Anda di halaman 1dari 9

TUGAS III

MENDALA METALOGENIK DI INDONESIA

Dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Genesea Bahan Galian


Program Studi Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2016/2017

Al Imam Achmad Fadilah (10070111064)


UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN
2017 M / 1438 H
MENDALA METALOGENIK
DI INDONESIA

A. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan kepulauan yang dinamik yang terbentuk akibat
pertumbuhan 3 lempeng Lempeng Eurasia, Lempeng India-australia dan
Lempeng Pasifik. Pergerakan tektonik convergence, spreading, subduction,
obduction, collision dll di Indonesia dimulai pada masa Carbon (10 Ma) yang
selanjutnya diikuti oleh proses intrusi magmatik, pembentukan batuan piroklastik
dan batuan sediment seiring pembentukan volcano magmatik arc. Model tektonik
lempeng di indonesia secara umum merupakan pola konvergen dimana jalur
subduksi selalu diikuti oleh busur magmatik. Model tektonik lempeng Indonesia
dalam satu pola konvergen telah dibuat oleh Hamilton (1970) dan Katili (1971)

Gambar 1
Kawasan Indonesia Berada di Sendi 3 Lempeng Kerak Bumi (Eurasia, India-
australia, dan Pasifik)
Model tektonik lempeng di indonesia secara umum merupakan pola konvergen
dimana jalur subduksi selalu diikuti oleh busur magmatik. Model tektonik
lempeng Indonesia dalam satu pola konvergen telah dibuat oleh Hamilton (1970)
dan Katili (1971)

