Anda di halaman 1dari 33

KEPERAWATAN JIWA

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS KLIEN

WAHAM

OLEH KELOMPOK 6 KELAS A:

I KADEK ADI PROSTANA (13C10939)

WAYAN GEDE ADI ADIAJANA (13C10964)

GEDE NGURAH RIO WIDIA SARAS (13C10965)

I KETUT SUDIRMAN (13C10994)

NGURAH KOMANG TEGUH KARTIKA YASA (13C10997)

I NENGAH YUDIARTANA (13C11005)

STIKES BALI

TAHUN AJARAN 2014/2015


TINJAUAN TEORITIS DAN TINJAUAN KASUS

A. Tinjauan Teoritis
1. Konsep Skizofrenia

a. Pengertian

Skizofrenia (schizophrenial) merupakan suatu gangguan yang terjadi pada

fungsi otak dan melibatkan banyak sekali faktor. Faktor faktor itu meliputi

perubahan struktur fisik otak, perubahan struktur kimia otak dan faktor

genetik(Yosep, 2011. Hal. 211).

Skizofrenia merupakan sebagai penyakit neurologis yang mempengaruhi

persepsi klien, cara berpikir, bahasa, emosi, dan prilaku sosialnya(Yosep, 2011.

Hal. 211).

Skizofrenia adalah suatu bentuk psikosa fungsional dengan gangguan

utama pada proses fikir serta disharmoni (keretakan, perpecahan) antara proses

pikir, afek/emosi kemauan dan psikomotor disertai distorsi kenyataan, terutama

karena waham dan halusinasi, asosiasi terbagi-bagi sehingga timbul

inkoherensi(Direja, 2011. Hal. 95).

b. Penyebab

Hingga sekarang belum ditemukan penyebab yang pasti mengapa

seseorang menderita skizofrenia, padahal orang lain tidak. Ternyata dari

penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak ditemukan faktor tunggal.

Penyebab skizofrenia menurut penelitian mutakhir(Yosep, 2011. Hal. 59). antara

lain:

1) Faktor genetik

2) Virus

3) Auto antibody
4) Malnutrisi

c. Tanda dan Gejala

Secara general gejala serangan skizofrenia dibagi menjadi 2 yaitu gejala

positif dan gejala negatif(Yosep, 2011, hal. 212) yaitu:

1) Gejala positif :

Halusinasi selalu terjadi saat rangsangan terlalu kuat dan otak tidak

mampu menginterprestasikan dan merespon pesan atau rangsangan yang

datang. Penderita skizofrenia mungkin mendengar suara-suara atau melihat

sesuatu yang sebenarnya tidak ada, atau mengalami suatu sensasi yang tidak

biasa pada tubuhnya. Gejala yang biasanya timbul yaitu klien merasakan ada

suara dari dalam dirinya. Kadang suara itu dirasakan menyejukkan hati,

memberi kedamaian, tapi kadang suara itu menyuruhnya melakukan sesuatu

yang sangat berbahaya seperti bunuh diri.

2) Gejala negatif

Penderita skizofrenia kehilangan motivasi dan apatis berarti kehilangan

energi dan minat dalam hidup yang membuat kalian menjadi orang yang

malas. Karena penderita skizofrenia hanya memiliki energi yang sedikit,

mereka tidak bisa melakukan hal-hal yang lain selain tidur dan makan.

Perasaan yang tumpul membuat emosi penderita skizofrenia menjadi datar.

Penderita skizofrenia tidak memiliki ekspresi baik dari raut muka maupun

gerakan tangannya, seakan-akan dia tidak memiliki emosi apapun. Tapi ini

tidak berarti bahwa penderita skizofrenia tidak bisa merasakan perasaan

apapun. Mereka mungkin bisa menerima pemberian dan perhatian orang lain,

tetapi tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.

d. Jenis-jenis skizofrenia
1) Skizofrenia simplek dengan gejala utama kedangkalan emosi dan

kemunduran kemauan.

2) Skizofrenia hebefrenik gejala utama gangguan proses pikir, gangguan

kemauan, dan depersonalisasi. Banyak terdapat waham dan halusinasi.

3) Skizofrenia katatonik, dengan gejala utama pada psikomotor seperti stupor

maupun gaduh gelisah katatonik.

4) Skizofrenia paranoid, dengan gejala utama kecurigaan, yang ekstrim disertai

waham kejar atau kebesaran.

5) Episode skizoprenia akut adalah kondisi akut mendadak yang disertai dengan

perubahan kesadaran, kesadaran mungkin berkabut.

6) Skizofrenia psiko-aktif, yaitu adanya gejala utama skizofrenia yang menonjol

dengan disertai gejala depresi atau mania.

7) Skizofrenia residual adalah skizoprenia dengan gejala-gejala primernya dan

muncul setelah beberapa kali serangan skizofrenia.

B. Konsep Dasar Waham

a. Pengertian

Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikiran yang tidak

sesuai dengan kenyataannya atau tidak cocok dengan intelegensi dan

latar belakang kebudayaannya, biarpun dibuktikan kemustahilan hal

itu (Maramis, 2009).

