Anda di halaman 1dari 53

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA

INSTRUMENTASI DAN KONTROL

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengukuran adalah aktivitas membandingkan suatu besaran yang


diukur dengan alat ukur. Pengukuran merupakan sesuatu hal yang
penting, segala sesuatu yang berbentuk pasti ada ukurannya, baik itu
panjang, tinggi, berat, volume, ataupun dimensi dari suatu objek.
Penentuan besaran dimensi atau kapasitas,biasanya terhadapat suatu
standar satuan ukur tertentu.Pengukuran tidak hanya terbatas pada
kuantitas fisik. Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan
dengan angka disebut besaran, sedangkan pembanding dalam suatu
pengukuran disebut satuan.
Satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran dengan hasil
yang sama atau tetap untuk semua orang disebut satuan baku,
sedangkan satuan yang digunakan untuk melakukan pengukuran
dengan hasil yang tidak sama untuk orang yang berlainan disebut
satuan tidak baku. Alat ukur jarak merupakan salah satu alat ukur
yang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka diperlukan alat ukur
yang mudah digunakan, baik pemakaian maupun pembacaan
hasilnya. Alat ukur yang ada saat ini masih menggunakan alat
manual. Belum ada layar penampil untuk menampilkan hasil ukurnya
secara langsung sehingga kesalahanpembacaan bisa saja terjadi.
Karena dalam Pembacaan ukuran milimeter jaraknya kecil sehingga
dibutuhkan ketelitian. Alat ukur ini akan mempermudah membaca
hasil pengukuran jika dibandingkan dengan alat ukur manual, dengan
mempermudah pembacaan hasil sehingga pengguna dapat langsung
melihat hasilnya pada layar.

1
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang diatas, maka makalah ini akan


membahas tentang :

1) Apa dasar-dasar dari instrumentasi?

2) Apa pengertian dari pengukuran?

3) Apa saja istilah-istilah dari pengukuran?

4) Bagaimana sistem pengukuran dan bentuk-bentuknya?

5) Apa jenis-jenis dari alat ukur?

1.3 Tujuan

Tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah :


a. Untuk mengetahui dasar-dasar instrumentasi
b. Untuk mengetahui definisi dari pengukuran
c. Untuk mengetahui sistem pengukuran dan bentuk-
bentuknya
d. Untuk mengetahui macam-macam alat ukur

2
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL
T2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Dasar-Dasar Instrumentasi

Instrumen adalah alat ukur yang digunkana untuk menentukan


nilai atau besaran suatu kuantitas atau variable. Alat ukur yang
mempunyai sifat komplek, yang minimal terdiri atas komponen :
a. Transducer atau Sensor atau Elemen Pengindera
b. Pengkondisi Sinyal , a.l : Amplifier/penguat, Peredam, dan
Penyaring,
c. Unit Keluaran Analog (Skala Jarum dll) atau Peraga Digital atau
Monitor.

Tujuan dasar instrumentasi proses untuk mendapatkan informasi


penting yang berkaitan dengan kelangsungan proses. Di dalam
pengukuran umumnya dibutuhkan suatu instrumen dan instrumen
diperlukan untuk :
- menentukan suatu besaran ( kuantitas ) atau variabel.

3
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

- membantu peningkatan ketrampilan manusia dan dalam


banyak hal memungkinkan seseorang untuk menentukan nilai
dari suatu besaran yang tidak diketahui, karena tanpa
bantuan instrumen manusia tidak dapat menentukannya.

Measuring: Mengukur nilai variabel


proses

Instrument Indicating: Menujukkan nilai


variabel proses

Recording: Mencatat nilai variabel


proses

Elemen-Elemen Pengukuran

Measured Primary Variable Variable


Medium
Sensing Conversion Manipulation
Element Element Element

Observer Data Data


Presentation Transmission
Element Element

Gambar 2.1 Skema elemen-elemen pengukuran

4
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

2.2 Pengukuran
Pengukuran adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menentukan nilai
suatu besaran dalam bentuk angka (kwantitatif). Jadi mengukur adalah suatu proses
yang mengkaitkan angka secara empirik dan obyektif pada sifat-sifat obyek atau
kejadian nyata sehingga angka yang diperoleh tersebut dapat memberikan gambaran
yang jelas mengenai obyek atau kejadian yang diukur.
Secara umum sistem pengukuran dapat dibagi menjadi tiga
tahap, yaitu :
1. Tahap detektor transduser
2. Tahap intermediat, pengkondisian sinyal
3. Tahap pembacaan

a. Tahap Detektor Transduser


Fungsi utama tahap ini adalah mendeteksi atau merasakan adanya
perubahan besaran fisik pada obyek yang diukur. Tahap ini harus
kebal terhadap pengaruh lain yang tidak dikehendaki, misalnya
sensor gaya tidak boleh terpengaruh oleh percepatan atau sensor
percepatan linier, tidak boleh berubah oleh perubahan percepatan
sudut. Tetapi hal tersebut tidak pernah didapati secara ideal,
perubahan-perubahan kecil oleh variabel lain tersebut masih dapat
diterima selama masih berada dalam batasan-batasan yang diizinkan.

b. Tahap Intermediate
Tahap ini adalah tahap pengkondisian sinyal yang dihasilkan pada
tahap pertama agar dapat dinyatakan ke tahap terakhir. Perlakuan
yang dilakukan pada tahap ini biasanya penyaringan, penguatan dan
transformasi sinyal. Fungsi umum tahap ini adalah meningkatkan
kemampuan sinyal ke level yang mampu mengaktifkan tahap akhir.
Peralatan pada tahap ini harus dirancang sedemikian rupa agar
sesuai dengan kondisi antara tahap pertama dan tahap terakhir.

5
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

c. Tahap Pembacaan
Tahap ini mengandung informasi dalam level yang dapat disensor
oleh manusia dan/atau perangkat kendali. Jika keluaran diharapkan
dapat dibaca oleh manusia, maka lebih sering berbentuk gerakan
relatif, misalnya jarum penunjuk skala atau gerakan gelombang pada
osiloskop, digital, bentuk ini mempresentasikan angka-angka,
misalnya odometer mobil, termometer digital dan sebagainya.
Berikut ini akan diberikan beberapa contoh peralatan menyangkut
ketiga tahap diatas.

Tabel 2.1 Contoh Peralatan Sistem Pengukuran

2.3 Istilah-Istilah dalam Pengukuran


1. Kemampuan baca (readability)
Istilah ini menunjukkan berapa teliti skala suatu instrument yang
dapat dibaca. Instrument yang mempunyai skal 12 inchi tertentu
mempunyai kemampu bacaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan
instrument yang memiliki skala inchi dan jangkauan (range) yang
sama.

6
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

2. Kalibrasi (calibration)
Serangkaian kegiatan untuk menentukan kebenaran konvensional
penunjukan alat ukur atau menujukkan nilai yang diabadikan bahan
ukur dengan cara membadingkannya dengan standar ukur yang
tertelusuri ke standar nasional dan/atau international. Penentuan nilai
ukur dalam suatu skala bacaaan; biasanyamenghasilkan output:
voltage, current, frequency, pressure, flow.
Langkah-langkah penting dalam kalibrasi:
1. Uji konstruksi instrumen dan tentukan semua input yang mungkin
2. Tentukan input yang akan diterapkan untuk kalibrasi instrumen
3. Siapkan peralatan yang mengijinkan semua input bervariasi
didalam rentang (range) yang diperlukan
4. Dengan menjaga beberapa input konstan, variasikan input
lain,catat outputnya, susun hubungan (persamaan) input-output.

3. Akurasi (accuracy)
Kemampuan suatu alat atau sistem untuk menanggapi nilai nyata
variabel yang diukur di bawah kondisi reference. Dalam praktiknya,
akurasi dinyatakan dalam batas error (limit of error) dari alat ukur
atau sistem di bawah kondisi operasi tertentu yang mungkin
sudah/belum ditentukan.

4. Koreksi ( correction ) :

Suatu harga yang ditambahkan secara aljabar pada hasil dari alat
ukur untuk mengkompensasi penambahan kesalahan sistematik.

5. Presisi (precision)

Derajat kebenaran (degree of exactness) dari sebuah


instrument. Ketepatan (precision) adalah kedekatan nilai-nilai

7
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

pengukuran individual yang didistribusikan sekitar nilai rata-ratanya


atau penyebaran nilai pengukuran individual dari nilai rata-ratanya

Contoh: sebuah resistor mempunyai nilai tahanan (nyata)


1592154 Jika diukur dengan multimeter, terbaca 1,5 M. Pengamat
tidak dapatmembaca nilai yang sesungguhnya (pada skala). Meskipun
tidak adakesalahan pembacaan, namun kesalahan atau error muncul
akibat dari skala bacaan (precision error).

6. Reproducibility
Kemampuan alat ukur untuk menunjukkan hasil yang sama dari
proses pengukuran yang dilakukan berulang-ulang dan identik.
Kedekatan hasil pengukuran output yang dilakukan berulang-
ulang,dengan input dan kondisi operasi yang sama dalam periode
waktutertentu. Perfect Reproducibility adalah instrumen tidak
mempunyai drift (kalibrasinyatidak bergeser dalam periode waktu
panjang: minggu, bulan, tahun)

7. Drift
Sebuah perubahan yang tidak diinginkan atau variasi output
secara gradual dalam periode waktu. Jadi jika drift terjadi, korelasi
antara input output tidak dapat dibuat. Drift biasanya muncul jika
instrumen sudah kuno.

8. Sensitivity
Perbandingan antara sinyal keluaran/respon instrumen terhadap
perubahan variabel masukan yang diukur. Atau Perbandingan (ratio)
dari perubahan output terhadap perubahan input, pada kondisi tunak.

