Anda di halaman 1dari 8

PENGUKURAN SIPAT DATAR

Oleh
Tonny (160404074)
Farhan Zahary (160404069)
Yavier Kristanto (160404075)

Abstrak
Dalam pengukuran sipat datar diperlukan alat ukur dan alat-alat lainnya yang mendukung
pengukuran. Pengukuran sipat datar umumnya bertujuan mengukur beda tinggi antara titik-
titik tertentu. Dalam pengukurannya bisa terjadi kesalahan-kesalahan tertentu yang
disebabkan oleh pengukur maupun alatnya sendiri. Pengukuran sipat datar menggunakan
metode ketinggian.

1. Pendahuluan
Metode sipat datar optis adalah proses
Beberapa istilah yang digunakan dalam
penentuan ketinggian dari sejumlah
pengukuran alat sipat datar,
titik atau pengukuran perbedaan
diantaranya:
elevasi. Perbedaan yang dimaksud 1. Stasion adalah titik dimana rambu
adalah perbedaan tinggi di atas air laut ukur ditegakkan; bukan tempat alat
ke suatu titik tertentu sepanjang garis sipat datar ditempatkan. Tetapi pada
vertikal. Perbedaan tinggi antara titik - pengukuran horizontal, stasion adalah
titik akan dapat ditentukan dengan titik tempat berdiri alat.
2. Tinggi alat adalah tinggi garis bidik
garis sumbu pada pesawat yang
di atas tanah dimana alat sipat datar
ditunjukan pada rambu yang vertikal.
didirikan.
Tujuan dari pengukuran penyipat datar
3. Tinggi garis bidik adalah tinggi
adalah mencari beda tinggi antara dua
garis bidik di atas bidang referensi
titik yang diukur. Misalnya bumi, bumi
ketinggian (permukaan air laut rata-
mempunyai permukaan ketinggian
rata)
yang tidak sama atau mempunyai 4. Pengukuran ke belakang adalah
selisih tinggi. Apabila selisih tinggi pengukuran ke rambu yang ditegakan
dari dua buah titik dapat diketahui di stasion yang diketahui
maka tinggi titik kedua dan seterusnya ketinggiannya, maksudnya untuk
dapat dihitung setelah titik pertama mengetahui tingginya garis bidik.
diketahui tingginya. Rambunya disebut rambu belakang.
5. Pengukuran ke muka adalah 8. Seksi adalah jarak antara dua stasion
pengukuran ke rambu yang ditegakan yang berdekatan, yang sering pula
di stasion yang diketahui disebut slag.
ketinggiannya, maksudnya untuk
2. Tinjauan Pustaka
mengetahui tingginya garis bidik.
Metode sipat datar prinsipnya adalah
Rambunya disebut rambu muka.
Mengukur tinggi bidik alat sipat datar
6. Titik putar (turning point) adalah
optis di lapangan menggunakan rambu
stasion dimana pengukuran ke
ukur. Hingga saat ini, pengukuran beda
belakang dan kemuka dilakukan pada
tinggi dengan menggunakan metode
rambu yang ditegakan di stasion
sipat datar optis masih merupakan
tersebut.
7. Stasion antara (intermediate cara pengukuran beda tinggi yang
stasion) adalah titik antara dua titik paling teliti. Sehingga ketelitian
putar, dimana hanya dilakukan kerangka dasar vertikal (KDV)
pengukuran ke muka untuk dinyatakan sebagai batas harga
menentukan ketinggian stasion terbesar perbedaan tinggi hasil
tersebut. pengukuran sipat datar pergi dan
pulang.

3. Pembahasan
Sipat datar adalah suatu alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan beda tinggi
antara dua tempat atau lebih di lapangan dengan cara membaca skala pada rambu
vertikal yang tepat berhimpit pada posisi garis bidik horizontal.

Maksud pengukuran tinggi adalah menentukan beda tinggi antara dua titik. Beda
tinggi h diketahui antara dua titik a dan b, sedang tinggi titik A diketahui sama dengan
Ha dan titik B lebih tinggi dari titik A, maka tinggi titik B, Hb = Ha + h yang diartikan
dengan beda tinggi antara titik A clan titik B adalah jarak antara dua bidang nivo yang
melalui titik A dan B. Umumnya bidang nivo adalah bidang yang lengkung, tetapi
bila jarak antara titik-titik A dan B dapat dianggap sebagai Bidang yang mendatar.