B. MENDALA METALOGENIK DI INDONESIA


Istilah Mendala Metalogenik atau Metallogenic Province memiliki
pengertian suatu area yang dicirikan oleh kumpulan endapan mineral yang
khas, atau oleh satu atau lebih jenis-jenis karakteristik mineralisasi. Suatu
mendala metalogenik mungkin memiliki lebih dari satu episode mineralisasi yang
disebut dengan Metallogenic Epoch Beberapa contoh mendala metalogenik
antara lain ; segregasi lokal dari kromium dan nikel di bagian yang paling dalam
dari kerak samudera, dan pengendapan sulfida-sulfida masif dari tembaga dan
besi di tempat-tempat yang panas, metal-bearing brine menuju samudra melalui
zona regangan, endapan-endapan mineral magmatik-hidrotermal berhubungan
dengan proses- proses subduksi. Tumbukan dan subduksi membentuk gunung-
gunung yang besar seperti di Andes, yang mana endapan-endapan mineral
dibentuk oleh diferensiasi magma
Jalur Mandala Metalogen Indonesia :
1. Jalur nias : Dari Asia, P.Simelue, P.Enggano & Selatan Jawa. Berumur
Kapur Tersier Awal. Kemungkinan endapan Mn.
2. Jalur bengkulu : dari kepulauan Banyak, Selatan Jawa, Nusa Tenggara.
Batuannya terdiri dari batuan volkanik & pluton (intermediet). Berumur
Kapur Akhir Tersier. Bagian luar Fe, tengah Au, Ag, & Cu, bagian dalam
Cu, Zn, Hg, & Mn.
3. Jalur barisan : dari Aceh, Pegunungan Bukit Barisan, Lampung, Bobaris
(Meratus). Kandungan mineralnya di Sumatera (batuan asam intermediet)
Ag, Au, Pb, & Zn. Di Kalimantan (batuan ultra basa) Au, Ag, & Pt. Di pulau
Sebuku pada batuan basa adalah U, Th, Ra dan pada batuan ultra basa
adalah Su, Ni & Fe.
4. Jalur bangka (Malaysia) : dari Malaysia Barat, P.Lingga, P.Singkep,
P.Bangka Belitung. Batuannya asam berumur Paleozoik Akhir
Mesozoik Awal dengan kandungan Sn, Wo, Monasit & Zirkon.
Dimungkinkan jalur ini terus ke Malaysia (jalur Kucing) dengan
kandungan Fe,Au, Cu, Pb, Zn, Sb & Mc.
5. Jalur serawak sulu : dari Serawak Utara, Tarakan, Sabah hingga
Kepulauan Sulu. Beberapa batuan sedimen & batuan beku asam
intermediet yang berumur Miosen Akhir Tersier Awal. Asosiasi
mineralnya adalah Au, Ag, Hg, & Mn.
6. Busur barat sulawesi : dari Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Sulawesi
Selatan sampai P.Selayar. Umumnya terdiri dari batuan volkanik, pluton
asam & intermediet. Mineralisasi pada kala Tersier Awal Pliosen adalah
Au, Ag, U, Pb, Zn, & Mc.
7. Jalur sulawesi tenggara : mencakup daerah Kepulauan Talaud sampai
Sulawesi Tenggara. Batuannya ultra basa yang terjadi pada masa
Mesozoik Tengah dengan kandungan Ni Fe Laterit Cr & Mg.
8. Jalur waigeo : dari Halmahera Timur, Kepala Burung Utara sampai Papua
Utara. Batuannya ultra basa, asam & intermediet dibagian selatan yang
terjadi pada Tersier Akhir. Asosiasi mineralnya adalah Cr, Co, Ni, Fe
Laterit, Au, & Cu.
9. Jalur timor : berasal dari endapan darat Australia yang bercampur dengan
batuan Lempeng Asia pada suatu Palung. Jalur bermula dari Timor,
P.Buton pada kala Mesozoik. Asosiasinya Cu (tipe Cyprus atau Hawai) &
Mn.
10. Jalur ertsberg/jaya wijaya : dari Pegunungan Jaya Wijaya di Papua
Tengah berupa batuan ultra basa yang berasosiasi dengan Cr, Co,&
Sedikit Ni, Fe laterit. Dibagian Selatan berupa batuan asam sampai
intermediet yang mineralisasinya pada Kapur Akhir sampai Tersier Awal &
berasosiasi dengan Au & Cu.
11. Jalur sula : dari Kepulauan Sula, Banggai, Misool, sebagian Papua &
Australia Utara. Umumnya berupa batuan sedimen berasal dari daratan
Australia. Asosiasi mineralnya berupa endapan placer Au & Mn.
Mineralisasi terjadi pada masa Mesozoik Akhir sampai Mesozoik Awal.
Kepulauan Indonesia dengan 13,000 pulau memanjang 5,200 km terdiri
dari keberadaan busur Vulkanik zaman kenozoikum yang lokasinya menempaiti
15 % dari vulkanik aktif di Indonesia. Busur Kenozoikaum mempunyai panjang
9,000 km, dimana 80% diketahui sebagai pembawa mineral deposit (Carlile and
Mitchell, 1994). Halmahera dan Irian Jaya dapat diperkirakan sebagai bagian dari
sirkum Pasifik, sedangkan sisanya merupakan kompleks konvergen sepanjang
timurlaut lempeng Indian Australia (Hamilton, 1979).
Bersamaan dengan subduksi lain, Type I/magnetite seri vulkanik
busur plutonik dihasilkan pada zaman kenozoikum, dan didominasi oleh Cu
phorfiri dan emas epithermal Au. Pengaruh pembentukan metal ini menutup
kemungkinan hubungan dari sabuk mineral yang lain: Irian Jaya merupakan
provinsi penghasil Cu Au di Papua New Guinea. Sulawesi Utara bisa jadi
merupakan provinsi penghasil Cu Au, kemenerusan kearah barat daya dari
Phillipina (Mindanau timur) (Carlile and Kirkegaard, 1985). Keberadaan
Mineralisasi di kalimantan Barat terletak di Bau Arah Serawak (Malaysia Timur).
Busur Kenozoikum Indonesia, sebagian, dalam kerak kraton, di Sumatra
tengah dan kepulauannya, termasuk kedalam sabuk barat daya Sn Asia.
Ditempat lain, bagaimanapun juga, busur busur lebih tua dan muncul di seting
kerak samudra (Carlile and Mitchell, 1994). Semua Au dan Cu Au di Indonesia
berumur Mio Plio (Carlile and Mitchell, 1994), dalam busur kepulauan daerah
pasifik barat (Sillitoe, 1989).
Busur kepulauan Indonesia yang juga bisa didefinisikan sebagai
Cenozoic volcano magmatic arc memiliki bentangan sepanjang 9000 km dan 80
% bentangan tersebut memiliki potensi sumberdaya mineral. Volcano magmatic
arc atau umumnya disebut busur magmatik yang merupakan produk dari proses
tektonik, memiliki kaitan yang erat dengan pembentukan proses-proses
mineralisasi di kerak bumi. Mineral logam pada umumnya terbentuk di Busur
magmatik tersebut. Batuan batuan yang terbentuk pada Busur magmatik
khususnya yang berasosiasi dengan mineralisasi terdiri dari batuan vulkanik,
batuan intrusif, batuan sediment dan sebagian kecil complex ophiolite. Proses
yang lama dan berkesinambungan hasil dari aktifitas tektonik di Indonesia
menghasilkan Indonesia memilki sumber daya alam khususnya sumberdaya
mineral yang berlimpah seperti timah, tembaga, emas, perak, nikel, bauksit, besi
dan lain-lain.
Carlile dan Mitchell (1994), berdasarkan data-data mutakhir Simanjuntak
(1986), Sikumbang (1990), Cameron (1980), Adimangga dan Trail (1980),
memaparkan busur-busur magmatik seluruh Indonesia sebagai dasar eksplorasi
mineral. Teridentifikasikan 15 busur magmatik, 7 diantaranya membawa jebakan
emas dan tembaga, dan 8 lainnya belum diketahui. Busur yang menghasilkan
jebakan mineral logam tersebut adalah :
Busur magmatik Aceh,
Busur magmatik Sumatera-Meratus,
Busur magmatik Sunda-Banda,
Busur magmatik Kalimantan Tengah,
Busur magmatik Sulawesi-Mindanau Timur,
Busur magmatik Halmahera Tengah,
Busur magmatik Irian Jaya.

