Anda di halaman 1dari 8

Hubungan Pancasila dengan Pajak

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Pajak merupakan sumber pendapatan utama sebuah negara, karena itu merupakan isu
strategis yang selalu menjadi pantauan masyarakat. Apalagi sekarang telah dilakukan
pembahasan RUU Pajak yang baru yang akan menggantikan UU No. 16/2000 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan.
Urgensi pajak bagi kelangsungan pembangunan tak lagi disangsikan. Karena itu wajar jika
pemerintah terus berupaya menggali berbagai potensi tax coverage (lingkup/cakupan pajak)
sekaligus menekankan tax compliance (kepatuhan pajak) dari masyarakat. Namun demikian,
kepatuhan pajak yang bersumber dari kesadaran masyarakat terhadap penunaian kewajiban
membayar pajak itu tentu bukan sesuatu yang berdiri sendiri. Berbagai persoalan perpajakan
yang kerap muncul, baik yang bersumber dari wajib pajak (masyarakat), aparatur pajak
(fiscus), maupun yang bersumber dari sistem perpajakan itu sendiri menunjukkan bahwa
persoalan pajak merupakan hal yang kompleks. Oleh karena itu, penanganannya perlu
diupayakan secara maksimal.
Pajak merupakan perwujudan dari kewajiban kenegaraan dan peran serta Wajib Pajak untuk
secara langsung dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan untuk pembiayaan
negara dan pembangunan nasional. Sesuai falsafah undang-undang perpajakan, membayar
pajak bukan hanya merupakan kewajiban, tetapi merupakan hak dari setiap warga Negara
untuk ikut berpartisipasi dalam bentuk peran serta terhadap pembiayaan negara dan
pembangunan nasional. Tanggung jawab atas kewajiban pembayaran pajak, sebagai
pencerminan kewajiban kenegaraan di bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat
sendiri untuk memenuhi kewajiban itu.
Berbagai upaya untuk menciptakan masyarakat agar memiliki apresiasi yang baik terhadap
kewajiban membayar pajak tidak terpaku pada wajib pajak belaka, tapi perlu
mempertimbangkan aspek-aspek lainnya secara korelatif. Dengan pertimbangan yang
simultan, solusi alternatif yang signifikan akan lebih memungkinkan. Dari begitu banyak dan
keanekaragaman hak dan kewajiban wajib pajak, salah satunya adalah wajib pajak orang
pribadi yaitu orang yang memperoleh penghasilan baik sebagai seorang direktur dari satu,
beberapa, atau bahkan ratusan perusahaan atau seorang pemegang saham atau komisaris atau
pegawai menengah atau pegawai rendah atau pekerja mandiri.