Proses berpikir meliputi proses pertimbangan, pemahaman,

ingatan serta penalaran. Aspek proses berpikir dibedakan menjadi tiga

bentuk yaitu bentuk pikiran, arus pikiran, dan isi pikir. Gangguan isi

pikir dapat terjadi baik pada isi pikiran nonverbal maupun pada isi

pikiran verbal diantaranya adalah waham. Berbagai macam faktor

yang mempengaruhi proses pikir itu seperti, faktor somatik (gangguan


otak, kelelahan). Faktor psikologi (gangguan emosi, psiko, faktor sosial,

kegaduhan dan keadaan sosial yang lain) yang sangat mempengaruhi

pertahanan dan konsentrasi individu. Aspek proses pikir yaitu: bentuk

pikir, arus pikir dan isi pikir ditambah dengan pertimbangan.

Waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan

yang tetap dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh

orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah

kehilangan kontrol.

Waham adalah suatu keyakinan kokoh yang salah dan tidak sesuai

dengan fakta dan keyakinan tersebut mungkin aneh (misal mata saya

adalah komputer yang dapat mengontrol dunia) atau bisa pula tidak

aneh hanya sangat tidak mungkin (misal FBI mengikuti saya) dan tetap

dipertahankan bukti-bukti yang jelas untuk mengoreksinya. Waham

sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan beberapa bentuk waham

yang spesifik sering ditemukan pada skizofrenia. Semakin akut psikosis

semakin sering ditemui waham diorganisasi dan waham tidak

sistematis.

Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian

realitas yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat

intelektual dan latar belakang budaya klien. Waham dipengaruhi oleh

faktor pertumbuhan dan perkembangan seperti adanya penolakan,

kekerasan, tidak ada kasih sayang, pertengkaran orang tua dan aniaya

(keliat,1999. di kutip oleh Deden Darmawan, Rusdi, Cetakan I : 2013

Edisi I : 2013).

Waham merupakan berbagai kehilangan dapat terjadi pada

pascabencana, baik kehilangan harta benda, keluarga maupun orang


yang bermakna. Kehilangan menyebabkan stres bagi mereka yang

mengalaminya. Jika stres ini berkepanjangan dapat memicu masalah

gangguan jiwa dan waham(Budi Anna Keliat. Cetakan : 2012).

Waham adalah keyakinan terhadap sesuatu yang salah dan

secara kukuh dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain

dan bertentangan dengan realita normal(stuart dan sundeen, 1998)

waham adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan,

tetapi dipertahankan dan tidak dapat di ubah secara logis oleh orang

lain keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan

kontrol(Depkes RI, 2000).

Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan

penilaian realitas yang salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan

tingkat intelektual dan latar belakang budaya, ketidakmampuan

merespons stimulus internal dan eksternal melalui proses interaksi

atau informasi secara akurat(keliat 1999)

(Dikutip oleh Ade Herman Surya Direja. Cetakan I : 2011).

Waham yaitu keyakinan tentang suatu pikiran yang kokoh/kuat,

tidak sesuai dengan kenyataan, tidak cocok dengan intelegensi dan

latar belakang budaya,selalu dikemukakan secara berulang-ulang dan

berlebihan, biarpun telah dibuktikan kemustahilannya/kesalahannya

atau tidak benar secara umum(Lilik Marifatul Azizah, Cetakan pertama

: 2011).

Waham adalah suatu keadaan di mana seseorang individu

mengalami sesuatu kekacauan dalam pengoperasian dan aktivitas-

aktivitas kognitif(Townsend, 1998).


Waham adalah keyakinan yang salah secara kokoh dipertahankan

walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan

realita normal(Stuart dan Sundeen, 1998).

Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan

penilaian realitas yang salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan

tingkat intelektual dan latar belakang budaya, ketidakmampuan

merespon stimulus internal dan eksternal melalui proses

interaksi/informasi secara akurat(Yosep, 2009).

(Dikutip oleh : Mukhripah Damaiyanti, Iskandar, cetakan : 2012).

Waham adalah suatu keyakinan seseorang yang berdasarkan

penilaian realitas yang salah, keyakinan yang tidak konsisten dengan

tinkat intlektual dan latar belakang buadaya, ketidakmampuan

merespons stimulus internal dan eksternal melalui proses

interaksi/informasi secara akurat(Iyus Yosep, Cetakan V : 2013).

Waham juga dapt muncul dari hasil pengembangan pikiran

rahasia yang menggunakan fantasi sebagai cara untuk meningkatkan

harga diri mereka yang terluka (Kalpan & Sadock)

Dapat menyimpulkan bahwa waham sebagai salah satu

perubahan proses khususnya isi pikir yang ditandai dengan keyakinan

terhadap ide-ide, pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan dan sulit

diubah dengan logika atau bukti bukti yang ada.


b. Rentang Respon Neurobiologis

Adapun rentang respon manusia terhadap stress yang

menguraikan tentang rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif

menurut (Stuart) dapat dijelaskan sebagai berikut :

Rentang respon neurobiologis

Respon Adaptif Respon maladaptif

Pikiran logis Distorsi pikiran Gangguan proses

pikir/delusi/waham

Persepsi akurat Ilusi Halusinasi

Emosi konsisten Reaksi emosi Sulit berespon emosi

dengan pengalaman berlebihan atau kurang

Perilaku sesuai Perilaku aneh atau Perilaku disorganisasi

tidak biasa

Berhubungan sosial Menarik diri Isolasi sosial

Bagan 1. Rentang Respon neurobiologis

Dari rentang respon neurobiologis di atas dapat dijelaskan bila

individu merespon secara adaptif maka individu akan berpikir secara

logis. Apabila individu berada pada keadaan diantara adaptif dan

maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi

pikir terganggu. Bila individu tidak mampu berpikir secara logis dan

pikiran individu mulai menyimpang maka ia akan berespon secara

maladaptif dan dia akan mengalami gangguan proses pikir : waham


c. Psikopatologi waham

1) Etiologi

Menurut Maramis (2009) disebutkan hal-hal yang

menyebabkan gangguan isi pikir: waham adalah ketidak mampuan

untuk mempercayai orang lain, panik, menekan rasa takut, stress

yang berat yang mengancam ego yang lemah, kemungkinan factor

herediter.