9. Resolution

8
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Nilai inkremen terkecil dari sebuah input atau output yang dapat
dideteksi Jika inkremennya kecil ---->fine resolution
Besar-- ->coarse resolution

10. Ketertelusuran ( traceability )


Terkaitnya hasil pengukuran pada standar nasional/internasional
melalui peralatan ukur yang kinerjanya diketahui, standar-standar
yang dimiliki laboratorium tempat pengukuran dilakukan dan
kemampuan personil lab tersebut.

11. Kehandalan ( reliability )


Kesanggupan alat ukur untuk melaksanakan fungsi yang
disyaratkan untuk suatu periode yang ditetapkan.

12. Ketidakpastian Pengukuran ( uncertainty )


Perkiraan atau taksiran rentang dari nilai pengukuran dimana nilai
sebenarnya dari besaran obyek yang diukur ( measurand ) terletak.

13. Transduser
Bagian dari alat ukur untuk mengubah atau mengkonveksikan
suatu bentuk energi atau besaran fisik yang diterimanya ( sensing
elemen ) kedalam bentuk energi yang lain, sehingga mudah diolah
oleh peralatan berikutnya.

14. Dead Zone


Rentang terbesar dari variabel terukur yang tidak dapat direspon
oleh instrumen, kadang-kadang disebut dead spot atau hysteresis.
Dead zone biasanya terjadi pada instrumen penunjuk (indicating)
atau pencatat(recording).

9
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

15. Backlash
Disebut juga mechanical hysteresis yaitu kehilangan gerak yang
mungkin terjadi pada elemen mekanik (gear, linkage, atau peralatan
transmisimekanik lainnya) karena terputus hubungan (kait-nya tidak
kuat).

16. True Value


Nilai variabel terukur yang terbebas dari error

True value = Instrument reading Static


error

17. Mistake
Kesalahan yang disebabkan oleh manusia (ketidak-telitian
membaca, penerapan instrumen yang kurang tepat, kesalahan
komputasi).

18. Systematic Error


Kadang-kadang disebut bias; deviasi seragam dari titik titik
pengukuransebuah instrumen. Ada 2 jenis:
1. Instrumental error: disebabkan oleh instrumen (friksi pada
bearing,tegangan pegas/spring).
Cara menghindarinya dengan:
(a) Pemilihan instrumen yang tepat
(b) Penerapan faktor koreksi setelah penentuan besarnya error
(c) Kalibrasi instrumen terhadap alat standar.
2. Environmental error: disebabkan oleh kondisi eksternal (efek
suhu,humiditas, tekanan barometrik).
Cara menghindarinya dengan:
(a) Menyediakan penyejuk ruangan (AC)

10
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

(b) Melapisi komponen tertentu dalam intrumen


(c) Menggunakan perlindungan (shield) magnetic

19. Random Error


Error yang tidak diketahui penyebabnya. Error ini biasanya kecil,
danmungkin dapat ditangani secara matematis menurut hukum
probabilitas.

2.4 Ketelitian dan Ketepatan


Perbedaan ketelitian dan ketepatan :
- Ketelitian/accuracy : menyatakan tingkat kesesuaian atau
dekatnya suatu hasil pengukuran
terhadap harga yang sebenarnya.

- Ketepatan/precision : menyatakan tingkat kesamaan


didalam sekelompok pengukuran
atau sejumlah instrumen.

Kadang-kadang kita sering keliru menafsirkan antara


ketelitian dan ketepatan, untuk menunjukkan perbedaan antara
keduanya, mari kita tinjau contoh berikut ini:

Dua buah voltmeter yang pembuatan dan modelnya


sama, mempunyai jarum penunjuk yang ujungnya tajam dan juga
dilengkapi dengan cermin untuk menghindari beda penglihatan
( paralaksis ) dan skala masing-masing voltmeter telah dikalibrasi
dengan seksama, dengan demikian kedua voltmeter dapat dibaca
pada ketepatan yang sama, akan tetapi jika nilai tahanan deret dari
salah satu voltmeter berubah banyak, pembacaannya dapat
menyebabkan kesalahan yang cukup besar dan karenanya ketelitian

11
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

kedua voltmeter tersebut dapat berbeda sama sekali. Untuk


menentukan voltmeter mana yang menghasilkan kesalahan, diperlu-
kan suatu voltmeter standar untuk perbandingan.

Ketepatan terdiri dari dua karakteristik :

- kesesuaian ( conformity )
- jumlah angka yang berarti ( significant figures ), terhadap
mana suatu pengu -kuran dapat dilakukan.

Contoh lainnya, misalnya sebuah tahanan yang besarnya 1384572 ,


setelah diukur dengan ohm meter secara konsisten dan berulang,
menghasilkan 1,4 Mega-ohm.

2.5 Kalibrasi

Kalibrasi adalah kegiatan untuk menentukan kebenaran


konvensional nilai penunjukkan alat ukur dan bahan ukur dengan cara
membandingkan terhadap standar ukur yang mampu telusur
(traceable) ke standar nasional maupun internasional untuk satuan
ukuran dan/atau internasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi.
Kalibrasi atau penaraan instrument sangat penting, karena
memungkinkan kita memeriksa instrument terhadap standar yang
diketahui untuk selanjutnya mengurangi kesalahan dalam
ketelitiannya.

Kalibrasi pada umumnya, merupakan proses untuk


menyesuaikan keluaran atau indikasi dari suatu perangkat
pengukuran agar sesuai dengan besaran dari standar yang digunakan
dalam akurasi tertentu. Contohnya, termometer dapat dikalibrasi
sehingga kesalahan indikasi atau koreksi dapat ditentukan dan
disesuaikan (melalui konstanta kalibrasi), sehingga termometer

12
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

tersebut menunjukan temperatur yang sebenarnya dalam celcius


pada titik-titik tertentu di skala. Di beberapa negara, termasuk
Indonesia, terdapat direktorat metrologi yang memiliki standar
pengukuran (dalam SI dan satuan-satuan turunannya) yang akan
digunakan sebagai acuan bagi perangkat yang dikalibrasi. Direktorat
metrologi juga mendukung infrastuktur metrologi di suatu negara
(dan, seringkali, negara lain) dengan membangun rantai pengukuran
dari standar tingkat tinggi/internasional dengan perangkat yang
digunakan. Hasil kalibrasi harus disertai pernyataan traceable
uncertainity untuk menentukan tingkat kepercayaan yang di evaluasi
dengan seksama dengan analisa ketidakpastian.

A. Tujuan Kalibrasi

Mencapai ketertelusuran pengukuran. Hasil pengukuran dapat


dikaitkan/ditelusur sampai ke standar yang lebih tinggi/teliti
(standar primer nasional dan / internasional), melalui rangkaian
perbandingan yang tak terputus.

Menentukan deviasi (penyimpangan) kebenaran nilai


konvensional penunjukan suatu instrument ukur.

Menjamin hasil-hasil pengukuran sesuai dengan standar


Nasional maupun Internasional.

B. Manfaat Kalibrasi

Menjaga kondisi instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap


sesuai dengan spesifikasinya.

Untuk mendukung sistem mutu yang diterapkan di berbagai


industri pada peralatan laboratorium dan produksi yang dimiliki.

13
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Bisa mengetahui perbedaan (penyimpangan) antara harga


benar dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.

C. Prinsip Dasar Kalibrasi

Obyek Ukur (Unit Under Test)

Standar Ukur(Alat standar kalibrasi, Prosedur/Metrode standar


(Mengacu ke standar kalibrasi internasional atau prosedur yg
dikembangkan sendiri oleh laboratorium yg sudah teruji
(diverifikasi))

Operator / Teknisi ( Dipersyaratkan operator/teknisi yg


mempunyai kemampuan teknis kalibrasi (bersertifikat))

Menurut ISO/IEC Guide 17025:2005 bahwa semua alat ukur


setelah melewati mobilisasi atau pergeseran dari satu tempat
ke tempat lainnya, maka sebaiknya di lakukan kalibrasi
menyeluruh untuk mendapatkan keakuratan

Lingkungan yg dikondisikan (Suhu dan kelembaban selalu


dikontrol, Gangguan faktor lingkungan luar selalu diminimalkan
& sumber ketidakpastian pengukuran)

D. Hasil Kalibrasi antara Lain:

Nilai Obyek Ukur

Nilai Koreksi/Penyimpangan

Nilai Ketidakpastian Pengukuran(Besarnya kesalahan yang


mungkin terjadi dalam pengukuran, dievaluasi setelah ada hasil
pekerjaan yang diukur & analisis ketidakpastian yang benar

14
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

dengan memperhitungkan semua sumber ketidakpastian yang


ada di dalam metode perbandingan yang digunakan serta
besarnya kesalahan yang mungkin terjadi dalam pengukuran)

Sifat metrologi lain seperti faktor kalibrasi, kurva kalibrasi.

E. Persyaratan Kalibrasi

Standar acuan yang mampu telusur ke standar Nasional /


Internasional

Metode kalibrasi yang diakui secara Nasional / Internasional

Personil kalibrasi yang terlatih, yang dibuktikan dengan


sertifikasi dari laboratorium yang terakreditasi

Ruangan / tempat kalibrasi yang terkondisi, seperti suhu,


kelembaban, tekanan udara, aliran udara, dan kedap getaran

Alat yang dikalibrasi dalam keadaan berfungsi baik / tidak rusak

F. Istilah dalam Kalibrasi Alat kur :

1. Resolusi
Nilai skala terkecil / suatu ekspresi kuantitatif dari
kemampuan alat penunjuk untuk perbedaan yang cukup
berarti antara nilai yang terdekat dari jumlah yang
ditunjukan.
2. Akurasi
Kemampuan dari alat ukur untuk memberikan indikasi
kedekatan terhadap harga sebenarnya dari objek yang
diukur.

