Anda di halaman 1dari 22

TEORI & PENDEKATAN KONSELING POSMODERN

SOLUTION FOCUSED BREIEF THETAPY (SFBT)


Makalah
disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Teori Pendekatan Konseling
Dosen Pengampu: Prof. Dr. DYP. Sugiharto, M.Pd, Kons; Mulawarman, Ph.D

Disusun Oleh:
Ajeng Intan Nur Rahmawati 0105516005
Desti Ekawati 0105516010
Aji Taufiq Pambudi 0105516026

BIMBINGAN KONSELING
PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada era globalisasi seperti saat ini, banyak terjadi perkembangan seperti
teknologi, komunikasi dan lain-lain, salah satu perkembangan yang mengikuti
jaman adalah perkembangan masalah, semakin berkembangnya dunia semakin
berevolusi dan berkembang pula masalah-masalah yang dihadapi. Dalam
pemikiran postmoderen, bahasa dan penggunaannya menciptakan makna dalam
cerita-cerita yang disampaikan oleh individu. Dengan demikian akan terdapat
banyak sekali makna-makna cerita sebanyak orang-orang menceritakan kisah
tersebut dan masing-masing cerita tersebut adalah benar bagi orang yang
menceritakannya. Pemikiran postmodern tersebut memberikan dampak terhadap
perkembangan teori konseling dan psikoterapi serta mempengaruhi praktik
konseling dan psikoterapi kontemporer Sugiharto,dkk (2017:43).
Bukan hanya masalah yang semakin berkembang, akan tetapi manusia
didunia juga dituntut untuk hidup secara cepat dan tepat, akan tetapi kecepatan
dan ketetapan berujung dengan menyukai instan, apalagi ditambah dengan adanya
masalah yang bertubi-tubi, dampak pendeknya adalah manusia akan merasa jenuh
akan dirinya yang sekarang karena masalah dan perkembangan dunia, serta
dampak panjangnya adalah manusia itu akan merasa dirinya tidak berguna atau
akan terlindas oleh jaman.
Oleh karena itu diperlukan pendekatan-pendekatan terapi. Banyak sekali
pendekatan-pendekatan yang bisa digunakan. Salah satunya adalah pendekatan
terapi singkat berfokus solusi, yang dikembangkan pertama kali di Amerika pada
tahun 1980-an. Sejak didirikan pada tahun 1980an, terapi singkat fokus solusi
(SFBT) telah dilakukan Secara bertahap menjadi pilihan pengobatan yang umum
dan dapat diterima bagi banyak orang Profesional kesehatan mental (MacDonald,
2007) dalam Dalam (Kelly, 2008: 3). Dengan penekanannya pada klien
Kekuatan dan pengobatan jangka pendek, SFBT tampaknya cocok sekali Konteks
kesehatan mental sekolah, mengingat beragam masalah yang muncul di
lingkungan sekolah dan jumlah besar sebagian besar pekerja sosial sekolah.
Diharapkan dengan adanya Terapi Singkat Berfokus Solusi ini adalah
tentang terapi yang singkat dan berfokus pada solusi, bukan pada masalah. Bisa
menangani masalah-masalah secara singkatyang mungkin cocok diterapkan pada
era globalisasi saat ini. Penekanan khusus akan diberikan pada cara teknik SFBT
dapat diterapkan langsung ke realitas konselor sekolah.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini, yaitu :
1. Bagaimana sejarah terapi singkat berfokus solusi ?
2. Bagaimana konsep dasar terapi singkat berfokus solusi ?
3. Bagaimana hakikat manusia pada terapi singkat berfokus solusi ?
4. Bagaiman Asumsi Pribadi Bermasalah/Psikopatologi dan Pribadi Sehat?
5. Bagaimana hubungan konselor dengan konseli pada terapi singkat
berfokus solusi ?
6. Apa tujuan dari terapi singkat berfokus solusi ?
7. Apa saja teknik konseling yang ada pada terapi singkat berfokus solusi ?
8. Bagaimana proses konseling dalam terapi singkat berfokus solusi ?
9. Apa saja kelebihan dan kelemahan dari terapi singkat berfokus solusi ?
1.3 TUJUAN MASALAH
Adapun tujuan dari makalah ini, yaitu :
1. Untuk mengetahui sejarah terapi singkat berfokus solusi
2. Untuk mengetahui konsep dasar terapi singkat berfokus solusi
3. Untuk mengetahui hakikat konseling pada terapi singkat berfokus solusi
4. Asumsi Pribadi Bermasalah/Psikopatologi dan Pribadi Sehat.
5. Untuk mengetahui hubungan konselor dengan konseli pada terapi
singkat berfokus solusi
6. Untuk mengetahui tujuan dari terapi singkat berfokus solusi
7. Untuk mengetahui teknik konseling yang ada pada terapi singkat
berfokus solusi
8. Untuk mengetahui proses konseling dalam terapi singkat berfokus solusi
9. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari terapi singkat berfokus
solusi
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 SEJARAH PERKEMBANGAN