Secara khusus faktor penyebab timbulnya waham diuraikan

dalam beberapa teori yaitu:

a) Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi dari perubahan isi pikir : Waham kebesaran

dapat dibagi menjadi 2 teori yang diuraikan sebagai berikut :

(1) Teori Biologis

(a) Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam

perkembangan suatu kelainan ini adalah mereka yang

memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama

(orang tua, saudara kandung, sanak saudara lain).

(b) Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan

bahwa kelainan skizofrenia mungkin pada kenyataannya

merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada

bagian hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan


suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di dalam otak dari

orang-orang yang menderita skizofrenia.

(c) Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari

dopamin neurotransmiter yang dipertukarkan

menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang

berlebihan dari pemecahan asosiasi-asosiasi yang

umumnya diobservasi pada psikosis.

(2) Teori Psikososial

(a) Teori sistem keluarga

Dikemukakan oleh Bawen dalam Lowsend (1998)

menggambarkan perkembangan skizofrenia sebagai suatu

perkembangan disfungsi keluarga. Konflik diantara suami

istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak

akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada

ansietas dan suatu kondsi yang lebih stabil

mengakibatkan timbulnya suatu hubungan yang saling

mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan

anak-anak. Anak harus meninggalkan ketergantungan diri

kepada orang tua dan anak dan masuk ke dalam masa

dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu

memenuhi tugas perkembangan dewasanya.

(b) Teori interpersonal

Menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan

menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan


kecemasan. Anak menerima pesan-pesan yang

membingungkan dan penuh konflik serta orang tua tidak

mampu membentuk rasa percaya terhadap orang lain.

(c) Teori psikodinamik

Perkembangan emosi terhambat karena kurangnya

rangsangan atau perhatian ibu, dengan ini seorang bayi

mengalami penyimbangan rasa aman dan gagal untuk

membangun rasa percayanya menegaskan bahwa

psikosis adalah hasil dari suatu ego yang lemah.

Perkembangan yang dihambat dalam suatu hubungan

saling mempengaruhi antara orang tua dan anak. Karena

ego menjadi lebih lemah penggunaan mekanisme

pertahanan ego pada waktu kecemasan yang ekstrim

menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali

merupakan penampilan dan segmen diri dalam

kepribadian.

b) Faktor Presipitasi

Menurut Stuart (2013) faktor presipitasi dari perubahan isi

pikir: waham kebesaran yaitu:

(1) Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis

yang maladaptif termasuk gangguan dalam putaran umpan

balik otak yang mengatur perubahan isi informasi dan

abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang


mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif

menanggapi rangsangan.

(2) Stres lingkungan

Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap

stress yang berinterasksi dengan sterssor lingkungan untuk

menentukan terjadinya gangguan prilaku.

(3) Pemicu gejala

Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis

yang maladaptif berhubungan dengan kesehatan lingkungan,

sikap dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur,

infeksi, keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang

penuh kritik, masalah perumahan, kelainan terhadap

penampilan, stres gangguan dalam berhubungan

interpersonal, kesepain, tekanan, pekerjaan, kemiskinan,

keputusasaan dan sebagainya.

Faktor yang mempengaruhi terjadinya waham adalah:

1. Gagal melalui tahapan perkembangan dengan sehat


2. Disingkirkan oleh orang lain dan merasa kesepian
3. Hubungan yang tidak harmonis dengan orang tua
4. Perpisahan dengan orang yang dicintainya
5. Kegagalan yang sering dialami
6. Keturunan, paling sering pada kembar satu telur

2) Jenis-jenis Waham

Adapun jenis-jenis waham menurut Keliat(2013) waham terbagi atas

beberapa jenis, yaitu :

a) Waham Agama: keyakinan klien terhadap suatu agama

secara berlebihan diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai


kenyataan.

b) Waham Kebesaran: klien yakin secara berlebihan bahwa ia

memiliki kebesaran atau kekuatan khusus, diucapkan berulang kali

tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

c) Waham somatik : klien meyakini bahwa tubuh atau bagian

tubuhnya terganggu dan terserang penyakit, diucapkan berulang

kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

d) Waham curiga : kecurigaan yang berlebihan dan tidak

rasional dimana klien yakin bahwa ada seseorang atau kelompok

orang yang berusaha merugikan atau mencederai dirinya,

diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai dengan kenyataan.

e) Waham nihilistik: klien yakin bahwa dirinya sudah tidak ada

di dunia atau meninggal, diucapkan berulang kali tapi tidak sesuai

kenyataan.

f) Waham bizar

1. Sisip pikir : klien yakin ada ide pikiran orang lain yang disisipkan

didalam pikiran yang disampaikan secara berulang dan tidak

sesuai dengan kenyataan.

