Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Bunyi selalu berhubungan dengan indra pendengar kita berarti juga


dengan sensasi fisik yaitu fisiologi telinga dan fisiologi otak yang
menterjemahkan sensasi yang merangsang mencapai teiinga. Kita mendengar
bunyi karena adanya gangguan yang menjalar ke telinga. Getaran udaralah
yang memaksa gendang telinga kita bergetar. Karena gangguan ini, selaput
kendang telinga kita bergetar dan getaran ini berubah menjadi denyut listrik
yang dilaporkan ke otak lewat urat syaraf. Bentuk gelombang yang kira-kira
periodik atau terdiri dari sejumlah kecil komponen yang kira-kira periodik akan
menimbulkan suatu sensasi yang menyenangkan (jika intensitasnya tidak
terlalu tinggi) seperti bunyi musik, sedangkan bunyi yang mempunyai bentuk
gelombang yang tidak periodik akan terdengar sebagai derau (noise),(Halliday
dan Resnick, 1997). Pada contoh bunyi alat musik dihasilkan warna bunyi yang
bagus dan teratur untuk didengarkan dan dinikmati, hal ini disebabkan karena
bunyi yang terbentuk telah ditetapkan nilai frekuensinya sehingga
keharmonisanna juga teratur, di mana tiap warna bunyi dengan ferkuensi
tertentu dinamakan nada, yang juga memiliki jarak antara nada satu dengan
berikunya teratur.
Gelombang longitudinal dalam sebuah medium biasanya udara,
dinamakan gelombang bunyi, lebih| khususnya dikenal dengan gelombag
akustik. Sebagai mana dikemukakan oleh Hermann Helmholtz (1821-1894)
yang teori dan usahanya dilanjutkan oleh Lord Rayleigh (1842-1919)
mengutaratan bahwa, akustik merupakan cabang ilmu dari fisika dan ilmu
teknik yang berkonsentrasi tentang timbul dan merambatnya bunyi, tentang
sifat proses pendengaran, alat-alat untuk mengukur, merekam dan

1
memproduksi bunyi, serta tentang konstruksi auditorium yang memenuhi
syarat pendengaran yang baik, baik secara teori maupun matematis. Alasanya
bahwa teiinga manusia sangat peka dan dapat mendeteksi gelombang bunyi
walau intensitasnya sangat rendah.
Fenomena bunyi memiliki tiga aspek penting dalam
pembahasannya,yang pertama pasti ada sumber bunyi yang merupakan benda
getar. Kedua, energi dipindahkan dari sumber bunyi dalam bentuk gelombang
bunyi longitudinal, dan ketiga bunyi dideteksi oleh telinga atau sebuah alat
(Giancoli, 1998).

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari
makalah mengukur kecepatan bunyi di udara menggunakan suling bambu
yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan bunyi ?
2. Apa yang dimaksud dengan alat musik suling ?
3. Apa yang dimaksud dengan resonasi ?
4. Bagaimana cara mengetahui kecepatan bunyi di udara menggunakan suling ?
1.3. Tujuan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan dari makalah mengukur
kecepatan bunyi di udara menggunakan suling bambu yaitu:
1. Menjelaskan pengertian bunyi
2. Menjelaskan pengertian alat musik suling
3. Menjelsakan pengertian resonasi
4. Menjelaskan bagaimana cara mengetahui kecepatan bunyi di udara
menggunakan suling

1.4. Metode Penulisan

2
Metode penelitian yang digunakan adalah peneltian kuantitatif.
Penelitian kualiitatif digunakan untuk melakukan penelitian pada penentuan
kecepatan bunyi di udara menggunakan suling bambu

