Anda di halaman 1dari 14

Bukti Audit dan Pengendalian Internal

Tugas Mata Kuliah

Auditing 1

Oleh:

Gigih Devanta Widhyarsa

150810301132

Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Jember

Tahun 2017
PENJELASAN

Pentingnya bukti audit dan pengendalian internal dibahas adalah


untuk memaham i dan mendalam i isi dari topik tersebut. Bukti audit
sangatlah bergantung pada kepentingan dan materialitas transaksi pada
proses bisnis inti entitas. Termasuk pengendalian internal juga memiliki
peranan yang sangat penting sebagai kebijakan dan prosedur yang
melindungi aktiva dari penyalahgunaan. Sistem Pengendalian Internal
dapat digunakan lebih efektif untuk mencegah penggelapan atau
penyimpangan. Pada suatu perusahaan, pengendalian internal sangat
dibutuhkan mengingat faktor-faktor yang meliputi luas dan entitas
perusahaan yang sangat kompleks. Hal ini mengakibatkan manajemen
harus percaya pada laporan-laporan serta analisis untuk operasi
pengendalian Internal yang efektif.

Dalam hal ini kita dapat mempelajari lebih dalam apa saja macam-
macam dari bukti audit dan apa saja pengendalian internal bagi suatu
entitas untuk dapat mencepai tujuan entitas tersebut.

PEMBAH AS AN

A. Bukti Audit

I. Pengertian
Bukti audit adalah semua informasi yang digunakan oleh auditor
dalam pembuatan kesimpulan (opini) dibuat. Bukti audit termasuk di
dalamnya adalah: (1). catatan akuntansi yang menghasilkan laporan
keuangan, dan (2). Informasi lainnya yang berhubungan/terkait
dengan catatan akuntansi dan pendukung alasan logis dari auditor
tentang laporan keuangan yang layak. Untuk itu, auditor harus
memperoleh bahan bukti audit yang cukup dan kompeten sebagai
dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Sebagai contoh,
catatan akuntansi termasuk di dalamnya :

Cek dan catatan transfer dana elektronik.


Faktur
Kontrak/perjanjian
Buku besar umum dan buku besar anak perusahaan.
Jurnal entri dan penyesuaian lain untuk laporan keuangan yang
tidak tercermin dalam jurnal entri resmi.
Terdapat lima asersi manajemen yang di jelaskan dalam GAAS
(Generally Accepted Auditing Standard), yaitu:
1. Eksistensi atau keterjadian (Existence or Occurrence)
2. Kelengkapan (Completeness)
3. Hak dan Ke wajiban (Rights and Obligations)
4. Penilaian atau alokasi (Valuation or Allocation)
5. Penyajian dan pengungkapan (Presentation dan Disclosure)
Adapun tujuan dari audit secara spesifik dibagi menjadi 3 kelompok,
yait u:
1). Tujuan audit berkait-transaksi.
Dimaksudkan untuk berfungsi sebagai kerangka kerja bagi auditor
dalam mengumpulkan bahan bukti kompeten yang cukup
dibutuhkan oleh standar pekerjaan lapangan dan memutuskan
bahan bukti yang pantas untuk dikumpulkan sesuai dengan
penugasan. Ada 5 tujuan audit yaitu:
Eksistensi
Tujuan ini berkenaan dengan apakah transaksi yang tercatat
memang secara aktual terjadi.
Kelengkapan
Tujuan ini menyangkut apakah seluruh transaksi yang
seharusnya ada dalam jurnal secara aktual telah
dimasukkan. Tujuan eksistensi dan kelengkapan mempunyai
penekanan yang berlawanan, sebab eksistensi berkaitan
dengan lebih saji (overstatement) dengankan kelengkapan
berkaitan dengan kurang saji (understatement).
Akurasi
Tujuan ini menyangkut keakuratan informasi untuk transaksi
akuntansi tercatat dengan nilai yang benar.

Cut-off
Tujuan ini untuk mencatat transaksi ke dalam periode
akuntansi yang benar.
Klasifikasi
Tujuan ini untuk mencatat semua transaksi sesuai dengan
kelompok dan golongan yang tepat.

