Anda di halaman 1dari 7

Makroekonomi 1

Hubungan antara Inflasi dan Foreign Direct Investment

Indonesia dan Australia

Ihda Rachmatina

Akuntansi

1406611745

Universitas Indonesia
1. Pendahuluan dan Latar Belakang
Investasi merupakan suatu usaha untuk menstimulus pertumbuhan perekonomian
suatu negara khususnya negara berkembang. Salah satu komponen pendapatan nasional
adalah investasi dalam perhitungan pendapatan nasional dengan pendekatan pengeluaran.
Investasi suatu negara dapat diperoleh dari dalam negeri maupun dari luar negeri.
Kebanyakan negara berkembang memanfaatkan investasi dari luar negeri sebagai modal
melakukan pembangunan perekonomian. Investasi dari luar negeri terdiri dari penanaman
modal asing secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam makalah ini akan dibahas penanaman modal asing secara langsung atau
foreign direct investment. Foreign direct investment merupakan penanaman modal oleh asing
yang dilakukan dengan berinvestasi dengan membangun, membeli atau mengakuisisi
perusahaan di negara tujuan foreign direct investment.
Inflasi merupakan keadaan dalam perekonomian suatu negara dimana harga sebagian
besar barang dan jasa mengalami kenaikan yang terus-menerus dan terjadi di seluruh wilayah
negara. Secara umum penyebab inflasi ada dua yaitu, inflasi yang disebabkan karena
kenaikan permintaan (demand pull inflation) dan inflasi yang disebabkan kenaikan biaya
produksi (cost plus inflation). Demand pull inflation merupakan inflasi yang disebabkan oleh
kenaikan permintaan barang dan jasa yang tidak direspon dengan kenaikan penawaran barang
dan jasa sehingga menimbulkan kelangkaan dan harga menjadi naik. Sedangkan cost pull
inflation adalah inflasi yang disebabkan karena kenaikan biaya produksi yang membuat
penawaran berkurang sehingga terjadi kenaikan harga.

Ilustrasi grafik demand pull inflation Ilustrasi grafik cost push inflation
Sumber : http://2.bp.blogspot.com/- Sumber: http://3.bp.blogspot.com/-laM1wO9Evvg/UZ01rj-
Ch3AGdc76AU/UZ01rl90hgI/AAAAAAAATaQ/_6ZJioj89 vS4I/AAAAAAAATaY/FaHSyby03k0/s1600/Kurva-Inflasi-
XE/s1600/Kurva-Inflasi-Tarikan-Permintaan-2352013.jpg Dorongan-Biaya-2352013.jpg
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai hubungan antara inflasi dengan foreign
direct investment dalam suatu perekomonian. Hipotesisnya adalah ada hubungan negatif
antara inflasi dan foreign direct investment yang akan dibuktikan dengan fungsi investasi dan
fisher equation. Data yang akan disajikan merupakan komparasi antara Indonesia dan
Australia dengan kurun waktu 2010-2014.
2. Teori dan Tinjauan Literatur
a. Fisher Equation
Fisher Equation menunjukkan hubungan antara tingkat bunga nominal dan tingkat
inflasi. Untuk menunjukan tingkat bunga riil,kita harus menghilangkan efek inflasi dalam
tingkat bunga nominal. Hal ini dapat ditunjukkan dalam persamaan Fisher sebagai berikut :

Fungsi akan dirubah agar menunjukkan fungsi tingkat suku bunga riil

i=r+
r=i-

r = Tingkat Suku Bunga Riil


i = Tingkat Suku Bunga Nominal
= Tingkat Inflasi
Tingkat bunga nominal (nominal interest rate) adalah tingkat bunga yang biasa
dilaporkan atau tingkat bunga yang dibayar investor untuk meminjam uang. Tingkat bunga
riil (real interest rate) adalah tingkat bunga nominal yang dikoreksi untuk menghilangkan
pengaruh inflasi dan menunjukkan purchasing power masyarakat. Ini menunjukkan bahwa
tingkat bunga nominal dapat berubah karena dua hal : karena tingkat bunga riil berubah atau
karena tingkat inflasi berubah.
b. Fungsi Investasi
Fungsi investasi menunjukkan hubungan jumlah investasi (I) dengan tingkat bunga
riil (r). Investasi bergantung pada tingkat bunga riil karena tingkat bunga adalah biaya
pinjaman dimana dapat mengukur biaya dari dana yang digunakan untuk membiayai
investasi.
I = Investasi

I = I (r)
r = Tingkat Suku Bunga Riil

Fungsi investasi melandai ke bawah jadi ketika tingkat suku bunga riil naik, semakin sedikit
proyek investasi yang menguntungkan karena biaya investasinya lebih besar dan sebaliknya
ketika suku bunga riil turun maka akan banyak proyek investasi yang lebih menguntungkan
karena biaya investasinya lebih kecil.
Kurva hubungan Investasi dan Tingkat suku bunga riil (r)

