Anda di halaman 1dari 12

1

BAB 1
RISK MANAGEMENT PLAN

Dalam menjalani sebuah pekerjaan, risiko merupakan suatu bagian


penting dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia, yang berpengaruh
kepada tujuan setiap pekerjaan tersebut. Mulai dari menginisiasikan pekerjaan.
perencanaan dan desain, pelaksanaan pekerjaan, control dan maintenance dari
pekerjaan tersebut, sampai penutupan dari pekerjaan tersebut, risiko memiliki
andil penting dalam kelancaran aspek-aspek pekerjaan. Tingkat risiko pun sangat
berkaitan dengan besarnya biaya dari pekerjaan yang akan dilakukan, dan juga
waktu yang ditentukan pada perencanaan awal mungkin bisa berubah pada tahap
perencanaan tersebut akibat risiko yang memiliki probabilitas kejadian yang
tinggi, terkhusus untuk proyek konstruksi (Trauner, 1993).
Beberapa pendalaman mengenai risiko bisa dilakukan dengan
mengerti definisi dari kata resiko itu sendiri, beberapa definisi yang dipahami
sebagai risiko adalah sebagai berikut;
Merupakan proses formal, dimana faktor-faktor risiko secara sistematis
diidentifikasi, dianalisis dan ditangani.
Merupakan suatu metode pengelolaan sistematis yang bersifat formal,
berkonsentrasi pada mengidentifikasi dan mengendalikan area atau
kejadian-kejadian yang berpotensi untuk menyebabkan perubahan yang
tidak diinginkan.
Dalam pekerjaan proyek, adalah sebuah seni dan ilmu pengetahuan yang
penting dalam mengidentifikasi, menganalisis dan merespon terhadap
faktor-faktor risiko yang ada selama pelaksanaan suatu proyek.

Ketika dikaji ulang, didapat bahwa definisi risiko mempunyai pengertian


yang berbeda dari ketidak pastian (uncertainty). Sangat penting untuk bisa
membedakan kedua kata tersebut, dimana masing-masing kata tersebut
mempunyai muka yang serupa namun pengertian yang jauh berbeda antar satu
sama lain. Disini, risiko mempunyai hubungan dengan suatu kejadian yang
mempunyai probabilitas peristiwa yang mempengaruhi proses tersebut untuk
mencapai tujuan akhirnya. Sementara itu, ketidak pastian tidak memiliki data
yang cukup untuk bisa dikaji atauoun dinilai. Dengan kata lain, risiko lebih mudah
2

untuk dievaluasi, sementara ketidakpastian lebih sulit untuk diberlakukan


penilaian.
Tabel 1.1 Hubungan Risiko dan Ketidakpastian
Risiko Ketidakpastian
1 Tingkat probabilitas kejadian Tingkat probabilitas tidak terdefinisi
terdefinisi
2 Subyek memiliki ukuran kuantitas Subyek tidak memiliki ukuran kuantitas
yang jelas
3 Adanya dara pendukung mengenai Tidak adanya data pendukung mengenai
kemungkinan kejadian kemungkinan kejadian
Sumber: Djohanputro, 2008

Dalam kata lain, risiko juga bisa disebut sebagai paparan konsekuensi
dari ketidakpastian. Sebuah bentuk dari ketidakpastian yang lebih jelas dan
berdata, sehingga bisa disimpulkan penyelesaian masalah dari risiko tersebut agar
pekerjaan tetap dapat terselesaikan dengan baik. Risiko sendiri mempunyai
output-an yang berbeda, sehingga bisa membuat hasil dari pekerjaan semakin
negatif, atau juga positif. Semuanya tergantung dari aspek-aspek yang berengaruh
dari risiko itu sendiri, dan hasilnya terkait dengan adanya tindakan susulan yang
akan dilakukan untuk mengolah risiko tersebut, atau tidak.
Jadi kesimpulannya adalah, manajemen risiko mempunyai kekuatan
untuk mengubah perencanaan structural suatu pekerjaan, dan harus dikaji untuk
bisa diarahkan menuju tujuan awal dari pekerjaan. Harus diberlakukan
manajemen yang efektif terhadap peluang dan potensi dari efek samping risiko
yang dihadapi melibatkan aplikasi yang sistematis dari kebijakan manejemen
pekerjaan, dengan melakukan kajian identifikasi, analisis, penilaian, tindakan, dan
pengawasan terhadap risiko tersebut.

