Anda di halaman 1dari 3

Mantram saat menanam Ari-Ari

Ari - ari merupakan salah satu bagian penting dalam proses perkembangan janin di dalam
kandungan. Dalam tatwa Kanda Pat disebutkan bahwa manusia lahir ke dunia dibantu oleh 4
saudara yaitu ari - ari, lamas, darah dan yeh nyom. Ke empat saudara inilah yang menjaga bayi
dalam kandungan dan membantu proses kelahiran bayi. Setelah bayi lahir maka sang kanda pat
pergi menuju lokasinya masing-masing untuk beryoga dan karena keteguhannya beryoga maka
keempat saudara kita tersebutlah pada akhirnya akan menjadi Sang Suratman, Sang Jogormanik,
Sang Mahakala dan Sang Dorakala yang akan menjadi saksi perilaku kehidupan dan sebagai
penuntun jalan setelah kematian.

Saat bayi lahir maka ada upacara khusus yang harus dilakukan untuk mendem ari - ari si bayi.
Saat si ibu dalam proses bersalin maka disiapkan sebuah periuk tanah yang berisi tutup yang
mana jika bayi sudah lahir maka ari -arinya dimasukan ke dalam periuk tersebut dan dibawa
pulang. Sesampai di rumah maka oleh ayah si anak ari ari diletakan di dalam baskom/ember
baru yang setelah itu alat tersebut tidak boleh dipakai lagi. Lalu ari ari tersebut di cuci dengan
air. Sang ayah harus membersihkan ari - ari dengan bersih dengan menggunakan kedua tangan,
tanpa perasaan jijik dan dilakukan dengan perasaan penuh syukur dan kasih sayang, setelah
bersih lalu di bilas dengan air kumkuman (air bunga).

Siapkan sebuah kelapa ukuran besar yang masih lengkap dengan kulitnya, lalu dipotong dan
dikeluarkan airnya. Pada bagian atas kelapa (bagian tutupnya) ditulis aksara Ah yang
melambangkan Akasa dan pada bagian bawahnya ditulis aksara Ang yang melambangkan
Pertiwi.

Lalu ari -ari dimasukan kedalam kelapa tersebut, diisi dengan 1 buah kwangen yang berisi 11
kepeng uang bolong yang diletakan di atas ari - ari, 1 potong lontar / ental yang ditulis aksara
Ongkara, 1 ikat duri - durian (3macam duri), Rempah - rempah (anget - angetan), wewangian
dan boleh juga di isi pesan - pesan lain dari sang ayah dalam hal ini mengacu kepada Desa Kala
Patra.

Sesudah lengkap lalu kelapa tersebut dibungkus dengan ijuk lalu dibungkus kain putih dan
selanjutnya di tanam. Untuk bayi laki - laki maka ari - ari di tanam di pekarangan dengan posisi
di sebelah timur pintu masuk kamar si bayi (misalnya lokasi bayi di bale daja) sedangkan bayi
perempuan di tanam di sebelah barat pintu. Masukan ari - ari tersebut ke dalam lubang lalu
ucapkan mantram

"Om Sang Hyang Ibu Pertiwi


rumaga bayu
rumaga amrtha sanjiwani
ang amertham sarwa tumuwuh (nama si bayi)
mangda dirghayusa nutugang tuwuh "
Setelah itu barulah ari - ari di timbun dan diatasnya diletakkan batu bulitan sebagai tanda dan
ditanam pandan berduri. Hal ini secara sekala bertujuan menjaga ari - ari agar tidak diganggu
hewan dan secara niskala bertujuan untuk menghindari gangguan jahat.

Setelah itu di atasnya diberi upakara yaitu :


4 tanding nasi kepelan yang alasnya terbuat dari daun pisang yang berisi tampelan dan bunga
jepun putih dengan ulam bawang jahe, 4 buah takir berisi air lalu letakan disekelilingnya yaitu di
atas batu, di bawah, dikiri dan di kanan yang dilengkapi dengan canang. Lalu buatkan segehan
lima warna yaitu warna hitam di sebelah utara, putih sebelah timur, merah sebelah selatan,
kuning sebelah barat dan manca warna di tengah. Bila sudah sandhikala (sore menjelang malam)
maka dinyalakan lilin atau lampu dan ari - ari ditutup dengan kurungan ayam.

Sumber: Ida Pedanda Gede Made Gunung


Om Sang Hyang Ibu Pertiwi
rumaga bayu
rumaga amrtha sanjiwani
ang amertham sarwa tumuwuh (nama si bayi)
mangda dirghayusa nutugang tuwuh "