Anda di halaman 1dari 19

Simulasi Reservoir Energi Geothermal Menggunakan

Matlab
MAKALAH FISIKA KOMPUTASI

Disusun Oleh :
Rahman Mubarok (140310110043)
Partanu Ardi Aksa (1403101200)
Novianti Rizky A. (140310130001)
Hana Rosdiana Dewi (140310130003)
Wahyudi Pratama (140310130005)
Susanty (140310130007)
Asep Saepudin (140310130009)
Eriyati (140310130011)
Iwan Budihaartana (140310130015)
Elba Salsabila (140310130017)
Moch.Aril Indra Permana (140310130021)

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
DEPARTEMEN FISIKA
2016

KATA PENGANTAR

Pembuatan makalah Pemodelan yang berjudul Simulasi Reservoir Energi


Geothermal Menggunakan Matlab ini kami buat dalam rangka memenuhi
komponen tugas kuliah kami.Dalam mengerjakan tugas ini telah kami lakukan
pembagian tugas, agar pengerjaan tugas ini semakin mudah.
Kami mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Eng.I Made Joni, M.Sc.
selaku dosen Pemodelan yang telah membimbing kelompok kami dalam
menyelesaikan proyekini. Serta tak lupa kami juga mengucapkan terima kasih
kepada teman-teman kelempok 2 dan 3 yang telah memberikan banyak saran
yang membangun pada proyaek kami.

Kami memohon maaf apabila dalam presentasi dan pembuatan


makalahini terdapatbanyakkesalahan.Semogamakalahinidapatbermanfaat.

Bandung, 12 Desember 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................... 2
DAFTAR ISI.............................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN..............................................................................4
1.1 Latar Belakang..............................................................................4
1.2 Batasan Masalah...........................................................................5
1.3 Rumusan Masalah.........................................................................5
1.4 Tujuan........................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................6
2.1 Governing Equation......................................................................7
2.2 Diskritisasi..................................................................................... 7
2.3 Syarat Batas.................................................................................. 8
2.4 Pendekatan Numerik.....................................................................8
2.5 Pendekatan Derivative..................................................................9
BAB III PROGRAM DAN PEMBAHASAN...................................................10
3.1 Simulasi reservoir energy geothermal........................................10
BAB IV KESIMPULAN............................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................17
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pemodelan merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan dari fisika


yang mempelajari tentang simulasi sistem fisis yang bedasarkan pada penurunan
rumus atau teori yang diperoleh dari eksperimen. Sebelum mensimulasikan
sistem fisis ini, dibutuhkan pemahaman mendalam mengenai teori dan hukum-
hukum yang mendasari dari sistem yang ingin di simulasikan, yaitu Simulasi
Reservoir Energi Geothermal Menggunakan Matlab.

Energi panas geothermal atau energi panas bumi menjadi salah satu
sumber energy terbarukan yang diyakini melimpah dan ramah lingkungan.
Indonesia memiliki potensi yang sangat besar,potensi panas bumi di Indonesia
tersebar di 253 lokasi dengan total potensi sebesar 27 ribu MW.

Energi panas bumi atau geothermal merupakan energi panas yang berasal
dari dalam bumi yang tersimpan dalam rekahan batuan atau fluida yang
terkandung di bawah permukaan bumi. Pada pembangkit listrik tenaga panas
bumi ini. Banyak hal yang harus di perhatikan diantaranya, Kedalaman driling,
Penurunan tekanan dan kecepatan aliran (mass flow) dari brine dalam reservoir
yang bisa saja mengakibatkan terbentuknya silica scaling. Namun yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah faktor yang berpengaruh terhadap
pembentukan scaling.

Scaling adalah pembentukan endapan atau kerak yang berasal dari


mineral garam terlarut dalam air pada suatu media kontak tertentu. Salah satu
penyebab terbentuknya scaling adalah adanya kandungan silika (SiO2) yang
terkandung dalam brine. Dampak scaling pada PLTP adalah penyempitan
diameter pipa produksi, penurunan efisiensi pembangkit, dan dalam jangka
panjang perlu dilakukan penggantian. Faktor yang berpengaruh terhadap
pembentukan scaling antara lain adalah perubahan kondisi reservoir (penurunan
tekanan reservoir dan perubahan temperatur), flashing, percampuran dua jenis
larutan yang mempunyai susunan mineral tidak sesuai, adanya supersaturasi,
penguapan (akibat dari peubahan konsentrasi), pengadukan (agitasi, pengaruh
dari turbulensi), waktu kontak antara padatan dengan permukaan media
pengendapan serta perubahan pH larutan.

