Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAMN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN

MUSKULOSKELETAL: OSTEOMIELITIS
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
1. Stefani Sipayung 7. Natalia Sitepu
2. Nia Nova Sitanggang 8. Iman Gulo
3. Pevatriani Waruwu 9. Oneversima Lombu
4. Anna Juli Waruwu 10. Mawarta Tarigan
5. Josephine Lombu 11. Yesi Melinda
6. Tris Harefa

PROGRAM STUDI NERS TAHAP AKADEMIK


STIKes SANTA ELISABETH MEDAN
2016
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Osteomielitis adalah proses inflamasi akut atau kronis dari tulang dan struktur
sekunder tulang akibat dari infeksi organisme piogenik. Infeksi bisa terlokalisir atau
menyebar sepanjang periosteum, korteks, sumsum tulang dan jaringan Cancellous, (Zairin,
2014).
Penyakit infeksi adalah salah satu penyakit yang masih sering terjadi di dunia. Salah
satu penyakit infeksi yang mengenai tulang adalah osteomielitis. Osteomielitis merupakan
suatu proses peradangan pada tulang yang disebabkan oleh invasi mikroorganisme (bakteri
dan jamur), (Smeltzer, 2001).
Osteomielitis dapat mengenai tulang-tulang panjang, vertebra, tulang pelvis, tulang
tengkorak dan mandibula. Mikroorganisme bisa mencapai tulang dan sendi baik melalui
trauma langsung pada kulit misalnya akibat tusukan kecil, luka bacok, laserasi, fraktur
terbuka atau karena operasi atau secara tidak langsung melalui aliran darah dari bagian lain
misalnya hidung atau mulut, traktus respiratorius, usus atau traktus genitourinarius,
(Muttaqin, 2008).
Osteomielitis dapat bersifat akut atau kronis, Infeksi yang berlangsung kurang dari 3
bulan dinamakan infeksi akut, sedangkan lebih dari 3 bulan dinamakan infeksi kronik,
(Zairin, 2014).
Infeksi tulang lebih sulit di sembuhkan dari pada infeksi jaringan lunak, karena
terbatasnya asupan darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan
dan pembentukan involukrum (pembentukan tulang baru disekeliling jaringan tulang mati).
Bakteri atau jamur menjadi penyebab paling banyak terjadinya osteomielitis. Staphylococcus
merupakan agen infeksi yang paling umum ditemukan pada osteomielitis pada saat ini dan
bahkan sebelum berkembangnya antibiotik, (Muttaqin, 2008).
Secara umum prevalensi osteomielitis lebih tinggi pada negara berkembang. Di
Amerika Serikat insidensi osteomielitis adalah 1 dari tiap 5000 orang, dan 1 dari tiap 1000
usia bayi. Insidensi pertahun pada pasien sickle cell berkisar 0,36%. Prevalensi osteomielitis
setelah adanya trauma pada kaki bisa meningkat yaitu 16% terdapat dalam 30-40% pasien
diabetes, dan jika dibandingkan antara laki-laki dan perempuan kira-kira 2:1. Angka kematian
akibat osteomielitis rendah, biasanya disebabkan sepsis atau kondisi medis serius yang
menyertai, (Smeltzer, 2001).
Di Indonesia osteomielitis masih merupakan masalah karena tingkat higienis yang
masih rendah dan pengertian mengenai pengobatan yang belum baik, diagnosis yang
terlambat sehingga biasanya berakhir dengan osteomielitis kronis, angka kejadian
tuberkulosis masih tinggi, pengobatan osteomielitis memerlukan waktu lama dan biaya yang
tinggi, serta banyak pasien dengan fraktur terbuka yang datang terlambat dan sudah menjadi
osteomielitis, (Smeltzer, 2001).
Osteomielitis hematogenik akut merupakan penyakit yang terutama terjadi pada anak-
anak. Osteomielitis karena trauma langsung dan osteomielitis perkontinuitatum umum sering
terjadi pada usia dewasa dan remaja dibandingkan usia anak-anak. Tulang vertebra dan pelvis
paling sering terkena pada kasus dewasa, sedangkan osteomielitis pada anak-anak biasanya
mengenai tulang panjang. Tibia merupakan tulang yang paling sering terjadi osteomielitis
post traumatika, karena merupakan tulang yang peka, dengan asupan darah yang kurang kuat,
(Muttaqin, 2008).
Insidensi osteomielitis setelah fraktur terbuka dilaporkan sekitar 2% sampai 16%,
tergantung pada derajat trauma dan terapi yang didapat. Pengobatan yang cepat dan tepat
dapat mengurangi resiko infeksi, menurunkan kemungkinan berkembangnya osteomielitis,
terutama pada pasien-pasien dengan faktor resiko seperti diabetes, gangguan imunitas dan
yang baru mengalami trauma, (Zairin, 2014).

