Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Natural

Vol. 16, No. 2, 2016


ISSN 1141-8513

THE CYTOTOXIC ACTIVITY OF N-HEXANE


EXTRACT OF KERSEN(muntingia calabura linn.)
LEAVES USING THE BRINE SHRIMP LETHALITY
TEST (BSLT) METHOD*
Irma Sari,Titania Miranda, Sadli*

Jurusan Farmasi, Fakultas MIPA, Universitas Syiah Kuala


Darussalam Banda Aceh, 23111
E-mail: sadli_zhafara@unsyiah.ac.id

Abstract.The cytotoxic activity experiment of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves
has been carried out using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method. The purpose of this research is to
identify the secondary metabolites, extract characterize, and determine the LC50 value of the extract against
larvae shrimp Artemia salina Leach. Screening result showed that n-hexane extract of kersen leaves contain
triterpenoid. Extract characterization showed the results water content of 2.590.18 %w/w, water soluble
extractive content of 1.9%0.19 %w/w, the ethanol soluble extractive content of 17.411,87 %w/w and total
ash value 0.25% w/w. Extract showed LC50 value is 278,72 ppm were calculated by probit analysis. The LC50
value indicated that the n-hexane extract of kersen leaves potentially has cytotoxic activity.

Keywords: Cytotoxic,n-hexane extract, Muntingia calabura, BSLT

I. PENDAHULUAN dengan radiasi. Namun pembedahan tidak


efektif untuk kanker yang telah bermetastasis.
Indonesia merupakan negara yang memiliki Pengobatan dengan metode kemoterapi dan
kekayaan keanekaragaman hayati.Terdapat radiasi seringkali kurang selektif, dan memiliki
lebih kurang 30.000 jenis tumbuh-tumbuhan efek samping toksik pada jaringan normal dan
dan 7.500 jenis diantaranya termasuk menyebabkan resistensi pada sel kanker [5].
tumbuhan obat. Keanekaragaman hayati ini Ketiga metode tersebut juga membutuhkan
merupakan aset nasional yang bernilai tinggi biaya yang cukup mahal. Oleh karena itu, perlu
untuk pengembangan industri obat-obatan di dilakukan pencarian obat antikanker yang lebih
dunia[1]. Oleh karena itu, upaya pencarian dan selektif, aman, dan ekonomis. Ada beberapa
pengembangan obat dari bahan alam sampai metode uji pendahuluan pencarian obat
saat ini masih terus dilakukan. Salah satu bahan antikanker, seperti Brine Shrimp Lethality Test
alam yang terus dilakukan pencariannya adalah (BSLT), Lemna assay, Potato disc, hingga
bahan alam untuk pengobatan penyakit kanker. kultur sel (Microculture Tetrazolium
Kanker adalah suatu penyakit yang ditandai Salt/MTT). Diantara keempat metode tersebut,
dengan pergeseran mekanisme kontrol sel yang BSLT merupakan metode yangs sangat
mengatur proliferasi dan diferensiasi sehingga disarankan dalam uji toksisitas karena memiliki
mengakibatkan pertumbuhan sel menjadi korelasi hingga tingkat kepercayaan 95%
abnormal [2]. Menurut laporan World Health terhadap uji spesifik antikanker. Metode BSLT
Organization [3], setiap tahunnya diperkirakan juga lebih sederhana, cepat, murah, dapat
ada sekitar 466.000 kasus kanker dan 231.000 dipercaya, dan hasilnya representatif [6].
orang meninggal di seluruh dunia. Sedangkan Kersen merupakan bagian dari famili
di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Elaeocarpaceae, dan satu-satunya spesies
Dasar [4], prevalensi tumor/kanker di dalam genus Muntingia [7]. Kersen berasal dari
Indonesia adalah 1,4 atau per 1000 Amerika tropis, sehingga menjadi salah satu
penduduk. Pengobatan kanker dapat dilakukan tumbuhan yang paling banyak dijumpai di
dengan pembedahan, kemoterapi, maupun daerah tropis seperti Indonesia [8].Tumbuhan
37
*Judul ini telah dipresentasikan pada Seminar Nasional: Indonesian StudentsConference on Science and
Mathematics (ISCSM) 11-12 November 2015, Banda Aceh Indonesia
The cytotoxic activity of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves using...
(Irma Sari, Titania Miranda, Sadli)

