Anda di halaman 1dari 28

STABILITAS OBAT DAN MASA KADALUARSA

A. PENGERTIAN

Masa guna disebut juga periode sebelum kadaluarsa adalah periode waktu suatu
produk obat diharapkan masih memenuhi spesifikasi yang bisa disetujui untuk digunakan,
sepanjang produk obat itu disimpan dalam kondisi yang disebutkan pada label wadah.

Tanggal kadaluarsa adalah tanggal yang dicantumkan pada label wadah suatu produk
obat yang menentukan bahwa sebelum tanggal tersebut, suatu bacth suatu produk diharapkan
masih memenuhi spesifikasi masa guna yang disetujui, sepanjang produk obat itu disimpan
dalam kondisi yang ditentukan, dan setelah tanggal tersebut, produk obat ini tidak boleh
digunakan.

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu zat antara lain adalah panas,
cahaya, kelembapan, oksigen, pH, mikrooraganisme dan bahan-bahan tambahan yang
digunakan dalam formula sediaan obat. Sebagai contoh: aspirin asam asetil salisilat) jika
dengan suatu molekul airakan terhidrolisis menjadi suatu molekul asam asetat, sedangkan
vitamin C sangat mudah sekali mengalami oksidasi.

Pada umumnya penentuan kestabilan suatu zat dapat dilakukan melalui perhitungan
kinetika kimi. Cara ini tidak memerlukan waktu lama sehingga cukup praktis digunakan
dalam bidang farmasi.

1. Laju (kecepatan) reaksi

Laju reaksi adalah besarnya perubahan konsentrasi zat pereaksi dan hasil reaksi
persatuan waktu. Menurut hukum aksi massa, laju uatu reaki kimia sebanding dengan hasil
kali dari konsentrasi molar reaktan yang masing-masing dipangkatkan dengan angka yang
menunjukan jumlah molekul dari zat-zat yang ikut serta dalam reaksi.

Dalam reaksi :

aA+bB.... Produk

Laju reaksinya adalah :

Laju reaksi (v )= - 1 d (A) = - 1 d (B) = .... k (A) a. (B)b...

a dt b dt

dimana, masing-masing adalah:

K= Konstan laju reaki

V= Laju/kecepatan (m.det-1)

T = waktu (det)

1
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
a) Suhu
b) Kekuatan ion
c) pH
3. Tingkatan reaksi (Orde Reaksi)

Ditentukan dalam percobaan bahwa laju berbanding lurus langsung dengan kosentrasi A,
maka dikatakan bahwa reaksi berorde (1), karena :

k = -dA 1 = mol/liter

dt A detik mol/liter

= 1 = detik-1

detik

Jika laju bergantung pada kuadrat konsentrasi A, disebut orde dua (II), karena:

k = - d[A] 1 = Mol/ liter

dt A2 detik (mol/liter)2

contoh soal : konsentrasi hidrogen peroksida yang tersisa setelah 65 menit dinyatakan
sebagai mililiter volume gas yang berkembang = 9,6 ml dari konsentrasi awal 57,90 ml.

Ditanyakan : a. hitunglah k?

b. berapa banyak hidrogen peroksida yang tidak terurai setelah 25


menit?

Jawab : a. K = 2,303 log 57,90 = 0,0277 menit-1

65 9,6

b. 0,0277 = 2,303 log 57,90 , c = 29,01

25 c

2
Contoh soal waktu paruh orde pertama:

Suatu larutan obat mengandung 500 satuan/ml ketika dibuat. Larutan tersebut di
analisis setelah 40 hari ditemukan mengandung 300 satuan/ml. Dengan menganggap bahwa
reaksi peruraian pertama, kapan obat terurai menjadi setengah dari konsentrasi awal?

k = 2, 303 log 500 = 0,0128 hari-1

40 300

= 2,303 log 500 = 54,3 hari

0,0128 250

Bilaman pada reaksi :

AB + C

Ditentukan dalam percobaan bahwa laju berbanding lurus langsung dengan kosentrasi
A, maka dikatakan bahwa reaksi berorde (I), karena :

d[A]

K[A] = -

dt

Jika laju bergantung pada kuadrat konsentrasi A, disebut orde dua (II), karena:

d[A]

K[A] 2 = -

dt

dan untuk proses reaksi yang berbeda :