1.2 Batasan Masalah

Penulis membatasi permasalahan dalam proyek ini untuk memudahkan


pengerjaannya yaitu:

a. Simulasi hanya akan menggambarkan laju perubahan tekanan pada suatu


reservoir

b. Gambaran aliran perubahan daya menggunakan persamaan Navier Stokes


dengan tampilan 2D

c. Analisis terjadi scaling diperlihatkan dalam bentuk persentase yang ditinjau


menggunakan persamaan analitik (SSI).

1.3 Rumusan Masalah


Bagaimana mensimulasikan pembentukan scaling pada Geothermal ?

1.4 Tujuan

Untuk mensimulasikan pembentukan scaling pada Geothermal.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Energi panas bumi atau geothermal merupakan energi panas yang berasal
dari dalam bumi yang tersimpan dalam rekahan batuan atau fluida yang
terkandung di bawah permukaan bumi. Pada pembangkit listrik tenaga panas
bumi ini. Banyak hal yang harus di perhatikan diantaranya, Kedalaman driling,
Penurunan tekanan dan kecepatan aliran (mass flow) dari brine dalam reservoir
yang bisa saja mengakibatkan terbentuknya silica scaling. Namun yang akan
dibahas dalam makalah ini adalah faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan
scaling.

Scaling adalah pembentukan endapan atau kerak yang berasal dari mineral
garam terlarut dalam air pada suatu media kontak tertentu. Salah satu penyebab
terbentuknya scaling adalah adanya kandungan silika (SiO2) yang terkandung
dalam brine. Dampak scaling pada PLTP adalah penyempitan diameter pipa
produksi, penurunan efisiensi pembangkit, dan dalam jangka panjang perlu
dilakukan penggantian.

Gambar 2.2 Scaling pada pipa

Faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan scaling antara lain adalah


perubahan kondisi reservoir (penurunan tekanan reservoir dan perubahan
temperatur), flashing, percampuran dua jenis larutan yang mempunyai susunan
mineral tidak sesuai, adanya supersaturasi, penguapan (akibat dari peubahan
konsentrasi), pengadukan (agitasi, pengaruh dari turbulensi), waktu kontak antara
padatan dengan permukaan media pengendapan serta perubahan pH larutan.

2.1 Governing Equation

Untuk menggambarkan laju fluida yang menggambarkan perubahan


kecepatan aliran uap dan perubahan tekanan dari reservoir digunakan persamaan
stokes.

u i u i u j P 2 ui
+ = +v +f (1)
t x j xi xi x j i

2.2 Diskritisasi

Dari persamaan (1), diintegralkan terhadap volumenya:

[ ]
2

[ ]

ui ui u j P ui
+
t xj
dV +
xi
+v + f dV
xi x j i (2)
V V

Persamaan (2) meliputi persamaan adveksi difusi dan gradient tekanan.


Dengan grid kartesian 2D, maka:

- Besar momentum di sumbu x


u v v
t (
x y( uu y )w + ( uu y )e ( uv x )s + ( uv y )n=( P x )w ( P x )e v ) (
x
y + v
w x
y

(3)
- Besar momentum di sumbu y
u v v
t (
x y( uv y )w + ( uv y )e ( vv x )s + ( vv y )n =( P x ) w ( P x )e v ) (
x
y + v
w x
y

(4)

Dengan menyederhanakan persamaan sebelumnya, didapat:

- Besar momentum di sumbu x


1
ut + P x =( u2 ) x ( uv ) y + (u + u ) (5)
xx yy
- Besar momentum di sumbu y
2 1
ut + P y =(uv ) x ( v ) y + ( v xx +v yy ) (6)

Dengan ,

u x + v y =0 (7)

2.3 Syarat Batas

Untuk grid kartesian 2D dengan domain persegi,

= [ 0, lx ][ 0, l y ] (8)

Akan diperoleh,

Dengan kondisi ,

( u2 ) x + (uv ) y =uux + vu y (9)