Tinggi titik pertama ( h1) dapat di definisikan, sebagai koordonat lokal ataupun terikat
dengan titik yang lain yang telah diketahui tingginya, sedangkan selisih tinggi atau
lebih di kenal dengan beda tinggi ( h ) dapat diketahui/diukur dengan menggunakan
prinsip sipat datar.
Yang menjadi masalah dalam pengukuran beda tinggi ini adalah pengambilan
penentuan referensi awalnya. Apabila peta yang di inginkan tersebut hanya
berorientasi pada ketinggian setempat saja, tanpa memperhatikan orientasi tinggi yang
menyeluruh maka titik nol dapat dipilih sembarangan.

Tujuan Pengukuran Sipat Datar

1. Tujuan Intruksional Umum

Mahasiswa mampu memahami, mendeskripsikan, dan mengaplikasikan berbagai


metode pengukuran beda tinggi dengan pesawat penyipat datar pada praktik
pengukuran dan pemetaan ilmu ukur tanah.

2. Tujuan Instruksi Khusus

1. Mahasiswa mampu melakukan survei ke lapangan berkenaan dengan tugas yang


diberikan.
2. Mahasiswa dapat menentukan letak patok-patok pengukuran dan pengkondisian
dalam jumlah slag yang genap.
3. Mahasiswa mampu mematok rencana pematokan itu di lapangan.
4. Mahasiswa mampu mengetengahkan gelembung nivo dengan cara menggerakkan
2 skrup kaki kiap ke dalam atau keluar saja, dan menggerakkan 2 sekrup kaki kiap ke
kanan atau ke kiri saja, dilakukan secara interaktif sehingga gelembung nivo itu
benar-benar di tengah dianggap bahwa garis bidik sejajar dengan gelembung nivo.
5. Mahasiswa mampu melakukan pengukuran kesalahan garis bidik dengan
kedudukan alat pada stand 1 dan stand 2, di mana rumus kesalahan garis bidik adalah
(benang tengah belakang stand 1 benang tengah muka 1) - (benang tengah belakang
stand 2 - benang tengah muka stand 2) (jarak belakang stand 1 - jarak muka stand 1) -
(jarak belakang stand 2 - jarak muka stand 2).
6. Mahasiswa mampu mendirikan alat pada slag 1 dan slag-slag selanjutnya yang
letaknya kira-kira di tengah antara dua rambu serta mampu membaca benang atas,
tengah, dan bawah rambu belakang, benang atas, tengah, dan bawah rambu muka dan
jarak muka dan jarak belakang.

Metode Penghitungan Beda Tinggi


Penghitungan beda tinggi antara dua titik yang diukur dengan waterpass dapat
dihitung dengan rumus

H = BTB BTM
Keterangan :
BTB : Benang tengah belakang
BTM : Benang tengah muka

Alat Ukur Sipat Datar Optis


a. Dumpy level (type kekar)
Pada tipe ini sumbu tegak menjadi satu dengan teropong. Semua bagian pada alat
sipat datar tipe kekar adalah tetap. Nivo tabung berada di atas teropong, teropong
hanya dapat digeser dengan sumbu kesatu sebagai sumbu putar.

Dimana:
1. Teropong. 10. Sumbu ke-1.
2. Nivo tabung. 11. Tombol Fokus.
3. Pengatur Nivo.
4. Pengatur dafragma.
5. Kunci Horizontal.
6. Skrup Kiap
7. Tribrach.
8. Trivet.
9. Kiap (Leveling Head).
b. Reversible level (type reversi)
Pada tipe ini teropongnya dapat diputar pada sumbu mekanis dan disangga oleh
bagian tengah yang mempunyai sumbu tegak. Pada alat ini teropongnya dapat diputar
pada sumbu mekanis dan disangga oleh bagian tengah yang mempunyai sumbu tegak.
Di samping itu teropong dapat diungkit dengan skrup (no 13) sehingga garis bidik
dapat mengarah ke atas, ke bawah, maupun mendatar. Sumbu mekanis, disamping
sebagai sumbu puitar teropong merupakan garis penolong untuk membuat garis bidik
sejajar dengan dua garis jurusan nivo reversi.