2). Tujuan audit berkait-saldo


Tujuan dari audit berkait saldo diterapkan kepada saldo
akun, sedangkan tujuan audit berkait transaksi diterapkan
kepada jenis atau golongan transaksi. Tujuan audit berkait-
saldo terbagi menjadi:
Eksistensi
Tujuan ini menyangkut apakah angka-angka yang
dimasukkan dalam laporan keuangan memang seharusnya
dimasukkan.
Kelengkapan
Tujuan ini menyangkut apakah semua angka-angka yang
seharusnya dimasukkan memang diikutsertakan secara
lengkap.
Hak dan Kewajiban
Aktiva harus dimiliki sebelum dapat diterima untuk
dicantumkan dalam laporan keuangan, demikian pula
dengan kewajiban harus menjadi milik suatu entitas. Hak
biasanya berhubungan dengan aktiva dan kewajiban dengan
hutang.
Penilaian atau alokasi
Pengklasifikasian dan penilaian terhadap pos-pos sesuai
dengan alokasi yang tercatat secara akurat sesuai dengan
pisah batas dan realisasi.

3). Pengungkapan tujuan audit


Tujuan ini terbagi menjadi:
Eksistensi dan Hak & Kewajiban.
Kelengkapan
Klasifikasi dan dapat dimengerti.
Akurat dan Penilaian.

II. Kecukupan Bukti Audit


Berkaitan dengan kuantitas bukti audit. Faktor yang mempengaruhi
kecukupan bukti audit , meliputi :
Materialitas.
Resiko audit.
Ukuran dan karakteristik populasi.

III. Kompetensi Bukti Audit

Kompetensi bukti adalah berkaitan dengan kuantitas atau mutu dari


buktibukti tersebut. Bukti yang kompeten adalah bukti yang dapat
dipercaya , sah , obyektif , dan relevan.
Untuk menentukan kompetensi bukti harus mempertimbangkan berbagai
faktor , yait u :
Relevansi bukti audit.
Faktor lain yang berhubungan dengan keandala bukti audit.
Penilaian profesional.

IV. Prosedur Audit

Prosedur audit (audit procedures) adalah metode atau teknik yang


digunakan oleh para auditor untuk mengumpulkan dan mengevaluasi
bahan bukti yang mencukupi dan kompeten. Adapun jenis-jenis prosedur
audit adalah:

Inspeksi dokumen dan catatan (inspection of documents and


records) . Terbagi menjadi 2:
Pemeriksaan bukti pendukung (vouching) meliputi:
(1) Pem ilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi.
(2)Mendapatkan serta memeriksa dokumentasi yang digunakan
sebagai dasar ayat jurnal tersebut untuk menentukan validitas
dan ketelitian pencatatan akuntansi.
Penelurusan (tracing) yang sering disebut sebagai penelusuran
ulang, auditor :
(1)Memilih dokumen yang dibuat pada saat transaksi
dilaksanakan.
(2)Menentukan bah wa informasi yang diberikan oleh dokumen
tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi
(jurnal dan buku besar).
Arah pengujian ini berawal dari dokumen menuju ke catatan
akuntansi.

Inspeksi aktiva ber wujud (inspection of tangible assets)


Meliputi pemeriksaan rinci terhadap dokumen dan catatan, serta
pemeriksaan sumberdaya ber wujud. Dengan melakukan inspeksi
atas dokuen, auditor dapat menetukan ketepatan persyaratan
dalam faktur atau kontrak yang memerlukan pengujian atas
transaksi akuntansi tersebut.

Pengamatan (observtion)
Berkaitan dengan memperhatikan pelaksanaan beberapa kegiatan
atau proses yang bertujuan untuk memperoleh pemahaman atas
pengendalian intern.

Permintaan keterangan (Inquir y)


Meliputi permintaan keterangan secara lisan atau tertulis oleh
auditor, umumnya berupa pertanyaan yang timbul setelah
dilaksanakannya prosedur analitis kepada manajemen atau
kar yawan dan meminta keterangan pada pihak ekstern seperti
penasehat hukum.

Konfirmasi (confirmations)
Adalah bentuk permintaan keterangan yang memungkinkan auditor
memperoleh informasi secara langsung dari sumber independen di
luar organisasi klien (pihak ke 3).

Perhitungan ulang (Recalculation)


Memeriksa perhitungan matematika yang akurat atas dokumen
atau catatan. Biasanya auditor menggunakan audit soft ware dalam
melakukan perhitungan ulang dan membandingkannya dengan
catatan yang terdapat di buku besar.