15
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

3. Presisi
Kecenderungan data yang diperoleh dari perulangan
mengindikasikan kecilnya simpangan ( deviasi ).
4. Reaptibility
Ukuran variasi statistic data yang dihasilkan bila
pengukuran dilakukan oleh personal, perlengkapan, serta
ruangan dengan kondisi yang lama.
5. Readability
Kemampuan dari indra manusia dalam membaca data
yang dihasilkan oleh suatu instrument.

G. Prinsip Dasar Kalibrasi


Beberapa hal yang harus disiapkan sebelum kegiatan kalibrasi
dilakukan adalah:
1. Obyek Ukur ( Unit Under Test )
2. Standar Ukur (Alat standar kalibrasi, Prosedur / Metode
standar yang mengacu ke standar kalibrasi internasional
atau prosedur yang dikembangkan sendiri oleh
laboratorium yang sudah teruji / diverifikasi)
3. Operator/Teknisi ( Dipersyaratkan operator / teknisi yang
mempunyai kemampuan teknis kalibrasi / bersertifikat)
4. Lingkungan yang dikondisikan ( Suhu dan kelembaban
selalu dikontrol, Gangguan faktor lingkungan luar selalu
diminimalkan sebagai sumber ketidakpastian
pengukuran).

Hasil kalibrasi dikatakan memenuhi standar apabila berisi


informasi sebagai berikut:
1. Nilai Obyek Ukur

16
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

2. Nilai Koreksi/Penyimpangan.
3. Nilai Ketidakpastian Pengukuran
4. Sifat metrologi lain,faktor kalibrasi, kurva kalibrasi.

H. Periode Kalibrasi
Jangka waktu atau selang waktu kalibrasi harus ditetapkan pada
suatu instrumen ukur. Secara umum selang / interval kalibrasi dapat
ditentukan berdasarkan :
1. Jenis alat ukur
2. Frekuensi pemakaian
3. Stabilitas
4. Kondisi pemakaiaan
5. Batas kesalahan yang ada hubungannya dengan akurasi
alat.

Selang kalibrasi biasanya dinyatakan dalam beberapa cara


yaitu :
1. Dinyatakan dalam waktu kalender, misalnya 6 (enam)
bulan sekali, 1(satu) tahun sekali, dst.
2. Dinyatakan dalam waktu pemakaian, misalnya 1000 jam
pakai, 5000 jam pakai, dst.
3. Kombinasi carapertama dan kedua, misalnya 6 bulan atau
1000 jam pakai,tergantung mana yang lebih dulu
tercapai.

2.6 Standar Pengukuran

Stadar pengukuran merupakan pernyataan fisis dari sebuah satuan pengukuran.


Sebuah satuan dinyatakan dengan menggunakan suatu bahan standar sebagai acuan
(referensi). Dalam ilmu pengetahuan dan teknik digunakan dua jenis satuan yaitu satuan
dasar seperti satuan panjang, massa dan waktusedangkan satuan turunan adalah semua

17
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

satuan lain yang dapat dinyatakan dengan satuan-satuan dasar seperti m 2, cm3 dan
sebagainya.

Dengan adanya satuan dasar dan satuan turunan dalam pengukuran, terdapat
beberapa jenis pengukuran yang dikelompokan menurut fungsi dan pemakaiannya, yaitu
:

A. Standar Internasional

B. Standar Primer

C. Standar Sekunder

D. Standar Kerja

Standar-standar Internasional didefinisikan oleh perjanjian internasioal.


Perjanjian internasional menyatakan satuan-satuan pengukuran tertentu sampai
ketelitian terdekat yang diijinkan oleh produksi dan teknologi pengukuran. Secara
berkala , standar internasional ini dinilai dan diperiksa melalui pengukuran-pengukuran
absolut yang dinyatakan dalam satuan-satuan dasar. Standar-standar ini dirawat di
IBWM (Internasional Bureau of Weights and Measure) dan tidak tersedia bagi pemakai
alat-alatukur biasa untuk maksud pembanding dan kalibrasi.

Standar-standar primer dipelihara oleh laboratorium-laboratorium standar


internasional diberbagai negara didunia. Salah satu fungsi utama dari standar primer
adalah memeriksa dan mengkalibrasi standar-standar skunder.

Standar-standar sekunder merupakan acuan (referensi) dasar bagi standar


yang diguunakan dalam laboratorium pengukuran industri. Standar sekunder ini
biasanya diserahkan kepada laboratorium-laboratorium standar nasional secara berkala
untuk melakukan kalibrasi untuk membbandingkan terhadap standar-standar primer lalu
dikembalikan ke industri pemakai disertai dengan tanda bukti kalibrasi (sertifikat).

Standar kerja adalah alat utaama bagi sebuah laboratorium pengukuran dan
digunakan untuk memeriksa dan mengkalibrasi instrumen-instrumen laboratorium yang

18
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

umum mengenai ketelititian dan prestasi atau untuk melakukan perbandingan dealam .
pemkaiiannya di industri.

2.7 Bentuk Umum Sistem Pengukuran

Penggunaan tertentu dari instrumen pengukuran adalah hanya terbatas sebagai


fungsi pemonitoran, contohnya termomete yang digunakan untuk memonitor suhu
untuk mengetahui suhu pada suatu kondisi lingkungan tertentu. Demikian pula meteran
air, gas dan listrik dirumah mengikuti jumlah pemakaian sehingga biaya yang
dibebankan ada pemakai dapat dihitung . pelat film yang dipakai oleh pekerja di
lingkungan radioaktif memonitor jumlah radiasi dari berbagai jenis yng diterima oleh
pemakainya.

Secara umum sistem pengukurn terdiri atas tiga bagian yaitu :

1. Tahap Detektor-Transduser

Yaitu suatu tahap yang mendeteksi besaran fisika dan melakukan


transformasi secara mekanik atau listrik untuk mengubah sinyal (isyarat)
menjadi bentuk yang lebih berguna. Secara umum, transduser ialah
penngganti yang dapat mentransformasi suatu efek fisika lain. Namun dalam
banyak hal, variabel fisika itu ditransformasikan menjadi sinyal listrik
karena dalam bentuk inilah sinyal dapat mudah diukur.

2. Tahap Antara

Yaitu tahap yang mengubah sinyal langsung dengan penguatan,


penyaringan atau cara-cara lain agar didapatkan keluaran yang dikehendaki.

3. Tahap Akhir atau Penutup

Yaitu tahap yang fungsinya menunjukan, merekam, dan mengendalikan


variabel yang diukur.

Sebagai contoh sistem pengukuran, pengukuran sinyal voltase rendah pada


frekuensi rendah. Detektor yang digunaan dalam hal ini hanyalah dua kawat dan satu
rangkaian tahanan yang dihubungkan dengan terminal sebagimana mestinya. Tahap

19
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

penguat merupakan tahap ke-2 yang disebutkan diatas. Tahap akhir sistem pengukuran
itu bisa berupa satu voltameter (pengukur tegangan) atau sebuah rekorder yang
beroperasi dalam jangkauan tegangan (voltase) keluaran dari penguat itu.

Dalam hal ini tahap detektor-transduser ialah tabung bourdon yang fungsinya
mengubah sinyal tekanan menjadi getaran mekanik tabung itu. Tahap antara terdiri dari
dari susunan roda- roda gigi yang memperkuat/memerbesar gerakan di ujung tabung
sehingga gerakan kecil saja pada ujung itu dapat menghasilkan sampai tig per empat
putaran pada gigi roda pusat. Tahap petunjuk akhir terdiri dari jarum penunjuk dan
sususan bacaan angka, yang bila dikalibrasi dengan masukkan tekanan yang diketahui
akan menunjukan sinyal tekanan yang diberikan tabung bourdon itu. Diagram skema
umum pengukuran ditunjukan pada gambar dibawah ini :

Variabel fisik
yang harus
diukur
Tahap Taha Pengend
detektor panta ali
Pengend
transduser ra
ali
Sumber sinyal Tenaga Pengend
kalibrasi ekstem ali
Tahap
menunjukkan keluaran
nilau variabel
fisik yang Gambar 5.1 Skema Umum Sistem Pengukuran
diketahui
2.8 Pengukuran Suhu
Suhu dapat didefinisikan sebagai derajat panas satu benda. Benda yang
panas memiliki suhu yang lebih tinggi dibandingkan benda yang dingin.
Sebenarnya alat indera (kulit)tidak dapat menentukan suhu benda secara akurat,
hanya berdasarkan perkiraan dan perasaan subjeknya saja. Hal ini dikarenakan
alat indera memiliki keterbatasan, salah satunya tidak dapat digunakan untuk
menyentuh benda yang terlalu panas atau terlalu dingin.

2.8.1 Mengubah Skala Suhu

20
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Gambar 2.1 Termometer

Suhu yang diketahui Suhu yang dicari Rumus yang digunakan

C F F = 9/5 C + 32

F C C = 5/9 (F 32)

C R R = 4/5 C

R C C = 5/4 R

R F F = 9/4 R + 32

F R R = 4/9 (F 32)
Tabel 2.2 Skala Perubahan Suhu

2.8.2 Alat Untuk Mengukur Suhu


Alat untuk mengukur suhu disebut termometer. Termometer memanfaatkan sifat
termometrik suatu zat, yaitu perubahan sifat-sifat zat karena perubahan suhu zat
tersebut. Termometer pertama kali ditemukan oleh Galileo Galilei (1564-1642).
Termometer ini disebut termometer udara. Termometer udara terdiri dari sebuah bola
kaca yang dilengkapi dengan sebatang pipa kaca panjang. Pipa tersebut dicelupkan ke
dalam cairan berwarna. Ketika bola kaca dipanaskan, udara di dalam pipa akan
mengembang sehingga sebagian udara keluar dari pipa. Namun, ketika bola didinginkan
udara di dalam pipa menyusut sehingga sebagian air naik ke dalam pipa. Termometer
udara peka terhadap perubahan suhu sehingga suhu udara saat itu dapat segera

21
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

diketahui. Meskipun peka terhadap perubahan suhu, namun termometer ini harus
dikoreksi setiap terjadi perubahan tekanan udara.

