Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRATIKUM FISIKA DASAR

METODE PENGAMATAN LAGRANGE

KELOMPOK : 08

Nama : Ni Putu Sintha Maharani

NIM : 1613521005

Dosen : I Gede Hendrawan, S.Si., M.Si., Ph.D

I Wayan Gede Astawa Karang, S.Si., M.Si., Ph.D

Asisten Dosen : Putu Yudi Aditya Putri

MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN

UNIVERSITAS UDAYANA

2016
I. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Mahasiswa mampu menentukan rata - rata waktu yang digunakan untuk menentukan
kecepatan arus di Pantai Jimbaran.
2. Mahasiswa mampu mengukur rata - rata kecepatan arus di Pantai Jimbaran.

II. Dasar Teori

2.1 Arus Air Laut

Arus air laut adalah suatu pergerakan massa air yang terjadi secara vertikal dan horisontal,
sehingga menuju keseimbangan pergerakan air yang sangat luas terjadi di seluruh lautan dunia.
Arus juga merupakan gerakan mengalir suatu massa air yang dikarenakan perbedaan densitas
atau pergerakan gelombang panjang. Pergerakan arus dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain
arah angin, perbedaan tekanan air, perbedaan densitas air, gaya coriolis atau arus ekman,
topografi dasar laut dan arus permukaan. Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
sirkulasi dan arus laut, antara lain angin, pasang surut air laut, perbedaan kadar garam (salinitas),
perbedaan suhu dan kepekatan air laut. Pengukuran arus telah dilakukan sejak dahulu dengan
beberapa metode baik secara langsung yaitu data kecepatan dan arah langsung ditampilkan oleh
alat-alat pengukur arus yang digunakan maupun secara tidak langsung yaitu dengan
memanfaatkan peranan suhu, salinitas, tekanan, dan gradien potensial listrik didalam lautan.
(Rambe, 1985).

Metode Lagrangian adalah metode pengukuran arus yang dilakukan dengan pengamatan
gerakan arus permukaan dari satu titik ke titik berikutnya dalam rentang waktu tertentu .
Kelebihan dari metode lagrange adalah instrument yang digunakan seperti bola duga dapat
sendiri dan harganya lebih ekonomis jika dibandingkan dengan isntrument yang modern.
Turunan instrument modern Lagrange adalah The Swallow dimana merupakan pelampung jenis
apung netral, yang berarti bahwa massa mengembang ini disesuaikan sebelum meluncur
sehingga akan tenggelam ke area dengan besar densitas yang dapat ditentukan. Kerapatan air laut
sebenernya adalah fungsi tekanan primarilya. Karena kompresibilitas air laut menyebabkan
densitas menjadi lebih besar dari pada suhu atau salinitas. The Swallow mengambang
mengirimkan pulsa suara pada interval tertentu, yang diikuti dengan mendengarkan hydrophone
dari kapal yang mengejar float (pelampung) dan sekaligus menentukan posisinya sendiri
(Sudarto, etal, 2013)

Salah satu instrument yang menggunakan metode lagrange adalah bola duga. Kekurangan
dari bola duga adalah tingkat ketelitian yang rendah karena dapat terjadi eror baik dari pengamat
maupun instrument yang dibuat. Panjang tali yang digunakan juga hanya sebatas 5-10 meter.
Pencatatan arah arus juga tidak dapat digunakan mengingat bahwa kecepatan arus yang didapat
hanya dari jarak (panjang tali) dan waktu yang dibutuhkan saat tali menegang (Sudarto, etall,
2013)

Adapun rumus untuk mencari kecepatan arus adalah sebagai berikut :

s
v=
t

Keterangan :
v= kecepatan (m/s)
s= jarak (m)
t= waktu (s)
sedangkan untuk mencari kecepatan rata-rata dari arus adalah sebagai berikut :

v v1 v2 v3 vn
= + + + .. +

Keterangan :
v = kecepatan rata-rata (m/s)

2.2 Gelombang

Gelombang adalah sebuah gerakan air yang selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang
bergerak tanpa henti-hentinya pada lapisan permukaan laut dan bagian-bangian gelombang
terdiri dari lembah gelombang, puncak gelombang dan panjang gelombang. Gelombang
dipengaruhi oleh kecepatan angin, waktu dimana angin bertiup dan jarak tanpa rintangan dimana
angin sedang bertiup. Ada dua bentuk utama pecahnya gelombang (Hutabarat,1985).
Panjang gelombang akan berangsur-angsur berkurang, sementara tinggi gelombang akan
bertambah tinggi pada saat gelombang menuju perairan dangkal, kemiringan gelombang akan
bertambah besar karenanya, dan pada akhirnya gelombang akan pecah pada kedalaman tertentu
(Pratikto, 1997).