A+BC+D

Pada persamaan laju tersebut, diperoleh :

d[A] = d[B] = K [A] [B]

dt dt

3
B. Penentuan Orde

1. Metode grafik

Dilakukan dengan cara membuat grafik hubungan antara konsentrasi zat yang
diperoleh terhadap waktu :

Ct log Ct 1/Ct

t t t

Orde nol Orde satu Orde Dua

2. Metode Subtitusi

Data yang dikumpulkan dalam studi kinetika dapat disubtitusikan ke dalam bentuk
integral dari persamaan yang menggambarkan berbagai orde. Apabila ditemukan persamaan
yang menghasilkan nilai k yang konstan dalam batas variasi percobaan, reaksi dianggap
berjalan mengikuti orde tersebut.

3. Metode Waktu Paruh

Periode waktu yang dibutuhkan oleh suatu obat untuk terurai menjadi setengah dari
konsentrasi awal.

Secara umum :

t1/2 = 1

n-1

4
4. Metode stabilitas dipercepat

Pada awalnya untuk mengevaluasi kestabilan suatu sediaan farmasi, dilakukukan


pengamatan pada kondisi yang sesuai dengan kondisi penyimpanan obat. Misalnya pada suhu
kamar, ternyata semacam itu memerlukan waktu yang lama dan tidak ekonomis.

Pada saat ini digunakan teknik uji stabilitas dipercepat, yaitu dengan mengamati
perubahan pada suhu tinggi. Dengan membandingkan dua harga K pada suhu yang berbeda
dapat dihitung energi aktifitasnya sehingga K pada suhu kamar dapat dihitung. Harga K pada
suhu kamar dapat juga diperoleh, melalui ekstrapolasi grafik antara log k dengan 1/T. Dengan
demikian batas kadaluarsa suatu sediaan farmasi dapat diketahui secara tepat.

Stabilitas merupakan hal terpenting dalam kualitas dari suatu obat, dengan berbagi
cara obat dapat akan mengalami penguraian dan akan berakibat pada kualitas, efektifitas dan
keamanan dari obat tersebut. Ketika suatu obat mengalami penguraian maka masalah yang
akan muncul adalah konsentrasi obat akan berkurang, obat terurai menjadi metabolit yang
toksik bagi tubuh manusia.

Faktor-faktor yang mempengaruhi obat, faktor kimia, faktor fisikia, faktor biologi.
Stabilitas kimia faktor penguraian obat secara kimia terjadi beberapa tahap yang hidrolisis,
oksidasi, isomerisasi, dekomposisi faktor kimia, polimerisasi. Tetapi yang sering terjadi ialah
pada proses hidrolisis dan oksidasi.

Hidrolisis yaitu suatu proses penguraian obat oleh air yang dapat dikatalis oleh ion
hidrogen (asam) atau ion hidroksi (basa), obat yang mengandung gugus fungsi ester, amida,
laktam, imida akan sangat rentan mengalami hidrolisis, solusi agar suati obat yang
mengandung gugus fungsi seperti ini ialah formulasi obat pada pH stabilitas opinium,
penambahan pelarutan non ion air, mengontol kadar air, obat dibentuk dalam sediaan solid.

Oksidasi sediaan obat rentan terkena reaksi oksidasi adalah steroid, sterol, asam
lemak tak jenuh, fenotiazin, dan obat lan yang mengandung ikatan rangkap terkonjugasi,
reaksi oksidasi biasanya merupakan reaksi berupa rantai radikall bebas mengurangi kasar
oksigen, menghindari kontak dengan logam, hindari paparan cahaya dan penambahan
antioksidan.

Penguraian lain, isomerisasi adalah suatu proses konvensi zat aktif ke bentuk isomer
optik atau zat aktif yang lain, pengurain foto kimia adalah penguraian yang diakibatkan oleh
paparan cahaya. Polimerisasi adalah suatu proses penggabungan dua atau lebih zat yang
identik membentuk senyawa kompleks.

Laju reaksi penguraian kimia, reaksi penguraian suatu zat berbeda satu dengan yang
lain, yang dapat dilihat dari perbedaan laju reaksi dan orde reaksinya. Proses laju reaksi kimia
adalah sesuatu yang menyebabkan ketidak aktifan obat melalui penguraian obat atau melalui

5
hilangnya khasiat obat karena perubahan bentuk fisik dan kimia yang kurang diinginkan dari
obat tersebut.