Pelaksanaan ulang (Reperformance)


Perhitungan dan rekonsiliasi yang dibuat oleh klien dilakukan
pengecekan dan di hitung ulang, untuk menentukan proses yang
telah sesuai dengan pengendalian intern yang telah dirumuskan.

Prosedur analitis (analyt ical procedures)


Terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan antara data.
Prosedur ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio- rasio
sederhana, analisis vertikal atau laporan persentase,
perbandingan jumlah yang sebenarnya dengan data historis atau
anggaran. Seperti penggunaan model matematis dan statistik
(analisis regresi).

Teknik audit berbantuan komputer (Computer-assisted audit


techniques/CAAT)
Bila catatan akuntansi klien menggunakan media elektronik, maka
auditor harus memeriksa prosedur analitis, mengevaluasi, memilih
sampling transaksi dan mencoba data uji program klien untuk
menentukan apakah pengendalian intern telah berfungsi.

V. Program Audit

Standar audit yang berlaku umum menyatakan bahwa dalam


merencanakan audit, auditor harus mempertimbangkan sifat, luas, dan
saat pekerjaan yang harus dilaksanakan serta harus mempersiapkan
suatu program audit tertulis untuk setiap audit. Program audit tersebut
menyatakan bahwa prosedur audit yang diyakini oleh auditor merupakan
hal yang penting untuk mencapai tujuan audit. Bentuk program audit
akan sangat beragam tergantung pada kondisi audit, praktik, serta
kebijakan kantor akuntan tersebut.

Maksud suatu program audit adalah untuk mengatur secara


sistematis prosedur audit yang akan dilaksanakan selama audit
berlangsung. Auditor menentukan tujuan audit spesifik yang telah
dikembangkan berdasarkan asersi audit ketika mengembangkan program
audit.

Kertas Kerja (W orking Papers)

Kertas kerja sebagai catatan yang disimpan oleh auditor tentang


prosedur audit yang ditetapkan pengujian yang dilaksanakan, informasi
yang diperoleh dan kesimpulan tentang masalah yang dicapai dalam
audit. Adapun jenis kertas kerja meliputi:

a) Kertas kerja neraca saldo/ merupakan kertas kerja yang paling


penting di dalam audit.
Karena menjadi mata rantai penghubung antara akun buku
besar klien dan item-item yang dilaporkan dalam laporan
keuangan.
Memberikan dasar untuk pengendalian seluruh kertas kerja
individual
Mengidentifikasi kertas kerja spesifik yang memuat bukti
audit bagi setiap item laporan keuangan.
b) Skedul dan analisis; digunakan secara bergantian untuk
menggambarkan setiap kertas kerja yang memuat bukti yang
mendukung item-item dalam kertas kerja neraca saldo.
c) Memoranda audit dan dokumentasi informasi penguat, merujuk
pada data tertulis yang disusun oleh auditor dalam bentuk naratif.
Memoranda meliputi komentar atas pelaksanaan prosedur audit
yang meliputi :
(1) lingkup peker jaan
(2) temuan-temuan
(3) kesimpulan audit.
d) Ayat jurnal penyesuaian dan reklasifikasi. Ayat jurnal penyesuaian
merupakan koreksi atas kesalahan klien sebagai akibat
pengabaian atau salah penerapan GAAP, sedangkan ayat jurnal
reklasifikasi berkaitan dengan penyajian laporan keuangan yang
benar dengan saldo akun yang sesuai.

VI. Mempersiapkan Kertas Kerja


Ada empat tehnik dasar yang digunakan dalam pembuatan kertas
kerja. Keempat tehnik tersebut adalah :
Pembuatan heading
Setiap kertas kerja haus berisi nama klien, judul deskripsi
identifikasi isi dari kertas kerja, dan tanggal neraca atau periode
yang dicakup oleh audit.
Nomor indeks
Setiap kertas kerja diberikan indeks atau nomor referensi, seperti
A-1, B-2, dan sebagainya, untuk diidentifikasi dan mengisi tujuan.
Cross-referencing
Data pada kertas kerja yang diambil dari kertas kerja lain atau
yang dipindahkan kekertas kerja harus diacu-silang dengan nomor
indeks dari mereka kerja.
Tick marks
Adalah simbol, seperti tanda cek, yang digunakan pada kertas
kerja untuk menunjukkan bahwa auditor telah melakukan beberapa
prosedur pada item yang terdapat tick marks, atau
bah wa informasi tambahan tentang item tersebut tersedia di
tempat lain pada kertas kerja.
Pencantuman tanda tangan pembuat maupun penelaah, dan
tanggal pembuatan serta penelaahan.

