Anda di halaman 1dari 22

TINJAUAN UMUM TENTANG TRANSPORTASI DARAT

A. Ruang Lingkup Transportasi Darat

Transportasi adalah sarana yang digunakan masyarakat untuk melakukan

suatu perpindahan baik itu perpindahan barang atau orang dari satu tempat ke

tempat yang lain sesuai dengan daerah yang dituju. Peran transportasi memang

sangat penting dalam dunia perdagangan dan proses perkembangan

perekonomian, begitu juga transportasi darat. Ruang lingkup pengangkutan darat

itu sepanjang dan selebar negara, maksudnya adalah ruang lingkupnya sama

dengan ruang lingkup negara, sedangkan angkutan itu sendiri dapat dilakukan

dengan jenis-jenis angkutan. Untuk dapat berjalannya dengan baik proses

pengangkutan sangatlah dibutuhkan dukungan infrastruktur yang baik dari

pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Beberapa sarana prasarana hal yang

harus dipenuhi untuk memberikan pelayanan yang baik dalam pengangkutan

yaitu;

1. Jalan;

2. Terminal atau stasiun;

3. Kendaraan;

4. Unsur tenaga penggerak atau unsur non fisik yaitu pengemudi.16

Menurut Soekardono Hukum Pengangkutan Darat adalah keseluruhan

peraturan-peraturan di dalam dan di luar kodifikasi (Kitab Undang-Undang


Hukum Dagang) yang berdasarkan atas dan tujuan untuk mengatur hubungan-

hubungan hukum yang terbit karena keperluan perpindahan barang-barang dan

atau orang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk memenuhi perikatan-

perikatan yang lahir dari perjanjian tertentu termasuk juga perjanjian-perjnajian

untuk memberikan perantaraan untuk mendapatkan pengangkutan (ekspeditur).17

Perlu diketahui bahwa ada beberapa asas yang berlaku dalam penyelenggaraan

angkutan jalan yang terdapat dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas

dan Angkutan Jalan pasal 2 yaitu:

a. Asas transparan;

b. Asas akuntabel;

c. Asas berkelanjutan;

d. Asas partisipatif;

e. Asas bermanfaat;

f. Asas efesien dan efektif;

g. Asas seimbang;

h. Asas terpadu; dan

i. Asas mandiri.

Asas-asas ini dibuat guna mewujudkan pelayanan lalu lintas dan angkutan

jalan yang aman, tertib, lancar, dan terpadu dengan mendorong perekonomian

nasional dan memajukan kesejahteraan umum, memperkukuh persatuan dan

kesatuan bangsa, memberikan kepastian hukum, serta mampu menjunjung tinggi

martabat bangsa dan bernegara. Berdasarkan sumber hukum dari hukum


pengangkutan darat, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua bagian,

yaitu:

1. Sumber-sumber hukum yang berasal dari kodifikasi yaitu Kitab Undang-

Undang Hukum Perdata dan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang;

2. Sumber-sumber hukum diluar kodifikasi yaitu :

a. Peraturan Perundang-Undangan, yaitu Undang-Undang Nomor 22 Tahun

2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian;

c. Peraturan Pemerintah Nomor 56 tahun 2009 Tentang Penyelenggaraan

Perkeretaapian;

d. Dan peraturan lainnya seperti Peraturan Pemerintah, Surat Keputusan

Menteri, yang dapat dijadikan sebagai sumber hukum.18

Perlu diperhatikan bahwa sistem pengamanan pengangkutan darat perlu

mendapat perhatian khusus mengingat kerap terjadi kecelakaan, perampokan atau

hal-hal lain yang menyebabkan kerugian pengangkut dan penumpang. Menurut

Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Nomor 22 Tahun 2009 pasal

200 ayat (3) menyebutkan Untuk mewujudkan dan memelihara keamanan Lalu

Lintas dan angkutan jalan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan

kegiatan:

