Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Belajar merupakan sesuatu yang terjadi sebagai hasil atau akibat dari pengalaman
dan mendahului perubahan perilaku. Belajar dapat mengakibatkan perubahan perilaku
ketika belajar relatif permanen. Ada beberapa perilaku yang bukan merupakan hasil dari
belajar, yakni respon bawaan, gerak refleks, kematangan akibat pertumbuhan dan
kelelahan. Belajar penting dilakukan agar seseorang dapat memperbaharui
pengetahuannya. Selain itu, seseorang belajar agar tidak ketinggalan zaman dan tidak
akan tersaingi oleh generasi muda.

Penelitian mengenai teori belajar banyak dilakukan oleh para ahli psikologi. Salah
satunya adalah Donald Olding Hebb. Hebb awalnya mengikuti teori Pavlov, kemudian
dia beralih ke teori Gestalt dan Lashley yaitu teori yang menekankan pada otak manusia.
Menurutnya, otak merupakan stasiun relay, yaitu suatu kejadian ditangkap oleh sensor
dapat menstimulasi suatu daerah tertentu di otak dan dapat menyebabkan terjadinya
reaksi.

Dalam makalah ini akan dijelaskan lebih dalam mengenai teori belajar dari Hebb,
konsep teoretis utama, riset neurotransaitifik, serta evaluasi teori Hebb. Diharapkan
kepada semua pihak untuk dapat memahami materi yang ada di dalam makalah ini
sehingga dapat membantu pada masa mendatang, baik dalam bidang penelitian maupun
bidang lainnya.

1.2. Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana Biografi kehidupan Donald Olding Hebb?
b. Apa saja konsep teoretis utama dari teori Donald Olding Hebb?
c. Bagaimana pengaruh Hebb terhadap riset neurotransaintifik?
d. Apa itu sel Riil dan Kumpulan Sel Riil menurut Hebb?
e. Bagaimana pandangan Donald Olding Hebb tentang pendidikan?
f. Bagaimana evaluasi terhadap teori Donald Olding Hebb?

1.3. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas maka didapatkan tujuan sebagai berikut:
a. Mengetahui biografi Hebb
b. Mengetahui dan memahami konsep teoretis utama dari teori Hebb

1
c. Mengetahui dan memahami pengaruh Hebb terhadap riset neurotransaintifik
d. Mengetahui sel Riil dan Kumpulan Sel Riil menurut Hebb
e. Mengetahui bagaimana pandangan Hebb tentang pendidikan
f. Mengetahui dan memahami evaluasi terhadap teori Hebb

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Biografi Donald Olding Hebb

Donald Olding Hebb lahir pada 22 Juli 1904 di Chester, Nova Scotia. Pada 1925, Hebb
meraih B.A. dari Dalhousie University dengan nilai minimal. Karena Hebb adalah salah satu

2
periset dan teoritis paling kreatif dalam psikologi, nilai sarjanya dalam kasus ini tidak
mempresentasikan keadaannya. Pada usia 23 tahun, dia membaca karya Freud dan merasa
bahwa ilmu psikologi masih perlu diperbaiki. Selain ingin menjadi pembaru pendidikan,
Hebb juga ingin menulis novel untuk mendapat nafkah, tapi usahanya gagal.

Selama di McGill, Hebb dididik dalam tradisi Pavlovian, dan dia mendapatkan gelar
M.A. pada tahun 1932. Meski dididik dalam tradisi Pavlovian, dia melihat ada keterbatasan
dalam teori Pavlovian dan meragukan arti pentingnya. Saat di McGill ini, Hebb membaca
Gestalt Psychology karya Kohler dan karya Lashley mengenai fisiologi otak, dan dia
menyukai keduanya.

Pada tahun 1937, Hebb bekerja ke Montreal Neurological Institute untuk bekerja bersama
ahli bedah otak terkenal Wilder Penfield. Tugas Hebb mempelajari status psikologis dari
pasien Penfield setelah pembedahan otak. Yang mengejutkan Hebb, dia menemukan bahwa
setelah kehilangan banyak jaringan dari cuping bagian depan otak, tidak terjadi penurunan
atau hilangnya kecerdasan, dan dalam beberapa kasus dia bahkan mendeteksi adanya sedikit
peningkatan kecerdasan. Dalam beberapa kasus, hilangnya sebagian jaringan itu mencapai 20
persen.

Setelah meneliti pasien Penfield selama lima tahun (1937-1942), Hebb (1980) mengambil
kesimpulan tentang inteligensi yang kelak menjadi bagian penting dari teorinya,:
Pengalaman di masa kanak-kanak biasanya akan mengembangkan konsep, mode pemikiran,
dan cara memahami sesuatu, yang menjadi unsure penyusun inteligensi. Cedera pada otak
bayi akan mengganggu proses itu, tetapi cedera yang sama pada usia dewasa, tidak.

