Anda di halaman 1dari 24

ASET

DISUSUN OLEH :

DARMAWATI C 301 14 059

PUTRI SRI WAHYUNI C 301 14 060

DIAH APRILIANI PERMATASARI C 301 14 062

ANDI FARAH MUTHIAH C 301 14 063

ALAN WILLIAM TOAR C 301 14 070

KURNIA C 301 14 105

ECHA SYAFITRI SETIAWATI C 301 14 116

MAGFIRAH DIIZNANIA ARMIN C 301 14 149

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS TADULAKO

2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Allah Subhanahu wataala,


karena berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah yang berjudul
ASET. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Teori
Akuntansi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah


membantu sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah
ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi sempurnanya makalah ini.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan


bermanfaat untuk pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan
bagi kita semua.

Penulis

19 Januari 2017

2
DAFTAR ISI

Cover ............................................................................................................. i

Kata Pengantar .............................................................................................. ii

Daftar Isi ........................................................................................................ iii

Bab I Pendahuluan

1 Latar Belakang................................................................................... 1
2 Rumusan Masalah............................................................................. 1
3 Tujuan ................................................................................................ 1

Bab II Pembahasan

2.1 Pengertian Aset .................................................................................. 2


2.1.1 Manfaat Ekonomik ............................................................... 2
2.1.2 Dikuasai Oleh Entitas ............................................................ 3
2.1.3 Akibat Transaksi atau Kejadian Masa Lalu ........................... 3
2.1.4 Karakteristik Pendukung ....................................................... 4
2.2 Pengukuran ........................................................................................ 6
2.2.1 Kos Sebagai Pengukuran dan Bahan Olah Akuntansi ........... 7
2.2.2 Penghargaan Sepakatan Sebagai Bukti ................................. 7
2.2.3 Pengukuran Kos .................................................................... 7
2.2.3.1 Batas Kegiatan ......................................................... 8
2.2.3.2 Jenis Penghargaan .................................................... 8
2.2.4 Rugi Dalam Pemerolehan Aset .............................................. 8
2.3 Penilaian ............................................................................................ 8
2.3.1 Tujuan Penilaian Aset ............................................................ 9
2.3.2 Nilai Masukkan...................................................................... 9
2.3.2.1 Kos Historis .................................................................... 9
2.3.2.2 Kos Pengganti .................................................................. 10
2.3.2.3 Kos Harapan .................................................................... 10
2.3.3 Nilai Keluaran........................................................................ 10
2.3.3.1 Harga Jual Masa Lalu ...................................................... 10
2.3.3.2 Harga Jual Sekarang ........................................................ 11
2.3.3.3 Nilai Terealisasi Harapan ................................................ 11
2.3.4 Kos atau Pasar Yang Lebih Rendah ....................................... 11
2.3.5 Penilaian Menurut FASB ....................................................... 12
2.4 Pengakuan ......................................................................................... 13
2.4.1 Beban Tangguhan .................................................................. 14
2.4.2 Kos Bunga.............................................................................. 14
2.4.2.1 Argumen Pendukung........................................................ 14
2.4.2.2 Argumen Penolakan......................................................... 15

3
2.4.2.3 Aset Memenuhi Syarat..................................................... 16
2.4.2.4 Besarnya Kapitalisasi Bunga............................................ 16
2.4.2.5 Periode Kapitalisasi.......................................................... 16
2.4.2.6 Pengungkapan ................................................................. 17
2.5 Penyajian ........................................................................................... 17

Bab III Penutup

3.1. Kesimpulan...................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 20

4
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Aset adalah sumber ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat usaha
dikemudian hari. Aset dipahami sebagai harta total. Namun biasanya untuk keperluan
bisnis analisis dirinci menjadi beberapa kategori seperti aset lancar, investasi jangka
panjang, aset tetap, aset tidak berwujud.
Aset merupakan elemen pelaporan keuangan yaitu neraca yang akan membentuk
informasi berupa posisi keuangan perusahaan bila dihubungkan dengan elemen yang lain
yaitu kewajiban dan ekuitas. Aset mempresentasikan potensi jasa fisis dan nonfisis yang
memampukan perusahaan untuk menyediakan jasa dan barang.
Bagi manajemen, di dalam membaca neraca, nilai aset perlu dicermati karena
menjadi dasar pengukuran prestasi keuangan perusahaan. Ukuran ini menjadi
pembanding prestasi sesuatu perusahaan dengan prestasi perusahaan yang lain dalam hal
yang sama.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka kami dapat merumuskan masalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana pengertian dan manfaat ekonomik aset?
2. Bagaimana pengukuran aset yang digunakan?
3. Bagaimana penilaian aset yang dilakukan?
4. Bagaimana pengakuan yang digunakan untuk aset?
5. Bagaimana penyajian yang dilakukan dalam melaporkan aset?

1.3. Tujuan
1. Agar mengetahui pengertian dan manfaat ekonomik dari aset.
2. Agar mengetahui pengukuran yang digunakan dalam aset.
3. Agar mengetahui penilaian yang dilakukan terhadap aset.
4. Agar mengetahui pengakuan yang digunakan untuk aset.
5. Agar mengetahui penyajian yang dilakukan dalam melaporkan aset.

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Aset

FASB mendefinisi aset dalam rerangka konseptualnya sebagai berikut (SFAC No 6,


prg 25):

Assets are probable future economic benefits obtained or controlled by a perticular


entity as a result of past transactions or events.

