Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PSIKOTIK

I. Pengertian Gangguan Psikotik


Psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak
mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat
halusinasi, waham atau perilaku kacau/aneh. Gangguan psikotik adalah
gangguan kejiwaan yang ditandai dengan ketidakmampuan individu
menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau
perilaku kacau atau aneh.
II. Etiologi
Didalam DSM III faktor psikososial bermakna dianggap
menyebabkan psikosis reaktif singkat, tetapi kriteria tersebut telah
dihilangkan dari DSM IV. Perubahan dalam DSM IV menempatkan
diagnosis gangguan psikotik singkat didalam kategori yang sama dengan
banyak diagnosis psikiatrik utama lainnya yang penyebabnya tidak
diketahui dan diagnosis kemungkinan termasuk gangguan yang heterogen.
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi sebagian besar di
jumpai pada pasien dengan gangguan kepribadian mungkin memiliki
kerentanan biologis atau psikologis terhadap perkembangan gejala
psikotik. Satu atau lebih faktor stres berat, seperti peristiwa traumatis,
konflik keluarga, masalah pekerjaan, kecelakaan, sakit parah, kematian
orang yang dicintai, dan status imigrasi tidak pasti, dapat memicu psikosis
reaktif singkat. Beberapa studi mendukung kerentanan genetik untuk
gangguan psikotik singkat.
III. Patofisiologi dan Prognosis
Menurut definisinya, perjalanan penyakit gangguan psikotik
singkat adalah kurang dari satu bulan. Namun demikian, perkembangan
gangguan psikiatrik bermakna tertentu dapat menyatakan suatu kerentanan
mental pada pasien. Sejumlah pasien dengan persentasi yang tidak
diketahui, yang pertama kali di klasifikasikan menderita gangguan
psikotik singkat selanjutnya menunjukkan sindroma psikiatrik kronis,
seperti skizofrenia dan gangguan mood. Tetapi, pada umumnya pasien
dengan gangguan psikotik singkat memiliki prognosis yang baik, dan

Page | 1
penelitian di Eropa telah menyatakan bahwa 50 sampai 80 persen dari
semua pasien tidak memilki masalah psikiatrik berat lebih lanjut.
Lamanya gejala akut dan residual sering kali hanya beberapa hari.
Kadang-kadang, gejala depresif mengikuti resolusi gejala psikotik. Bunuh
diri adalah suatu keprihatinan pada fase psikotik maupun fase depresif
pascapsikotik. Sejumlah indikator telah dihubungkan dengan prognosis
yang baik. Pasien dengan ciri-ciri tersebut memiliki kemungkinan kecil
untuk kemudian menderita skizofrenia atau suatu gangguan mood

IV. Faktor - Faktor Penyebab Gangguan Psikotik


Adapun faktor faktor penyebab gangguan psikotik antara lain :
a. Faktor organo biologic
1) Genetik (heredity)
Adanya kromosom tertentu yang membawa sifat gangguan jiwa
(khususnya pada skizofrenia). Hal ini telah dipelajari pada
penelitian anak kembar, dimana pada anak kembar monozigot (satu
sel telur) kemungkinan terjadinya skizofrenia persentase tertinggi
86,2%, sedangkan pada anak kembar dengan dua sel telur
(heterozigot) kemungkinannya hanya 14,5%.
2) Bentuk Tubuh (konstitusi)
Kretschmer (1925) dan Sheldon (1942), meneliti tentang adanya
hubungan antara bentuk tubuh dengan emosi, temperamen dan
kepribadian (personality).Contohnya, orang yang berbadan gemuk
emosinya cendrung meledak ledak, ia bisa lompat kegirangan
ketika mendapat hal yang menyenangkan baginya dan sebaliknya.
3) Terganggunya Otak Secara Organik
Contohnya, Tumor, trauma (bisa disebabkan karena gagar otak
yang pernah dialami karena kecelakaan), infeksi, gangguan
vaskuler, gangguan metabolisme, toksin dan gangguan cogenital
dari otak
4) Pengaruh Cacat Cogenital
Contohnya, Down Syndrome (mongoloid).
5) Pengaruh Neurotrasmiter
Yaitu suatu zat kimia yang terdapat di otak yang berfungsi sebagai
pengantar implus antar neuron (sel saraf) yang sangat terkait
dengan penelitian berbagai macam obat obatan yang bekerja pada