Termometer yang banyak digunakan sekarang adalah termometer raksa. Disebut


termometer raksa karena di dalam termometer ini terdapat air raksa. Fungsi raksa adalah
sebagai penunjuk suhu. Raksa akan mengembang bila termometer menyentuh benda
yang lebih hangat dari raksa. Raksa memiliki beberapa keunggulan diantaranya:

1. Peka terhadap perubahan suhu. Suhu raksa segera sama dengan suhu benda yang
ingin diukur.

2. Dapat digunakan untuk mengukur suhu rendah (-40 C) sampai suhu tinggi (360
C). Hal ini disebabkan titik beku raksa mencapai -40 C dan titik didihnya
mencapai 360 C.

3. Tidak membasahi dinding kaca sehingga pengukuran bisa menjadi lebih teliti.

4. Mengkilap seperti perak sehingga mudah terlihat.

5. Mengembang dan memuai secara teratur.

Selain raksa, alkohol juga dapat digunakan untuk mengisi termometer, kelebihannya
yaitu dapat mengukur suhu yang sangat rendah (mencapai -130 C) karena titik beku
alkohol yang lebih rendah dibandingkan raksa, namun termometer alkohol tidak dapat
digunakan untuk mengukur air mendidih karena titik didih alkohol hanya 78 C.

A. Termometer dengan Bahan Zat Cair


1. Termometer Laboratorium
Alat ini biasanya digunakan untuk mengukur suhu air dingin atau air yang sedang
dipanaskan. Termometer laboratorium menggunakan raksa atau alkohol sebagai
penunjuk suhu. Raksa dimasukkan ke dalam pipa yang sangat kecil (pipa kapiler),
kemudian pipa dibungkus dengan kaca yang tipis. Tujuannya agar panas dapat diserap
dengan cepat oleh termometer.

22
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Gambar 2.2 Termometer Laboratorium


Skala pada termometer laboratorium biasanya dimulai dari 0 C hingga 100 C. 0
C menyatakan suhu es yang sedang mencair, sedangkan suhu 100 C menyatakan suhu
air yang sedang mendidih.

2. Termometer Six-Bellani
Termometer Six-Bellani disebut pula termometer maksimum-
minimum. Termometer ini dapat mencatat suhu tertinggi dan suhu
terendah dalam jangka waktu tertentu. Termometer ini mempunya 2
cairan, yaitu alkohol dan raksa dalam satu termometer.
Termometer maximum dan minimum six-Bellani Prinsip
kerjanya, ketika suhu udara turun alkohol di ruang A menyusut
sehingga raksa di ruang B naik dan mendorong keping baja untuk
menunjukkan angka minimum. Sebaliknya suhu udara naik alkohol di
ruang A memuai dan mendesak raksa di ruang B turun dan raksa di
ruang C naik untuk mendorong paku baja untuk menunjukkan angka
maksimum. Kedua keping baja dapat turun karena ditahan oleh spiral.
Untuk mengembalikan keeping baja pada posisi semula digunakan
magnet tetap.
Ciri-ciri termometer six-Bellani antara lain :
a. Merupakan termometer khusus karena hanya digunakan untuk
mengukur suhu tertinggi dan terendah di suatu tempat,
b. Skala ukurnya antara -20oC sampai 50oC,
c. Menggunakan zat muai alcohol dan raks dan dilengkapi pula
keeping baja sebagai penunjuk skala,

23
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

d. Dilengkapi magnet tetap untuk menarik keeping baja turun


melekat pada raksa.

B. Termometer dengan Bahan Zat Padat


1. Termometer Bimetal
Termometer bimetal memanfaatkan logam untuk menunjukkan
adanya perubahan suhu dengan prinsip logam akan memuai jika
dipanaskan dan menyusut jika didinginkan. Kepala bimetal dibentuk
spiral dan tipis, sedangkan ujung spiral bimetal ditahan sehingga
tidak bergerak dan ujung lainnya menempel pada pinggir penunjuk.
Semakin besar suhu, keping bimetal semakin melengkung dan
meneyebabkan jarum penunjuk bergerak ke kanan, ke arah skala
yang lebih besar. Termometer bimetal biasanya terdapat di mobil.

Gambar 2.3 Termometer Bimetal


2. Termometer Hambatan
Termometer hambatan merupakan termometer yang paling
tepat digunakan dalam industri untuk mengukur suhu di atas 1000 C.
Termometer ini dibuat berdasarkan perubahan hambatan logam,
contohnya termometer hambatan platina. Dalam termometer
hambatan terdapat kawat penghambat yang disentuhkan ke benda
yang akan diukur suhunya, misalnya pada pengolahan besi dan baja.
Suatu tegangan atau potensial listrik yang bernilai tetap diberikan

24
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

sepanjang termistor, yaitu sensor yang terbuat dari logam dengan


hambatan yang bertambah jika dipanaskan.

3. Termokopel
Pengukuran suhu dengan ketepatan tinggi dapat dilakukan
dengan menggunakan termokopel, di mana suatu tegangan listrik
dihasilkan saat dua kawat berbahan logam yang berbeda
disambungkan untuk membentuk sebuah loop. Kedua persambungan
tersebut memiliki suhu yang berbeda. Untuk meningkatkan besar
tegangan listrik yang dihasilkan, beberapa termokopel bisa
dihubungkan secara seri untuk membentuk sebuah termopil.

Gambar 2.4 Termokopel


Metode listrik yang paling umum untuk pengukuran suhu
adalah menggunakan termokopel. Termokopel bekerja mengukur
duhu berdasarkan efek termoelektrik.

Ada 3 efek termoelektrik, yaitu:

1. Efek Seebeck

iiBila dua jenis logam yang berlainan disatukan akan timbul


tegangan gerak elektrik(tge) atau electromotive force (emf)
antara dua titik A dan B yang merupakan fungsi suhu
A
persambungan.

T2

T2 EMF T1

25
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Gambar 2.5 Efek Seebeck

2. Efek Peltier

Bila kedua bahan itu dihubungkan dengan rangkaian luar


sedemikian rupa sehingga arus mengalir, tge dapat berubah
A
sedikit.
A

ALIRAN PANAS

B
B

Gambar 2.6 Efek Peltier


I

3. Efek Thomson

Bila terdapat gradien suhu pada salah satu atau kedua bahan,
tge sambungan akan mengalami perubahan sedikit lagi.

Ada 3 macam tge yang terdapat dalam rangkaian termoelektrik

1. Tge Seebeck disebabkan oleh logam yang tidak sama

2. Tge Peltier disebabkan oleh arus yang mengalir di dalam


rangkaian

3. Tge Thomson disebabkan oleh adanya gradien suhu pada


bahan

Ada 2 kaidah yang digunakan :

1. Jika logam ketiga dihubungkan dengan rangkaian itu seperti


terlihat pada gambar tge neto rangkaian itu tidak

26
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

terpengaruh selama sambungan baru itu pada suhu yang


sama.

2. Rangkaian-rangkaian termokopi itu terbuat dari logam-logam


yang sama, tetapi beroperasi pada batas-batas suhu yang
berbeda.

E1 E2 E3= E1+ E2
Gambar
(A) 1.3 Rangkaian
(B)Hukum Suhu (C)
C. Termometer dengan Bahan Gas

Termometer gas adalah jenis termometer yang memanfaatkan


sifat-sifat termal gas. Ada dua macam termometer gas: Termometer
yang volume gasnya dijaga tetap dan tekanan gas tersebut dijadikan
sifat termometrik dari termometer. Termometer yang tekanan gasnya
dijaga tetap dan volume gas tersebut dijadikan sifat termometrik dari
termometer.
A.Termometer optis
1. Pirometer
Prinsip kerja pirometer adalah dengan mengukur intensitas radiasi
yang dipancarkan oleh benda-benda yang suhunya sangat tinggi.
Spirometer dapat digunakan untuk mengukur suhu antara 500 C
3.000 C.

2. Termometer Inframerah
Termometer inframerah digunakan dengan cara menekan
tombol sampai menunjukkan angka tertinggi dengan cara
mengarahkan sinar inframerah ke sasaran yang dituju. Sinar yang

27
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

diarahkan ke benda yang diukur akan memantul dan pantulan


tersebut direspon oleh alat sehingga termometer inframerah
menunjukkan skala suhu yang tepat.

Gambar 2.6 Termometer Inframerah

2.9 Pengukuran Komposisi Kimia


Instrumen untuk menentukan variabel komposisi kimia sering dikategorikan
pada dasar konstruksi instrumen tersebut misalnya :

1. Instrumen optis, karena menggunakan lensa, sumber cahaya dan prisma

2. Instrumen listrik, karena menggunakan sirkuit listrik

Dasar untuk pengkuran variabel komposisi kimia adalah pada interaksi antara
zat dan energi. hal ini didasarkan fakta bahwa seluruh zat tersusun dari partikel yang
mempunyai massa dan muatan listrik. Kombinasi kimia atom menjadi molekul
melibatkan elektron dan tingkat energi. tingkat energi ini bersifat karakteristik terhadap
komposisi zat tertentu dan dapat diamati dengan melihat innteraksi zat dan sumber
energi.