BAB II

3
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian bunyi
Gelombang Bunyi adalah salah satu bentuk energi. Energi bunyi
tersebut berasal dari benda yang bergetar, getaran yang merambat disebut
gelombang. Bunyi merupakan gelombang longitudinal yang merambat secara
perapatan dan perenggangan terbentuk oleh partikel zat perantara serta
ditimbulkan oleh sumber bunyi yang mengalami getaran.Kita dapat
mendengar bunyi karena bunyi tersebut merambat dari sumber bunyi sampai
telinga kita. Sumber bunyi yang bergetar akan menggetarkan udara
disekitarnya, selanjutnya molekul udara yang bergetar akan menjalar sampai
telinga kita. Manusia mendengar bunyi saat gelombang bunyi, yaitu getaran
di udara atau medium lain, sampai ke gendang telinga manusia. Batas
frekuensi bunyi yang dapat didengar oleh telinga manusia berkisar antara 20
Hz sampai 20 kHz pada amplitudo berbagai variasi dalam kurva responsnya.
Suara di atas 20 kHz disebut ultrasonik dan di bawah 20 Hz
disebut infrasonik.

2.2. Pengertian alat musik suling


Seruling merupakan alat musik tiup yang sudah dikenal banyak orang.
Karena harganya yang relatif murah dibandingkan alat musik lain. Suling
terbuat dari bambu, kayu, tulang, atau bahkan bahan logam.

Gambar 1. a) suling bambu moderen, b) suling bambu tradisional, c)


asal bunyi suling bambu

4
Gambar 1.a memperlihatkan sebuah suling bambu moderen yang
menggunakan nada diatonik. Gambar 1.b memperlihatkan sebuah suling
bambu tradisional yang menggunakan nada pentatonik. Suara yang dihasilkan
oleh suling bambu berasal dari getaran udara di dalam kolom pipa suling
bambu tersebut yang bergesekan dengan udara yang ditiupkan oleh
pemainnya ke arah yang tidak sejajar dengan arah kolom suling bambu
tersebut (lihat gambar 1.c). Suling bambu merupakan salah satu bentuk pipa
organa terbuka dimana kedua sisi dari pipa suling bambu ini terbuka.

Seruling moderen dengan suling bambu tradisional memiliki


kesamaan dalam proses pembentukan bunyinya. Perbedaanya adalah pada
frekuensi bunyi yang dihasilkan. Suling bambu moderen dan suling bambu
tradisional memiliki frekuensi resonansi yang berbeda sehingga
menghasilkan tinggi rendah bunyi yang berbeda. Hal tersebut juga dapat
terlihat dari jarak antara lubang tiup dengan lubang tone dari kedua suling
bambu ini juga berbeda..

Suling bambu merupakan alat musik tradisonal yang memiliki nada


pentatonik. Lubang-lubang yang ada pada bagian depan berjumlah 6 yang
akan menghasilkan nada berbeda-beda.

Tabel 1. Perbandingan nada suling laras slendro dengan alat musik modern

Susunan nada :1 2 3 5 6 i
Suling Laras
Sruti : 240 240 240 240 240
Slendro
Satu Gembyangan : 1200 cents, sifat pentatonik
Nada pada Susunan nada :c d e f g a b c
alat musik Perbandingan nadanya : 24 27 30 32 36 40 45 48
tiup modern Patokan : nada a = 440 Hz, Sifat Diatonik

Ruswati (2013) menggunakan pipa PVC terbuka pada kedua


ujungnya dan pipa PVC yang salah satu ujungnya tertutup untuk menentukan

5
kecepatan bunyi di udara. Hasilnya semua mendekati kecepatan bunyi di
udara secara teori. Pipa organa terbuka sangat sesuai dengan suling bambu.
Suara yang dihasilkan merupakan hasil dari resonansi akibat dibukanya
lubang yang ada di seruling tersebut. Suling bambu terbuka pada bagian satu
dan terbuka juga pada bagian lainya. Sistem suara pada suling bambu
merupakan representasi fenomena pipa organa terbuka Indonesia.

2.3. Nada
Pengamat mendengarkan suara penyanyi yang sangat merdu, tentu
telinga pengamat merasa dapat merasakan keindahan alunan yang merdu
tersebut. Suara merdu seorang penyanyi memiliki frekuensi yang teratur.
Bunyi yang frekuensinya teratur disebut nada, sedangkan bunyi yang
frekuensinya tidak teratur disebut desah ( bunyi yang frekuensinya tidak
teratur ).

