Anda di halaman 1dari 18

SUMBER-SUMBER KECELAKAAN DI LABORATORIUM

Oleh :

Riswa Sejati 09160556N


Sunarmiyatun 09160558N
Syifa Nur J 09160559N
Tanty Amalia 09160560N
Teja Kusuma 09160561N

PROGRRAM STUDI D-IV ANALIS KESEHATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara

umum diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi

yang buruk jauh di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi

tersebut mencerminkan kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia

internasional masih sangat rendah. Indonesia akan sulit menghadapi pasar global

karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan tenaga kerja (produktivitas kerja

yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat ditentukan peranan mutu tenaga

kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan, pemerintah juga perlu

memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan dan Kesehatan

Kerja. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat.

Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis

sejak lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan

kinerja karyawan dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya

fasilitas keselamatan kerja semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun

2020 mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat

yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara

yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk
mengantisipasi hal tersebut serta mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja

Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat

Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku

sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta

memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk

upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran

lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan

penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan

produktivitas kerja.

Kecelakaan kerja tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi

bagi pekerja dan pengusaha, tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara

menyeluruh, merusak lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak pada

masyarakat luas.

Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Kerja (KK) di kalangan petugas

kesehatan dan non kesehatan kesehatan di Indonesia belum terekam dengan baik. Jika

kita pelajari angka kecelakaan dan penyakit akibat kerja di beberapa negara maju

(dari beberapa pengamatan) menunjukan kecenderungan peningkatan prevalensi.

Sebagai faktor penyebab, sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan

kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai. Banyak pekerja yang

meremehkan risiko kerja, sehingga tidak menggunakan alat-alat pengaman walaupun

sudah tersedia.
Berdasarkan penjelasan undang-undang nomor 23 tahun 1992 tentang

Kesehatan telah mengamanatkan antara lain, setiap tempat kerja harus melaksanakan

upaya kesehatan kerja, agar tidak terjadi gangguan kesehatan pada pekerja, keluarga,

masyarakat dan lingkungan disekitarnya.

Setiap orang membutuhkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuan hidupnya.

Dalam bekerja Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan faktor yang sangat

penting untuk diperhatikan karena seseorang yang mengalami sakit atau kecelakaan

dalam bekerja akan berdampak pada diri, keluarga dan lingkungannya. Salah satu

komponen yang dapat meminimalisir Kecelakaan dalam kerja adalah tenaga

kesehatan. Tenaga kesehatan mempunyai kemampuan untuk menangani korban

dalam kecelakaan kerja dan dapat memberikan penyuluhan kepada masyarakat untuk

menyadari pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja.

1.2. Rumusan Permasalahan

Berdasarkan penjelasan pada latar belakang di atas, maka permasalahan yang

akan dibahas dalam makalah ini adalah :

1. bagaimana peran tenaga kesehatan dalam menangani korban kecelakaan

kerja dan mencegah kecelakaan kerja guna meningkatkan kesehatan dan

keselamatan kerja?
1.3. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah :

1. Untuk mengetahui peran tenaga kesehatan dalam menangani korban

kecelakaan kerja dan mencegah kecelakaan kerja guna meningkatkan

kesehatan dan keselamatan kerja.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. K3 Laboratorium

Laboratorium adalah sarana yang dipergunakan untuk melakukan pengukuran,

penetapan, dan pengujian terhadap bahan yang digunakan untuk penentuan formula

obat yang akan dibuat. Laboratorium Kesehatan adalah sarana kesehatan yang

melaksanakan pengukuran, penetapan dan pengujian terhadap bahan yang berasal

dari manusia atau bahan yang bukan berasal dari manusia untuk penentuan jenis

penyakit, penyebab penyakit, kondisi kesehatan dan faktor yang dapat berpengaruh

terhadap kesehatan perorangan dan masyarakat.

Penerapkan K3 yang baik, fasilitas laboratorium harus memenuhi beberapa

persyaratan berikut ini:

1. Harus mempunyai sistem ventilasi yang memadai agar sirkulasi udara berjalan

lancar.
2. Harus mempunyai alat pemadam kebakaran terhadap bahan kimia yang

berbahaya yang dipakai.