kersen dapat dengan mudah ditemukan tumbuh glasial, serbuk magnesium, natrium klorida,
secara liar maupun dibudidayakan. Umumnya ragi roti, larva Artemia salina Leach, tween 80
tumbuhan kersen digunakan sebagai peneduh, dan aquades.
dan bagian-bagian pohon seperti daun dan buah
juga digunakan sebagai obat tradisional. Pengumpulan bahan untuk penelitian adalah
Beberapa penelitian menunjukkan ekstrak daun kersen (Muntingia calabura), yang
metanol daun kersen sebagai antioksidan [9], diperoleh di daerah Lamgugob, Kota Banda
antinosiseptif [10], dan antitumor [11]. Aceh, Aceh, Indonesia. Pembuatan simplisia
Penelitian lainnya juga menunjukkan daun dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
kersen dari fraksi eter, kloroform, metanol daun segar sebanyak 2 kg dikumpulkan lalu
sebagai antidiabetes [12], serta ekstrak aqueos dibersihkan dari pengotor (sortasi basah) dan
daun kersen sebagai antibakteri [13]. Penelitian dilakukan pencucian dengan air yang mengalir.
ini menggunakan ekstrak n-heksana pada daun Dikeringkan selama 1 bulan untuk menurunkan
kersen. Pelarut n-heksana diharapkan menarik kadar air dan kelembabannya. Dilakukan
senyawa golongan nonpolar seperti sortasi kering untuk memisahkan benda asing,
triterpenoid. Skrining fitokimia daun kersen dan pengotor-pengotor lain yang tertinggal.
menunjukkan adanya senyawa triterpenoid, Simplisia yang sudah kering kemudian
flavonoid, saponin, tanin, steroid, namun tidak diblender hingga halus menjadi serbuk.
mengandung alkaloid [12]. Penelitian lain juga Didapatkan sebanyak 440 g serbuk simplisia,
telah ditunjukkan bahwa skrining fitokimia kemudian disimpan di tempat yang kering,
daun kersen memberikan adanya senyawa tidak lembab, dan terhindar dari sinar matahari
alkaloid, flavonoid, steroid, dan antrakuinon langsung. Karakterisasi simplisia dilakukan
[14]. Oleh karena itu, terhadap ekstrak n- dengan cara pengamatan organoleptis simplisia
heksana daun kersen dilakukan skrining yaitu bentuk, warna, dan bau, serta pengamatan
fitokimia kembali untuk menentukan secara mikroskopis dibawah mikroskop.
kandungan fitokimia dan dilakukan
karakterisasi ekstrak untuk menentukan Ekstraksi daun kersen dengan n-heksana
karakter atau sifat ekstrak. dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
Simplisia sebanyak 400 g diekstraksi dengan
II. METODOLOGI PENELITIAN metode maserasi. Simplisia dimaserasi dengan
n-heksana dengan perbandingan 400g:3L
Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari selama lima hari dengan sesekali diaduk,
2015 sampai Mei 2015. Pengujian fitokimia selanjutnya disaring sehingga dihasilkan ampas
dan karakterisasi ekstrak dilakukan di dan ekstrak. Ampas yang dihasilkan kembali
Laboratorium Hayati Fakultas Matematika dan direndam dengan 1 L n-heksana selama 2 hari
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Syiah dengan sesekali diaduk, kemudian disaring.
Kuala. Pengujian sitotoksik ekstrak n-heksana Hasil ekstrak digabungkan untuk kemudian
daun kersen (Muntingia calabura L.) pada diuapkan dengan rotary evaporator sehingga
larva udang (Artemia salina Leach) dilakukan dihasilkan ekstrak kental. Untuk pengujian
di Laboratorium Farmakologi Fakultas golongan alkaloida maka disiapkan sebanyak
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam 500 mg ekstrak ditambahkan 1 mL asam
Universitas Syiah Kuala. Alat yang digunakan klorida 2 N dan 9 mL air, dipanaskan diatas
dalam penelitian ini adalah blender merk penangas air selama dua menit, didinginkan
National Viva, timbangan analitik, oven, dan disaring. Filtrat dipindahkan masing-
tanur, bejana maserasi, rotary evaporator, masing tiga tetes kedalam tiga buah tabung
aluminium foil, penangas air, tabung reaksi dan reaksi, lalu ditambahkan dua tetes Meyer LP,
rak, timbangan analitik, gelas ukur, gelas Bouchardat LP dan Dragendorf kepada masing-
kimia, corong, kertas saring, spatula, wadah masing tabung reaksi. Alkaloid dinyatakan
berkaca gelap, krus porselin, cawan penguap, positif jika terjadi endapan atau kekeruhan,
wadah pembiakan larva, lampu pijar Philips yaitu terbentuk endapan menggumpal putih
40 watt, aerator, pipet mikro, pipet tetes dan atau kuning dengan Meyer LP, terbentuk
vial yang telah dikalibrasi. Bahan-bahan yang endapan berwarna coklat sampai hitam dengan
digunakan dalam penelitian adalah daun Bouchardat LP dan terbentuk endapan kuning
kersen, pelarut n-heksana yang telah didestilasi, jingga dengan Dragendorf LP. Ekstrak
plat KLT GF254 0,25 mm, etanol 95%, metanol dikatakan mengandung alkaloid apabila dua
p.a, asam sulfat pekat, etil asetat, Meyer LP, dari tiga reaksi memberikan reaksi positif.
Dragendorf LP, Bouchardat LP, Lieberman-
Bouchardat LP, asam klorida pekat, asam Pengujian golongan flavonoid dipersiapkan
klorida 1 N, asam klorida 2 N, besi (III) dengan cara sebagai berikut: Ekstrak
klorida, kloroform, ammonia, asam asetat sebanyak 500 mg ditimbang, kemudian