( uv )x + ( v2 ) y =uv x +vv y (10)

2.4 Pendekatan Numerik

- Treat Non Linear Term


U U n 2
=( ( U n ) )x ( U n V n ) y (11)
t

V V n 2
=( U n V n ) z( ( V n ) ) y (12)
t

- Implicit Viscosity


+ U yy
U xx
U U 1

(13)
=
t


+V yy
V xx
V V 1

(14)
=
t

- Pressure Corection

U
U n+1 =( Pn +1 )x
t

(15)

n+1 V
V =( Pn +1) y
t

(16)

2.5 Pendekatan Derivative

- Orde 1
U i+1, jU i1, j
(U x)i , j 2 hx

(17)

- Orde 2

U i1, j 2U i , j +U i +1, j U i , j 1 2U i , j +U i , j+1


U i , j=( U xx )i , j + ( U yy )i , j +
h 2x h2y

(18)

BAB III
PROGRAM DAN PEMBAHASAN
3.1 Simulasi reservoir energy geothermal

Listing :
PROGRAM UTAMA.

clc;clear;close all;
%%
%PENENTUAN PARAMETER
%--------------------------------------------------------------------------
nx = 90; % jumlah grid sumbu x
ny = 90; % jumlah grid sumbu y
dt = 0.01; % step waktu
tf = 4; % waktu akhir
lx = 1; % panjang reservoir
ly = 1; % tinggi reservoir
nsteps = 10; % banyak step
Re = 100; % Bilangan Reynold
mol=5; % konsentrasi
Tu2= 1:1:500; % suhu
Tu3= 1:1:20; % waktu untuk tahun
TR = 1:1:350; % Suhu Reservoir
TS = 180; % Suhu Separator
KU = 0.3; % Kualitas Uap
DP = 100; % Diameter Pipa (dalam cm)
PHB= 4; % PH brain (4-6)
%--------------------------------------------------------------------------
%%
%INISIALISASI DAERAH KOMPUTASI
%--------------------------------------------------------------------------
nt = ceil(tf/dt);
dt = tf/nt;
x = linspace(0,lx,nx+1); hx = lx/nx;
y = linspace(0,ly,ny+1); hy = ly/ny;
[X,Y] = meshgrid(y,x);
% initial conditions
U = zeros(nx-1,ny); V = zeros(nx,ny-1);
% boundary conditions
uN = x*0+1; vN = avg(x)*0;
uS = x*0; vS = avg(x)*0;
uW = avg(y)*0; vW = y*0;
uE = avg(y)*0; vE = y*0;
%-----------------------------------------------------------------------
%%
%PEMBENTUKAN NILAI MATRIK PADA DAERAH KOMPUTASI
%--------------------------------------------------------------------------
Ubc = dt/Re*([2*uS(2:end-1)' zeros(nx-1,ny-2) 2*uN(2:end-1)']/hx^2+...
[uW;zeros(nx-3,ny);uE]/hy^2);
Vbc = dt/Re*([vS' zeros(nx,ny-3) vN']/hx^2+...
[2*vW(2:end-1);zeros(nx-2,ny-1);2*vE(2:end-1)]/hy^2);
QC = QCR(mol); Sat=SSI(TR,TS,KU);% uef=SC(250); ef = efi(uef);
Lp = kron(speye(ny),K1(nx,hx,1))+kron(K1(ny,hy,1),speye(nx));
Lp(1,1) = 3/2*Lp(1,1);
perp = symamd(Lp); Rp = chol(Lp(perp,perp)); Rpt = Rp';
Lu = speye((nx-1)*ny)+dt/Re*(kron(speye(ny),K1(nx-1,hx,2))+...
kron(K1(ny,hy,3),speye(nx-1)));
peru = symamd(Lu); Ru = chol(Lu(peru,peru)); Rut = Ru';
Lv = speye(nx*(ny-1))+dt/Re*(kron(speye(ny-1),K1(nx,hx,3))+...
kron(K1(ny-1,hy,2),speye(nx)));
perv = symamd(Lv); Rv = chol(Lv(perv,perv)); Rvt = Rv';