1.1 Manfaat Risiko


Risiko mampu memberikan manfaat yang membantu pelaksanaan
pekerjaan konstruksinya. Secara alamiah proyek konstruksi memiliki sesuatu yang
unik dibandingkan bidang pekerjaan lainnya, dimana hal tersebut berkaitan
dengan jangka waktu yang tidak dilakukan secara terus menerus, dibatasi dengan
keterlibatan sumber daya yang bermacam-macam, seperti manusia, finansial,
fasilitas alat, material, perizinan, keterkaitan hukum (contoh; IMB), dan lain-
3

lainnya. Dengan mengkaji risiko lebih lanjut, beberapa manfaatnya bisa


dijabarkan dalam beberapa poin ini;
Meminimalkan tidak tercapainya tujuan proyek
Untuk mengidentifikasi dan mengambil keuntungan terhadap adanya
kesempatan
Membantu project manager secara khusus dalam membuat urutan skala
prioritas, pemasukan SDA/M, dan juga implementasi penanggulangan
risikonya sendiri
Membuat sebuah kesempatan untuk pengambilan keputusan yang berdasar
Membuat kerangka sistematis untuk menanggulangi permasalahan risiko
tersebut

1.2 Tahapan Dalam Manajemen Risiko


Risiko merupakan faktor atau perisiwa yang mungkin berpotensi
mengganggu kesuksesan atau jalannya suatu proyek. Setiap proyek memiliki
resiko, baik internal ataupun eksternal. Resiko internal berhubungan dengan
sesuatu yang dimana tim proyek dapat mengontrol atau mempengaruhinya seperti
penempatan staff, lingkup proyek, dan estimasi biaya. Sedangkan resiko eksternal
adalah peristiwa yang diluar kemampuan kontrol tim manajemen proyek seperti
adanya peraturan baru yang menghambat proyek, dan bencana alam.
Hal paling penting dalam manajemen resiko adalah perencanaan
manajemen resiko karena dengan rencana manajemen resiko yang baik, manajer
proyek dan timnya dapat memperkecil dampak yang mungkin terjadi. Dokumen
rencana manajemen resiko dibuat untuk manajemen resiko selama proyek untuk
memudahkan tim dalam melihat rencana dan strategi dalam mengatasi risiko yang
ada. Dalam proses mendokumentasikan hasil indentifikasi resiko dan analisis tiap
fase, harus dicantumkan juga siapa yang akan bertanggung jawab dalam
manajemen lingkup resiko tersebut, bagaimana resiko ditangani, bagaimana
rencana penanggulanya dilaksanakan dan bagaimana alokasi cadangan proyek
yang digunakan.
Di dalam tahap manajemen risiko, terdapat beberapa proses untuk
membantu mencapai tujuan penyelesaian masalah dari risiko tersebut. Proses-
proses ini mempunyai tujuan untuk memperbesar kemungkinan kejadian-kejadian
yang memberikan efek positif terhadap tujuan yang ingin dicapai, dan mengurangi
4