38
The cytotoxic activity of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves using...
(Irma Sari, Titania Miranda, Sadli)

direndam dengan metanol dan dipekatkan. hingga kering dalam cawan penguap pada suhu
Selanjutnya, ekstrak pekat metanol direndam 105C dan ditimbang sampai bobot tetap.
menggunakan pelarut n-heksana. Residu Bobot tetap didapatkan dengan cara pemanasan
direndam kembali dengan 10 mL etanol 80% dan penimbangan cawan penguap yang
dan ditambahkan 0,5 g serbuk magnesium serta perbedaan beratnya tidak lebih dari 0,5 mg
asam klorida 0,5 M. Jika timbul warna merah pada dua kali penimbangan berturut-turut.
muda/ungu, maka menunjukkan positif adanya Untuk kadar sari yang larut dalam etanol
flavonoid. Untuk pengujian golongan saponin dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
dilakukan dengan cara: sebanyak 500 mg ekstrak ditimbang sebanyak 5 g, dimasukkan
ekstrak dimasukkan dalam tabung reaksi dalam wadah berkaca gelap, dan ditambahkan
ditambahkan 10 mL air panas, lalu 100 mL etanol 95%, dikocok sesekali selama 6
didinginkan. Lalu ekstrak tersebut dikocok jam pertama, lalu dibiarkan selama 18 jam,
kuat-kuat selama 10 menit. Jika terbentuk buih kemudian disaring. Diambil 20 mL filtrat lalu
yang mantap setinggi 1-10 cm selama tidak diuapkan hingga kering dalam cawan penguap
kurang dari 10 menit dengan penambahan 1 pada suhu 105C dan ditimbang sampai bobot
tetes HCl 2 N, maka hal tersebut menunjukkan tetap. Bobot tetap didapatkan dengan cara
adanya saponin. Pengujian golongan tannin pemanasan dan penimbangan cawan penguap
dilakukan dengan cara sebanyak 500 mg yang perbedaan beratnya tidak lebih dari 0,5
ekstrak diencerkan dengan aquades sampai mg pada dua kali penimbangan berturut-turut.
hampir tidak berwarna. Filtrat diambil 2 mL
lalu ditambahkan dua tetes larutan besi (III) Penetapan kadar air dilakukan dengan cara:
klorida 10%, lalu diperhatikan warna yang ekstrak ditimbang sebanyak 2 g dan
terjadi, warna biru atau hijau menunjukkan dimasukkan ke dalam cawan penguap yang
adanya tanin. Warna biru menunjukkan adanya telah diketahui beratnya. Dimasukkan cawan
tiga buah gugusan hidroksil pada inti aromatis penguap yang telah berisi ekstrak ke dalam
tanin. Warna hijau menunjukkan adanya dua oven dan dikeringkan pada suhu 105C selama
buah gugusan hidroksil pada inti aromatis tiga jam. Cawan kemudian didinginkan di
tanin. dalam desikator lalu ditimbang dan dihitung
kadar air. Penetapan kadar abu total dilakukan
Pengujian golongan steroid/triterpenoid dengan cara: sebanyak 2 g ekstrak dimasukkan
dilakukan dengan cara: ditimbang 1 g ekstrak, dalam krus porselin yang telah dipijar dan
ditambahkan eter lalu didiamkan selama 2 jam, ditimbang. Krus dipijar perlahan-lahan sampai
disaring, filtrat diuapkan dalam cawan arang habis, pijaran dilakukan pada suhu
penguap. Sisa filtrat kemudian ditambahkan 600C selama tiga jam kemudian didinginkan
lima tetes pereaksi Lieberman-Bourchardat. dan ditimbang sampai bobot tetap. Bobot tetap
Timbulnya warna ungu dan merah kemudian didapatkan dengan cara pemanasan dan
berubah menjadi hijau biru menunjukkan penimbangan cawan penguap yang perbedaan
adanya triterpenoid/steroid. Uji Kromatografi beratnya tidak lebih dari 0,5 mg pada dua kali
Lapis Tipis (KLT) dilakukan untuk penimbangan berturut-turut. Prosedur uji BSLT
mendapatkan hasil yang lebih nyata terhadap dilakukan dengan menggunakan metode Meyer
keberadaan triterpenoid/steroid. Uji dilakukan et al [16]
pada plat KLT GF254 0.25 mm dengan fase
gerak etil asetat dan n-heksana dengan Penetasan Telur Artemia salina Leach
perbandingan 2:8. Reagen penyemprot yang dilakukan dengan prosedur sebagai berikut:
digunakan adalah asam sulfat 50% dalam ditetaskan telur di dalam wadah dangkal
metanol. Timbulnya warna biru menunjukkan berbentuk persegi panjang yang telah terisi
adanya triterpenoid, sedangkan timbulnya dengan air laut.Wadah penetasan dibagi
warna ungu menunjukkan adanya steroid. menjadi dua bagian, yaitu bagian terang dan
Penetapan organoleptik ekstrak meliputi gelap yang dibatasi oleh suatu sekat plastik.
bentuk, warna, dan bau dari ekstrak serta Sekat plastik diberi beberapa lubang sebesar 2
penetapan kadar senyawa terlarut dalam pelarut mm. Bagian gelap ditutupi dengan aluminium
tertentu [15]. foil dan digunakan untuk meletakkan telur yang
akan ditetaskan. Selama penetasan, tempat
Uji kadar sari yang larut dalam air dilakukan penetasan diberi penerangan dengan cahaya
dengan cara : ekstrak ditimbang sebanyak 2 g, lampu pijar 40 watt agar suhu penetasan 25-
dimasukkan dalam wadah berkaca gelap, 30C tetap terjaga. Kadar oksigen juga dijaga
didiamkan dengan 100 mL air jenuh kloroform, dengan adanya gelembung air dengan
dikocok sesekali selama enam jam pertama, pemasangan aerator. Setelah 48 jam, telur-telur
lalu dibiarkan selama 18 jam, kemudian sudah menetas menjadi nauplii dan berenang
disaring. Diambil 20 mL filtrat lalu diuapkan

