Anda di halaman 1dari 3

Imlek, Pertanian, dan Ketahanan Pangan

Pada tanggal 28 Januari 2017 warga Tionghoa memperingati Tahun Baru Imlek 2568 dengan
shio Ayam Api. Banyak yang mengartikan bahwa imlek tahun ini mengangkat kearifan
tentang kehidupan manusia yang berhubungan dengan pertanian. Imlek sendiri berasal dari
kata Im yang artinya bulan dan Lek yang artinya penanggalan. Jadi, Imlek sebenarnya adalah
almanak atau penanggalan yang dimulai dari tangal 15 bulan ke-1 dan biasanya dirayakan
pada tanggal 15 bulan ke 12 hingga tangal 15 bulan ke-1 bertepatan dengan musim semi
masyarakat petani di Tiongkok.

Tahun Baru Imlek dahulu diperingati sebagai hari penyambutan musim semi bagi masyarakat
petani di Tiongkok yang diwujudkan dalam kegiatan ibadat atau sembahyang sebagai bentuk
rasa syukur pada Sang Pencipta. Para petani menyadari bahwa hasil pertanian yang mereka
dapatkan merupakan pemberian dari Sang Pencipta. Biasanya, Tahun Baru Imlek dianggap
sebagai momen mengungkapkan rasa syukur para petani di Tiongkok. Perayaan tersebut
berada pada puncaknya ketika malam ke-15 bulan ke-1 dengan bulan purnama penuh, atau
orang Tiongkok biasa menyebutnya Cap Go Meh. Para petani memasang lampion di sawah
dan ladang-ladang sebagai peringatan dimulainya musim tanam kembali dan sebagai isyarat
pengusir hama

Pada perayaan Tahun Baru Imlek sekaran ini, masalah tentang kearifan manusia yang
berhubungan dengan pertanian ternyata masih menjadi perhatian, terutama jika dikaitkan
dengan ketahanan pangan di Indonesia. Presiden Joko Widodo dalam pidato sambutan
pembukaan Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian 5 Januari 2017, beliau
mengungkapkan hal yang menjadi perhatian masyarakat terkait Indonesia yang takkan impor
beras lagi. Dua tahun yang lalu, Presiden Joko Widodo pernah menyatakan bahwa
pembangunan di sektor pertanian menjadi kunci mengatasi kemiskinan bangsa Indonesia
dengan Swasembada beras. Pernyataan tersebut belum bisa dibuktikan oleh masyarakat,
malah justru masyarakat Indonesia menjadi pesimis karena harga beras terus melambung.
Tidak hanya harga beras, harga cabai juga meningkat drastis sehingga petani Indonesia mulai
dilanda kegelisahan.

Berbicara masalah pertanian, masyarakat tentu masih ingat ketika era Orde Baru, pemerintah
secara aktif banyak melakukan kerja nyata terkait proses pembangunan pertanian. Faktor-
faktor pendukung pembangunan pertanian yang akhirnya menjadi fokus utama hingga
akhirnya Indonesia menjadi negara swasembada pangan yang diakui oleh dunia. Sebenarnya,
dari era pemerintahan orde baru inilah kita seharusnya belajar bahwa yang terpenting dari
pembangunan pertanian dan penguatan ketahanan pangan adalah prosesnya. Pertanian adalah
bicara kerja dan proses. Kita tidak mungkin bisa menikmati hasil pertanian ketika kita tidak
menanam dengan baik. Menanam saja pun tidak pasti akan memanen hasil yang diharapkan.
Oleh karena itu, pemerintah dan para petani harus benar-benar mengusahakan pemenuhan
dan perbaikan faktor-faktor yang mendukung proses pembangunan pertanian tersebut.

Permasalahan pembangunan pertanian ini memang sangat berkaitan dengan ketahanan


pangan, yang diartiakan sebagai sutu kondisi terpenuhinya pangan perseorangan hingga
negara yang tercermin dari tersedianya jumlah pangan yang cukup, kualitas, gizi, dan
keamanan yang terjangkau bagi masyarakat. Bung Karno pernah berkata bahwa ketahanan
pangan menjadi fokus yang sangat penting karena menyangkut hidup mati bangsa. Dari
sinilah, maka peran petani menjadi sangat penting dan menentukan masa depan bangsa
Indonesia melalui apa yang dikonsumsinya. Akan tetapi, kondisi petani Indonesia sedang
memasuki masa yang cukup kritis karena jumlah petani di Indonesia mengalami penurunan
sebanyak kurang lebih 5 juta orang dalam kurun delapan sampai sepuluh tahun terakhir.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian semua pihak, karena yang menjadi ujung tombak
ketahanan pangan Indonesia adalah keluarga petani Indonesia itu sendiri, sehingga
pemerintah dan masyarakat harus segera mengembalikan keyakinan petani Indonesia agar
terus bisa bekerja dan berproses sebaik-baiknya demi mewujudkan ketahanan pangan
Indonesia yang lebih baik.

Perayaan Tahun Baru Imlek inilah yang mungkin patut dianggap sebagai momentum
kebangkitan pertanian dan ketahanan pangan Indonesia. Tahun Baru Imlek banyak diilhami
dari budaya meningkatkan perekonomian para petani di Tiongkok, sehingga kala itu prinsip-
prinsip ekonomi pertanian sudah dilaksanakan dengan baik. Sosial ekonomi pertanian atau
pola agribisnis telah terjadi dan dilaksanakan dalam kehidupan masyarakat petani di
Tiongkok. Sejarah dari adanya perayaan Imlek bermakna untuk meningkatkan perekonomian
masyarakat petani di Tiongkok dulu, dan kini perayaan Tahun Baru Imlek bermakna kehi-
dupan yang lebih baik dari tahun yang sudah dilalui. Begitu pula di tahun yang baru ini,
masyarakat Indonesia masih menantikan langkah nyata yang telah dan akan dilakukan oleh
pemerintah Indonesia dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan Indonesia melalui
program pembangunan bidang pertanian.
Oleh : Juli Ayu Ningtyas

Nomor rekening: 0436715458