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mahasiswa/mahasiswi diharapkan mampu memahami Asuhan Keperawatan Pada
Klien Dengan Gangguan Muskuloskeletal: Osteomielitis

1.2.2 Tujuan Khusus


Mahasiswa/mahasiswi diharapkan :
a. Mampu memahami defenisi pada asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan muskuloskeletal
b. Mampu memahami Etiologi pada asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan muskuloskeletal
c. Mampu memahami Patofisiologi pada asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan muskuloskeletal
d. Mampu memahami Pemeriksaan diagnostik pada asuhan keperawatan pada
klien dengan gangguan muskuloskeletal
e. Mampu memahami Penatalaksanaan medis pada asuhan keperawatan pada
klien dengan gangguan muskuloskeletal
f. Mampu memahami Komplikasi pada asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan muskuloskeletal
g. Mampu melakukan Pengkajian pada asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan muskuloskeletal
h. Mampu mengangkat Diagnosa keperawatan pada asuhan keperawatan pada
klien dengan gangguan muskuloskeletal
i. Mampu merencanakan Intervensi pada asuhan keperawatan pada klien dengan
gangguan muskuloskeletal
BAB 2

TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi
Osteomielitis adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum atau korteks
tulang, dapat berupa eksogenus ( infeksi masuk dari luar tubuh) atau hematogenus
( infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Osteomeilitis adalah infeksi tulang lebih sulit
disembuhkan bila dibandingkan dengan infeksi jaringan lunak, karna terbatasnya asupan
darah, respons jaringan terhadap inflamasi, tingginya tekanan jaringan dan pembentukan
involukrum (Smeltzer,2002).

2.2. Etiologi
Infeksi ini dapat disebabkan oleh penyebaran hematogen, dari fokus ditempat lain
(misal tonsil terinfeksi, gigi terinfeksi , infeksi saluran nafas bagian atas ). Osteomielitis
akibat penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat trauma yang terdapat resistensi
rendah. Infeksi dapat juga berhubungan dengan infeksi jaringan lunak, misal ulkus
dekubitus atau ulkus vaskulr, atau kontaminasi langsung pada tulang (misal frakturrbuka,l
uka tembak dan pembedahan tulang ).
Staphylococcus merupakan penyebab 70%-80% infeksi tulang. Organisme lain
meliputi proteus, pseuomonas , dan escherichia. Pada anak-anak infeksi tulang sering kali
timbul sebagai komplikasi dari infeksi pada tempat-tempat lain seperti infeksi faring
(faringitis), telinga (otitismedia) dan kulit ( impetigo) bakterinya (staphyloccus aureus ,
streptoccus, haemophylus influenzae) berpinah melalui aliran darah menuju metafisis
tulang didekar lempeng pertumbuhan dimana darah mengalir kedalam sinusoid. Akibat
perkembangbiakan bakteri dan nekrosis jaringan, maka tempat peradangan yang terbatas
ini akan terasa nyeri dan nyeri tekan . Mikroorganisme yang menginfeksi tulang akan
membentukan koloni pada tulang veri vaskular, menimbulkan edema, infiltrasi seluler, dan
akumulasi produk-produk inflamasi yang akan merusak trabekula tulang dan hilangnya
matriks dan mineral tulang (Lukman, 2011)

