Anda di halaman 1dari 9

Profesi Akuntansi

Tugas Mata Kuliah

Auditing 1

Oleh:

Gigih Devanta Widhyarsa

150810301132

Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Jember

Tahun 2017
PENJELASAN

Pentingnya profesi akuntansi dibahas adalah untuk memahami dan


mendalam i dari istilah profesi akuntansi beserta lingkungannya yang
beragam. Di dalam bab ini istilah profesi akuntansi tersebut dibatasi
dalam arti sempit, yakni profesi akuntan publik.

Ada banyak pendekatan untuk mengenal suatu profesi, termasuk


profesi akuntansi. Pendekatan-pendekatan ini akan disinggung dalam
judul berikut, dengan menunjuk bacaan yang lebih terinci.

Dalam hal ini kita dapat mempelajari lebih dalam apa yang dimaksud
dengan profesi akuntansi melalui gambaran mengenai profesi yang
dapat dilihat secara global, regional (dalam hal Indonesia, kawasan
ASEAN), dan nasional. Pembahasan dalam ringkasan ini menekankan
data kuantitatif dan kualitatif.

PEMBAH AS AN

A. Pengertian

Pengertian profesi akuntansi adalah dalah semua bidang


pekerjaan yang mempergunakan keahlian di bidang akuntansi , termasuk
bidang pekerjaan akuntan publik, akuntan intern yang bekerja pada
perusahaan industri, keuangan atau dagang, akuntan yang bekerja di
pemerintah, dan akuntan sebagai pendidik.

Dalam arti sempit, profesi akuntan adalah lingkup pekerjaan yang


dilakukan oleh akuntan sebagai akuntan publik yang biasanya terdiri dari
pekerjaan audit, akuntansi, pajak dan konsultan manajemen.

Profesi Akuntan biasanya dianggap sebagai salah satu bidang


profesi seperti organisasi lainnya, misalnya Ikatan Dokter Indonesia
(IDI). Supaya dikatakan profesi ia harus memiliki beberapa syarat
sehingga masyarakat sebagai objek dan sebagai pihak yang memerlukan
profesi, mempercayai hasil kerjanya. Adapun ciri profesi adalah sebagai
berikut:

1. Memiliki bidang ilmu yang ditekuninya yaitu yang merupakan


pedoman dalam melaksanakan keprofesiannya.
2. Memiliki kode etik sebagai pedoman yang mengatur tingkah laku
anggotanya dalam profesi itu.
3. Berhimpun dalam suatu organisasi resmi yang diakui oleh
masyarakat/pemerintah.
4. Bekerja bukan dengan motif komersil tetapi didasarkan kepada
fungsinya sebagai kepercayaan masyarakat.

Persyaratan ini semua harus dimiliki oleh profesi Akuntan sehingga


berhak disebut sebagai salah satu profesi.

B. Pendekatan

Pendekatan pertama yang digunakan ialah melihat apa yang


dikerjakan dan dihasilkan anggota profesi. Ini pendekatan yang
digunakan dalam materi tentang Jasa-jasa Akuntan Publik.

Pendekatan kedua ialah membandingkannya dengan okupansi yang


lain. Ini adalah pendekatan sosiologis. Profesi ditandai dengan
komunitas yang mengembangkan atiran-aturan internal. Adanya
komunitas ini, memungkinkan peninjauan sosiologis.

Dalam pendekatan ketiga, pengamat dan praktisi memaham i


pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan oleh lembaga yang
menetapkan standar profesi. Pernyat aan adalah alat komunikasi yang
sangat penting bagi suatu profesi. Melalui pronouncements atau
pernyataan anggota profesi mengetahui apa yang diharapkan dari
padanya, apa yang di wajibkan, apa yang diharamkan, apa yang
dianjurkan, dan seterusnya. Pihak- pihak luar profesi dapat menilai
perilaku anggota profesi dan kinerja mereka, dengan pernyataan
tersebut.
C. Peringkat Satu dan Dua

Istilah Peringkat Satu dan Dua dalam profesi akuntansi ini dikenal
sebagai the Big N (N di sini bisa diganti dengan angka 8, 7, 6, 5, dan 4)
pada peringkat pertama (first-tier accounting firms) dan kelompok
peringkat berikutnya (second-tier accounting firms).

Dalam kurun waktu hampir satu abad, profesi di Britania Raya dan
Amerika Serikat didom inasi oleh the Big 8.