Page | 2
susunan saraf. Contohnya, perubahan aktivitas mental, emosi, dan
perilaku yang disebabkan akibat pemakaian zat psikoaktif.
b. Faktor Psikologik
1) Hubungan Intrapersonal
a) Inteligensi.
b) Keterampilan
c) Bakat dan minat.
d) Kepribadian.
2) Hubungan Interpersonal
a) Interaksi antara kedua orang tua dengan anaknya.
b) Orang tua yang over protektif.
c) Orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri.
d) Peran ayah dalam keluarga.
e) Persaingan antar saudara kandung.
f) Kelahiran anak yang tidak diharapkan.
c. Faktor Sosio Agama
1) Pengaruh Rasial
Contohnya, adanya pengucilan pada warga berkulit hitam di negara
Eropa.
2) Golongan Minoritas
Contohnya, pengucilan terhadap seseorang atau sekelompok orang
yang menderita penyakit HIV.
3) Masalah Nilai Nilai yang Ada dalam Masyarakat.
4) Masalah Ekonomi
Contohnya, karena selalu hidup dalam kekurangan seorang ibu
menganiyaya anaknya.
5) Masalah Pekerjaan.
6) Bencana Alam.
7) Faktor Agama atau religius baik masalah intra agama ataupun inter
agama. Contoh, perasaan bingung dalam keyakinan yang dialami
seorang anak karena perbedaan keyakinan dari orang tuanya.

V. Manifestasi Klinis Gangguan Psiotik


Adapun gambaran utama perilakuvGangguan Psikotik antara lain :
a. Memiliki labilitas emosional.
b. Menarik diri dari interaksi sosial.
c. Tidak mampu bekerja sesuai fungsinya.
d. Mengabaikan penampilan dan kebersihan diri.
e. Mengalami penurunan daya ingat dan kognitif parah.
f. Berpikir aneh, dangkal, berbicara tidak sesuai keadaan.
g. Mengalami kesulitan mengorientasikan waktu, orang dan tempat.
h. Sulit tidur dalam beberapa hari atau bisa tidur yang terlihat oleh
keluarganya, tetapi pasien mesrasa sulit atau tidak bisa tidur.

Page | 3
i. Memiliki keengganan melakukan segala hal, mereka berusaha
untuk tidak melakukan apa apa bahkan marah jika diminta untuk
melakukan apa apa.
j. Memiliki perilaku yang aneh misalnya, mengurung diri di kamar,
berbicara sendiri, tertawa sendiri, marah berlebihan dengan
stimulus ringan, tiba tiba menangis, berjalan mondar mandir,
berjalan tanpa arah dan tujuan yang jelas.
VI. Tipe Gangguan Psikotik
a. Psikotik Akut
Perilaku yang diperlihatkan oleh pasien yaitu :
1) Mendengar suara suara yang tidak ada sumbernya.
2) Keyakinan dan ketakutan yang aneh atau tidak masuk akal.
3) Kebingungan atau disorientasi.
4) Perubahan perilaku menjadi aneh atau menakutkan seperti
menyendiri, kecurigaan berlebihan, mengancam diri sendiri, orang
lain atau lingkungan, bicara dan tertawa serta marah marah atau
memukul tanpa alasan.

Pedoman diagnostik untuk menegakkan diagnosis gejala pasti gangguan psikotik


akut adalah sebagai berikut :

1) Halusinasi (persepsi indera yang salah atau yang dibayangkan


misalnya, mendengar suara yang tak ada sumbernya atau melihat
sesuatu yang tidak ada bendanya).
2) Waham (ide yang dipegang teguh yang nyata salah dan tidak dapat
diterima oleh kelompok sosial pasien), misalnya, pasien percaya
bahwa mereka diracuni oleh tetangga, menerima pesan dari televisi
atau merasa diamati atau diawasi oleh orang lain.
3) Agitasi atau perilaku aneh (bizar).
4) Pembicaraan aneh atau kacau (disorganisasi).Keadaan emosional
yang labil dan ekstrim (iritabel).

Selain diagnosis pasti, ada diagnosis banding untuk psikotik akut ini karena
dimungkinkan adanya gangguan fisik yang bisa menimbulkan gejala psikotik.

1) Epilepsi.
2) Intoksikasi atau putus zat karena obat atau alkohol.
3) Febris karena infeksi.
4) Demensia dan delirium atau keduanya.