2.3. Patofisologi
Osteomielitis mungkin dilokalisasi atau mungkin menyebar melalui sumsum tulang,
dan korteks periosteum. Patogen bakteri bervariasi berdasarkan usia (terutama bayi dan
anak-anak), jenis kelamin (lebih sering pada pria dan wanita dengan perbandingan 4:1),
trauma (hematoma akibat trauma pada daerah metafisis merupakan salah satu faktor
predisposisi terjadinya osteomielitis hematogen akut), lokasi infeksi (osteomielitis
hematogen akut sering terjadi di daerah metafisis karena daerah ini merupakan daerah
aktif tempat terjadinya pertumbuhan tulang), nutrisi, lingkungan dan imunitas yang buruk
serta adanya fokus infeksi sebelumnya (seperti bisul dan tonsilitis).
Osteomielitis hematogen akut ditandai dengan infeksi akut pada tulang disebabkan
oleh perkembangbiakan bakteri dalam tulang dari sumber yang jauh. Osteomielitis kronis
merupakan kondisi yang terus menerus atau berulang, terlepas dari penyebab awal dan/
atau mekanisme terjadinya kondisi osteomielitis. Kondisi osteomielitis pada kondisi klinik
bisa terjadi dengan adanya riwayat pernah mengalami fraktur terbuka, riwayat
pembedahan dengan pemasangan fiksasi interna. Ada berbagai predisposisi yang
meningkatkan resiko osteomielitis, meliputi tidak adekuatnya nutrisi dan higienis, faktor
imunitas dan virulensi kuman.
Proses selanjutnya terjadi hiperemi dan edema didaerah metafisis disertai
pembentukan PUS. Terbentuknya pu dalam tulang dimana jaringan tulang tidak dapat
berekspansi akan menyebabkan tekanan dalam tulang bertambah. Peninggian tekanan
dalam tulang mengakibatkan terganggunya sirkulasi dan timbulnya trombosis pada
pembuluh darah tulang dan akhirnya menyebabkan nekrosis tulang. Disamping proses
yang disebutkan diatas, pembentukan tulang baru yang ekstensif terjadi pada bagian dalam
periousteum sepanjang diafisis sehingga terbentuk suatu jaringan sekuestrum. Apabila pus
menembus tulang maka terjadi pengaliran pus keluar melalui lubang yang disebut kloaka
atau melalui sinus pada jaringan lunak dan kulit. Pada tahap selanjutnya penyakit akan
berkembang menjadi osteomielitis kronis. Pada daerah tulang kanselosa, infeksi dapat
terlokalisasi, serta diliputi oleh jaringan fibrosa yang membentuk abses tulang kronis
(Muttaqin, 2008)

2.4. Pemeriksaan diagnostik


1. Pada pemeriksaan darah rutin di dapatkan adanya peningkatan kadar leukosit, LED,
dan protein C-reaktit
2. Pemeriksaan kultur sangat diperlukan untuk pemberian anti mikroba yang rasional.
3. Pemeriksaan foto polos akan didapatkan adanya sekuestrum pada tulang tibia dan
fibula atau destruksi tulang akibat adanya nekrosis dari tulang yang mengalami
osteomielitis.
(Helmi,2014)

2.5. Penatalaksanaan

Beberapa prinsip penatalaksanaan klien osteomielitis yang perlu diketahui perawat dalam
melaksanakan asuhan keperawatan agar mampu melaksanakan tindakan kolaboratif adalah
sebagai berikut :

1. Istirahat dan memberikan analgesic untuk menghilangkan nyeri.


2. Pemberian cairan intravena dan kalau perlu tranfusi darah.
3. Istirahat lokal dengan bidai dan traksi.
4. Pemberian antibiotik secepatnya sesuai dengan penyebab utama yaitu
staphylococcus aureus sambil menunggu biakan kuman. Antibiotik diberikan selama
3-6 minggu dengan melihat keadaan umum dan endap darah klien. Antibiotik tetap
diberikan hingga 2 minggu setelah endap darah normal
5. Drainase bedah. Apabila setelah 24 jam pengobatan lokal dan sistemik antibiotik
gagal (tidak ada perbaikan keadaan umum), dapat dipertimbangkan drainase bedah.
Pada drainase bedah pus subperiosteal di evakuasi untuk mengurangi tekanan intra-
oseus, disamping itu pus juga digunakan sebagai bahan untuk biakan kuman. Drainase
dilakukan selama beberapa hari dan menggunakan NaCl dan antibiotik, (Helmi,
2014).

