Anda di halaman 1dari 27

KEPERAWATAN JIWA

REGIMEN TERAPEUTIK

Oleh :

Putu Erika Yugestin (13c10962)


Luh Mas Widiantini (13c10974)
Gusti Ayu Rantika Dewi (13c10987)
Ni Putu Yumi Andrini (13c11007)
Ni Made Yuni Eva Resdaniari(13c11008)

TINGKAT II A
S1 - KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BALI
2015
REGIMEN TERAPEUTIK

A. Regimen Terapeutik
Menurut herdmen (2012) penatalaksanaan regimen terapiutik tidak efektif adalah
sebuah pola mengatur dan mengintegrasikan program pengobatan penyakit dan gejala,
sisa penyakit yang tidak memuaskan untuk memenuhi tujuan kesehatan tertentu dalm
rutinitas sehari-hari. Jadi penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efektif merupakan,
ketidak patuhan klien mematuhi, menjalankan, dan mengambil tindakan pada program
pengobatan untuk mencapai peningkatan status kesehatan kedalam rutinitas sehari-hari.

B. Karakteristik
Menurut herdman 2012 menguraikan karakteristik dari penatalaksanaan regimen
terapeutik tidak efektif sebagai berikut:
1. Kegagalan untuk melakukan kebiasaan pengobatan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Kegagalan untuk melakukan tindakan yang mengurangi faktor resiko.
3. Membuat pilihan dalam ketidakefektifan hidup sehari-hari untuk memenuhi tujuan
kesehatan.
4. Mengungkapkan keinginan untuk mengatasi penyakit.
5. Mengungkapkan kesulitan dalam regimen yang di tetapkan.

Kesulitan klien terhadap regimen pengobatan yang telah di tetapkan yag


melandasi peneliti untuk memberikan intervensi atau treatment keperawatan pada
penelitian ini.

C. Faktor Yang Mempengaruhi


Menurut herdman 2012 faktor yang mempengaruhi penatalaksanaan regimen
terapeutik tidak efektif antara lain:
1. Adanya hambatan dalam persepsi dan kurangnya dukungan sosial.
2. Ketidak berdayaan.
3. Adanya rentan persepsi terhadap manfaat yang dirasakan.
4. Ketidak percayaan klien terhadap regimen dan tenaga kesehatan.
5. Kurangnya pengetahuan keluarga dalam perawatan kesehatan.
6. Kesulitan ekonomi.
7. Konflik dalam pengambilan keputusan.
8. Persepsi keseriusan dalam menjalani regimen terapi.
9. Kurangnya petunjuk dalam pelaksanaan regimen terapi.

Faktor-faktor i ni tentunya berhubungan dengan gejala yang terdapat pada klien


skzofrenia seperti gejala positif (halusinasi dan waham) dan daya tilik diri yang buruk
bisa menghambat persepsi klien terhadap regimen pengobatan. Penurunan
kemampuan kognitif pada klien juga akan menjadi penyebab kurangnya pengetahuan
klien skzofrenia menjalani pengobatan yang disarankan.

D. Tindakan keperawatan
Menurut jhonson dan morehead 2008 kriteria hasil yang diharapkan pada
penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efektif adalah:
1. Prilaku kepatuhan.
2. Pengetahuan regimen pengobatan.
3. Partisipasi klien dalam keputusan perawatan kesehatan.
4. Pengobatan prilaku: penyakit atau cedera, keyakinan terhadap kesehatan,
keyakinan akan kemampuannya untuk melakukan, keyakinan untuk kontrol
orientsi pada kesehatan dan pengetahuan akan proses penyakit.

Prilaku kepatuhan merupkan salah satu dari kriteria dari diagnosis


penatalaksanaan regimen terapeutik tidak efektif. Hal ini yang diharapkan sebagai
outcome dari intervensi penelitian ini. Sehingga secara tidak langsung memberikan
kontribusi agar penatalaksanaan regimen terapeutik dapat kembali lancar.

E. Jenis-Jenis Terapi Untuk pasien Jiwa


1. Terapi Somatik
a. Pengertian
Terapi somatik adalah terapi yg diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa
dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptif menjadi perilaku adaptif dgn
melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien.
b. Jenis terapi somatik pd klien gangguan. jiwa antara lain:
1. Pengikatan (Pengekangan fisik)
a. Pengekangan Fisik
Pengekangan fisik termasuk penggunaan pengekangan mekanik, seperti
manset utk pergelangan tangan & pergelangan kaki, serta seperai
pengekang, begitu pula isolasi, yaitu dengan menempatkan pasien dlm
suatu ruangan dimana dia tdk dpt keluar atas kemauannya sendiri.

b. Pengekangan Mekanik
Jenis pengekangan mekanik adalah:
1. camisoles (jaket pengekang)
2. pengekang dgn manset utk pergelangan tangan
3. pengekangan dgn manset untuk pergelangan kaki.
4. pengekangan dengan seprei.
c. Indikasi Pengekangan
Indikasi pengekangan yaitu:
1. Perilaku amuk
2. Perilaku agitasi yang tidak dapat dikendalikan dengan pengobatan
3. Ancaman terhadap infegritas fisik
4. Permintaan pasien utk pengendalian perilaku eksternal
d. Pengekangan dengan Seprei Basah dan Dingin
Pasien dpt diimobilisasi dgn membalutnya seperti mummi dalam lapisan
seprei dan selimut. Lapisan paling dalam terdiri atas seprei yg telah
direndam dalam air es. Walaupun mula-mula terasa dingin, balutan segera
menjadi hangat dan menenangkan.