Page | 4
5) Jika gejala psikotik berulang atau kronik, kemungkinan skizofrenia
dan gangguan psikotik kronik lain.
6) Jika terlihat gejala maniak (suasana perasaan meninggi, percepatan
bicara atau proses pikir, harga diri berlebihan), pasien mungkin
sedang mengalami suatu episode maniak.
7) Jika suasana perasaan menurun atau sedih, pasien mungkin sedang
mengalami depresi.

b. Psikotik Kronik
Untuk menetapkan diagnosa medik psikotik kronik data berikut
merupakan perilaku utama yang secara umum ada.
1) Penarikan diri secara sosial.
2) Minat atau motivasi rendah dan pengabaian diri.
3) Gangguan berpikir (pembicaraan yang tidak nyambung atau aneh).
4) Perilaku aneh seperti apatis, menarik diri, tidak memperhatikan
kebersihan.
Perilaku lain yang dapat menyertai adalah :
1) Kesulitan berpikir dan berkonsentrasi.
2) Melaporkan bahwa individu mendengar suara suara.
3) Keyakinan yang aneh dan tidak masuk akal seperti memiliki
kekuatan supranatural, merasa dikejar kejar, merasa menjadi
orang hebat atau terkenal.
4) Keluhan fisik yang tidak biasa atau aneh seperti merasa ada
hewan atau objek yang tak lazim di dalam tubuhnya.
5) Bermasalah dalam melaksanakan pekerjaan atau pelajaran.

Beberapa kondisi yang dapat menjadi diagnosis banding


psikosis kronik diantaranya adalah :

1) Depresi jika ditemukan gejala depresi (suasana perasaan yang


menurun atau sedih, pesimisme, perasaan bersalah).
2) Gangguan bipolar jika ditemukan gejala maniak (eksitasi,
suasana perasaan meningkat, penilaian diri yang berlebihan).
3) Intoksikasi kronik atau putus zat karena alkohol, zat dan bahan
lain (stimulansia, halusinogenik).
4) Efek penggunaan zat psikoaktif atau gangguan depresif dan
ansietas menyeluruh jika berlangsung setelah satu periode
abstinensia (misalnya, sekitar 4 minggu).
VII. Cara Mengatasi Gangguan Psikotik
a. Penatalaksanaan Psikotik Akut

Page | 5
1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang
psikotik akut berikut hak dan kewajibannya.
a) Episode akut sering mempunyai prognosis yang baik, tetapi
lama perjalanan penyakit sukar diramalkan hanya dengan
melihat dari satu episode akut saja.
b) Agitasi yang membahayakan pasien, keluarga atau masyarakat,
memerlukan hospitalisasi atau pengawasan ketat di suatu
tempat yang aman. Jika pasien menolak pengobatan, mungkin
diperlukan tindakan dengan bantuan perawat kesehatan jiwa
masyarakat dan perangkat desa serta keamanan setempat
2. Menjaga keamanan pasien dan individu yang merawatnya:
a) Keluarga atau teman harus mendampingi pasien.
b) Kebutuhan dasar pasien terpenuhi (misalnya, makan, minum,
eliminasi dan kebersihan).
c) Hati hati agar pasien tidak mengalami cedera.
3. Konseling pasien dan keluarga
a) Membantu keluarga mengenal aspek hukum yang berkaitan
dengan pengobatan psikiatrik antara lain hak pasien, kewajiban
dan tanggung jawab keluarga dalam pengobatan pasien.
b) Mendampingi pasien dan keluarga untuk mengurangi stress dan
kontak dengan stresor.
c) Memotivasi pasien agar melakukan aktivitas sehari hari
setelah gejala membaik.
4. Pengobatan
Program pengobatan untuk psikotik akut :
a) Berikan obat antipsikotik untuk mengurangi gejala psikotik,
haloperidol 2 5 mg, 1 3 kali sehari, atau Chlorpromazine
100 200 mg 1 3 kali sehari. Dosis harus diberikan serendah
mungkin untuk mengurangi efek samping, walaupun beberapa
pasien mungkin memerlukan dosis yang lebih tinggi.
b) Obat antiansietas juga bisa digunakan bersama dengan
neuroleptika untuk mengendalikan agitasi akut (misalnya :
lorazepam 1 2 mg, 1 3 kali sehari).
c) Obat antipsikotik selama sekurang kurangnya 3 bulan
sesudah gejala hilang.
b. Penatalaksanaan Psikotik Kronik
1. Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga
tentang asuhan keperawatan pada pasien halusinasi, waham, isolasi