1. Perubahan pertama terjadi melalui mega merger antara salah satu


the Big 8 dengan kelompok praktisi Belanda dan Jerman yang
bukan anggota the Big 8; mega merger ini menghasilkan KPMG
(1987).
2. Kurang dari dua tahun the Big 8 menjadi the Big 7, melalui mega
merger dari dua jaringan the Big 8; mega merger ini menghasilkan
Ernst & Young (1989).
3. Dalam tahun yang sama, terjadi mega merger dari dua jaringan
the Big 7, yang melahirkan Deloitte Touche Tohmatsu (1989). Dan
the Big 7 menjadi the Big 6.
4. Hampir satu dasawarsa sesudahnya, dan melalui gagal merger
antara Arthur Andersen dan Price Waterhouse di antaranya, terjadi
mega merger dari dua jaringan the Big 6 menjadi the Big 5.
5. Dengan kematian Arthur Andersen pada tahun 2002, the Big 5
menjadi the Big 4, sampai sekarang.

Dengan perubahan kurang dari satu dasawarsa, melalui Four


Weddings and a Funeral , profesi akuntansi mengalami perubahan besar
dalam satu abad.

D. Profesi Akuntan di ASEAN

Pembahasan mengenai profesi akuntan dalam arti luas, bukan hanya


akuntan publik, di ASEAN tidak terlepas dari Masyarakat Ekonomi
ASEA (MEA). Pembahasan tentang akuntan ASEAN, harus meliputi
semua jenis akuntan, bukan hanya akuntan publik. Bahkan, jasa
angkutan publik berupa jasa asuransi masih tertutup untuk tahun
pertama MEA 2015.
Tabel 1.1 menyajikan data akuntan ASEAN tahun 2014 (sembilan
negara). Tabel 1.2, data akuntan ASEAN tahun 2013 (sepuluh
negara).
Kedua tabel di bawah menunjukkan beberapa inkonsistensi.
Tabel 1.1 hanya menyajikan data sembilan negara ASEAN (tanpa
Myanmar), sedangkan Tabel 1.2, sepuluh negara (dengan Myanmar).
Dengan demikian angka total di Tabel 1.1 tidak mencerminkan total
akuntan ASEAN.

Tabel 1.1 Akuntan ASEAN Tahun 2014

ASOSI ASI AKUNTAN DAN NEG ARA


NO. JUMLAH
(KECUALI JELAS DARI N AMA ASO SI ASI)

Brunei Darussalam Institute of Certified Public


1. 49
Accountants (BICPA)

2. Ikatan Akuntan Indonesia (I AI) 17.920

Kampuchea Institute of Certified Public


3. 155
Accountants (KICPA)

Lao Institute of Certified Public Accountants


4. 176
(LICPA) Laos

5. Malaysian Institute of Accountants (MI A) 30.994

Malaysian Institute of of Certified Public


6. 595
Accountants (MICPA)

Phillippines Institute of Certified Public


7. 22.072
Accountants (PICPA)

Institute of Singapore Chartered Accountants


8. 28.869
(ISC A)

Federation of Accounting Professions (FAP)


9. 64.635
Thailand

10. Vietnam Association of Accountants (VAA) 8.000

Total 173.465
Tabel 1.2 Akuntan ASEAN Tahun 2013

ASOSI ASI AKUNTAN DAN NEG ARA


NO. JUMLAH
(KECUALI JELAS DARI N AMA ASO SI ASI)

Brunei Darussalam Institute of Certified Public


1. 56
Accountants (BICPA)

2. Ikatan Akuntan Indonesia (I AI) 14.735

Institut Akuntan Publik Indonesia (I API) 1.511

Kampuchea Institute of Certified Public


3. 284
Accountants (KICPA)

Lao Institute of Certified Public Accountants


4. 172
(LICPA) Laos

5. Malaysian Institute of Accountants (MI A) 29.654

Malaysian Institute of of Certified Public


6. @N A
Accountants (MICPA)

Phillippines Institute of Certified Public


7. 21.031
Accountants (PICPA)

Institute of Singapore Chartered Accountants


8. 26.572
(ISC A)

Federation of Accounting Professions (FAP)


9. 52.805
Thailand

10. Vietnam Association of Accountants (VAA) 8.000

Myanmar (M AC, Myanmar Accountancy Council &


11. MICPA, Malaysian Institute of of Certified Public 1.460
Accountants)

Total 156.280
Satu negara mungkin mempunyai lebih dari satu asosiasi. Di Tabel
1.1, Malaysia di wakili MIA dan MICPA; di Tabel 1.2 tidak ada
pemisahan.
Sebaliknya untuk Indonesia, Tabel 1.1 hanya menyajikan data IAI,
sedangkan Tabel 1.2 ada data akuntan IAI dan IAPI.

Ada data akuntan 2013 yang lebih banyak dari data 2014, lihat
misalnya Brunei Darussalam dan Kampuchea. Ini bisa saja terjadi,
misalnya anggota asosiasi di tahun 2013 keluar dari asosiasi
ditahun berikutnya.
Pertambahan akuntan di negara tertentu meningkat secara
signifikan. Ini mungkin dapat dijelaskan, misalnya jika negara
tersebut melaksanakan program akselarasi akuntan. Tapi bisa juga
mencerminkan ketidakakuratan data
Angka 2013 dan 2014 untuk Vietnam sama, dan bulat dalam angka
ribuan. Ini boleh jadi mencerminkan ketidakakuratan data.