B. Pengendalian Internal

I. Pengertian
Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI)(2011:319.2)
mendefinisikan pengendalian intern sebagai suatu proses yang
dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen dan personel lain
entitas-yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang
pencapaian tiga golongan tujuan berikut ini :
- Keandalan pelaporan keuangan
- Efektivitas dan efisiensi operasi
- Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku

Atau pengendalian intern adalah suatu proses yang terdiri dari


usaha atau tindakan-tindakan yang tepat dan terintegrasi yang harus
dilakukan untuk mencapai tujuan. Pelaksanaan pengendalian intern
melibatkan seluruh anggota organisasi bukan dibebankan pada bagian
tertentu saja, sehingga memberikan keyakinan terpercaya atas
seluruh kegiatan organisasi yang meliputi realibilit y dari pelaporan
keuangan, efisiensi dan keefektifan atas kegiatan atau operasi
perusahaan dan kepatuhan terhadap hukum dan undang-undang yang
berlaku.

II. Tujuan Pengendalian Internal


Tujuan pengendalian internal secara garis besar dapat dibagi
dalam empat kelompok sebagai berikut.
1. Tujuan strategis, dengan sasaran-sasaran utama yang
mendukung misi entitas.
2. Tujuan pelaporan keuangan, agar laporan keuangan bebas dari
salah saji material tepat waktu dan tepat guna.
3. Tujuan operasional, di mana pengendalian mengamankan
operasi entitas, yang dikenal sebagai operational controls .
4. Tujuan kepatuhan terhadap hukum dan ketentuan perundang-
undangan.

III. Komponen Pengendalian Internal


Istilah internal control yang digunakan ISA 315 lebih luas dari
kegiatan pengendalian (control activities) seperti pemisahan tugas
(segregation of duties), proses otorisasi (authorizations), dan
rekonsiliasi saldo. Pengendalian internal dalam ISA 315 terdiri atas
lima komponen yaitu sebagai berikut.
1. Lingkungan Pengendalian
Lingkungan pengendalian menetapkan corak suatu organisasi,
mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan
pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen
pengendalian intern, menyediakan disiplin dan struktur.
Lingkungan pengendalian mencakup hal-hal berikut ini:
- Integritas dan nilai etika
- Untuk menekankan pentingnya integritas dan nilai etika di antara
semua personel organisasi, CEO dan anggota manajemen puncak
lainnya harus :
- Menetapkan suasana melalui contoh mendemonstrasikan
integritas dan mempraktikkan standar yang tinggi dari perilaku etis
- Mengkomunikasikan kepada semua kar yawan, baik secara verbal
melalui pernyataan kebijakan tertulis dan kode etik perilaku,
bahwa hal yang sama diharapkan dari mereka, bahwasetiap
kar ya wan memiliki tanggung jawab untuk melaporkan pelanggaran
yang ia ketahui atau yang mungkin akan terjadi kepada tingkat
yang lebih tinggi dalam organisasi, dan bah wa pelanggaran akan
dikenakan denda.
- Memberikan bimbingan moral kepada kar yawan yang memiliki
latar belakang moral kurang baik yang telah mengakibatkan
mereka tidak mempedulikan mana yang baik dan yang buruk.
- Mengurangi atau menghilangkan insentif dan godaan yang dapat
mengarahkan individu untuk melakukan tindakan yang tidak jujur,
melawan hukum, atau tidak etis.
-

2. Penilaian Resiko
Risiko yang relevan dengan pelaporan keuangan mencakup
peristiwa dan keadaan intern maupun ekstern yang dapat terjadi dan
secara negative mempengaruhi kemampuan entitas untuk mencatat,
mengolah, meringkas, dan melaporkan data keuangan konsisten
dengan asersi manajemen dalam laporan keuangan.
Risiko dapat timbul atau berubah karena keadaan berikut ini:
- Perubahan dalam lingkungan operasi
- Personel baru
- System informasi yang baru atau yang diperbaiki
- Teknologi baru
- Lini produk, produk atau aktivitas baru
- Restrukturisasi koporasi
- Operasi luar negeri
- Standar akuntansi baru