kemungkinan kejadian-kejadian yang memberikan efek negative terhadap tujuan


proyek tersebut. Beberapa proses ini dijabarkan sebagai berikut;
Plan Risk Management, sebuah proses untuk mengidentifikasi cara untuk
melakukan kegiatan manajemen risiko dalam sebuah proyek.
Identify Risks, sebuah proses untuk mengidentifikasi risiko-risiko apasaja
yang mempengaruhi proyek, dan mengerti karakteristik-karakteristik dari
risiko tersebut.
Perform Qualitative & Quantitative Risk Analysis, dimana proses ini
bertujuan untuk mengenal risiko-risiko yang ada dengan sistematika
prioritas, dan menganalisa hubungan risiko tersebut secara numerik
(berbasis data)
Plan Risk Responses, yaitu sebuah perencanaan untuk mengembangkan
pilihan-pilihan tertentu yang bisa diaplikasikan kepada risiko-risiko yang
sudah teridentifikasi tersebut, sebagai respon dari risiko tersebut
mempengaruhi proses pekerjaan proyek.
Control Risks, yaitu sebuah proses untuk mengimplementasikan
identifikasi risiko, analisis risiko (kualitatif dan kuantitatif), dan respon
terhadap risiko sesuai dengan arahan dan perencanaan yang sudah dibuat.
Pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan pengontrolan agar hasil dari
pekerjaan bisa dilakukan sejalan dengan perencanaan awal manajemen
risiko.

1.3 Identifikasi Risiko


Identifikasi risiko adalah sebuah proses untuk mengidentifikasi risiko-
risiko apasaja yang mempengaruhi proyek, dan mengerti karakteristik-
karakteristik dari risiko tersebut. Dalam konteks proyek konstruksi, pihak-pihak
yang terlibat dalam aktifitas identifikasi risiko mencakup project manager, tim
proyek, owner, stakeholder, dll.
Beberapa langkah yang dilakukan untuk mengidentifikasi risiko yang
ingin dikaji;
Gathering Information (Mengumpulkan Informasi)
Mempunyai tujuan untuk mengidentifikasi risiko, memahami kemungkinan
dan konsekuensi dari setiap risiko.
5

Identifying Risk (Mengidentifikasi Risiko)


Melakukan proses identifikasi dengan mengikuti langkah-langkah tertentu,
seperti Brainstorming, Checklist Analysis, melakukan Interview, dll.
Risk List (Menuliskan Risiko)
Melakukan proses menjabarkan risiko yang ada dalam sebuah daftar/list.
6

BAB 2
RISK INDENTIFICATION

Identifikasi resiko meliputi kegiatan perkiraan akan resiko yang mungkin


terjadi dan dilakukan dokumentasi terhadap resiko-resiko tersebut. Identifikasi ini
merupakan alat yang dibutuhkan sepanjang proyek dimulai dari pendanaan,
kontrak, dan seluruh tahapan perencanaan serta pengawasan proyek. Identifikasi
dan penilaian resiko merupakan tanggungjawab seluruh anggota tim proyek.
Identifikasi resiko dimulai pada awal perencanaan tahapan pelaksanaan proyek.
Ringkasan profil resiko haruslah digunakan sebagai dokumen resiko. Adapun
proyek yang telah dimulai tetap harus meninjau ringkasan profil resiko yang ada
guna memperbarui kemungkinan resiko-resiko yang akan terjadi.
Pada kegiatan pengkajian resiko (risk assesment), hirarki pengendalian
(hierarchy of control) merupakan salah satu hal yang sangat diperhatikan.
Pemilihan hirarki pengendalian memberikan manfaat secara efektifitas dan
efesiensi sehingga resiko menurun dan menjadi resiko yang bisa diterima
(acceptable risk) bagi suatu organisasi. Secara efektifitas, hirarki kontrol pertama
diyakini memberikan efektifitas yang lebih tinggi dibandingkan hirarki yang
kedua. Hirarki pengendalian ini memiliki dua dasar pemikiran dalam menurunkan
resiko yaitu melaui menurunkan probabilitas kecelakaan atau paparan serta
menurunkan tingkat keparahan suatu kecelakaan atau paparan. Pada ANSI Z10:
2005, hirarki pengendalian dalam sistem manajemen keselamatan, kesehatan kerja
antara lain:

Eliminasi.
Hirarki teratas yaitu eliminasi/menghilangkan bahaya dilakukan
pada saat desain, tujuannya adalah untuk menghilangkan kemungkinan
kesalahan manusia dalam menjalankan suatu sistem karena adanya
kekurangan pada desain. Penghilangan bahaya merupakan metode yang
paling efektif sehingga tidak hanya mengandalkan prilaku pekerja dalam
menghindari resiko, namun demikian, penghapusan benar-benar terhadap
bahaya tidak selalu praktis dan ekonomis. Contoh-contoh eliminasi bahaya
yang dapat dilakukan misalnya: bahaya jatuh, bahaya ergonomi, bahaya
ruang terbatas, bahaya bising, bahaya kimia.
Substitusi
7

Metode pengendalian ini bertujuan untuk mengganti bahan, proses,


operasi ataupun peralatan dari yang berbahaya menjadi lebih tidak
berbahaya. Dengan pengendalian ini menurunkan bahaya dan resiko
minimal melalui disain sistem ataupun desain ulang. Beberapa contoh
aplikasi substitusi misalnya: Sistem otomatisasi pada mesin untuk
mengurangi interaksi mesin-mesin berbahaya dengan operator,
menggunakan bahan pembersih kimia yang kurang berbahaya, mengurangi
kecepatan, kekuatan serta arus listrik, mengganti bahan baku padat yang
menimbulkan debu menjadi bahan yang cair atau basah.

Pengendalian tenik/engineering control


Pengendalian ini dilakukan bertujuan untuk memisahkan bahaya
dengan pekerja serta untuk mencegah terjadinya kesalahan manusia.
Pengendalian ini terpasang dalam suatu unit sistem mesin atau peralatan.
Contoh-contoh implementasi metode ini misal adalah adanya penutup
mesin/machine guard, circuit breaker, interlock system, start-up alarm,
ventilation system, sensor, sound enclosure.

Sistem peringatan/warning system


Adalah pengendian bahaya yang dilakukan dengan memberikan
peringatan, instruksi, tanda, label yang akan membuat orang waspada akan
adanya bahaya dilokasi tersebut. Sangatlah penting bagi semua orang
mengetahui dan memperhatikan tanda-tanda peringatan yang ada dilokasi kerja
sehingga mereka dapat mengantisipasi adanya bahaya yang akan memberikan
dampak kepadanya. Aplikasi di dunia industri untuk pengendalian jenis ini
antara lain berupa alarm system, detektor asap, tanda peringatan (penggunaan
APD spesifik, jalur evakuasi, area listrik tegangan tinggi, dll).

Pengendalian administratif/ administratif control


Kontrol administratif ditujukan pengandalian dari sisi orang yang akan
melakukan pekerjaan, dengan dikendalikan metode kerja diharapkan orang
akan mematuhi, memiliki kemampuan dan keahlian cukup untuk
menyelesaikan pekerjaan secara aman. Jenis pengendalian ini antara lain
seleksi karyawan, adanya standar operasi baku (SOP), pelatihan, pengawasan,
modifikasi prilaku, jadwal kerja, rotasi kerja, pemeliharaan, manajemen
8

perubahan, jadwal istirahat, investigasi dll. dan Sepatu Keselamatan. Dan APD
yang lain yang dibutuhkan untuk kondisi khusus, yang membutuhkan
perlindungan lebih misalnya: faceshield, respirator, SCBA (Self Content
Breathing Aparatus),dll. Pemeliharaan dan pelatihan menggunakan alat
pelindung diripun sangat dibutuhkan untuk meningkatkan efektifitas
manfaat dari alat tersebut. Dalam aplikasi pengendalian bahaya, selain kita
berfokus pada hirarkinya tentunya dipikirkan pula kombinasi beberapa
pengendalian lainnya agar efektifitasnya tinggi sehingga bahaya dan resiko
yang ada semakin kecil untuk menimbulkan kecelakaan.