39
The cytotoxic activity of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves using...
(Irma Sari, Titania Miranda, Sadli)

ke arah bagian terang. Nauplii aktif digunakan memiliki jumlah trikoma glanduler lebih
sebagai hewan uji. banyak yang berfungsi sebagai penyimpan
senyawa metabolit sekunder [9]. Berat serbuk
Larutan induk dibuat dalam labu ukur dengan simplisia yang didapatkan adalah 440 g.
konsentrasi 10.000 ppm. Ditimbang 100 mg Gambar 1 menunjukkan simplisia dari daun
sampel ekstrak yang dilarutkan dalam 10 mL kersen yang didapat pada penelitian ini.
akuades dan ditambahkan tween 80 sebanyak
50 l untuk mempermudah melarutkan ekstrak.
Kemudian dibuat larutan uji dengan lima
konsentrasi berbeda yaitu 1000, 500, 200, 100,
dan 10 ppm dengan pengenceran bertingkat.
Untuk membuat larutan 1000 ppm dipipet 1
mL dari 10.000 ppm (larutan induk), 500 ppm
dipipet 5 mL dari 1000 ppm, 200 ppm dipipet 4
mL dari 500 ppm, 100 ppm dipipet 5 mL dari
200 ppm, 10 ppm dipipet 1 mL dari 100 ppm
dan masing-masing dilarutkan di dalam labu
ukur hingga 10 ml dengan akuades. Perlakuan
sama seperti larutan uji diberikan untuk kontrol
negatif (blanko), yang hanya diberi aquades
dalam jumlah yang sama dengan sampel.
Masing-masing larutan uji dengan berbagai
konsentrasi dimasukkan sebanyak 1 mL ke
dalam vial, dan dilakukan tiga kali
pengulangan untuk setiap konsentrasi. Uji
sitotoksik dilakukan dengan cara diambil 10
nauplii dan dimasukkan ke dalam vial yang
telah berisi larutan uji dengan berbagai
kosentrasi, ditambahkan air laut sampai 5 mL.
Satu tetes ragi roti (0,6 mg/mL) dimasukkan ke
dalam setiap vial sebagai makanan Artemia Gambar 1 Simplisia daun kersen
salina. Larutan diaduk sampai homogen.
Semua vial diinkubasi pada suhu kamar selama Karakterisasi simplisia meliputi uji
24 jam di bawah penerangan lampu pijar 40 makroskopik dan uji mikroskopik. Uji
watt. Pengamatan dilakukan setelah 24 jam dan makroskopik simplisia menunjukkan bahwa
dihitung % jumlah larva mati seperti pada daun berwarna hijau kecoklatan, berujung
persamaan (1). runcing, memiliki tulang dan daun menyirip
dan tidak berbau. Gambar 2 menunjukkan hasil