Sumber energi teribagi atas :

a. Radiasi elektromagnetis : spektrometer, UV, IR, dan AAS

28
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

b. Afinitas/reaktifitas kimia : Orsat dan oksigen analiser, pH

c. Medan listrik elektromagnet : spektrometer massa dan NMR(Resonansi Massa


Nuklir)

d. Energi panas/mekanis : titik didih, titik leleh dan kromatografi

Aplikasi pengukuran komposisi kimia :

1.Pada bahan baku

a. Analisis komposisi untuk mengecek spesifikasi barang (reaktan)

b. Deteksi kontaminasi

c. Analisis kontinyu material yang mengalir melalui jalur pipa seperti analisis air

2.Pengendalian proses

a. Mempercepat dan meningkatkan pengendalian denan otomatisasi

3.Pembuangan limbah

a. Memonitor menara pabrik terhadap pembuangan gas beracun ke udara

b. Analisis air limbah

4.Penelitian dan perkembangan

a. Menyediakan informasi struktur dan komposisi

2.9.1 Analisis dengan Metode Serapan Ultra Violet

Serapan daerah ultra violet adalah 200-400 m. spektrofotometer UV adalah

alat yang mampu mengidentifikasi beberapa komponen terserap dari suatu campuran
dengan menggnakan dasar pola serapan terhadap panjang gelommbang serapan.

29
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Instrumen dasar UV

Instrumen ini terdiri dari sumer radiasi, filter optik, pemegang sampel, detector dan
output untuk perekam data. Sumber cahaya radiasi UV diperoleh dari lampu merkuri
atau lampu H2. Secara sistematis dapat dilihat :

Sumber Pemros
Filter Sampel Detekto
cahaya es
r
sinyal

Gambar 2.7 Skema Instrumen Dasar

2.9.2 Analisis dengan Metode Serapan IR (Infra Red)

Ketika molekul terkena radiasi elektromagnetik didaerah IR akan bervibrasi atau


berputas dan setiap molekul memiliki sejauh vibrasi dan rotasi tertentu pula.
Spektrofotometer IR adalah instrumen yang didesign untuk mengukur jumlah serapan
(transmisi) sampel sebagai fungsi panjang gelommbang.

Instrumen analiser IR terdapat 2 jenis spektrofotometer IR ditinjau dari beamnya yaitu


singel beam dan double beam seperti gambar dibawah ini :

A. Analiser IR(Infra Red) industri

Analiser IR untuk industri(pabrik) adalah analiser kontinyu yang digunakan


untuk memonitor proses ataupun alat pengendali proses, dimana sampel (liquid atau
gas) mengalir secara kontinyu melalui analiser tersebut.

Analiser kontinyu berbeda dengan analiser IR umumnya, karena analiser


kontinyu tidak mempunyai alat dispersi seperti prisma sehingga sering juga disebut
analiser nondispersif, analisa IR nondispersif terdiri dari 2 jenis yaitu :

1. Analiser IR penyaring negatif ( nagative filtering)

2. Analiser IR peyaring positif

Analiser IR kontinyu umumnya digunakan untuk menganalisa sampel dalam


bentuk aliran gas, namun sekarang analisa juga dilakukan untuk saampel liquid (untuk

30
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

negatif filter) liquid menggunakan jenis penyaring negatif (negative filtering),


dikarenakan detektor lain akan kurang sensitif terhadap liquid.

B. Analiser Oksigen

Oksigen analiser terutama digunakan untuk menganalisa oksidasi dan reaksi


pembakaran (cobustion). Penentuan kandungan O2 merupakan cara ekonomis paa
aplikasi stasiun tenaga pembangkit listrik dan pembakaran (perhitungan ekonomis
terhadap bahan bakar).

Metode instrumen untuk analisis oksigen ada 4 yaitu :

1. Paramagnetik

Oksigen memiliki sifat paramagnetik yang besar dibandingkan gas dan uap
lainnya dan menyebabkan oksigen dapat menggantikan zat yang mempunyai
sifat paramagnetik lebih rendah dan O2dalam medan magnetik.

2. Pembakaran katalitik

3. Elektrokimia

4. Konduktivitas termal inferensial

C. Gas kromatografi
Gas kromatografi sering disingkat GC(Chromatography Gas) adalah metode
pemisah secara fisika dan mengidentifiksi secara kuantitatif dua atau lebih komponen
dalam suatu campuran dengan cara mendistribusikan komponen-komponen tersebut
yang diatur dengan 2 frasa yaitu frasa diam dan frasa bergerak.

Industri proses umumnya melibatkan operasi material pada perubahan keadaan fisik
atau komposisi kimia meliputi bahan baku, material yang sedang diproses dan produk.
Secara umum instrumentasi yang digunakan untuk pengukuran komposisi kimia hampir
sama pada setiap industri.

2.10 Pengukuran Aliran

31
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Pengukuran aliran merupakan pengukur variabel proses yang banyak digunakan


dalam proses industri kimia. Secara umum metode pengukuran aliran adala tekanan
diferensial atau tekanan head yang memanfaatkan elemen restriksi( orifice, venturi dan
sebagainya). Dalam hal-hal tertentu pengukuran aliran memerlukan kecepatakn yang
sangat tinggi, sedang dalam hal-hal lain mungkin pengukuran kasar saja. Ketelitian
pengukuran aliran berhubungan langsung dengan laba usaha, contohnya yang sederhana
ialah pompa bensin atau meteran air dirumah.

Faktor-faktor yang mempengaruhi aliran

1. viskositas, viskositas didefinisikan sebagai satu ukuran kuantitatif dari suat


ketahanan fluida terhadap deformasi(shear stress). Fluida yang mengalir
dengan bebas mempunyai viskositas yang rendah. Fluida yang kelihatan
menahan bebas aliran adalah fluida dengan viskositas tinggi. Viskositas dari
suatu fluida tergantung pada temperatur dan tekanan.

2. Densitas, densitas didefinisikan sebagai massa per unit volume. Densitas air

padaa 32 dan tekanan 1 atm adaalah 62,42 pounds perkubik foot

(1b/ft3). Densittas cairan berbah sesuai dengan perubahan teperatur,


sedangkan perbuahan tekanan dapat diabaikan kecuali pada tekanan yang
sangat tinggi.

3. Spesific gravitasi, Spesific gravitasi adalah perbandingan berat pada suatu

standar. Standar untuk cairan atau padatan adala air(s.d=1.0) pada 4

atau 60 . Standar untuk gas dan uap adalah udara (s.d=1.0) pada 60

dan tekanan 1 atm.

4. Kompressibilitas, Kompressibilitas didefinisikan sebagai suatu sifat fluida


yang peka terhadap perubahan suhu dan tekanan. Untuk fluida cair sifat
kompressibilitas tidak terlalu berpengaruh terhadap aliran cairan. Faktor
Kompressibilitas merupakan fungsi berat molekul, temperatur dan tekanan.

32
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

5. Temperatur, perubahan temperatur dapat memengaruhi viskositas, densitas


dan Kompressibilitas

6. Tekanan, pengaruh perubahan tekanan selalu berhubungan d engan


densitas, spesifik gravitasi dan Kompressibilitas.

Pengukuran aliran dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Pengukuran Aliran Cair

Pengukuran aliran cair mempunyai aplikasi yang amat sangat luas dalam proses
industri. Pengukuran aliran memerlukan ketepatan yang sangat tinggi. Pemilihan
instrumen yang tepat untuk sesuatu penerapan tertentu bergantung pada berbagai
variabel diantaranya biaya.

a. Instrumen aliran putar (rotameter)

rotameter merupakan instrumen pengukuran aliran yang paling umum


digunakan. Pada rotameter,sebuah obstruksi adalah sebuah pelampung
yang naik disebuah kolom vertikal yang menyempit.

b. Instrumen ukur aliran baling-baling putar

Sebuah instrumen ukur aliran yang mempunyai sebuah baling-baling


yang dicelupkan didaerah aliran.Baling-baling ini akan berputar jika
kecepatan aliran meningkat jika poros baling-baling yang berputar ini
diletakkan pada sebuah transduser pengukur sudut,maka laju aliran dapat
dipakai pada aplikasi kontrol proses.

2. Pengukuran Aliran Padat

Pengukuran aliran padat yang umum terjadi ketika material,berbentuk partikel-


partikel kecil seperti bubuk atau material yang ditumbuk dan dibawa oleh sistem ban
berjalan.Untuk melakukan pengukuran aliran yang diperlukan hanyalah menimbang
berat kuantitas material pada suatu panjang tertentu dari berjalan tersebut.