Gambar 2. Nada pada suling


2.4. Pengertian sumber resonasi
Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena ada
benda lain yang bergetar dan memiliki frekuensi yang sama atau kelipatan
bilangan bulat dari frekuensi itu. Resonansi sangat bermanfaat dalam
kehidupan sehari-hari. Misalnya, resonansi bunyi pada kolom udara dapat
dimanfaatkan untuk menghasilkan bunyi. Berdasarkan hal tersebut, maka
dapat dibuat berbagai macam alat musik. Alat musik pada umumnya dibuat
berlubang agar terjadi resonansi udara sehingga suara alat musik tersebut

6
menjadi nyaring. Contoh alat musik itu antara lain: seruling, kendang, beduk,
ketipung dan sebagainya.
2.4.1. Resonasi pada pipa organa (seruling)
Pipa organa merupakan sejenis alat musik tiup. Bisa dicontohkan
sebagai seruling bambu. Anda tentu pernah melihat bahwa ada dua jenis
seruling bambu. Demikian juga dengan karakteristik pipa organa. Ada pipa
organa terbuka (kedua ujungnya terbuka) dan pipa organa tertutup (salah satu
ujungnya tertutup). Pipa organa merupakan semua pipa yang berongga di
dalamnya, bahkan Anda dapat membuatnya dari pipa paralon. Pipa organa ini
ada dua jenis yaitu pipa organa terbuka berarti kedua ujungnya terbuka dan
pipa organa tertutup berarti salah satu ujungnya tertutup dan ujung lain
terbuka. Kedua jenis pipa ini memiliki pola gelombang yang berbeda
a. Pipa organa terbuka
Pipa organa terbuka merupakan sebuah kolom udara atau
tabung yang kedua ujung penampangnya terbuka. Kedua ujungnya
berfungsi sebagai perut gelombang karena bebas bergerak dan
ditengahya ada simpul. Kolom udara dapat beresonansi, artinya dapat
bergetar. Kenyataan ini digunakan pada alat musik yang dinamakan
Organa, baik organa dengan pipa tertutup maupun pipa terbuka.
Dibawah ini adalah gambar penampang pipa organa terbuka.

Gambar 3. Penampang Organa Terbuka

7
Jika pipa organa ditiup, maka udara-udara dalam pipa akan
bergetar sehingga menghasilkan bunyi. Gelombang yang terjadi
merupakan gelombang longitudinal. Pola gelombang untuk nada
dasar ditunjukkan pada Gambar 4. Panjang kolom udara (pipa) sama
dengan (jarak antara perut berdekatan).

Gambar 4. Pola Organa Terbuka

Dengan demikian L = atau 1= 2L

Dan frekuensi nada dasar adalah

f1 = .(1)

Pada resonansi berikutnya dengan panjang gelombang 2


disebut nada atas pertama, ditunjukkan pada Gambar 4.b. Ini terjadi
dengan menyisipkan sebuah simpul, sehingga terjai 3 perut dan 2
simpul. Panjang pipa sama dengan 2. Dengan demikian, L = 2 atau 2
= LDan frekuensi nada atas kesatu ini adalah

8
f2 = ...(2)

Tampaknya persamaan frekuensi untuk pipa organa terbuka


sama dengan persamaan frekuensi untuk tali yang terikat kedua
ujungnya. Oleh karena itu, persamaan umum frekuensi alami atau
frekuensi resonansi pipa organa harus sama dengan persamaan umum
untuk tali yang terikat kedua ujungnya, yaitu

............................................................(3)

Dengan v = cepat rambat bunyi dalam kolom udara dan n = 1,


2, 3, . . . . Jadi, pada pipa organa terbuka semua harmonik (ganjil dan
genap) muncul, dan frekuensi harmonik merupakan kelipatan bulat
dari harmonik kesatunya. Flute dan rekorder adalah contoh instrumen
yang berprilaku seperti pipa organa terbuka dengan semua harmonik
muncul.

b. Pipa organa tertutup

Pipa organa tertutup merupakan sebuah kolom udara atau


tabung yang salah satu ujung penampangnya tertutup ( menjadi
simpul karena tidak bebas bergerak ) dan ujung lainnya terbuka
( menjadi perut ). sehingga gelombang longitudinal stasioner yang
terjadi pada bagian ujung tertutup merupakan simpul dan pada bagian
ujung terbuka terjadi perut. Gambar berikut menunjukkan
penampang pada pipa organa tertutup.