Disini terjadi suatu proses disolusi, yang diperhatikan terutama kecepatan berubahnya
obat dalam bentuk sediaan obat menjadi bentuk larutan molekular. Proses absorpsi, distribusi
dan eliminasi proses ini berkaitan dengan laju absorpsi obat kedalam tubuh, laju distribusi
obat dalam tubuh dan laju pengeluaran obat setelah proses distribusi dengan berbagai faktor
seperti metabolisme, penyimpanan dalam organ tubuh lemak dan melalui jalur-jalur eksresi.

Kerja obat pada tingkat molekular dapat dibuat dalam bentuk yang tepat dengan
menganggap timbulnya respon dari obat merupakan proses laju. Stabilitas adalh kemampuan
suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan
dan penggunaan. Uji stabilitas dimaksudkan untuk menjamin kualitas produk yang telah
diluluskan dan beredar di pasaran. Dengan uji stabilitas dapat diketahui pengaruh faktor
lingkungan seperti suhu dan kelembaban terhadap parameter-parameter stabilitas produk
seperti kadar zat aktif, pH, berat jenis dan net volume sehingga dapat ditetapkan tanggal
kadaluwarsa yang sebenarnya. Berdasarkan durasinya, uji stabilitas dibagi menjadi dua yaitu:

1. Uji stabilitas jangka pendek (dipercepat). Uji stabilitas jangka pendek dilakukan
selama 6 bulan dengan kondisi ekstrim (suhu 4020C dan Rh 75% 5%). Interval
pengujian dilakukan pada bulan ke-3 dan ke-6.
2. Uji stabilitas jangka panjang (real time study). Uji stabilitas jangka panjang dilakukan
sampai dengan waktu kadaluarsa produk seperti yang tertera pada kemesan.
Pengujiannya dilakukan setiap 3 bulan sekali pada tahun pertama dan setiap 6 bulan
sekali pada tahun kedua. Pada tahun ketiga dan seterusnya, pengujian dilakukan
setahun sekali. Misalkan untuk produk yang memiliki ED hingga 3 tahun pengujian
dialkukan pada bulan ke-3, 6, 9, 12, 18, 24 dan 36. Sedangkan produk yang memiliki
ED selama 20 bulan akan diuji pada bulan ke-3, 6, 9, 12, 18 dan 20.
Faktor yang mempengaruhi stabilitas setiap bahan baku, baik bahan yang memberikan
efek terapi atau bahan tambahan dapat mempengaruhi stabilitas. Faktor utama
lingkungan dapat menurunkan stabilitas diantaranya :
Temperatur yang tidak sesuai, cahaya, kelembaban, oksigen dan karbondioksida.
Faktor utama yang mempengaruhi stabilitas adalah
Ukuran partikel
pH, kelarutan
Ketercampuran anion dan kation
Kekuatan larutan ionik
Bahan tambahan kimia
Bahan pengikat molekular dan difusi bahan tambahan.
Jika sebelum uji stabilitas dipercepat tidak memeperlihatkan adanya perubahan.
Stabilitas maka dapat dilanjutkan dengan melakukan uji terhadap penyimpanan yang
berguna untuk mengetahui perubahan yang terjadi selama proses pendistribusian,
pada proses transportasi apabila produk ini akan dipasarkan dan juga pada saat produk

6
sampai di tangan konsumen. Untuk memastikan berbagai fungsi sediaan telah sesuai
maka sangatlah penting untuk mengamati setiap perubahan yang terjadi, baik
perubahan fisik maupun perubahan struktur kimia.
Perubahan kimia : perubahan warna, perubahan bau dan pembentukan kristal,
perubahan kadar dapat dilakukan uji toksisitas dengan melakukan evaluasi kimia
dilihat dari uji mutu.
Perubahan fisik : pemisahan, pengendapan, agregasi, penguapan, cracking dapat
dilakukan uji toksisitas dengan Secara mikrobiologi: yaitu terjadinya pertumbuhan
bakteri, jamur dapat dilakukan uji toksisitas dengan melakukan evaluasi mikrobiologi.

C. Penghitungan Masa Guna

Contoh :

1.Peningkatan masa guna aspirin.