BAB II
RUMUSAN MASALAH

Pajak adalah utang anggota masyarakat kepada masyarakat itu sendiri, dan di Indonesia
falsafah pajak adalah Pancasila dan sila silanya dijabarkan dalam undang undang pajak.
Pajak yang dipungut oleh pemerintah harus berdasarkan undang undang dan hal ini
dilaksanakan berdasarkan sumber hukum formal pajak yang terdapat dalam pasal 23 ayat (2)
UUD 1945 Republik Indonesia yang menyatakan : Segala pajak untuk kegunaan kas negara
berdasarkan undang undang dan juga cerminan dari sila ke empat Pancasila.
Yang mana sifat daripada pajak merupakan peralihan kekayaan dari rakyat kepada
pemerintah yang tidak ada imbalannya yang secara langsung dapat ditunjuk, namun karena
sifat pajak yang seperti inilah maka pajak dalam kata sehari - hari hampir menyerupai
perampasan, perampokan atau pemberian hadiah, sehingga untuk memberikan paying hukum
kepada kegiatan pemungutan pajak maka harus mendapat persetujuan dari rakyat yang mana
dengan membentuk Undang Undang pajak tersebut, namun kenapa harus Undang Undang
hal ini dikarenakan Undang Undang merupakan Produk dari Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) RI yang dipilih secara langsung dan demokrasi oleh rakyat, sehingga apa yang dibuat
dan disetujui oleh DPR maka dianggap rakyat juga setuju. Namun penerimaan uang pajak
tersebut harus digunakan untuk membiayai kepentingan umum yang diklasifikasikan kedalam
pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan.
Dan untuk mengetahui bagaimana penggunan uang pajak tersebut dijalankan maka
Pemerintah membuat rancangan APBN yang diajukan kepada DPR untuk mendapat
pengesahan dan dituangkan dalam bentuk undang undang, dan kemudian pemerintah
diwajibkan membuat laporan pertanggungjawaban atas penggunaan APBN tersebut untuk
mendapat pengesahan dari DPR dan dimuat dalam undang undang formal.
Dalam pajak ada juga pengecualian, hal ini berdasarkan pada sila kelima Pancasila yang
menyatakan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sehingga pengenaan pajak
harus berdasarkan pada rasa keadilan, sehingga anak anak, wanita dan tidak mempunyai
penghasilan atau pendapatannya berada dibawah pendapatan rata rata yang ditentukan PPh
maka tidak dikenakan pajak. Dan bagi mereka diluar dari hal tersebut haruslah wajib
membayar pajak yang mana hal ini sebenarnya hampir sama dengan zakat.
Pajak dapat dipaksakan dan bersanksi denda dan/ atau sita sedangkan zakat sanksi berupa
Dosa yang akan diperhitungkan saat kita di akhirat bagi mereka yang percaya akan Tuhan dan
cerminan dari sila kesatu Pancasila. Karena sifat pajak yang dapat dipaksakan maka agar
kemanusian yang adil dan beradab yang merupakan cerminan dari sila kedua Pancasila maka
undang undang yang merupakan payung hukum dari pajak haruslah dirancang dan susun
secara hati hati, adil dan lain-lain

BAB III
PEMBAHASAN

1. Beberapa ahli memberikan pengertian antara pajak antara yang satu dengan yang
lainnya.

Diantara beberapa pengertian yang diberikan oleh para ahli adalah sebgai berikut.
a) Menurut Sommerfeld: pajak adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan
dari sektor swasta kepada sektor pemerintah berdasarkan peraturan tanpa mendapat suatu
imabalan kemabali yang langsung dan seimbang, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas
tugasnya dalam pemerintahan
b) Menurut Prof. DR. Rochmat Soemitro: pajak adalah pengalihan kekayaan dari pihak
rakyat kepad negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk
public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment. Dari
pengertian itu dapat disimpulkan unsur-unsur yang terdapat dalam pajak ialah:
Pajak dipungut berdasarkan undang-undang serta aturan pelaksananya;
Sifatnya dapat dipaksakan, hal ini berarti bahwa pelanggaran atas iuran perpajkan dapat
dikenakan sanksi;
Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukan adanya kontra[restai secara langsung oleh
pemerintah;
Pajak dipungut oleh Negara baik pemerintah pusat maupun daerah;
Pajak diperuntukkan bagi pengeluaran-pengeluaran pemerintah, yang bila dari
pemasukannya masih surplus, dipergunakan untuk membiayai public investment.
2. Makna sila kemanusiaan yang adil dan beradab ( sila kedua )