33
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

3. Pengukuran Aliran Gas

Aliran fluida gas melewati pipa atau saluran biasanya dengan cara mengkonversikan
informasi aliran menjadi tekanan.

a. Meter gas turbine

Meter gas turbine banyak digunakan untuk pengukuran gas bahan bakar
dan gas lainnya.Aliran tersebar disepanjang badan meter dan bagian
dalam ditengah saluran gas dipasang diffuser untuk menaikkan kecepatan
aliran gas dan melewati multi-bladed rotor.Bladed rotor akan berputar
sesuai dengan kecepatan gas sehingga blada motor tadi menggerakkan
elemen pengukur yaitu jarum penunjuk pada skala.Meter gas turbin
tersedia dalam ukuran dari 2 -12 inci diameter pipa dan kecepatan aliran
diatas 150.000 ft3/hr (4500 m3/hr)

b. Shunt flometer

Instrumentasi pengukuran aliran yang lainnya adalah Shunt flometer dan


banyak digunakan secara luas untuk pengukuran aliran steam dan gas.
Gas mengalir melalui badan meter, sebagian aliran dibelokkan untuk
menggerakkan kipas dan memutar bantalan jewel.Sebagian lagi untuk
memutarkan blade.Kecepatan rotasi sebanding dengan kecepatan
aliran.Flow meter tersedia dalam ukuran 2 inci (50 mm)

34
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

o Instrumen adalah alat ukur yang digunkan untuk menentukan


nilai atau besaran suatu kuantitas atau variable.
o Pengukuran adalah serangkaian kegiatan yang bertujuan untuk menentukan nilai
suatu besaran dalam bentuk angka (kwantitatif).
o Pengukuran berfungsi sebagai standar/acuan dalam pengukuran.
o Standar pengukuran dapat dibagi menjadi 4 berdasarkan fungsinya, yaitu standar
internasional, standar primer, standar sekunder, standar kerja.
o Alat ukur memiliki beragam jenis, yaitu alat pengukur suhu, alat pengukur
komposisi kimia, alat pengukur aliran, dan lain-lain

3.2 Saran
Dengan adanya pembahasan mengenai instrumentasi dan teknik pengukuran,
diharapkan ada tindak lanjut dalam penerapan selanjutnya. Demikian yang dapat kami
paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya
masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan
kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini.
Penulis banyak berharap para pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di
kesempatan kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada
khususnya dan juga para pembaca pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

35
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Douglas, W.G and Williams, H.B, 1979, Applied Instrumentation


in The Process Industries, Volume 1, Second Edition, Gulf
Publishing Company Book Division, Texas
Douglas, M.Considine, 1975, Process Instruments and Controls
Handbook,
McGraw Hill Book Company Inc, New York
Modul Instrumentasi dan Teknik Pengukuran.2016.
Teknik Energi.POLSRI.Palembang
https://gmst-nn.blogspot.co.id/2014/11/makalah-
pengukuran.html
http://www.htmlpublish.com/newTestDocStorage/DocStorage/2d
fa4fcbfc9648639df7d05dab1a9314/KONSEP_DASAR_PENGUKUR
AN_TEKNIK_Oleh_Ir..rtf
http://farida.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/13937/BAB+
2+-+Teknik+Pengukuran.pdf

PERTANYAAN

1. Dari : Amalia Susanti

Apa yang dimaksud dengan personil kalibrasi?


Personil kalibrasi adalah orang yang terlatih, dibuktikan dengan
adanya sertifikasi dari laboratorium yang terakreditasi

36
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

2. Dari : Dhea Ardina

Apa perbedaan antara karakteristik dinamis dan karakteristik


statis? (Dhea Ardhina)
Karakteristik dinamis menggambarkan respon transduser
terhadap input pada saat input berubah sampai saat dimana
input stabil lagi. Sedangkan, Karakteristik statis adalah
karakteristik transduser pada kondisi steady-state (kondisi stabil
pada level/nilai tertentu setelah mengalami perubahan)

3. Dari : Rina Efrillia

Sebutkan tahapan-tahapan dari kalibrasi? (Rina Efrillia)

a. Kalibrasi Jangka Sorong


Jangka sorong merupakan salah satu alat ukur dengan tingkat ketelitian 0.05
mm dan 0.02 mm. Ukuran ketelitian Jangka Sorong biasanya dituliskan pada
alat, namun ada juga yang tidak dituliskan. Untuk mengetahui berapa
ketelitian Jangka Sorong adalah dengan menghitung jumlah strip dari 0
sampai 1 atau dari 1 sampai 2 pada Skala Geser (Kaliper). Cara
mengkalibrasi jangka sorong tidaklah sulit, namun membutuhkan ketelitian.
Berikut langkah langakah mengkalibrasi jangka sorong:
1. Bersihkan jangka sorong dari kotoran yang menempel,
2. Longgarkan baut pengunci jangka sorong,
3. Geser rahang caliper dan rahang geser sehingga saling berhimpit,
4. Lakukan pembacaan kalibrasi seperti berikut ini:
- Strip Angka NOL (0) awal pada Skala Geser tepat segaris strip Angka
nol(0) pada Skala Utama.
- Strip Angka NOL (0) akhir pada Skala Geser tepat segaris salah satu
strip pada Skala Utama.

37
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Jika kondisi tersebut tidak tercapai, maka lakukan hal berikut :


- Jika pembacaan kalibrasi melebihi nilai seharusnya, dalam arti Strip 0
awal pada Skala Gesermelewati Strip 0 pada Skala Utama, maka
bersihkanlah kembali Jangka Sorong terutama dari debu dan karat pada
bagian-bagian yang bergeser.
- Jika pembacaan kalibrasi kurang dari nilai seharusnya, dalam arti
Strip 0 awal pada Skala Geser belum mencapai Strip 0 pada Skala
Utama, maka lakukanlah pembacaan selisih pergeserantersebut dengan
mencari strip pada Skala Geser yang segaris dengan strip pada Skala
Utama. Bacalah selisih pergeseran tersebut dengan hitungan mundur.
Artinya jika strip pada Skala Geseryang segaris dengan strip pada Skala
Utama menunjukkan pada angka 0.85 mm, maka selisihpergeseran
tersebut adalah 0.15 mm dari Nilai 0 Skala Utama. Selanjutnya apabila
alat tersebutdigunakan untuk mengukur, maka hasil pengukuran harus
ditambah dengan 0.15 mm.
f. Alat ukur Jangka Sorong siap untuk digunakan.

b. Kalibrasi Mikrometer Sekrup

Mikrometer sekrup memiliki tingkat ketelitian yang lebih bagus


dibandingkan dengan jangka sorong, sebab tingkat ketelitian mikrometer
berkisar antara 0.001 mm. Oleh sebab itu, diperlukan kalibrasi untuk
memastikan standar pengukuran tetap sesuai dengan standarisasi. Berikut
tahap tahap dalam mengkalibrasi mikrometer sekrup :
1. Pengunci dalam keadaan terbuka.
2. Angka nol pada Skala putar tepat pada sumbu skala utama
3. Apabila angka nol pada skala putar belum tepat pada sumbu
utama mengkalibrasi dengan cara memutar lubang yang ada
dibagian skala utama dan pada bagian dekat rapid drive (gigi
pemutar) pada mikrometer sekrup menggunakan alat pemutar.

38
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

c. Kalibrasi Termometer Raksa

Mengingat pentingnya peranan dari termometer maka kalibrasi juga


diperlukan pada termometer itu sendiri. Berikut ini tahapan dalam
melakukan kalibrasi pada termometer raksa :
1. Letakkan silinder termometer di air yang sedang mencair dan
tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut berwujud cair
seluruhnya. Poin ini adalah poin titik beku air.
2. Dengan cara yang sama, tandai poin termometer disaat seluruh air
tersebut mendidih seluruhnya saat dipanaskan.

4. Dari : Marsa Apriani

Tuliskan faktor-faktor yang mempengaruhi kalibrasi?

1. Prosedur
Kalibrasi harus dilakukan sesuai dengan prosedur standar
yang telah diakui. Kesalahan pemahaman prosedur akan
membuahkan hasil yang kurang benar dan tidak dapat
dipercaya. Pengesetan sistem harus teliti sesuai dengan
aturan pemakaian alat, agar kesalahan dapat dihindari.

2. Kalibrator
Kalibrator harus mampu telusur kestandar Nasional dan atau
Internasional. Tanpa memiliki ketelusuran, hasil kalibrasi
tidak akan diakui oleh pihak lain. Demikian pula ketelitian,
kecermatan dan kestabilan kalibrator harus setingkat lebih
baik dari pada alat yang dikalibrasi

3. Tenaga pengkalibrasi

39
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Tenaga pengkalibrasi harus memiliki keahlian dan


ketrampilan yang memadai, karena hasil kalibrasi sangat
tergantung kepadanya. Kemampuan mengoperasikan alat
dan kemampuan visualnya, umumnya sangat diperlukan,
terutama untuk menghindari kesalahan yang disebabkan
oleh peralak maupun penalaran posisi skala.

4. Periode kalibrasi
Periode kalibrasi adalah selang waktu antara satu kalibrasi
suatu alat ukur dengan kalibrasi berikutnya. Periode kalibrasi
tergantung pada beberapa faktor antara lain pada kualitas
metrologis alat ukur tersebut, frekuensi pemakaian,
pemeliharaan atau penyimpanan dan tingkat ketelitianya.
Periode kalibrasi dapat ditetapkan berdasarkan lamanya
pemakaian alat, waktu kalender atau gabungan dari
keduanya.

5. Lingkungan
Lingkungan dapat menyebabkan pengaruh yang sangat
besar terhadap kalibrasi terutama untuk mengkalibrasi
kalibrator. Misalnya kondisi suhu, kelembabab, getaran
mekanik medan listrik, medan magnetik, medan elektro
magnetik, tingkat penerangan dan sebagainya.

6. Alat yang dikalibrasi


Alat yang dikalibrasi harus dalam keadaan maksimal, artinya
dalam kondisi jalan dengan baik, stabil dan tidak terdapat
kerusakan yang menggangu.

40
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

5. Dari : Vira Mayang Sari

Tuliskan standar acuan pada persyaratan kalibrasi? (Vira


Mayang Sari)
Alat standar kalibrasi, Prosedur/Metrode standar (Mengacu ke
standar kalibrasi internasional atau prosedur yg dikembangkan
sendiri oleh laboratorium yg sudah teruji (diverifikasi)

6. Dari : Abdul Qosim Aljunaidy

Bagaimana cara mengontrol instrumen yang mengalami


kerusakan?
Kontrol Instrumen Pada Boiler
Secara umum, tujuan sistem kontrol pada boiler adalah
agar produk steam yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi
yang dikehendaki sambil tetap menjaga agar boiler dapat
beroperasi dengan efisien dan aman. Secara garis besar,
sistem kontrol pada boiler ini terdiri dari: 1) Drum level control;
2) Combustion control; 3) Atomizing control; 4) Blowdown
control; 5) Steam temperature control.