Pada saat itu Hebb telah membuat tiga observasi yang kelak akan dijelaskan lewat
teorinya :

1. Otak tidak berperan seperti stasiun relai (penghubung), seperti yang diyakini oleh
behavioris dan asosiasionis. Jika asumsi itu benar, hilangnya sebagian jaringan otak
tentu akan sangat mengganggu.
2. Inteligensi (kecerdasan) berasal dari pengalaman, dan karenanya tidak ditentukan
secara genetik.
3. Pengalaman masa kanak-kanak lebih penting dalam memengaruhi kecerdasan
ketimbang pengalaman masa dewasa.

3
Pada tahun 1942, Hebb ikut dengan Lashley ke Florida, dan saat di Yerkes Laboratories
(1942-1947), Hebb meneliti emosi dan personalitas simpanse dan melakukan beberapa
observasi yang menstimuli teori belajar dan persepsi neurofisiologisnya. Setelah beralih dari
behaviorisme yang berasal dari teori Pavlov, Hebb melancarkan serangan terhadap
behaviorisme sepanjang hidupnya. Buku utama pertamanya adalah The Organization of
Behavior (1949). Kemudian setelah pensiun dari McGill University pada tahun 1974, Hebb
kembali ke tanah kelahirannya, dan tetap aktif secara fisik dan di dunia psikologi sampai dia
meninggal pada tanggal 20 Agustus 1985.

2.2. Konsep Teoritis Utama

Lingkungan Terbatas

Beberapa eksperimen menunjukkan efek restricted environment (lingkungan terbatas)


yang bisa melemahkan perkembangan belajar awal dan perkembangan sistem saraf. Ahli
ophthalmologi dari Jerman, von Senden (1932), meneliti orang dewasa yang dilahirkan
menderita katarak bawaan yang tiba-tiba mampu melihat setelah katarak itu dioperasi.
Ditemukan bahwa individu ini dapat dengan sengaja mendeteksi kehadiran suatu objek, tetapi
mereka tidak bisa mengidentifikasinya dengan menggunakan petunjuk visual saja. Temuan
ini menunjukkan bahwa beberapa persepsi tentang bentuk adalah sifat bawaan (innate),
namun pengalaman visual dengan berbagai macam objek adalah perlu sebelum objek-objek
itu dapat dibedakan satu sama lain.

Austin Riesen (1947) membesarkan bayi-bayi simpanse di situasi kegelapan pekat


sampai usianya dua tahun. Saat mereka akhirnya dikeluarkan dari kegelapan mereka
bertingkah seperti buta. Tetapi, selama beberapa minggu kemudian mereka mulai melihat dan
akhirnya berperilaku seperti simpanse lain yang dibesarkan secara normal. Hebb
menyimpulkan bahwa orang dewasa yang dipelajari von Senden dan simpanse yang diteliti
Riesen telah belajar untuk melihat.

Lingkungan yang Kaya

Apabila lingkungan yang amat terbatas menyebabkan gangguan dalam perkembangan


normal, maka enriched environment (lingkungan yang kaya), merupakan lingkungan dengan
berbagai macam pengalaman motor dan sensorisakan memperkaya perkembangan. Hebb
melakukan eksperimen pada tikus untuk meneliti efek jenis kondisi pengasuhan yang berbeda
terhadap perkembangan intelektual. Dari eksperimen yang dilakukannya, ditemukan bahwa

4
kinerja tikus piaraan dalam memecahkan jalur teka-teki jauh lebih baik ketimbang tikus yang
dibesarakan di sangkar laboratorium.

Diversitas sensoris yang disediakan oleh lingkungan yang kaya memungkinkan


hewan membangun lebih banyak sirkuit atau jaringan neural (saraf) yang lebih kompleks.
Setelah berkembang, sirkuit neural ini akan dipakai dalam proses belajar yang baru.
Pengalaman sensoris sederhana dalam lingkungan yang miskin akan membgeraatasi sirkuit
neural atau menunda perkembangannya dan hewan yang dibesarkan dalam lingkungan ini
akan kurang bagus dalam memecahkan problem. Implikasi dari riset ini untuk pendidikan dan
pengasuhan anak adalah jelas: Semakin kompleks lingkungan sensoris awal, semakin baik
perkembangan keterampilan pemecahan masalahnya.

Kumpulan Sel

Menurut Hebb, setiap lingkungan yang kita alami akan menstimuli pola neuron yang
kompleks, yang dinamakan cell assembly (kumpulan sel). Cell assemblies merupakan
sekelompok neuron yang aktif karena suatu objek di lingkungan dan hal yang kita alami.
Neuron-neuron dapat meninggalkan/bergabung dengan cell assemblies sehingga cell
assemblies dapat disempurnakan melalui proses belajar. Cell assembliesdapat kecil/besar
tergantung dari objek lingkungan yang direpresentasikan. Misalnya, saat kita melihat pensil,
kita akan menggeser perhatian kita dari ujung atas sampai ujung bawah. Saat perhatian kita
bergerak, neuron-neuron yang berbeda menjadi aktif. Saat semua neuron yang distimulasi
oleh aspek-aspek yang berbeda dari pensil itu sudah terstimulasi, hasilnya adalah persepsi
dan identifikasi pensil.