Salah satu pendekatan konseling dan psikoterapi yang dipengaruhi oleh


pemikiran postmodern adalah pendekatan Solution Focused Brief
Therapy (SFBT). Dalam beberapa literatur pendekatan SFBT juga disebut sebagai
Terapi Konstruktivis (Constructivist Therapy), ada pula yang menyebutnya
dengan Terapi Berfokus Solusi (Solution Focused Therapy), selain itu juga disebut
Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling) dari
semua sebutan untuk SFBT sejatinya semuanya merupakan pendekatan yang
didasari oleh filosofi postmodern sebagai landasan konseptual pendekatan-
pendekatan tersebut.
SFBT tidak memiliki penemu tunggal sebagaimana teori-teori konseling
tradisional. Banyak ahli yang saling memberikan kontribusi pada teori konseling
ini. Namun demikian, terdapat beberapa ahli yang dianggap memberikan
kontribusi paling besar pada SFBT sehingga terbentuk menjadi teori yang
komprehensif seperti saat ini, di antaranya: Steve de Shazer, Bill OHanlon,
Michele Weiner-Davis, dan Insoo Kim Berg. Dari beberapa literatur pendekatan
SFBT ini mempunyai istilah atau sebutan yang beragam, seperti :
1) Terapi Konstruktivis (Constructivist Therapy)
2) Terapi Berfokus Solusi (Solution Focused Therapy)

3) Konseling Singkat Berfokus Solusi (Solution Focused Brief Counseling)


Akan tetapi dari banyak istilah atau penyebutan nama tersebut, sejatinya
atau intinya semuanya pendekatan yang didasari oleh filosofi postmodern sebagai
landasan konseptual pendekatan-pendekatan tersebut.
Terapi singkat berfokus solusi (SFBT), dipelopori oleh Insoo Kim Berg dan
Steve DeShazer Sugiharto,dkk (2017:44). Dalam perkembangan SFBT, ada
beberapa tokoh yang memberikan kontribusi pada tahun 1970an, 1980an, dan
1990an, tokoh-tokohnya seperti : Steve de Shazer (1985, 1988), Insoo Kim Berg
(Dejong & Berg, 2002), OHanlon Bill, dan Michele Weiner-Davis (OHanlon &
Weiner Davis, 1989; Weiner-Davis , 1992). Akan tetapi SFBT pertama kali
dipelopori oleh Insoo Kim Berg dan Steve De Shazer. Keduanya adalah direktur
eksekutif dan peneliti senior di lembaga nirlaba yang disebut Brief Family
Therapy Center (BFTC) di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat pada akhir
tahun 1982.
Insoo Kim Berg adalah seorang warga Amerika yang bertanah air Korea
serta juru bicara terapi yang berorientasi solusi yang sangat berpengaruh. Beliau
memulai karya- karyanya pada pertengahan tahun 1980an hingga kini ia telah
menerbitkan buku-buku dan rekaman video tentang pendekatan berfokus solusi.
Setelah melakukan pelatihan di daerah barat, hasil latihannya adalah sebuah
pendekatan psikoterapi yang merupakan perpaduan kreatif antara
menumbuhkembangkan kesadaran dan proses membuat pilihan perubahan.
Sekitar tahun 1980 dan 1990-an, Steve de Shazer, Insoo Kim Berg, Bill
OHanlon, dan Michele Weiner-Davis memberikan kontribusi penting pada
perkembangan SFBT. Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg mengembangkan
terapi yang dikenal dengan solution-focused brief therapy. De Shazer adalah
orang pertama yang menggunakan teknik miracle question. De Shazer, Berg, dan
rekan-rekannya juga menggunakan pohon keputusan (decision tree) untuk
menentukan intervensi apa yang akan digunakan untuk seorang konseli. OHanlon
dan Weiner-Davis yang dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran de Shazer dan
Berg juga memberikan kontribusi dengan menemukan teori konseling yang
dikenal dengan solution-oriented brief therapy.
Pendekatan treatment mereka membantu individu untuk berfokus pada
tujuan yang akan datang dan menentukan langkah-langkah yang perlu diambil
untuk mencapai tujuan tersebut. OHanlon dan Weiner-Davis tidak berfokus pada
bagaimana masalah terjadi tapi mereka hanya berfokus pada bagaimana masalah
tersebut dapat dipecahkan. OHanlon dan Weiner-Davis juga memandang bahwa
perubahan-perubahan kecil akan menyebabkan perubahan yang lebih besar.
Secara filosofis, pendekatan SFBT didasari oleh suatu pandangan bahwa
sejatinya kebenaran dan realitas bukanlah suatu yang bersifat absolut namun
realitas dan kebenaran itu dapat dikonstruksikan. Pada dasarnya semua
pengetahuan bersifat relatif karena ia selalu ditentukan oleh konstruk, budaya,
bahasa atau teori yang kita terapkan pada suatu fenomen tertentu. Dengan
demikian, realitas dan kebenaran yang kita bangun (realitas yang kita
konstruksikan) adalah hasil dari budaya dan bahasa kita. Apa yang dikemukakan
tersebut merupakan beberapa pandangan yang dilontarkan oleh para penganut
konstruktivisme sosial yang mengembangkan paradigmanya berdasarkan filosofis
postmodern. Konstruktivisme sosial merupakan sebuah perspektif terapeutik
dengan pandangan postmodern yang menekankan pada realitas konseli tanpa
memperdebatkan apakah hal tersebut akurat atau rasional.
2.2 KONSEP DASAR SFBT
Salah satu konsep SFBT yang lebih adalah bahwa perubahan selalu terjadi,
dan memerlukan perhatian kita untuk berfokus pada perubahan kecil yang
membuat perbedaan besar dalam kehidupan klien. SFBT adalah sebuah
pendekatan yang mengemukakan bahwa orang memiliki kekuatan; Selain itu,
SFBT mengatakan bahwa kekuatan itu aktif, sekarang, dalam membantu klien
mengelola situasi mereka Kelly (2008:8). SFBT memberi mereka banyak
kesempatan untuk berfokus pada kekuatan klien mereka dan menggabungkan
kekuatan tersebut ke dalam penilaian tertulis dan dokumen lainnya.
Keunikan pengalaman manusia menjelaskan bahwa setiap individu adalah
unik. Konseling perlu dilakukan dengan melihat keunikan setiap kebutuhan
individu bukannya melihat secara keseluruhan. Konseli adalah pakar dalam
kehidupan mereka sendiri dan mempunyai kemampuan menyelesaikan masalah,
hasil dari kemahiran yang dibawa dalam sesi secara sedar atau tidak. Pengalaman
negatif yang berulan-ulang mempunyai kesan yang akan menghalangi individu
daripada mengetahui kekuatan dan kebolehan mereka.
Melahirkan hubungan terapeutik dan hubungan kerjasama antara konseli
dan konselor dimana diantara mereka sama-sama mencipta reality dan setiap
pihak akan saling mempengaruhi antara satu sama lain. Terapi ini memberi fokus
kepada masalah yang ada daripada masalah yang tiada. Setiap masalah akan
memfokuskan kepada apa yang boleh dilakukan lebih daripada apa yang tidak
boleh dilakukan. Perubahan dicapai dengan menghargai apa yang berlaku dalam
konteks kehidupannya.
SFBT sangat cocok untuk konselor sekolah yang berfokus pada solusi dapat
membantu siswa, terutama mereka yang lebih sulit dijangkau, memikirkan cara
untuk berfokus pada apa yang berhasil dan bagaimana mereka dapat mengubah
hidup mereka dengan cara yang positif. SFBT, walaupun awalnya tidak dibuat
untuk aplikasi dalam konteks sekolah, jelas merupakan filosofi praktik portabel
yang mudah disesuaikan, seperti yang akan kita digunakan dalam berbagai
konteks sekolah pada berbagai tingkat intervensi Kelly (2008:12).
Perbedaan Antara Solution Briefed Therapy (SFBT) dan Pengobatan
Konvensional
MODEL PEKERJA SOSIAL SFBT PEKERJA SOSIAL PROBLEM-FOKUS
1. Apa yang bisa menjadi 1. Bagaimana perasaan Anda saat
langkah kecil untuk mencapai tujuan masalah terjadi?
Anda? 2. Kapan masalah terjadi dalam hidup
2. Apa yang telah berjalan baik Anda?
dalam hidupmu? 3. Pikiran apa yang Anda miliki saat
3. Apa yang akan Anda lakukan masalah terjadi?
secara berbeda saat masalahnya tidak
lagi hadir? 4. Bagaimana reaksi orang lain saat
4. Bagaimana Anda tahu itu hal Anda bersikap seperti itu?
yang benar untuk dilakukan?