1. Penyusunan program nasional keamanan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;


2. Penyediaan dan pemeliharaan fasilitas dan perlengkapan keamanan lalu lintas

dan angkutan jalan;

3. Pelaksanaan pendidikan, pelatihan, pembimbingan, penyuluhan, dan

penerangan berlalu lintas dalam rangka meningkatkan kesadaran hukum dan

etika masyarakat dalam berlalu lintas;

4. Pengkajian masalah keamanan lalu lintas dan angkutan jalan;

5. Manajemen keamanan lalu lintas;

6. Pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan/atau patrol;

7. Registrasi dan identifikasi kendaraan bermotor dan pengemudi dan;

8. Penegakan hukum Lalu Lintas.

Dalam pasal 201 ayat (1) Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

juga menyatakan bahwa perusahaan pengangkutan umum wajib menyempurnakan

keamanan lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Tentunya apabila dilihat dari peraturan

perundang-undangan yang berlaku sudah sangat baik untuk meningkatkan

keamanan dalam lalu lintas pengangkutan melalui darat, namun perlu diketahui

bahwa kenyataannya terhadap undang-undang tersebut masih kurang dalam

penerapannya di Indonesia. Masalah ini merupakan pekerjaan rumah yang harus

diperhatikan pemerintah mengingat bahwa infrastruktur jalan darat juga

merupakan salah satu aset negara yang penting dalam meningkatkan

perekonomian negara yang berkesinambungan. Apabila infrastruktur itu baik,

maka perekonomian juga akan berkesinambungan baik, demikian juga sebaliknya,

apabila infrastruktur kurang baik, maka perkembangan perekonomian tidak baik.


B. Klasifikasi Transportasi Darat dan Sarana Prasarana

Transportasi darat tidak dapat terlepas terhadap kebutuhan manusia yang

beraneka ragam, sehingga transportasi darat tersebut terbagi dalam beberapa jenis.

Kebutuhan akan transportasi ini akan semakin meningkat apabila situasi ekonomi

yang baik yang di iringi kemajuan teknologi yang berkembang disuatu negara.

Sebagai contoh Indonesia yang merupakan negara berkembang mempunyai jenis

transportasi darat yang berbeda dengan negara-negara maju yang ada di dunia.

Mengingat juga situasi ekonomi Indonesia yang berbeda dengan negara-negara

lain. Adapun klasifikasi secara umum dari transportasi darat terbagi menjadi

beberapa bagian yaitu:

1. Transportasi yang menggunakan jalan raya yang terbagi menjadi:

a. Sepeda Motor merupakan kendaraan bermotor beroda 2 (dua), atau 3

(tiga) tanpa atap baik dengan atau tanpa kereta di samping;

b. Mobil Penumpang (biasa juga disebut dengan mobil pribadi atau

sejenisnya) merupakan kendaraan bermotor yang dilengkapi sebanyak-

banyaknya 8 (delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk

pengemudi, baik dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan

bagasi;

c. Mobil Bus merupakan kendaraan bermotor yang dilengkapi lebih dari 8

(delapan) tempat duduk tidak termasuk tempat duduk pengemudi, baik

dengan maupun tanpa perlengkapan pengangkutan bagasi;

d. Mobil Barang merupakan kendaraan bermotor selain dari yang termasuk

dalam sepeda motor, mobil penumpang dan mobil bus

e.
Angkutan darat selain mobil, bus ataupun sepeda motor yang lazim

digunakan oleh masyarakat, umumnya digunakan untuk skala kecil,

rekreasi, ataupun sarana sarana diperkampungan baik di kota maupun di

desa. Diantaranya adalah sepeda, becak, bajaj, bemo dan delman.19

Sebagai transportasi yang menggunakan jalan raya seperti yang telah

diklasifikasikan di atas secara khusus terdapat beberapa transportasi yang

lain yang dijelaskan di atas seperti delman, bajaj, dan bemo yang hanya

terdapat di daerah-daerah tertentu saja seperti di Jakarta, yogjakarta, dan di

daerah yang dinilai sebagai objek wisata seperti di Berastagi yang salah

satu objek wisata yang memakai transportasi delman.