2.6. Komplikasi
1. Abses tulang
2. Abses paravetebral
3. Bakteri mia/sepsis
4. Fraktur
5. Lepasnya inplant prostetik
6. Selulitis
(Helmi, 2014)

2.7. Pengkajian
1. Anamnesis
Identitas : nama, jenis kelamin, usia, alamat, agama, bahasa yang digunakan,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, nomor
register, tanggal masuk rumah sakit, dan diagnosis medis. Pada umunya,
keluhan utama pada kasus osteomielitis adalah nyeri hebat. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang nyeri klien, perawat dapat
menggunakan metode PQRST :
Provoking Incident : hal yang menjadi faktor presipitasi nyeri adalah
proses supurasi pada bagian tulang. Trauma, hematoma akibat trauma pada
daerah metafisis, merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya
osteomielitishematoge akut.
Quality of pain : rasa nyeri yang di rasakn atau digambarkan klien bersifat
menusuk.
Region, Radiation, Relief : nyeri dapat reda dengan imobilitas atau
istrahat, nyeri tidak menjalar atau menyebar.
Severity ( scale) of pain : nyeri yang dirasakan klien secara subjektif antara
2-3 pada rentang skala pengukuran 0-4.
Time : berapa lama nyeri erlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada
malam hari atau siang hari.
Riwayat penyakit sekarang. Kaji adanya riwayat trauma fraktur terbuka
(kerusakan pembuluh darah, edema, hematoma, dan hubungan fraktur dengan
dunia luar sehingga pada fraktur terbuka umumnya terjadi infeksi), riwayat
operasi tulang dengan pemasangan fiksasi internal dan fiksasi eksternal (invasi
bakteri disebabkan oleh lingkungan bedah) dan pada osteomielitis kronis
penting ditanyakan apakah pernah mengalami osteomielitis akut yang tidak di
beri perawatan adekuat sehingga memungkinkan terjadinya proses supurasi di
tulang.
Riwayat penyakit dahulu. Adanya riwayat infeksi tulang, biasanya pada daerah
vertebra torako-lumbal yang terjadi akibat torakosentesis atau prosedur
urologis. Dapat ditemukan adanya riwayat diabetes melitus, malnutrisi, adiksi
obat obatan, atau pengobatan dengan imunosupresif.
Riwayat psikososialspirotual. Perawat mengkaji respons emosi klien terhadap
penyakit yang di deritanya dan peran klien dalam keluarga serta masyarakat,
respons atau pengaruhnya dalam kehidupan sehari hari, baik dalam keluarga
maupun dalam masyarakat. Pada kasus osteomielitis, akan timbul ketakutan
terjadinya kecacatan dan klien harus menjalani penatalaksaan kesehatan untuk
membantu penyemuhan tulang. Selain intu, pengkajian jjuga meliputi
kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang dapat
mengganggu metabolisme kalsium, konsumsi alkohol yang dapat mengganggu
keseimbangan, dan apakh klien melakukan olahraga. Klien akan kehilangan
peran dalam keluarga dan dalam masyarakat karena klien menjalani rawat
inap. Dampak yang timul pada klien osteomielitis yaitu timbul ketakutan akan
kecacatan akibat prognosis penyakitnya, rasa cemas, rasa tidak mampu
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang
salah (gangguan citra diri).
2. Pemeriksaan fisik.pemeriksaan fisik dibagi menjadi dua ,yaitu pemeriksaan umum
untuk mendapatkan gambaran gambaran umum dan pemeriksaan setempat(local).
a. Keadaaan umum meliputi:
- Tingkat kesadaran (apatis,spoor,koma,gelisah,kompos mentis yang bergantung
pada keadaan klien).
- Kesakitan atau keadaan penyakit (akut,kronis,ringan,sedang, dan pada kasus
osteomielitis biasanya akut.
- Tanda-tanda vital tidak normal, terutama pada osteomielitis dengan komplikasi
septicemia.
B1 (breathing).pada inspeksi,didapatkan bahwa klien osteomielitis tidak
mengalami kelainan pernapasan. Pada palpasi toraks, ditemukan taktil
freitus seimbang kanan dan kiri. Pada auskultasi, tidak didapatkan suara
napas tambahan.
B2 (Blood). Pada inspeksi, tidak tampak iktus jantung. Palpasi menunjukkan
nadi meningkat,iktus tidak teraba.pada auskultasi, didapatkan suara S1 dan
S2 tunggal,tidak ada murmur.

