Anda di halaman 1dari 8

PENGOLAHAN LIMBAH PADA INDUSTRI MIGAS

Permasalahan utama dalam industri adalah hal yang cukup kompleks. Amanat Undang-
Undang No. 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagai
pengganti Undang-Undang Nomor 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
(menggantikan UU No. 4/1982), menempatkan masalah bahan dan limbah berbahaya sebagai
salah satu perhatian utama, akibat dampaknya terhadap manusia dan lingkungan bila tidak
dikelola secara baik, dengan definisi sebagai bahan berbaya dan beracun. Pasal 58 sampai Pasal
61 UU-32/2009 mengatur larangan membuang dan mengatur pengelolaan limbah dan B3.
Selanjutnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 74/2001 mengatur lebih lanjut tentang pengelolaan
bahan berbahaya dan beracun (B3), dan PP 18/99 juncto 85/99 mengatur lebih lanjut tentang
pengelolaan limbah B3.

Keaneka ragaman jenis limbah akan tergantung pada aktivitas industri serta penghasil
limbah lainnya. Limbah berkatagori non-hazardous tidak perlu ditangani seketat limbah
hazardous, walaupun limbah tersebut berasal dari industri. Sesuai dengan PP 18/99 juncto 85/99,
padanan kata untuk Hazardous Waste yang digunakan di Indonesia adalah Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun dan disingkat menjadi Limbah B3. bahan berbahaya dan beracun
(disingkat B3) adalah zat, energi, dan/atau komponen lain yang karena sifat, konsentrasi dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak
lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan serta kelangsungan
hidup manusia dan mahluk hidup lain.

Pengolahan limbah dilakukan karena berorientasi pada akibat yang ditimbulkan dalam
lingkungan terutama pada daerah sekitar industri maupun efek keseluruhan untuk semua
lingkungan. Dengan prinsip pencegahan dan penanggulangan pencemaran harus dapat menjamin
terpeliharanya kepentingan umum dan keseimbangan lingkungan, dengan tetap memperhatikan
kepentingan pihak industri.
Limbah industri yang dihasilkan ada 3 jenis yaitu :
1. Limbah padat,
2. Limbah gas
3. Limbah cair.

4.1. Pengolahan Limbah Cair


Limbah yang dihasilkan industri minyak bumi umumnya mengandung logam-logam berat
maupun senyawa yang berbahaya. Selain logam berat, limbah, atau air buangan industri, minyak
bumi juga mengandung senyawa-senyawa hidrokarbon yang sangat rawan terhadap bahaya
kebakaran.
Dalam setiap kegiatan industri, air buangan yang keluar dari kawasan industri minyak bumi
harus diolah terlebih dahulu dalam unit pengolahan limbah, sehingga air buangan yang telah
diproses dapat memenuhi spesifikasi dan persyaratan yang telah ditentukan oleh pemerintah.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dibangun unit Sewage dan Effluent Water Treatment di
industri.