Dengan makna yang sama, IASC mendefinisi aset sebagai berikut:

An assets is resource controlled by the enterprise as a result of past events and from
which future economic benefits are expected to flow to the enterprise.

Dalam Statement of Accounting Concepts No. 4, Australian Accounting Standard


Board (AASB) mendefinisi aset sebagai berikut:

Assets are service potential or future economic benefits controlled by the reporting
entity as a result of past transaction or other past events.

Definisi FASB dan AASB cukup dibanding definisi yang lain luas karena aset dinilai
mempunyai sifat sebagai manfaat ekonomik (economic benefits) dan bukan sebagai
sumber ekonomik (resources) karena manfaat ekonomik tidak membatasi bentuk atau
jenis sumber ekonomik yang dapat dimasukkan sebagai aset.

2.1.1. Manfaat Ekonomik

Untuk dapat di sebut aset, suatu objek harus mengandung manfaat


ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Ini mengisyaratkan bahwa manfaat
tersebut terukur dan dapat dikaitkan dengan kemampuan untuk mendatangkan
pendapatan atau aliran kas di masa datang. Sejalan dengan APB, FASB
menyatakan bahwa aset adalah sumber ekonomik karena potensi jasa atau utilitas
yang melekat di dalamnya yaitu suatu daya atau kapitas langka yang dapat di

2
manfaatkan kesatuan usaha dalam upayanya untuk mendatangkan pendapatan
melalui kegiatan ekonomik yaitu konsumsi, produksi, dan pertukaran.

Uang atau kas mempunyai manfaat karena apa yang dapat dia beli atau
karena daya tukarnya. Dengan kata lain, potensi jasa kas dapat ditukarkan dengan
potensi jasa apapun yang diperlukan kesatuan usaha untuk melaksanakan kegiatan
ekonomiknya. Kemampuan ini di sebut dengan daya beli atas sumber ekonomik.
Daya beli uang menjadi pengukur manfaat ekonomik masa datang.

2.1.2. Dikuasai Oleh Entitas

Sesuatu dapat dikatakan sebagai aset bila unit usaha tertentu dapat menggunakan
manfaat aset tersebut dan menguasainya sehingga dapat mengendalikan akses pihak lain
terhadap aset tersebut. Penguasaan dan pengendalian terhadap suatu aset dapat diperoleh
suatu unit usaha melalui pembelian, pemberian, penemuan, perjanjian, produksi,
penjualan, dan pertukaran.
Perlu diperhatikan bahwa pemilikan bukan merupakan kriteria utama untuk
mengakui suatu aset. Pemilikan umumnya dibuktikan dengan dokumen-dokumen yang
sah menurut hukum terhadap suatu barang. Hal ini disebabkan akuntansi tidak
memusatkan pada substansi ekonomi suatu transaksi yang mempengaruhi posisi
keuangan atau hasil usaha suatu perusahaan (economic substance over legal form).
Akuntansi lebih memusatkan pada substansi ekonomi suatu transaksi yang
mempengaruhi posisi keuangan/ hasil usaha suatu perusahaan.
Pemilikan hanya merupakan karakteristik pendukung untuk mengakui aset karena
ada hak yuridis yang pasti untuk menguasainya. Bentuk fisik juga bukan faktor penentu
dari aset. Misalnya, Paten dan Hak Cipta merupakan aktiva meskipun kedua elemen
tersebut tidak memiliki bentuk fisik. Hal ini disebabkan kedua elemen tersebut memiliki
manfaat ekonomi di masa mendatang, dikuasai oleh perusahaan dan berasal dari
transaksi masa lalu.
2.1.3. Akibat Transaksi Atau Kejadian Masa Lalu

Kriteria ini sebenarnya menyempurkan kriteria penguasaan dan sekaligus sebagai


tes pertama pengakuan objek sebagai suatu aset tetapi tidak cukup untuk mengakui secara
resmi dalam sistem pembukuan. Untuk mengakui sebagai aset, selain definisi, kriteria

3
yang lain seperti keterukuran, keberpautan, dan keterandalan juga harus dipenuhi.
Transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi definisi tetapi bukan
kriteria untuk pengakuan. Jadi, adanya pengorbanan manfaat ekonomik masa datang tidak
cukup untuk mengakui suatu objek ke dalam aset kesatuan usaha untuk dilaporkan via
statemen keuangan.

Suatu unit usaha dapat mengakui suatu aset apabila telah menjadi transaksi atau
peristiwa lain yang menyebabkan suatu entitas memiliki hak atau pengendalian terhadap
manfaat dari aset tersebut. Misalnya suatu mesin dapat diklasifikasikan sebagai aset
apabila mesin tersebut benar-benar telah dibeli dari transaksi yang benar-benar sah.
Apabila mesin tersebut baru akan diperoleh sesuai dengan anggaran yang ditetapkan
(masih dianggarkan), maka mesin tersebut tidak dapat dipandang sebagai aset, karena
belum ada transaksi yang dilakukan. Meskipun definisi FASB tersebut dapat diterima
secara umum, banyak kritikan yang ditujukan ke FASB. Hal ini disebabkan dalam
definisinya, FASB mengabaikan faktor exchangeability, yang artinya suatu pos dapat
dipisahkan dari entitas dan memiliki nilai jual yang terpisah. Mac Neal (1939)
mengatakan bahwa suatu barang yang kehilangan faktor exchangeability berarti
kehilangan nilai ekonomi karena pembelian atau penjualannya tidak memungkinkan
untuk dilakukan sehingga tidak ada nilai pasar yang melekat pada barang tersebut.

2.1.4. Karakteristik Pendukung

FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung selain karakteristik yang


tersebut di atas, yaitu :

1. Melibatkan kos

Pemerolehan aset pada umumnya melibatkan kos sebagai penghargaan


sepakatan. Bila kos terjadi karena pemerolehan suatu objek terjadi akibat pertukaran
atau pembelian, objek tersebut lebih kuat untuk masuk sebagai aset. Akan tetapi,
tiadanya kos tidak membatalkan suatu objek sebagai aset. Suatu aset dapat diperoleh
misalnya dari hadiah yang tidak melibatkan pengeluaran sumber ekonomik.
Walaupun demikian, kos objek tersebut harus tetap ditentukan atau ditaksir secara
layak sebagai dasar pencatatan pertama kali.

4
2. Berwujud

Bila suatu sumber ekonomik secara fisis dapat diamati, itu memang lebih kuat
disebut sebagai aset. Akan tetapi, keterwujudan bukan kriteria untuk mendefinisikan
aset. Objek-objek seperti hak paten, goodwill, hak cipta, dan merek dagang dapat
dimasukkan sebagai aset. Pada umumnya, pos-pos tak berwujud yang masuk dalam.
3. Tertukaran

Beberapa penulis mengajukan gagasan bahwa untuk memenuhi syarat sebagai


aset, suatu sumber ekonomik harus dapat ditukarkan dengan sumber ekonomik
lainnya. Syarat ini diajukan dengan alasan bahwa manfaat sumber ekonomik akan
menjadi cukup pasti dan terukur kalau suatu sumber ekonomik mempunyai nilai
tukar. Syarat argumen ini disanggah karena manfaat ekonomik tidak hanya terletak
pada nilai tukar tetapi juga dari daya guna suatu objek untuk produksi.

4. Terpisahkan

Syarat ini diajukan berkaitan dengan ketertukaran. Untuk dapat ditukarkan


suatu sumber ekonomik harus dapat dipisahkan dengan sumber ekonomik yang
lainnya. Syarat ini diajukan dengan alasan bahwa posisi keuangan harus ditentukan
dengan pengukuran nilai berbagai aset dan kewajiban secara individual. Kalau syarat
ini dimasukkan sebagai kriteria aset, goodwill tidak akan memenuhi syarat untuk
disebut dan diakui sebagai aset. Chrambers dan MacNeal mengajukan syarat ini
karena tidak setuju goodwill dimasukkan dalam kategori aset dengan alasan bahwa
pengukuran goodwill sangat subjektif dan hipotesis. Alasan lain jga tujuan oenyajian
neraca adalah melaporkan nilai bersih aset dan bukan nilai perusahaan secara
keseluruhan.

5. Berkekuatan hukum

Hak atas aset tidak harus didukung secara yuridis formal. Klaim seperti piutang
tidak harus didukung oleh dokumen yang mempunyai daya paksa secara hukum
untuk memenuhi definisi aset. Pada umumnya, kemampuan suatu entitas untuk
menguasai manfaat ekonomik timbul akibat hak-hak hukum. Meskipun demikian,
hak paksa yang melekat pada hak-hak hukum bukan merupakan syarat mutlak untuk

5
mengakui adanya aset kalau suatu entitas dapat memperoleh dan menguasai manfaat
dengan cara lain.

2.2. Pengukuran

Pengukuran bukan merupakan kriteria untuk mendefinisikan aset tetapi merupakan


kriteria pengukuran set. Salah satu kriteria pengukuran aset adalah ketertukaran manfaat
ekonomik masa datang. Yang dimaksud pengukuran di sini adalah penentuan jumlah
rupiah yang harus diletakkan pada suatu objek aset pada saat terjadinya yang akan
dijadikan data dasar untuk mengikuti aliran fisis objek tersebut. Dengan konsep kotinuitas
usaha, sumber ekonomik akan mengalami 3 (tiga) tahap perlakuan sejalan dengan
kegiatan usaha yaitu tahap pemerolehan, pengolahan, dan penjualan/penyerahan.
Secara akuntansi, aliran fisis suatu sumber ekonomik harus direpresentasi dalam
jumlah rupiah sehingga hubungan antarobjek bermakna sebagai informasi. Kos menjadi
data dasar untuk mengikuti aliran fisis kegiatan ekonomik suatu badan usaha. Sebagai
aliran informasi, kos juga mengalami 3 (tiga) tahap perlakuan akuntansi mengikuti aliran
fisis, yaitu:
1. Pengukuran, pengakuan, dan klasifikasi pertama kali pada saat terjadinya. Untuk
selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap ini disebut pengukuran.
2. Pencatatan berikutnya dalam rangka mengikuti aliran fisi aset berupa alokasi,
distribusi, dan penggabungan untuk kepentingan internal. Untuk selanjutnya seluruh
kegiatan dalam tahap ini disebut penelusuran.
3. Pembebanan ke pendapatan periode berjalan atau periode yang akan datang. Kos
yang belum menjadi beban pendapatan akan melekat pada objek menjadi aset badan
usaha. Untuk selanjutnya seluruh kegiatan dalam tahap ini disebut pembebanan.
Perlu ditegaskan kembali bahwa kos adalah pengukuran sedangkan aset atau biaya
adalah elemen yang diukur. Sebagai pengukur elemen, kos melekat pada aset atau biaya
sehingga kos, aset, dan biaya, ketiganya sering dirancukan. Kerancuan dapat timbul
karena secara teknis pembukuan suatu kos dapat dibebankan atau didebetkan ke aset atau
biaya pada saat terjadinya.
Bila suatu pengeluaran langsung dicatat sebagai biaya, secara konseptual di anggap
bahwa kos objek bersangkutan dicatat sebagai aset dan kemudian pada saat yang sama
kos tersebut langsung dipindah ke biaya. Dengan kata lain, secara konsptual kos semua

6
sumber ekonomik yang diperoleh dianggap telah diperlakukan sebagai aset walaupun
hanya sesaat.
Karena kos merepresentasi manfaat ekonomik, bila kos diperlakukan sebagai aset,
kos itu disebut dengan kos belum habis artinya kos yang belum habis atau
takterhabiskan dimanfaatkan dalam menghasilkan pendapatan. Bila manfaat ekonomik
telah digunakan dalam mendatangkan pendapatan, bagian dari kos aset yang
merepresentasi manfaat yang telah dihabiskan disebut dengan kos terhabiskan dan
menjadi pengukur biaya.
2.2.1. KOS Sebagai Pengukur dan Bahan Oleh Akuntansi

Dalam arti luas kos mempunyai makna sebagai agregat harga dalam pemerolehan
suatu aset. Penghargaan sepakatan (kos) dalam transaksi antarpihak independen menjadi
dasar pengukuran karena jumlah rupiah tersebut dianggap cukup terandalkan untuk
mendekati/mengaproksikan nilai sebenarnya atau nilai wajar suatu objek pada saat
transaksi. Penghargaan sepakatan merupakan pengukur aset pada saat pemerolehan yang
palling objektif. Kos yang didasarkan atas penghargaan sepakatan lebih terandalkan
karena penyebarannya lebih terpusat atau variansi lebih kecil atau sempit daripada kos
yang didasarkan atas penilaian secara subjektif atau selain penghargaan sepakatan.
Dengan kata lain, kos atas dasar penghargaan sepakatan lebih akurat daripada atas dasar
yang lain.

2.2.2. Penghargaan Sepakatan Sebagai Bukti

Transaksi pertukaran (jual-beli) dapat dijadkan landasan menentukan kos yang


terandalkan karena penghargaan sepakatannya didasarkan atas mekanisme pasar yang
bebas sehinggga dia menjadi bukti validitas pengukuran kos lebih-lebih dalam
mekanisme pasar sempurna (perfect market).

2.2.3. Pengukuran KOS

Dalam praktiknya, pemerolehan aset merupakan proses yang tidak terjadi begitu
saja selesai dalam satu kegiatan tetapi terdiri atas serangkaian kegiatannya misalnya,
menempatkan order, menerima barang, meneliti kecocokan, mengangkut barang,
mencoba barang, menyimpan atau menempatkan barang, dan akhirnya menggunakan

7
barang tersebut. Kos yang melekat pada suatu objek ditentukan oleh batas kegiatan
pemerolehan dan jenis penghargaan.

2.2.3.1. Batas Kegiatan

Secara konseptual pembentukan kos suatu aset (baik berwujud atau tidak)
adalah semua pengeluaran (pengorbanan sumber ekonomik) yang terjadi atau
diperlukan akibat kegiatan pemerolehan suatu aset sampai dia ditempatkan pada
kondisi siap dipakai atau berfungsi sesuai dengan pemerolehannya.

2.2.3.2. Jenis Penghargaan

Agar penghargaan yang telah disetujui dapat dicatat dalam sistem


akuntansi. Penghargaan tersebut harus dinyatakan dalam satuan uang. Bila transaksi
terjadi dalam mekanisme pasar bebas antara pihak independen, kos tunai (cash cost)
adalah pengukur aset yang paling valid dan objektif.

2.2.4. Rugi Dalam Perolehan Aset

Sebelum pendapatan terjadi yang ditimbulkan oleh upaya yang direpresentasikan


oleh biaya, kos mengalami penghimpunan, penggabungan, dan reklasifikasi. Kos yang
terhimpun tersebut tetap merepresentasi aset kalau aset tersebut belum dikeluarkan
sebagai biaya. Akan tetapi, karena suatu kondisi tertentu dapat terjadi bahwa suatu
potensi jasa tertentu tidak lagi mempunyai kemampuan untuk menghasikan pendapatan.
Dalam kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa manfaat ekonomik telah hangus dan
merupakan rugi.

2.3. Penilaian

Di dalam akuntansi, istilah pengukuran dan penilaian sering tidak dibedakan


karena adanya asumsi bahwa akuntansi menggunakan unit moneter untuk mengukur
makna ekonomik suatu objek, pos, atau elemen. Pengukuran biasanya digunakan dalam
akuntansi untuk menunjuk proses penentuan jumlah rupiah yang harus dicatat untuk
objek pada saat pemerolehan. Penilaian biasanya digunakan untuk menunjuk proses
penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada tiap elemen atau pos statemen
keuangan pada saat penyajian. Jadi, penilaian merupakan penentuan jumlah rupiah yang

8
harus dilekatkan pada suatu pos aset pada saat akan dilaporkan atau disajikan dalam
statemen keuangan pada periode tertentu.

2.3.1. Tujuan Penilaian Aset

Tujuan dari penilaian aset adalah untuk merepresentasi atribut pos-pos aset yang
berpaut dengan tujuan laporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang
sesuai. Sedangkan tujuan pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang dapat
membantu investor dan kreditor dalam menilai jumlah, saat, dan ketidakpastian aliran kas
bersih ke badan usaha. Singkatnya, tujuan penilaian aset harus berpaut dengan tujuan
pelaporan keuangan.

2.3.2. Nilai Masukan

Nilai masukan di dasarkan atas jumlah rupiah kas atau penghasilan lainnya (non
kas) yang harus dikeluarkan atau dikorbankan untuk memperoleh aset atau objek jasa
tertentu yang masuk dalam unit usaha (perusahaan). Ada beberapa dasar penilaian yang
masuk ke dalam kategori nilai masukan, yaitu :
2.3.2.1. Kos Historis
Kos historis merupakan jumlah rupiah atau harga pertukaran yang telah
tercatat dalam sistem pembukuan pada saat terjadinya transaksi. Prinsip kos historis
menghendaki digunakannya harga perolehan dalam mencatat aktiva, utang, modal
dan biaya.
Yang dimaksud dengan harga perolehan adalah harga pertukaran yang
disetujui oleh kedua belah pihak yang tersangkut dalam tranksaksi. Harga perolehan
ini harus terjadi pada seluruh traksaksi diantara kedua belah pihak yang bebas. Harga
pertukaran ini dapat terjadi pada seluruh tranksaksi dengan pihak ektern, baik yang
menyangkut aktiva, utang, modal dan transaksi lainnya.
1. Kos Bijaksana, yaitu semua pengeluaran yang dikeluarkan secara hati-hati dan
bijaksana untuk memperoleh fasilitas fisik (aktiva tetap berwujud). Jadi, jika
ada rugi/inefisiensi pada proses perolehan fasilitas fisik itu bukan merupakan
kos.
2. Kos Asli, yaitu kos fasilitas fisik (aktiva tetap berwujud) yang terjadi pertama
kali dan diakui oleh perusahaan yang pertama kali menggunakan fasilitas fisik
itu juga.

9
3. Kos Standar, yaitu kos produksi per unit yang seharusnya terjadi untuk waktu
tertentu dengan asumsi bahwa produksi dilakukan dalam kondisi normal.
2.3.2.2. Kos Pengganti
Kos pengganti merupakan jumlah rupiah / harga pertukaran yang
diperlukan sekarang oleh unit usaha untuk memperoleh aset yang sama sejenis. Atau
biaya penggantian aktiva milik perusahaan dengan aktiva lain yang sejenis atau sama
fungsinya.
1. Nilai Penaksiran, yaitu nilai taksiran kos sekarang yang ditentukan dengan
prosedur dan analisis secara sistematik oleh pihak independen yang kompeten
dibidangnya.
2. Nilai Wajar, yaitu jumlah rupiah yang dapat diterima untuk suatu objek,
menggambarkan harga dimana aset dapat dibeli atau dijual dalam transaksi kini
antar pihak secara sukarela, tanpa paksaan.
3. Nilai terealisasi bersih dikurangi harga normal, yaitu nilai yang diharapkan
merepresentasi kos pengganti bila data untuk menentukan kos pengganti tidak
tersedia.
2.3.3.3. Kos Harapan
Kos harapan suatu aset adalah nilai pengorbanan ekonomik di masa
mendatang, seandainya jasa aset tersebut diperoleh secara bagian demi bagian (tidak
sekaligus), atau nilai sekarang untuk pembayaran kas dimasa mendatang.

2.3.4. Nilai Keluaran

Nilai keluaran didasarkan pada jumlah rupiah kas atau penghargaan lainnya (non
kas) yang diterima suatu unit usaha apabila suatu aset atau potensi jasa akhirnya keluar
dari unit usaha melalui proses pertukaran atau konversi.
Penilaian ini lebih berpaut dengan aset yang tujuannya adalah untuk dijual atau
dikonversi menjadi kas dan bukan digunakan untuk kegiatan produksi. Ada beberapa
dasar penilaian yang masuk ke dalam kategori nilai keluaran, yaitu:
2.3.4.1. Harga Jual Masa Lalu
Harga jual masa lalu sebenarnya menunjukan kas yang cukup pasti akan
diterima dari pertukaran/konversi suatu pos aset yang timbul karena adanya suatu
transaksi di masa lalu.

2.3.4.2. Harga Jual Sekarang

10
Harga jual sekarang didasari oleh konsep setara tunai sekarang. Harga ini
menunjukan jumlah rupiah kas atau daya beli yang dapat direalisasi dengan cara
menjual aset dipasar bebas dalam kondisi perusahaan melikuidasi atau menjual
asetnya secara normal. Harga ini biasanya diukur berdasarkan harga pasar kutipan
barang bekas sejenis dengan kondisi yang sama. Secara teoritis, setara kas sekarang
merupakan atribut atau properitas yang relevan untuk semua aset. Kelemahannya
adalah tidak semua aset mempunyai pasar dan harga pasar kutipan.
2.3.4.3. Nilai Terealisasi Harapan
Nilai terealisasi harapan suatu aset adalah penerimaan kas atau
potensi jasa masa datang yang jumlah dan waktunya cukup pasti. Contohnya :
investasi dalam obligasi, deposito berjangka dan piutang wesel jangka
panjang.