Pokok pikiran dari sila kemanusiaan yang adil dan beradap sbb:
Menempatkan manusia sesuai dengan tempatnya sebagai mahluk tuhan,Maksudnya itu
mempunyai sifat universal.
Menjunjung tinggi kmerdekaan sebagai hak segala bangsa.ini juga universal,bila di terpkan
di indonesia barang tentu bangsa indonesia menghargai dari setiap warga negara dalam
masyarakat indonesia.sila ini mengandung prinsip menolak atau menjauhi suatu yang
bersumber pada ras.dan mengusahakannn kebahagiaan lahir dan batin.
Mewujudkan keadilan dan peradapan yang tidak lemah.yang dituju bangsa indonesia adalah
keadilan dan peradapan yang tidak pasif.,yaitu perlu pelurusan dan penegakan (hukum) yang
kuat jika terjadi penyimpangan.keadilan harus direalisasikan dalam kehidupan masyarakat.
Hak kebebasan dan kemerdekaan dijunjung tinggi.dengan adanya prisip ini jika dalam
masyarakat ada kelompok ras,kita tidak boleh bersifat ekslusif menyendiri satu sama lain.Di
indonesia dasar hidup masyarakat persatuan dan kesatuan yang jika di hubungkan dengan
prinsip kemanusiaan itu,maka rasionalismeharus tidak ada.oleh karena itudi indonesia
diharapkan selalu tumbuh dan berkembang kebahagiaan lahir dan batin.
Mewujudkan keadilan dan peradapan yang tidak lemah berarti diusahakan perwujudannya
secara positif.jika ada hal yang menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai yang
berlaku,harus dilakukan tindakan yang setimpal.Prinsip manusia adalah nilai-nilai yara di
masyarakat indonesia sudah terpelihara sejak dahulu.nilai itu di perkuat dengan datangnya
agama besar di indonesia dan di anut bangsa indonesia.suasana demikian itu menumbuhkan
suasana keakrapan,walaupun pada masa dahulu semangat ini mulai kendor,karena fenomena
disintregasi yang menampilkan konflik yang disertai dengan tindakan anarkis kekerasaan,dan
tindakan yang merendahkan martabat manusia.landasan kehidupan masyarakat indonesia
beranjak dari senasib dan sepenanggungan dan kemanusiaan dalam arti luaspersaudaraan
dalam arti luas dan meneruskan kebiasaan setia secara mufakat.

A. Ketentuan Umum

Subjek pajak tidak dapat disamakan dengan wajib pajak, dalam UU No.16 tahun 2000 pasal 1
huruf (a) dikatakan bahwa wajib pajak sebagai orang atau badan yang menurut ketentuan
peraturan perundang- undangan perpajakan, ditentukan melakukan kewajiban pajak, dan
pasal 2 ayat (1) UU PPh menentukan yang menjadi subjek PPh adalah orang pribadi, warisan
yang belum terbagi, badan dan bentuk usaha tetap yang memenuhi syarat syarat subjektif
dan sekaligus menjadi wajib pajak jika memenuhi syarat syarat objektif.
Pajak memiliki masa pajak sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang yang
kurang dari satu tahun atau 12 bulan berturut turut dan khusus orang luar negeri menurut
traktat menyatakan dalam waktu lebih 183 hari berada di Indonesia dianggap sebagai wajib
pajak dalam negeri. Dan untuk mengetahuinya ada surat pemberitahuan yang oleh wajib
pajak digunakan untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang sesuai
peraturan perpajakan. Dan dalam surat pemberitahuan masa atau SPT untuk memberitahukan
pajak yang terutang dalam suatu masa/ bagian dari satu tahun. Kemudian ada surat
pemberitahuan tahunan mengenai pemberitahuan data yang relevan dan jumlah pajak yang
terutang dalam satu tahun pajak hanya untuk PPh, ada juga surat setoran pajak yang
digunakan melakukan pembayaran pejak yang terutang dikas Negara, dan surat tagihan pajak
(STP) untuk melakukan tagihan pajak dan/ atau untuk menagih sanksi yang berupa bunga
atau denda administrasi, kemudian ada surat ketetapan pajak yang menetapkan besarnya
jumlah pajak yang terutang dan jumlah pajak yang harus dibayar, dan selanjutnya ada surat
ketetapan pajak tambahan (SKPT) yang menambah kumlah pajak yang telah ditetapkan
dalam surat ketetapan pajak, dan ada juga surat keputusan kelebihan pembayaran pajak
(SKKPP) yang menentukan kelebihan pembayaran pajak yang telah dibayar/ dipotong/
dipungut karena pajak yang telah dibayar, dipotong/ dipungut lebih besar dari pajak yang
terutang. Dan ada surat pemberitaan dari Direktorat jenderal pajak kepada wajib pajak yang
memberitahu bahwa jumlah pajak yang terutang sama besarnya dengan jumlah pajak yang
sudah dibayar. Dan ada juga pajak yang terutang yang mana harus dibayar pada suatu saat
dalam masa tahun pajak sesuai dengan peraturan pajak.
Ada juga berupa surat paksa yang berbentuk ketetapan/ beschiking untuk membayar pajak
sesuai dengan peraturan pajak yang mengaturnya, dan ada berupa kredit pajak untuk
memperhitungkan jumlah pajak yang telah dibayar sendiri oleh wajib pajak dengan pajak
yang terutang, dan kemudian ada pekerjaan bebas (profesi) yang mana pekerjaan bebas yang
dilakukan seseorang yang mempunyai keahlihan khusus dalam suatu bidang tertentu sebagai
usaha untuk memperoleh penghasilan yang tidak terikat dalam suatu hubungan kerja, dan
yang terakhir adalah tindakan pemerikasaan yang dilakukan oleh petugas perpajakan dalam
ragka melaksanakan pemeriksaan terhadap wajib pajak untuk mencari bahan bahan guna
perhitungan jumlah pajak yang terutang dan jumlah pajak yang harus dibayar.