2.3 HAKIKAT MANUSIA


Konseling berfokus solusi tidak mempunyai pandangan komprehensif
tentang sifat manusia, tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan konseli.
Konseling berfokus solusi menganggap manusia bersifat konstruktivis. Sehingga,
konseling berfokus solusi didasarkan pada asumsi bahwa manusia benar-benar
ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan.
SFBT (Capuzzi, 2016) mempunyai asumsi-asumsi bahwa manusia itu
sehat, mampu atau kompeten, memiliki kapasitas untuk membangun, merancang
ataupun mengkonstruksikan solusi-solusi, sehingga individu tersebut tidak terus
menerus berkutat dalam problem-problem yang sedang ia hadapi. Manusia tidak
perlu terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan
mewujudkan solusi yang ia inginkan. Menekankan bagaimana klien memahami
masalah mereka dan bagaimana mereka bisa merancang solusi yang sesuai dengan
preferensi mereka sendiri (Kelly, 2008). Perkembangan perilaku manusia yang
brasumsi menyediakan kerangka di mana solusi difokuskan pada terapi Corey
(2005) :
1) Ada keuntungan yang signifikan dalam memusatkan perhatian pada solusi
positif dan solusi untuk masa depan. Berfokus pada kekuatan dan solusi-
bicara akan meningkatkan kemungkinan terapi itu singkat
2) Individu yang datang ke terapi memang memiliki kemampuan untuk
bertindak secara efektif. Akan tetapi Kemampuan efektif klien dipengaruhi
oleh kognisi negative.
3) Ada pengecualian untuk setiap masalah.
4) Klien cenderung menghadirkan satu sisi masalah. Terapis fokus solusi
mengundang klien untuk melihat masalah mereka dari sisi yang berbeda
5) Perubahan kecil mendorong perubahan yang lebih besar.
6) Klien ingin berubah, mereka memiliki kapasitas untuk berubah dan mereka
melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi.

7) Karena setiap individu itu unik, demikian juga setiap solusi.