2.3 Pasang Surut

Pasang surut adalah perubahan ketinggian air laut karena pengaruh gravitasi bulan dan
matahari pada perputaran bumi. Periode terjadi begitu lama, pasang surut air laut adalah
gelombang panjang yang merambat seperti gelombang air dangkal. Dalam perambatannya
pasang surut dipengaruhi oleh hidrografi lepas pantai, gesekan, percepatan Corolis, dan efek
resonansi (Praktikto,1997).

Ada tiga sumber gaya yang saling berinteraksi: laut, matahari, dan bulan. Pasang laut
menyebabkan perubahan kedalaman perairan dan mengakibatkan arus pusaran yang dikenal
sebagai arus pasang, sehingga perkiraan kejadian pasang sangat diperlukan dalam navigasi
pantai. Wilayah pantai yang terbenam sewaktu pasang naik dan terpapar sewaktu pasang surut,
disebut mintakat pasang, dikenal sebagai wilayah ekologi laut yang khas. Periode pasang laut
adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau lembah gelombang
berikutnya (Hutabarat dan Evans, 1985).

2.4 Salinitas,suhu, dan kecerahan

Salinitas adalah persentase unsur khlorida yang terkandung di dalam 1 kilogram air laut.
Salinitas mempunyai hubungan erat dengan tekanan osmotik air. Semakin tinggi salinitas
perairan, semakin tinggi pula tekanan osmotiknya. Tekanan osmotic akan mempengaruhi
kehidupan organisme di dalam air, sebab tekanan osmotic lingkungan periran akan
mempengaruhi tekanan osmotic darah di dalam tubuh suatu organisme. Salinitas air di tengah
laut umumnya tinggi ( 35 permil), sedangkan di daerah muara sungai atau disekitar pantai
mempunyai salinitas lebih rendah. Apabila curah hujan dan sumber air tawarnya rendah, maka
air di daerah tersebut akan memiliki salinitas yang tinggi. Perairan yang salinitasnya di atas 45
permil sangat menyulitkan kehidupan sebagian besar organisme laut (Effendi, 2003).

Peningkatan suhu juga menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi


organisme air, dan selanjutnya mengakibatkan peningkatkan konsumsi oksigen. Peningkatan
suhu disertai dengan penurunan kadar oksigen terlarut sehingga keberadaan oksigen sering kali
tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen bagi organisme akuatik untuk melakukan proses
metabolisme dan respirasi (Effendi, 2003).

Kecerahan merupakan tingkat penetrasi cahaya matahari yang dinyatakan dengan satuan
panjang. Alat yang bias digunakan untuk mengukur tingkat kecerahan air adalah sechi
disk,yaituberupa pirigan yang diberi warna hitam putih dan dihubungkan dengan tali pegangan
yang mempunyai garis garis skala. Pada perairan tambak,keerahan erat dikaittanya dan
berbanding terbalik dengan jumlah fitoplankton didalamnya ( Morindro, 20 08).

Kekeruhan air ini berbeda dengan parameter fisika lainya yang memerlukan alat yang
canggih karna kekeruhan dapat dilihat langsung oleh alat indra, air yang terlalu keruh tidak baik
karna akan menghambat cahaya masuk kedalam perairan sehingga sulit fitoplangton untuk
berfotosintesis tetapi kekeruhan biasanya terjadi karena bloming plangton atau terjadi endapan
lumpur yang tebal (Susanto,1991).

III. Alat dan Bahan

3.1.1 Alat untuk pembuatan drifter boy


Adapun alat yang digunakan dalam pembuatan drifter boy :
1. Tali
2. Pipa
3. Paku ulir
4. Botol plastik besar bekas
5. Gergaji
6. Jarum
7. Karung
3.1.2 Alat di lapangan
1. Stopwatch
2. Drifter boy :

3.2.1 Bahan
Adapun bahan yang digunakan :
1. Arus laut

IV. Prosedur Kerja

4.1. Pembuatan drifter boy.


Pertama potonglah pipa dengan panjang 60 cm sebanyak dua buah dan 45 cm. Kemudian
buatlah kerangka dengan pipa tersebut kemudian ikat kerangka tersebut menggunakan tali.
Agar kerangka tetap kuat gunakan paku ulir. Kemudian dipotong karung menjandi 4 bagian
dengan ukuran 30 cm. Setelah itu jaritlah karung tersebut pada kerangka dan ikatlah botol
bekas tersebut pada kerangka.
4.2. Pengukuran di lapangan.

Pertama-tama drifter boy disesuaikan kedalamanya, lalu drifter boy dimasukan kedalam
air, setelah itu drifter boy dilepaskan dan stopwatch dinyalakan. Setelah itu dicatat waktu yang
diperlukan drifter boy untuk mencapai jarak 10 meter. Lakukan pengulangan sebanyak 10 kali
dan lakukan percobaan ini 3 kali, dengan selang waktu 30 menit. Setelah itu catat waktu yang
diperlukan tali, lalu dihitung kecepatan rata-rata arus perjam berserta ralat nisbinya.