Aspirin paling stabil pada pH 2,5.Pada pH ini konstanta kecepatan orde pertama tampak ialah

5 x 10 -7 detik-1 pada 250C.Masa guna aspirin dalam larutan pada kondisi ini dapat dihitung
sebagai berikut :

t90 = 0,105 =2,1 x 105 detik = 2 hari

5 x 10 -7

Aspirin sangat tidak stabil dalam larutan berair.Apakah pembuatan suspensi dapat
meningkatkan masa guna aspirin ?

Kelarutan aspirin adalah 0,33 g/100 ml.Pada pH 2,5 ,konstanta kecepatan orde pertama
tampak untuk suspensi aspirin ialah

K0 = 5 x 10-7 detik-1 x 0,33 g/100 ml

= 1,65 x 10-7 g/ml . detik

Jika diberikan 1 dosis aspirin sebanyak 650 mg per sendok teh,seseorang mendapatkan 650
mg/5 ml = 13 g/100 ml.

Untuk suspensi aspirin ini

t90 = 0,1 x 13 = 7,9 x 106 detik = 91 hari

1,65 x 10-7

7
2.Berapa lama suatu produk dapat dibiarkan pada suatu kamar?

Suspensi ampicillin yang telah direkonstitusi stabil selama 14 hari jika disimpan dalam lemari
pendingin 50C .Jika produk tersebut dibiarkan pada temperatur kamar selam 12 jam,
berapakah pengurangan tanggal kadaluarsa ?

Untuk menjawab soal ini,kita harus menggunakan persamaan berikut :

t90 (T2) = t90(T1)

Q10 ( T/10)

Perkiraan t90 (T2) tidak bergantung orde.Dengan kata lain ,kita tidak perlu mengetahui orde
reaksi untuk membuat perkiraan ini.

D. Jurnal Penelitian

Dalam hal ini penulis mengambil jurnal dari hasil penelitian tentang Stabilitas Obat
yang dilakukan oleh mahasiswa program S1 Farmasi 2 C kelompok I STIKES BAKTI
TUNAS HUSADA, Tasikmalaya pada tahun 2016.

Alat dan Bahan

Alat :

Gelas kimia

Pipet volum 1 ml

Pump pipet

Alat spektrofotometer

Labu ukur 10 ml, 100 ml

Gelas ukur 10 ml

Oven

Pipet mikro meter

Botol semprot

8
Pipet tetes

Tisu

Bahan :

Sirup paracetamol

Paracetamol pembanding

Naoh

Aquadest

E. Prosedur Percobaan
1. Menyiapkan larutan uji

Melarutkan 100 mg parasetamol dalam 50 ml NaOH 0,1 M add


air 100 ml (1000 ppm)

Dari larutan 1000 ppm dipipet masing-masing 1,2,3,4 dan 5 ml


masukan dalam labu ukur 100 ml add oleh air hingga konsentrasi
20,40,60,80 dan 100 ppm.

2. Mentukan panjang gelombang maksimal


Menggunakan larutan parasetamol 40 ppm pada panjang
gelombang antara 200-300 pm

3. Membuat kurva kalibrasi

Mengukur serapan yang terbentuk pada parasetamol konsentrasi


20, 40, 60, 80 dan 100 ppm. Regresikan agar diperoleh
persamaan garis lurusnya.

9
4. Penetapan kadar sirup parasetamol

Menambahkan 1 ml sirup parasetamol lalu dilarutkan NaOH 0,1


N add 10 ml lalu pipet 1 ml add air 100 ml

5. Menentukan umur simpan sirup parasetamol


Memasukan sirup kedalam vial masing-masing 5 ml .

Memasukan vial ke dalam oven pada suhu 40 dan 75 pada 0, 30,


60, 90 menit. Ambil 1 vial dan ukur kadar parasetamol

6. Menentukan orde reaksi penguraian

Membuat kurva hubungan antara konsentrasi obat sisa terhadap


waktu, dengan regresi linier dicari harga r yang paling mendekati
1.

Menentukan laju reaksi penguraian parasetamol

Menentukan persamaan garis lurus antara 1/T dan log k


untuk mendapatkan k parasetamol pada suhu 25 derajat.

Setelah diperoleh nilai k untuk suhu 25 menentukan waktu paruh


dan daluarsa parasetamol jika suhu 90 derajat celcius dengan
mengguakan rumus sesuai orde reaksi penguraiiannya.