2.4 ASUMSI PRIBADI BERMASALAH
SFBC mempunyai asumsi-asumsi bahwa manusia itu sehat, mampu
(kompeten), memiliki kapasitas untuk membangun, merancang ataupun
mengkonstruksikan solusi-solusi, sehingga individu tersebut tidak terus-menerus
berkutat dalam problem-problema yang sedang ia hadapi. Manusia tidak perlu
terpaku pada masalah, namun ia lebih berfokus pada solusi, bertindak dan
mewujudkan solusi yang ia inginkan. Menurut Flanagan & Flanagan (2004:374)
dalam (Sugiharto, 2017:46) pandangan postmodern psikopatologi dideskripsikan
sebagai berikut:
1) Tidak menggunakan model psikopatologi modern. Artinya bahwa pandangan
posmoderen menganggap bahwa tidak ada diagnosis khusus atau kriteria
khusus seperti pada penggunaan panduan diagnostik misalnya dengan DSM
(Diagnostic and Statistic Manual for Mental Disorder) terhadap masalah
psikis yang diderita oleh klien khusus.
2) Mendiagnosis klien dianggap sebagai prosedur yang tidak membantu
(unhelpful procedure). Hal ini disebabakan karena terapis akan sibuk dan
membuang banyak waktu dengan mencari masalah klien serta akan
memandang bahwa masalah klien yang begitu luasnya diberikan kategori-
kategori seakan-akan individu memang telah menderita masalah psikis yang
berat. Misalnya individu (klien) yang datang pada konselor menceritakan
masalahnya, selanjutnya dengan hasil diagnosis konselor (misalnya dengan
menggunakan DSM-IV TR) ia dikategorikan sebagai orang yang depresi.
Dengan demikian klien telah diberikan label bahwa dirinya adalah
penderita depresi, karena apa yang klien ungkapkan, sikapkan, perilakukan
sesuai dengan apa yang tercantum dalam DSM. Dalam kondisi ini
konselor/terapis lebih banyak mendiagnosis masalah klien dari pada
memfokuskan pada solusi apa yang segera dikonstruk oleh klien.
3) Symptom-symptom masalah (misalnya: kecemasan, depresi) bukan wujud
yang terpisah dari diri individu melainkan sebagai bagian dari pengalaman
individu dlm menjalani keseluruhan kisah hidupnya. Dengan kata lain bahwa
ketika individu memiliki gejala-gejala masalah yang terkait dengan psikisnya,
maka masalah-masalah tersebut hakikatnya adalah bagian dari hidupnya yang
memang memiliki peluang untuk muncul pada diri individu ketika ia
menjalani kehidupannya. Hal ini menandakan bahwa sejatinya setiap individu
mempunyai masalah-masalah tersebut (kecemasan, depresi, dsb) walaupun
intensitas dan frekuensinya berbeda-beda. Dengan demikian individu tidak
secara tiba-tiba atau mendadak memiliki masalah (misalnya kecemasan,
depresi), namun justru individu dalam menjalani hidupnya berdampingan
dengan masalah dan merupakan suatu kewajaran bahwa setiap manusia yang
hidup memiliki masalah.
4) secara khsusus pendekatan postmoderen termasuk SFBC memandang
masalah klien dari dua hal:
a. Individu menjadi bermasalah karena ketidak-efektifannya dalam
mencari dan melakukan atau menggunakan solusi yang dibuatnya.
b. Individu menjadi bermasalah karena ia menyakini bahwa ketidak-
bahagiaan atau ketidak-sejahteraan ini berpangkal pada dirinya. Misalnya
bagaimana ia memandang dirinya, memurukkan dirinya yang kemudian
individu itu sendirilah yang mengkonstruk kisah (cerita) yang ia beri
label masalah dan bukan mengkonstruk kekuatan atau kemampuan
diri yang berguna bagi penyelesaian masalahnya.

2.5 HUBUNGAN KONSELOR DENGAN KONSELI


Hubungan konselor dengan konseli sangat penting, karena berpengaruh
pada saat proses konseling atau saat proses terapiotik. Adanya kerjasama antara
Konseli dengan konselor secara bersama -sama untuk mengidentifikasi masalah
dan solusi. Dalam hubungan konselor dengan konseli, Konselor harus
menggunakan teknik empati, summarization, parafrase, pertanyaan terbuka, dan
keterampilan mendengarkan secara aktif untuk memahami situasi konseli secara
jelas dan spesifik.
Untuk membentuk hubungan yang baik dan intens, konselor harus
menyesuaikan bahasa konseli, konseli dihargai sebagai ahlinya dalam
kehidupannya sendiri, sementara konselor ahli dalam menciptakan lingkungan
terapeutik yang baik. Dalam jurnal Solution focused brief therapy with children
who stutter (Nicholas, 2015) pertanyaan sangat penting bagi pendekatan yang
berfokus pada solusi dan keahlian dari terapis fokus solusi ada pada penyusun
percakapan dan mengajukan pertanyaan yang akan mengarahkan klien menuju
perubahan dan solusi.
Kualitas hubungan antara konselor dan konseli merupakan faktor penentu
hasil dari SFBT. Sikap terapis sangat penting untuk efektivitas dari proses
terapeutik. Hal ini penting untuk menciptakan kepercayaan sehingga konseli akan
kembali untuk sesi selanjutnya dan akan menindaklanjuti saran pekerjaan rumah.
Menggambarkan tiga jenis hubungan yang dapat dikembangkan antara konselor
dan konseli untuk membangun SFBT:
1) Pelanggan (Customer)
Konseli dan konselor bersama-sama mengidentifikasi masalah dan bekerja ke
arah solusi. Konseli menyadari bahwa untuk mencapai solusi dan tujuannya,
usaha pribadi akan diperlukan.