3. Harus menyediakan alat pembakar gas yang terbuka untuk menghindari

bahaya kebakaran.
4. Meja yang digunakan harus diberi bibir untuk menahan tumpahan larutan

yang mudah terbakar, korosif dan melindungi tempat yang aman dari bahaya

kebakaran.
5. Menyediakan dua buah jalan keluar untuk keluar dari kebakaran dan terpisah

sejauh mungkin.
6. Tempat penyimpanan di laboratorium di desain untuk mengurangi sekecil

mungkin risiko oleh bahan-bahan berbahaya dalam jumlah besar.


7. Harus tersedianya alat Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K).
8. Kesiapan menghindari panas sejauh mungkin dengan memakai alat pembakar

gas yang terbuka untuk menghindari bahaya kebakaran.


9. Untuk menahan tumpahan larutan yang mudah terbakar dan melindungi

tempat yang aman dari bahaya kebakaran dapat disediakan bendung bendung

talam.

2.2. Pedoman Umum (Good Laboratory Practice)


1. Tidak boleh makan minum, merokok di lab.
2. Dilarang memasukkan jari ke dalam mulut.
3. Dilarang bekerja sendiri di lab.
4. Semua bahan yang ada di lab harus dianggap infeksius atau toksis.
5. Gunakan APD, gunakan lemari kabinet keamanan lab.
6. Cuci tangan sebelum dan sesudah.
7. Dilarang membuang sampah infeksius disembarang tempat.
8. Tidak dibenarkan memipet dengan mulut dan menghirup.
9. Gunakan jarum semprit dengan hati-hati.

2.3. Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja dapat terjadi kapan saja dan dimana saja yang dapat

menimpa setiap pekerja. Kecelakaan kerja dapat menyebabkan kerugian bagi pekerja

dan juga yang memperkerjakan. Maka dari itu mengidentifikasi bahaya kerja akan

mengurangi bahka mencegah bahaya melalui pengedalian bahaya kerja yang

dilakukan melalui hasil analisa identifikasi bahaya kerja.

Agar penanganan dari hasil identifikasi lebih maksimal maka perlu dilakukan

sebuah penilaian resiko. Penilaian resiko adalah metode sistematis dalam melihat
aktifitas kerja, memikirkan apa yang akan menjadi buruk, dan memutuskan untuk

mencegah terjadinya kerugian, kerusakan, dan cidera di tempat kerja.

Terjadinya kecelakaan kerja dapat disebabkan oleh beberapa hal, tetapi

analisis terjadinya kecelakaan kerja menunjukan bahwa hal-hal berikut adalah sebab-

sebab terjadinya kecelakaan kerja di laboratorium :

1. Kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang bahan kimia dan proses-

proses serta perlengkapan atau peralatan yang digunakan dalam melakukan

kegiatan

2. Kurangnya kejelasan petunjuk kegiatan labolatorium dan juga kurangnya

pengawasan yang dilakukan selama melakukan kegiatan labolatorium.

3. Kurangnya bimbingan terhadap siswa atau mahasiswa yang sedang

melakukan kegiatan labolatorium.

4. Kurangnya atau tidak tersedianya perlengkapan keamanan dan perlengkapan

perlindungan kegiatan labolatorium.

5. Kurang atau tidak mengikuti petunjuk atau aturan-aturan yang semestinya

harus ditaati.

6. Tidak menggunakan perlengkapan pelindung yang seharusnya digunakan atau

menggunakan peralatan atau bahan yang tidak sesuai.

7. Tidak bersikap hati-hati di dalam melakukan kegiatan.

Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan.

Biasanya kecelakaan menyebabkan, kerugian material dan penderitaan dari yang


paling ringan sampai kepada yang paling berat. Kecelakaan di laboratorium dapat

berbentuk dua jenis yaitu:

1. Kecelakaan medis, jika yang menjadi korban adalah pasien.


2. Kecelakaan kerja, jika yang menjadi korban adalah petugas laboratorium itu

sendiri.