Alat pelindung diri


Pemilihan dan penggunaan alat pelindung diri merupakan
merupakan hal yang paling tidak efektif dalam pengendalian bahaya,dan
APD hanya berfungsi untuk mengurangi seriko dari dampak bahaya. Karena
sifatnya hanya mengurangi, perlu dihindari ketergantungan hanya
menggandalkan alat pelindung diri dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.
Alat pelindung diri Mandatory adalah antara lain: Topi keselamtan
(Helmet), kacamata keselamatan, Masker, Sarung tangan, earplug, Pakaian
(Uniform)

2.2 Perencanaan Identifikasi Resiko

2.2.1 Metodologi
Pendekatan yang dilakukan dalam proses manajemen risiko pada proyek
Pembangunan Embung Kebun Raya Batam adalah menerapkan proses
manajemen risiko yang telah ditetapkan oleh PT. Brantas Abipraya (Persero),
yakni sebuah proses yang terus-menerus dan berulang, proses intinya terdiri
atas 1) Melakukan Identifikasi Risiko, 2) Melakukan Asesmen Risiko, dan 3)
Memberi Tanggapan dan Perlakuan atas Risiko. Manajemen risiko harus
mampu mengakomodasi risiko teknis pekerjaan, efisiensi biaya, dan efisiensi
waktu kontrak.
Sumber informasi dan teknik yang bisa digunakan dalam pelaksanaan
manajemen risiko yaitu:
9

Arsip/rekod proyek-proyek yang telah dilaksanakan PT. Brantas Abipraya


(Persero),
Praktek/pengalaman pihak lain dalam proyek yang relevan,
Studi kepustakaan,
Wawancara dengan pakar terkait.

2.2.2 Kategori Risiko


Menurut penyebabnya, pengelompokan risiko yang akan diterapkan
pada proyek ini adalah berdasarkan tujuh kategori, yaitu 1) material, 2)
manusia, 3) metode pelaksanaan dan peralatan, 4) lingkungan, 5) manajerial,
6) keuangan dan 7) desain dan dokumentasi. Sementara, menurut tingkatnya,
risiko dikategorikan menjadi enam tingkat yaitu: 1) Risiko Sangat Rendah
(R1), 2) Risiko Rendah (R2), 3) Risiko Moderat Rendah (M 1), 4) Risiko
Moderat Tinggi (M2), 5) Risiko Tinggi (T1), dan 6) Risiko Sangat Tinggi (T2).

2.2.3 Definisi Probabilitas dan Dampak Risiko


Pendefinisian probabilitas dan dampak risiko dijelaskan sebagai berikut:
Tingkat Probabilitas, dibagi dalam tiga tingkat yaitu

Tabel 2.2 Definisi Tingkat Probabilitas Risiko


Aspek Ringan Menengah Berat
Kuantitatif Di atas 20% Di atas 50% Di atas 80%
sampai 50% sampai 80%
Kualitatif Kemungkinan Sama Cenderung
kecil terjadi kemungkinann dipastikan
ya antara sangat
terjadi dan mungkin
tidak terjadi

Tingkat Dampak, dibagi dalam tiga tingkat yaitu


Tabel 2.3 Tabel Definisi Tingkat Dampak Risiko
Aspek Ringan Menengah Berat
Penurunan Terjadi Terjadi Terjadi
atas sasaran penurunan penurunan penurunan
yang kecil sebesar yang sangat
sekitar berat dan
10

Aspek Ringan Menengah Berat


setengah dari terjadi
sasaran kegagalan
total
Penurunan Penurunan Penurunan di Penurunan
laba 1% atau atas 1% lebih dari 2%
dibandingkan kurang sampai 2%
penawaran

2.2.4 Matriks Probabilitas dan Dampak


Matriks Probabilitas dan Dampak adalah sebagai berikut:

Tabel 2.4 Matriks Probabilitas dan Dampak Risiko


Dampak
Probabilita
Ringa Menenga Bera
s
n h t
Kecil R1 R2 M2
Sedang R2 M1 T1
Besar M2 T1 T2