2. Isolasi
a. Isolasi
Isolasi adalah menempatkan pasien dlm suatu ruang di mana dia tdk dpt
keluar dari ruangan tersebut sesuai kehendaknya. Tingkatan pengisolasian
dpt berkisar dari penempatan dalam ruangan yg tertutup, tapi tidak
terkunci sampai pada penempatan dalam ruang terkunci dengan kasur
tanpa seprei di lantai, kesempatan berkomunikasi yg dibatasi, & pasien
memakai pakaian rumah sakit atau kain terpal yang berat. Penggunaan
kain terpal kurang dpt diterima & hanya digunakan untuk melindungi
pasien aiau orang lain.

b. Indikasi penggunaan
Pengendalian perilaku amuk yang potensial membahayakan pasien atau
orang lain dan tidak dapat dikendalikan oleh orang lain dengan intervensi
pengekangan yang longgar, seperti kontak interpersonal atau pengobatan
c. Reduksi stimulus lingkungan, terutama jika diminta oleh pasien.
Kontraindikasi:
1. Kebutuhan untuk pengamatan masalah medik
2. Risiko tinggi untuk bunuh diri
3. Potensial tidak dapat mentoleransi deprivasi sensori
4. Hukuman.

3. Terapi Elektrokonvulsif
Terapi elektrokonvulsif (ECT) adalah suatu pengobatan untuk
menimbulkan kejang grand mal secara artifisial dengan melewatkan aliran
lintrik melalui elektorode yang dipasang pada pelipis. Jumlah tindakan yang
dilakukan merupakan rangkaian yang bervariasi pada tiap pasien tergantung ;
pada masalah pasien dan respons terapeutik sesuai hasil pengkajian selama
tindakan. Rentang jumlah yang paling umum dilakukan pada pasien dengan
gangguan afektif antara enam sampai 12 kali, sedangkan pada pasien
skizofrenia biasanya diberikan sampai 30 kali. ECT biasanya diberikan 3 kali
seminggu atau setiap beberapa hari, walaupun sebenarnya bisa diberikan lebih
jarang atau lebih sering.
Walaupun sebagai terapi ECT cukup aman, akan tetapi ada beberapa
kondisi merupakan kontra indikasi diberikan terapi ECT.
Kondisi klien yang kontra indikasi tersebut adalah :
a. Tumor intra kranial, karena ECT dapat meningkatkan tekanan intra
kranial.
b. Kehatnilan, karena dapat mengakibatkan keguguran.
c. Osteoporosis, karena dengan timbulnya grandmall dapat berakibat
terjadinya fraktur tulang.
d. Infark miokardium, dapat terjadi henti jantung.
e. Asthma bronkial, karena ECT dapat memperberat penyakit ini.
f. Indikasi penggunaan adalah:
1. Penyakit depresi berat yang tidak berespons terhadap obat antidepresan
atau pada pasien yang tidak dapat menggunakan obat
2. Gangguan bipolar dimana pasien sudah tidak berespons lagi terhadap
obat
3. Pasien dengan buttuh diri akut yang sudah lama tidak menerima
pengobatan untuk dapat mencapai efek terapeutik
4. Jika efek sampingan ECT yang diantisipasikan lebih rendah daripada
efek terapi pengobatan, seperti pada pasien lansia dengan blok
janiung, dan selama kehamilan