2.3.5. Kos atau Pasar yang Lebih Rendah


Penilaian atas dasar kos atau pasar yang lebih rendah merupakan kombinasi nilai
masukan dan nilai keluaran karena pengertian pasar dalam hal ini dapat berarti pasar
barang masukan atau keluaran. Untuk sediaan barang, pasar mengacu ke nilai masukan
karena barang biasanya dijual pada pasar yang berbeda dengan harga yang lebih
tinggi. Untuk surat-surat berharga, mengacu pada nilai keluaran karena surat berharga
dijual belikan pada pasar yang sama sehingga kos dan harga jual keduanya dipandang
sebagai nilai atau harga keluaran.
Konsep penilaian ini didasari pada dasar konservatisma, artinya ketika dalam
kondisi ketidakpastian, kreditor secara historis mendasarkan keputusannya pada nilai
konversi aset yang terendah, sehingga penyajian aset dalam neraca juga rendah.
Nah, karena adanya penurunan nilai aset (khususnya pasa sediaan barang) pada
akhir periode ini diakibatkan turunnya harga atau selera maka otomatis laba bersih akan
menjadi lebih kecil. Sehingga penilaian atas dasar kos atau pasar yang lebih rendah
mempunyai banyak kelemahan sehingga banyak mengundang kritik.
Penilaian berdasarkan pada konservatisma ini dianggap lemah karena
alasan berikut :
1. Konservatisma cenderung merendahkan aset total.
2. Lebih rendahnya sediaan akhir pada suatu periode akan berakibat lebih
rendahnya biaya (dalam bentuk kos barang terjual) pada periode
berikutnya sehingga laba menjadi lebih tinggi. Lebih tingginya laba ini

11
diakibatkan oleh untung yang terrealisasi bersamaan dengan terjualnya
sediaan barang.
3. Terjadi inkonsistensi penilaian baik dalam suatu tahun atau anatar
periode.
4. Salah satu argumen digunakannya metode KAPYLR adalah bila terjadi
penurunan manfaat akibat kerusakan, keusangan, perubahan harga atau
kemampuan mendatangkan laba maka selayaknya bahwa kos juga harus
diturunkan.
2.3.6. Penilaian Menurut FASB

Tujuan penilaian pos aset tertentu, tiap dasar penilaian mempunyai keunggulan
dan kelemahan masing-masing. Tanpa memperhatikan sifat masukan dan keluaran, FASB
menyarankan untuk tetap menggunakan makna penilaian yang sekarang dipraktikkan.
FASB mengidentifikasi 5 (lima) makna atau atribut yang dapat direpresentasi berkaitan
dengan aset, dasar penilaian menurut FASB (SFAC No. 5, prg. 67) dapat diringkas
sebagai berikut:

1. Historical cost. Tanah, gedung, perlengkapan, perlengkapan pabrik, dan


kebanyakan sediaan dilaporkan atas dasar kos* historisnya yaitu jumlah
rupiah kas atau setaranya yang dikorbankan untuk memperolehnya. Kos
historis ini tentunya disesuaikan dengan jumlah bagian yang telah
didepresiasi atau diamortisasi.

2. Current (replacement) cost. Beberapa sediaan disajikan sebesar nilai


sekarang atau penggantinya yaitu jumlah rupiah kas atau setaranya yang
harus dikorbankan kalau aset tertentu diperoleh sekarang.

3. Current market value. Beberapa jenis investasi dalam surat berharga


disajikan atas dasar nilai pasar sekarang yaitu jumlah rupiah kas atau
setaranya yang dapat diperoleh kesatuan usaha dengan menjual aset tersebut
dalam kondisi perusahaan yang normal (tidak akan dilikuidasi). Nilai pasar
sekarang juga digunakan untuk aset yang kemungkinan akan laku dijual
dibawah nilai bukunya.

12
4. Net realizable value. Beberapa jenis piutang jangka pendek dan sediaan
barang disajikan sebesar nilai terealisasi bersih yaitu jumlah rupiah kas atau
setaranya yang akan diterima (tanpa didiskun) dari aset tersebut dikurangi
dengan pengorbanan (kos) yang diperlukan untuk mengkonversi aset tersebut
menjadi kas atau setaranya.

5. Present (or discounted) value of future cash flows. Piutang dan investasi
jangka panjang disjikan sebesar nilai sekarang penerimaan kas di masa
mendatang sampai piutangterlunasi (dengan tarif diskun implisit) dikurangi
dengan tambahan kos yang mungkin diperlukan untuk mendapatkan
penerimaan tersebut.

2.4. Pengakuan

Pada umumnya pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi,


kejadian, atau keadaan yang mempebgaruhi aset. Disamping memenuhi definisi aset,
kriteria keterukuran, keberpautan, dan keterandalan harus dipenuhi pula. Menurut
Sterling, Belkaoui (1993) menunjukkan kondisi perlu (necessary) dan kondisi cukup
(sufficient) yang merupakan penguji (test) yang cukup rinci untuk mengakui aset tersebut,
yaitu:

1. Deteksi adanya aset (detection of existence test). Untuk mengajui aset, harus ada
transaksi yang menandai timbulnya asset

2. Sumber ekonomik dan kewajiban (economic resources and obligation test).


Untuk mengakui aset, suatu objek harus merupakan sumber ekonomik yang
langka, dibutuhkan dan berharga.

3. Berkaitan dengan entitas (entity association test). Untuk mengakui aset,


kesatuan usaha harus mengendalikan atau menguasai objek aset.

4. Mengandung nilai (non-zero magnitude test). Untuk mengakui aset, suatu objek
harus mempunyai manfaat yang terukur secara moneter.

13
5. Berkaitan dengan waktu pelaporan (temporal association test). Untuk mengakui
aset, semua penguji di atas harus dipenuhi pada tanggal pelaporan (tanggal
neraca).

6. Verifikasi (verification test). Untuk mengakui aset, harus ada bukti pendukung
untuk meyakinkan bahwa kelima penguji diatas dipenuhi.