10
Suhu 40C

Waktu Absorbansi Pengenceran


F. Data Hasil Pengamatan
t 30 (1) 0,432 50.000 kali

t 30 (2) 0,472 50.000 kali

t 60 (1) 0,404 10.000 kali

t 60 (2) 0,499 5000 kali


Suhu 75C
t 90(1) 0,370 10.000 kali
Waktu Absorbasi Pengenceran
t 90(1) 0,454 10.000 kali
t 30 (0) 0,482 1000 kali

t 30 (1) 0,584 5000 kali

t 30 (2) 0,597 5000 kali

t 60 (0) 0,240 10.000 kali

t 60 (1) 0,251 10.000 kali

t 60 (2) 0,249 10.000 kali

t 90(0) 0,315 10.000 kali

t 90(1) 0,265 10.000 kali

t 90(1) 0,261 10.000 kali

11
G. Perhitungan
1. Suhu 75 derajat celcius
a) Kurva kalibrasi

No Panjang gelombang Konsentrasi Absorbansi

1 242 12 0,335

2 242 13 0,445

3 242 14 0,470

4 242 15 0,577

5 242 16 0,580

6 242 17 0,649

7 242 18 0,721

R = 0,984

A= -0,358

B= 0,059

b) Waktu 30 menit

To : y = bx + a

0,482 = 0,059 x + (-0,358)

0,482+ 0,358 = 0,059 x

X = 0,84/0,059

X = 14,24

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 14,24 x 10000 = 142400

12
T1 : y = bx + a

0,584 = 0,059 x + (-0,358)

0,584+ 0,358 = 0,059 x

X = 0,942/0,059

X = 15,97

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 15,97 x 5000 = 79850

T2 : y = bx + a

0,591 = 0,059 x + (-0,358)

0,591+ 0,358 = 0,059 x

X = 0,949/0,059

X = 16,08

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 16,08 x 5000 = 80400

c) Waktu 60 menit

To : y = bx + a

0,240 = 0,059 x + (-0,358)

0,240 + 0,358 = 0,059 x

X = 0,598/0,059

X = 10,14

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 10,14 x 10000 = 101400

T1 : y = bx + a

0,251 = 0,059 x + (-0,358)

13
0,251+ 0,358 = 0,059 x

X = 0,609/0,059

X = 10,32

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 10,32 x 10000 = 103200

T2 : y = bx + a

0,249 = 0,059 x + (-0,358)

0,249 + 0,358 = 0,059 x

X = 0,607/0,059

X = 10,29

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 10,29 x 10000 = 102900

d) Waktu 90 menit

To : y = bx + a

0,315 = 0,059 x + (-0,358)

0,315+ 0,358 = 0,059 x

X = 0,673/0,059

X = 11,407

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 11,407 x 10000 = 114070

T1 : y = bx + a

0,265 = 0,059 x + (-0,358)

0,265+ 0,358 = 0,059 x

X = 0,623/0,059

14
X = 10,56

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 10,56 x 10000 = 105600

T2 : y = bx + a

0,261 = 0,059 x + (-0,358)

0,261+ 0,358 = 0,059 x

X = 0,619/0,059

X = 10,49

X sebenarnya = x . pengenceran

X sebenarnya = 10,49 x 10000 = 104900

T C Log C 1/t
(menit
)

30 80125 4,904 1,25 x 10 -5

60 103050 5,013 9,70 x 10-6

90 105250 5,022 9,50 x 10 -6

15
grafik orde nol hubungan antara konsentrasi terhadap waktu
5,050
R = 0.74
5,000

4,950
y
konsentrasi
4,900 Linear (y)

4,850

4,800
20 40 60 80 100 120

waktu

Grafik orde nol


antara konsentrasi dan waktu

Grafik orde 1

grafik orde 1 hubungan antara log c terhadap waktu


5,050
R = 0.74
5,000

4,950
y
log C
4,900 Linear (y)

4,850

4,800
20 40 60 80 100 120

waktu

Grafik orde 2

16
grafik orde 2 hubungan antara 1/c terhadap waktu
0
0
R = 0.73
0
0 y
1/c 0
Linear (y)
0
0
0
20 30 40 50 60 70 80 90 100 110

waktu

2. Suhu 40oC
a) Waktu 30 menit

T1 = y = Bx +

0,432 = 0,059 + (-0,358)