2. Siar pikir : klien yakin bahwa orang lain mengetahui apa yang

dia pikirkan walaupun dia tidak menyatakan kepada orang

tersebut yang dinyatakan secara berulang - ulang dan tidak

sesuai dengan kenyataan.

3. Kontrol pikir : klien yakin pikirannya dikontrol oleh kekuatan dari

luar.

3) Fase Waham

Menurut Yosep(2013) proses terjadinya waham terdiri dari beberapa

fase yaitu :
a) Fase lack of human need

Waham diawali dengan terbatasnya kebutuhan-kebutuhan

klien baik secara fisik maupun psikis. Secara fisik klien dengan

waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status social dan

ekonomi sangat terbatas. Biasanya klien sangat miskin dan

menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya

mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah. Ada juga

klien yang secara sosial dan ekonomi terpenuhi tetapi kesenjangan

antara reality dengan self ideal sangat tinggi. Misalnya ia seorang

sarjana tetapi menginginkan dipandang sebagai seorang yang

dianggap sangat cerdas, sangat berpengalaman dan diperhitungkan

dalam kelompoknya. Waham terjadi karena sangat pentingnya

pengakuan bahwa ia eksis di dunia ini. Dapat dipengaruhi juga oleh

rendahnya penghargaan saat tumbuh kembang (life span history).

b) Fase lack of self esteem

Tidak adanya pengakuan dari lingkungan dan tingginya

kesenjangan antara self ideal dengan self reality (kenyataan dengan

harapan) serta dorongan kebutuhan yang tidak terpenuhi

sedangkan standar lingkungan sudah melampaui kemampuannya.

Misalnya, saat lingkungan sudah banyak yang kaya, menggunakan

teknologi komunikasi yang canggih, berpendidikan tinggi serta

memiliki kekuasaan yang luas, seseorang tetap memasang self

ideal yang melebihi linkunga tersebut. Padahal self reality jauh. Dari

aspek pendidikan klien, materi, pengalaman, pengaruh, support

system semuanya sangat rendah.

c) Fase control internal external


Klien mencoba berfikir rasional bahwa apa yang ia yakini

atau apa-apa yang ia katakana adalah kebohongan, menutupi

kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi menghadapi

kenyataan bagi klien adalah sesuatu yang sangat berat, karena

kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk dianggap penting dan

diterima lingkungan menjadi prioritas dalam hidupnya, karena

kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil secara optimal.

Lingkungan sekitar klien mencoba memberikan koreksi bahwa

sesuatu yang dikatakan klien itu tidak benar, tetapi hal ini tidak

dilakukan secara adekuat karena besarnya toleransi dan keinginan

menjaga perasaan. Lingkungan hanya menjadi pendengar pasif

tetapi tidak mau konfrontatif berkepanjangan dengan alasan

pengakuan klien tidak merugikan orang lain.

d) Fase environmental support

Adanya beberapa orang yang mempercayai klien dalam

lingkungannya menyebabkan klien merasa didukung, lama

kelamaan klien menganggap sesuatu yang dikatakan tersebut

sebagai suatu kebenaran karena seringnya diulang-ulang. Dari

sinilah mulai terjadinya kerusakan control diri dan tidak

berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan tidak ada

lagi perasaan berdosa saat berbohong.

e) Fase comforting

Klien merasa nyaman dengan keyakinan dan kebohongannya

serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu akan

mempercayai dan mendukungnya. Keyakinan sering disertai


halusinasi pada saat klien menyendiri dan menghindari interaksi

social (isolasi sosial).

f) Fase improving

Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-upaya koreksi,

setiap waktu keyakinan yang salah pada klien akan meningkat.

Tema waham yang muncul sering berkaitan dengan traumatik masa

lalu atau kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi (rantai yang

hilang). Waham bersifat menetap dan sulit untuk dikoreksi. Isi

waham dapat menimbulkan ancaman diri dan orang lain. Penting

sekali untuk mengguncang keyakinan klien dengan cara konfrontatif

serta memperkaya keyakinan religiusnya bahwa apa-apa yang

dilakukakan menimbulkan dosa besar serta ada konsekuensi sosial.

4) Tanda dan Gejala

Manifestasi klinis adalah tanda dan gejala yang dapat dikaji pada

klien dengan prilaku waham. Tanda dan gejala pada klien dengan

perubahan isi pikir: waham kebesaran antara lain menyatakan dirinya

orang besar, mempunyai kekuatan pendidikan atau kekayaan yang

luar biasa, menyatakan perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau

sekelompok orang, mengatakan perasaan2. mengenai penyakit yang

ada didalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin

hubungan interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang

berlebihan, kecemasan meningkat, sulit tidur, tampak apatis, suara

monoton, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri,

rasa sulit percaya pada orang lain (Maramis, 2009)

Tanda dan gejala waham dapat juga dikelompokkan sebagai

berikut.
1. Kognitif
a. Tidak mampu membedakan nyata dan tidak nyata
b. Individu Sangat percaya dengan keyakinanya
c. Sulit berpikir realita
d. Tidak mampu mengambil keputusan
2. Afektif
a. Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
b. Afek tumpul
3. Perilaku dan hubungan sosial
a. Hipersensitif
b. Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
c. Depresip
d. Ragu-ragu
e. Mengancam secara verbal
f. Aktifitas tidak tepat
g. Stereotiful
h. Imfulsit
i. Curiga
4. Fisik
a. Kebersihan kurang
b. Muka pucat
c. Sering menguap
d. Berat badan menurun
e. Nafsu makan berkurang dan
f. Sulit tidur

g) Penatalaksanaan Medis

Menurut Maramis (2009) pengobatan harus secepat mungkin.