2.2.5 Ketentuan dalam Toleransi dan Pengambilan Keputusan untuk Menerima


Risiko
Pedoman terkait toleransi dan pengambilan keputusan untuk menerima
risiko yang akan diterapkan pada pelaksanaan proyek ini adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.5 Ketentuan Toleransi Risiko dan Pengambil Keputusannya
Tingkat Risiko Ketentuan Pengambil
Toleransi Keputusan
Tinggi (T1) dan Hanya boleh diterima Boleh diputuskan oleh
Sangat Tinggi (T2) jika dipandang perlu Manajer Proyek hanya
dan dapat jika mendapat
menghasilkan nilai persetujuan direksi
tertentu
Moderat Rendah Boleh diterima Hanya boleh
(M1) dan Moderat diputuskan oleh
Tinggi (M2) Manajer Proyek
11

Sangat Rendah Boleh diterima Boleh diterima oleh


(R1) dan Rendah personil yang
(R2) bertanggungjawab
melakukan asesmen
resiko
Adapun jika risiko dapat dimitigasi, maka ketentuan toleransi yang
berlaku untuk keputusan menerima tingkat perkiraan risiko dan langkah-langkah
yang diperlukan untuk melakukan mitigasi tersebut.

2.2.6 Hasil Identifikasi Resiko


Elemen masukan (input) yang digunakan pada proses identifikasi risiko
pada proyek Pembangunan Embung Kebun Raya Batam ini antara lain:
Rencana Manajemen Risiko
Daftar stakeholder
Organizational Process Assets PT. Brantas Abipraya (Persero), berupa
dokumen Prosedur Penerapan Manajemen Risiko Konstruksi (Edisi III)
nomor 2-000-70-04/03.
Metode identifikasi risiko yang dipakai adalah documentation reviews
berupa studi kepustakaan. Studi kepustakaan yakni mempelajari dokumen-
dokumen yang memuat informasi mengenai praktik dan pengalaman manajemen
risiko pada proyek-proyek yang sejenis dan relevan, seperti laporan-laporan
proyek/kerja praktik, skripsi dan tesis.
Hasil akhir dari proses identifikasi risiko adalah berupa daftar risiko
sebagaimana yang disajikan pada Tabel 12.6 di bawah ini:

Tabel 2.6 Daftar Risiko Hasil Proses Identifikasi Risiko


Komponen Risiko Risiko Referensi
Material Material yang dipakai tidak sesuai Pandopa, Riza.
(Tesis)
spesifikasi
Jumlah material yang dibutuhkan
tidak cukup.
Kedatangan material terlambat
Material rusak dan tidak sesuai
dengan persyaratan konstruksi
Manusia Kemampuan tenaga pengawas Pandopa, Riza.
(Tesis)
proyek kurang
12

Komponen Risiko Risiko Referensi


Jumlah tenaga pengawas proyek
tidak memadai
Jumlah pekerja kurang
Keterampilan pekerja tidak memadai
Produktifitas pekerja rendah
Kecelakaan kerja
Kualitas tim engineering proyek
kurang baik
Jumlah personil tim engineering
proyek kurang
Kompetensi personil tidak sesuai
dengan tugasnya
Pembagian tugas dan wewenang
tidak jelas
Metode pelaksanaan Metode pelaksanaan tidak tepat Pandopa, Riza.
dan peralatan Jenis peralatan yang digunakan tidak (Tesis)
tepat
Jumlah peralatan yang digunakan
kurang
Buruknya penataan site layout
Lingkungan Cuaca kurang baik (hujan dan banjir) Pandopa, Riza.
Kerusakan oleh pihak ketiga (Tesis)
Manajerial Komunikasi antar pihak kurang baik Pandopa, Riza.
Alur koordinasi antar pihak tidak (Tesis).
jelas
Penjadwalan proyek tidak sempurna
Keuangan Pembayaran oleh owner yang Pratama,
Riangga
terlambat
Anugrah
(Skripsi)
Desain dan Jadwal proyek yang ketat Pandopa, Riza.
dokumentasi Adanya perubahan desain dan (Tesis)
lingkup pekerjaan
Gambar kerja tidak jelas
Pengendalian dokumen di lapangan
tidak baik
(Sumber: Olahan Penulis)