Drum Level Control. Tujuan drum level control adalah


menjaga agar level drum (tinggi permukaan air dalam
drum) tetap pada setpoint-nya walaupun terjadi perubahan
beban ataupun gangguan/disturbance lainnya. Level drum
yang terlalu rendah bisa menyebabkan terjadinya panas
berlebih (overheated) pada boiler tubes sehingga tubes bisa
menjadi rusak/bengkok/bocor. Sebaliknya level drum yang
terlalu tinggi akan menyebabkan pemisahan air dan steam
dalam drum tidak sempurna sehingga kualitas steam yang
dihasilkan kurang (banyak mengandung air/basah).

41
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Ada tiga alternative/jenis drum level control, yaitu: 1) Single


element drum level control; 2) Two-element drum level control;
3) Three-element drum level control.

Single-element drum level control. Ini merupakan


konfigurasi drum level control yang paling sederhana, yaitu
hanya menggunakan feedback level control. Disebut single-
element karena hanya level drum saja yang dikontrol.
Konfigurasi kontrol ini umumnya digunakan pada boiler
berkapasitas rendah (<150,000 pounds-per-hour), pressure
rendah (<250 pounds-per-square-inch), dan dengan beban yang
relative tetap/stabil. Kekurangan konfigurasi control ini adalah
sulit mempertahankan level pada setpointnya jika terjadi
perubahan beban secara terus menerus.

Two-element drum level control. Konfigurasi ini


digunakan untuk mengatasi kekurangan konfigurasi single-
element dalam menangani fluktuasi beban, yaitu dengan jalan
menambah steam flow control (yang mewakili beban boiler)
sebagai feedforward control. Jadi, dalam konfigurasi ini,
terdapat dua controller, yaitu level control sebagai feedback
dan steam flow control sebagai feedforward control, sehingga
disebut dengan two-element control. Konfigurasi ini cocok untuk
single drum boiler dengan kondisi pressure/flow feedwater yang
relative konstan.

Three-element drum level control. Ini merupakan


konfigurasi yang paling lengkap, yang dibentuk dengan
menambah feedwater flow control dalam konfigurasi cascade.
Penambahan feedwater flow control ini dimaksud untuk
mengantisipasi fluktuasi pada flow/pressure feedwater, yang

42
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

umumnya terjadi pada feedwater line yang menggunakan


beberapa pompa (multiple pump) untuk melayani beberapa
boiler sekaligus (multiple boiler).

Combustion Control. Tujuan combustion control adalah


untuk menjaga pressure steam yang dihasilkan boiler agar
selalu sesuai dengan yang dikehendaki (sesuai setpoint-nya).
Oleh karena itu, dalam konfigurasi combustion control, steam
pressure (biasanya diambil dari steam header) digunakan
sebagai master control, outputnya di-cascade dengan fuel flow
control dan combustion air flow control (air di sini maksudnya
udara). Jika terjadi kenaikan beban (yang ditandai dengan
turunnya pressure steam dari setpoint-nya), maka fuel flow
control dan combustion air flow control akan bereaksi membuka
control valve. Sebaliknya, apabila terjadi penurunan beban
(yang ditandai dengan kenaikan pressure steam dari setpoint-
nya), maka kedua control tersebut akan bereaksi menutup
control valve.

Atomizing Control. Pada boiler yang menggunakan fuel


oil, diperlukan proses atomizing untuk memecah-mecah
molekul fuel oil sehingga proses pembakaran berjalan dengan
sempurna. Salah satu jenis proses atomizing ini adalah dengan
menggunakan steam atomizing, yaitu dengan cara memberi
tekanan (dengan menggunakan tekanan steam) pada nozzle
penyemprot fuel oil. Agar proses atomizing ini selalu berjalan
dengan sempurna pada berbagai kondisi tekanan/pressure fuel
oil maupun steam atiomizing , maka digunakan sistem kontrol
yang disebut atomizing control. Tujuan konfigurasi atomizing
control adalah menjaga beda tekanan (pressure differential)

43
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

antara atomizing steam dan fuel oil yang menuju burner agar
tidak berubah, seperti diperlihatkan pada gambar di bawah ini.

Blowdown Control. Blowdown system dalam boiler


berguna untuk mengontrol kandungan solid dalam feedwater
agar tidak berlebih. Kandungan solid dalam feedwater akan
terikut ke steam yang diproduksi, sehingga apabila kandungan
solid dalam feedwater tinggi, maka kandungan solid di steam
juga akan tinggi, sehingga bisa menurunkan kwalitas steam
yang dihasilkan. Selain itu, kandungan solid dalam feedwater
yang berlebih juga akan menyebabkan terjadinya kerak/scale
pada pipa/tube/drum sehingga selain peralatan tersebut cepat
rusak, juga efisiensi boiler menurun karena kehadiran kerak
tersebut akan mengurangi area perpindahan panas (heat
transfer area).

Ada dua jenis blowdown, yaitu intermittent blowdown dan


continuous blowdown. Intermittent blowdown dioperasikan
secara manual oleh operator, berdasarkan hasil pengukuran
kwalitas feedwater (pengukuran electrolytic conductivity dalam
feedwater) atau hasil pengukuran steam purity dengan
menggunakan sodium analyzer. Sedangkan continuous
blowdown akan membuang air yang mengandung solid dalam
drum secara terus menerus dengan besarnya aliran buangan
dikontrol berdasarkan hasil pengukuran/perkiraan jumlah
kandungan solid dalam feedwater di boiler drum.

Ada dua jenis sistem kontrol yang digunakan pada


continuous blowdown, yaitu conductivity control dan ratio
control. Dalam konfigurasi conductivity control, electrolytic
conductivity feedwater diukur menggunakan conductivity meter

44
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

secara online, kemudian sinyal hasil pengukuran ini dikirim ke


controller (AC) untuk menggerakan control valve, seperti pada
gambar berikut. Semakin tinggi electrolytic conductivity hasil
pengukuran conductivity meter, semakin besar bukaan control
valve continuous blowdown (semakin banyak air yang
dibuang/dikuras), begitu pula sebaliknya.

Steam Temperature Control. Untuk boiler yang menghasilkan steam dengan


tekanan tinggi (HP steam), biasanya dilengkapi dengan Superheater
Desuperheater. Superheater berfungsi menaikan temperature steam yang
dihasilkan boiler (saturated steam). Sedangkan Desuperheater digunakan untuk
menstabilkan temperature steam yang keluar dari Superheater, dengan jalan
menyemprotkan steam tersebut dengan water (feedwater). Untuk menjaga
temperature steam selalu stabil pada berbagai beban, maka Desuperheater
dilengkapi dengan temperature control.

7. Dari : Meji Arjuansyah

Apa kegunaan efek seebeck, efek peltier, efek Thomson ?


jawaban:
-efek Thomson
biasanya digunakan dalam industri migas untuk dijadikan tolok ukur
pada proses pencairan gas. Proses pencairan gas ini dilakukan karena akibat dari
tekanan dan temperatur yang kritis sehingga megakibatkan gas membentuk
kristal yang seperti es atau biasa disebut sebagai gas Hidrat. Proses pencairan
gas yang menggunakan Joule-Thomsone effect adalah dengan pertolongan suatu
kompresor, dimana gas pertamakali ditekan pada tekanan yang tinggi, kemudian
dilepas untuk pengembangan bebas. Gas yang telah mengalami penurunan suhu
akan dialirkan kedalam kompresor dan proses dapat diulang kembali hingga
mencapai suhu yang cukup rendah sehingga pada pengembangan atau ekspansi
dihasilkan cairan sebagai akibat terjadinya proses kondensasi

-efek feltier

45
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik tenaga


panas / thermoelectric generator (TEG) seperti SP1848. Ketika terjadi
perbedaan panas yang signifikan di antara kedua sisinya (contoh: satu sisi
dipaparkan ke terik matahari dan sisi lainnya didinginkan dengan air), perbedaan
tegangan akan tercipta di antara kedua sisi komponen ini. Kondisi ini dikenal
dengan sebutan efek Seebeck. Walaupun demikian, sebuah TEC yang baik hanya
akan beroperasi sebagai TEG biasa-biasa saja, demikian juga sebaliknya. Ini
disebabkan TEC dan TEG dirancang secara berbeda dengan cara pengemasan
yang berbeda sesuai tujuan utama pembuatannya.

-efek seebeck

digunakan dalam alat yang disebut termokopel (karena dibuat dari persimpangan
coupling atau bahan, biasanya logam) untuk mengukur perbedaan suhu secara
langsung atau untuk mengukur suhu mutlak dengan menetapkan satu ujung ke
suhu yang dikenal. Sebuah logam yang tidak diketahui komposisi dapat
diklasifikasikan oleh efek TE jika pemeriksaan logam yang diketahui komposisi,
dijaga pada suhu konstan, diadakan di kontak dengan itu. Instrumen kontrol
kualitas industri menggunakan efek Seebeck ini untuk mengidentifikasi logam
paduan. Beberapa termokopel ketika tersambung secara seri yang disebut
thermopile, yang kadang-kadang dibangun dalam rangka meningkatkan
tegangan keluaran tegangan sejak diinduksi atas pasangan masing-masing
individu kecil. Ini juga merupakan prinsip di balik dioda termal dan
thermoelectric generator (seperti radioisotop thermoelectric generator atau
RTGS) yang digunakan untuk menciptakan perbedaan kekuatan dari panas.
Seebeck efek yang disebabkan oleh dua efek: muatan carrier Fonon difusi dan
seret (dijelaskan di bawah). Jika kedua koneksi yang diadakan pada suhu yang
sama, tetapi satu sambungan secara periodik membuka dan menutup, sebuah
tegangan AC diukur, yang juga tergantung suhu. Aplikasi ini dari Kelvin probe
kadang-kadang digunakan untuk berpendapat bahwa fisika dasar hanya perlu
satu persimpangan. Dan efek ini masih terlihat jika kabel hanya datang dekat,
tapi jangan sentuh, sehingga tidak ada difusi diperlukan.