% = 100% dari uji mikroskopik pada daun kersen..
(1)

Analisa data dilakukan setelah 24 jam


pengujian ekstrak terhadap larva uji Artemia
salina. Larva yang mati, dihitung, ditabulasi
dan dianalisis dengan analisis probit untuk
menentukan nilai LC50. Setelah nilai probit
didapat maka selanjutnya ditentukan nilai
LC 50 dengan memplotkan log konsentrasi dan
nilai probit dari larva uji. Dari plot ini akan
didapat persamaan regresi atau garis linier.
Nilai LC50 didapatkan setelah nilai x di
antilogaritma.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambar 2 Hasil uji mikroskopik simplisia daun
Daun yang dipilih untuk pembuatan simplisia kersen (perbesaran 10x40). dimana, 1)
yaitu daun kersen tua segar dengan warna hijau Resin 2) Stomata dan sel tetangga 3)
pekat dan ukuran bervariasi. Hal ini sesuai rambut penutup 4) sel epidermis 5)
dengan penelitian yang menyatakan aktivitas trikoma glanduler 6) trakea
antioksidan daun kersen tua lebih kuat karena

40
The cytotoxic activity of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves using...
(Irma Sari, Titania Miranda, Sadli)

Ekstraksi simplisia dilakukan dengan prosedur triterpenoid dalam ekstrak n-heksana daun
maserasi. Metode ini dipilih karena maserasi kersen (Gambar 3). Triterpenoid bersifat
merupakan cara penyarian yang sederhana. nonpolar sehingga akan terektraksi dalam
Cairan penyari akan menembus dinding sel dan pelarut n-heksana yang juga bersifat nonpolar
masuk ke dalam rongga sel yang mengandung dimana digunakan sebanagai fase diam silika
zat aktif. Zat aktif akan larut karena adanya gel GF 254 dan fase gerak n-heksana:etil asetat
perbedaan konsentrasi di dalam dan di luar sel. (8:2).
Hal ini menyebabkan larutan yang terpekat
keluar sehingga terjadi keseimbangan
konsentrasi antara larutan di dalam dengan di
luar sel [17]. Simplisia dalam penelitian ini
dimaserasi menggunakan pelarut n-heksana.
Pelarut ini digunakan sebagai cairan penyari
karena senyawa ini bersifat non polar, sehingga
diharapkan senyawa yang terekstraksi
merupakan senyawa non polar. Ekstrak yang
didapatkan dari proses maserasi, kemudian
dipekatkan menggunakan alat rotary
Triterpenoid
evaporator. Pemekatan bertujuan untuk
mengetahui persen rendemen, mencegah
kemungkinan terjadinya kerusakan komponen
yang terkandung dalam ekstrak, dan
mempermudah penyimpanannya bila
dibandingkan dengan keadaan ekstrak yang
masih mengandung pelarut [18]. Ekstrak n- Gambar 3 Hasil KLT triterpenoid
heksana daun kersen yang dihasilkan sebanyak
24,68 g dengan rendemen 6,17%. Selanjutnya, Karakterisasi ekstrak dimulai dari pemeriksaan
ekstrak n-heksana daun kersen dilakukan terhadap organoleptis ekstrak.Ekstrak n-
skrining fitokimia dan karakterisasi.Skrining heksana daun kersen berbentuk kental,
fitokimia dilakukan untuk menentukan ciri berwarna hijau agak kehitaman, dan berbau
komponen bioaktif suatu ekstrak kasar yang khas. Penentuan parameter organoleptik
mempunyai efek racun atau efek farmakologis ekstrak bertujuan memberikan pengenalan awal
lain yang bermanfaat bila diujikan dengan ekstrak secara objektif berupa bentuk, warna,
sistem biologi atau bioassay [19]. Berdasarkan dan bau. Penentuan kadar air berguna untuk
hasil skrining yang telah dilakukan pada kelima menyatakan kandungan zat dalam tumbuhan
metabolit sekunder (Tabel 1), hanya metabolit sebagai persen bahan kering [20]. Penentuan
sekunder triterpenoid yang menunjukkan hasil kadar air dalam penelitian ini menggunakan
positif.Triterpenoid positif jika menimbulkan metode gravimetri. Prinsipnya adalah
warna hijau-biru [19]. pengukuran kehilangan air dengan menimbang
sampel sebelum dan sesudah dikeringkan [21].
Tabel 1 Hasil skrining fitokimia Besarnya kadar air ekstrak n-heksana daun
Metabolit kersen dapat dilihat pada Tabel 2. Syarat
Pereaksi Hasil
sekunder persentase kadar air dalam ekstrak adalah 10
Alkaloid Meyer Negatif % [17]. Kadar air yang tinggi dalam suatu
Bouchardat Negatif bahan dapat mendorong enzim melakukan
Dragendorf Negatif aktivitasnya untuk mengubah kandungan kimia
Flavonoid Serbuk Mg dan HCl Negatif yang ada dalam bahan menjadi produk lain
Saponin Air dan HCl Negatif yang mungkin tidak lagi memiliki efek
Tanin FeCl3 Negatif
farmakologi seperti senyawa aslinya [18].
Triterpenoid Lieberman-Bouchardat Positif
H2SO4 50% dalam Positif
metanol (KLT) Tabel 2 Hasil karakterisasi ekstrak
Parameter Hasil penetapan (%)
Skrining awal menggunakan Lieberman- Kadar air 2,590,18
Bouchardat LP menunjukkan hasil positif Kadar sari :
berwarna biru yang tidak konsisten. Sehingga, Larut air 1,900,19
Larut etanol 17,411,87
dilakukan pula pendeteksian triterpenoid
Kadar abu total 0,25
menggunakan uji Kromatografi Lapis Tipis
(KLT). Hasil yang didapatkan dari uji KLT
adalah terbentuk noda biru yang menunjukkan Kadar air yang rendah membuat suatu bahan
adanya kandungan metabolit sekunder dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama

41
The cytotoxic activity of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves using...
(Irma Sari, Titania Miranda, Sadli)

sehingga kemungkinan rusak karena jamur yang berada pada tahap nauplii atau tahap larva
sangat kecil. Sehingga, kadar air ekstrak n- [16]. Metode BSLT akan menghasilkan nilai
heksana daun kersen tergolong memenuhi LC50 untuk setiap zat yang diuji. LC50 (Lethal
syarat. Parameter senyawa terlarut dalam Concentration 50) merupakan konsentrasi zat
pelarut tertentu bertujuan memberikan yang menyebabkan terjadinya kematian pada
gambaran awal jumlah kandungan senyawa 50% hewan uji. Parameter yang ditunjukkan
yang dapat diekstraksi. Penentuan parameter untuk mengetahui adanya aktivitas biologi pada
ini dilakukan secara gravimetri menggunakan suatu zat terhadap hewan uji adalah dengan
dua pelarut, yaitu pelarut air dan etanol. Kedua menghitung jumlah larva yang mati karena
pelarut ini dan campuran keduanya merupakan pengaruh pemberian zat dengan dosis atau
cairan pelarut yang diperbolehkan dan konsentrasi yang telah ditentukan. Prinsip
memenuhi syarat kefarmasian (pharmaceutical pengujian dengan metode BSLT adalah
grade) [17]. Besarnya kadar sari larut dalam air menjadikan ekstrak uji sebagai makanan untuk
dan kadar sari larut dalam etanol pada ekstrak hewan uji. Dilakukan pengujian pada saat 24
n-heksana daun kersen dapat dilihat pada Tabel jam setelah Artemia salina menetas. Cadangan
2. Berdasarkan hasil yang diperoleh, dapat makanan pada saat tersebut telah habis,
diketahui bahwa ekstrak n-heksana daun kersen sehingga Artemia salina akan mengkonsumsi
lebih larut di dalam etanol daripada di dalam ekstrak yang telah divariasikan [24]. Suatu zat
air, dimana pelarut air melarutkan senyawa dikatakan memiliki potensi toksisitas akut bila
polar dan pelarut etanol melarutkan senyawa nilai LC50<1000 ppm untuk ekstrak dan <30
kurang polar. Hal ini mengindikasikan bahwa ppm untuk suatu senyawa (Juniarti et al.,
ekstrak n-heksana daun kersen lebih banyak 2009).
mengandung senyawa kurang polar yang Tabel 3Hasil uji BSLT
disebabkan oleh penggunaan n-heksana yang
bersifat nonpolar sebagai pelarut saat Kons Log Kematian Konversi LC50
pembuatan ekstrak. Abu adalah zat anorganik (ppm) Kons larva (%) Probit (ppm)
sisa hasil pembakaran suatu bahan organik. Kontrol - - -
Penentuan kadar abu bertujuan untuk 10 1 17 4,05
memberikan gambaran kandungan mineral 100 2 37 4,67
278,72
internal dan eksternal. Ekstrak dipanaskan 200 2,3 43 4,82
pada suhu tinggi hingga senyawa organik dan 500 2,7 57 5,18
1000 3 67 5,44
turunannya terdestruksi dan menguap hingga
tersisa unsur mineral dan unsur anorganik saja
[22]. Mineral yang terdapat dalam suatu bahan
dapat merupakan dua macam garam yaitu 6
garam-garam organik seperti garam dari asam 5
malat, oksalat, asetat, pektat, dan garam-garam 4
Probit