Postulat neurofisiologis Hebb (1949) mengemukakan mekanisme yang


menyebabkan neuron yang terpisah menjadi terhubung menjadi kumpulan sel yang stabil,
dan yang menyebabkan kumpulan itu diasosiasikan dengan kumpulan lainnya: Ketika
sebuah axon dari sel A cukup dekat untuk mengaktifkan sel B dan berkali-kali atau selalu ikut
berperan dalam mengaktifkannya, maka akan terjadi proses pertumbuhan atau perubahan
metabolis di salah satu atau kedua sel tersebut sehingga efisiensi A, sebagai salah satu sel
yang mengaktifkan B, akan meningkat.

Sekuensi Fase

Sebagaimana aspek-aspek yang berbeda dari objek yang sama menjadi saling terkait
secara neurologis membentk kumpulan sel, demikian pula kumpulan sel secara neurologis

5
menjadi saling terkait membentuk urutan fase. Sebuah phase sequence (sekuensi fase) adalah
serangkaian aktivitas kumpulan yang terintegrasi secara temporer; ia sama dengan arus
pemikiran. Setelah berkembang, sebuah urutan atau sekuensi fase seperti kumpulan sel,
dapat diaktifkan oleh stimuli internal, stimuli eksternal, atau kombinasi kedua stimuli itu.

Sejumlah cell assemblies dapat berhubungan secara neurologis, sehingga membentuk


urutan urutan fase. Satu urutan fase adalah serangkaian aktivitas cell assemblies yang
terpadu dalam kaitannya dengan waktu. Jika satu cell assemblies atau kombinasi dari
sejumlah cell assemblies dari suatu urutan fase terangsang, maka keseluruhan urutan fase
tersebut akan terangsang juga. Contohnya saat melihat perayaan ulang tahun teman, maka
kita akan mengingat kejadian waktu perayaan ulangtahun kita juga (muncul imajinasi tentang
hal-hal yang terjadi di masa lalu). Cell assemblies yang aktif dalam waktu bersamaan akan
membentuk suatu hubungan.

Menurut Hebb, ada dua jenis belajar. Yang pertama melibatkan pembentukan
kumpulan sel secara pelan di masa awal kehidupan dan mungkin dapat dijelaskan dengan
salah satu teori belajar S-R, seperti teori Guthrie. Jenis belajar ini adalah asosiasionisme
langsung. Demikian pula perkembangan sekuensi fase dapat dijelaskan dengan terminologi
asosiasionistik. Yakni, objek dan kejadian yang saling terkait dalam lingkungan menjadi
terkait di level neurologis. Setelah kumpulan sel dan urutan fase berkembang, proses belajar
selanjutnya lebih kognitif dan dapat terjadi lebih cepat. Proses belajar anak akan menjadi
kerangka dasar untuk proses belajar selanjutnya.

Teori Kewaspadaan/Kesiapan

Hebb membahas hubungan antara level stimulasi dengan pelaksanaan fungsi kognitif
ini dalam konteks arousal theory (teori kewaspadaan). Teori ini berhubungan dengan
pelaksanaan fungsi reticular activating system (system pengaktivan reticular [RAS]), area
seukur jari yang berada di otak di atas urat saraf tulang belakang dan dibawah thalamus dan
hypothalamus. RAS terlibat dalam proses tidur, perhatian, dan perilaku emosional.

Menurut Hebb (1955), impuls neural yang dimunculkan oleh stimulasi dari satu
reseptor indra memiliki dua fungsi. Yang pertama dinamakan cue function of a stimulus
(fungsi petunjuk dari suatu stimulus), yang berfungsi agar stimulus ini memungkinkan
organism mendapat informasi tentang lingkungan. Fungsi kedua adalah arousal function of

6
stimulus (fungsi kewaspadaan dari suatu stimulus), yang penting bagi impuls untuk
mengubah aktivitas dalam RAS.

Hebb (1955) percaya agar fungsi petunjuk dari suatu stimulus memberikan efek
secara penuh, harus ada optimal level of arousal (level kewaspadaan optimal) yang
disediakan oleh RAS. Ketika level kewaspadaan ini terlalu rendah, seperti saat organism
sangat mengantuk, informasi sensoris yang ditransmisikan ke otak tidak dapat digunakan.
Hebb berspekulasi bahwa tugas-tugas yang berbeda yang berhubungan dengan performa
optimal.

Teori Kewaspadaan dan Penguatan

Menurut Hebb, jika level kewaspadaan terlalu tinggi, ia akan beroperasi pada lingkungan
dengan cara sedemikian rupa untuk mereduksi level itu. Di sisi lain, jika lingkungan terlalu
sepi dan tidak cukup input sensoris untuk mempertahankan level kewaspadaan yang optimal.
Secara umum, ketika level kewaspadaan terlalu tinggi, menurunkannya akan menguatkan,
dan ketika level kewaspadaan terlalu rendah, menaikkannya akan menguatkan. Teori Hebb
menyamakan penguatan dengan peningkatan atau penurunan dorongan, tergantung pada
situasi.