Page | 6
sosial, defisit perawatan diri.Beberapa informasi yang dapat
disampaikan pada pasien dan keluarga antara lain :
a) Gejala penyakit jiwa (perilaku aneh dan agitasi).
b) Antisipasi kekambuhan.
c) Penanganan psikosis akut.
d) Pengobatan yang akan mengurangi gejala dan mencegah
kekambuhan.
e) Perlunya dukungan keluarga terhadap pengobatan dan
rehabililtasi pasien.
f) Perlunya organisasi kemasyarakatan sebagai dukungan yang
berarti bagi pasien dan keluarga.
2. Konseling pasien dan keluarga
a) Pengobatan dan dukungan keluarga terhadap pasien.
b) Membantu pasien untuk berfungsi pada taraf yang optimal
dalam pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.
c) Kurangi stress dan kontak dengan stres.
3. Pengobatan
Program pengobatan untuk psikotik kronik :
1) Antipsikotik yang mengurangi gejala psikotik :
a) Haloperidol 2-5 mg 1 3 kali sehari
b) Chlorpromazine 100-200 mg 1 3 kali sehari
Dosis harus serendah mungkin hanya untuk menghilangkan
gejala, walaupun beberapa pasien mungkin membutuhkan
dosis yang lebih tinggi.
2) Obat anti psikotik diberikan sekurang kurangnya 3 bulan
sesudah episode pertama penyakitnya dan lebih lama sesudah
episode berikutnya.
3) Obat antipsikotik mempunyai efek jangka panjang yang
disuntikkan jika pasien gagal untuk minum obat oral.
4. Berikan terapi untuk mengatasi efek samping yang mungkin timbul
a) Kekakuan otot (distonis dan spasme akut) yang dapat diatasi
dengan obat anti parkinson atau benzodiazepine yang
disuntikkan
b) Kegelisahan motorik yang berat (akatisia) yang dapat diatasi
dengan pengurangan dosis terapi atau pemberian beta bloker.
c) Obat anti Parkinson yang dapat mengatasi gejala parkinson
(antara lain trihexyphenidil 2 mg sampai 3 kali sehari, ekstrak
belladonna 10 20 mg 3 X sehari, diphenhydramine 50 mg 3 X
sehari).

Page | 7
KONSEP DASAR DAN ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS PADA
PASIEN DENGAN RESIKO PERILAKU KEKERASAN

A. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah perilaku individu yang dapat
membahayakan orang lain, diri sendiri baik secara fisik, emosional
dan atau seksualitas (Nanda, 2005).

Page | 8
Perilaku kekerasan atau agresif merupakan suatu bentuk perilaku
yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun
psikologis (Berkawi,1993 dalam Depkes 2000).
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana klien mengalami
perilaku yang dapat membahayakan klien sendiri, lingkungan dan
termasuk orang lain (Maramis, 1998).
B. Etiologi
Menurut Budiana Keliat (2004) faktor presipitasi dan predisposisi dari
perilaku kekerasan adalah:
1. Faktor predisposisi
a. Psikologi
Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang
kemudian dapat timbul agresif atau amuk
b. Perilaku
Reinforcement yang diterima jika melakukan kekerasan, sering
mengobservasi kekerasan, merupakan aspek yang menstimulasi
dan mengadopsi perilaku kekerasan.
c. Sosial budaya
Budaya tertutup, kontrol sosial tidak pasti terhadap perilaku
kekerasan menciptakan seolah-olah perilaku kekerasan diterima.
d. Bioneurologis
Kerusakan sistem limbik, lobus frontal atau temporal dan
ketidakseimbangan neurotransmiter.