Dalam penyelenggaraan transportasi darat perlu adanya pengaturan

mengenai prasarana dalam transportasi darat yang menjadi pedoman standar

penggunaan dan kualitas jalan meliputi:

a. Jalan

Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas

dan Angkutan Jalan Pasal 19 ayat (1) dan (2) (peraturan ini terdapat juga

dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 1993 Tentang Prasarana dan

angkutan Jalan) terdapat pengelompokan jalan sebagai prasarana yang

mendukung dalam lalu lintas jalan yaitu berdasarkan:

1) Fungsi dan intensitas lalu lintas guna kepentingan pengaturan

penggunaan jalan dan kelancaran lalu lintas dan angkutan jalan;


2) Daya dukung untuk menerima muatan sumbu terberat dan dimensi

kendaraan bermotor.20

pengelompokan jalan yang dijelaskan di atas, terbagi kembali

dalam beberapa kelas jalan yaitu:

1) Jalan kelas I yaitu jalan arteri dan kolektor yang dapat dilalui

kendaraan bermotor yang berukuran tidak melebihi 2.500 (dua ribu

lima ratus) millimeter, panjangnya tidak melebihi 18.000 (delapan

belas ribu) millimeter dan ukuran yang paling tinggi 4.200 (empat

ribu dua ratus) millimeter, dan muatan terberat 10 (sepuluh) ton;

2) Jalan Kelas II yaitu arteri , kolektor, lokal dan lingkungan yang

dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak

melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus) millimeter, ukuran panjang

tidak melebihi 12.000 (dua belas ribu) millimeter, ukuran paling

tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus) millimeter, dan muatan sumbu

terberat 8 (delapan) ton;

3) Jalan Kelas III yaitu arteri, kolektor, lokal dan lingkungan yang

dapat dilalui kendaraan bermotor dengan ukuran lebar tidak

melebihi 2.100 (dua ribu seratus) millimeter, ukuran panjang tidak

melebihi 9.000 (Sembilan ribu) millimeter, ukuran paling tinggi

3.500 (tiga ribu lima ratus) millimeter, dan muatan sumbu terberat

8 (delapan) ton;
4) Jalan kelas khusus yaitu jalan arteri yang dapat dilalui kendaraan

bermotor dengan ukuran melebihi 2.500 (dua ribu lima ratus)

millimeter, ukuran Panjang melebihi 18.000 (delapan belas ribu)

millimeter, ukuran paling tinggi 4.200 (empat ribu dua ratus)

millimeter dan muatan sumbu yang terberat lebih daro 10 (sepuluh)

ton.21

Pembagian kelas jalan arteri menurut sumbu terberat dan

dimensi kendaraan bermotor adalah untuk menjaga bahwa jalan

arteri ataupun jalan utama yang sebagai penghubung dari satu

daerah kedaerah lainnya tetap awet dan terjaganya struktur jalan

dalam arti singkat jalan tersebut tidak rusak, walaupun terkadang di

Indonesia masih banyak kendaraan yang melewati jalan arteri yang

melampaui sumbu berat dan dimensi kendaraan yang dibawa.

b. Stasiun / Terminal

Untuk kelancaran dalam melaksanakan pengangkutan khususnya

transportasi darat diperlukan adanya stasiun atau sering juga disebut

sebagai terminal, dimana stasiun berfungsi sebagai tempat berkumpul dan

tempat naik turunnya penumpang. Terminal merupakan prasarana yang

utama yang harus di penuhi dalam penyelenggaraan kegiatan transportasi

darat. Penempatan stasiun dan penyelenggaraan kegiatan terminal


disesuaikan dengan kebutuhan terminal yang menjadi rencana induk dalam

lalu lintas dan angkutan jalan.22

c. Prasarana pendukung lainnya

Prasarana ini termasuk didalamnya rambu rambu lalu lintas yang

memberi isyarat dalam berkendara di jalan agar terdapat kehati-hatian.23

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1993 Pasal 17, rambu-

rambu Lalu Lintas Terbagi menjadi 4 gologan yaitu:

1) Rambu Peringatan, merupakan rambu yang menyatakan adanya

peringatan bahaya atau tempat berbahaya pada jalan;

2) Rambu larangan, rambu ini digunakan untuk menyatakan perintah

larangan tidak diizinkannya penggunaan jalan;

3) Rambu Perintah, rambu ini menjelaskan bahwa terdapat perintah yang

wajib dipatuhi pengguna jalan;

4) Rambu Petunjuk, rambu ini menjelaskan mengenai petunjuk

pemakaian jalan, situasi jalan, jurusan, tempat tertentu, dan pengaturan

lainnya.

Prasarana pendukung lainnya adalah Marka Jalan. Marka Jalan ini

berfungsi sebagai pengatur lalu lintas atau memperingatkan atau menuntun

pengguna jalan dalam berlalu lintas. Marka jalan terdiri dari:

1) Marka membujur;

2) Marka melintang;

3) Marka serong;
4) Marka lambang;

5) Marka lainnya.

Selanjutnya adalah alat pemberi isyarat Lalu Lintas. Alat isyarat ini

berfungsi untuk mengatur kendaraan atau pejalan kaki, sebagaimana yang

diketahui oleh semua masyarakat bahwa alat ini terdiri dari tiga warna yang

berfungsi untuk mengatur kendaraan, lampu dua warna berfungsi mengatur

kendaraan dan/atau pejalan kaki dan lampu satu warna berfungsi untuk

memberikan peringatanj kepada pemakai jalan.

2. Transportasi Darat Dengan Menggunakan Kereta Api

Transportasi yang menggunakan kereta api adalah suatu sarana yang

dinilai masyarakat lebih cepat dibandingkan dengan trasnsportasi

menggunakan jalan raya, hal ini dikarenakan bahwa kereta api itu mempunyai

jalur tersendiri yang menggunakan rel sebagai jalannya. Pengembangan

transportasi kereta api yang menggunakan rel ini dikembangkan guna

memenuhi kebutuhan masyarakat yang meliputi pengangkutan massa,

memiliki kuantitas, dan cepat serta memiliki keawetan dalam Sarana

Prasarana.24 Sarana perkeretaapian menurut jenisnya sebagaimana disebutkan

dalam UU No. 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian pasal 1 terdiri dari:

a. Lokomotif;

b. Kereta;

c. Gerbong; dan
d. Peralatan Khusus.

Dalam hal sarana yang ditentukan di atas tentunya harus sesuai dengan

persyaratan dan kelaikan dalam penggunaanya sehingga dapat berjalan dengan

baik proses pengangkutan yang menggunakan kerata api.

Mengenai prasarana dalam melaksanakan angkutan menggunakan kereta

api juga ditentukan dalam UU RI Nomor 23 Tahun 2007 Tentang

perkeretaapian pasal 35 yaitu:

a. Jalur kereta api;

b. Stasiun kereta api; dan

c. Fasilitas Operasi kereta api.

Mengenai prasarana yang dijelaskan di atas adalah untuk

melaksanakan pengoperasian angkutan dengan kereta api, dimana juga

prasarana tersebut sesuai dengan kelaikan dan persyaratan yang berlaku serta

adanya perawatan berkala.