Deprivasi Sensoris

Sensory Deprivation (deprivasi sensori) menghasilkan efek lebih dari sekadar kejenuhan.
Pengalaman sensoris bukan hanya perlu untuk perkembangan neurofisiologis yang tepat,
tetapi juga perlu untuk menjaga fungsi normal. Setelah kejadian yang konsisten dalam
kehidupan seseorang direpresentasikan secara neurofisiologis dalam bentuk kumpulan sel
urutan fase, mereka mendapat dukungan dari kejadian di lingkungan. Menurut Hebb, selain
kebutuhan pokok umum yang harus dimiliki oleh organism seperti makanan, seks, dan yang
lalinnya, organism juga mempunya kebutuhan yaitu stimulasi. Bahkan jika semua kebutuhan
pokok itu terpenuhi, jika seseorang tidak merasakan stimulasi normal, dia akan mengalami
disorientasi yang parah.

Sifat Rasa Takut

Hebb percaya rasa takut yang spontan menggugurkan penjelasan berdasarkan teori respons
yang dikondisikan. Penjelasan itu menjelaskan bahwa menekankan pengulangan
penyandingan objek netral dengan stimulus aversif. Rasa takut yang muncul dengan cara ini

7
akan berkembang perlahan melalui pengalaman. Tetapi hal ini tidak terjadi dalam kasus
ketakutan yang diamati oleh Hebb. Jika sebuah objek yang sama sekali asing ditunjukkan
kepada suatu organisme, tidak ada kumpulan sel yang telah terbentuk yang berhubungan
objek itu. Penjelasan Hebb mengenai rasa takut ini membantu menjelaskan sifat traumatis
dari deprivasi sensoris. Contohnya saat seseorang sedang bersama mayat, saat tiba-tba
mendengar suara rintihan kesakitan. Dilihat mulut mayat tersebut tidak bergerak, tapi kita
yakini suara tersebut dari mayat tersebut karena tidak ada orang lain di sana, maka akan
timbul rasa takut. Rasa takut juga dapat terjadi saat organisme mengalami sensory
deprivation.

Memori Jangka Panjang dan Jangka Pendek

Hebb membedakan antara antara memori permanen, yang dihubungkan dengan


perubahan struktur fisik diantara neuron-neuron, dan memori sementara (transient), atau
memori jangka pendek, yang dihubungkannya ke aktivitas yang sedang berlangsung dalam
kumpulan sel dan sekuensi fase. Periset kini umumnya sepakat bahwa ada dua jenis memori,
yaitu memori jangka panjang dan memori jangka pendek. Secara umum diasumsikan bahwa
pengalaman indrawi akan membangkitkan aktivitas neural yang bertahan lebih lama
ketimbang stimulasi yang menyebabkannya. Hebb menyebutnya sebagai reverberating
neural activity (aktivitas neural yang bergema). Pendapat bahwa memori jangka pendek
diterjemahkan ke dalam memori jangka panjang disebut sebagai consolidation theory.
Memori jangka pendek dilihat sebagai aktivitas neural yang relatif sementara yang dipicu
oleh stimulasi sensoris tetapi terus berlanjut selama beberapa waktu setelah kejadian sensoris
itu berhenti.

Karena memori jangka panjang dianggap bergantung pada konsolidasi memori jangka
pendek, maka segala sesuatu yang mengganggu memori jangka panjangjuga akan
mengganggu memori jangka pendek. Berdasarkan pendapat ini, Duncan (1949) melatih tikus
untuk melompat suatu palang untuk menghindari setrum listrik. Sesudah setiap percobaan,
masing-masing hewan diberi electroconvulsive shock (ECS) melalui dua elektroda yang
didekatkan pada telinganya. Semakin dekat dengan selang ECS percobaan, semakin besar
gangguannya terhadap memori pengalaman belajar.Bukti lain bagi teori konsolidasi datang
dari fenomena yang disebut retrograde amnesia (amnesia yang memburuk), yakni hilangnya
memori tentang suatu kejadian sebelum terkena pengalaman traumatis.

Konsolidasi dan Otak

8
Sejumlah struktur otak yang saling terkait, yang secara kolektif disebut limbic system, adalah
penting bagi pengalaman berbagai macam emosi. Hippocampus adalah salah satu struktur
limbik yang berperan penting dalam proses belajar. Memori deklaratif melibatkan memori
tingkat yang lebih tinggi, termasuk memori tentang sesuatu yang baru dipelajari. Kerusakan
pada hippocampus dan struktur lain dalam cuping temporal medial akan menghambat
konsolidasi memori deklaratif, tetapi, tidak merusak tipe memori jangka panjang lainnya.
Kesimpulannya, Hebb adalah salah seorang yang pertama kali mencari korelasi
neurofisiologis dari fenomena-fenomena psikologis, seperti belajar.

2.3. Pengaruh Hebb Terhadap Riset Neurosaintifik


Pusat Penguatan di Otak

Serendipity, yakni menemukan sesuatu hal saat mencari hal yang lain, membawa kita pada
penemuan fenomena penting dan terkadang menjadi terobosan ilmiah. Contoh lain dari
penemuan tidak sengaja dalam ilmu pengetahuan adalah penemuan reinforcement centers
inthe brain (pusat penguatan di otak) oleh Olds dan Miller (1954). Olds dan Milner (1954)
dipuji karena menemukan pusat kesenangan di otak. Karakteristik yang tidak biasa dan
beroperasi secara berbeda dengan penguat primer :

1. Tidak diperlukan deprivasi sebelum training.


2. Kepuasan tidak terjadi.
3. Lebih diprioritaskan ketimbang dorongan lain.
4. Adanya pelenyapan yang cepat.
5. Kebanyakan jadwal penguatan tidak bekerja.

Peran dopamine, riset yang belakangan tentang pusat penguatran difokuskan pad abagian
kecil dari sistem limbik yang dinamakan nucleus accumbens.

Riset Terhadap Belahan Otak

Corpus callosum adalah kumpulan serat yang menghubungkan dua bagian otak. Selama
bertahun-tahun, fungsi corpus callosum tidak diketahui, tetapi pada awal 1960-an, ditemukan
bahwa ia berperan penting dalam mentransfer informasi dari satu belahan otak ke belahan
lainnya. Ada dua rute transfer, corpuscallosum dan optic chiasm. Opticchiasm adalah titik
dalam saraf optik dimana informasi yang berasal dari satu mata diproyeksi ke sisi otak yang
berkebalikan dengan mata itu. Kemudian ada namanya split-brain preparation (preparasi
belahan otak) ini dipakai manausia. Prosedurnya sangat penting untuk memberikan informasi
tentang bagaimana belahan otak kiri dan kanan berbeda dalam memproses informasi.

9
Proses Belajar dan Pemrosesan Informasi Otak Kiri dan Otak Kanan

Meskipun ada sedikit perbedaan anatomi antara belahan otak kiri dan kanan,
perbedaan fisik ini tidak sebesar perbedaan fungsi keduanya. Kontrol atas gerakan dan
sensasi tubuh terbagi rata diantara dua belahan otak, tetapi dengan cara bersilangan. Temuan
bahwa bagi mayoritas orang area kemampuan bicara berada di otak kiri tetapi tidak ada di
otak kanan telah memberikan bukti ilmiah bahwa kedua otak itu berfungsi tidak asimetris.
Ditemukan bahwa individu yang mengalami kerusakan di otak kanan kemungkinan akan
menunjukkan kesulitan dalam memerhatikan atau gangguan persepsi. Individu yang
mengalami gangguan di otak kanan lebih mungkin menunjukkan neglect syndrome (sindrom
pengabaian) ketimbang mereka yang mengalami gangguan di otak kiri.

Fungsi Belahan Otak di Otak Normal

Setiap belahan otak dapat memahami, belajar, mengingat, dan merasa secara terpisah atau
independen.Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana dua
belahan otak berdungsi dengan normal dan sehat yaitu dichotic listening. Doreen Kimura
adalah orang pertama yang menggunakan sebagai metode yang aman dan reliabel untuk
meneliti ketidaksimetrisan serebral dalam subjek normal. Teknik dichotic listening adalah
mengirimkan informasi yang saling bersaing, seperti sepasang suku kata atau angka ke
telinga kiri dan kanan secara bersamaan melalui headphone stereo. Informasi yang diberikan
ke telinga kiriakan dikirim terutama ke otak kanan dan informasi dari telinga kanan akan
dikirim ke otak kiri. Dalam kebanyakan manusia otak kiri bertanggung jawab atas
pengolahan informasi verbal.

Spekulasi

Perbedaan cara memproses pemikiran merefleksikan dua jenis kecerdasan belahan otak.

Otak Kiri Otak Kanan


Intelek Intuisi
Konvergen Divergen
Realistis Impulsif
Intelektual Sensual
Diskret Kontinu
Terarah Bebas

10
Rasional Intuitif
Histroris Nir-Waktu
Analitis Holistis
Suksesif Simultan
Objektif Subjektif
Atomistis Umum

Dikotomania adalah usaha menemukan dikotomi diatas dan kemudian menjelaskan


eksistensinya dalam term cara belahan otak memproses informasi. Jerre Levy berpendapat
bahwa dua belahan otak berfungsi berbeda namun mustahil untuk memisahkan fungsi-fungsi
itu dalam otak yang normal dan sehat. Gzzaniga dan LeDoux (1978) setelah melakukan
banyak percobaan menyimpulkan bahwa miskonsepsi populer tentang dikotomi ini adalah
akibat dari eksperimen yang didesain dengan buruk yang hasilnya ditentukan oleh bias respon
bukan pernedaam belahan otak. Data eksperimental dipengaruhi oleh tipe respons partisipan
eksperimental bukan proses perseptual atau kognitif yang mendahului respons. Otak kiri akan
berkemampuan bagus saat mengerjakan tugas yang berkaitan dengan menulis dan berbicara.
Otak kanan dominan dengan menggambar, membangun, menyentuh, dan merasakan.
Meskipun dua belahan otak memiliki ketrampilan yang berbeda namun mereka memahami,
mempelajari, dan memproses dengan cara yang sama.

2.4. Sel Riil dan Kumpulan Sel Riil


Sebuah neuron terdiri atas satu tubuh sel; satu atau lebih proses yang lebih luas dinamakan
axon, yang dikhususkan untuk menghantarkan informasi elektrokimiawi menjauhi sel, dan
berbagai cabang dendrites, yang dikhususkan untuk menerima informasi elektrokimiawi dari
axon sel lain.