4. Foto Terapi
Foto terapi atau terapi sinar adalah terapi somatik pilihan. Terapi ini
diberikan dengan memaparkan klien pada sinar terang 5-20x lebih terang
daripada sinar ruangan. Klien biasanya duduk, mata terbuka, 1,5 meter di
depan klien diletakkan lampu setinggi mata.
Waktu dilaksanakan foto terapi bervariasi dari orang per orang. Beberapa
klien berespon kalau terapi diberikan pada pagi hari, sementara yang lain lebih
berespon kalau diberikan pada sore hari. Efek terapi ditentukan selain oleh
lamanya terapi juga ditentukan oleh kekuatan cahaya yang digunakan. Dengan
kekuatan cahaya sebesar 2500 lux yang diberikan selama 2 jam sehari efeknya
sama dalam menurunkan depresi dengan terapi dengan kekuatan cahaya
sebesar 10.000 lux dalam waktu 30 menit sehari.
Terapi sinar sangat bermanfaat dan menimbulkan efek yang positif.
Kebanyakan klien membaik setelah 3-5 hari terapi kan tetapi bisa kambuh
kembali segera setelah terapi dihentikan. Keuntungan yg lain klien tdk akan
mengalami toleransi terhadap terapi ini.
a. Indikasi
Fototerapi dpt menurunkan 75% gejala depresi yg dialami klien akibat
perubahan cuaca (seasonal affective disorder(SAD)), misalnya pada
musim hujan atau musim dingin(winter) di mana terjadi hujan, mendung
terus menerus yg bisa mencetuskan depresi pd beberapa org.
b. Mekanisme Kerja
Fototerapi bekerja berdasarkan ritme biologis sesuai pengaruh cahaya
gelap terang pd kondisi biologis. Dgn adanya cahaya terang terpapar pd
mata akan merangsang sistem neurotransmiter serotonin & dopamin yg
berperanan pd depresi
c. Efek Samping
Kebanyakan efek samping yg terjadi meliputi ketegangan pada mata,
sakit kepala, cepat terangsang, insomnia, kelelahan, mual, mata menjadi
kering, keluar sekresi dari hidung dan sinus.
5. Terapi Deprivasi Tidur
Terapi deprivasi tidur adalah terapi yg diberikan kpd klien degn cara
mengurangi jumlah jam tidur klien. Hasil penelitian ditemukan bahwa 60%
klien depresi mengalami perbaikan yg bermakna setelah jam tidurnya
dikurangi selama 1 malam. Umumnya lama penurangan jam tidur efektif
sebanyak 3,5 jam.
a. Indikasi
Terapi deprivasi tidur dianjurkan untuk klien depresi.
b. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja terapi deprivasi tidur ini adalah mengubah
neuroendokrin yang berdampak anti depresan. Dampaknya adalah
menurunnya gejala-gejala depresi.
c. Efek Samping
Klien yg didiagnosa mengalami gang. efektif tipe bipolar bila diberikan
terapi ini dpt mengalami gejala mania.

2. Terapi Modalitas

Terapi modalitas Adalah berbagai pendekatan penanganan klien gangguan jiwa


yang bervariasi, yang bertujuan untuk mengubah perilaku klien dengan gangguan jiwa
denga perilaku mal adaptifnya menjadi perilaku yang adaptif.
Terapi Modalitas ( Perko & Kreigh, 1988)

a. Suatu tehnik terapi dengan menggunakan pendekatan secara spesifik

b. Suatu sistem erapi psikis yang keberhasilannya sangat tergantung pada adanya
komunikasi atau perilaku timbal balik antara pasien dan terapis

c. Terapi yang diberikan dalam upaya mengubah perilaku mal adaptif menjadi
perilaku adaptif

d. Prinsip Pelaksanaan
Perawat sebagai terapis mendasarkan potensi yang dimiliki pasien sebagai titik
tolak terapi atau penyembuhan.

e. Dasar Pemberian Terapi Modalitas

1. Gangguan jiwa tidak merusak seluruh kepribadian atau perilaku manusia

2. Tingkah laku manusia selalu dapat diarahkan dan dibina ke arah kondisi yang
mengandung reaksi( respon yang baru )

3. Tingkah laku manusia selalu mengindahkan ada atau tidak adanya faktor-
faktor yang sifatnya menimbulkan tekanan sosial pada individu sehingga
reaksi indv tersebut dapat diprediksi ( reward dan punishment )

4. Sikap dan tekanan sosial dalam kelompok sangat penting dalam menunjuang
dan menghambat perilaku individu dalam kelompok sosial.

5. Terapi modalitas adalah proses pemulihan fungsi fisik mental emosional dan
sosial ke arah keutuhan pribadi yang dilakukan secara holistic

6. Jenis Terapi Modalitas

a. Terapi individual

1. Hubungan terstruktur yang dijalin antara perawat klien uutuk


merubah klien

2. Untuk mengembangkan pendekatan unik penyelesaian konflik,


meredakan penderitaan emosional, mengembangkan cara yang cocok
untuk memenuhi kebutuhan

3. Melalui 3 fase yang overlap ( oerientasi, kerja dan terminasi )


Pelaksanaan terapi individu

4. Mengajari pasien memutuskan halusinasinya


b. Terapi lingkungan (milleau terapi)

1. Perawat menggunakan semua lingkungan rumah sakit dalam arti


terapeutik

2. Perawat memberi kesempatan tumbuh dan berubah perilaku dengan


memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan interaksi

3. Memberi kesempatan dukungan, pengertian, berkembang sebagai


pribadi yang bertanggung jawab.

4. Klien dipaparkan pada peraturan, harapan, dan interaksi sosial.

5. Perawat mendorong komunikasi dan pembuatan keputusan,


meningkatkan harga diri, belajar ketrampilan dan perilaku baru.

6. Tujuan agar klien dapat beradaptasi di luar lembaga yang diciptakan


melalui belajar kompetensi yang diperlukan untuk beralih dari rumah
sakit ke komunitas.

c. Terapi Biologi (terapi somatic)

1. Didasarkan pada model medikal : memandang gangguan jiwa sebagai


penyakit

2. Tekanan: pengkajian spesifikbdan pengelompokan gejala dalam


sindroma spesifik.

