Anda di halaman 1dari 6

Nama : Utin Dwi Nurul Aini

NIM : D1091141002
PRODI : PWK
Mata Kuliah : Manajemen Infrastruktur Wilayah Kota

1. Pengertian LRT (Light Rail Transit)


LRT (Light Rail Transit) merupakan salah satu sistem Kereta Api
Penumpang (tipe Kereta Api ringan) yang biasanya beroperasi dikawasan perkotaan
yang memiliki konstruksi ringan dan dapat berjalan bersama lalu lintas lain atau
dalam lintasan khusus, LRT sering juga disebut dengan tram. LRT (Light Rail
Transit) sendiri merupakan moda transportasi masal yang merupakan bagian dari
Mass Rapid Transit (MRT) dengan cakupan wilayah yang lebih kecil. LRT telah
diterapkan di berbagai negara di belahan dunia, di kawasan (Asia Tenggara) sudah ada
Singapur dan Filipina yang telah menerapkannya. Di Singapur LRT termasuk dalam
bagian SMRT (Singapore Mass Rapid Transit).

Gambar 1. LRT (Light Rail Transit)


Sumber : http://google.com

Sejarah LRT Indonesia

Istilah LRT di Indonesia kalah populer dengan 'trem' (nama lain LRT). Selain
itu LRT di Indonesia masih menjadi sistem yang independen atau belum terintegrasi
dengan MRT (tidak seperti di singapura), karena di indonesia sendiri tidak memiliki
MRT, Di Indonesia LRT sejatinya sudah ada sebelum tahun 1900an (saat penjajahan
Belanda), tepatnya di Surabaya dan Jakarta. Pada saat itu LRT dibangun dengan
tenaga uap kemudian pada 1930an diganti menggunakan tenaga listrik. Tapi pada
akhirnya LRT digusur sebab rencana pengembangan tata kota lebih cenderung ke
subway atau metro. Sejatinya Indonesia saat ini masih memiliki LRT yaitu di Solo,
bahkan saat ini Solo telah berencana mengembangkan LRT dan ingin membangun
sistem LRT yang lebih besar.
Selain di Solo, LRT juga akan dibangun di Jakarta (LRT Jakarta), yang
nantinya akan dibangun pada 2 tahap, tahap 1 adalah melalui rute Cibubur-Cawang-
Grogol. Selanjutnya pada tahap 2 dibangun melalui rute Bekasi Timur-Cawang.

Gambar 2. Rencana Jaringan LRT Jakarta


Sumber : http://google.com

Pertimbangan Penerapan sistem LRT di Indonesia

Untuk meng instal sistem LRT di Indonesia (khususnya LRT Jakarta)


memerlukan banyak pertimbangan yang sangat matang:
1. Perlu investasi yang besar, biaya per kilometer LRT sangatlah tinggi, setiap 1
kilometer biaya yang digunakan untuk membangun LRT sama dengan Biaya 5
kilometer untuk membangun Bus Rapid Transit / BRT (membangun 1KM LRT
lebih mahal 5 Kali dari membangun 1KM jalur BRT), selain dari revenue
(penghasilan) yang didapatkan dari LRT. Dikhawatirkan tidak sebanding dengan
besarnya dana untuk membangun LRT.
2. Perlu Perencanaan Tata Ruang Kota yang Matang, perencanaan tata ruang
kota sangat penting hal ini berkaitan dengan optimalisasi wilayah yang perlu
dibangun LRT, hal tersebut terkait juga dengan rencana pengembangan jalur LRT
dalam jangka waktu panjang dan terkait dengan demand serta lahan yang tersedia.
3. Perlu Integrasi antar moda, Integrasi sangat penting hal itu menyangkut
aksesibilitas yang tinggi sehingga diharapkan memudahkan pengguna untuk
berpindah dari moda transportasi lain ke LRT. Integrasi antar stasiun-bandara, atau
stasiun-terminal sangatlah penting.
4. Perlu adanya pelayanan yang terbaik, biaya investasi yang besar akan sia-sia
jika tidak didukung oleh pelayanan yang prima. Misalnya memiliki ketepatan
waktu jarak tiap armadanya (misal jarak tiap armada 10-12 menit, tidak molor
atau terlalu cepat), karena di indonesia ketepatan waktu seperti dikesampingkan.

