Anda di halaman 1dari 173

Bimbingan dan Konseling Bagi Anak

Berkebutuhan Khusus dan Berbakat


9 JANUARI 2012 BY EWINTRI

4 Votes

Meskipun pada dasarnya pelayanan Bimbingan dan Konseling yang memandirikan


itu memang untuk semua konseli, termasuk bagi konseli berkebutuhan khusus dan
berbakat, namun untuk mencegah timbulnya kerancuan perlu dikeluarkan dari
cakupan pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan itu. Pelayanan
bimbingan yang memandirikan dalam arti menumbuhkan kecakapan hidup
fungsional bagi konseli yang menyandang retardasi mental, harus dilayani oleh
Pendidik yang disiapkan melalui Pendidikan Guru untuk Pendidikan Luar Biasa (PG
PLB). Dengan spesifikasi wilayah pelayanan ahli konselor yang lebih cermat itu,
kawasan pelayanan ahli bimbingan dan konseling yang memandirikan itu juga perlu
ditakar secara tepat, karena untuk sebahagian sangat besar pelayanan bimbingan
yang memandirikan yang dibutuhkan oleh konseli yang menyandang kekurang-
sempurnaan fungsi indrawi itu juga hanya bisa dilakukan oleh Pendidik yang
disiapkan melalui PG PLB dengan spesialisasi yang berbeda-beda.
Pelayanan bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus akan amat erat
kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living
activities) yang tidak akan terisolasi dari konteks. Oleh karena itu pelayanan
bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus merupakan pelayanan
intervensi tidak langsung yang akan lebih terfokus pada upaya mengembangkan
lingkungan perkembangan (inreach-outreach) bagi kepentingan fasilitasi
perkembangan konseli, yang akan melibatkan banyak pihak di dalamnya.

Demikian pula pengembangan bakat khusus konseli tidak terjadi dalam suatu ruang
yang vakum, melainkan selalu menggunakan bidang studi sebagai konteks
pembinaan bakat. Ini juga berarti bahwa, wilayah pelayanan ahli konselor juga perlu
dipetakan dengan mencermati peran konselor berkaitan dengan pelayanan
bimbingan dan konseling yang memandirikan bagi konseli yang berbakat khusus.
Pemfasilitasian secara maksimal pengembangan potensi konseli berbakat khusus
tidak dapat dilakukan sendirian oleh konselor atau oleh psikolog, akan tetapi harus
dengan peran serta dari guru mata pelajaran yang jauh lebih besar, bahkan
mungkin juga diperlukan peran serta dari dosen mata pelajaran di jenjang
perguruan tinggi, seperti yang misalnya diluncurkan dalam program pembinaan
potensi luar biasa konseli di bidang matematika pada jenjang Sekolah Menengah
melalui Proyek MPS (Mathematically Precocious Students). Selain itu, keberhasilan
prkarsa pembinaan bakat luar biasa semacam itu, juga sangat bergantung pada
tersedianya dukungan yang bersifat sistemik. Tanpa dukungan sistemik semacam
itu, maka pikiran, waktu dan biaya yang dikerahkan untuk menyelenggarakan
berbagai program pengembanan bakat khusus itu, termasuk biaya peluang
(opportunity cost) yang sangat mahal, yang harus dibayar oleh sejumlah besar
konseli yang tidak tersentuh program khusus pembinaan bakat tersebut, hanya
akan merupakan kegiatan yang tidak berbeda dari kegiatan yang menyerupai
kegemaran (hobby) saja.

Oleh karena itu bimbingan bagi anak berbakat melalui apa yang dinamakan
Pendidikan Anak Berbakat, tidak dapat diperlakukan dan tak perlu dipandang
sebagai upaya yang luar biasa, melainkan harus dilihat sebagai bagian dari upaya
perwujudan tujuan Pendidikan Nasional, di tingkat satuan Pendidikan dan di tingkat
individual, sehingga harus dilihat dalam konteks pencapaian Tujuan Utuh Pendidikan
Nasional. Pencapaian prestasi luar biasa seperti misalnya prestasi dalam olimpiade
fisika, olimpiade matematika dan dalam berbagai mata plajaran lain, harus dilihat
seperti halnya keberbakatan atlet di bidang bulutangkis, tinju, dan olah raga lainnya
termasuk atlet catur, yang memang memerlukan takaran latihan yang jauh di atas
takaran yang diperlukan oleh konseli lain sebagai warga negara biasa.

