Anda di halaman 1dari 2

Pada masa kedudukan Belanda banyak tanah dan lahan pertanian yang dikuasai oleh

mereka. Tanah dikuasai oleh para tuan tanah, sedangkan rakyat yang menjadi penggarap. Para
tuan tanah ini memiliki centeng yang artinya orang suruhan belanda yang ditugaskan untuk
menjaga rumah dan para penggarap sawah. Para centeng suka bertindak sewenang-wenang
dan kasar.

Dahulu, masih banyak lahan dan sawah yang berada di Jakarta dan sekitarnya. Seperti
contohnya di daerah Kemayoran yang dikenal sebagai daerah penghasil padi, sehingga daerah
ini dijuluki lumbung padi. Kesuburan sawah tersebut tidak dapat dinikmati oleh penduduk
pribumi. Kelompok yang merasakan hasil panennya hanyalah para kompeni dan orang-orang
yang dekat dengan kompeni Belanda. Pada umumnya kaum lelaki bekerja sebagai buruh tani,
sedangkan para wanita sebagai penderep saat panen tiba.

Di daerah ini tinggallah seorang pemuda yang soleh, baik, hormat kepada orang tua,
dan suka membantu warga dalam kesulitan, ia adalah Murtado. Murtado tekum menuntut
ilmu agama dan mempelajari bermacam ilmu lainnya, misalnya ilmu bela diri. Murtado tidak
suka dengan sikap para kompeni yang sewenang-wenangnya.

Banyak lahan sawah pertanian saat itu yang dikuasai oleh kompeni Belanda, salah
satu contohnya adalah Tuan Rusendal. Ia memiliki berhektar-hektar sawah di daerah
kemayoran. Apabila musim panen tiba, pagi harinya orang akan berbondong-bondong
menuju sawah untuk menuai padi. Mereka menggunakan ani-ani sebagai alat untuk
memotong tangkai padi. Ketika menjelang sore, mereka akan membawa padi hasil kerjanya
ke rumah Tuan Rusendal sebagai tuan tanah. Penderep akan diupah dengan mengambil satu
dari lima ikatan padi yang mereka panen.

Tuan Rusendal memiliki dua orang centeng yaitu Bek Lihun dan Mandor Bacan.
Kedua centeng ini suka bersikap kasar kepada masyarakat kemayoran dan memiliki watak
yang bengis. Suatu hari, ketika Mandor Bacan memeriksa hasil ikatan padi seorang penderep,
yaitu Midah, ia menemukan ikatan Midah tidak sama dengan ikatan penderep lainnya.
Mandor Bacan menuduh Midah mengikat padi lebih banyak untuk dirinya. Saat itu juga
Midah berusaha untuk meminta maaf, tetapi Mandor Bacan tetap tidak percaya dan ia pun
mendorong Midah hingga jatuh terjengkang.

Melihat kelakuan Mandor Bacan yang berlaku kasar terhadap Midah, maka Murtado
pun langsung menendang kaki Mandor Bacan hingga terjerembab. Terjadilah adu mulut dan
perkelahian diantara mereka. Pada akhirnya Mandor Bacan kalah dan ia pergi untuk
melaporkan kejadian tersebut kepada Bek Lihun. Mendengar penuturan Mandor Bacan
tersebut, timbullah amarah Bek Lihun dan bermaksud untuk balas dendam kepada Murtado.

Ketika Bek Lihun sedang duduk santai di warung kopi bersama dengan anak buahnya,
ia melihat Murtado sedang jalan melewati warung. Saat itu juga Bek Lihun memanggil
Murtado dan menantang Murtado untuk berkelahi. Tanpa pikir panjang Bek Lihun langsung
menyerang Murtado dengan cambuk saktinya. Terjadilah perkelahian yang hebat antara
Murtado dengan Bek Lihun, dan kedua belah pihak saling mengeluarkan jurus andalannya.

1
Setelah berkelahi cukup lama, akhirnya Bek Lihun dapat dikalahkan oleh Murtado.
Bek Lihun sungguh tidak dapat menerima kekalahan ini dan ia berniat untuk membunuh
Murtado. Beberapa hari setelah kejadian itu, secara tiba-tiba Murtado dikeroyok oleh
beberapa orang suruhan Bek Lihun, tetapi dengan sangat mudahnya Murtado dapat
mengalahkan mereka. Niat Bek Lihun untuk mengalahkan Murtado kembali gagal.

Bek Lihun terus mencari akal untuk menaklukkan Murtado. Ia menyebarkan fitnah
kepada warga bahwa Murtado telah melakukan pembunuhan dan ia melaporkan hal tersebut
ke polisi. Polisi pun langsung menangkap Murtado dan diinterogasi. Tetapi Murtado tidak
terbukti bersalah sehingga ia bebas dari hukuman. Dendam Bek Lihun semakin mendalam, ia
merencanakan pembunuhan sehingga ia menyewa beberapa pembunuh bayaran bernama
Kemplang, Boneng, dan Boseh. Mereka terkenal sangat bengis dan mau membunuh orang
hanya karena uang.

Tiga pembunuh tersebut menyelinap ke rumah Murtado dengan menggali lubang


sebagai jalan masuk. Saat itulah mereka langsung dihajar oleh Murtado dan berhasil
dikalahkan. Ketiga pembunuh tersebut langsung diserahkan ke kantor polisi dan di penjara.
Tetapi mereka tidak bertengger lama di penjara karena mereka mendapat jaminan dari Bek
Lihun. Kehebatan Murtado semakin dikenal penduduk. Masyarakat Kemayoran mencintai
Murtado dan banyak para gadis yang jatuh hati padanya. Tetapi Murtado hanya menyukai
Midah yang pernah diselamatkannya dahulu.

Waktu terus berlalu, tetapi perampokan harta penduduk semakin merajalela. Rumah
Tuan Rusendal pun menjadi sasaran perampok. Oleh karena itu, Tuan Rusendal
memerintahkan Bek Lihun untuk meringkus perampok-perampok tersebut, tetapi selalu
gagal. Pada akhirnya Bek Lihun meminta bantuan Murtado untuk mengakap para perampok.
Murtado menyanggupinya hanya semata untuk melindungi warga yang tertindas.

Murtado dibantu kedua teman seperguruannya, Sarpin dan Saomin menyusun rencana
untuk menangkap para perampok. Mereka menyelidiki gerak gerik mencurigakan hingga
akhirnya menemukan rumah penyimpanan barang rampokan, yaitu rumah Warsa. Pada saat
para perampok sedang berunding, Murtado dan kedua temannya langsung mengepung dan
terjadilah perkelahian yang hebat diantara mereka. Dalam waktu yang singkat, akhirnya para
perampok dapat dikalahkan dan langsung diserahkan ke kantor polisi beserta baran gbukti
rampokannya.

Keberhasilan ini menjadikan Murtado semakin terkenal, dan ia disegani kawan dan
lawan. Berkat keberaniannya menumpas kejahatan ia dijuluki Macan Kemayoran. Tuan
Rusendal berniat mengangkat Murtado sebagai bek di Kemayoran tetapi Murtado menolak
dengan halus tawaran tersebut. Ia lebih memilik menjadi pelindung dan pembela rakyat kecil.
Pada akhirnya, Murtado menikahi Midah dan melanjutkan hidupnya di Kemayoran.