2. Faktor presipitasi
Yaitu faktor yang bersumber:
a. Klien, misalnya : kelemahan fisik, keputusasaan,
ketidakberdayaan, percaya diri kurang.
b. Lingkungan sekitar klkien, misalnya : padat,ribut, kritikan
mengarah pada penghinaan, kehilangan orang yang dicintai atau
pekerjaan dan kekerasan.
c. Interaksi dengan orang lain, misalnya: provokatif dan konflik
C. Manifestasi Klinik
a. Emosi
Tidak adekuat, tidak aman, rasa terganggu, marah (dendam), jengkel
b. Fisik
Muka merah, pandangan tajam, nafas pendek, berkeringat, sakit fisik,
penyalahgunaan obat dan tekanan darah
c. Intelektual
Mendominasi, bawel, sarkasme, berdebat, meremehkan

Page | 9
d. Spiritual
Kemahakuasaan, kebijakan/kebenaran diri, keraguan, tidak bermoral,
kebejatan kreativitas terhambat
e. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan,
humor (Budiana Keliat, 2000)

Tanda ancaman kekerasan (Kaplan dan Sadock,1997) adalah :

a. Tindakan kekerasan belum lama, termasuk kekerasan terhadap barang


b. Ancaman verbal atau fisik
c. Membawa senjata atau benda lain yang dapat digunakan sebagai
senjata. Misalnya: Garpu, asbas, dll
d. Agitasi psikomotor progresif
e. Intoksikasi alkohol atau zat lain
f. Ciri paranoid ada pasien psiotik
g. Halusinasi dengar dengan perilaku kekerasan tetapi tidak semua
pasien berada ada resiko tinggi
h. Penyakit otak global atau dengan temuan lobus frontalis, lebih jarang
pada temuan lobus temporalis (kontroversial)
i. Kegembiraan katatonik
j. Episode manik tertentu
k. Gangguan kepribadian (kekerasan, penyerangan, atau diskontrol
impuls)

D. Akibat Perilaku Kekerasan


Klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi
minciderai diri, orang lain dan lingkungan. Resiko menciderai
merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat
melukai/mrmbahayakan diri, orang lain dan lingkungan.
E. Pohon Masalah

Resiko Mencederai diri, orang lain, lingkungan ...


(akibat)

Perubahan perilaku, resiko perilaku kekerasan/amuk


Core Problem

Harga Diri Rendah Etiologi

Page | 10
F. Penatalaksanaan
Tindakan keperawatan
1) Berteriak, menjerit, memukul
Terima kemarahan klien, diam sebentar, arahkan klien untuk memukul
barang yang tidak mudah rusak seperti bantal dan kasu.
2) Cari gara-gara
Bantu klien melakukan relaksasi. Misalnya latihan fisik maupun
oahraga. Latihan pernapasan 2kali/hari, tiap kali 10 kali tarikan dan
hembusan nafas.

3) Bantu melalui humor


Jaga humor tidak menyakiti orang, observasi ekspresi muka orang
yang menjadi sasaran dan diskusikan cara umum yang sesuai.
(Keliat, 2002)

Terapi medis

1) Clorpimazine (CPZ)
Untuk mensupresi gejala-gejala psikosa: agitasi, ansietas,
ketegangan,kebingungan insomnia,halusinasi, waham dan gejala-gejala
lain yang biasanya terdapat pada penderita skizofrenia, maniak,
depresi,gangguan personalitas, psikosa involution, psikosa masa kecil.cara
pemberian perroral atau intra muskular.
2) Haloperidol
Untuk gangguan psikotik, sindroma gilles dela tourett pada anak-anak dan
dewasa. Kontraindikasi: depresi saraf pusat. Penyakit parknson,
mengantuk, tremor, letih, lesu, gelisah, gejala ekstra piramidal.
3) Trihexyphenidyl (THP,Artane,Tremin)
Untuk gejala skizofrenia

G. Pengkajian
1. Factor predisposisi
a. Riwayat kelahiran dan tumbuh kembang (biologis)
b. Trauma karena aniaya fisik, seksual, atau tindakan aniaya fsik
c. Tindakan anti social
d. Penyakit yang pernah diderita
e. Gangguan jiwa di masa lalu
f. Pengadaan sebelumnya
1) Aspek psikologis