B. Subjek Pajak dan Wajib Pajak

Dalam hal subjek pajak terbagi atas beberapa bagian yakni subjek pajak dalam negeri, subjek
pajak luar negeri (pasal 2 ayat (4) UU No. 17 tahun 2000 yang bermula dan berakhirnya
subjek pajak tidak ditentukan dalam undang undang melainkan ditentukan dalam
penjelasan. Warisan yang belum terbagi mulai menjadi subjek pajak penghasilan pada saat
timbulnya warisan, yakni pada saat pewaris meninggal dunia, dan pada subjek badan usaha
milik Negara / daerah, yayasan, koperasi dan bentuk usaha tetap yang juga merupakan subjek
pajak pada saat badan usaha milik Negara/ daerah, yayasan, koperasi dan bentuk usaha tetap
tersebut didirikan dan berdomisili di Indonesia.
Dan kemudian dalam hal wajib pajak hampir sama dengan subjek pajak dimana terdapat
wajib pajak dalam negeri dan wajib pajak luar negeri yang mana harus memenuhi syarat
syarat objektif.

C. Objek Pajak

Yang dapat dijadikan objek pajak sangatlah banyak baik itu keadaan, perbuatan maupun
peristiwa. Dan objek pajak ada yang objek pajak langsung yang dikenakan pda objek dapat
dipengaruhi keadaan wajib pajak dan objek pajak tidak langsung tidak dipengarui oleh
keadaan wajib pajak tetapi objek pajak saja yang menentukan. Objek pajak haruslah
didefenisikan dengan tepat dan jelas sehingga tidak menimbulkan penafsiran lain diluar
peraturan perundang undangan, dan objek pajak yang pernah berlaku di Indonesia terdiri
dari :
1. Objek pajak pendapatan (Ordonansi PPd 1944, stb 1944 No.17)
2. Objek pajak perseroan (Pasal 1 dan 3 Ordonansi 1925, stb 1925 No. 319)
3. Objek pajak penghasilan ( Undang Undang No. 7 Tahun 1983, LN 1983 No. 50)
4. Objek pajak kekayaan (Stb. 1932 No.405) tidak berlaku lagi mulai 01-01-1986
5. Objek pajak penjualan (pajak tidak langsung, Undang Undang No.19 Drt. Tahum 1951,
LN 1951 No.94) tidak berlaku lagi
6. Objek pajak pertambahan nilai (Undang Undang No. 8 tahun 1983)
7. Objek pajak rumah tangga (Stb. 1908 No.13) tidak berlaku lagi mulai 01-01-1986
8. Objek pajak kendaraan bermotor (Stb. 1934 No.718)
9. Objek bea balik nama kendaraan bermotor (Perpu No. 27 tahun 1959 No.144)
10. Objek pajak anjing (lembaran kotapraja Jakarta raya No. 24 tahun 1959) pajak sepeda
(lembaran kotapraja Jakarta raya no. 6 tahun 1958)
11. Objek pajak jalanan (lembaran kotapraja Jakarta raya No. 25 tahun 1959) tidak berlaku
lagi mulai 01-01-1986