9
Gambar 5. Penampang Organa Tertutup

Jika ujung pipa organa tertutup, maka pipa organa itu disebut
pipa organa tertutup. Pada ujung pipa tertutup, udara tidak bebas
bergerak, sehingga pada ujung pipa selalu terjadi simpul. Tiga
keadaan resonansi di dalam pipa organa tertutup ditunjukkan pada
Gambar 6.

Gambar 6. Pola Organa Tertutup

Pola gelombang untuk nada dasar ditunjukkan pada gambar


6.a, yaitu terjadi 1 perut dan 1 simpul. Panjang pipa sama dengan
(jarakantara simpul dan perut berdekatan).

10
Dengan demikian, atau 1 = 4L, dan frekuensi nada dasar
adalah

........................................................................(1)

Pola resonansi berikutnya dengan panjang gelombang 3


disebut nada atas pertama, ditunjukkan pada gambar 6.b, Ini terjadi
dengan menyisipkan sebuah simpul, sehingga terjadi 2 perut dan 2

simpul. Panjang simpul sama dengan .

Dengan demikian, atau , dan frekuensi nada


atas kesatu ini adalah

.....................................(2)

Perhatikan bahwa frekuensi ini sama dengan tiga kali


frekuensi nada dasar. Selanjutnya akan Anda peroleh bahwa frekuensi
nada atas kedua, yang getarannya seperti ditunjukkan pada Gambar
3.8c adalah

.(3)

Tampak bahwa pada kasus pipa organa tertutup hanya


harmonik-harmonik ganjil yang muncul. Harmonik kesatu, f1,

11
harmonik ketiga f3 = 3f1, harmonik kelima f5 = 5f1, dan seterusnya.
Secara umum, frekuensi-frekuensi alami pipa organa tertutup ini
dinyatakan oleh :

.............................(4)

Alat musik yang termasuk keluarga klarinet merupakan contoh pipa


organa tertutup dengan harmonik ganjil untuk nada-nada rendah.

2.5. Mengukur kecepatan bunyi di udara menggunakan suling


bambu

Penentuan kecepatan bunyi di udara dilakukan dua kali yaitu dengan


menggunakan ralat diameter dan tidak menggunakan ralat diameter. Hasilnya
adalah Suling Laras Slendro Susunan nada : 1 2 3 5 6 i Sruti : 240 240 240
240 240 Satu Gembyangan : 1200 cents, sifat pentatonik Nada pada alat
musik tiup modern Susunan nada : c d e f g a b c Perbandingan nadanya : 24
27 30 32 36 40 45 48 Patokan : nada a = 440 Hz, Langkah-langkah yang
sudah didapatkan dan diuji kemudian dianalisis untuk diterapkan ke dalam
proses pembelajaran pada materi pipa organa. Suling bambu yang digunakan
adalah suling bamboo yang dijual bebas di pasaran. Panjang total 44,2 cm
dengan diameter 1,8 cm.

Percobaan eksperimen sederhana untuk penentuan kecepatan bunyi di


udara menggunakan suling bambu pentatonik serta ralatnya dapat dibagi
menjadi tiga bagian yaitu

2.5.1. Langkah-langkah penentuan kecepatan bunyi di udara menggunakan


suling bambu

12
Alat dan bahan yang diperlukan dalam percobaan penentuan
kecepatan kecepatan bunyi di udara dengan suling bambu adalah
Suling bambu mainan berlubang 6. Perhitungan kecepatan bunyi di
udara ini menggunakan konsep pipa organa terbuka pada seruling..
Prosedur percobaan pada eksperimen ini adalah

a) Mengukur suhu ruangan

b) Mengukur jarak antara lubang penghasil suara ke lubang nada


untuk semua lubang nada (lubang pertama adalah di ujung
terbuka, 6 lubang lain tertutup)

c) Membunyikan suling bambu nada demi nada

d) Menentukan frekuensi nada

e) Menghitung nilai kecepatan bunyi di udara dengan


menggunakan data-data yang diperoleh pada masing-masing
frekuensi menggunakan persamaan pada pipa organa terbuka.

Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa bunyi yang


dihasilkan bukan hanya nada pada frekuensi yang tepat melainkan
juga diperoleh nada dasar, nada dasar 1, nada dasar 2, dan seterusnya.
Penentuan frekuensi nada yang tepat harus dilakukan yaitu pada nada
yang mempunyai amplitudo paling besar. Suhu ruangan
mempengaruhi kecepatan udara di udara. Makin tinggi suhu akan
meningkatkan kecepatan bunyi di udara
2.5.2. Menentukan ruangan mengukur kecepatan bunyi di udara
menggunakan suling bambu

13
Ruangan yang digunakan dalam percobaan ini adalah ruang
keluarga. Apabila di ruang keluarga bisa diukur kecepatan bunyinya
maka di dalam laboratorium atau di kelas akan lebih dapat dilakukan
penentuan kecepatan bunyi diudara dengan lebih akurat
2.5.3. Perhitungan penentuan kecepatan bunyi di udara menggunakan suling
bambu
Perhitungan kecepatan bunyi di udara menggunakan

v
fn=n
persamaan 1. 2L dimana

1,2,3,4(1)
Analisis data menggunakan metode analisis rata-rata yaitu

v=
vi
menggunakan persamaan 2. N

..(2)
Sedangkan ralat menggunakan ralat rata-rata biasa yaitu pada

v v 1 2


persamaan 3.

Sv=

(3)
Suhu udara pada saat pengambilan data adalah 29 0C. Nada
pertama diperoleh dengan menutup seluruh lubang. Nada kedua
diperoleh dengan membuka lubang pertama. Nada ketiga diperoleh
dengan membuka lubang kedua dst. Panjang pipa organa diukur dari
ujung akhir lubang suara ke ujung seruling, untuk nada pertama dan
ke lubang untuk nada selanjutnya.

14
Perhitungan kecepatan bunyi di udara menggunakan suling
bambu tanpa ralat diameter. Diperoleh data percobaan pada table
tabel 2. Perhitungan kecepatan bunyi di udara menggunakan suling
bambu tanpa ralat diameter
No L (cm) f (Hz) V (m/s)
1 42,4 359 304,43
2 35 408 285,60
3 32,3 445 287,47
4 30 472 283,20
5 25,7 524 269,33
6 23,2 583 270,51
Rata-rata 283,43
Ralat 5,25

Hasil yang diperoleh dari hasil perhitungan kecepatan bunyi


diudara adalah v = 283,43 5,25 (m/s). Ralat yang diperoleh
cukup kecil akan tetapi hasil yang diperoleh sangat jauh dari teori
yaitu 343 m/s. Apabila dihitung perbedaanya adalah 59,57 m/s. Hal
ini menghasil perhitungan 83,63 % mendekati nilai teori. Namun hal
ini masih belum memuaskan.
Menurut Syed dan Hudhaifa (2013) untuk pipa dengan
perbandingan / antara 15 hingga 99 dimana D adalah diameter pipa
organa terbuka dan adalah panjang gelombang yang besarnya 2L
(dua kali panjang pipa) faktor koreksi ujung pipa adalah C = 0,486 D.
Prof. Dr. Dr. John Askill (2007) menambahkan ralat pada pipa organa
terbuka yaitu ralat corong mulut besarnya adalah D. Sehingga ralat
total adalah ralat gabungan keduanya menjadi C = 1,486 D. panjang
total seluruhnya adalah panjang awal ditambah ralat panjangnya
(persamaan 4)

= + = +
1,486.. (4)