C. Transportasi Sebagai Penunjang Kegiatan Ekonomi

Transportasi sangat berperan penting dalam pencapaian pengembangan

ekonomi. Tidak hanya menjadi penunjang kegiatan ekonomi perkembangan

transportasi juga mempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan

dan integrasi nasional, karena hal ini harus dapat menghubungkan dan menjadi

jalur pembuka daerah-daerah terpencil yang guna meningkatkan kegiatan

ekonomi tersebut. Dalam pengembangan perekonomian tersebut terdapat juga


tujuan yang akan dicapai seperti meningkatkan pendapatan nasional yang disertai

dengan distribusi yang merata kepada setiap penduduk, meningkatkan jenis dan

jumlah barang jadi dan jasa yang dapat dihasilkan para konsumen, industri dan

pemerintah, mengembangkan industri nasional, menciptakan dan memelihara

tingkatan kesempatan kerja bagi masyarakat. Hal ini merupakan tujuan yang

bersifat ekonomis yang memiliki peranan penting dalam penunjang peningkatan

perekonomian. Namun selain tujuan yang bersifat ekonomis terdapat pula tujuan

yang bersifat non ekonomis yang selalu sejalan seirama yaitu untuk meningkatkan

ketahanan nasional. Transportasi berfungsi untuk mengangkut penumpang dari

satu tempat ketempat lain yang mana kebutuhan akan angkutan penumpang

tersebut tergantung bagi kegunaan seseorang.25

Disamping bersifat ekonomi sesungguhnya kemajuan transportasi

mempunyai peran yang penting mencakup segi-segi politik yang maksudnya

menciptakan kesatuan nasional dan bekembangnya kebersamaan antar bangsa,

terciptanya dan kuatnya keamanan dan ketahanan nasional serta berkembangnya

saling pengertian dalam hubungan politik dan pemerintahan di antar berbagai

negara di dunia.

Kemajuan transportasi juga mendukung berkembangan pengetahuan dan

budaya nasional, lebih tersebarnya distribusi penduduk dengan berbagai aspek

pada wilayah yang luas.26 Kebutuhan akan transportasi sangat berkesinambungan

dengan pertumbuhan perekonomian masyarakat yang juga berpengaruh pada


pengembangan jalan, stasiun/terminal, dan pelabuhan yang akan mendukung

efesisensi dalam penggunan jasa transportasi darat.27

Menurut Maringan Masry Simbolon dalam bukunya Ekonomi


Transportasi menyatakan bahwa:
ship follow the trade and follow the ship

Ship yang bermakna mengikuti perkembangan maupun kemajuan


aktivitas perdangan masyarakat. Dan kata trade follow the ship maksudnya adalah
bahwa perkembangan kegiatan perdagangan suatu masyarakat bergantung pada
transportasi.28

Berdasarkan teori di atas dapat dikatakan bahwa pengaruh transportasi itu

berkembang atau tidak tergantung juga daripada pendapatan konsumen atau

pemakai serta harga yang ditawarkan, hal ini sangatlah penting diperhatikan guna

meningkatkan kegiatan pengangkutan yang berpengaruh dalam kegiatan ekonomi.

Nilai ekonomi dari transportasi itu membuat semakin kuat bahwa

transportasi semakin penting dan membutuhkan berbagai macam kajian, karena

nilai strategis dari transportasi tersebut adalah member tambahan kesejahteraan

hidup bagi masyarakat.29 Segala pengaruh ekonomi tersebut di atas juga berkaitan

dengan hukum yang berlaku, karena dengan adanya peraturan perundang-

undangan yang mengatur mengenai penyimpangan terhadap kegiatan ekonomi

dapat dikurangi sehingga tidak ada atau dapat diminimalisir mengenai kerugian

dalam kegiatan perkonomian terutama penyelenggaraan kegiatan transportasi

darat.
D. Dasar Hukum tentang Transportasi Darat

Untuk memenuhi rasa nyaman dan terselenggaranya kegiatan transportasi

sudah pasti harus mempunyai dasar-dasar ataupun aturan-aturan yang harus di

ikuti dan dipatuhi. Adapun beberapa peraturan yang berkaitan dengan

penyelenggaraan transportasi darat yaitu:

1. Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan.

Undang-undang ini mulai diberlakukan pada tanggal 22 juni 2009

dimana didahului dengan tiga undang-undang yang terakhir diundangkan yaitu

Undang-Undang Nomor 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian, Undang-

Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan.30 Pada saat Undang-Undang ini

mulai berlaku maka Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu

Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun

1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

3480) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Akan tetapi semua peraturan

pelaksana dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992 masih dinyatakan

berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang yang baru.