2) Pengadu (Complainant)
Konseli menjelaskan masalah tetapi tidak mampu atau bersedia untuk
mengasumsikan peran dalam membangun solusi, percaya bahwa solusi
bergantung pada tindakan orang lain. Dalam situasi ini, konseli umumnya
mengharapkan konselor untuk mengubah orang lain kepada atribut masalah
konseli.
3) Pengunjung (Visitor)
Konseli datang ke terapi karena orang lain (pasangan, orangtua, guru, atau
petugas percobaan) berpikir konseli memiliki masalah. Konseli ini mungkin tidak
setuju bahwa dia memiliki masalah dan mungkin tidak dapat mengidentifikasi apa
saja untuk mengeksplorasi dalam terapi.
Ketiga peran hanya titik awal untuk percakapan. Daripada mengkategorikan
konseli, konselor dapat mencerminkan pada jenis hubungan yang berkembang
antara konseli dan dirinya sendiri. Sebagai contoh, konseli (pengadu) yang
cenderung menempatkan penyebab masalah mereka pada orang lain atau orang-
orang dalam kehidupan mereka dapat dibantu dengan intervensi untuk mulai
melihat peran mereka sendiri dalam masalah mereka dan kebutuhan untuk
mengambil langkah-langkah aktif dalam menciptakan solusi. Seorang konseli
(pengunjung) mungkin bersedia untuk bekerja dengan konselor untuk membuat
hubungan (pelanggan) dengan mengeksplorasi apa yang konseli perlu dilakukan
untuk memuaskan orang lain. Awalnya, beberapa konseli akan merasa tidak
berdaya dan kewalahan oleh masalah mereka. Bahkan konseli yang tidak mampu
mengartikulasikan masalah dapat berubah sebagai hasil dari pengembangan
aliansi terapeutik yang efektif. Singkatnya, baik pengadu dan pengunjung
memiliki kapasitas untuk menjadi pelanggan.
2.6 TUJUAN TERAPI
Solution Focused Brief Therapy (SFBT) dikembangkan oleh Insoo Kim
Berg, Steve de Shazer dan rekan dan klien mereka di Pusat Terapi Keluarga
Singkat Milwakuee di Amerika Serikat pada awal tahun 1980-an (de Shazer,
1985, 1988) dalam (Kelly 2008). SFBT dianggap berbeda dalam banyak hal dari
pendekatan pengobatan tradisional karena meminimalkan penekanan pada
masalah dan mengalihkan fokus terapi dari masalah ke solusi, mengeksplorasi
masa depan yang disukai klien, seperti apa hidup ketika masalah telah hilang dan
mengacu pada sumber daya dan kekuatan klien untuk menyadari masa depannya.
Terapis fokus solusi tidak berfokus pada sifat masalah presentasi seseorang,
juga tidak berusaha memahami penyebab masalah, namun mereka mendukung
klien untuk memikirkan kekuatan dan solusi yang mungkin mereka lakukan. Oleh
karena itu, ada keyakinan mendasar bahwa klien memiliki apa yang diperlukan
untuk mencapai tujuan mereka dan peran terapis adalah membawa potensi ini ke
kesadaran. Didalam SFBT ini terdapat beberapa tujuan yaitu :
1) Membantu konseli mengenal sumber daya dalam dirinya dan menyadari
pengecualian di dalam dirinya pada saat dia bermasalah
2) Membantu konseli untuk berfokus pada hal-hal yang jelas dan spesifik yang
mereka anggap sebagai solusi masalah
3) Membantu konseli untuk bergerak atau menuju ke arah yang diinginkan si
konseli
4) Membantu menemukan solusi yang cocok dengan masalah konseli