Lq = kron(speye(ny-1),K1(nx-1,hx,2))+kron(K1(ny-1,hy,2),speye(nx-1));
perq = symamd(Lq); Rq = chol(Lq(perq,perq)); Rqt = Rq';
%--------------------------------------------------------------------------
for k = 1:nt
%METODE NUMERIK
%--------------------------------------------------------------------------
% treat nonlinear terms
gamma = min(1.2*dt*max(max(max(abs(U)))/hx,max(max(abs(V)))/hy),1);
Ue = [uW;U;uE]; Ue = [2*uS'-Ue(:,1) Ue 2*uN'-Ue(:,end)];
Ve = [vS' V vN']; Ve = [2*vW-Ve(1,:);Ve;2*vE-Ve(end,:)];
Ua = avg(Ue')'; Ud = diff(Ue')'/2;
Va = avg(Ve); Vd = diff(Ve)/2;
UVx = diff(Ua.*Va-gamma*abs(Ua).*Vd)/hx;
UVy = diff((Ua.*Va-gamma*Ud.*abs(Va))')'/hy;
Ua = avg(Ue(:,2:end-1)); Ud = diff(Ue(:,2:end-1))/2;
Va = avg(Ve(2:end-1,:)')'; Vd = diff(Ve(2:end-1,:)')'/2;
U2x = diff(Ua.^2-gamma*abs(Ua).*Ud)/hx;
V2y = diff((Va.^2-gamma*abs(Va).*Vd)')'/hy;
U = U-dt*(UVy(2:end-1,:)+U2x);
V = V-dt*(UVx(:,2:end-1)+V2y);
% implicit viscosity
rhs = reshape(U+Ubc,[],1);
u(peru) = Ru\(Rut\rhs(peru));
U = reshape(u,nx-1,ny);
rhs = reshape(V+Vbc,[],1);
v(perv) = Rv\(Rvt\rhs(perv));
V = reshape(v,nx,ny-1);
% pressure correction
rhs = reshape(diff([uW;U;uE])/hx+diff([vS' V vN']')'/hy,[],1);
p(perp) = -Rp\(Rpt\rhs(perp));
P = reshape(p,nx,ny);
U = U-diff(P)/hx;
V = V-diff(P')'/hy;
% visualization
if floor(25*k/nt)>floor(25*(k-1)/nt), end
if k==1|floor(nsteps*k/nt)>floor(nsteps*(k-1)/nt)
% stream function
rhs = reshape(diff(U')'/hy-diff(V)/hx,[],1);
q(perq) = Rq\(Rqt\rhs(perq));
Q = zeros(nx+1,ny+1);
Q(2:end-1,2:end-1) = reshape(q,nx-1,ny-1);
clf, contourf(avg(x),avg(y),P',20,'w-'), hold on
contour(x,y,Q',20,'k-');
Ue = [uS' avg([uW;U;uE]')' uN'];
Ve = [vW;avg([vS' V vN']);vE];
Len = sqrt(Ue.^2+Ve.^2+eps);
%contour(x,y,(Ue./Len)',(Ve./Len)',.4,'k-')
quiver(x,y,(Ue./Len)',(Ve./Len)',.4,'r-')
hold off, axis equal, axis([0 lx 0 ly])
p = sort(p); caxis(p([8 end-7]))
title('Kondisi Reservoir');
xlabel('panjang sumur'); ylabel('tinggi sumur');
drawnow
end
end
a=plgr(Tu2,Sat,QC,Tu3,PHB); %scaling
%=======================================================================
Fungsi Menghitung Konsentrasi SILIKA.

function [QC]=QCR(M)
B=0.0139*M + 2.0859;
for iu = 200:1:500
QC (iu) = 4.4044*(B*(iu/100)) + 238.99;
end
Fungsi Menghitung nilai SSI.

function [Sat]=SSI(TR,TS,X)
TSS=273+TS;
for iu=1:1:length(TR)
Qu1(iu)=41.598+(0.23932*iu)-(0.011172*(iu^2))+(0.00011713*(iu^3))...
-(0.00000019708*(iu^4));
end
S=real(58400*10^(-6.116+(0.01625*TSS)-(0.00001758*(TSS^2))...
+(0.000000005257*(TSS^3))));
Sat=Qu1/(S*(1-X));
Fungsi Menghitung nilai pengurangan efisiensi akibat penambahan
silika.