Yang dikemukakan Belkoui di atas sebenarnya adalah apa yang disebut dengan
kaidah pengakuan (recognition rules) yang merupakan petunjuk teknis atau prosedur
untuk menerapkan empat kriteria pengakuan (recogniton criteria) FASB yaitu definisi,
keterukuran, keberpautan, dan keterandalan. Kaidah tersebut diperlukan karena kriteria
pengakuan sifatnya konseptual atau umum. Penerapan kaidah pengakuan di atas
sebenarnya berkaitan dengan masalah apakah suatu kos dikapitalisasi atau di biayakan.
Bila kaidah pengakuan diatas tidak dipenuhi, kos harus diperlakuakn menjadi beban
pendapatan sebagai biaya atau rugi.

2.4.1. Beban Tangguhan

Kos yang mempunyai karakteristik unik sehingga menimbulkan masalah


penangguhan pembebanan misalnya adalah yang terlibat dalam transaksi, kejadian, atau
keadaan berikut:

1. Sewaguna
2. Bunga selama masa konstruksi asset tetap
3. Riset dari pengembangan
4. Eksploitasi minyak dan gas bumi
5. Eksplorasi minyak valuta asing
6. Sumber daya manusia
7. Kos organisasi
2.4.2. Kos Bunga

Bila kesatuan usaha membangun sendiri fasilitas fisis dengan dana pinjaman dan
pembangunannya memakan waktu yang cukup lama, masalahnya adalah apakah kos
bunga selama masa pembangunan/konstruksi dapat dikapitalisasi.

2.4.2.1. Argument pendukung


Beberapa argumen diajukan untuk mendukung kapitalisasi kos bunga.
Argumen-argumen tersebut sebagai berikut:

14
a. Dengan kesiapan pemakaian atau penggunaan sebagai batas kegiatan
pengukuran kos asset, kos bunga jelas merupakan unsur kos asset
b. Bila kesatuan usaha tidak membangun sendiri fasilitas fisis
bersangkutan, penghargaan sepakatan sebagai kos pemerolehan pada
umumnya termasuk pula bunga yang harus dibayar kontrakator
selama pembangunanya.
c. Pembebanan kos bunga langsung pendapatan selama masa konstruksi
akan mendistorsi laba terutama kalau konstruksi didanai dari
pinjaman khusus untuk keperluan tersebut. Dengan kata lain
pembebanan langsung menyimpang dari konsep penandingan yang
tepat.
d. Kos bunga selama masa pembangunan bukan merupakan kos
pendanaan karena kalau pembangunan didanai dari penerbitan ekuitas
baru, kos pendanaan secara konseptual tetap terjadi dan di geser ke
pemegang saham dalam bentuk dividen yang pembayaranya mungkin
di tunda sampai pembangunan selesai
2.4.2.2. Argument Penolakan
Beberapa argumen menolak dikapitalisasinya bunga. Penolakan tersebut
didasarkan atas argumen-argumen berikut:

a. Bunga lebih merupakan kos pendanaan dari pada unsur kos asset
karena perusahaan sebenarnya dapat menghindari bunga tersebut
dengan memilih alternative pendanaan dalam ekuitas. Hal ini dibantah
dengan argument pendukung nomor 4.
b. Dengan konsep nilai setara tunai atau nilai sekarang aliran kas
diskunan dalam mengukur kos suatu asset, kos pemerolehan suatu
fasilitas fisis seharusnya tidak dipengaruhi oleh kebijakan pemilihan
cara pendanan pembangunanya
c. Dengan konsep kesatuan usaha bunga lebih bermakna sebagai
pembagian laba daripada sebagai upaya untuk memperoleh
pendapatan.
d. Karena merupakan kos pendanaan yang terpisah dengan kos
pemerolehan asset, alokasi kos bunga ke semua asset non moneter
hanya akan kecil pengaruhnya terhadap laba periodic karena jumlah

15
yang di kapitalisasi dalam suatu perioda akan dikompensasi dengan
amortisasi bunga

2.4.2.3. Aset Memenuhi Syarat


Kapitalisasi bunga dapat dilakukan untuk aset berikut ini :
1. Aset yang dibangun/diproduksi untuk digunakan sendiri oleh
perusahaan.
2. Aset yang dibangun/diproduksi dengan tujuan untuk dijual sebagai
unit/proyek yang berdiri sendiri.
Atas dasar ketentuan di atas maka ada aset yang tidak dapat dijadikan
obyek kapitalisasi yaitu :
1. Aset yang bersangkutan sudah siap digunakan sesuai dengan tujuan
pembangunan atau sedang digunakan dalam kegiatan menghasilkan
pendapatan.
2. Aset yang bersangkutan belum digunakan untuk tujuan menghasilkan
pedapatan dan juga tidak sedang mengalami penyeleseian/perbaikan
atau aktivitas lain yang diperlukan untuk menjadikan aktiva tersebut
siap digunakan lagi dalam operasi.
2.4.2.4. Besarnya Kapitalisasi Bunga
Besarnya bunga yang dikapitalisasi secara teoritis adalah tambahan bunga
yang diperkirakan terjadi selama satu periode akibat adanya konstruksi. Bunga
tersebut adalah bunga yang dapat dihindari seandainya konstruksi tidak
dilaksanakan. Besar tarif kapitalisasi ditentukan sebagai berikut :
1. Apabila dana rata-rata yang tertanam dalam konstruksi tidak melebihi
dana pinjaman, maka tarif yang digunakan adalah tingkat bunga
pinjaman untuk konstruksi tersebut.
2. Apabila dana rata-rata tertanam dalam konstruksi melebihi besarnya
dana pinjaman untuk konstruksi tersebut, maka tarif kapitalisasi untuk
kelebihan dana yang tertanam tersebut adalah rata-rata tertimbang dari
tingkat bunga sumber dana lainnya.
2.4.2.5. Periode Kapitalisasi
Kapitalisasi bunga dapat terus dilakukan setiap periode selama ketiga
syarat berikut dipenuhi :
1. Uang muka untuk konstruksi telah dibayar