V. Data Pengamatan

1. Pengambilan data I pada pukul 07.20 WITA

No Panjang Tali ( m ) [ d ] Waktu yang diperlukan d


Menit Detik Kecepatan (v) [v = t

1 10 m 05.39 339 0.029


2 10 m 05.47 347 0.029
3 10 m 04.39 279 0.036
4 10 m 04.31 271 0.037
5 10 m 03.32 212 0.047
6 10 m 03.22 202 0.050
7 10 m 02.40 160 0.063
8 10 m 02.13 133 0.075
9 10 m 04.52 292 0.034
10 10 m 05.02 302 0.033
Rata - rata 04.23 253 0.043

2. Pengambilan data II pada pukul 08.56 WITA

No Panjang Tali ( m ) [ d ] Waktu yang diperlukan d


Menit Detik Kecepatan (v) [v = t

1 10 m 06.37 397 0.025


2 10 m 02.25 145 0.069
3 10 m 01.49 109 0.092
4 10 m 04.37 277 0.036
5 10 m 06.04 364 0.027
6 10 m 04.03 243 0.041
7 10 m 06.41 401 0.025
8 10 m 04.56 296 0.034
9 10 m 03.02 182 0.055
10 10 m 04.32 272 0.037
Rata - rata 04.48 268 0.044

3. Pengambilan data III pada pukul 10.26 WITA

No Panjang Tali ( m ) [ d ] Waktu yang diperlukan d


Menit Detik Kecepatan (v) [v = t

1 10 m 02.45 165 0.061


2 10 m 03.47 227 0.044
3 10 m 01.57 117 0.085
4 10 m 04.47 287 0.035
5 10 m 05.28 328 0.030
6 10 m 04.10 250 0.040
7 10 m 02.13 133 0.075
8 10 m 01.25 85 0.118
9 10 m 01.05 65 0.154
10 10 m 01.44 104 0.096
Rata - rata 02.56 176 0.074
VI. Analaisis Data
VI.1 Perhitungan Kecepatan Arus
Persamaan yang digunakan dalam penentuan kecepatan arus adalah sebagai berikut

s
v=
t

dengan v = kecepatan (m/s), s = jarak (m), t = waktu (s). Sedangkan untuk mencari rata- arus
adalah sebagai berikut
v = v 1 + v 2 + v 3 + .. + v n

dengan v = kecepatan rata-rata (m/s).

Contohperhitunganpercobaan 1 data ke 1
Diketahui :
s = 10 m
t = 05.39 menit
Ditanya :
v = ?
Jawab :
t = 05.39 x 60
t = 339 detik
s
v= t

10 m
v= 339 s

v = 0.029 m/s

6.2. Ralat Nisbi


Ralat Nisbi Percobaan I
Diketahui :
Panjangtali = 10 m
Kecepatan rata-rata ( X ) = 0.043 m/s
Jawab :
( Xi X )2 = (0.029 0.043)2 + (0.029 0.043)2 + (0.036 0.043)2 +(0.037
0.043)2 + (0.047 0.043)2 + (0.050 0.043)2 +(0.063 0.043)2 +
(0.075 0.043)2 + (0.034 0.043)2 + (0.033 0.043)2
( Xi X )2 = - (0.014)2 - (0.014)2 - (0.007)2 - (0.006)2 + (0.004)2 + (0.007)2
+(0.020)2 + (0.032)2 - (0.009)2 - (0.010)2
( Xi X )2 = - 0.000196 - 0.000196 - 0.000049- 0.000036 + 0.000016+
0.000049+ 0.0004 + 0.001024- 0.000081- 0.0001
2
( Xi X ) = 0.000831 , X =

10
(0.000831)
= 0.009

Maka, X = 0.043 0.009


0.009
100 ( x 100 )
Persentasekebenaran = 0.043 =

100% - 20.9%

= 79.1 %

Ralat Nisbi Percobaan II


Diketahui :
Panjangtali = 10 m
Kecepatan rata-rata ( X ) = 0.044 m/s
Jawab :
( Xi X )2 = (0.025 0.044)2 + (0.069 0.044)2 + (0.092 0.044)2
+(0.036 0.044)2 + (0.027 0.044)2 + (0.041 0.044)2 +(0.025
0.044)2 + (0.034 0.044)2 + (0.055 0.044)2 + (0.037 0.044)2
( Xi X )2 = - (0.019)2 + (0.025)2 + (0.048)2 - (0.008)2 - (0.014)2 -
(0.003)2 - (0.019)2 - (0.010)2 + (0.011)2 - (0.007)2
( Xi X )2 = - 0.000361 + 0.000625 + 0.002034- 0.000064 - 0.000196-
0.000009- 0.000361 - 0.0001 + 0.000121- 0.000049