Disini peran keluarga sangat penting karena setelah mendapat

perawatan RSJ dan klien dinyatakan boleh pulang sehingga keluarga

mempunyai peranan yang sangat penting didalam hal merawat

klien, menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif dan sebagai

pengawas minum obat.

1) Farmakoterapi

a) Neuroleptika dengan dosis efektif rendah bermanfaat pada

penderita skizofrenia yang menahun, hasilnya lebih baik jika

mulai diberi dalam dua tahun penyakit.

b) Neuroleptika dengan dosis efektif tinggi lebih bermanfaat

pada penderita dengan psikomotorik yang meningkat.


c) Litium karbonat; adalah jenis litium yang paling sering

digunakan untuk mengatasi gangguan bipolar, menyusul

kemudian litium sitial. Litium masih efektif dalam

menstabilkan mood pasien dengan gangguan bipolar. Gejala

hilang dalam jangka waktu 1-3 minggu setelah minum obat

litium juga digunakan untuk mencegah atau megurangi

intensitas serangan ulang pasien bipolar dengan riwayat

mania.

d) Haloperidol; merupakan obat antipsikotik (mayor tanquiliner)

pertama dari turunan butirofenon. Mekanisme kerjanya yang

pasti tidak diketahui. Haloperidol efektif untuk kelainan

tingkah laku berat pada anak-anak yang sering

membangkang dan eksplosif. Haloperidol juag efektif untuk

pengobatan jangka pendek, pada anak yang hiperaktif juga

melibatkan aktivitas motorik berlebihan disertai kelainan

tingkah laku seperti : impulsive, sulit memusatkan perhatian,

agresif, suasana hati yang labil dan tidak tahan prustasi.

e) Karbamazepine; karbamazepine terbukti efektif dalam

pengobatan kejang psikomotor, serta neuralgia trigeminal.

Karbamazepine secara kimia tidak berhubungan dengan obat

antikonvulsan lain maupun obat-obat lain yang digunakan

untuk mengobati nyeri pada neuralgia trigeminal.

2) Pasien hiperaktif atau agitasi anti psikotik low potensial

Penatalaksaan ini berarti mengurangi dan menghentikan agitasi untuk

pengamanan pasien. Hal ini berkaitan dengan pengunaan oabt anti psikotik

untuk pasien waham.


a) Antipsikosis atipikal (olanzapin, risperidone). Pilihan awal

Risperidone tablet 1mg, 2mg, 3mg atau Clozapine tablet 25mg,

100mg.
b) Tipikal (chlorpromizine, haloperidol), chlorpromazine 25-100mg.

efektif utnuk menghilangkan gejala positif.

3) Penarikna diri high potensial

Selama seseorang mengalami waham. Dia cenderung manarik diri dari

pergaulan dengan orang lain dan cenderung asyik dengan dunianya sendiri

(khayalan dan pikiran sendiri). Oleh karena itu, salah satu penatalaksanaan

pasien waham adalah penarikan diri high potensial. Hal ini berati

penatalaksanaannya ditetapkan pada gejala dari waham itu sendiri, yaitu

gejala penarikan diri yang berkaitan dengan kecanduan morfin biasanya

dialami sesaat sebelum waktu yang dijadwalkan berikutnya, penarikan diri

dari lingkungan sosial.

4) Terapi Kejang Listrik / Elektro Convulsi Therapy (ECT)

Cara kerja elektro convulsi therapy belum diketahui

dengan jelas, dapat di katakan bahwa terapi konvulsi dapat

memperpendek serangan skhizofrenia dan mempermudah

kontak dengan klien.

5) Psikoterapi dan Rehabilitasi

Psikoterapi suportif individual atau kelompok sangat

membantu karena berhubungan dengan praktis dengan maksud

mempersiapkan klien kembali kemasyarakat. Selain itu terapi

kerja sangat baik untuk mendorong klien bergaul dengan orang

lain, perawat dan dokter. Maksudnya supaya klien tidak

mengasingkan diri karena dapat membentuk kebiasaan yang


kurang baik, dianjurkan untuk mengadakan permainan atau

latihan bersama, seperti terapi modalitas yang terdiri dari :

a) Terapi aktivitas

(1) Terapi musik

Fokus pada : mendengar, memainkan alat musik,

bernyanyi yaitu menikmati dengan relaksasi jenis musik

yang disukai klien.

(2) Terapi seni

Fokus : untuk mengekspresikan perasaan melalui berbagai

pekerjaan seni.

(3) Terapi menari

Fokus pada : ekspresikan perasaan melalui gerakan tubuh.

(4) Terapi relaksasi

Belajar dan praktek relaksasi dalam kelompok.

Rasional :

Meningkatkan partisipasi dan kesenangan klien dalam

kehidupan.

b) Terapi sosial

Klien belajar bersosialisasi dengan klien lain.

c) Terapi kelompok

Group terapi (terapi kelompok)


(1) Terapeutik group (kelompok terapeutik)

(2) Adjuntive group activity therapy (terapi aktivitas

kelompok

d) Terapi lingkungan

Suasana rumah sakit dibuat seperti suasana didalam

keluarga (home like atmosphere).

C. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

Proses keperawatan merupakan salah satu alat bagi perawat untuk

memecahkan masalah yang terjadi pada klien. Proses keperawatan adalah

suatu modalitas pemecahan masalah yang didasari oleh metode ilmiah,

yang memerlukan pemeriksaan secara sistematis serta identifikasi

masalah dengan pengembangan strategi untuk memberikan hasil yang

diinginkan. Proses keperawatan adalah proses terapiutik yang melibatkan

hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga, dan

masyarakat untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Keliat, 2005,

hal 1).

Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan

keperawatan sesuai dengan kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu

pelayanan keperawatan bisa optimal. Dengan menggunakan proses

keperawatan perawat dapat terhindar dari tindakan keperawatan yang

bersifat rutin, tidak unik bagi klien.

Asuhan keperawatan jiwa berpedoman pada prilaku manusia

sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapiutik sebagai

kiatnya. Dengan ini diharapkan klien dapat meningkatkan dan

mempertahankan prilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang


terintegrasi.

A. Pengkajian

Menurut Depkes RI (1994), pengkajian adalah langkah awal dan

dasar proses keperawatan secara menyeluruh.

Selama proses pengkajian perawat harus mendengarkan,

memperhatikan, mendokumentasikan semua informasi, baik melalui

wawancara maupun observasi yang diberikan oleh pasien tentang

wahamnya. Berikut ini contoh pernyataan yang dapat perawata

gunakan.

1. Apakah pasien memiliki pikiran atau isi pikiran yang berulang-ulang

diungkapkan dan menetap?


2. Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah

pasien Cuma secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?


3. Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda-benda di sekitarnya aneh

dan tidak nyata?


4. Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada di luar tubuh?
5. Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
6. Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh

orang lain atau kukuatan dari luar?


7. Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau

kekuatan lainnya atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya ?

Pada tahap ini pasien yang dibutuhkan dikumpulkan untuk

menentukan masalah keperawatan waham Kebesaran pengkajian

terdiri dari 3 kegiatan yaitu: pengumpulan data, penglompokan data

atau analisa data dan perumusan diagnosa keperawatan. Data dapat

dikumpulkan dari berbagai sumber data yaitu sumber data primer

(klien) dan sumber data sekunder seperti keluarga, teman terdekat

klien, tim kesehatan, catatandalam berkas dokumen medis klien dan


hasil pemeriksaan. Untuk mengumpulkan data dilakukan dengan

berbagai cara, yaitu : dengan observasi, wawancaradan pemeriksaan

fisik.

Beberapa factor yang perlu dikaji:

1) Faktor predisposisi.

a) Genetik : diturunkan

b) Neurobiologis : adanya gangguan pada konteks pre frontal dan

konteks limbik

c) Neurotransmiter : abnormalitas pada dopamin, serotonin, dan

glutamat.

d) Virus : paparan virus influinsa pada trimester III.

e) Psikologi : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli.

2) Faktor presipitasi

a) Proses pengolahan informasi yang berlebihan.

b) Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.

c) Adanya gejala pemicu.

3) Identitas klien dan penanggung

Pada identitas mencakup nama, umur, jenis kelamin, agama,

pekerjaan, pendidikan, status perkawinan dan hubungan klien

dengan penanggung.

4) Alasan dirawat

Alasan dirawat meliputi : keluhan utama dan riwayat

penyakit, keluhan utama berisi tentang sebab klien atau keluarga

datang kerumah sakit dan keluhan klien saat pengkajian. Pada

riwayat penyakit terdapat faktor predisposisi dan presipitasi. Pada

faktor predisposisi dikaji tentang faktor-faktor pendukung klien


gangguan isi pikir : waham Faktor presipitasi dikaji tentang faktor

pencetus klien mengalami waham.

5) Riwayat penyakit sekarang

Tanyakan pada klien atau keluarga, apakah klien pernah

mengalami gangguan jiwa pada masa lalu, pernah melakukan,

mengalami, penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan,

kekerasan dalam keluarga dan tindakan kriminal.

a) Psikologis

Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat

mempengaruhi respon psikologis dari klien.

b) Biologis

Gangguan perkembangan dan fungsi otak, pertumbuhan

dan perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-

anak.

c) Sosial budaya

Seperti kemiskinan, konflik social budaya (peperangan,

kerusuhan, kerawanan), kehidupan terisolasi serta stress yang

menumpuk.

6) Aspek fisik atau biologis

Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital : Tekanan darah, nadi, suhu,

pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan.

7) Aspek psikososial
a) Genogram
b) Konsep diri
1) Citra tubuh
2) Identitas diri
3) Peran
4) Ideal diri
5) Harga diri
6) Hubungan social dengan orang lain.
7) Spiritual

8) Status mental

Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan

klien, aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut,

khawatir), afek klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien,

proses pikir, isi pikir, tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentrasi

dan berhitung, kemampuan penilaian dan daya tilik diri.

9) Kebutuhan persiapan pulang.

a) Kemampuan makan klien

b) Klien mampu BAB dan BAK

c) Mandi atau kebersihan diri klien

d) Istirahat dan tidur klien

e) Pantaupenggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan

setelah minum obat

10) Aspek medik

Seperti data yang didapat dari pengkajian klien meliputi :

a) Data subyektif
Data subyektif adalah data yang disampaikan secara lisan oleh pasisen

dan keluarga. Data ini diperoleh melalui wawancara perawat kepada klien

dan keluarga.