Penyebab kecelakaan kerja dapat dibagi dalam kelompok:

a. Kondisi berbahaya (unsafe condition), yaitu yang tidak aman dari:

Mesin, peralatan, bahan dan lain-lain.


b. Lingkungan kerja
c. Proses kerja
d. Sifat pekerjaan
e. Cara kerja

Perbuatan berbahaya (unsafe act), yaitu perbuatan berbahaya dari manusia,

yang dapat terjadi antara lain karena:

a. Kurangnya pengetahuan dan keterampilan pelaksana.


b. Cacat tubuh yang tidak kentara (bodily defect).
c. Keletihanan dan kelemahan daya tahan tubuh.
d. Sikap dan perilaku kerja yang tidak baik

Beberapa contoh kecelakaan yang banyak terjadi di laboratorium:

1. Terpeleset,
Biasanya karena lantai licin. Terpeleset dan terjatuh adalah bentuk

kecelakaan kerja yang dapat terjadi di laboratorium. Akibatnya:


a. Ringan: memar
b. Berat: fraktura, dislokasi, memar otak, dll.
c. Pencegahannya
Pakai sepatu anti slip Jangan pakai sepatu dengan hak tinggi, tali sepatu

longgar. Hati-hati bila berjalan pada lantai yang sedang dipel (basah

dan licin) atau tidak rata konstruksinya. Pemeliharaan lantai dan tangga
2. Mengangkat beban
Mengangkat beban merupakan pekerjaan yang cukup berat, terutama bila

mengabaikan kaidah ergonomi, akibatnya:


a. Cedera pada punggung.
Pencegahannya :
1) Beban jangan terlalu berat.
2) Jangan berdiri terlalu jauh dari beban.
3) Jangan mengangkat beban dengan posisi membungkuk tapi

pergunakanlah tungkai bawah sambil berjongkok


4) Pakaian penggotong jangan terlalu ketat sehingga pergerakan

terhambat.
3. Mengambil sample darah/cairan tubuh lainnya, akibatnya :
a. Tertusuk jarum suntik.
b. Tertular virus AIDS, Hepatitis B

Pencegahannya:
1) Gunakan alat suntik sekali pakai.
2) Jangan tutup kembali atau menyentuh jarum suntik yang telah

dipakai tapi langsung dibuang ke tempat yang telah disediakan

(sebaiknya gunakan destruction clip).


3) Bekerja di bawah pencahayaan yang cukup
4. Risiko terjadi kebakaran (sumber: bahan kimia, kompor) bahan desinfektan

yang mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun. Kebakaran terjadi

bila terdapat 3 unsur bersama sama yaitu: oksigen, bahan yang mudah

terbakar dan panas, akibatnya:


a. Timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai

berat

bahkan kematian.
b. Timbul keracunan akibat kurang hati-hati.

Pencegahannya:
1) Konstruksi bangunan yang tahan api.
2) Sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang

mudah terbakar.
3) Pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran
4) Sistem tanda kebakaran
a) Manual yang memungkinkan seseorang menyatakan

tanda bahaya dengan segera.


b) Otomatis yang menemukan kebakaran dan memberikan

tanda secara otomatis.


5) Jalan untuk menyelamatkan diri.
6) Perlengkapan dan penanggulangan kebakaran.
7) Penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman.
8) Tempat, peralatan, sisa bahan infeksius dan spesimen secara

benar.
9) Pengelolaan limbah infeksius dengan benar.
10) Menggunakan kabinet keamanan biologis yang sesuai.
11) Kebersihan diri dari petugas.

2.4. Faktor-Faktor dalam Lab

Faktor-faktor yang besar pengaruhnya terhadap timbulnya bahaya dalam proses

industri maupun laboratorium meliputi suhu, tekanan, dan konsentrasi zat-zat

pereaksi. Suhu yang tinggi diperlukan dalam rangka menaikkan kecepatan reaksi

kimia dalam industri, hanya saja ketahanan alat terhadap suhu harus

dipertimbangkan. Tekanan yang tinggi diperlukan untuk mempercepat reaksi, akan

tetapi kalau tekanan sistem melampaui batas yang diperkenankan dapat terjadi

peledakan.