( Xi
X )
2
= 0.00164 , X =
10
(0.00164)
= 0.013

Maka, X = 0.044 0.013


0.013
100 ( x 100 )
Persentasekebenaran = 0.044 =

100% - 29.5%

= 70.5%

Ralat Nisbi Percobaan III


Diketahui :
Panjangtali = 10 m
Kecepatan rata-rata ( X ) = 0.074 m/s
Jawab :
( Xi X )2 = (0.061 0.074)2 + (0.044 0.074)2 + (0.085 0.074)2 +(0.035
0.074)2 + (0.030 0.074)2 + (0.040 0.074)2 +(0.075 0.074)2 +
(0.118 0.074)2 + (0.154 0.074)2 + (0.096 0.074)2
( Xi X )2 = - (0.013)2 - (0.030)2 + (0.011)2 - (0.039)2 - (0.044)2 - (0.034)2 +
(0.001)2 + (0.044)2 + (0.080)2 + (0.022)2
( Xi X )2 = - 0.000169 - 0.0009 + 0.000121- 0.001521 - 0.001936- 0.001156+
0.000001 + 0.001936 + 0.0064+ 0.000484

( Xi
X )
2
= 0.002558 , X =

(0.002558)
10 = 0.016

Maka, X = 0.074 0.016


0.016
100 ( x 100 )
Persentasekebenaran = 0.074 = 100% - 21.6%

= 78.4%

VII. Pembahasan
Metode Lagrange adalah metode pengukuran arus yang dilakukan dengan pengamatan
gerakan arus permukaan dari satu titik ke titik berikutnya dalam rentang waktu tertentu .
Kelebihan dari metode lagrange adalah instrument yang digunakan seperti bola duga dapat
sendiri dan harganya lebih ekonomis jika dibandingkan dengan isntrument yang modern.
Turunan instrument modern Lagrange adalah The Swallow dimana merupakan pelampung jenis
apung netral, yang berarti bahwa massa mengembang ini disesuaikan sebelum meluncur
sehingga akan tenggelam ke area dengan besar densitas yang dapat ditentukan. Pada praktikum
ini kami menggunakan metode lagrange untuk mengukur kecepatan arus di Pantai Jimbaran,
Badung, Bali. Dalam praktikum ini kami menggunakan alat yang bernama drifter boy. Pada
percobaan pertama diperoleh rata - rata waktu yang diperlukan untuk mengukur kecepatan arus
adalah sebanyak 04.23 menit dan rata - rata kecepatan arusnya sebesar 0.043 m/s. Pada
percobaan kedua diperoleh rata - rata waktu yang diperlukan untuk tali untuk mengukur
kecepatan arus adalah sebanyak 04.48 menit dan rata - rata kecepatan arusnya sebesar 0.044 m/s.
Pada percobaan ketiga diperoleh rata - rata waktu yang diperlukan untuk tali untuk mengukur
kecepatan arus adalah sebanyak 02.56 menit dan rata - rata kecepatan arusnya sebesar 0.076 m/s.

VIII. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang diperoleh dalam praktikum ini :

1) Rata - rata waktu yang digunakan pada percobaan pertama adalah sebanyak 04.23 menit,
pada percobaan kedua sebanyak 04.48 menit, dan pada percobaan ketiga adalah sebanyak
02.56 menit,
2) Rata - rata kecepatan arus yang diperoleh pada percobaan pertama sebesar 0.043 m/s,
pada percobaan kedua sebesar 0.044 m/s, dan pada percobaan pertama sebesar 0.076 m/s

DAFTAR PUSTAKA
Effendi, H., 2003. Telaah Kualitas Air. Penerbit Kanius. Yogyakarta.
Hutabarat, S., dan Evans, S. M., 1985. Pengantar Oseanografi. Universitas Indonesia Press.
Hutabarat.S dan Evans S. M. 1986. Pengantar Oseanografi. UI-Press, Jakarta.
Pratikto,W.A, Armono.H.D dan Suntoyo., 1997. Perencanaan Fasilitas Pantai dan Laut. BPFE-
Yogyakarta.
Rambe N, 1985. Rahasia Lautan. Widjaya, Jakarta.

Sudarto, 2013. Kondisi Arus Permukaan Di Perairan Pantai: Pengamatan Dengan Metode
Lagrangian. Jurnal Ilmu dan Teknologi Perikanan Tangkap. 1 (3) : 98-102.

Susanto H.,1991.,Budidaya Ikan Di Pekarangan.,PT Penebar Swadaya.,Jakarta

LAMPIRAN