Mengatakan tidak mampu mengambil/membuat

keputusan, klien mengatakan mempunyai kekuatan super dan


maha kuasa, meyantakan merasa takut dan perasaan tidak

nyaman, merasa cemas, sulit untuk tidur, isi pembicaraan tidak

sesuai dengan kenyataan. Mengatakan dirinya orang besar,

mempunyai kekuatan yang luar biasa, pendidikan yang tinggi,

kekayaan yang melimpah, dikenal dan disukai banyak orang,

Mengatakan merasa tidak takut, perasaan tidak nyaman,

merasa cemas, mengatakan sulit untuk tidur, mengatakan

perasaan mengenal penyakit yang ada dalam tubuhnya dikirim

oleh orang lain, mengatakan perasaan tidak malu untuk bergaul

bersama orang lain, mengatakan sering menceritakan

masalahnya pada orang lain.

b) Data obyektif
Data obyektif yaitu data yang ditemukan secara nyata. Data ini

didapatkan melalui observasi atau pemeriksaan langsung oleh perawat.


Klien kadang - kadang tampak panik, tidak mampu untuk

berkonsentrasi, waham atau ide-ide yang salah, ekspresi muka kadang

sedih, kadang - kadang gembira, tidak mampu membedakan khayalan dan

kenyataan, sering tidak memperlihatkan kebersihan diri, gelisah, tidak bisa

diam (melangkah bolak - balik) mendominasi pembicaraan, mudah

tersinggung, menolak makan dan minum obat, jarang mengikuti atau mau

mengikuti kegiatan- kegiatan sosial, penampilan kurang bersih, sering

terbangun pada dini hari, tatapan mata tajam, selalu mempertahankan

pendapat dan kebenaran dirinya.Usaha bunuh diri atau membunuh orang

lain, menolak makan atau minum obat, tidak ada perhatian terhadap
asuhan mandiri, ekspresi muka sedih/gembira, ketakutan, gerakan tidak

terkontrol mudah tersinggung, isi pembicaraan tidak sesuai kenyataan,

tidak bisa membedakan antara yang nyata dengan yang tidak nyata,

menghindar dari orang lain, mendominasi pembicaraan, berbicara kasar,

kegiatan keagamaan secara berlebihan.

c) Rumusan masalah

Dari pengkajian yang dilakukan pada klien dengan

waham, rumusan masalah yang lazim muncul pada klien dengan

gangguan proses pikir yaitu :

(1) Gangguan isi pikir: waham.

(2) Harga diri rendah

(3) Isolasi sosial

(4) Defisit perawatan diri

(5) Risiko perilaku kekerasan

d) Analisa Data

Tabel 1

Masalah
NO Keperawata Data Subyektif Data Obyektif
n

1 Gangguan isi Klien mengatakan Klien kadang kadang


piker: waham dirinya orang besar, tampak panik, tidak
mempunyai kekuatan mampu untuk
yang luar biasa, berkonsentrasi
pendidikan yang tinggi, waham atau ide-ide
kekayaan yang yang salah, ekspresi
melimpah, dikenal dan muka kadang sedih,
disukai banyak orang. kadang - kadang
klien mengatakan gembira, tidak mampu
merasa tidak takut, membedakan khayalan
perasaan tidak nyaman, dan kenyataan,
merasa cemas, klien
mengatakan sulit untuk
tidur
2 Harga diri Mengungkapan ingin Tidak mau makan dan
rendah diakui jati dirinya tidak tidur
Mengungkapkan tidak Perasaan malu
ada lagi yang peduli Tidak nyaman jika jadi
Mengungkapkan tidak pusat perhatian
bisa apa-apa
Mengungkapkan
dirinya tidak berguna
Mengkritik diri sendiri
Pasien mengatakan
malu
Klien malu bertemu
dan berhadapan dengan
orang lain
3 Isolasi sosial Mengungkapkan Ekspresi wajah kosong
enggan berbicara Tidak ada kontak mata
dengan orang lain ketika diajak bicara
Klien tidak mau Suara pelan dan tidak
mengungkapkan jelas
perasaannya Menarik diri dari
hubungan sosial
Klien sering duduk
sendiri
Klien hanya berbicara
bila hanya ditanya,
jawaban singkat
4 Defisit Mengungkapkan tidak Badan bau
perawatan diri pernah mandi Pakaian kotor
Mengungkapkan tidak Rambut dan kulit kotor
pernah menyisir rambut Kuku panjang dan kotor
Mengungkapkan tidak Gigi kotor dan mulut
pernah menggosok gigi bau
Mengungkapkan tidak Penampilan tidak rapi
pernah memotong kuku Tidak bisa
Mengungkapkan tidak menggunakan alat
pernah berhias mandi
Mengungkapkan tidak
bisa menggunakan alat
mandi/kebersihan diri
5. Risiko Klien mengatakan Mata merah, wajah
Perilaku benci atau kesal pada agak merah.
Kekerasan seseorang. Nada suara tinggi dan
Klien suka membentak keras, bicara
dan menyerang orang menguasai: berteriak,
yang mengusiknya jika menjerit, memukul diri
sedang kesal atau sendiri/orang lain.
marah. Ekspresi marah saat
Riwayat perilaku membicarakan orang,
kekerasan atau pandangan tajam.
gangguan jiwa lainnya. Merusak dan melempar
barang barang.