Dimana:
1. Teropong. 9. Kiap.
2. Nivo Reversi. 10. Sumbu ke-1 (Sumbu Tegak).
3. Pengatur Nivo. 11. Tombol Fokus.
4. Pengatur Diafragma. 12. Pegas.
5. Skrup Pengunci Horizontal. 13. Skrup Pengungkit Teropong.
6. Skrup Kiap. 14. Skrup Pemutar Teropong.
7. Tribrach. 15. Sumbu Mekanis.
8. Trivet.
c. Tilting level (type jungkit)
Pada tipe ini sumbu tegak dan teropong dihubungkan dengan engsel dan skrup
pengungkit.Berbeda dengan tipe reversi, pada tipe ini teropong dapat diungkit dengan
skrup pengungkit.

d. Automatic level (type Otomatis)


Tipe ini sama dengan tipe kekar, hanya di dalam teropongnya terdapat akat yang
disebut kompensator untuk membuat agar garis bidik mendatar. Berbeda dengan 3
tipe sebelumnya, pada type otomatik ini tidak terdapat nivo tabung untuk
mendatarkan garis bidik sebagai penggantinya di dalam teropong dipasang alat yang
dinamakan kompensator.
Bila benang silang diafragma telah diatur dengan baik, sinar mendatar dan masuk
melalui pusat objektip akan selalu jatuh depat di titik potong benang silang
diafragma, walaupun teropong miring (sedikit). Dengan demikian, dengan
dipasangnya kompensator antara lensa objektip dan diafragma garis bidik menjadi
mendatar. Walaupun demikian type otomatik mempunyai kekurangan yaitu mudah
dipengaruhi getaran, karena sebagai kompensatornya dipergunakan sistim pendulum.

Dimana:
1. Teropong. 7. Trivet.
2. Kompensator. 8. Kiap.
3. Pengatur Diafragma. 9. Tombol Fokus.
4. Pengunci Horizontal.
5. Skrup Kiap.
6. Tribrach.

Kesalahan-Kesalahan Pada Sipat-Datar


Kesalahan-kesalahan pada sipat-datar dengan menggunakan instrumen sipat datar
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Kesalahan Petugas :

A. Disebabkan oleh observer

1. Pengaturan instrumen sipat datar yang tidak sempurna (penempatan gelembung nivo
yang tidak sempurna dan sebagainya).

2. Instrumen sipat datar tidak ditempatkan pada jarak yang sama dari kedua rambu.

3. Kesalahan pembacaan.

4. Kesalahan pencatatan.

B. Disebabkan oleh rambu:


a. Penempatan rambu yang tidak betul-betul vertikal.

b. Rambu tipe perpanjangan seperti misalnya rambu Sopwith yang


perpanjangannya dirasakan kurang sempurna.

c. Disebabkan terbenamnya rambu, karena tidak ditempatkan pada


tumpuan yang keras.

Selanjutnya kesalahan yang disebabkan kekurangan-kekurangan pada tanda-tanda


indeks rambu karena titik-titik balik bernomor genap yang tidak tersedia antara dua
titik dapat dianggap sebagai kesalahan pembidik. Pada sipat datar teliti, seluruh jarak
harus dibagi menjadi bagian-bagian berjumlah genap untuk menentukan titik-titik
balik.

2. Kesalahan Instrumen :
1. Disebabkan oleh petugas
2. Penyetelan instrumen sipat datar yang tidak sempurna (garis kolimasi tidak
sejajar dengan sumbu niveu tabung)
4. Kesimpulan
Metode sipat datar optis adalah proses penentuan ketinggian dari sejumlah titik atau
pengukuran perbedaan elevasi. Perbedaan yang dimaksud adalah perbedaan tinggi di
atas air laut ke suatu titik tertentu sepanjang garis vertikal. Perbedaan tinggi antara
titik - titik akan dapat ditentukan dengan garis sumbu pada pesawat yang ditunjukan
pada rambu yang vertikal. Tujuan dari pengukuran penyipat datar adalah mencari
beda tinggi antara dua titik yang diukur.

Penghitungan beda tinggi antara dua titik yang diukur dengan waterpass dapat
dihitung dengan rumus : H = BTB BTM
Keterangan :
BTB : Benang tengah belakang
BTM : Benang tengah muka

5. Daftar Pustaka
Treemusketer. 04 Maret 2015. PENGUKURAN SIPAT DATAR (WATERPASS).
Diperoleh 16 Mei 2017, dari http://treemusketer.blogspot.co.id/2015/03/v-
behaviorurldefaultvmlo.html.
Mohamadrizki13. 5 November 2012. PENGUKURAN SIPAT DATAR . Diperoleh 15
Mei 2017, dari http://mohamadrizki13.blogspot.co.id/2012/11/pengukuran-sipat-
datar.html.
Wongsotjitro, Soetomo. 1980. Ilmu Ukur Tanah. Yogyakarta: Kanisius.