B3 (Brain). Tingkat kesadaran biasanya komposmentis.

o Kepala : tidak ada gangguan (normosefalik, simetris, tidak ada penonjolan,


tidak ada sakit kepala).
o Leher : tidak ada gangguan (simetris, tidak ada penonjolan, refleks
menelan ada).
o Wajah : terlihat menahan sakit, tidak ada perubahan fungsi atau bentuk.
o Mata : tidak ada gangguan, seperti konjungtiva tidak anemis ( pada klien
patah tulang tertutup karena tidak terjadi perdarahan). Klien osteomielitis
yang disertai adanya malnutrisi lama biasanya mengalami konjungtiva
anemis.
o Telinga : tes bisik atau webwr masih dalam keadaan normal. Tidak ada lesi
tau nyeri tekan.
o Hidung : tidak ada deformitas, tidak ada pernapasan cuping hidung.
o Mulut dan faring : tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi
perdarahan, mukkosa mulut tidak pucat.
o Status mental : observasi penampilan dan tingkah laku klien. Biasanya
status mental tidak mengalami perubahan.
o Pemeriksaan saraf kranial :
Saraf I. Biasanya tidak ada kelainan fungsi penciuman
Saraf II. Tes ketajaman penglihatan normal.
Saraf III,IV, dan VI. Biasanya tidak ada gangguan mengangkat kelopak
mata pupil, isokor.
Saraf V. Klien osteomielitistidak mengalami paralisis pada saraf otot
wajah dan reflek kornea tidak ada kelainan.
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal dan wajah simetris
Saraf VIII. Tidak ditemukan tuli konduktif dan tuli persepsi.
Saraf IX dan X. Kemampuan menelan balik.
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada
fasikulasi. Indra pengecapan normal.
o Pemeriksaan refleks : biasanya tidak terdapat refleks patologis.

B4 (bladder). Pengkajian keadaan urine meliputi warna, jumlah, karakteristik,


dan berat jenis. Biasanya klien osteomielitis tidak mengalami kelainan pada
sistem ini.
B5 (bowel). Inspeksi abdomen : bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
Palpasi : turgor baik, hepar tidak teraba. Perkusi : suara timpani, ada pantulan
gelombang cairan. Auskultasi : peristaltik usus normal (20 kali/menit).
Inguinal-genitalia-anus : tidak ada hernia, tidak ada pembasaran limfe, tidak
ada kesulitan defekasi. Pola nutris dan Metabolisme. Klien osteomielitis harus
mengonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-hari, seperti kalsium,zat
besi,protein,vitamin C,dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan
infeksi tulang. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien dapat membantu
menentukan penyebab masalah muskuloskletal dan mengantisipasi komplikasi
dari nutrisi yang tidak adekuat, terutama kalsium atau protein. Masalah nyeri
pada osteomielitis menyebabkan klie kadang mual atau muntah sehingga
pemenuhan nutrisi berkurang. Pola eliminasi: tidak ada gangguan pola
eliminasi, tetapi tetap perlu dikaji frekuensi, konsistensi, warna, serta bau
feses. Pada pola berkemih, dikaji frekuensi, kepekaan, warna,bau, dan jumlah
urine.
B6 (Bone). Adanya osteomielitis kronis dengan proses supurasi di tulang dan
osteomielitis yang menginfeksi sendi akan mengganggu fungsi motorik klien.
Kerusakan integritas jaringan pada kulit karena adanya luka disertai dengan
pengeluaran pus atau cairan bening berbau khas.
Look. Pada osteomielitis hematogen akut akan ditemukan gangguan
pergerakan sendi karena pembengkakan sendi dan gangguan bertambah
berat bila terjadi spasme local. Gangguan pergerakan sendi juga dapat
disebabkan oleh efusi sendi atau nfeksi sendi (aritritis septic). Secara
umum,klien osteomielitis kronis menunjukkan adanya luka khas yang disertai
dengan pegeluaran pus atau cairan bening yang berasal dari tulang yang
mengalami infeksi dan proses supurasi. Manifestasi klinis osteomielitis
akibat fraktur terbuka biasanya berupa demam, nyeri, ;pembengkakan pada
daerah fraktur, dan sekresi pus pada luka.
Feel. Kaji adanya nyeri tekan
Move. Pemeriksaan ini menentukan apakah ada gangguan gerak(mobilitas) ata
u tidak. Pergerakan yang dilihat adalah gerakan aktif dan pasif. Pemeriksaan y
ang didapat adalah adanya gangguan/keterbatasan gerak sendi pada osteomiel
itis akut.
- Pola tidur dan istirahat. Semua klien osteomielitis merasakan nyeri
sehingga dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur. Pengkajian
yang dilakukan adalah lama tidur, suasana, kebiasaan, dan kesulitan
serta pengunaan obat tidur (Muttaqin, 2008)