3. Analisis Hasil
Irving Fisher mencetuskan Fisher Effect dimana tingkat suku bunga nominal harus
dikoreksi untuk mendapatkan tingkat suku bunga riil. Perbahan tingkat inflasi akan
mempengaruhi tingkat suku bunga riil. Kenaikan inflasi akan direspon pemerintah dengan
kebijakanan kenaikan suku bunga nominal yang lebih tinggi dari kenaikan inflasi untuk
mengendalikan riil interest rate yang menunjukkan purchasing power masyarakat. Di saat
inflasi, pemerintah akan berusaha menaikkan purchasing power masyarakat agar tidak terjadi
kemiskinan.

r = i -
Ketika tingkat suku bunga riil naik
maka akan berakibat pada investasi. Kenaikan
tingkat suku bunga akan membuat jumlah investasi menurun. Hal ini akan membuat foreign
direct investment juga akan turun. Dengan asumsi penurunan investasi secara keseluruhan
proporsional dengan penurunan foreign direct investment atau dapat diasumsikan investasi
dalam bentuk lain selain foreign direct investment tetap.

Selain karena tingkat suku bunga riil, investor asing melakukan investasi langsung di
suatu negara juga bertujuan untuk memasarkan hasil produknya ke negara tujuan. Apabila
negara tersebut mengalami inflasi yang berkelanjutan dan purchasing power masyarakat terus
menurun maka perusahaan yang merupakan foreign direct investment akan kehilangan pasar
di negara tersebut karena turunnya konsumsi terhadap produk tersebut. Inflasi terjadi karena
kenaikan harga yang terus menerus, buruh akan menuntut adanya kenaikan upah untuk
memenuhi konsumsi yang sama namun harganya naik, sedangkan output hasil produksi tidak
laku dipasaran. Hal-hal ini akan membuat perusahaan mengalami kebankrutan jika tingkat
inflasi terus naik dan tidak dapat dikendalikan oleh kebijakan moneter pemerintah.

Karena risiko yang besar apabila terjadi inflasi yang tinggi dalam perekonomian,
maka investor asing akan mempertimbangkan tingkat inflasi sebelum melakukan foreign
direct investment di negara tertentu. Investor akan cenderung memilih melakukan foreign
direct investment di negara dengan tingkat inflasi yang rendah dan stabil agar risiko yang ada
tidak terlalu besar.

Berikut adalah data inflasi dan foreign direct investment Indonesia tahun 2010-2104

Jika dilihat dari trennya, data inflasi dan foreign direct investment Indonesia tidak
menunjukkan hubungan negatif seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Foreign direct
investment di Indonesia terus menannjak naik meskipun terjadi flutuasi inflasi. Hal ini
dikarenakan inflasi Indonesia relatif rendah dan stabil (dibuktikan dengan tren yang landai).
Sebagai perbandingan, berikut adalah data inflasi dan foreign direct investment di
Australia

Data inflasi dan foreign direct investment Australia menunjukkan adanya hubungan
negatif antara foreign direct investment dan inflasi dibuktikan dengan tren inflasi yang
menurun dan tren foreign direct investment yang naik. Australia juga memiliki tingkat inflasi
yang rendah pada kurun waktu 2010-2014 yaitu berkisar diantara 1- 3,5. Tingkat inflasi juga
relatif stabil dibuktikan dengan tren yang landai.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, tingkat inflasi di Australia cenderung lebih


rendah. Batas bawah tingkat inflasi di Indonesia lebih tinggi dibandingkan batas atas tingkat
inflasi Australia. Kedua negara ini memiliki tingkat inflasi yang relatif stabil. Sehingga
mendorong investor asing untuk menanankan foreign direct investment.

4. Kesimpulan
Dari data inflasi dan foreign direct investment Australia 2010-2014 menunjukkan
hubungan yang negatif antara inflasi dan foreign direct investment, namun, dalam
kenyataannya yang mempengaruhi foreign direct investment tidak hanya inflasi. Maka dari
itu, hipotesis bahwa hubungan foreign direct investment dan inflasi merupakan hubungan
negatif kurang relevan dengan data di Indonesia pada kurun waktu 2010-2014. Tingkat inflasi
merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh investor asing yang ingin
menanamkan modal dalam suatu negara. Tingkat inflasi yang relatif rendah dan stabil akan
mendorong iklim investasi baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.Selain itu ada
faktor lain seperti investasi dalam negeri, tingkat upah minimum, keberadaan sumber daya
alam, regulasi dan lain-lain.

Daftar Pustaka

Mankiw NG. Macroeconomics, 7th Edition. Worth Publishers; 2010

http://www.tradingeconomics.com/indonesia/foreign-direct-investment

http://www.tradingeconomics.com/indonesia/inflation-cpi

http://www.tradingeconomics.com/australia/foreign-direct-investment

http://www.tradingeconomics.com/australia/inflation-cpi