0,432 + 0,358 = 0,059x

0,79 = 0,059x

X = 13,3g x 50.000 = 669500

T2 = 0,472 = 0,059 0,358

0,472 + 0,358 = 0,059 x

x = 0,83

0,059

= 14,07 x 50000 = 703500

b) Waktu 60 menit

T1 = 0,404 = 0,059x 0,358

0,404 + 0,358 = 0,059x

x = 0,762 . 0,059

17
= 12,915 x 10000 = 129150

t2 = 0,499 = 0,059x 0,358

T2 = 0,499 + 0,358 = 0,059x

x = 0,857 : 0,059

= 14,525 x 5000 = 72625

c) Waktu 90 menit

T1 = 0,370 = 0,059x 0,358

0, 370 + 0,358 = 0,059x

x = 0,728 : 0,059

= 12,34 x 10000 = 123400

T2 = 0,454 = 0,059x - 0,358

0,454 + 0,358 = 0,059x

x = 0,812 : 0,059

= 13,76 x 10000 = 137600

Waktu (t) C LogC I/C

30 385225 5,586 2,596 x 10-6

60 100887,5 5,0038 9,912 10-6

90 130500 5,115 7,6628 x 10-6

18
grafik orde 0 hubungan antara konsentrasi dan waktu
0

0 R = 0.46
y
konsentrasi 0
Linear (y)
0
0

0
20 30 40 50 60 70 80 90 100

waktu

Grafik orde
nol

19
grafik orde 1 hubungan antara log c dan waktu
0

0 R = 0.46

log c 0 y
Linear (y)
0

0
20 30 40 50 60 70 80 90 100

waktu

Grafik
orde 1

Grafik orde nol

20
grafik orde 0 hubungan antara konsentrasi dan waktu
0
0
0 R = 0.46
y
konsentrasi 0
0 Linear (y)

0
0
20 30 40 50 60 70 80 90 100

waktu

grafik orde 1 hubungan antara log c dan waktu


0
0
0 R = 0.46
log c 0 y
Linear (y)
0
0
0
20 30 40 50 60 70 80 90 100

waktu

Grafik
orde 1

21
grafik orde 2 hubungan antara 1/cdan waktu
0
0
0 R = 0.46
y
1/c 0
Linear (y)
0
0
0
20 30 40 50 60 70 80 90 100

waktu

Grafik orde 2

3. Nilai r paling mendekati 1 berarti laju penguraian pct mengikuti orde tersebut

Orde Suhu 75 derajat c ( r ) Suhu 40 derajat celcius ( r )

0 0.876 -0.814

1 0.898. -0,76

2 -0.894 0.67

4. Menentukan laju penguraian sampel


a) suhu 40 derajat celcius :

k1 = 1/ txCo x (Co-C)= 1/90x142400 x 142400-130500

22
C 130500

k1 = 7.115 x 10-9

b) suhu 75 derajat celcius :

k1 = 1/ txCo x (Co-C) = 1/90x142400 x 142400-1052500

C 1052500

k1 =2,754 x 10 -8

suhu B K

40 8,44 x 10 -8 7.115 x 10-9

75 1.966 x 10 -3 2,754 x 10 -8

Menentukan persamaan garis lurusn1/T dan log K

Suhu (T) Suhu (K) T 1/T (x) K Log k

40 313 0.0032 7.115 x 10-9 8,15608

75 348 0.0029 2,754 x 10 -8 -7,56

Mencari Ea

k2 Ea T 2T 1
l og = ( )
k 1 2,303 x R T 2 xT 1

2,754 x 108 Ea 348313


log = ( )
7.115 x 109 2,303 x 1,987 348 x 313

Ea 35
log 3,8= (
4,576 108924 )
Ea
0,58= x 3,2 x 104
4,576

23
2,65 = Ea x 3,21 x 10-4 = 8,294 kkal

Mencari A untuk menentukan k pada T 25 derajat celcius

8,294
l ogk=log A
2,303 x 1,987 x 313

8,294
log 7,115 x 109=log A
151,0

log 7,115 x 109=log A 5,79 x 10 3

8,15=log A 5,79 x 103

log A=8,155,79 x 103

log A=8,15

A=7,08 x 109

K pada T 25 derajat c(298 derajat K)