46
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

8. Dari putra

Jelaskan cara kerja efek peltier apa itu efek peltier?

jawaban:

Efek Peltier. Kebalikan dari dari efek Seebeck, yaitu jika dua logam
yang berbeda disambungkan kemudian arus listrik dialirakan pada sambungan
tersebut, maka akan terjadi fenomenda pompa kalor. Prinsip inilah yang
diugunakan termoelektrik sebagai pendingin/pompa kalor.

Ketika dua konduktor dihubungkan kontak listrik, elektron akan


mengalir dari satu konduktor yang mempunyai elektron kurang terikat ke
konduktor yang mempunyai elektron yang lebih terikat. Alasan yang mudah
untuk hal ini adalah tingkat perbedaan Fermi antara dua konduktor.

Perbedaan Fermi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan


bagian atas kumpulan tingkat energi elektron pada suhu nol absolut. Konsep ini
berasal dari statistik Fermi-Dirac.

Konsep energi Fermi adalah konsep yang sangat penting untuk


memahami sifat listrik dan termal pada benda padat. Kedua proses listrik dan
termal biasanya melibatkan energi elektron.

47
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Ketika dua konduktor dengan tingkat Fermi yang berbeda digabungkan,


elektron akan mengalir dari konduktor dengan tingkat yang lebih tinggi ke
tingkat yang lebih rendah, hingga perubahan potensial elektrostatik membawa
dua tingkat Fermi menjadi nilai yang sama.

Arus yang melewati Junction baik arah maju maupun mundur akan
menghasilkan perbedaan suhu. Jika suhu Junction panas (heat sink) bpat isa
dijaga tetap rendah dengan mengurangi atau menghilangkan panas yang
dihasilkan, maka suhu bagian yang dingin dapat dipertahankan sesuai dengan
yang diinginkan dan bisa beberapa puluh derajad dibawah titik nol.

9. Dari : Suci Dwi Lestari

Perbedaan serta macam-macam alat untuk mengukur aliran dan suhu?


Jawab :
Alat yang digunakan untuk mengukur suhu ialah termometer. Macam-
macam termometer ialah
a. Termometer dengan Bahan Zat Cair contohnya Termometer Laboratorium,
Termometer Six-Bellani.
b. Termometer dengan Bahan Zat Padat contohnya Termometer
Bimetal, Termometer Hambatan, Termokopel.
c. Termometer optis contohnya Pirometer, Termometer
Inframerah.
Pengukuran aliran merupakan pengukur variabel proses yang banyak
digunakan dalam proses industri kimia. Secara umum metode pengukuran aliran
adala tekanan diferensial atau tekanan head yang memanfaatkan elemen
restriksi( orifice, venturi dan sebagainya). Faktor-faktor yang mempengaruhi
aliran yaitu viskositas, Densitas, Spesific gravitasi, Temperatur, Tekanan.
Pengukuran aliran dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:

a. Pengukuran Aliran Cair

b. Pengukuran Aliran Padat

48
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

c. Pengukuran Aliran Gas

Perbedaan pengukuran aliran dan suhu jelas berbeda. Perbedaannya yaitu


dilihat dari alat yang digunakan, proses pengukuran juga berbeda, dan juga
objek yang akan diukur juga berbeda yang satu mengukur aliran yang satunya
mengukur suhu.

10. Dari : Indah Puspita

Jelaskan contoh-contoh standar internasional, standar primer, standar


skunder, dan standar kerja beserta contohnya !

Standar-standar Internasional didefinisikan oleh perjanjian


internasioal. Perjanjian internasional menyatakan satuan-satuan
pengukuran tertentu sampai ketelitian terdekat yang diijinkan oleh
produksi dan teknologi pengukuran. Secara berkala , standar
internasional ini dinilai dan diperiksa melalui pengukuran-pengukuran
absolut yang dinyatakan dalam satuan-satuan dasar. Standar-standar ini
dirawat di IBWM (Internasional Bureau of Weights and Measure) dan
tidak tersedia bagi pemakai alat-alatukur biasa untuk maksud
pembanding dan kalibrasi.

Standar-standar primer dipelihara oleh laboratorium-laboratorium


standar internasional diberbagai negara didunia. Salah satu fungsi utama
dari standar primer adalah memeriksa dan mengkalibrasi standar-standar
skunder.

Standar-standar sekunder merupakan acuan (referensi) dasar bagi


standar yang diguunakan dalam laboratorium pengukuran industri.
Standar sekunder ini biasanya diserahkan kepada laboratorium-
laboratorium standar nasional secara berkala untuk melakukan kalibrasi
untuk membandingkan terhadap standar-standar primer lalu
dikembalikan ke industri pemakai disertai dengan tanda bukti kalibrasi
(sertifikat).

49
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

Standar kerja adalah alat utaama bagi sebuah laboratorium pengukuran


dan digunakan untuk memeriksa dan mengkalibrasi instrumen-instrumen
laboratorium yang umum mengenai ketelititian dan prestasi atau untuk
melakukan perbandingan dealam . pemkaiiannya di industri.

Contoh dari standar internasional, standar primer, standar skunder, dan


standar kerja tidak dipublikasi (diberi tau) karena itu hanya ada di
laboratorium. Standar-standar ini biasanya diserahkan kepada
laboratorium-laboratorium standar secara berkala untuk melakukan
kalibrasi untuk membandingkan terhadap standar-standar lalu
dikembalikan ke industri pemakai disertai dengan tanda bukti kalibrasi
(sertifikat).

11. Dari : Dwi Astri Yuliana

Jelaskan secara singkat proses serapan analiser serapan sinar ultraviolet dan
analiser serapan infra merah?

Jawab:

Proses serapan analiser serapan sinar UV

Cahaya yang berasal dari lampu deuterium maupun wolfram yang


bersifat polikromatis di teruskan melalui lensa menuju ke monokromator pada
spektrofotometer dan filter cahaya pada fotometer. Monokromator kemudian
akan mengubah cahaya polikromatis menjadi cahaya monokromatis (tunggal).
Berkas-berkas cahaya dengan panjang tertentu kemudian akan dilewatkan pada
sampel yang mengandung suatu zat dalam konsentrasi tertentu. Oleh karena itu,

50
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

terdapat cahaya yang diserap (diabsorbsi) dan ada pula yang dilewatkan. Cahaya
yang dilewatkan ini kemudian di terima oleh detector. Detector kemudian akan
menghitung cahaya yang diterima dan mengetahui cahaya yang diserap oleh
sampel. Cahaya yang diserap sebanding dengan konsentrasi zat yang terkandung
dalam sampel sehingga akan diketahui konsentrasi zat dalam sampel secara
kuantitatif.

Proses analiserserapan IR

Sinar dari sumber cahaya (A) dipecah menjadi dua berkas cahaya yang sam,
salha satu (B) dilewatkan melalui cuplikan (berkas cahaya cuplikan), yang lain
berkelakuan sebagai berkas cahaya referensi, fungsi dari double beam adalah
mengukur perbedaan intensitas antara dua berkas cahaya pada setiap panjang
gelombang.

Dua berkas cahaya sekarang dipantulkan ke chopper (C), yang terdiri


atas cermin yang dapat berputar, bila chopper berputar (10 x/detik) ia
menyebabkan berkas sinar cuplikan dan referensi dipantulkan bergantian ke
grating monokromator (D). Grating berputar perlahan-lahan dan mengirimkan
frekuensi-frekuensi individu kedetektor thermopile (E) yang mengubah tenaga
(panas) infra merah menjadi tenaga listrik.

Bila cuplikan telah menyerap sinar dari frekuensi tertenu, maka detector
akan menerima bergantian dari chopper berkas sinar yang kuat (berkas sinar

51
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

referensi) dan berkas sinar yang lemah (berkas sinar cuplikan). Hal ini akan
memberikan arus bolak balik yang mengalir dari detector ke amplifier (F).
Amplifier dihubungkan dengan servo motor (G) kecil yang mendorong cermin
wedge (H) keberkas sinar referensi hingga detector menerima sinar dengan
intensitas yang sama dari berkas sinar cuplikan dan referensi. Gerakan wedge ini
sebagai akibat masuk dan keluarnya berkas referensi menunjukkan sebagi pita-
pita serapan pada spektrum yang dihasilkan.

12. Dari: Atika Rahayu

Apa yang dimaksud dengan tahap antara dalam pengukuran tekanan pada tabung
bourdon?

Jawab:

Tahap antara adalah pengukuran yang terdiri dari susunan roda-roda


gogo yang memperkuat/ memperbesar gerakan ujung tabung sehingga gerakan
kecil saja pada ujung itu dapat menghasilkan sampai tiga perempat putaran pada
roda gigi pusat.

Tahap pengukuran tekanan pada tabung bourdon adalah sumber tekanan


masuk, tahap antara yang terdiri dari susunan roda-roda gogo yang memperkuat/
memperbesar gerakan ujung tabung sehingga gerakan kecil saja pada ujung itu
dapat menghasilkan sampai tiga perempat putaran pada roda gigi pusat, tahap
detector tranduser yang mengubah sinyal tekanan menjadi gerakan mekanik dan
yang terakhir adalah tahap penunjuk akhir terdiri dari jarum penunjuk dan
susunan bacaan angka.

52
POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA
INSTRUMENTASI DAN KONTROL

53