Secara garis besar effluent water treatment di industri dibagi menjadi dua, yaitu treatment oily
water dan treatment air buangan proses. Treatment oily water dilakukan di rangkaian separator
sedangkan treatment air buangan proses dilakukan menggunakan lumpur aktif (activated sludge)
yang merupakan campuran dari koloni mikroba aerobik.
Unit pengolah air buangan terdiri dari:
1. Air Floatation Section
Air hujan yang bercampur minyak dari unit proses dipisahkan oleh CPI separator sedangkan air
ballast dipisahkan di API separator kemudian mengalir ke seksi ini secara gravitasi.
Campuran dari separator mengalir ke bak DAF Feed Pump dan dipompakan ke bak floatation,
sebagian campuran dipompakan ke pressurize vessel. Dalam pressurize vessel udara dari plant
air atau DAF compressor udara dilarutkan dalam pressurize waste water. Bilamana pressurize
waste water dihembuskan ke pipa inlet floatation pada tekanan atmosfir, udara yang terlarut
disebarkan dalam bentuk gelembung dan minyak yang tersuspensi dalam waste water terangkat
ke permukaan air.
Minyak yang mengapung diambil dengan skimmer dan dialirkan ke bak floatation oil. Minyak di
dalam bak floatation oil dipompakan ke tangki recovery oil. Air bersih dari bak floatation
mengalir ke bak impounding basin.
2. Activated Oil Sludge
Aliran proses penjernian air dengan CPI Separator dan aliran sanitary dengan pompa dialirkan
secara gravitasi ke seksi activated sluge. Air hasil proses CPI dan filtrate dehydotator
dicampurkan dalam bak proses effluent dan campuran air ini dipompakan ke pit aeration pada
operasi normal dan pada emergency ke pit clarifier melalui rapid mixing pit dan Flocculation pit.
Apabila kualitas air off spec, maka air tersebut dikembalikan ke bak effluent sedikit demi sedikit
untuk dibersihkan dengan normal proses.
Ferri Chlorida (FeCl3) dan Caustic Soda (NaOH) diinjeksikan ke bak flocculation. Air yang
tersuspensi, minyak dan sulfide dalam air kotor dihilangkan dalam unit ini. Lumpur yang
mengendap dalam bak clarifier dipompakan ke bak thickener.
Pemisahan permukaan dari bak clarifier dilakukan secara over flow ke bak aeration. Air kotor
dari sanitary mengalir secara langsung ke bak aeration. Dalam bak aeration ditambahkan
nutrient. Selain itu, untuk menciptakan lingkungan aerobic bak ini dilengkapi pula dengan
aerator.
Treatment dengan biological ini mengirangi dan menghilangkan benda-benda organic (BOD dan
COD). Setelah treatment dengan biological, air kotor bersama lumpur dikirim ke bak aeration
kembali, sebagai lumpur dikirim ke bak thickener.
Pemisahan pemurnian air dari bak sedimentasi mengalir dari atas ke Impounding Basin. Unit
Sewage and Effluent Water Treatment dirancang untuk system waste water treatment yang
bertujuan memproses buangan seluruh kegiatan dari unit proses dan area pertangkian dalam
batas-batas effluent yang ditetapkan air bersih. Kapasitas unit ini sebesar 600m3/jam dimana
kecepatan effluent didesain untuk penyesuaian kapasitas 180 mm/hari curah hujan di area proses
dan utilitas.
Unit penjernian buangan air ini memiliki beberapa proses, yaitu:
1. Proses fisik
Pada proses ini diusahakan agar minyak maupun buangan padat dipisahkan secara fisik. Setelah
melalui proses fisik tersebut, kandungan minyak dalam buangan air hanya diperbolehkan 25
ppm.
2. Proses kimia
Proses ini dilakukan dengan menggunakan bahan penolong seperti koagulan, flokulan, penetrasi,
pengoksidasi dan sebagainya, yang dimaksudkan untuk menetralkan zat kimia berbahaya dalam
air limbah. Senyawa yang tidak diinginkan diikat menjadi padat dalam bentuk endapan lumpur
yang selanjutnya dikeringkan.
3. Proses mikrobiologi,
Proses mikrobiologi merupakan proses akhir dan berlangsung lama dan hanya dapat mengolah
senyawa yang sangat sedikit mengandung senyawa logam berbahaya. Pada dasarnya proses ini
memanfatkan mahluk hidup(mikroba) untuk mengolah bahan organik.
Semua air buangan yang biodegradable dapat diolah secara biologi. Tujuannya untuk
mengumpulkan dan memisahkan zat padat koloidal yang tidak mengendap serta menstabikan
senyawa-senyawa organic. Sebagai pengolahan sekunder, penglahan secara biologi dipandang
sebagai pengolahan ynag paling murah dan efisien. Dalam beberapa dasawarsa telah berkembang
berbagai metode pengolahan limbah secara biologi dengan segala modifikasinya.
Konsep yang digunakan dalam proses pengolahan limbah secara biologi adalah eksploitasi
kemampuan mikroba dalam mendegradasi senyawa-senyawa polutan dalam air limbah. Pada
proses degradasi, senyawa-senyawa tersebut akan berubah menjadi senyawa-senyawa lain yang
lebih sederhana dan tidak berbahaya bagi lingkungan. Hasil perubahan tersebut sangat
tergantung pada kondisi lingkungan saat berlangsungnya proses pengolahan limbah. Oleh karena
itu, eksolitasi kemampuan mikroba untuk mengubah senyawa polutan biasanya dilakukan
dengan cara mengoptimalkan kondisi lingkungan untuk pertumbuhan mikroba sehingga tercapai
efisiensi yang maksimum.
3. Dehydrator dan Incenerator section
Padatan berupa lumpur yang terkumpul dari floatation section dan activated sludge ditampung
pada sebuah bak. Selanjutnya lumpur tersebut dipisahkan airnya dengan bantuan bahan kimia
dan alat mekanis berupa (alat yang bekerja memisahkan cairan-padatan dan dengan memutarnya
pada kecepatan tinggi).
4.2. Pengolahan Limbah Gas
Limbah gas dari kilang ini diolah di sulfur recovery unit dan sisanya dibakar di incinerator
(untuk gas berupa H2S dan CO) maupun flare (gas hidrokarbon).
4.3. Pengolahan Limbah Padat
Sludge merupakan suatu limbah yang dihasilkan dalam industri minyak yang tidak dapat dibuang
begitu saja ke alam bebas, karena akan mencemari lingkungan. Pada sludge selain mengandung
lumpur, pasir, dan air juga masih mengandung hidrokarbon fraksi berat yang tidak dapat di-
recovery ke dalam proses. Sludge ini juga tidak dapat di buang ke lingkungan sebab tidak terurai
secara alamiah dalam waktu singkat.
Pemusnahan hidrokarbon perlu dilakukan untuk menghindari pencemaran lingkungan. Dalam
upaya tersebut, industri melakukannya dengan membakar sludge dalam suatu ruang pembakar
(incinerator) pada temperature 800C. Lumpur/pasir yang tidak terbakar dapat digunakan untuk
landfill atau dibuang di suatu area, sehingga pencemaran lingkungan dapat dihindari.
PENGOLAHAN LIMBAH PADA INDUSTRI PENGOLAHAN MIGAS

Kandungan limbah yang perlu diperhatikan untuk industri Migas adalah TCLP, TDS,
COD, BOD, TPH dan BTEX. Untuk limbah industri lain juga perlu diperhatikan adalah
Chlorine, PCB, Lignin, Kandungan Logam Berat, Coal Ash, Air Asam Tambang dan Tailing.