3. Perilaku abnormal akibat penyakit atau organisme tertentu dan akibat


perubahan tingkah laku

4. Jenisnya: medikasi psikoaktif, intervensi nutrisi, fototerapi, ECT,


bedah otak
d. Terapi kognitif

1. Strategi memodifikasi keyakinan dan sikap yang mempengaruhi


perasaan dan perilaku klien

2. Proses : membantu mempertimbangkan stressor dan mengidentifikasi


pola pikir dan keyakinan yang tidak akurat

3. Fokus asuhan : reevaluasi ide, nilai, harapan dan memulai menyusun


perubahan kognitif

4. Tujuan Terapi Kognitif

a. Mengembangkan pola pikir yang rasional

b. Menggunakan pengetesan realita

c. Membantu perilaku dengan pesan internal

5. Intervensi

a. Mengajar substitusi pikiran

b. Penyelesaian masalah

c. Memodifikasi percakapan diri negatif

6. Pelaksanaan terapi kognitif

Mengajarkan untuk mensudtitusikan pikiran pasien, belajar


menyelesaikan masalah dan memodifikasi percakapan diri negatif.

e. Terapi keluarga
1. Manusia makhluk sosial, utk mempertahankan hidup perlu sokongan
orla utk mempertahankan keberadaannya harus hidup berkelompok,
kelompok terkecil dalam masyarakat adalah keluarga.

2. Terapi keluarga mrpkn intervensi psikoterapi yg berfokus pd sistem


keluarga, melihat masalah individu dlm kontek keluarga.

3. Pengertian terapi keluarga

a. Pendekatan terapiutik yg melihat masalah individu dlm konteks


keluarga.

b. Intervensi spesifik dgn tujuan membina komunikasi terbuka &


interaksi scr sehat.

c. Salah satu bentuk psikoterapi kelompok yg berdasarkan pd


kenyataan bahwa manusia bukan terisolasi melainkan makhluk
sosial.

4. Tujuan terapi keluarga

a. Menurunkan konflik, kecemasan.

b. Meningkatkan kesadaran keluarga.

c. Meningkatkan kemampuan penanganan krisis.

d. Mengembangkan hubungan peran yang sesuai.

e. Membantu keluarga menghadapi tekanan di dalam dan luar


keluarga.

5. Manfaat terapi keluarga

a. Manfaat bagi klien

1. Mempercepat proses kesembuhan


2. Memperbaiki hub. Interpersonal

3. Pada program rawat jalan, dpt menurunkan kekambuhan

b. Manfaat untuk Keluarga:

1. Memperbaiki fungsi dan struktur klg.

2. Klg mampu meningkatkan pengertiannya thd klien.

3. Klien dpt meningkatkan kemampuannya dlm membantu


klien dlm rehabilitasi.

f. Terapi kelompok

1. TAK stimulasi kognitif/ persepsi

a. Meningkatkan kemampuan orientasi realita

b. Meningkatkan kemampuan memusatkan perhatian

c. Meningkatkan kemampuan intelektual

d. Mengemukakan pendapat dan menerima pendapat orang lain

e. Mengemukakan perasaannya

2. TAK stimulasi sensori

a. Meningkatkan kemampuan sensori

b. Meningkatkan upaya pemusatan perhatian

c. Meningkatkan kesegaran jasmani


d. Mengekspresikan perasaan

3. TAK orientasi realita

a. Tujuan umum

Klien dapat meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara


bertahap.

b. Tujuan khusus

Klien mampu memperkenalkan diri, berkenalan dengan anggota


kelompok, bercakap-cakap dengan onggota kelompok,
menyampaikan dan membicarakan topik percakapan,
menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi, bekerja sama
dalam permainan sosialisasi kelompok dan menyampaikan
pendapat tentang manfaat TAKS yang telah dilakukan.

4. TAK sosialisasi

a. Klien diorientasikan pada kenyataan yang ada di sekitar klien, yaitu


diri sendiri, orang lain dan lingkungan serta waktu

b. Aktivitas dapat berupa orientasi waktu, tempat, benda yang ada


disekitar

g. Terapi Perilaku

1. Premis adalah perilaku dipelajari, perilaku sehat dapat dipelajari dan


disubsitusi dari perilaku tidak sehat

2. Tehnik dasar terapi perilaku :

a. Role model
b. Kondisioning operan

c. Disensitiasi sistematis

d. Pengendalian diri

h. Terapi aversi ( reflek kondisi ) Pelaksanaan

1. Mengajari pasien cara makan yang baik dan benar

2. Memberikan penghargaan kepada pasien terhadap perilaku positif yang


telah dilakukan pasien

3. Pasien mempelajari melalui praktik dan meniru perilaku adaptif

i. Terapi bermain

1. Premis : anak-anak akan berkomunikasi dengan baik melalui permainan


dari pada dengan kemampuan verbal

2. Perawat dapat mengkaji tingkat perkembangan, status emosional,


hipotesa diagnostik, intervensi terapeutik

3. Prinsip Terapi Bermain

a. Terapis membina hubungan yang hangat

b. Merefleksikan perasaan anak

c. Mempercayai anak dapat menyelesaikan masalah

d. Interpretasi perilaku anak

e. Indikasi : anak depresi, anak cemas, anak abuse, dewasa dengan


stres pasca trauma.