3. Sistem Informasi
Sistem informasi yang relevan dengan tujuan pelaporan keuangan,
yang meliputi system akuntansi terdiri atas metode dan catatan yang
dibangun untuk mencatat, mengolah, meringkas, dan melaporkan
transaksi entitas (baik peristiwa maupun kondisi) dan untuk
memelihara akuntabilitas bagi asset, utang, dan ekuitas yang
bersangkutan. Kualitas informasi yang dihasilkan dari system
tersebut berdampak terhadap kemampuan manajemen untuk
membuat keputusan yang semestinya dalam mengendalikan aktivitas
entitas dan menyiapkan laporan keuangan yang andal .
Komunikasi mencakup penyediaan suatu pemahaman tentang
peran dan tanggung ja wab indivisual berkaitan dengan pengendalian
intern terhadap pelaporan keuangan. Auditor harus memperoleh
pengetahuan memadai tentang system informasi yang relevan
dengan pelaporan keuangan untuk memaham i:
- Golongan transaksi dalam operasi entitas yang signifikan bagi
laporan keuangan.
- Bagaimana transaksi tersebut dimulai
- Catatan akuntansi, informasi pendukung, dan akun tertentu dalam
laporan keuangan yang tercakup dalam pengolahan dan pelaporan
transaksi.
- Pengolahan akuntansi yang dicakup sejak saat transaksi dimulai
sampai dengan masuk kedalam laporan keuangan, termasuk ala
telektronik yang digunakan untuk mengirim, memproses,
memelihara dan mengakses informasi.

4. Kegiatan Pengendalian
Kegiatan pengendalian adalah komponen keempat dari
pengendalian internal. Beberapa kutipan dari ISA 315 tentang
kegiatan pengendalian tercantum pada alinea 20 dan alinea 21.
Kegiatan-kegiatan pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang
memastikan bah wa petunjuk dan arahan manajemen dilaksanakan.
Contoh, pengendalian yang memastikan bahwa barang dagangan
tidak dikirim ke pembeli yang mempunyai catatan atau reputasi
kredit yang buruk, atau pembelian hanya boleh dilakukan jika ada
otorisasi. Pengendalian ini merupakan tanggapan atas risiko yang
jika tidak ditanggulangi, akan mengancam tercapainya tujuan entitas.

5. Pemantauan
Pemantauan adalah proses penentuan kualitas kinerja
pengendalian intern sepanjang waktu. Pemantauan ini mencakup
penentuan desain dan operasi pengendalian tepat waktu dan
pengambilan tindakan koreksi. Proses ini dilaksanakan melalui
kegiatan yang berlangsung secara terus menerus, mengevaluasi
secara terpisah, atau dengan kombinasi keduanya. Di berbagai
entitas, auditor intern atau personel yang melakukan pekerjaan
serupa memberikan kontribusi dalam memantau aktivitas entitas.

KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa bukti audit


adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi
lain yang disajikan dalam laporan keuangan, yang dapat digunakan oleh
auditor sebagai dasar untuk menyat akan pendapatnya. Standar
pekerjaan lapangan ketiga mewajibkan auditor untuk memperoleh bukti
audit yang cukup dan kompeten sebagai dasar untuk menyatakan
pendapat atas laporan keuangan yang diauditnya. Isi standar tersebut
adalah sebagai berikut: Bukti kompeten yang cukup harus diperoleh
melalui inspeksi, pengamatan, tanya jawab, dan konfirmasi sebagai
dasar yang layak untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan
yang diperiksa.
Cukup atau tidaknya bukti audit menyangkut kuantitas bukti yang
harus diperoleh auditor dalam auditnya, sedangkan kompetensi bukti
audit menyangkut kualitas atau keandalan bukti yang dipengaruhi oleh
sumber bukti, pengendalian intern, dan cara untuk memperoleh bukti.
Dan Pengendalian intern merupakan suatu proses-yang dijalankan
oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain entitas-yang
didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian tiga
golongan tujuan berikut ini :
(a) keandalan pelaporan keuangan,
(b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan
(c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.

REFERENSI

1. Tuanakotta, T. M. 2015. Audit Kontemporer. Salemba Empat,


Jakarta.
2. Al Har yono Jusup. 2001. Auditing (Pengauditan), Buku 1, BP STIE
YKPN, Yogyakarta.
3. www.iapi.or.id

Anda mungkin juga menyukai