2.8. Diagnosa Keperawatan


1. Nyeri akut b/d agen cedera biologis(infeksi)
2. Hambatan mobilitas fisik b/d gangguan muskuloskeletal
3. Gangguan citra tubuh b/d penyakit

2.9. Intervensi Keperwatan

NO DIAGNOSA NOC NIC


1 Nyeri akut b/d agen cedera Noc : Pain Control Nic: Pain Management
biologis(infeksi) dengan Setelah dilakukan 1. Kaji nyeri secara
batasan karakteristik: tindakan keperawatan komperehensif
- Ekspresi wajah nyeri selama 3x24jam, termasuk lokasi,
- Keluhan tentang
makadiharapkan nyeri karakteristik, durasi,
intensitas
dapat teratasi dengan frekuensi, kualitas,
menggunakan standar
kriteria hasil: intensitas atau
skala nyeri
- Menyatakan nyeri keparahan nyeri dan
- Keluhan tentang
terkontrol (5) faktor pemicu
karakteristik nyeri
- Dapat 2. Kaji faktor yang
- Laporan tentang
mendeskripsikan memperberat nyeri
perilaku nyeri atau
3. Kaji pengetahuan
faktor penyebab
perubahan aktivitas
pasien tentang nyeri
(5)
4. Gunakan terapi
- Menggunakan
komunikasi
teknik
terapeutik untuk
nonanalgesik (5)
- Melaporkan mengetahui
perubahan nyeri pengalaman nyeri
kepada tenaga pasien
5. Kontrol faktor
kesehatan (5)
lingkungan yang
dapat mempengaruhi
respon
ketidaknyamanan
pada pasien
6. Ajarkan pasien
menggunakan tehnik
nonfarmakologikal
(seperti hypnosis,
relaksasi, terapi
musik,terapi aktifitas)
7. Bantu pasien dan
keluarga untuk
mencari dan
menyediakan
dukungan
8. Sediakan informasi
tentang nyeri
termasuk penyebab
nyeri, berapa lama
nyeri berlangsung
dan antisipasi
ketidaknyamanan
9. Kolaborasi dengan
pasien dan tenaga
kesehatan untuk
mengimplementasika
n teknik
nonfarmakologikal
10. Kolaborasi dalam
pemberian analgetik
2 Hambatan mobilitas fisik b/d Noc : mobility (0208) Nic: body mechanics
gangguan muskuloskeletal Setelah dilakukan promotion (0140)
dengan batasan karakteristik: tindakan keperawatan 1. Tentukan
- Gangguan sikap selama 3x24jam, maka pengetahuan pasien
berjalan diharapkan hambatan tentang abnormalitas
- Gerakan lambat
mobilitas fisik dapat muskuloskeletal dan
- Gerakan tidak
teratasi dengan kriteria efek potensial dari
terkoordinasi
- Ketidaknyamanan hasil: postur dan jaringan
- Keterbatasan rentang
- Keseimbangan (5) otot
gerak - Koordinasi (5) 2. Tentukan
- Kemampuan
pengetahuan pasien
berpindah (5)
dari mekanik tubuh
- Berjalan (5)
dan latihan
3. Bantu pasien untuk
melakukan
pemanasan sebelum
melakukan aktivitas
atau pekerjaan
4. Instruksikan pasien
tentang kebutuhan
postur tubuh yang
benar untuk
mencegah kelelahan
atau injury
5. Instruksikan pasien
bagaimana postur dan
mekanik tubuh untuk
mencegah injury
ketika melakukan
aktifitas fisik
6. Demonstrasikan
bagaiman cara
berjalan dengan
menggunakan kaki
secara bergantian
ketika berdiri