5) Membantu konseli untuk mengetahui secara jelas masa depan yang


diinginkannya dan bagaimna memotivasi hal tersebut.
Sebagaimana Asosiasi SFBT memperjelas, "(SFBT) harus dicirikan sebagai
cara berpikir klinis dan berinteraksi dengan klien lebih dari daftar teknik (SFBTA,
2006, hal 2)." Dengan melihat klien terlibat dalam sebuah konstanta Proses
perubahan, dokter yang berfokus pada solusi siap untuk memanfaatkan cara
penyembuhan alami dan cara menonton perubahan yang ada di masyarakat
(Tallman & Bohart, 1999) dalam (Kelly, 2008: 15).
2.7 TEKNIK-TEKNIK DALAM SFBT
Dalam aplikasinya, pendekatan SFBT memiliki beberapa teknik intervensi
khusus. Teknik ini dirancang dan dikembangkan dalam rangka membantu konseli
untuk secara sadar membuat solusi atas permasalahan yang ia hadapi. Beberapa
teknik dari SFBT adalah:
1) Pertanyaan pengecualian (Exception Question)
Pertanyaan tentang saat-saat dimana konseli bebas dari masalah. SFBT
didasarkan pada gagasan dimana ada saat-saat dalam hidup konseli ketika masalah
yang mereka identifikasi tidak bermasalah. Waktu tersebut disebut pengecualian
dan disebut news of difference. Konselor SFBC mengajukan ask exeption
question untuk menempatkan konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah,
atau ketika masalah yang ada tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman
hidup konseli di masa lalu ketika dimungkinkan masalah tersebut masuk akal
terjadi, tetapi entah bagaimana hal itu tidak terjadi.
Dengan membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa pengecualian
tersebut kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju solusi.
Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat dan ada
selamanya; juga menyediakan kesempatan untuk meningkatkan sumberdaya,
melibatkan kekuatan, dan menempatkan solusi yang mungkin. Konselor
menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan agar pengecualian ini lebih
sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini disebut change-talk
2) Pertanyaan Keajaiban (Miracle Question)
Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan terjadi
jika suatu masalah dialami secara ajaib terselesaikan.Meminta konseli untuk
mempertimbangkan bahwa suatu keajaiban membuka suatu tempat untuk
kemungkinan-kemungkinan dimasa depan. Konseli di dorong untuk membiarkan
dirinya sendiri bermimpi tentang suatu cara/jalan untuk mengidentifikasi jenis-
jenis perubahan yang paling mereka inginkan. Pertanyaan ini memiliki fokus
masa depan dimana konseli dapat mulai untuk mempertimbangkan kehidupan
yang berbeda yang tidak didominasi oleh masalah-masalah masa lalu dan
sekarang kearah pemuasan hidup yang lebih dimasa mendatang.
3) Pertanyaan Berskala (Scalling Question)
SQ adalah teknik yang digunakan konselor untuk mengidentifikasi
perbedaan yang bemanfaat bagi konseli, dan dapat membantu untuk menetapkan
tujuan pula. Kutub dari skala biasanya berentang dari kondisi masalah yang
terburuk yang terjadi (0 atau 1) di salah satu ujung, dan di ujung yang lain
menggambarkan kondisi terbaik yang mungkin akan dicapai (10). Konseli
diminta untuk menilai mereka saat ini berada pada posisi skala berapa, dan
pertanyaan yang kemudian digunakan untuk mengidentifikasi berbagai sumber.
Terapais menggunakan pertanyaan yang memberi skala apabila perubahan
dalam pengalaman manusia tidak mudah diamati, seperti perasaan, suasana hati,
atau komunikasi. Pertanyaan dengan memberikan skala menjadikan konseli untuk
memberikan perhatian yang lebih dekat kepada apa yang sedang mereka kerjakan
dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan kepada
perubahan yang mereka kehendaki.
4) Rumusan Tugas Sesi Pertama (Formula Fist Session Task/FFST)
FFST adalah suatu format tugas yang diberikan oleh konselor kepada
konseli untuk diselesaikan pada antara sesi pertama dan sesi kedua. Konselor
dapat berkata : diantara saat ini dan pertemuan kita selanjutnya, saya berharap
anda dapat mengamati sehingga anda dapat menjelaskan pada saya pada
pertemuan yang akan datang, tentang apa yang terjadi pada (keluarga, hidup,
pernikahan, hubungan) anda yang diharapkan terus terjadi. Pada sesi kedua,
konseli dapat ditanya tentang apa yang telah mereka amati dan apa yang mereka
inginkan dapat terjadi dimasa mendatang.
5) Umpan Balik (Feedback)
Para pelaksana konseling umumnya mengambil waktu jeda lima sampai
dengan sepuluh menit menjelang setiap akhir pertemuan untuk menyusun suatu
ringkasan pesan kepada konseli. Selama waktu jeda ini konselor merumuskan
umpan balik yang akan diberikan kepada konseli setelah waktu jeda. Menguraikan
tiga bagian pokok untuk umpan balik yang berupa ringkasan: pujian, jembatan,
dan anjuran tugas. Pujian adalah pengakuan yang tulus terhadap apa yang telah
konseli lakukan yang mengarah ke solusi yang efektif.
Pujian-pujian ini yang wujudnya berbentuk dorongan, menciptakan harapan,
dan penyampaian harapan kepada konseli bahwa mereka dapat mencapai tujuan-
tujuan mereka dengan menggunakan kekuatan dan keberhasilan mereka. Kedua,
sebuah jembatan menghubungkan pujian awal kepada tugas anjuran yang
diberikan. Jembatan memberikan alasan penalaran untuk pujian itu. Aspek umpan
balik ketiga berisi anjuran tugas kepada konseli, yang dapat dipertimbangkan
sebagai pekerjaan rumah. Tugas pengamatan maksudnya ialah meminta konseli
untuk sekedar memberikan perhatiannya kepada beberapa aspek kehidupan
mereka. Proses monitoring diri ini membantu konseli mencatat perbedaan-
perbedaan apabila segala sesuatu keadaannya lebih baik.
6) Penghentian
Dari awal sekali wawancara berfokus solusi, konselor selalu berpikiran
bahwa dalam bekerja akan mengarah kepada penghentian. Begitu konseli mampu
membangun solusi yang memuaskan, hubungan terapi dapat dihentikan. Sebelum
konseling berakhir, konselor membantu konseli dalam mengenali hal-hal yang
bisa mereka lakukan untuk melanjutkan perubahan-perubahan yang telah mereka
lakukan di masa yang akan datang.
Konseli juga bisa dibantu untuk mengenali rintangan atau hambatan-
hambatan yang kemungkinan ditemui dalam perjalanannya memelihara perubahan
yang telah mereka lakukan. Karena model terapi ini singkat, berpusat pada masa
sekarang, dan dimaksudkan untuk keluhan tertentu, akan sangat mungkin bahwa
konseli akan mengalami persoalan-persoalan perkembangan lain di kemudian
hari. Konseli bisa minta pertemuan tambahan kapan saja ketika mereka merasakan
adanya kebutuhan yang mereka rasakan untuk kembali ke jalan hidup yang benar.
Questions Typically Asked in Solution-Focused Brief Therapy (SFBT)
Mengatasi Pertanyaan
Bagaimana Anda tidak menyerah sejak Anda mencoba semuanya?
Bagaimana Anda berhasil mengatasi sejauh ini?
Apa yang membuatmu gantung di sana?
Apa yang telah berjalan baik dalam hidupmu?
Mencari Solusi
Perubahan kecil apa yang akan Anda perhatikan saat segala sesuatunya berubah?
Bagaimana Anda tahu jika pembicaraan kita akan membuat perbedaan besar?
Apa yang lebih baik untukmu minggu ini?
Kapan kamu tidak punya masalah ini? Bahkan sedikit?
Bergerak kedepan
Apa yang akan menjadi pertanda kecil bahwa Anda tidak lagi depresi?
Apa yang akan Anda perhatikan tentang diri Anda? Apa yang akan orang lain
perhatikan tentang Anda yang berbeda?
Bagaimana Anda bisa melakukan lebih dari itu minggu ini?
Dalam (Kelly , 2008: 17).