Apalagi jika proses dilakukan pada suhu tinggi dan reaktor tidak kuat lagi

menahan beban. Konsentrasi zat pereaksi yang tinggi dapat menyebabkan korosif
terhadap reaktor dan dapat mengurangi umur peralataan. Selain itu sifat bahan seperti

bahan yang mudah terbakar, mudah meledak, bahan beracun, atau dapat merusak

bagian tubuh manusia. Beberapa sumber bahaya yang berpotensi menimbulkan

kecelakaan kerja dapat dikategorikan sebagai berikut:

1. Bahan Kimia
Meliputi bahan mudah terbakar, bersifat racun, korosif, tidak stabil,

sangat reaktif, dan gas yang berbahaya. Penggunaan senyawa yang bersifat

karsinogenik dalam industri maupun laboratorium merupakan problem yang

signifikan, baik karena sifatnya yang berbahaya maupun cara yang

ditempuh dalam penanganannya. Beberapa langkah yang harus ditempuh

dalam penanganan bahan kimia berbahaya meliputi manajemen, cara

pengatasan, penyimpanan dan pelabelan, keselamatan di laboratorium,

pengendalian dan pengontrolan tempat kerja, dekontaminasi, disposal,

prosedur keadaan darurat, kesehatan pribadi para pekerja, dan pelatihan.

Bahan kimia dapat menyebabkan kecelakaan melalui pernafasan (seperti

gas beracun), serapan pada kulit (cairan), atau bahkan tertelan melalui mulut

untuk padatan dan cairan.


Bahan kimia berbahaya dapat digolongkan ke dalam beberapa kategori

yaitu, bahan kimia yang eksplosif (oksidator, logam aktif, hidrida, alkil

logam, senyawa tidak stabil secara termodinamika, gas yang mudah

terbakar, dan uap yang mudah terbakar). Bahan kimia yang korosif (asam

anorganik kuat, asam anorganik lemah, asam organik kuat, asam organik

lemah, alkil kuat, pengoksidasi, pelarut organik). Bahan kimia yang


merusak paru-paru (asbes), bahan kimia beracun, dan bahan kimia

karsinogenik (memicu pertumbuhan sel kanker), dan teratogenik.


2. Aliran Listrik
Penggunaan peralatan dengan daya yang besar akan memberikan

kemungkinan-kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan kerja. Beberapa

faktor yang harus diperhatikan antara lain:


a. Pemakaian safety switches yang dapat memutus arus listrik jika

penggunaan melebihi limit/batas yang ditetapkan oleh alat.


b. Improvisasi terhadap peralatan listrik harus memperhatikan

standar keamanan dari peralatan.


c. Penggunaan peralatan yang sesuai dengan kondisi kerja sangat

diperlukan untuk menghindari kecelakaan kerja.


d. Berhati-hati dengan air. Jangan pernah meninggalkan perkerjaan

yang memungkinkan peralatan listrik jatuh atau bersinggungan

dengan air. Begitu juga dengan semburan air yang langsung

berinteraksi dengan peralatan listrik.


e. Berhati-hati dalam membangun atau mereparasi peralatan listrik

agar tidak membahayakan penguna yang lain dengan cara

memberikan keterangan tentang spesifikasi peralatan yang telah

direparasi.
f. Pertimbangan bahwa bahan kimia dapat merusak peralatan listrik

maupun isolator sebagai pengaman arus listrik. Sifat korosif bahan

kimia dapat menyebabkan kerusakan pada komponen listrik.


g. Perhatikan instalasi listrik jika bekerja pada atmosfer yang mudah

meledak. Misalnya pada lemari asam yang digunakan untuk

pengendalian gas yang mudah terbakar.


h. Pengoperasian suhu dari peralatan listrik akan memberikan

pengaruh pada bahan isolator listrik. Temperatur sangat rendah

menyebabkan isolator akan mudah patah dan rusak. Isolator yang

terbuat dari bahan polivinil clorida (PVC) tidak baik digunakan

pada suhu di bawah 0 oC. Karet silikon dapat digunakan pada

suhu 50 oC. Batas maksimum pengoperasian alat juga penting

untuk diperhatikan. Bahan isolator dari polivinil clorida dapat

digunakan sampai pada suhu 75 oC, sedangkan karet silikon dapat

digunakan sampai pada suhu 150 oC.


3. Radiasi
Radiasi dapat dikeluarkan dari peralatan semacam X-ray difraksi atau

radiasi internal yang digunakan oleh material radioaktif yang dapat masuk

ke dalam badan manusia melalui pernafasan, atau serapan melalui kulit.

Non-ionisasi radiasi seperti ultraviolet, infra merah, frekuensi radio, laser,

dan radiasi elektromagnetik dan medan magnet juga harus diperhatikan dan

dipertimbangkan sebagai sumber kecelakaan kerja.