F. Psikofarmaka
1. Pengertian
Psikofarmaka adalah obat-obatan yang digunakan untuk klien dengan gangguan
mental. Psikofarmaka termasuk obat-obatan psikotropik yang bersifat neuroleptika
(bekerja pada sistem saraf). Pengobatan pada gangguan mental bersifat komprehensif,
yang meliputi:
a. Teori biologis (somatik), mencakup: pemberian obat psikofarmaka, lobektomi dan
electro convulsi therapy (ECT)
b. Psikoterapeutik
c. Terapi modalitas
2. Konsep Psikofarmakologi
a. Psikofarmakologi adalah komponen kedua dari manajemen psikoterapi
b. Perawat perlu memahami konsep umum psikofarmaka
c. Yang termasuk neurotransmitter: dopamin, neuroepinefrin, serotonin dan GABA
(Gamma Amino Buteric Acid) dan lain-lain
d. Meningkat dan menurunnya kadar/konsentrasi neurotransmitter akan
menimbulkan kekacauan atau gangguan mental
e. Obat-obat psikofarmaka efektif untuk mengatur keseimbangan neurotransmitter
3. Psikofarmaka
a. Sawar darah otak melindungi otak dari fluktuasi zat kimia tubuh, mengatur jumlah
dan kecepatan zat yang memasuki otak
b. Obat-obat psikofarmaka dapat melewati sawar darah otak, sehingga dapat
mempengaruhi sistem saraf
c. Extrapyramidal side efect (efek samping terhadap ekstrapiramidal) terjadi akibat
penggunaan obat penghambat dopamin, agar didapat keseimbangan antara
dopamin dan asetilkolin
d. Anti cholinergic side efect (efek samping antikolinergik) terjadi akibat
penggunaan obat penghambat acetilkolin
e. Menurut Rusdi Maslim yang termasuk obat- obat psikofarmaka adalah golongan:
a. Anti psikotik, pemberiannya sering disertai pemberian anti parkinso
b. Anti depresi
c. Anti maniak
d. Anti cemas (anti ansietas)
e. Anti insomnia
f. Anti obsesif-kompulsif
g. Anti panik
4. Yang Paling Sering Digunakan Oleh Klien Jiwa
a. Anti Psikotik
1. Anti psikotik termasuk golongan mayor trasquilizer atau psikotropik:
neuroleptika
2. Mekanisme kerja: menahan kerja reseptor dopamin dalam otak (di ganglia
dan substansia nigra) pada sistem limbik dan sistem ekstrapiramidal
3. Efek farmakologi: sebagai penenang, menurunkan aktivitas motorik,
mengurangi insomnia, sangat efektif untuk mengatasi: delusi, halusinasi, ilusi
dan gangguan proses berpikir
4. Indikasi pemberian: Pada semua jenis psikosa, Kadang untuk gangguan
maniak dan paranoid
5. Jenis obat anti psikotik yang sering digunakan:
a. Chlorpromazine (thorazin) disingkat (CPZ)
b. Halloperidol disingkat Haldol
c. Serenase
6. Efek Samping Antipsikotik
Efek samping pada sistem saraf (extrapyramidal side efect/EPSE)
a. Parkinsonisme
Efek samping ini muncul setelah 1 - 3 minggu pemberian obat. Terdapat
trias gejala parkonsonisme: Tremor (paling jelas pada saat istirahat),
Bradikinesia (muka seperti topeng, berkurang gerakan reiprokal pada saat
berjalan), Rigiditas (gangguan tonus otot (kaku)
b. Reaksi distonia: kontraksi otot singkat atau bisa juga lama
Tanda-tanda: muka menyeringai, gerakan tubuh dan anggota tubuh tidak
terkontrol
c. Akathisia
Ditandai oleh perasaan subyektif dan obyektif dari kegelisahan, seperti
adanya perasaan cemas, tidak mampu santai, gugup, langkah bolak-balik
dan gerakan mengguncang pada saat duduk.

Ketiga efek samping di atas bersifat akur dan bersifat reversible (bisa
ilang/kembali normal).
d. Tardive dyskinesia
Merupakan efek samping yang timbulnya lambat, terjadi setelah
pengobatan jangka panjang bersifat irreversible (susah hilang/menetap),
berupa gerakan involunter yang berulang pada lidah, wajah,mulut/rahang,
anggota gerak seperti jari dan ibu jari, dan gerakan tersebut hilang pada
waktu tidur.

b. Anti Kolinergik
Efek samping pada sistem saraf perifer atau anti cholinergic side efect
a. Mulut kering
b. Konstipasi
c. Pandangan kabur: akibat midriasis pupil dan sikloplegia (pariese otot-otot
siliaris) menyebabkan presbiopia
d. Hipotensi orthostatik, akibat penghambatan reseptor adrenergik
e. Kongesti/sumbatan nasal
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

A. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


Proses keperawatan merupakan salah satu alat bagi perawat untuk memecahkan
masalah yang terjadi pada klien. Proses keperawatan adalah suatu modalitas pemecahan
masalah yang didasari oleh metode ilmiah, yang memerlukan pemeriksaan secara
sistematis serta identifikasi masalah dengan pengembangan strategi untuk memberikan
hasil yang diinginkan. Proses keperawatan adalah proses terapiutik yang melibatkan
hubungan kerja sama antara perawat dengan klien, keluarga, dan masyarakat untuk
mencapai tingkat kesehatan yang optimal (Keliat, 2005, hal 1).
Proses keperawatan bertujuan untuk memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan
kebutuhan dan masalah klien sehingga mutu pelayanan keperawatan bisa optimal.
Dengan menggunakan proses keperawatan perawat dapat terhindar dari tindakan
keperawatan yang bersifat rutin, tidak unik bagi klien.
Asuhan keperawatan jiwa berpedoman pada prilaku manusia sebagai ilmunya dan
penggunaan diri sendiri secara terapiutik sebagai kiatnya. Dengan ini diharapkan klien
dapat meningkatkan dan mempertahankan prilaku yang mengkontribusi pada fungsi yang
terintegrasi.
1. Pengkajian
Menurut Depkes RI (1994), pengkajian adalah langkah awal dan dasar proses
keperawatan secara menyeluruh. Pada tahap ini pasien yang dibutuhkan dikumpulkan
untuk menentukan masalah keperawatan waham Kebesaran pengkajian terdiri dari 3
kegiatan yaitu: pengumpulan data, penglompokan data atau analisa data dan
perumusan diagnosa keperawatan. Data dapat dikumpulkan dari berbagai sumber data
yaitu sumber data primer (klien) dan sumber data sekunder seperti keluarga, teman
terdekat klien, tim kesehatan, catatandalam berkas dokumen medis klien dan hasil
pemeriksaan. Untuk mengumpulkan data dilakukan dengan berbagai cara, yaitu :
dengan observasi, wawancaradan pemeriksaan fisik.

Beberapa factor yang perlu dikaji:


a. Faktor predisposisi.
1. Genetik : diturunkan
2. Neurobiologis : adanya gangguan pada konteks pre frontal dan konteks limbik
3. Neurotransmiter : abnormalitas pada dopamin, serotonin, dan glutamat.
4. Virus : paparan virus influinsa pada trimester III.
5. Psikologi : ibu pencemas, terlalu melindungi, ayah tidak peduli, peran
keluarga yang tidak mendukung.
b. Faktor presipitasi
1. Proses pengolahan informasi yang berlebihan.
2. Mekanisme penghantaran listrik yang abnormal.
3. Adanya gejala pemicu.
4. Identitas klien dan penanggung
Pada identitas mencakup nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan,
pendidikan, status perkawinan dan hubungan klien dengan penanggung.
5. Alasan dirawat
Alasan dirawat meliputi : keluhan utama dan riwayat penyakit, keluhan utama
berisi tentang sebab klien atau keluarga datang kerumah sakit dan keluhan
klien saat pengkajian. Pada riwayat penyakit terdapat faktor predisposisi dan
presipitasi. Pada faktor predisposisi dikaji tentang faktor-faktor pendukung
klien gangguan isi pikir : waham Faktor presipitasi dikaji tentang faktor
pencetus klien mengalami waham.
6. Riwayat penyakit sekarang
Tanyakan pada klien atau keluarga, apakah klien pernah mengalami gangguan
jiwa pada masa lalu, pernah melakukan, mengalami, penganiayaan fisik,
seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga dan tindakan
kriminal.

a. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
psikologis dari klien. Pemberian pengobatan serta terapi oleh keluarga juga
sangat berpengaruh terhadapi psikologis pasien jiwa dengan waham
b. Biologis
Gangguan perkembangan dan fungsi otak, pertumbuhan dan
perkembangan individu pada prenatal, neonatus dan anak-anak.

c. Sosial budaya
Seperti kemiskinan, konflik social budaya (peperangan, kerusuhan,
kerawanan), kehidupan terisolasi serta stress yang menumpuk.

7. Aspek fisik atau biologis

Mengukur dan mengobservasi tanda-tanda vital : Tekanan darah, nadi, suhu,


pernafasan. Ukur tinggi badan dan berat badan.
8. Aspek psikososial

a. Genogram
b. Konsep diri
1. Citra tubuh
2. Identitas diri
3. Peran
4. Ideal diri
5. Harga diri
6. Hubungan social dengan orang lain.
7. Spiritual
9. Status mental
Nilai penampilan klien rapi atau tidak, amati pembicaraan klien,
aktivitas motorik klien, alam perasaan klien (sedih, takut, khawatir), afek
klien, interaksi selama wawancara, persepsi klien, proses pikir, isi pikir,
tingkat kesadaran, memori, tingkat konsentrasi dan berhitung, kemampuan
penilaian dan daya tilik diri.

10. Kebutuhan persiapan Pulang.

a. Kemampuan makan klien


b. Klien mampu BAB dan BAK
c. Mandi atau kebersihan diri klien
d. Istirahat dan tidur klien
e. Pantau penggunaan obat dan tanyakan reaksi yang dirasakan setelah
minum obat
f. Pantau kemampuan keluarga dalam pemberian terapi dirumah seperti
memupuk rasa percaya sehingga pasien tidak kambuh lagi.

11) Pengetahuan

Data didapat melalui wawancara dengan klien.