2.8 PROSES TERAPI DALAM SFBT


Menurut de Shazer (Seligman 2006) SFBT bisanya berlangsung dalam tujuh
tahap:
1) Identifying a solvable complaint
Mengidentifikasi keluhan yang bisa dipecahkan merupakan langkah awal
yang penting dalam konseling. Tidak hanya memfasilitasi pengembangan tujuan
dan intervensi, tetapi mempromosikan perubahan. Konseli dan konselor
berkolaborasi untuk membuat gambar dari keluhan yang menempatkan solusi
mereka di tangan konseli. Pertanyaan frase konselor sehingga mereka
berkomunikasi secara optimis dan harapan untuk perubahan. Kesulitan manusia
dipandang sebagai normal dan dapat diubah. Konselor mungkin bertanya, Apa
yang menyebabkan Anda untuk membuat janji sekarang? bukan Apa masalah
yang mengganggu Anda? atau bertanya, Apa yang ingin Anda ubah? bukan
Bagaimana saya bantu?.
Konselor menggunakan empati, ringkasan, mengartikan, pertanyaan
terbuka, dan keterampilan mendengarkan aktif untuk memahami situasi konseli
dengan jelas dan spesifik. Konselor mungkin bertanya, Bagaimana Anda
mengalami kecemasan? Apa yang akan membantu saya untuk benar-benar
memahami situasi ini? dan Bagaimana hal ini menciptakan masalah bagi
Anda?

2) Establishing goals
Menetapkan tujuan melanjutkan proses konseling. Konselor berkolaborasi
dengan konseli untuk menentukan tujuan yang spesifik, dapat diamati, diukur, dan
konkret Tujuan biasanya mengambil salah satu dari tiga bentuk: mengubah dari
situasi problematis; mengubah tampilan situasi atau kerangka acuan, dan
mengakses sumber daya, solusi, dan kekuatan (OHanlon, ST Weiner-Davis, 1989
dalam Seligman 2006). Pertanyaan mengandaikan sukses: Apa yang akan
menjadi tanda pertama dari perubahan, Bagaimana Anda akan tahu kapan terapi
ini berguna bagi Anda, Bagaimana saya bisa tahu? Diskusi rinci perubahan
positif didorong untuk memperoleh pandangan yang jelas dari apa yang terlihat
seperti solusi ke konseli. Salah satu cara yang paling berguna untuk solusi yang
berfokus pada klinisi untuk menetapkan tujuan terapi adalah dengan
menggunakan pertanyaan keajaiban (miracle question).
3) Designing an intervention
Ketika merancang intervensi, konselor menggambar pada pemahaman
mereka tentang konseli dan penggunaan kreativitas strategi terapi untuk
mendorong perubahan, tidak peduli seberapa kecil. Pertanyaan khas selama tahap
ini termasuk Perubahan apa yang telah terjadi?, Apa yang berhasil di masa lalu
ketika Anda berurusan dengan situasi yang sama?, Bagaimana Anda membuat
hal itu terjadi?, dan Apa yang akan Anda lakukan untuk memiliki itu terjadi
lagi? .
4) Strategic task that promote change
Tugas strategis kemudian mempromosikan perubahan. Biasanya ini ditulis
sehingga konseli dapat memahami dan menyetujuinya. Tugas secara hati-hati
direncanakan untuk memaksimalkan kerja sama konseli dan sukses. Orang dipuji
atas upaya keberhasilan dan kekuatan mereka untuk menggambar di dalam
menyelesaikan tugas.
5) Identifying dan emphazing new behavior and changes
Perilaku baru yang positif dan perubahan diidentifikasi serta ditekankan
ketika konseli kembali setelah diberi tugas. Pertanyaan fokus pada perubahan,
kemajuan, dan kemungkinan dan mungkin termasuk Bagaimana Anda membuat
hal itu terjadi?, Siapa yang melihat perubahan?, dan Bagaimana sesuatu yang
berbeda ketika Anda melakukan itu? Masalahnya dipandang sebagai itu atau
itu dan sebagai eksternal untuk konseli; ini membantu orang melihat
keprihatinan mereka sebagai setuju untuk berubah, bukan sebagai bagian integral
dari diri mereka sendiri.
6) Stabilization
Stabilisasi adalah penting dalam membantu orang mengkonsolidasikan
keuntungan dan secara bertahap beralih perspektif ke arah yang lebih efektif dan
penuh harapan. Selama tahap ini, konselor mungkin benar-benar menahan
kemajuan dan kemunduran konseli. Ini memberikan orang waktu untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan mereka, mempromosikan keberhasilan lebih
lanjut, dan mencegah berkecil hati jika perubahan tidak terjadi secepat yang
mereka inginkan.
7) Termination
Pengakhiran konseling terjadi, sering diprakarsai oleh konseli yang kini
telah mencapai tujuan mereka. Karena SFBT berfokus pada penyajian keluhan
bukan resolusi masalah masa kecil atau perubahan kepribadian yang signifikan, ia
mengakui bahwa orang dapat kembali untuk terapi tambahan, dan konseli
diingatkan pilihan itu. Pada saat yang sama, SFBT tidak hanya berusaha untuk
membantu orang menyelesaikan masalah segera. Melalui proses mengembangkan
rasa percaya diri, merasa mendengar dan memuji bukan menyalahkan, dan
menemukan kekuatan dan sumber daya, orang yang diterapi melalui SFBT dapat
menjadi lebih mandiri dan mampu mengatasi kesulitan di masa depan mereka
sendiri.
Tahap-Tahap Konseling secara umum prosedur atau tahapan pelaksanaan
SFBT menurut Corey (2005) adalah sebagai berikut:
1) Para konseli diberikan kesempatan untuk memaparkan masalah-masalah
mereka. Konselor mendengarkan dengan penuh perhatian dan cermat
jawaban-jawaban konseli terhadap pertanyaan dari konselor, bagaimana
saya dapat membantu anda?
2) Konselor bekerja dengan konseli dalam membangun tujuan-tujuan yang
dibentuk secara spesifik dengan baik secepat mungkin. Pertanyaannya adalah
apa yang menjadi berbeda dalam hidupmu ketika maslaah-masalahmu
terselesaikan?
3) Konselor menanyakan konseli tentang saat dimana masalah-masalah sudah
tidak ada atau saat masalah-masalah sudah tidak ada atau saat masalah-
masalah terasa agak ringan. Konseli dibantu untuk mengeksplor
pengecualian-pengecualian ini, dengan penekanan yang khusus pada apa yang
mereka lakukan untuk membuat keadaan atau peristiwa-peristiwa tersebut
terjadi.
4) Diakhir setiap percakapan membangun solusi-solusi (solution building),
konselor memberikan konseli umpan balik simpulan, memberikan dorongan-
dorongan, dan menyarankan apa yang konseli dapat amati atau lakukan
sebelum sesi berikutnya yang lebih jauh untuk menyelesaikan masalah
mereka.
5) Konselor dan konseli mengevaluasi progress yang telah didapat dalam
mencapai solusi-solusi yang memuaskan dengan menggunakan suatu skala
rata-rata. Konseli juga ditanya tentang apa yang perlu untuk dilakukan
sebelum mereka melihat masalah mereka dapat terselesaikan dan juga apa
yang akan mereka lakukan selanjutnya.