4. Mekanik
Walaupun industri dan laboratorium modern lebih didominasi oleh

peralatan yang terkontrol oleh komputer, termasuk di dalamnya robot

pengangkat benda berat, namun demikian kerja mekanik masih harus

dilakukan. Pekerjaan mekanik seperti transportasi bahan baku, penggantian

peralatan habis pakai, masih harus dilakukan secara manual, sehingga

kesalahan prosedur kerja dapat menyebabkan kecelakaan kerja. Peralatan


keselamatan kerja seperti helmet, sarung tangan, sepatu, dan lain-lain perlu

mendapatkan perhatian khusus dalam lingkup pekerjaan ini.


5. A p i.
Hampir semua laboratorium atau industri menggunakan bahan kimia

dalam berbagai variasi penggunaan termasuk proses pembuatan,

pemformulaan atau analisis. Cairan mudah terbakar yang sering digunakan

dalam laboratorium atau industri adalah hidrokarbon. Bahan mudah

terbakar yang lain misalnya pelarut organik seperti aseton, benzen, butanol,

etanol, dietil eter, karbon disulfida, toluena, heksana, dan lain-lain. Para

pekerja harus berusaha untuk akrab dan mengerti dengan informasi yang

terdapat dalam Material Safety Data Sheets (MSDS). Dokumen MSDS

memberikan penjelasan tentang tingkat bahaya dari setiap bahan kimia,

termasuk di dalamnya tentang kuantitas bahan yang diperkenankan untuk

disimpan secara aman.


Sumber api yang lain dapat berasal dari senyawa yang dapat meledak

atau tidak stabil. Banyak senyawa kimia yang mudah meledak sendiri atau

mudah meledak jika bereaksi dengan senyawa lain. Senyawa yang tidak

stabil harus diberi label pada penyimpanannya. Gas bertekanan juga

merupakan sumber kecelakaan kerja akibat terbentuknya atmosfer dari gas

yang mudah terbakar.


6. Suara (kebisingan)
Sumber kecelakaan kerja yang satu ini pada umumnya terjadi pada

hampir semua industri, baik industri kecil, menengah, maupun industri

besar. Generator pembangkit listrik, instalasi pendingin, atau mesin


pembuat vakum, merupakan sekian contoh dari peralatan yang diperlukan

dalam industri. Peralatan-peralatan tersebut berpotensi mengeluarkan suara

yang dapat menimbulkan kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan kerja.

Selain angka kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin, para pekerja harus

memperhatikan berapa lama mereka bekerja dalam lingkungan tersebut.

Pelindung telinga dari kebisingan juga harus diperhatikan untuk menjamin

keselamatan kerja.

BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Kesehatan dan keselamatan kerja di Laboratorium Kesehatan bertujuan agar

petugas, masyarakat dan lingkungan laboratorium kesehatan saat bekerja selalu dalam

keadaan sehat, nyaman, selamat, produktif dan sejahtera. Untuk dapat mencapai

tujuan tersebut, perlu kemauan, kemampuan dan kerjasama yang baik dari semua

pihak. Pihak pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan sebagai lembaga yang

bertanggung-jawab terhadap kesehatan masyarakat, memfasilitasi pembentukan

berbagai peraturan, petunjuk teknis dan pedoman K3 di laboratorium kesehatan serta

menjalin kerjasama lintas program maupun lintas sektor terkait dalam pembinaan K3
tersebut. Keterlibatan dan komitmen yang tinggi dari pihak manajemen atau

pengelola laboratorium kesehatan mempunyai peran sentral dalam pelaksanaan

program ini. Demikian pula dengan pihak petugas kesehatan dan non kesehatan yang

menjadi sasaran program K3 ini harus berpartisipasi secara aktif, bukan hanya

sebagai obyek tetapi juga berperan sebagai subyek dari upaya mulia ini.

3.2. Saran

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan karena

sakit dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu

perusahaan atau negara olehnya itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola

secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Komputer, dan Kimia. Yogyakarta: Diva Press.

http://alatpemadamapar.blogspot.com/

http://www.biologicalsafetycabinet.co.uk/

http://www.bppv-dps.info

http://www.emergency-shower.org/