Lepas dari kemungkinan tidak akuratnya data dalam kedua tabel di


atas, kita dapat menyim pulkan bahwa urutan lima besar negara ASEAN
sebagai berikut.
1) Thailand (di atas 64.000)
2) Malaysia (di atas 31.000)
3) Singapura (hampir 29.000)
4) Filipina (di atas 21.000)
5) Indonesia (hampir 18.000)

Namun, jika berbicara tentang potensi pasar jasa akuntan publik


(sisi permintaan), kita harus menyandingkannya dengan jumlah akuntan
publik sekitar 1.500-an (sisi pena waran), dan bukan angka 18.000.

Selain permintaan dan penawaran secara kuantitatif, kompetensi


kualitatif sangat berperan. Ini antara lain akan ditentukan oleh
kesetaraan pengakuan terhadap kualifikasi akuntan publik ASEAN dan
daya saing. Kesetaraan kualifikasi, merupakan paspor untuk
beroperasi di negara ASEAN lain. Di samping itu harus ada ketangguhan
bersaing di negara lain.

E. Profesi Akuntansi di Indonesia


Bacaan D (Profesi dan Pembinanya) dalam Bacaan Latar Belakang
di akhir buku Tuanakotta, T. M. 2015. Audit Kontemporer. Salemba
Empat, Jakarta, mencatat pengalaman Penulis buku tersebut ketika
mendirikan Ikatan Akuntan Indonesia Seksi Akuntan Publik (IAI
SAP), yang menjadi cikal bakal IAPI. Persaingan antar asosiasi profesi
akuntansi di Negeri Belanda, perpecahan di dalam profesi akuntansi di
Malaysia (MIA dan MICPA), dan adanya berbagi asosiasi dalam profesi
pengacara/penasihat hukum di Indonesia, membuat IAI di bawah
kepemimpinan Dr. Radius Prawiro, menegaskan bahwa asosiasi profesi
akuntansi (akuntan publik) harus berada di ba wah IAI.

Tentunya keadaan kemudia berubah, dan IAPI menjadi independen


dari IAI, namun hubungan antara kedua asosiasi ini tetap harmonis.

F. Professional Indemnit y Insurance

Asuransi untuk penguasaan profesional terasa asing bagi praktisi


kita. Dalam bahasa Inggris asuransi ini dikenal sebagai PII
(Professional Indemnit y Insurance). KAP yang merupakan member
fir m dari the Big Four mengikuti kebijakan kantor pusat, yakni
membayar PII di samping iuran keanggotaan (membership fee).
KAP tanpa afiliasi internasional umumnya tidak dilindungi dengan
PII. Pertama, karena ketidaktahuan mengenai hal ini. Kedua, sejauh
ini belum ada tuntutan hukum atau klaim ganti rugi dari pengguna
jasa akuntan publik. Ketiga, belum ada maskapai asuransi yang
memberikan PII di Indonesia. Masalah ini pernah dibahas antara IAI,
KAP, dan maskapai asuransi (Jasa Indonesia) ketika Dr. Radius
Prawiro memimpin IAI; namun, belum ada hasilnya sampai saat ini.
Salah satu pertahanan KAP adalah membentuk badan hukum yang
disebut LLP (lim ited liabilit y partnership). Tanpa LLP, rekan-rekan
dalam KAP berbentuk partnership (di Indonesia, persekutuan perdata
dan firma) bertanggung ja wab renteng. Dengan LLP, klien membuat
perikatan dengan partnership bukan rekannya.
LLP tentu bukan obat mujarab untuk segala resiko profesi. Banyak
LLP seakan terbang dalam cumolo nimbus di akhir abad ke-20 dan
awal abad ke-21. Namun pilot KAP Indonesia tetap menerbangkan
pesawat non-LLP dengan percaya diri penuh, tanpa PII.

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa profesi akuntansi


banyak dibutuhkan oleh setiap negara. Kerena profesi akuntansi
memiliki peran sebagai untuk menyediakan informasi keuangan yang
bermanfaat bagi banyak pengguna dalam pengambilan keputusan
ekonomik. Hal tersebut menerangkan bahwa betapa pentingnya profesi
akuntan dalam dinamika ekonomi global. Profesi akuntan dianggap
sebagai suatu urat nadi perekonomian glob al. Informasi yang dihasilkan
akan menjadi landasan utama setiap kebijakan ekonomi yang akan
diambil oleh pihak berkepentingan .

REFERENSI

1. Tuanakotta, T. M. 2015. Audit Kontemporer. Salemba Empat,


Jakarta.
2. Al Har yono Jusup . 2001. Auditing (Pengauditan), Buku 1, BP STIE
YKPN, Yogyakarta .