Page | 11
Keluarga, pengasuh, lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon psikologis klien. Sikap atau keadaan yang dapat
mempengaruhi jiwa amuk adalah: penolakan dan kekerasan
dalam kehidupan klien. Pola asuh pada usia anak-anak yang
tidak adekuat misalnya tidak ada kasih saying, diwarnai
kekerasan dalam keluarga merupakan resiko gangguan jiwa
amuk.
2) Aspek social budaya
Kemiskinan, konflik social budaya, kehidupan terisolasi,
disertai stress yang menumpuk, kekerasan dan penolakan.
3) Aspek spiritual
Klien merasa berkuasa dan dirinya benar, tidak bermoral.
2. Factor fisik
a. Identitas
Nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, diagnosa medis,
pendidikan dan pekerjaan.
b. Keturunan
Adalah penyakit keluarga yang sama dengan klien atau gangguan
jiwa lainnya, jika ada sebutkan.
c. Proses psikologis
1) Riwayat kesehatan masa lalu
Apakah klien pernah sakit atau kecelakaan, apakah sakit
tersebut mendadak / menahun dan meninggalkan cacat.
2) Bagaimana makan dan minum klien
3) Istirahat tidur
4) Pola BAB/BAK
5) Latihan
6) Pemeriksaan fisik
Fungsi system, seperti pernafasan, kardiovaskuler,
gastrointestinal, genitourinary, integument dan paru udara.
Penampilan fisik, berpakaian rapi/tidak rapi, bersih, factor
tubuh (kaku, lemah, rileks, lemas)
3. Factor Emosional
Klien merasa tidak aman, mersa terganggu, dendam, jengkel.
4. Faktor Mental
Cenderung mendiminasi, cerewet, kasar, meremehkan dan suka
berdebat.
5. Latihan
Menarik diri, pengasingan, penonalakan, kekerasan, ejekan, sindiran.

Page | 12
H. Masalah Keperawatan
Diagnose 1 : Resiko Perubahan Perilaku kekerasan
1. Tujuan umum
Klien dapat mengontrol perilaku kekerasannya
2. Tujuan Khusus
a. Klien dapat membina hubungan saling percaya
b. Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
c. Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
d. Klien dapat menyebutkan cara mencegah/ mengontrol perilaku
kekerasan
e. Klien dapat menggunakan oabt dengan benar (sesuai dengn
program)
3. Strategi Pelaksanaan
SP 1
1. Mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
2. Mengidentifikasi tanda perilaku kekerasan
3. Mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
4. Mengidentifikasi perilaku kekerasan yang bia dilakukan
5. Mengajarkan cara mengontrol PK dengan napas dalam
6. Melatih cara mengontrol PK dengan napas dalam
7. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal latihan
SP 2
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
2. Melatih klien cara control PK fisik (memukul
bantal/Kasur/konversi energy)
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal latihan

SP 3
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
2. Melatih pasien cara control PK dengan verbal
(meminta,menolak dan mengungkapkan marah dengan
baik)
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian
SP 4
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
2. Melatih pasien dengan spiritual (berdoa) dan napas dalam
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian
SP 5
1. Memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya
2. Menjelaskan cara control PK dengan minum obat
3. Membimbing pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan
harian

Page | 13
Page | 14
I. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PSIKOTIK AKUT: RESIKO
PERUBAHAN PERILAKU KEKERASAN

Diagnosa Rencana Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi Rasional


Keperawatan
Resiko Perubahan TUK 1 Setelah kali interaks klien 1. Bina Hubungan Saling
Perilaku Kekerasan Klirn dapat Membina dapat menunjukkan tanda Percaya dengan Klien
2. Berbicaa kepada klien
Hubungan Saling tanda percaya kepada perawat
dengan sopan dan ramah
Percaya dengan kriteria
3. Perkenalkan nama dan
Mau menjawab salam
tujuan perkenalan
Mau menjabat tangan 4. Tunjukkan sikap yang
Ekspresi wajah
jujur
bersahabat 5. Tunjukkan sikap yang
Ada kontak mata
Mau duduk simpati
6. Dengarkan dan
berdampingan dengan
perhatikan setiap klien
perawat
Bersedia mengungkapkan mengungkapkan
perasaannya
masalah yang dialami
TUK 2 Setelah kali interaksi klien 1. Beri kessempatan
Klien dapat dapat mengidentifikasi kepada klien untuk
mendefinisikan penyebab perilaku kekerasan mengungkapkan