anorganik, seperti fosfat, karbonat, klorida, 3


sulfat nitrat dan logam alkali [17]. Sedangkan y = 0,684x + 3,325
2 R = 0,989
kandungan bahan yang anorganik yang terdapat 1
dalam suatu bahan diantaranya kalsium, fosfor, 0
besi, magnesium, dan lainnya [23]. Data kadar
abu total ekstrak n-heksana daun kersen dapat 0 2 4
dilihat pada Tabel 2. Besarnya kadar abu total Log konsentrasi
mengindikasikan bahwa ekstrak mengandung Gambar 4 Grafik perbandingan konsentrasi dan
mineral dan unsur anorganik. Daun kersen nilai probit pada uji BSLT
mengandung kalsium, fosfor, dan besi
[23].Berdasarkan hasil yang diperoleh, kadar Pengujian ekstrak n-heksana daun kersen
abu total ekstrak n-heksana daun kersen hanya terhadap larva Artemia salina pada penelitian
mengandung sedikit mineral dan unsur ini menghasilkan nilai LC50 sebesar 278,72
anorganik yaitu 0,25%. ppm. Sehingga dapat dikatakan ekstrak n-
heksana daun kersen pada percobaan ini
BSLT adalah suatu metode pengujian yang memiliki potensi toksisitas akut. Data uji BSLT
dapat digunakan sebagai bioassay yang ekstrak n-heksana daun kersen dan grafik
sederhana untuk meneliti tingkat sitotoksik perbandingan antara % kematian larva yang
suatu senyawa, dengan cara menentukan nilai telah dikonversikan dalam probit dengan log
LC50 yang dinyatakan dari komponen aktif konsentrasi (Gambar 4). Nilai LC50 sesuai
suatu simplisia maupun bentuk sediaan ekstrak dengan tingkat ketoksikannya, yaitu kategori
dari suatu tumbuhan. Pengujian dilakukan sangat tinggi/highly toxic dengan konsentrasi
dengan menggunakan hewan uji Artemia salina 110 ppm, sedang/medium toxic pada

42
The cytotoxic activity of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves using...
(Irma Sari, Titania Miranda, Sadli)