8,294
l ogk=log A
2,303 x 1,987 x 298

8,294
logk=log A
2,303 x 1,987 x 298

24
7,08 x 109 6,08 x 103
logk=log

3
logk=8,156,08 x 10

logk=8,15608

9
k =6,98 x 10

Mencari t
9
t1/2 = 1/ 6,98 x 10 x142400 = 1006 menit =16,7 jam

9
t 90 = 1/ 9x 6,98 x 10 x142400 = 111,78 hari

H. Pembahasan Jurnal

25
Pada jurnal penelitian ini peneliti melakukan pengujian terhadap stabilitas sirup
paracetamol. Pengujian stabilitas ini sangat penting untuk dilakukan dalam setiap pembuatan
sediaan obat farmasi. Hal ini dikarenakan stabilitas obat akan sangat berpengaruh pada kadar
zak aktif yang terkandung dalam sediaan obat sehingga akan mempengaruhi efek terapeutik
yang ditimbulkan, selain itu stabilitas juga akan mempengaruhi sifat fisika dan kimia dari
sediaan obat tersebut. Dari literatur yang ada dapat diketahui bahwa stabilitas obat adalah
kemampuan suatu obat untuk mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan
yang dimilikinya pada saat dibuat (identitas, kekuatan, kualitas, kemurnian) dalam batas yang
ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan sehingga mampu memberikan
efek terapi yang baik dan menghindari efek toksik. Tujuan dari uji stabilitas obat sendiri yaitu
untuk menentukan umur simpan dari suatu sediaan obat dan obat yang beredar tersebut stabil
dalam jangka waktu yang lama yang disimpan dalam suhu kamar.

Adapun maksud dan tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami
cara penentuan kestabilan suatu obat, serta menerangkan faktor apa saja yang mempengaruhi
kestabilan suatu bahan obat, penentuan energi aktivasi dari reaksi penguraian, dan masa
simpan suatu zat (bahan obat).

Menurut literatur yang ada dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi stabilitas
sediaan farmasi tergantung pada profil sifat fisika dan kimia. Faktor utama lingkungan dapat
menurunkan stabilitas diantaranya temperatur yang tidak sesuai, cahaya, kelembaban,
oksigen dan mikroorganisme. Beberapa faktor lain yang juga mempengaruhi stabilitas suatu
obat adalah ukuran partikel, pH, kelarutan, dan bahan tambahan kimia

Pada penelitian ini dilakukan pengujian faktor temperatur terhadap stabilitas sirup
paracetamol yang merupakan obat golongan analgetik dan antipiretik. Temperatur yang
diujikan adalah dengan temperatur suhu ruangan, 40C dan 75C. Pemilihan suhu 40C
dikarenakan pada suhu tersebut udara yang ada beranjak pada suhu ekstrim sedangkan pada
75C dikarenakan pada suhu tersebut sudah termasuk ke dalam suhu ekstrim. Alasan
menggunakan suhu yang tinggi karena bila kita ingin mengetahui batas kestabilan suatu obat
(batas kadaluarsanya), maka obat harus disimpan pada jangka waktu yang lama sampai obat
tersebut berubah, hal ini tentu tidak bisa dilakukan karena keterbatasan waktu, sehingga kita
menggunakan suhu yang tinggi karena uji kestabilan obat dapat dipercepat dengan
menggunakan perubahan suhu atau menggunakan suhu yang tinggi. Semakin tinggi suhunya
maka akan semakin cepat bahan obat tersebut untuk terurai. Pada literatur obat sirup
parasetamol baik disimpan pada suhu ruangan kira kira 26-28C. Dikarenakan suhu suatu
ruangan berbeda beda tergantung iklim dan keadaan letak geografisnya maka perlu
dilakukan uji stabilitas temperatur.