11
Dalam kasus neuron mamalia sel-selnya terlibat dalam proses metabolis yang berfungsi
utama untuk menjaga ion-ion sodium berada di luar sel dan menjaga ion-ion potasium tetap
ada di dalam. Keadaan ketegangan yang seimbang ini dinamakan dengan resting potential
dari sel. Sel-sel otak berhubungan dengan ratusan atau ribuan sel dimana aktivitasnya adalah
hasil dari penyajian terus-menerus informasi dari sel-sel sekitarnya. Belajar membutuhkan
perubahan dalam hubungan antara dua sel dan ini adalah level dimana Hebb memfokuskan
diri untuk pertama kalinya. Belajar terdiri dari perubahan dalam respons sel penerima
terhadap neurotransmitter yang dilepaskan oleh sel pengirim.

Belajar dalam Aplysia

Hambatan utama untuk memahami mekanisme belajar, rekrutmen, fraksionasi adalah


banyaknya jumlah neuron yang terlibat di dalam perilaku mamalia, bahkan yang paling
sederhana. Eric Kandel dan rekannya memecahkan masalah dengan meneliti moluska di
lautan yang tidak punya cangkang yang disebut Aplysia, yang punya sistem saraf yang
sederhana namun menunjukkan perilaku yang sama dengan fenomena kumpulan sel.
Punggung hewan lautan ini memiliki tiga organ eksternal yang dinamakan gill (seperti
insang), mentel pelindung, dan siphon. Ketiga struktur ini mengerut ke dalam ketika mantel
atau siphon disentuh. Ketiga struktur ini akan mengerut ke dalam ketika mantel atau
siphondisentuh.

12
Kejadian kritis yang memediasi habituasi adalah berkurangnya pelepasan neurotransmitter
dari neuron sensoris yang berfungsi sebagai sinyal bagi neuron motor yang memicu gerak
mengerut refleksif di organ eksternal tersebut.

Proses reaktivasi yang dinamakan dengan sensitisasi terjadi ketika misalnya setrum listrik
diberika ke ekor hewan. Setelah disetrum stimulasi yang lemah kembali menghasilkan refleks
mengerut. Sensitisasi adalah proses yang lebih kompleks ketimbang habituasi. Sensitisasi
melibatkan konstruksi kumpulan sel tiga elemen yang terdiri dari neuron sensoris,
interneuron, dan neuron motor, dan menjadi model bagi gagasan rekruitmen Hebb.

Potensiasi Jangka Panjang

Karya Kandell menjawab bagaimana pola komunikasi antara sel bisa berubah. Mekanisme
lainnya disebut long term potentiation. Kekuatan koneksi dengan bagian lain hippocampus
disimpulkan dengan mencatat penyebaran aktivitas neuroelektrikal yang diawali oleh denyut
listrik lemah tersebut. Sel di area hippocampus yang dinamakan perforant path terstimulasi
dan penyebarannya dicatat di dalam dan di dekatr area hippocampal dinamakan denate gyrus.
LTP terjadi di beberapa area hippocampus. Di bagian lain hippocampus LTP tidak akan
terjadi kecuali stimulasi lemah dan stimulasi yang kuat dan berfrekuensi tinggi secara
bersamaan. LTP asosiatif melibatkan kejadian yang dideskripsikan dalam postulat
neurofisiologis Hebb. Sel penngirim dengan pengaruh lemah pada sel penerima adalah aktif
pada saat yang sama ketika sel penerima itu distimulasi oleh sel pengirim lain yang lebih kuat
dan berpengaruh. Ilmuwan menyebut synapse antara neuron dalam tatanan ini sebagai
Habbian synapse. Sebuah neurotransmitter yang disebut glutamate memediasi efek, tetapi ada
dua tipe reseptor glutamate dendritik yang salah satunya dinamakan reseptor NMDA di
dekatnya yang ada di sel penerima yang sama juga distimulasi oleh glutamate.

Ketika seekor tikus berada dalam lingkungan baru dan kompleks menjalankan serta
menjalankan perilaku eksplorasi kita dapat mencatat serangkaian denyut berfrekuensi rendah
yang dihasilkan secara internal yang dimulai di dekat perforant pathdan memengaruhi sel-sel
di dekat dentate gyrus.

Depresi Jangka Panjang

Belajar membutuhkan rekrutmen kumpulan sel dan sekuensi fase yang diperlukan untuk
memunculkan perilaku motor atau kognitif dan juga melibatkan eliminasi sekuensi fase yang
tidak dibutuhkan atau yang mengganggu kerja. Long term depression menyediakan

13
mekanisme dimana neuron yang mulanya merupakan bagian dari kumpulan sel dihilangkan.
LTD tampak dari cerebellumbaga=ian dari korteks.

Neuroplastisitas

Neuroplastisitas adalah istilah untuk mendeskripsikan kemampuan otak untuk mereorganisasi


atau memodifikasi koneksinya sebagai hasil dari pengalaman. Periset plastisitas menyebut
fungsi heuristik dari teori Hebb telah memicu dan memandu riset-riset yang mengungkapkan
perkembangan koneksi synaptic baru.