konsentrasi 10100 ppm, dan rendah/low toxic Convinient General Bioassay For Active
pada konsentrasi 1001000 ppm. Maka, ekstrak Plant Constituent. Plant Medica 45: 31-34.
n-heksana daun kersen dalam penelitian ini 7. Sani, M. H., Zakaria Z. A.,. Balan, T., Teh,
termasuk dalam kategori rendah/low toxic L. K. dan Salleh M. Z. 2012.
dengan LC50 278,72 ppm. Tingkat ketoksikan Antinociceptive Activity of Methanol
yang rendah disebabkan karena zat yang diuji Extract of Muntingia calabura Leaves and
masih berupa ekstrak kasar (crude extract) [16] the Mechanisms of Action Involved.
(Tabel 3). Berdasarkan hasil uji fitokimia yang Evidence-Based Complementary and
telah dilakukan, ekstrak n-heksana daun kersen Alternative Medicine. Hindawi Publishing
mengandung metabolit sekunder triterpenoid. Corporation.
Senyawa ini diduga berperan aktif 8. Lim, T.K., 2012, Edible Medicinal And
menghasilkan aktivitas sitotoksik dari ekstrak Non-Medicinal Plants: Volume 2, Fruits.
n-heksana daun kersen yang diuji dengan Springer. New York.
metode BSLT ini. Namun metode BSLT yang 9. Kuntorini, E., M., Fitriana, S., dan Astuti,
digunakan dalam penelitian ini adalah metode M., D. 2013.Struktur Anatomi Dan Uji
yang tidak spesifik pada sel kanker. Oleh Aktivitas Antioksidan Ekstrak Metanol
karena itu diperlukan pengujian lebih lanjut Daun Kersen (Muntingia calabura).
untuk menentukan keefektifan ekstrak n- Prosiding Semirata FMIPA Universitas
heksana daun kersen terhadap sel kanker Lampung.Lampung.
menggunakan metode uji aktivitas sitotoksik 10.Zakaria, Z. A. A. Mohamed, M. N. Jamil,
terhadap sel kanker yaitu MTT Assay. S., M. 2011. Invitro Antiproliferative And
Antioxidant Activities Of The ExtractsOf
KESIMPULAN Muntingia Calabura Leaves. American
Journal of Chinese Medicine. 39(1) : 183-
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat 20
disimpulkan bahwa ekstrak n-heksana daun 11.Sindhe A. M., Yadav D. B., Chandrashekar
kersen mengandung metabolit sekunder berupa A. 2013. Antioxidant And In Vivo Anti-
triterpenoid, memiliki kadar air sebesar Hyperglycemic Activity Of Muntingia
2,590,18 %b/b, kadar sari larut air 1,90,19 Calabura Leaves Extracts. Der Pharmacia
%b/b, kadar sari larut etanol 17,411,87 %b/b, Lettre. 5 (3) : 427-435.
kadar abu total sebesar 0,25% b/b dan memiliki 12.Prawira, M., Y., Sarwiyono, dan
aktivitas sitotoksik dengan nilai LC50 278,72 Surjowardojo, P. 2007.Daya Hambat Dekok
ppm. Daun Kersen (Muntingia calabura L.)
Terhadap Pertumbuhan Bakteri
REFERENSI Staphylococcus aureus Penyebab Penyakit
Mastitis pada Sapi Perah. Universitas
1. Handayani, D., Munim, A., dan Ranti, A. Brawijaya. Malang.
S. 2013. Optimasi Ekstraksi Ampas Teh 13.Krishnaveni M., and Dhanalakshmi R.
Hijau (Camellia sinensis) Menggunakan 2014. Qualitative And Quantitative Study
Metode Microwave Assisted Extraction Of Phytochemicals In Muntingia Calabura
Untuk Menghasilkan Ekstrak Teh Hijau. L. Leaf And Fruit. World Journal of
Traditional Medicine Journal.19 (1) : 29- Pharmaceutical Research. 3 (6) :1687-
34. 1696.
2. Katzung. B. G. 2010. Farmakologi Dasar 14.Ditjen POM. 2000. Farmakope Herbal.
dan Klinik.EGC. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
3. World Health Organization. 2012. Cancer. 15.Pine, A.T.D., Alam, G. & Attamin., F.,
WHO. Switzerland. 2011, Standardisasi Mutu Ekstrak Daun
4. Riset Kesehatan Dasar. 2013. Kanker. Gedi (Abelmoschus manihot (L.) dan Uji
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Efek Antioksidan dengan Metode DPPH.
Jakarta. Universitas Hasanuddin.Makassar.
5. Davis, J.M., Navolanic, P.M., Weinstein- 16.Wijaya, M. 2011. Ekstraksi Annonaceous
Oppenheimer, C.R., Steelman, L.S., Wei H. Acetogenin Dari Daun Sirsak (Annona
2003. Raf-1 and Bcl-2 Induce Distinct and Muricata) Sebagai Senyawa Bioaktif
Common Pathways That Contribute to Kanker.Skripsi.Universitas Indonesia.
Breast Cancer Drug Resistance. Clinical Jakarta.
Cancer Research. 9: 1161-1170. 17.Harborne, J.B 1987. Phytochemical Method
6. Meyer, B.N., Ferrigni, N.R., Putman, J.E., (Metode Fitokimia).Terjemahan oleh
Jacsben, L.B., Nicols, D.E., dan KosasihPatmawinata dan Iwang
McLaughlin, J.L. 1982. Brine Shrimp : A Soediro.ITB. Bandung.

43
The cytotoxic activity of n-hexane extract of kersen (Muntingia calabura Linn.) leaves using...
(Irma Sari, Titania Miranda, Sadli)

18.Kumalaningsih. 2006.Antioksidan alami 21.Kurniawan, I., Sarwiyono, Surjowardojo P.,


Terong Belanda.Trubus Agrisarana. Jakarta. 2014. Pengaruh teat dipping menggunakan
19.Abdurrahman, A., Haryati, U., Juarsah, I. dekok daun kersen (Muntingia calabura L.)
2013. Penetapan Kadar Air Tanah dengan terhadap tingkat kejadian mastitis. Jurnal
Metode Gravimetri. Litbang Pertanian. Ilmu-Ilmu Peternakan, Universitas
20.Anam, S., Yusran, M., Trisakti, A. Ibrahim, Brawijaya.
N., Khumaidi, A., Ramadanil, Zubair, M.S. 22. Saputra, I. 2013. Uji Aktivitas Sitotoksik
2013. Standarisasi Ekstrak Etil Asetat Kayu Kulit Batang Biduri (Calotropis gigantea).
Sanrego (Lunasia amara Blanco), Natural Skripsi. Universitas Syiah Kuala. Banda
Science 2 (3). Aceh.

44