Pada industri Migas, limbah sudah mulai dihasilkan saat dilakukan pengeboran baik saat
menggunakan Water based mud dimana dihasilkan Waste Water dan Waste Solid (limbah cair
dan limbah padat), juga saat digunakan SOBM (Synthetic Oil Based Mud) dimana dihasilkan
limbah campuran umumnya dikategorikan limbah padat dengan TPH yang cukup tinggi.
Perlakuan untuk limbah yang dihasilkan ini berbeda-beda seperti mekanis dan penambahan zat
additif tertentu namun belum memberikan solusi, penguraian merupakan solusi yang dianggap
baik dimana semua limbah B3 dapat diurai hingga tingkat tidak berbahaya. Rekayasa mikroba
pengurai sudah dimungkinkan termasuk pemanfaatan tanaman untuk mempercepat proses
penurunan kadar kandungan berbahaya.

Penanganan limbah cair dan limbah padat pada industri Migas, umumnya ditampung
ditempat penampungan sementara hingga dilakukan perlakuan untuk menurunkan kadar sebelum
dikirim ke tempat pengolahan akhir. tempat pengolahan akhir ini umumnya dikenal sebagai
lahan land fill tapi kebanyakan orang menyebutnya sebagai bioremediasi, padahal proses
bioremediasi meliputi dari saat perlakuan biologis dilakukan saat limbah dihasilkan hingga ke
proses penampungan akhir. Untuk limbah cair khususnya yang basis dengan air umumnya akan
dilepas ke sistem drainage yang ada di sekitarnya.

Proses bioremediasi akan berbeda-beda tergantung dari teknologi dan sistem, dimana hal
ini sangat dirahasiakan dan hanya sebagaian kecil yang diungkapkan kepermukaan. Tapi proses
yang kami lakukanm kami menggunakan mikroba non patogen, seperti E. Coli, Salmonella dan
Coryn bacterium sangat berbahaya apabila tidak diawasi dengan seksama dan terlepas ke
lingkungan. Selain itu kami juga mengembangkan tanaman pendukung proses penguraian yang
bukan bersifat gulma, karena pertumbuhan gulma sangat cepat dan bersifat mengikat oksigen
(menurunkan kadar oksigen dalam air) dan meningkatkan kadar keasaman air sehingga akan
membunuh biota lain. Pada beberapa kasus lepasnya gulma mengakibatkan matinya beberapa
danau seperti Rawa Pening, Danau Tempe dan masih ada 60 danau kritis yang tertutup oleh
gulma (sumber KemenPU Dirjen Sumber Daya Air, 2010), belum terhitung sungai yang tertutup
gulma seperti di Makassar.

Sementara proses yang biasa dilakukan sebagai berikut:


1.Enzimisasi
2.Biodegradasi, adalah proses dimana bahan organik yang dirobohkan oleh enzim dihasilkan
oleh organisme hidup. Istilah yang sering digunakan dalam kaitannya dengan ekologi,
pengelolaan sampah dan lingkungan proses pengobatan (bioremediation).
3.Biotransformasi, adalah perubahan atau modifikasi senyawa kimia oleh enzim atau sel mikrob.
Proses yang diinginkan dari biotransformasi adalah pembuatan (sintesis) suatu senyawa
maupun menghilangkan senyawa tersebut.
4.Biomineralisasi, adalah proses dimana organisme hidup menghasilkan mineral, sering untuk
mengeraskan atau mengkakukan jaringan yang ada. Jaringan seperti ini disebut jaringan
termineralisas.
5.Penyederhanaan rantai kompleks*
6.Proses anionisasi dan kationisasi*
7.Dekomposisi, merupakan salah satu perubahan secara kimia yang membuat objek, biasanya
makhluk hidup yang mati dapat mengalami perusakan susunan/struktur yang dilakukan oleh
dekomposer (termasuk semut, belatung, bakteri dan jamur).
8.Dekompos, hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang
dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi
lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik
9.Bahkan untuk beberapa logam berat dilakukan teknik semi bioleaching.

Hal yang perlu diperhatikan adalah pemahaman karakter dari limbah B3 tersebut kemudian
membuat sistematika dan alogaritma sehingga dibuat suatu startegi yang dapat mengurai dan
menurunkan kadar kandungan B3 pada limbah. Beberapa inovasi telah kami lakukan sehingga
memperpendek proses penguraian yang sedemikian panjang dan dapat diintegrasikan dengan
sistem operasi yang sesudah ada dimana terjadi effisiensi dan penurunan biaya yang signifikan.

SUMBER
https://groups.google.com/forum/#!topic/migas-indonesia-google/IBZi4SEyZnM
http://letshare17.blogspot.co.id/2010/12/bab-iv-pengolahan-limbah-pertamina.html