-Pengalaman dan Perkembangan Dendrites

Pertambahan panjang dendrites neuron dan tempat reseptor akan menimbulkan koneksi
synaptic baru dan tercermin dalam perubahan perilaku atau kognitif. Pengkajian post mortem
atas otak manusia menunjukkan bahwa dendrites dalam area bahasa di otak adalah lebih
kompleks di kalangan orang yang pernah menjadi mahasiswa dibandingkan dengan tamatan
SMA. Wanita sering mendapat nilai lebih tinggi ketimbang laki-laki pada tes kemmapuan
verbal dan periset juga menemukan penataan dendriteslebih luas dalam area bahasa wanita
ketimbang laki-laki. Area otak yang mengontrol pemikiran tingkat tinggi memiliki lebih
banyak dendritesketimbang area yang mengontrol batang tubuh. Dendrites yang memprantai
proses kognitif yang canggih akan memiliki fungsi kontrol yang lebih luas ketimbang
dendritesyang mengontrol fungsi langsung (jari jemari).

-Belajar Kembali Setelah Cedera Otak

Cedera otak yang disebabkan oleh strokemenyebabkan matinya neuron dan sel-sel tidak
diregenerasi. Setelah terkena stroke hilangnya kontrol atas tangan atau terganggunya
kemampuan bicara sering disebabkan oleh matinya sel-sel yang berkaitan dengan
pengontrolan gerak tangan atau bahasa. Dalam term Hebb pemulihan melibatkan
perkembangan kumpulan sel baru dan sekuensi fase baru. Alat pemindai positron emission
tomography (PET)menunjukkan pemulihan pasca stroke adalah disebabkan oleh rekrutmen
pola synaptic baru yang biasanya tidak ada dalam otak yang sehat. Teknologi lain yang
disebut magnetoencephalography(MEG) untuk pasien stroke yang juga terkena anomia.

-Mekanisme yang Kompleks

Plastisitas dimodulasi oleh pertumbuhan yang menstimulasi protein yang diberi nama
neurophins. Misalnya faktor perrtumbuhan saraf dan faktor neurotrophis dari otak. Hormon

14
seks juga memainkan peran penting dalam menentukan morfologi, neuron, dan level hormon
seks adalah mediator penting. Stres mereduksi plastisitas demikian juga dengan depresi klinis
namun pengalaman dan kegiatan baru akan meningkatkan plastisitas.

Mekanisme plastisitas menarik meski dalam teori silent synapse. Synapse diam adalah
koneksi synaptic yang karena beberapa alasan tidak fungsional selama aktivitas normal dalam
otak tetapi akan menjadi fungsional dan aktif selama proses belajar.

Neurogenesis yaitu kelahiran dan perkembangan neuron baru terjadi di masa dewasa di
sebagian otak banyak hewan dan manusia. Paling tidak salah satu bagian dari otak yang
penting untuk proses belajar dapat memproduksi neuron baru dan mendukung sel mungkin di
sepanjang hayat organisme.

2.5. Koneksionisme Baru


Sel Artifisial dan Kumpulan Sel Artifisial

Pendekatan terbaru untuk memahami cara sistem neural menjalani proses belajar adalah
dengan tidak melibatkan neuron aktual sama sekali. Kini dipakai otak utnuk membuat model
aktivitas sel otak. Model ini dipakai untuk proses belajar, memori, lupa, dan aktivitas sel otak.
Tugas dasar dalam stimulasi komputer ini pertama-pertama adalah mendefinisikan
seperangkat neuron kompiter dan interkoneksi dan hubungan potensialnya. Kemudian
sejumlah asumsi disederhanakan yang didasarkan pada pengetahuan kita tentang neuron riil,
dikenakan ke neuron artifisial ini. Terakhir sistem neural artifisial dilatih dan kemudian
diamati untuk mengetahui bagaimana ia berubah.

Sistem back propagation

NETtalk adalah sistem back propagation yang menarik perhatian did kalangan para peneliti
neural. Sistem ini terdiri dari perangkat scanning komputer dengan 7 jendela yang masing-
masing dapat memindai satu huruf cetak dari abjad. Masing-masing unit output diprogram
melalui syhthesizer suara untuk menghasilkan fonem spesifik. Setiap unit input terkoneksi
dengan setiap unit yang tersembunyi dan setiap unit yang tersembunyi terkoneksi dengan unit
output. Setelah training awal dengan 1000 kata, NETtalk mampu secara akurat membaca
kata-kata yang tidak diajarkan dalam fase training.

Jaringan dalam koneksionisme diawali dengan asumsi sederhana aturan belajar Hebb dan
pendapat Lahley bahwa memori itu bukan terkumpul di satu atau dua neuron. Dari titik awal

15
ini diciptakan jaringan neural untuk menstimulasikan proses yang sederhana seperti pola
pengenalan dan pola yang lebih kompleks seperti belajar bahasa ataupemulihan dari cedera
otak. Periser kontemporer menggunakan jaringan neural untuk membantu kita memahami
bagaimanaotak manusia mendeteksi tinggi nada dan frekuensi suara yang berbeda-beda,
bagaimana kita belajar untuk mempresentasikan angka dan perhitungan secara mental dan
bagaimana gangguan seperti penyakit Parkinson dan Alzheimer mempengaruhi otak .