1. Pohon masalah

Pohon masalah adalah tehnik atau diagram untuk mengidentifikasi

masalah dalam situasi tertentu dengan mengedepankan hubungan sebab

- akibat.

effect
Risiko Perilaku Kekerasan

Gangguan Isi Pikir: Waham


Deficit
Core
Perawatan
Problem
Diri : Mandi
Isolasi Sosial

Causa
Harga Diri Rendah

Bagan 2. Pohon masalah gangguan isi pikir : waham

B. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu pernyataan masalah keperawatan klien
mencakup baik respon sehat adaptif atau maladaptif serta stresor yang menunjang.
Rumusan diagnosa adalah problem/masalah (P) berhubungan dengan penyebab
(etiologi), dan keduanya ini saling berhubungan sebab akibat secara ilmiah.
Diagnosis ini bisa juga permasalahan (P), penyebab (E), dan simtom/gejala
sebagai data penunjang. Jika pada diagnosis tersebut sudah diberikan tindakan
keperawatan, tetapi permasalahan (P) belum teratasi, maka perlu dirumuskan
diagnosa baru sampai tindakan keperawatan tersebut dapat diberikan hingga
masalah tuntas. (Farida, 2010, hal.51)
Diagnosa keperawatan yang umum muncul pada klien dengan

gangguan proses pikir yaitu:

a. Gangguan isi pikir: waham.

b. Harga diri rendah

c. Isolasi sosial

d. Defisit perawatan diri

e. Risiko perilaku kekerasan

C. Rencana Keperawatan

Rencana keperawatan mencakup perumusan diagnosis, tujuan serta

rencana tindakan yang telah distandarisasi (Keliat dan Akemat, 2009)

Rencana keperawatan klien Gangguan Proses Pikir : Waham


Dalam bentuk Strategi Pelaksanaan

Adapun tindakan keperawatan yang lazim dilakukan pada klien

dengan waham kebesaran antara lain :

Tabel 2

N Klien Keluarga
o SPIP SPIK
1. Membantu orientasi realita Mendiskusikan masalah yang dirasakan
keluarga dalam merawat pasien
2. Mendiskusikan kebutuhan
yang tidak terpenuhi Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala
waham, dan jenis yang dialami pasien
3. Membantu pasien memenuhi besera proses terjadinya.
kebutuhannya
Menjelaskan cara-cara merawat pasien
Menganjurkan pasien waham
memasukkan dalam jadwal
4. kegiatan harian.
SP2P SP2K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Melatih keluarga mempraktikkan cara
harian pasien merawat pasien dengan waham

2. Berdiskusi tentang Melatih keluarga mempraktikkan cara


kemampuan yang dimiliki merawat langsung kepada pasien waham

3. Melatih kemampuan yang


dimiliki
SP3P SP3K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Membantu keluarga membuat jadwal
harian pasien. aktivitas di rumah termasuk minum obat
(discharge planning)
2. Memberikan pendidikan
kesehatan tentang penggunaan Menjelaskan follow up pasien setelah
obat secara teratur pulang.
3. Menganjurkan pasien
memasukkan dalam jadwal
kegiatan.

D. Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan

rencana tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang

telah direncanakan perawat perlu menvalidasi dengan singkat apakah

rencana tindakan masih dibutuhkan klien sesuai dengan kondisinya saat

ini. Pelaksanaan terdiri dari lima aspek, yaitu diagnosa, pelaksanaan,

evaluasi, modifikasi dan paraf.

E. Evaluasi

Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai respon dan efek

dari tindakan keperawatan klien. Evaluasi dilaksanakan secara terus

menerus, membandingkan respon klien dengan kriteria hasil yang telah

ditemukan. Evaluasi dapat ditentukan dengan menggunakan pendekatan

SOAP (S : respon subyektif klien, O : respon obyektif klien yang dapat


diobservasi oleh perawat, A : analisa ulang atas data subyektif dan

obyektif untuk menyimpulkan apakah masalah tetap atau muncul masalah

baru. P : bila ada masalah baru rencanakan kembali untuk intervensi

selanjutnya).

Hasil yang diharapkan pada klien dengan gangguan isi pikir: waham

adalah :

1) Klien dapat membina hubungan saling percaya


2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
3) Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi.
4) Klien dapat berhubungan dengan realistis
5) Klien mendapat dukungan keluarga.
6) Klien dapat menggunakan obat dengan benar.

DAFTAR PUSTAKA

Damaiyanti, Mukhripah.2012.Asuhan Keperawatan Jiwa.Bandung:PT.Refika Aditama.


Keliat, Budi Anna.2009.Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC.
Azizah, L.M.2011.Keperawatan Jiwa.Yogyakarta:Graha Ilmu.
Stuart,Gail W.2012.Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC.
Yosep,Iyus.2010.Keperawatan Jiwa.Bandung:PT:Refika Aditama.
Yusuf, AH.2015.Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta:Salemba Medika.

DAFTAR PUSTAKA
Damaiyanti, Mukhripah.2012.Asuhan Keperawatan Jiwa.Bandung:PT.Refika Aditama.

Keliat, Budi Anna.2009.Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC.

Azizah, L.M.2011.Keperawatan Jiwa.Yogyakarta:Graha Ilmu.

Stuart,Gail W.2012.Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC.

Yosep,Iyus.2010.Keperawatan Jiwa.Bandung:PT:Refika Aditama.

Yusuf, AH.2015.Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta:Salemba Medika.