Terdapat perbedaan antara Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1992

dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 , dimana Undang-Undang

Nomor 14 Tahun 1992 lebih mengatur pada hukum publik daripada hukum

privat, sementara Undang-Undanag Nomor 22 Tahun 2009 mengenai


tanggung jawab pengangkut untuk penumpang, barang dan pihak ketiga telah

diatur dalam pasal tersendiri, yang mana pada undang-undang sebelumnya

tanggung jawab tersebut diatur dalam satu pasal.31 Tanggung jawab tersebut

memang sudah selayaknya diatur dalam pasal tersendiri guna memperjelas

dan mempertegas mengenai tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang,

barang dan pihak ketiga, sehingga apabila terjadi permasalahan dapat segera

diselesaikan karena sudah ada kejelasan aturan yang mengatur. Didalam

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 memuat XXII dengan 326 pasal ,

dimana isi undang-undang ini lebih banyak dibandingkan dengan Undang-

Undang Nomor 14 Tahun 1992. Dalam peraturan perundang-undangan ini

masih menimbulkan banyak perdebatan yang pemberlakuannya belum sesuai

dengan perkembangan masyarakat, sebagai contoh terdapat dalam pasal Pasal

273 ayat (1) yang berbunyi Setiap penyelenggara Jalan yang tidak dengan

segera dan patut memperbaiki Jalan yang rusak yang mengakibatkan

Kecelakaan Lalu Lintas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1)

sehingga menimbulkan korban luka ringan dan/atau kerusakan Kendaraan

dan/atau barang dipidana dengan penjara paling lama 6 (enam) bulan atau

denda paling banyak Rp12.000.000,00 (dua belas juta rupiah).

Berdasarkan keterangan pasal tidak dapat dijalankan, karena fungsi

pemerintahan juga sebagai penyelenggara jalan. Bagaimana mungkin pidana

penjara atau denda yang telah ditentukan oleh peraturan perundang-undangan

tersebut dilakukan kepada pemerintah sebagai penyelenggara jalan dengan kata


lain bahwa tidaklah wajar peraturan perundang-undangan memidanakan

pelaksana Undang-Undang.32 Selain itu terdapat juga pasal 302 yang berbunyi

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor Umum angkutan

orang yang tidak berhenti selain di tempat yang telah ditentukan, mengetem,

menurunkan penumpang selain di tempat pemberhentian, atau melewati

jaringan jalan selain yang ditentukan dalam izin trayek sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 126 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan

atau denda paling banyak Rp250.000,00 (dua ratus lima puluh ribu rupiah).

Berdasarkan keterangan peraturan diatas belum bisa dijalankan dan

diterapkan dalam kehidupan bermasyarakt karena hal ini akan membutuhkan

banyak halte bus ataupun tempat persinggahan bus lain. Tentunya hal ini akan

membutuhkan anggaran cukup besar yang harus disediakan oleh pemerintah

untuk membangun tempat persinggahan, pemberhentian, menaikkan dan

menurunkan penumpang apabila peraturan tersebut diterapkan secara tegas,

karena setiap peraturan yang dibuat harus dilaksanakan, kedayagunaan dan

kehasilgunaan.33 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas

dan Angkutan jalan ini haruslah memperhatikan peraturan pelaksana, agar

setiap pasal-pasal yang ada dalam peraturan tersebut dapat dijalankan dan

memberi hasil yang berguna bagi masyarakat, sehingga pemerintah perlu

melakukan peninjauan ulang terhadap efektivitas dari Undang-Undang

tersebut.
2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 1964 tentang Dana Pertanggungan Wajib

Kecelakaan Penumpang dan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 1964 tentang

Dana Pertanggungan Wajib Kecelakaan Lalu Lintas

Undang-Undang ini di sahkan pada tanggal 31 desember 1964 di Jakarta.