2.9 KELEBIHAN DAN KELEMAHAN


2.9.1 Kelebihan
SFBT adalah sebuah pendekatan yang mengemukakan bahwa orang
memiliki kekuatan; Selain itu, SFBT mengatakan bahwa kekuatan itu aktif,
sekarang, dalam membantu klien mengelola situasi mereka. Selain menggunakan
teknik SFBT yang sebenarnya untuk mengakses kekuatan pada klien, konselor
memiliki kesempatan unik untuk mengamati klien mereka yang menangani
berbagai tantangan lain dalam kontak mereka sehari-hari selama sekolah. Selain
itu kelebihan SFBT yaitu:
1) Langsung Berfokus pada solusi, Hemat waktu dan tenaga
2) Bersifat fleksibel dan praktis dalam penggunaan teknik-teknik intervensi
3) Menilai potensi konseli dalam proses konseling untuk memastikan bahwa
waktu dan upaya tidak terbuang percuma
4) Memandang konseli kompeten dan berdaya

5) Pendekatan ini bersifat positif untuk digunakan dengan konseli yang berbeda-
beda. Maksudnya, teori konseing ini didasarkan pada asumsi optimis bahwa
setiap manusia adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam
mengkonstruk solusi dalam meningkatkan kualitas hidup mereka dengan
optimal.
6) Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran yang
menekankan perubahan kecil pada tingkah laku
7) Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan konseling lainnya

2.7.2 Kelemahan
Kritik umum pendekatan SFBT adalah bahwa masalah dihindari atau
kekhawatiran klien diminimalkan. Sementara diskusi tentang masalah klien tidak
dianggap perlu dalam pendekatan fokus solusi, itu Menyadari bahwa itu mungkin
merupakan bagian penting dari proses klien (Nicholas 2015).
1) Kurang memperhatikan masa lalu konseli

2) Pendekatan ini hampir tidak memperhatikan riwayat konseli


3) Pendekatan ini kurang memfokuskan pencerahan
4) Pendekatan ini menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi, sehingga
membuat perawatan ini mahal.
BAB III
PENUTUP

2.4 SIMPULAN
Teori singkat berfokus solusi pertama kali dicetuskan oleh Insoo Kim Berg
dan Steve De Shazer pada akhir tahun 1982. Teori ini merupakan suatu teori
konseling yang menekankan pentingnya masa depan daripada masa lalu atau masa
kini dan berfokus pada masalah yang ada daripada masalah yang tidak ada. Teori
ini bertujuan untuk membantu konseli mengenal sumber daya dalam dirinya dan
menyadari pengecualian di dalam dirinya pada saat dia bermasalah.
Gagasan utamanya, bahwa kekuatan klien penting, bahwa perubahan klien
konstan, dan bahwa klien dapat dipercaya untuk merancang solusi atas masalah
mereka sendiri, merupakan alternative banyak pendekatan diagnostik dan
pengobatan berbasis defisit yang lazim di sekolah saat ini. konselor yang berfokus
pada solusi dapat menggunakan teknik seperti pertanyaan keajaiban, pertanyaan
mengatasi, dan penskalaan pertanyaan untuk mengidentifikasi tujuan dan
kekuatan siswa untuk membantu membuat perubahan dalam kehidupan mereka.
2.5 SARAN
Dengan teori singkat berfokus solusi ini, konselor mampu membantu
konseli sesuai dengan keinginannya. Selain itu konselor juga harus dapat
membantu konseli mengenal sumber daya dalam diri konseli.
DAFTAR PUSTAKA

Capuzzi, David. Mark D Stuaffer. 2016. Counseling And Psychotherapy Theories


And Intervention Sixth Edition. American: Associate Publisher.
Corey, G. 2005. Theory and practice of counseling and psychotherapy. 7th ed.
Belmont, CA: Wadsworth.
Corey, Gerald. 2013. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy Eigh
Edition. USA: Thomson Higher education.
Kelly, Michael S. dkk. 2008. Solution Focused Brief Therapy In Schools A 360
Degree View Of Research And Practice. Oxford New York: Oxford
University Press Inc.
Nicholas, Alison. 2014. Solution Focused Brief Therapy With Children Who
Stutter. Journal Social and Behavioral Sciences No:193 . Vol.209 216.
Seligman, L. 2006. Theories of Counseling and Psychotherapy. Columbus, Ohio:
Pearson Merril Prentice Hall.
Sugiharto, DYP. Mulawarman. Sunawan. 2017. Bahan Ajar Teori Dan
Pendekatan Konseling. Semarang: UNNES PPS BK Press.