Gambar
Sumbu Utama Busur Magmatik dan Blok Crustal di Indonesia

Busur yang belum diketahui potensi sumberdaya mineralnya adalah


Paparan Sunda,
Borneo Barat-laut,
Talaud,
Sumba-Timor,
Moon-Utawa dan
Utara Irian Jaya.
Cebakan tersebut merupakan hasil mineralisasi utama yang umumnya
berupa porphyry copper-gold mineralization, skarn mineralization, high
sulphidation epithermal mineralization, gold-silver-barite-base metal
mineralization, low sulphidation epithermal mineralization dan sedimen hosted
mineralization.
Cebakan emas dapat terjadi di lingkungan batuan plutonik yang tererosi,
ketika kegiatan fase akhir magmatisme membawa larutan hidrotermal dan air
tanah. Proses ini dikenal sebagai proses epitermal, karena terjadi di daerah
dangkal dan suhu rendah. Proses ini juga dapat terjadi di lingkungan batuan
vulkanik (volcanic hosted rock) maupun di batuan sedimen (sedimen hosted
rock), yang lebih dikenal dengan skarn. Contoh cukup baik atas skarn terdapat di
Erstberg (Sudradjat, 1999). Skarn Erstberg berupa roofpendant batugamping
yang diintrusi oleh granodiorit. Sebaran skarn dikontrol oleh oleh struktur geologi
setempat. Sebagai sebuah roofpendant, zona skarn bergradasi dari metasomatik
contact sampai metamorphic zone (Zuharlan, 1993).

C. PENUTUP
Indonesia memiliki beragam sumber daya disebabkan karena wilayah
Indonesia merupakan pertemuan dari 3 lempeng yaitu lempeng Eurasia,
lempeng Indo-australia, dan lempeng Pasifik. Tentu dari hal tersebut ada sisi
positif dan negatifnya, sisi positifnya maka Indonesia ini memiliki beragam
sumber daya yang dapat dimanfaatkan berdasarkan kebutuhan manusia,
sedangkan sisi negatifnya adalah kegiatan tektonik seperti gempa, erupsi
gunung berapi, bahkan tsunami yang notabene sering merugikan manusia
selama ini.
DAFTAR PUSTAKA

Yahya, Andy, Al Hakim, 2015, Metallogenic Provinces of Indonesian


Archipelago, SEG Student Chapter Leoben.
Bahtiar, Asep, 2011, Kerangka Tektonik Kaitannya dengan Metallogenic
Province di Indonesia, Scribd.
Buana, Putra, 2011, Genesa Bahan Galian 2, Blogspot.

Anda mungkin juga menyukai