15
Tabel 3. Perhitungan kecepatan bunyi di udara menggunakan suling
bambu dengan ralat diameter
No L (cm) f (Hz) L+1,486D (cm) V (m/s)
1 42,4 359 45,075 323,64
2 35 408 37,675 307,43
3 32,3 445 34,975 311,28
4 30 472 32,675 308,45
5 25,7 524 28,375 297,37
6 23,2 583 25,875 301,70
Rata-rata 308,31
Ralat 3,74

Kecepatan bunyi di udara berdasarkan perhitungan ralat


diameter adalah v = 308,31 3,47 (m/s) dengan diameter D =
1,8 cm. Apabila dibandingkan dengan teori yaitu 343 m/s didapatkan
perbedaan 34,69 m/s. Melihat hal tersebut dapat disimpulkan bahwa
dengan menggunakan ralat diameter diperoleh hasil 89,88 %
mendekati teori. Sehingga perhitungan dengan ralat diameter ini dapat
dipakai dengan tingkat kedekatan dengan teori yang cukup tinggi.
Kecepatan bunyi di udara yang diperoleh menggunakan
seruling bamboo yang umum dipakai dan dijual bebas ini belum
mencapai kecepatan sesuai teori.

16
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

1. Bunyi merupakan gelombang longitudinal yang dihasilkan dari benda-


benda yang bergetar. bunyi memiliki sifat-sifat dan karakteristik tertentu.
2. Resonansi merupakan peristiwa dimana suatu benda satu ikut bergetar
ketika benda lain juga bergetar, dipengaruhi oleh frekuensi yang sama
atau merupakan kelipatan dari frekuensi benda lain yang menimbulkan
getaran. Frekuensi dari benda yang ikut bergetar dikenal dengan frekuensi
alamiah.
3. Hasil yang diperoleh dari hasil perhitungan kecepatan bunyi diudara
menggunakan suling bambu tanpa ralat diameter adalah v = 283,43
5,25 (m/s). Sedangkan kecepatan bunyi di udara berdasarkan perhitungan
menggunakan Pemanfaatan Suling Bambu Pentatonik dengan ralat
diameter adalah v = 308,31 3,47 (m/s). Hasilnya tidak terlalu jauh
dari teori dan yang peling mendekati adalah perhitungan menggunakan
ralat diameter C = 1,486 D.
4. Kecepatan bunyi di udara yang diperoleh menggunakan seruling bambu
yang umum dipakai dan dijual bebas ini belum mencapai kecepatan
sesuai teori.
III.1. Saran

17
Perlu pendalaman yang lebih mengenai ralat diameter dan pengaruh
lainya pada kasus fenomena bunyi pada suling bambu pentatonik ini. Perlu
dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan formula ralat panjang
yang tepat untuk mendapatkan hasil perhitungan kecepatan bunyi diudara
dengan tepat.

DAFTAR PUSTAKA

Eko Nursulistiyo. 2015., Pemanfaatan Suling Bambu Pentatonik Sebagai Media


Pembelajaran Fisika, Program Studi Pendidikan Fisika FKIP UAD

Giancoli. D. C., 1998, Fisika, Jilid l. Erlangga: Jakarta

Resnick, R. dan Halliday, D.,1997, Fisikt. Jilid 2. Erlangga : Jakarta.

Ruswati. (2013)., Pengembangan Alat Eksperimen Pipa Organa Terbuka Dan


Tertutup Untuk Menghitung Cepat Rambat Bunyi Di Udara Menggunakan
Mbl (Microcomputer Based Laboratory), Program Studi Pendidikan Fisika
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Ahmad Dahlan

Syed dan Hudhaifa (2013), End Correction of a Resonant Standing Wave in Open
Pipes of Different Diameters, Journal of Natural Sciences Research, Vol.3,
No.4, International knowlegde Science Platform, IISTE

John Askill, 2007, Physics of Musical Sounds, http://fiziks.net/Music%20Sample


%20Chap ter%20Seven/musicsamplechapter7.htm, didownload 5 November
2015, pukul 01.00

18