D. Lembaga Perpajakan, Unsur Pajak dan Lembaga Administrasi Pajak

Pembuatan undang undang pajak merupakan lembaga yang berdiri sendiri dan
berkesinambungan sepanjang masa, selalu bekerja dalam membuat pajak baru, mengadakan
perubahan perundang undangan pajak atau menghapuskan pajak pajak yang lama dan
dibuat penjelasannya guna mendapat kejelasan dan kepastian hukum. Dan agar Negara dapat
mengenakan pajak dengan tepat diperlukan data data dari wajib pajak, baik mengenai
objeknya maupun subjeknya disamping undang undang yang bersangkutan.
Dan untuk mencegah penyeludupan data tersebut Direktorat jenderal pajak membentuk
lembaga pengumpulan data yang pada waktunya dapat digunakan untuk mengadakan
pengecekan kebenaran surat pemberitahuan wajib pajak. Yang mana surat pemberitahuan
pajak (SPT) merupakan alat untuk realisasi kerja sama antara wajib pajak dan administrasi
pajak dan kemudian diolah dan dikeluarkannya surat ketetapan pajak dan proses ini
dilakukan lembaga pemberitahuan pajak, namun tidak semua hutang pajak mempunyai surat
ketetapan pajak (SKP).
Pajak juga mempunyai Lembaga keberatan pajak yang menjadi saran dan saluran hukum
yang member kesempatan kepada wajib pajak untuk mencari keadilan apabila ia merasa
bahwa dirinya diperlakukan tidak sebagaimana mestinya dan tidak diberlakukan adil oleh
pihak administrasi pajak. Selain itu ada juga lembaga peradilan pajak yang memberikan
perlindungan pada wajib pajak.
Hukum pada umumnya memaksa karena hukum tanpa sifat paksa tiada gunanya, dan dalam
hukum pajak yang merupakan hukum public alat paksa tersebut dapat diterpakan secara
langsung tanpa ada proses pesidangan di pengadilan inilah yang disebut parate executie, yang
mana kepala inspeksi pajak dapat mengeluarkan surat paksaan tentang penagihan hutang
pajak. Namun dalam pajak ada juga pengawasan yang sangat penting dalam manajemen
perpajakan. Dan pajak akan terealisasi jika ada lembaga pelaksananya, dan pada dasarnya
disebut dengan administrasi pajak, yang merupakan bagian dari Departement keuangan yang
terdiri dari Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

PENUTUP

1. Kesimpulan

Berdasarkan pada sila kelima Pancasila yang menyatakan Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Rakyat Indonesia, jadi pajak harus mengaacu terhadap sila-sila yang berlaku di negeri ini,
agar supaya masyarakat di indonesia bisa merasakan manisnya hidup di tanah air tercinta ini.
Maka dengan pembayaran wajib pajak setidaknya harus lebih fokus pada orang-orang yang
berpenghasilan di atas rata-rata. Supaya keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia benar-
benar menjadi bukti bahwa pancasila itu mementingkan pihak yang lemah dan yang paling
membutuhkan.

2. Saran-saran
a. Agar indonesia mendahulukan masyarakat yang lemah, demi membangun indonesia lebih
maju
b. Agar pembayaran pajak di hususkan bagi kalangan menengah ke atas
c. Apabila masyarakat yang kurang mampu tidak membayar pajak, sanksinya di tiadakan
d. Pemerintah seharusnya membuat UU tentang perlindungan pajak bagi orang tidak
mampu
e. Bagaimana pancasila di korelasikan dengan UU yang akan di berlakukan.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA

- Pandiangan, Liberti. 2002. Undang-Undang Perpajakan Indonesia,Erlangga,


Soemitro, Rocmat.1991. Pajak Ditinjau Dari SegiHukum, PT Eresco, Bandung
- Soemitro, Rochmat. 1992. Pengantar Singkat Hukum Pajak, PT Eresco, Bandung
Muqodim, 2000. Perpajakan Buku Satu, UII Press dan Ekonesia , Jogyakarta
Brotodiharjo Santoso R, 1993. Pengantar Ilmu Hukum Pajak, PT Eresco, Bandung
- Alrasid,Harun. Naskah UUD 1945, 2003. Universitas Indonesia, UII Press
Hostaritua, Situmorang. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 Tentang Pajak Penghasilan