Terdiri dari sepuluh pasal dimana beberapa pasal diatur khusus dalam

peraturan menteri. Seharusnya undang-undang ini diganti dengan yang baru

mengingat bahwa sedikitnya pasal dan pengaturan lainnya yang tidak secara

jelas dituliskan dalam undang-undang ini. Peraturan ini sudah tidak sesuai

dengan kondisi yang ada saat ini. Peraturan perundang-undangan tersebut harus

diganti dengan Undang-Undang baru yang bersifat preventif, yang artinya

Undang-Undang tersebut mampu memberikan jaminan pertanggungan

kecelakaan bagi semua pengguna jalan termasuk pemilik kendaraan pribadi.34

Karena pada dasarnya peraturan perundang-undangan ini hanya memberikan

jaminan kepada penumpang angkutan umum, dengan adanya sifat preventif,

tersebut setidaknya akan menimbulkan kesadaran akan keselamatan pribadi

khususnya pengendara kendaraan pribadi karena semua kendaraan memiliki

potensi kecelakaan. Namun hingga saat ini belum ada peraturan perundang-

undangan yang mengganti undang-undang ini, karena hal ini sangat penting

untuk menunjukkan tanggung jawab pemerintah terhadap ganti kerugian

kecelakaan yang dialami oleh penumpang.

3. Peraturan Pendukung lainnya


Dalam penulisan skripsi ini sesuai dengan peraturan Perundang-

undangan di atas penulis memfokuskan pada bagian Angkutan, Keamanan dan

Keselamatan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Kecelakaan Lalu Lintas,

tanggung jawab pengangkut terhadap penumpang, barang maupun pihak

ketiga serta tanggung jawab Stasiun Pembantu atau terminal pembantu

terhadap penumpang, barang dan pihak ketiga. Mengenai bagian tersebut di

atas, terdapat beberapa bagian yang perlu diatur dalam peraturan pelaksanan

dalam bentuk Peraturan Pemerintah dan peraturan menteri yaitu:

a. Peraturan Pemerintah

1) Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan.

Peraturan Pemerintah ini disahkan pada hari selasa 15 Mei 2012 dan

dinyatakan berlaku sejak peraturan tersebut disahkan. Peraturan ini

merupakan peraturan pelaksana dari Undang-Undang No 22 Tahun

2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan jalan yang mengatur secara

spesifik mengenai kendaraan hingga pada spearpart dan fasilitas dari

kendaraan. Peraturan Pemerintah ini juga mengatur perbedaan antara

kendaraan penumpang dengan kendaraan bus yang terdapat dalam

pasal 1 ayat (5) dan (6) yang menyatakan bahwa untuk mobil

penumpang maksimal delapan tempat duduk dan untuk mobil bus

lebih dari delapan orang. Menurut penulis pengaturan mengenai

jumlah tempat duduk dalam mobil penumpang kurang tepat karena

pada kenyataannya bahwa banyak mobil penumpang yang memiliki

jumlah tempat duduk lebih dari delapan;


2) Peraturan Pemerintah RI Nomor 37 Tahun 2011 tentang Forum Lalu

Lintas dan Angkutan Jalan. Peraturan Pemerintah ini disahkan pada

hari Senin 25 Juli 2011 dan dinyatakan berlaku sejak peraturan

tersebut disahkan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37

Tahun 2011 yang terdapat dalam pasal 1 Forum Lalu Lintas dan

Angkutan jalan merupakan wahana koordinasi antarinstansi

penyelenggara lalu lintas dan angkutan jalan. Peraturan Pemerintah ini

berfungsi untuk membantu menyinergikan dan mengatur fumgsi dari

setiap instansi penyelenggara lalu lintas dan angkutan jalan, baik

dalam menyelesaiakn permaslahan yag bersifat lintas yang harus

dilaksanakan secara koordinasi yang hal ini terdapat dalam penjelasan

Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2011 tentang Forum Lalu

lintas dan Angkutan Jalan;

3) Peraturan Pemerintah RI Nomor 43 Tahun 1993 tentang Prasarana dan

Lalu Lintas Angkutan Jalan.