2. Pengertian MRT (Mass Rapid Transit)


MRT (Mass Rapid Transit) adalah suatu sistem tranportasi perkotaan yang
mempunyai 3 kriteria utama, mass (daya angkut besar), rapid (waktu tempuh cepat
dan frekuensi tinggi), dan transit (berhenti di banyak stasiun di titik utama perkotaan).
Namun, belakangan ini kita sering salah kaprah tentang maksud definisi MRT itu
sendiri. Pemeberitaan media yang cenderung asal-asalan dan kurang memperhatikan
konten membuat masyarakat bukannya menjadi cerdas tapi menjadi makin bodoh.
MRT (mass rapid transit) secara harfiah dapat diartikan sebagai moda
angkutan yang mampu mengangkut penumpang dalam jumlah yang banyak (massal)
dengan frekuensi dan kecepatan yang sangat tinggi (rapid).
Menurut modanya, MRT dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, antara
lain: bus (buslane/busway), subway, tram, dan monorail. Bus MRT dapat dibedakan
dengan bus angkutan biasa dan kendaraan lain karena biasanya merupakan shuttle
bus yang memiliki rute perjalanan tertentu dan beroperasi pada lajur khusus, sehingga
sering disebut buslane/busway. Pemisahan lajur ini dilakukan agar penumpang tidak
mengalami penundaan waktu perjalanan dan tidak terganggu oleh aktivitas moda
angkutan lain yang melintasi rute perjalanan yang sama.Busway sendiri biasanya
bervariasi ada yang berbentuk ganda (bus gandeng), bus tunggal, dan bus bertingkat.
MRT jenis busway biasanya lebih banyak dipilih oleh kota-kota di negara berkembang
karena pengembangannya membutuhkan biaya yang lebih murah dibandingkan
dengan subway, monorel, ataupun tram. Kota Bogota di Kolombia merupakan salah
satu contoh sukses penerapan sistem busway. MRT dalam bentuksubway pada
prinsipnya memiliki kesamaan sistem operasi dengan kereta api. Namun, konstruksi
teknisnya terdapat perbedaan karena subway terletak di bawah tanah (underground)
tetapi stasiun-stasiunnya langsung terhubung ke lokasi pusat kegiatan. Di Eropa
Barat, subway merupakan salah satu moda angkutan yang sangat populer dan
seringkali dikenal dengan istilah metro system. Kota London merupakan kota pertama
yang menerapkan sistem subway sebagai moda angkutan massal berkecepatan tinggi
pada tahun 1863.
Tram merupakan bentuk MRT dengan moda angkutan mirip dengan kereta api,
tetapi jalur operasinya dapat terintegrasi dengan jalan raya. Tram dapat ditemukan di
hampir semua kota menengah dan besar di Eropa dan di beberapa kota besar di
Amerika. Tram pertama kali diperkenalkan pada tahun 1807 di Inggris dan merupakan
bentuk awal MRT di dunia. Dalam operasionalnya, dikenal dua jenis tram:
(1) tram yang jalur operasinya menyatu dengan jalur lalu-lintas kendaraan; dan
(2) tram yang memiliki jalur operasional tersendiri yang dikenal dengan istilah light
rail.

3. Pengertian Monorail
Monorail merupakan MRT yangmemiliki jalur tertentu dan biasanya tidak
mengambil ruang kota yang luas. MRT jenis ini biasanya memiliki jalur di atas jalan
raya dan yang ditopang dengan tiang-tiang yang sekaligus berfungsi untuk
membentuk lintasan monorail. Berbeda dengan MRT lainnya, monorail biasanya
hanya terdiri atas satu rute dengan sistem lintasan loop dengan beberapa stasiun
pemberhentian yang menghubungkan dengan MRT lainnya maupun langsung ke
lokasi kegiatan tertentu. Penggunaan monorail sudah banyak dikembangkan di kota-
kota metropolitan di dunia antara lain Moskow, Tokyo, dan Sydney.
Tipe-tipe Monorail
Menurut jenisnya, monorail terdapat dua tipe :
1. Tipe Suspended
Tipe suspended adalah tipe monorail dimana kereta bergantung dan melaju
di bawah rel. Dalam tipe jenis ini, keretanya menggantung karena jalur
relnya berada diatas atau dengan kata lain lebih mirip dengan kereta
gantung.

2. Tipe Straddle-beam
Tipe Straddle-beam ini adalah tipe monorail dimana kereta berjalan diatas
rel. Tipe straddle-beam ini memiliki konsep yang sama dengan kereta
biasa, dimana kereta berjalan diatas rel.
Kelebihan Menggunakan Monorail
Penggunaan monorail sebagai alat transportasi massal alternatif ini memiliki
beberapa keuntungan dan juga kekurangan, diantaranya :
- Membutuhkan ruang yang lebih kecil baik vertikal maupun horizontal.
Untuk ruang lebar yang diperlukan adalah selebar kereta dan karena
monorail ini dibuat diatas jalan, maka hanya membutuhkan ruang yang tidak
terlalu besar untuk memasang tiang-tiang penyangga.
- Monorail terlihat lebih ringan dari pada kereta konvensional dengan rel
terelevasi dan hanya menutupi sebagian kecil langit.
- Tidak sebising kereta konvensional ketika beroperasi. Hal tersebut
disebabkan kereta monorail ini menggunakan roda karet yang berjalan di rel
yang terbuat dari beton.
- Kereta pada jalur monorail ini dapat menanjak, menurun dan berbelok lebih
cepat apabila dibandingkan dengan kereta konvensional.
- Lebih aman karena dengan kereta yang memegang rel, maka resiko kereta
tersebut dapat terguling atau tergelincir jauh lebih kecil karena kereta
membungkus jalur. Selain itu resiko kereta menabrak pejalan kaki juga
minim.
- Mengenai biaya perawatan dan pembangunan, kereta monorail jauh lebih
murah dibandingkan dengan kereta konvensional.
Kekurangan Monorail
- Kereta monorail apabila dibandingkan dengan kereta konvensional terasa
lebih memakan tempat.
- Dalam kondisi darurat, penumpang kereta monorail tidak dapat langsung
dievakuasi karena tidak ada jalan keluar kecuali di stasiun.
- Kapasitas kereta monorail masih dipertanyakan
- Pada kereta monorail, sangat sulit untuk membuat jalur persimpangan
- Mengenai pembangunan infrastruktur monorail sering dibuat oleh produsen
yang berbeda, sehingga terkadang terdapat beberapa komponen yang tidak
kompatible.
Daftar pustaka

Reissy, Naomi Annisa 2014. Makalah Pembangunan MRT (Pembangungan Berkelanjutan).


http://reissyanna.blogspot.co.id/2014/09/makalah-pembangunan-mrt-
pembangungan.html. Diakses pada Senin, September 08, 2014
Anonim. 2015. Mengenal Light Rail Transit. http://www.markijar.com/2015/09/mengenal-
light-rail-transit-lrt-serta.html. Diakses pada 6 september 2015