12) Aspek medik


Seperti data yang didapat dari pengkajian klien meliputi :

a) Data subyektif
Klien mengatakan tidak mampu mengambil/membuat keputusan, klien
mengatakan mempunyai kekuatan super dan maha kuasa, klien
mengatakan merasa takut dan perasaan tidak nyaman, merasa cemas, klien
mengatakan sulit untuk tidur, isi pembicaraan tidak sesuai dengan
kenyataan Klien mengatakan dirinya orang besar, mempunyai kekuatan
yang luar biasa, pendidikan yang tinggi, kekayaan yang melimpah, dikenal
dan disukai banyak orang, klien mengatakan merasa tidak takut, perasaan
tidak nyaman, merasa cemas, klien mengatakan sulit untuk tidur, klien
mengatakan perasaan mengenal penyakit yang ada dalam tubuhnya
dikirim oleh orang lain, klien mengatakan perasaan tidak malu untuk
bergaul bersama orang lain, klien mengatakan sering menceritakan
masalahnya pada orang lain.
b) Data obyektif
Klien kadang - kadang tampak panik, tidak mampu untuk
berkonsentrasi, waham atau ide-ide yang salah, ekspresi muka kadang
sedih, kadang - kadang gembira, tidak mampu membedakan khayalan dan
kenyataan, sering tidak memperlihatkan kebersihan diri, gelisah, tidak bisa
diam (melangkah bolak - balik) mendominasi pembicaraan, mudah
tersinggung, Menolak makan dan minum obat, jarang mengikuti atau mau
mengikuti kegiatan- kegiatan sosial, penampilan kurang bersih, sering
terbangun pada dini hari, tatapan mata tajam, selalu mempertahankan
pendapat dan kebenaran dirinya.Usaha bunuh diri atau membunuh orang
lain, menolak makan atau minum obat, tidak ada perhatian terhadap
asuhan mandiri, ekspresi muka sedih/gembira, ketakutan, gerakan tidak
terkontrol mudah tersinggung, isi pembicaraan tidak sesuai kenyataan,
tidak bisa membedakan antara yang nyata dengan yang tidak nyata,
menghindar dari orang lain, mendominasi pembicaraan, berbicara kasar,
kegiatan keagamaan secara berlebihan.

c) Rumusan masalah
Dari pengkajian yang dilakukan pada klien dengan waham, rumusan
masalah yang lazim muncul pada klien dengan gangguan proses pikir
yaitu :
(1) Gangguan isi pikir: waham.
(2) Harga diri rendah
(3) Isolasi sosial
(4) Defisit perawatan diri
(5) Risiko perilaku kekerasan
(6) Regimen terapeutik tidak efektif

Analisa Data
Tabel 1
Masalah
NO Data Subyektif Data Obyektif
Keperawatan

1 Gangguan isi 1. Klien mengatakan dirinya 1. Klien kadang kadang


piker: waham orang besar, mempunyai tampak panik, tidak
kekuatan yang luar biasa, mampu untuk
pendidikan yang tinggi, berkonsentrasi
kekayaan yang melimpah, 2. waham atau ide-ide yang
dikenal dan disukai salah, ekspresi muka
banyak orang. kadang sedih, kadang -
2. klien mengatakan merasa kadang gembira, tidak
tidak takut, perasaan tidak mampu membedakan
nyaman, merasa cemas, khayalan dan kenyataan,
klien mengatakan sulit
untuk tidur
2 Harga diri 1. Mengungkapan ingin 1. Tidak mau makan dan
rendah diakui jati dirinya tidak tidur
2. Mengungkapkan tidak ada 2. Perasaan malu
lagi yang peduli 3. Tidak nyaman jika jadi
3. Mengungkapkan tidak bisa pusat perhatian
apa-apa
4. Mengungkapkan dirinya
tidak berguna
5. Mengkritik diri sendiri
6. Pasien mengatakan malu
7. Klien malu bertemu dan
berhadapan dengan orang
lain
3 Isolasi sosial 1. Mengungkapkan enggan 1. Ekspresi wajah kosong
berbicara dengan orang 2. Tidak ada kontak mata
lain ketika diajak bicara
2. Klien tidak mau 3. Suara pelan dan tidak
mengungkapkan jelas
perasaannya 4. Menarik diri dari
hubungan sosial
5. Klien sering duduk
sendiri
6. Klien hanya berbicara
bila hanya ditanya,
jawaban singkat
4 Defisit 1. Mengungkapkan tidak 1. Badan bau
perawatan diri pernah mandi 2. Pakaian kotor
2. Mengungkapkan tidak 3. Rambut dan kulit kotor
pernah menyisir rambut 4. Kuku panjang dan kotor
3. Mengungkapkan tidak 5. Gigi kotor dan mulut bau
pernah menggosok gigi 6. Penampilan tidak rapi
4. Mengungkapkan tidak 7. Tidak bisa menggunakan
pernah memotong kuku alat mandi
5. Mengungkapkan tidak
pernah berhias
6. Mengungkapkan tidak bisa
menggunakan alat
mandi/kebersihan diri
5. Risiko 1. Klien mengatakan benci 1. Mata merah, wajah agak
Perilaku atau kesal pada seseorang. merah.
Kekerasan 2. Klien suka membentak 2. Nada suara tinggi dan
dan menyerang orang yang keras, bicara menguasai:
mengusiknya jika sedang berteriak, menjerit,
kesal atau marah. memukul diri
3. Riwayat perilaku sendiri/orang lain.
kekerasan atau gangguan 3. Ekspresi marah saat
jiwa lainnya. membicarakan orang,
pandangan tajam.
4. Merusak dan melempar
barang barang.
6 Regimen 1. Keluarga pasien 1. Pasien kambuh setelah
terapiutik mengatakan pasien tidak beberapa kali datang ke
tidak efektif mau makan dan minum rumah sakit jiwa
obat 2. Pasien tidak terlalu dekat
2. Pasien tidak ada perhatian dengan keluarganya
terhadap perawatan
mandiri dirumah