function [ef]=efi(D,E)
Y(1)=0;
D = 4/3*22/7*1000000;
for iu = 2:1:36500
Y(iu) = ((3.7819/(365))*E/6)+ Y(iu-1);
end
for iuu = 1:20
G(iuu)=Y(365*iuu);
ef(iuu)=100-G(iuu);
end
Fungsi plot grafik.

function [F]=plgr(A,B,C,D,W)
text(0.05,0.95,'sumur resapan','BackgroundColor',[.7 .9 .7])
text(0.05,0.9,'Tekanan Tinggi','BackgroundColor',[.7 .9 .7])
text(0.05,0.85,'Uap keluar','BackgroundColor',[.7 .9 .7])
text(0.7,0.95,'sumur injeksi','BackgroundColor',[.7 .9 .7])
text(0.7,0.9,'Tekanan Rendah','BackgroundColor',[.7 .9 .7])
text(0.7,0.85,'Air Masuk','BackgroundColor',[.7 .9 .7])
pause;
figure;
plot(A(200:350),B(200:350),'LineWidth',3)
title('Silica Saturation Index')
xlabel('Suhu Reservoir (C)'); ylabel('SSI');
pause;
figure;
plot(A(200:500),C(200:500),'LineWidth',3)
title('Konsentrasi kandungan silika')
xlabel('Suhu Reservoir (C)'); ylabel('konsentrasi silika (ppm)');
GGG = 1;
P = 'Masukan Nilai suhu Reservoir? ';
P = input(P);
PP = B(P);
if PP<GGG
disp('Tidak terjadisilika scaling pada suhu reservoir tersebut');
pause;
else
E = efi(P,W);
figure;
plot(D,E); hold on; stem(D,E);
title('Efisiensi Pipa Geothermal')
xlabel('Tahun pengamatan'); ylabel('penurunan efisiensi (%)');
text(12,90,sprintf('pada suhu reservoir TR = %3g',P),'BackgroundColor',
[.7 .9 .7])
text(12,85,sprintf('dengan nilai PH Brine = %1g',W),'BackgroundColor',
[.7 .9 .7])
text(12,80,sprintf('dan suhu separator 180 C'),'BackgroundColor',[.7 .
9 .7])
end
F=0;
Hasil Program
Analisa program :
Pertama tama pada programnya kita tentukan beberapaa parameter yang
bisa membantu program seperti parameter untuk membentuk matrik yang
menggambarkan perubahan kecepatan dan tekanan ada reservoir dan wilayah pada
reservoir tempat dimana silika scaling terjadi. Juga parameter parameter fisis
seperti suhu reservoir awal. Suhu separator, yang dapat nilainya sangat
menentukan suhu yang berpotensi scaling. Nilai PH brine yang mencirikan
kuantitas konsentrasi kandungan silika pada sumur reservoir. Dan diameter pipa
yang dilewati uap dari sumur ke seperator.
Pada programnya akan ditampilkan (disimulasikan perubahan nilai
tekanan dan kecepatan) juga daerah berpotensi scaling yang diperlihatkan dengan
perbedaan warna. Juga ditampilkan nilai SSI (silika saturation indeks) yang
nilainya berupa besar kemungkinan terjadi scaling pada suhu separator yang telah
ditentukan terhadap suhu reservoir yang diujikan.
Dari programnya juga akan ditampilkan konsentrasi silika yang terjadi
pada suhu reservoir tertentu dan efisiensi yang menggambarkan pengurangan
lebar (diameter) pipa yang terjadi akibat pengendapan.
BAB IV
KESIMPULAN

Dengan menggunakan Persamaan Stokes 2 dimensi dan bantuan tiga


pendekatan numerik, pembentukan scaling pada Geothermal telah berhasil
disimulasikan. Hasil simulasi tersebut dapat dilihat dalam beberapa grafik, antara
lain grafik kondisi reservoir 2 dimensi, grafik SSI dan kosentrasi silika terhdap
waktu, serta grafik penurunan efisiensi pipa geotermal akibat pembentukan
scaling per tahunnya.
DAFTAR PUSTAKA

- Giordano, Nicholas J. and H. Nakanishi. 2005. Computational Physics,


2nd ed. Prentice-Hall
- Jason Mayer. 2015. Cassini to Perform Its Final Flyby of
Hyperion.http://www.universetoday.com