Page | 15
penyebab perilaku dengan KH perasaan
2. Bantu klien untuk
kekerasan 1. Klien mampu
mengungkapkan
mengungkapkan
penyebab perasaan
perasaannya
2. Klien dapat jengkel/kesal
mengungkapkan
penyebab perasaan
marah dari
lingkungan/orang lain
TUK 3 Setelah kali interaksi klien 1. Bicarakan akibat
Klien dapat dapat mengidentifikasi akibat dan cara yang
mengidentifikasi akibat dari perilaku kekerasan dilakukan klien
2. Bersama klien
dari perilaku kekerasan 1. Klien dapat
menyimpulkan
menjelaskan akibat dari
akibat cara yang
PK
- Terhadap klien digunakan oleh
sendiri klien
- Terhadap orang lain 3. Tanya pada klien
- Terhadap
apakah ia ingin
lingkungan
mempelajari cara

Page | 16
yang baru dan yang
sehat
TUK 4 Setelah interaksi klien 1. Bantu klien
Klien dapat dapat mencegah /mengontrol memilih cara yang
menyebutkan cara perilaku kekerasannya dengan paling tepat untuk
mencegah / mengontrol KH mengontrol PK
2. Bantu klien
perilaku kekerasan 1. Klien dapat
mengidentifikasi
menyebutkan contoh
manfaat/cara yang
pencegahan perilaku
telah dipilih
kekerasan secara
3. Beri pujian positif
- Fisik : Tarik napas
atas keberhasilan
dalam, olahraga/
klien
pukul bantal
- Verbal : menstimulasikan
mengatakan secara cara tersebut
4. Anjurkan klien
langsung dengan
untukmenggunaka
tidak menyakiti
2. Klien dapat n cara yang
mendemonstrasikan dipelajari saat
cara fisik menarik jengkel/marah

Page | 17
napas dalam maupun
memukul bantal untuk
mencegah perilaku
kekerasan

TUK 5 Setelah kali Interaksi klien 1. Jelaskan jenis obat


Klien dapat dapat menggunakan obat yang diminum
menggunakan obat dengan benar (sesuai dengan pada klien dan
dengan benar ( sesuai program) dengan KH keluarga
2. Diskusikan
dengan program) 1. Klien dapat
manfaat minum
menyebutkan obat
obat dan kerugian
yang diminum dan
berhenti minum
kegunaannya
obat tanpa seijin
(jenis,waktu,dosis,efek
dokter
)
3. Jelaskan prinsip
2. Klien dapat minum
benar minum obat
obat sesuai program
(baca nama obat
pengobatan

Page | 18
yang tertera pada
kemasan obat,
dosis, waktu dan
cara pemberian)
4. Anjurkan klien
minum obat tepat
waktu
5. Anjurkan klien
melaporkan kepada
perawat / dokter
jika merasakan
efek yang tidak
menyenangkan
6. Beri pujian jika
klien minum obat
dengan benar

Page | 19
Page | 20
J. Tindakan keperawatan
Setelah menegakan diagnosa keperawatan perawat melakukan beberapa
tindakan keperawatan, baik pada pasien maupun keluarganya.
1. Tindakan keperawatan pada pasien
Tujuan keperawatan
a) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
b) Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku
kekerasan
c) Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang
pernah di lakukannya
d) Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan
yang di lakukannya
e) Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/ mengendalikan
perilaku kekerasan
f) Pasien dapat mencegah/ mengendalikan perilaku
kekerasannya secara fisik, spiritual, social dan dengan
terapi psikofarmaka

Tindakan keperawatan

a) Mengucapkan salam terapeutik


Dalam membina hubungan saling percaya pasien harus
merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan perawat.
Tindakan yang harus perawat lakukan dalam rangka
membina hubungan saling percaya adalah :
Mengucapkan salam terapeutik
Berjabat tangan
Menjelaskan tujuan interaksi
Membuat kontrak topic, waktu, dan tempat setiap
kali ketemu pasien
b) Mendiskusikan bersama pasien penyebab perilaku
kekerasan sekarang dan yang lalu
c) Mendiskusikan perasaan, tanda, dan gejala yang di rasakan
pasien jika terjadi penyebab perilaku kekerasan
Mendiskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan
secara fisik
Mendiskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan
secara psikologis