Pohon masalah
Pohon masalah adalah tehnik atau diagram untuk mengidentifikasi masalah
dalam situasi tertentu dengan mengedepankan hubungan sebab - akibat.

effect Risiko Perilaku Kekerasan

Gangguan Isi Pikir: Waham


Deficit Perawatan
Core Problem Diri : Mandi

Isolasi Sosial

Harga Diri Rendah


Causa
Bagan 2. Pohon masalah gangguan isi pikir : waham
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang umum muncul pada klien dengan gangguan proses
pikir yaitu:

a. Gangguan isi pikir: waham.


b. Harga diri rendah
c. Isolasi sosial
d. Defisit perawatan diri
e. Risiko perilaku kekerasan
f. Regimen terapiutik tidak efektif

3. Perencanaan

Rencana keperawatan klien Gangguan Proses Pikir : Waham


Dalam bentuk Strategi Pelaksanaan

Adapun tindakan keperawatan yang lazim dilakukan pada klien dengan


waham kebesaran antara lain :

Tabel 2

N Klien Keluarga
SPIP SPIK
o
1. Membantu orientasi realita Mendiskusikan masalah yang dirasakan
keluarga dalam merawat pasien

2. Mendiskusikan pasien Menjelaskan pengertian, tanda dan gejala


memenuhi kebutuhannya waham, dan jenis yang dialami pasien
besera proses terjadinya.

3. Membantu pasien memenuhi Menjelaskan cara-cara merawat pasien


kebutuhannya waham
Menganjurkan pasien

4. Memasukkan dalam jadwal


kegiatan harian
SP2P SP2K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Melatih keluarga mempraktikkan cara
harian pasien merawat pasien dengan waham

2. Berdiskusi tentang Melatih keluarga mempraktikkan cara


kemampuan yang dimiliki merawat langsung kepada pasien waham

3. Melatih kemampuan yang


dimiliki
SP3P SP3K
1. Mengevaluasi jadwal kegiatan Membantu keluarga membuat jadwal
harian pasien. aktivitas di rumah termasuk minum obat
(discharge planning)
2. Memberikan pendidikan Menjelaskan follow up pasien setelah
kesehatan tentang penggunaan pulang.
obat secara teratur
Menganjurkan pasien
3. memasukkan dalam jadwal
kegiatan.

4. Implementasi (Pelaksanaan)
Pelaksanaan tindakan keperawatan dilaksanakan sesuai dengan rencana tindakan
keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang telah direncanakan perawat perlu
menvalidasi dengan singkat apakah rencana tindakan masih dibutuhkan klien sesuai
dengan kondisinya saat ini. Pelaksanaan terdiri dari lima aspek, yaitu diagnosa,
pelaksanaan, evaluasi, modifikasi dan paraf.
5. Evaluasi
Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai respon dan efek dari tindakan
keperawatan klien. Evaluasi dilaksanakan secara terus menerus, membandingkan
respon klien dengan kriteria hasil yang telah ditemukan. Evaluasi dapat ditentukan
dengan menggunakan pendekatan SOAP (S : respon subyektif klien, O : respon
obyektif klien yang dapat diobservasi oleh perawat, A : analisa ulang atas data
subyektif dan obyektif untuk menyimpulkan apakah masalah tetap atau muncul
masalah baru. P : bila ada masalah baru rencanakan kembali untuk intervensi
selanjutnya).
Hasil yang diharapkan pada klien dengan gangguan isi pikir: waham adalah :
1) Klien dapat membina hubungan saling percaya
2) Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
3) Klien dapat mengidentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi.
4) Klien dapat berhubungan dengan realistis
5) Klien mendapat dukungan keluarga.
6) Klien dapat menggunakan obat dengan benar.

Daftar Pustaka:

http://nsyadi.blogspot.com/2012/01/terapi-somatik.html#sthash.5062L6Id.dpuf

http://www.academia.edu/8866436/TERAPI_MODALITAS

http://www.academia.edu/5112195/KOMUNIKASI_TERAPEUTIK_PADA_GANGGUAN_
JIWA

http://fkep.unand.ac.id/images/PERAN_PERAN_PERAWATTERAPI_SOMATIK_DAN_PSI
KOFARMAKA.ppt