16
2. Kegiatan konstruksi tetap berlangsung dan tidak terhenti cukup lama
selama periode bersangkutan
3. Cost bunga telah terhimpun atau terjadi bersamaan dengan
berjalannya pembangunan konstruksi.
2.4.2.6. Pengungkapan
Bila sebagian atau seluruh bunga dikapitalisasi tentu saja akan ada
sebagian informasi bunga hilang. Oleh karena itu, perlu ada pengungkapan tentang hal
ini sehingga statemen keuangan tidak menyesatkan. Standar akuntansi kapitalisasi
bunga juga menentukan informasi tambahan yang harus diungkapkan dalam laporan
keuangan. Agar statemen keuangan tetap informatif hal-hal berikut ini harus
diungkapkan sebagai penjelasan statemen keuangan:
1. Bila tidak ada kos bunga yang dikapitalisasi, total bunga yang terjadi
selama periode dan dibebankan sebagai biaya periode tersebut.
2. Bila sebagian kos bunga dikapitalisasi, bunga total yang terjadi dan
bagian yang dikapitalisasi.

2.5. Penyajian

Pengungkapan dan penyajian pos-pos aset harus dipelajari dari standar yang
mengatur tiap pos. Secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman
penyajian dan pengungkapan aset sebagai berikut:

a. Aset disajikan di sisi debit atau kiri dalam neraca berformatakun atau di bagian
atas dalam neraca berformat laporan.

b. Aset diklasifikasi menjadi aset lancar dan aset tetap.

c. Aset diurutkan penyajiannya atas dasar likuiditas atau kelancarannya, yang


paling lancar dicantumkan pada urutan pertama.

d. Kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pos-pos tertentu harus diungkapkan


(misalnya metode depresiasi aset tetap dan dasar penilaian sediaan barang.

17
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Aset merupakan elemen neraca pembentuk informasi semantik berupa posisi
keuangan dan merepresentasi potensi jasa fisis dan nonfisis yang memampukan badan
usaha untuk menyediakan barang dan jasa. Secara resmi aset didefinisi sebagai manfaat
ekonomik masa datang yang cukup pasti yang dikuasai oleh suatu entitas sebagai akibat
transaksi atau kejadian masa lalu.
Manfaat ekonomik aset ditunjukkan oleh potensi jasa atau utilitas yang melekat
padanya yaitu suatu daya atau kapasitas langka yang dapat dimanfaatkan kesatuan usaha
dalam upayanya untuk mendatangkan pendapatan melalui kegiatan ekonomik yaitu
konsumsi, produksi, dan pertukaran.
Penugasan harus didahului oleh transaksi atas kejadian ekonomik. Bahwa aset harus
timbul akibat transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi definisi
tetapi bukan kriteria untuk pengakuan. Manfaat ekonomik dan penugasan atau hak atas
manfaat saja tidak cukup untuk memasukkan suatu objek ke dalam aset kesatuan usaha
untuk dilaporkan via statemen keuangan. Kriteria pengakuan yang lain harus dibedakan
dengan pengakuan aset. Kriteria manfaat masa datang yang cukup pasti dalam definis
aset menjadikan terjadinya pengeluaran yang menjadi kos mengalami masalah teknis
yaitu dicatat sebagai aset atau biaya.
Penentuan kos suatu objek pada saat pemerolehan merupakan hal yang sangat kritis
karena penentuan ini akan mempengaruhi pengukuran aset dan biaya selanjutnya
khususnya pada tahap pembebanan. Pengukuran aset pada saat pemerolehan yang paling
objektif adalah penghargaan sepakatan. Kos yang melekat pada suatu aset ditentukan oleh
batas kegiatan pemerolehan dan jenis penghargaan. Secara konseptual, pembentuk kos
suatu aset adalah semua pengeluaran yang terjadi atau yang diperlakukan akibat kegiatan
pemerolehan suatu aset sampai ditempatkan dalam kondisi siap dipakai atau berfungsi
sesuai dengan tujuan pemerolehannya.
Penilaian adalah penentuan jumlah rupiah yang harus diletakkan pada suatu pos aset
pada saat akan dilaporkan atau disajikan dalam statemen keuangan pada tanggal tertentu.
Tujuan penilaian aset adalah merepresentasi atribut pos-pos aset yang berpaut dengan
tujuan pelaporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang sesuai. Penilaian
dapat didasarkan pada nilai masukkan atau keluaran bergantung pada tujuan
merepresentasikan aset. Oleh karena itu, tiap dasar penilaian mempunyai keunggulan dan
kelemahan serta kondisi keterterapannya.

18
Pengakuan dan penyajian aset biasanya ditentukan dalam standar akuntansi yang
mengatur tiap pos aset. Masalah akuntansi yang menyangkut pengakuan biasanya
berkaitan dengan masalah apakah suatu kos atau jumlah rupiah yang terlibat dalam
transaksi, kejadian, atau keadaan tertentu dapat diasetkan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Suwardjono. Teori Akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Edisi ketiga.


Yogyakarta: BPFE, 2014

20