Sebelum pengujian stabilitas dilakukan perlu dilakukan penentuan kurva kalibrasi terlebih
dahulu menggunakan sampel serbuk parasetamol yang murni. Hal ini bertujuan agar
didapatkan pembanding yang sesuai dengan sampel yang akan diujikan, juga agar didapat
panjang gelombang yang murni dari paracetamol. Menurut literatur jurnal penelitian yang ada
rentang panjang gelombang dari paracetamol adalah 200 300 nm, dan pembuatan kurva
kalibrasi yang praktikan buat panjang gelombangnya telah sesuai dengan rentang yang tertera

26
pada literatur yakni 242 nm. Pelarut yang digunakan untuk pengujian ini menggunakan
Natrium Hidroksida yang merupakan suatu zat yang dilarutkan dalam air dan bersifat basa.
Penggunaan pelarut basa dikarenakan parasetamol akan larut dan menjadi larutan yang
homogen pada pelarut tersebut. Penentuan nilai absorbansi dan panjang gelombang dilakukan
menggunakan alat spektrofotometer. Menurut literatur yang ada prinsip alat ini adalah sinar
dari sumber sinar adalah sinar polikromatis maka dilewatkan terlebih dahulu pada
monokromator, kemudian sinar monokromatis dilewatkan dalam kuvet yang berisi sampel
maka akan menghasilkan sinar yang ditransmisikan dan diterima oleh detektor untuk diubah
menjadi energi listrik yang kekuatannya dapat diamati oleh alat pembaca (satuan yang
dihasilkan adalah absorban atau transmitan). Setelah dilakukan pengujian didapat nilai
absorban adalah :

No Panjanggelombang konsentrasi absorbansi

1 242 12 0,335

2 242 13 0,445

3 242 14 0,470

4 242 15 0,577

5 242 16 0,580

6 242 17 0,649

7 242 18 0,721

Menurut literatur yang ada absorban yang dihasilkan telah memenuhi persyaratan
yang ada, karena nilai absorban yang baik pada spektrofotometer adalah 0,2 0,8. Dan pada
data data yang ada telah termasuk kedalamnya maka dapat disimpulkan bahwa data data
tersebut telah baik dan dapat digunakan sebagai pembanding. Setelah dilakukan percobaan
dan dibuat kurva antara nilai konsentrasi dan nilai absorban nilai r2 yang didapat adalah 0,984
menurut literatur yang ada jika nilai regresi linier lebih dari 0,98 dan mendekati 1 maka data
yang dihasilkan telah memenuhi syarat dengan kata lain data yang dihasilkan cukup baik.

Pada identifikasi selanjutnya adalah dengan menguji nilai absorban sampel setelah
dipanaskan selama 30,60,90 menit pada suhu 40C dan 75C. Perlakuan identifikasi sama
dengan membuat kurva kalibrasi yakni pengujiannya dengan menggunakan alat
spektrofotometer agar dapat diketahui nilai absorban. Nilai absorban ini sangat penting
karena dengan diketahuinya nilai absorban praktikan dapat menentukan hasil nilai regresi
linearnya dan menentukan orde reaksi yang terjadi. Dari hasil percobaan dan perhitungan
yang telah dilakukan didapat orde reaksi pada kedua suhu tersebut, pada suhu 40C orde
reaksinya adalah orde 2 sedangkan pada suhu 75C orde reaksinya adalah orde 1. Penentuan
orde reaksi ini sangat penting untuk mengetahui stabilitas obat. dengan menentukan orde
reakasi suatu zat kita dapat mengetahui laju degradasi atau penguraian obat tersebut. Pada

27
orde satu dapat diketahui bahwa reaksi orde satu terjadi jika berkurangnya jumlah reaktan
sebanding dengan jumlah reaktan tersisa. Sedangkan pada orde dua dapat diketahui bahwa
Jika laju reaksi tergantung pada kadar D dan E yang masing-masing dipangkatkan (K), maka
laju penguraian D = laju penguraian E dan keduanya sebanding dengan hasil kadar reaktan.
Berdasar pengamatan obat akan mencapai kadaluarsa setelah 111,78 hari sedangkan waktu
paruh nya adalah 1006 menit =16,7 jam

Aplikasi stabilitas obat dalam bidang farmasi yakni kestabilan suatu zat merupakan
faktor yang harus diperhatikan dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini
penting mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan
memerlukan waktu yang lama dapat mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang
diterima pasien berkurang. Adakalanya hasil urai tersebut bersifat toksis sehingga
membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu perlu diketahui faktor-faktor mempengaruhi
kestabilan suatu zat sehingga dapat dipilih kondisi pembuatan sediaan yang tepat sehingga
kestabilan obat terjaga.

28