Anda di halaman 1dari 6

Tabel 1.

1 Hasil Pengamatan Global Migrasi Kemasan Permen


Berat gelas
Berat Berat gelas Global
beker
Kel Kemasan Simulan sampel/W beker awal/A Migrasi
akhir/B
(gr) (gr) (ppm)
(gr)
1, 2 Alkohol 70% 0,1286 125,6 125,6 0
Permen
3, 4 Aquades 0,1313 122,7 122,7 0
Fox
5, 6 Asam Asetat 5% 0,1325 112,3 112,4 0,752.106
7, 8 Alkohol 70% 0,1329 123,4 123,5 0,752.106
Permen
9, 10 Aquades 0,1363 127,5 127,5 0
Mintz
11, 12 Asam Asetat 5% 0.1398 106,2 106,2 0
13, 14 Permen Alkohol 70% 0,1626 100,9 100,8 -0,616.106
15, 16 Jahe Aquades 0,1665 100,4 100,5 0,601.106
17, 18 Asam Asetat 5% 0,1520 101,1 101,2 0,658.106
Sumber : Laporan Sementara

Migrasi zat kemasan dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu global migrasi dan spesifik
migrasi. Global migrasi adalah total zat yang termigrasi dari kemasan ke bahan makanan,
sedangkan spesifik migrasi adalah migrasi dari satu atau lebih zat (misal: monomer) yang
merupakan unsur dari kemasan. Pada global migrasi semua zat akan dibatasi/dilarang baik yang
zat beracun maupun tidak (Gray et al., 2010).
Pengetahuan mengenai global migrasi ini penting dipelajari untuk mencegah dampak
negatif terhadap produk makanan dan konsumen. Migrasi zat kemasan dalam nilai yang tinggi
dan paparan waktu yang lama dapat menyebabkan menurunnya mutu dan keamanan produk yang
dapat memberikan efek negative terhadap kesehatan konsumen (Traistaru et al., 2013). Menurut
penelitian Bhunia et al. (2013), beberapa migrasi dari kemasan seperti eter digliserida (BADGE)
menyebabkan efek sitotoksi pada jaringan hidup, dan paparan terhadap stiren sebesar 18.2-55.2
g per hari atau 6.7-20.2 mg per tahun dapat menyebabkan iritasi pada organ dan kulit manusia
serta penyakit neurologis.
Proses migrasi dapat dibagi menjadi 4 jenis langkah utama. Langkah pertama yaitu difusi
senyawa kimia melalui polimer dan kedua yaitu desorpsi molekul yang terdifusi dari permukaan
polimer. Langkah ketiga yaitu penyerapan senyawa pada antarmuka makanan-plastik, dan
kemudian desorpsi senyawa dalam makanan (Bhunia et al., 2013).
Pada praktikum digunakan 3 jenis simulan yaitu larutan alkohol 70%, aquades, dan asam
asetat 5%. Simulan pangan adalah larutan yang dapat menyerupai aksi pelepasan komponen dari
pangan yang mengandung air, asam, alkohol dan lemak serta berfungsi sebagai pengganti pangan
dalam uji migrasi kemasan. Penggunaan simulan harus sesuai dengan karakteristik terhadap
produk. Simulan asam asetat biasanya digunakan pada produk berasam, heptana atau minya
jangung untu produk dengan kadar lemak 5% dan aquades/larutan etanol yang dapat digunakan
pada produk berair, berasam dan beralkohol (McCort-Tipton and Robert, 1999).
Pada Tabel 1.1 dapat diketahui bahwa nilai global migrasi kemasan permen fox untuk
simulan alkohol 70%, aquades, dan asam asetat 5% berturut-turut adalah sebesar 0, 0 dan
0,752.106 ppm. Pada kemasan permen mintz dengan simulan yang sama yaitu sebesar 0,752.106,
0 dan 0 ppm dan pada kemasan permen jahe sebesar -0,616.106, 0,601.106 dan 0,658.106 ppm.
Menurut BSN (2004) pada SNI 19-4370-2004, nilai global migrasi pada kemasan berbahan PE,
PP, dan PET adalah maksimal 30 ppm. Berdasarkan teori tersebut dapat disimpulkan bahwa pada
kemasan permen fox kelompok 5, 6 dan permen mintz kelompok 7,8 serta permen jahe tidak
memenuhi peraturan standar maksimul global migrasi.
Migrasi zat kemasan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor utama yang
mempengaruhi yaitu luas permukaan yang kontak dengan makanan, kecepatan migrasi, jenis
bahan plastik, suhu dan lamanya kontak. Semakin panas bahan makanan yang dikemas, semakin
tinggi peluang terjadinya migrasi zat-zat plastik ke dalam makanan (Sulchan dan Endang, 2007).
Gramatur adalah nilai yang menunjukan massa lembaran per satuan luas. Perhitungan
gramatur dilakukan dengan pembagian massa lembaran kertas/karton dalam gram dengan satuan
luasnya dalam m2 dan diukur pada kondisi standar (BSN, 2006). Fungsi dari pengukuran
gramatur ini adalah untuk mengetahui indeks tarik dan indeks sobek dari suatu kemasan. Indeks
tarik merupakan ketahanan tarik dibagi dengan gramatur contoh uji dalam g m -2 dan indeks
sobek adalah ketahanan sobek kertas dalam milinewton dibagi dengan gramatur kertas dalam g
m-2 (Syamsu dkk., 2014).
Densitas adalah kerapatan massa suatu benda. Densitas diperoleh dari hasil pembagian
antara gramatur dengan rata-rata tebal kemasan yang diukur di lima titik yang berbeda. Hal ini
dikarenakan nilai ketebalan kemasan tidak merata (Shewry, 1985). Pengukuran densitas berfugsi
untuk mengetahui seberapa besar kemampuan kemasan untuk menahan benturan dan melindungi
dari air dan gas selama penyimpanan dan distribusi. Faktor yang mempengaruhi besarnya
gramatur dan densitas adalah massa, luasan dan tebal bahan. Semakin besar massa, maka
semakin besar nilai gramatur dan semakin besar densitas. Semakin besar tebal, maka semakin
kecil nilai densitas (Syarief dkk., 1989).
Pada Tabel 1.2 dapat diketahui nilai rata-rata gramatur sampel Fullo kelompok (1, 2);
(7,8); dan (13,14) berturut-turut adalah sebesar 367,917 gr m-2; 389,417 gr m-2; 379,917 gr m-2.
Pada sampe Tango Waffle kelompok (3,4); (9,10); dan (15,16) berturut-turut sebesar 305,417 gr
m-2; 319,583 gr m-2; 332,500 gr m-2 dan pada sampel Zuper Keju kelompok (5, 6); (11,12); dan
(17,18) berturut-turut sebesar 389,085 gr m-2; 381,000 gr m-2; 398,000 gr m-2. Hasil tersebut
sudah sesuai dengan teori dalam BSN (2006) pada SNI 14-0440-200 bahwa nilai gramatur
minimal kemasan karton yaitu sebesar 224 gr m-2.
Pada nilai rata-rata densitas dengan sampel Fullo kelompok (1, 2); (7,8); dan (13,14)
berturut-turut diketahui sebesar 8,176 x 105 gr m-3; 1,455 x 105 gr m-3; 6,465 x 105 gr m-3. Pada
sampe Tango Waffle kelompok (3,4); (9,10); dan (15,16) berturut-turut sebesar 6,108 x 10 5 gr m-
3
; 7,176 x 105 gr m-3; 7,560 x 105 gr m-3 dan pada sampel Zuper Keju kelompok (5, 6); (11,12);
dan (17,18) berturut-turut sebesar 7,782 x 105 gr m-3; 7,677 x 105 gr m-3; 8,072 x 105 gr m-3.
Hasil tersebut menyimpang dari teori dalam SNI 0123:2008 bahwa nilai densitas minimal karton
adalah sebesar 7 x 105 gr m-3 (BSN, 2008). Penyimpangan ini dapat disebabkan oleh
ketidakteratiran tebal karton yang berhubungan dengan bahan baku dan proses produksi karton
itu sendiri (Harper, 1985).
Gramatur akan berpengaruh kepada indeks tarik dan sobek suatu kemasan. Semakin besar
nilai gramatur maka semakin kecil indeks sobek dan tarik sehingga kemasan semakin baik
(Syamsu dkk., 2014). Pada densitas atau kerapatan massa akan menunjukan struktur plastic
secara umum, seperti ketebalan yang akan melindungi kemasan dari zat seperti air dan gas.
Plastic dengan densitas rendah, menunjukan struktur terbuka sehingga perlindungan terhadap zat
rendah dan kemasan semakin tidak baik (Birley, 1988).
Prosedur uji jatuh menurut SNI 12-4259-2004 adalah sebagai berikut
1. Siapkan contoh gelas plastik sebanyak 16 buah (gelas dalam keadaan
kering dan tidak bocor).
2. Isi gelas plastik dengan air sampai bibir gelas lalu diseal.
3. Lakukan pengujian pertama sebanyak 8 buah, jatuhkan satu per satu
gelas plastik secara bebas dari ketinggian 75 cm.
4. Amati hasil jatuhan secara visual, ada tidaknya kerusakan (bocor, pecah
maupun retak).
5. Bila dari 8 buah gelas plastik yang diuji terdapat 3 buah gelas yang rusak,
maka gelas plastik dianggap tidak memenuhi syarat lulus uji dan tidak
dilakukan pengujian lagi.
6. Bila dari 8 buah gelas plastik setelah diuji terdapat 1 atau 2 buah gelas
plastik yang rusak, maka lakukan pengujian yang sama terhadap 8 gelas
plastik yang lainnya.
7. Gelas plastik dinyatakan lulus syarat uji, jika dari 16 buah gelas yang diuji
terdapat maksimal 3 buah yang rusak.

Pada praktikum uji ketahanan jatuh dilakukan dengan menggunakan air minum kemasan
gelas plastic dari berbagai AC, Club dan Vit yang masing-masing sebanyak 16 buah dan
kemudian 8 buah sampel dijatuhkan bebas dari ketinggian 75 cm, lalu diamati secara visual ada
tidaknya kerusakan. Bila dari 8 buah sampel terdapat 3 buah yang rusak maka tidak memenuhi
syarat lulus uji dan tidak dilakukan pengujian lagi. Namun bila dari 8 sampel tersebut terdapat 1
atau 2 buah rusak, maka dilakukan pengujian terhadap 8 gelas plastik yang lain. Gelas plastik
dinyatakan lulus jika maksimal sampe yang rusak adalah 3 dari 16.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kuat tidaknya kemasan air minum dan bahan apa yang
paling baik digunakan untuk kemasan gelas menurut Winarno (1983), dapat digolongkan menjad
dua yaitu golongan pertama kerusakan ditentukan oleh sifa alamiah dari produk dan tidak dapat
dicegah, dengan pengemasan, misalnya perubahan kimia, biokimia, fisik serta mikrobiologi
sedangkan golongan kedua kerusakan yang ditentukan oleh lingkungan dna hampir seluruhnya
dapat dikontrol dengan kemsan yang dapat digunakan, misalnya kerusakan mekanis, perbuahan
kadar air bahan, absorpso dan interakhi dengan oksigen.