Peraturan pemerintah ini ditetapkan pada tanggal 14 juli 1993 di

Jakarta. Peraturan pemerintah ini berkaitan dengan prasarana lalu

lintas yaitu jalan raya. Peraturan ini memuat mengenai aturan-aturan

dan klasifikasi jalan yang dapat dilalui oleh kendaraan angkutan darat.

Namun pada kenyataanya klasifikasi jalan dengan kendaraan yang

melewati jalan tidak sesuai dengan bobot atau berat kendaraan. Dalam

permasalahan ini terdapat dua masalah yang penting apakah

pemerintah yang kurang tegas terhadap penegakan peraturan ini, atau


masyarakat yang kurang setuju dengan adanya peraturan ini karena

tidak sesuai infrastruktur yang disediakan dengan peraturan yang

berlaku?, seperti contoh misalnya banyak jalan yang diklasifikasikan

sebagai jalan yang mampu dilewati kendaraan sampai 10 ton namun

pada kenyataanya jalan tersebut hanya mampu 8 ton, sehingga terjadi

kerusakan jalan, dan akan membutuhkan waktu untuk

memperbaikinya.

b. Peraturan Menteri

1) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 1 Tahun 2009 tentang

Tarif Dasar Batas Atas dan Batas Bawah Angkutan Penumpang Antar

Kota Antar Provinsi Kelas Ekonomi Di jalan Dengan Mobil Bus

Umum. Peraturan Menteri ini disahkan pada hari Kamis 15 Januari

2009 dan dinyatakan berlaku sejak peraturan tersebut disahkan.

Peraturan ini memberikan penjelasan mengenai iuran atas dan batas

bawah angkutan penumpang yang di dalamnya termasuk iuran

pertanggungan wajib kecelakaan penumpang dan asuransi sukarela.

2) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 51 Tahun 2007 tentang

Pedoman Penyelenggaraan Percontohan Transportasi Darat.

Peraturan Menteri ini disahkan pada hari Selasa 25 September 2007

dan dinyatakan berlaku sejak peraturan tersebut disahkan.

3) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 60 Tahun 2006 tentang

Perubahan atas Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 61

Tahun 1993 Tentang Rambu-Rambu Lalu Lintas Di Jalan sebagaimana


Telah Diubah Dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM

63 Tahun 2004.

4) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 31 Tahun 1995 tentang

Terminal Transportasi Jalan. Peraturan Menteri ini disahkan pada hari

Senin 30 Okober 2006 dan dinyatakan berlaku saat peraturan tersebut

disahkan. Salah satu penjamin untuk terselenggaranya kegiatan

transportasi adalah terminal. Terminal merupakan tempat

pemberhentian, tempat keberangkatan angkutan umum dan tempat

berkumpulnya serta naik turunnya penumpang. Peraturan ini juga


mengatur mengenai klasifikasi terminal, dan fasilitas terminal sesuai

dengan tipe terminalnya.

5) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 51 Tahun 2011 Tentang

Terminal Khusus dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri. Peraturan

Menteri ini disahkan pada hari Rabu 18 Mei 2011 dan dinyatakan

berlaku sejak peraturan tersebut disahkan.

Peraturan-peraturan pendukung dalam penyelenggaraan transportasi darat

merupakan suatu nilai tambah yang memberikan suatu jaminan kepastian hukum

terhadap penumpang, barang, maupun pihak ketiga, sehingga peraturan-peraturan

tersebut sedikit banyak perlu diketahui dan dikuasai oleh setiap masyarakat yang

ada di Indonesia. Peraturan-peraturan yang ada dan telah disahkan tersebut

merupakan suatu kekuatan untuk memperoleh kepastian hukum terhadap suatu

pertanggungjawaban baik itu oleh pengangkut, penumpang, barang maupun pihak

ketiga khususnya di bidang penyelenggaraan angkutan umum.