Page | 21
Mendiskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan
secara social
Mendiskusikan tanda dan gejala perilaku kekeraan
secara spiritual
Mendiskusikan tanda dan gejala perilaku kekerasan
secara intelektual
d) Mendiskusikan bersama pasien tentang perilaku kekerasan
yang biasa di lakukan pada saat marah :
Verbal
Terhadap orang lain
Terhadap diri sendiri
Terhadap lingkungan
e) Mendiskusikan bersama pasien akibat perilaku kekerasan
yang ia lakukan
f) Mendiskusikan bersama pasien cara mengendalikan
perilaku kekerasan yaitu dengan cara berikut :
Fisik : pukul Kasur/ bantal, Tarik napas dalam
Obat
Social / verbal : menyatakan secar aserif rasa
marahnya
Spiritual : beribadah sesuai keyakinan pasien
g) Bantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan
secara fisik :
Latihan napas dalam dan pukul/ bantal
Susun jadwal latihan dalam dan pukul Kasur/ bantal
h) Bantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan
secara social/ verbal :
Membantu mengungkapkan rasa marah secara
verbal :menolak dan meminta dengan baik,
mengungkapkan perasaan dengan baik
Menyusun jadwal latihan mengungkapkan marah
secara verbal
i) Bantu pasien latihan mengendalikan perilaku kekerasan
secara spiritual :
Membantu pasien mengendalikan marah secara
spiritual : kegiatan ibadah yang biasa di lakukan
Membuat jadwal latihan ibadah dan berdoa
j) Bantu pasien mengendalikan perilaku kekerasan degngan
patuh minum obat :

Page | 22
Membantu pasien minum obat secara teratur dengan
prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama
obat, benar cara pemberian, benear dosis, dan benar
obat) di sertai penjelasan mengenai keguanaan obat
dan akibat berhenti
Susun jadwal minum obat secara teratur.
(Keliat, Keperawatan kesehatan jiwa komunitas,
2012)
2. Tindakan keperawatan pada keluarga
Tujuan keperawatan:
Keluarga dapat merawat pasien dirumah.
Tindakan keperawatan:
a) Mendiskusikan maslah yang dihadapi keluarga dalam merawat
pasien
b) Mendiskusikan bersama keluarga tentan perilaku kekerasan
(penyebab, tanda dan gejala, perilaku yang muncul, dan akibat
dari perilaku tersebut)
c) Mendiskusikan bersama keluarga tentang kondisi pasien yang
perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau
memukul benda/orang lain.
d) Membantu latihan keluarga dalam merawat pasien perilaku
kekerasan.
e) Menganjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan
tindakan yang telah diajarkan oleh perawat.
f) Mengajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien
jika pasien dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat.
g) Mendiskusikan bersama keluarga tindakan yang harus
dilakukan jika pasien menunjukan gejala-gejala perilaku
kekerasan
h) Membuat perencanaan bersama keluarga.
(Keliat, Model praktik keperawatan profesional jiwa, 2012)
K. Evaluasi
Evaluasi terhadap kemampuan pasien dan keluarga dan kemampuan
perawat.Berikut merupakan table evaluasi pada pasien dengan perilaku
kekerasan (Keliat, Model praktik keperawatan profesional jiwa, 2012)

Page | 23
DAFTAR PUSTAKA

Aziz R, dkk. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa, Semarang : RSJD Dr. Amino
Gondoutomo
Boyd MA, Nihart MA. 1998. Psydiatric Nursing : Contemporary Prctice
Philadelphia Publisher.
Direja, A. H. (2011). Buku ajar keperawatan jiwa. Yogyakarta: Nuha medika.
Keliat B,A. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC.
Keliat, B. A. (2012). Keperawatan kesehatan jiwa komunitas. jakarta: EGC.
Keliat, B. A. (2012). Model praktik keperawatan profesional jiwa. jakarta: EGC.
Tim Direktorat Keswa. 2000. Standar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa
Bandung : RSJD Bandung.
Stuart GW & Sudeed SJ. 1998 Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Wati, F. K. (2010). Buku ajar keperawatan jiwa. jakarta: Salemba Medika.
Yosep, I. (2011). Keperawatan Jiwa. jakarta: revita aditama.

Page | 24
LEMBAR PENGESAHAN

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA PASIEN WP DENGAN


GANGGUAN PSIKOTIK AKUT DI RUANG LELY RSUP SANGLAH

Denpasar, Desember 2016

Mahasiswa,

(I Made Gde. Suryawan)

Mengetahui, Mengetahui,
Kepala Ruangan Lely RSUP Sanglah Pembimbing Akademik

(Ns. Dewa Ketut Aryawan, S.Kep) (Ns. Ni Kadek Parsi Kasmini, S.Kep)

Page | 25