7. Instruksikan pasien
untuk memindahkan
kaki terlebih dahulu,
lalu tubuh ketika
berjalan membelok
dari posisi berdiri
8. Kolaborasi dengan
fisioterapi untuk
mengembangkan
rencana promosi
mekanik tubuh
3 Gangguan citra tubuh b/d Noc: body image Nic : body image
penyakit dengan batasan Setelah dilakukan enhancement (5220)
karakteristik : tindakan keperawatan 1. Tentukan perubahan
- Gangguan fungsi selama 3x24jam, maka fisik yang
tubuh diharapkan gangguan berhubungan dengan
- Gangguan struktur
citra tubuh dapat teratasi citra tubuh pasien
tubuh 2. Monitor perubahan
dengan kriteria hasil:
- Perubahan gaya
penampilan pasien
-
hidup 3. Tentukan perubahan
pada citra tubuh yang
mempengaruhi isolasi
social
4. Bantu pasien
mendiskusikan
perubahan yang
disebabkan oleh
penyakit
5. Bantu pasien
menentukan
perubahan actual dari
tubuh atau tingkat
fungsionalnya
6. Bantu pasien
mendiskusikan stress
yang disebabkan oleh
penyakit yang
mengganggu citra
tubuh
7. Identifikasi efek
dengan budaya
pasien, agama,
seksualitas dan umur
yang berhubungan
dengan citra tubuh
8. Identifikasi kelompok
pendukung yang
tersedia untuk pasien
BAB 3

KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan

Osteomielitis adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencakup sumsum atau
korteks tulang, dapat berupa eksogenus ( infeksi masuk dari luar tubuh) atau
hematogenus ( infeksi yang berasal dari dalam tubuh). Osteomielitis akibat
penyebaran hematogen biasanya terjadi ditempat trauma yang terdapat resistensi
rendah. Infeksi dapat juga berhubungan dengan infeksi jaringan lunak, misal ulkus
dekubitus atau ulkus vaskulr, atau kontaminasi langsung pada tulang (misal
frakturrbuka,l uka tembak dan pembedahan tulang ). Prinsip penatalaksanaan
klien osteomielitis yang perlu diketahui perawat dalam melaksanakan asuhan
keperawatan agar mampu melaksanakan tindakan mandiri dan kolaboratif.

3.2. Rekomendasi

Kami merekomendasikan kepada tenaga kesehatan diIndonesia agar lebih


memberi perhatian khusus pada klien dengan osteomyelitis, supaya angka
kejadian dapat diminimalisir. Sebagai perawat, kita dapat melakukan tindakan
mandiri dan kolaboratif untuk menangani pasien dengan gangguan
musculoskeletal khususnya penyakit osteomyelitis.
DAFTAR PUSTAKA

Bulecheck, Gloria M. 2013. Nursing Intervention Classification (NIC). USA


:ELSEVIER

Helmi, Zairin Noor. 2014. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta :


Salemba Medika

Herdman, T.Heather. 2015. Diagnosis Keperawatan: defenisi & klasifikasi 2015-


2017. Jakarta :EGC

Moorhead, Sue, dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). USA :


ELSEVIER

Muttaqin, Arif .2008: Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC