wikipedia.org/wiki/Archeopteryx. Diakses tanggal 16


April 2017 pukul 15.30 WIB.

http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/06/para-leluhur-
burung-ternyata-dinosaurus-yang-belajar-terbang. Diakses
tanggal 16 April 2017 pukul 16.00 WIB

http://www.isains.com/2014/07/asal-usul-burung-terbang-terungkap-
dari.html. diakses tanggal 16 April 2017 pukul 17.00 WIB.

12

Anda mungkin juga menyukai