Minggu, 19 Februari 2012


Falsafah Pajak

Posted by zia we tyas at 06.12

Pancasila sebagai falsafah negara merupakan landasan idiil dari pungutan


pajak. Pancasila yang bersifat kekeluargaan dan kegotong royongan sudah
terjelma dalam peraturan perpajakan. Pajak-pajak yang digunakan untuk
membiayai pengeluaran-pengeluaran untuk kepentingan masyarakat umum
sudah nyata berdasarkan kegotong royongan dan kekeluargaan. Gotong royong
yang mengandung sifat secara bersama melakukan usaha atau membiayai
kepentingan umum, tanpa secara langsung mendapatkan imbalan tersimpul
dalam pengertian pajak. Rasa kekeluargaan menimbulkan pengertian dan
kesukarelaan pada setiap bangsa Indonesia untuk ikut serta dalam pembiayaan
untuk kepentingan umum. Pancasila mendapatkan penjabarannya dalam pajak-
pajak, Karena pajak itu tidak lain daripada penjelmaan kekeluargaan dan
kegotong royongan rakyat, dimana rakyat memberikan baktinya berupa uang
dengan tiada mendapatkan imbalan yang secara langsung dapat ditunjuk, yang
digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengluaran untuk kepentingan
masyarakat umum, yang akhirnya juga mencakup kepentingan individu.

PENJABARAN SILA PANCASILA DALAM PERPAJAKAN

Hubungan Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa dengan pajak adalah
bahwa pajak yang dipungut oleh negara merupakan ciptaan manusia, tidak
bertentangan dengan ketuhanan, karena dalam alquran atau kitab suci lainnya,
Tuhan juga memerintahkan manusia untuk membayar zakat atau
sepersepuluhan untuk digunakan bagi kepentingan orang-orang yang miskin
atau untuk kepentingan masyarakat umum tanpa mendapatkan imbalan secara
langsung.

Sila Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, tersirat dalam segi yuridis
dari pajak. Pajak selain harus memenuhi keadilan juga harus sesuai dengan
peradaban manusia. Keadilan yang merupakan salah satu syarat yuridis dari
pajak tercermin dalam prinsip non-diskriminasi, prinsip daya pikul, artinya bahwa
orang dalam keadaan yang sama harus dikenakan pajak yang sama, dan tidak
dibenarkan mengadakan perlakukan yang berlainan terhadapnya,tidak pandang
bangsa, golongan, aliran, ideologi dan lain sebagainya. Kemanusiaan artinya
bahwa perlakukan wajib harus secara manusiawi tidak boleh melanggar HAM dan
harus layak bagi manusia dan tindakan sewenang-wenang terhadap wajib pajak
harus dihindarkan.

Sila Ketiga, Persatuan Indonesia dijabarkan dalam pajak-pajak karena


pajak merupakan sumber keuangan utama untuk mempertahankan persatuan
yang telah diproklamairkan, karena hidup suatu bangsa tergantung pada adanya
pendapatan negara yang merupakan jiwa untuk kelangsungan dan
kesinambungan hidup bangsa.

Sila Keempat, Kerakyatan Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan/ Perwakilan, dimana hal ini tertera dalam pasal 23 ayat 2 UUD
1945 yang menyebutkan bahwa semua pajak untuk kegunaan kas Negara
berdasarkan UU. Kerakyatan mengandung arti bahwa rakyat ikut menentukan
adanya pungutan yang disebut pajak. Rakyat dalam ikut menentukan pajak-
pajak tidak bertindak secara langsung, melainkan melalui wakil-wakilnya dalam
DPR yang dipimpin secara langsung dan demokratis oleh rakyat sendiri.

Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, sudah terjabar
dalam pajak-pajak. Pajak merupakan suatu alat untuk pembiayaan masyarakat,
yaitu untuk membiayai pengeluaran untuk kepentingan masyarakat umum.
Pembangunan yang sebagian besar dibiayai dari hasil pajak dinikmati oleh
seluruh rakyat Indonesia, tidak melihat apakah rakyat itu turut membayar pajak
atau tidak. Pemerataan pembangunan yang dibiayai oleh dengan pajak
dilaksankan melalui 8 jalur pemerataan:

1. Pemerataan kebutuhan pokok rakyat, khususnya pangan, sandang, perumahan.


2. Pemerataan kesempatan memperoleh
3. Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khusunya generasi
muda dan kaum wanita
4. Pemertaan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air
5. Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan
6. pendidikan dan pelayanan kesehatan
7. Pemerataan pembagian pendapatan
8. Pemerataan kesempatan kerja
9. Pemerataan kesempatan berusaha