2.6. Pandangan Hebb Tentang Pendidikan


Menurut Hebb ada dua jenis belajar. Yang pertama yaitu berkaitan dengan pembentukan
kumpulan sel dan frekuensi fase secara gradual selama masa bayi dan kanak-kanak. Proses
belajar awal ini representasi neurologis atas objek dan lingkungan. Ketika peerkembangan
neural ini terjadi, anak dapat memikirkan suatu objek atau kejadian, atau sederetan objek dan
kejadian yang tidak hadir secara fisik di depannya. Selama proses belajar awal ini anak harus
berada dalam lingkungan yang kaya, yang berisi berbagai macam pemandangan, suara,
tekstur,bentuk, objek, dan sebagainya. Menurut Hebb, selama proses belajar awal mungkin
terdapat proses asosiasi tertentu.

Jenis belajar kedua menurut Hebb lebih cepat dijelaskan dengan prinsip Gestalt ketimbang
prinsip asosiasionistik. Setelah kumpulan sel dan sekuensi fase berkembang pada masa
kecil,proses belajar selanjutnya biasanya berupa penataan ulang. Proses belajar di tingkat
selanjutnya adalah perseptual, cepat, dan berwawasan. Tugas guru adalah membantu mereka
memahami apa yang sudah mereka pelajari dengan cara yang kreatif. Hebb juga mengatakan
bahwa karakteristik fisik dan lingkungan belajar adalah penting.Untuk tugas siswa tertentu
ada level kewaspadaan atau kesiapan optimal yang membuat proses belajar jadi efisien. Yang
diperlukan adalah level stimulasi optimal untuk tugas dan siswa.

2.7. Evaluasi Teori Hebb


Kita dapat mempelajari proses kognitif yang lebih tinggi dengan menggunakan neuron atau
synapse sebagai alat utamanya. Hebb adalah periset pertama yang memperlihatkan hubungan
itu dan menyusun model sederhana dari bagaimana proses ini terjadi dari kejadian-kejadian
synaptic.

Prinsip belajar fundamental Hebb hanya membutuhkan repetisi dan kontinguitas dan ini
didasarkan pada pemahaman tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh neuron.Teorinya
memiliki derajat yang sama dengan teori Guthrie dan teorinya menarik karena

16
kesederhanaannya bukan karena ia didasarkan pada mekanisme biologis atau fisiologis. Hebb
memberi pengaruh penting pada studi motivasi dan studi belajar.

Kritik

Hebb bukan orang pertama yang menemukan tempat proses belajar di otak dan idenya
mengenai formasi asosiasi antar area yang aktif secara bersamaan mirip dengan gagasan
Pavlov. Dia juga bukan orang pertama yang menggunakan idenya tentang fungsi otak untuk
berspekulasi tentang proses kognitig yang lebih tinggi.Hebb mengubah level analisis dari area
besar otak ke neuron yang kecil tetapi mempertahankan prinsip umum yang dipakai Pavlov.

Kritik kedua berhubungan dengan ketidakmauan Hebb untuk mengubah aspek dari teorinya
berdasarkan temuan terbaru dari neurosains. Hebb memperlakukan sistemnya sebagai model
spekulatif untuk teori bukan teori formal bukan untuk teori formal yang lengkap. Hebb
memandang temuan neurotransmitter kimia, basis penguatan psikologis dan struktur neural
yang ada dalam konsolidasi sebagai temuan temuan yang menarik tetapi dia menganggapnya
tak relevan untuk model dasarnya. Jaringan neural harus mengaplikasikan aturan Hebbian
untuk mengubah kekuatan koneksi tetapi model ini tidak akan bekerja jika didasarkan hanya
pada postulat belajar awal.

17
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Donald Olding Hebb lahir pada 22 Juli 1904 di Chester, Nova Scotia. Buku utama
pertamanya adalah The Organization of Behavior (1949). Dan meninggal pada tanggal 20
Agustus 1985.

Teori belajar Hebb tergolong pada metode yang mendasarkan kemampuan belajar
pada peran kognitif yang tinggi. Model ini berorientasi pada kemampuan manusia dalam
memproses informasi melalui sistem otak dalam sel-sel syarafnya. Proses informasi tersebut
berkaitan dengan pengumpulan atau penerimaan stimuli dari lingkungan, pengorganisasian
data, pemecahan masalah, serta penggunaan simbol-simbol verbal dan non verbal. Model ini
berkenaan juga dengan kemampuan memecahkan masalah dan kemampuan berfikir yang
produktif, serta sangat erat kaitannya dengan kemampuan intelektual secara umum (general
intellectual ability).

18
DAFTAR PUSTAKA

E.P, Santi. 2001.Psikologi Belajar, Lecture Handout: Psikologi Belajar. Fakultas Psikologi.
Universitas Wangsa Manggala. Yogyakarta.

Dimyati dan Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Sartana. 2016. Pengantar Psikologi Belajar. Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas

19