Oleh:
Andi Prabowo, S.Pd.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses pengenalan lingkungan baik itu mulai dari lingkungan yang terkecil
sampai yang terbesar adalah keluarga, masyarakat, pengenalan semua lingkungan ini
berguna dalam proses penyesuaian diri dan pergaulan dalam kehidupan yang berguna
untuk perencanaan keputusan masa depan. Sedangkan bimbingan dalam rangka
merencanakan masa depan dimaksudkan agar peserta didik mampu
mempertimbangkan dan mengambil keputusan tentang masa depan dirinya sendiri,
baik yang menyangkut bidang pendidikan , bidang karier, maupun bidang budaya,
keluarga/masyarakat.

B. Rumusan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini penulis akan mengangkat beberapa permasalahan
yang adamulai dari :
1. Pengertian bimbingan dan konseling.
2. Tujuan bimbingan konseling bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
3. Jenis- Jenis Layanan Bimbingan konseling bagi Anak berkebutuhan Khusus.

C. Tujuan.
Tujuan yang akan dicapai dalam pembuatan makalah ini adalah :
1. Faham dan mengerti terhadap Bimbingan dan Konseling (BK) terhadap anaka
berkebutuhan Khusus (ABK).
2. Mengerti terhadap apa saja layanan yang akan diberikan terhadap Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK).

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling


Bimbingan dan Konseling merupakan dua kata yang berbeda dan diantaranya
memiliki defenisi atau pengertian yang berbeda, hal itu dapat diketahui seperti dibawah
ini:
1. Bimbingan
bantuan yang diberikan oleh seseorang , baik pria maupun wanita yang telah
terltih dengan baik dan memiliki kepribadian dan pendidikan yang memadai kepada
seseorang individu dari semua usia untuk membantunya mengatur kegiatan-kegiatan
hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya sendiri, membuat keputusan
sendiri, dan menanggung bebannya sendiri hal inilah yang dimaksud dengan
Bimbingan (Crow & Crow 1960:4 )
Sedangkan pendapat lain mengenai bimbingan dikemukakan oleh Mortensen
dan Schmuller ( 1976;3 ) yaitu:
Bimbingan merupakan bagian dari program pendidikan yang membantu
menyediakan kesempatan dan layanan dari staf khusus agar semua siswa dapat
mengembangkan kecakapan dan kemampuan mereka swpenuhnya sesuai dengan arti
konsep demokratis
2. Konseling
Konseling adalah proses pemberian bantuan kepada seseorang atau kelompok
klien yang sedang mengalami masalah melalui pertlian hubungan wawancara yang
akrab sehingga ia berani mengambil keputusan. Tujuan dalam konseling adalah agar
klien memperoleh pemahaman dirinya, mengarahkan dirinya sehingga mencapai
aktualisasi diri yang pada gilirannya mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan
dimana ia berada.
Sedangkan Konseling didefinisikan oleh beberapa ahli meimiliki pengertian yang
sama hanya saja dalam setiap defenisi tersebut penggunaan kalimat yang berbeda.
Defenisi tersebut adalah sebagai berikut:
Glenn E. Smith dalam Shertzer and Stone, 1971 : 18
Konseling adalah proses dalam mana konslor membantu klien membuat
interpretasi-interpritasi tentang fakta-fakta yang berkaitan dengan suatu pilihan
rencana, atau penyesuaian penyesuaian yang perlu dibuatnya
Mortesen dan Schmuller, 1976:301
Istilah konseling telah didefinisikan oleh banyak ahli, antara lain. Konseling
sebagai suatu proses antar pribadi, dimana satu orang yang satu dibantu oleh yang
lainnya untuk meningkatkan pemahaman dan kecakapan menemukan masalahnya.

B. Tujuan Bimbingan Konseling Anak Berkebutuhan Khusus


Secara umum layanan bimbingan konseling bagi Anak Berkebutuhan Khusus di
Sekola bertujuan agar setelah mendapat layanan bimbingan konseling anak dapat
mencapai penyesuaian dan perkembangan yang optmal sesuai dengan sisa
kemampuannya, bakat, dan nilai nilai yang dimilikinya. Secara umum tujuan tersebut
mengarah kepada self-actalization, selfrealition, fully functioning dan self-acceptance
sesuai dengan variasi perbedaan iindividu antara sesama anak. Hal ini mengingat
setiap siswa memiliki keunikan-keunikan tertentu.
C. Program Bimbingan dan Konseling Sesuai Tingkat Pendidikan Anak
Bimbingan Anak Luar Biasa adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang
kepada anak yang mengalami kelainan, dalam menumbuhkan rasa percaya diri, harga
diri, dan kemampuan diri untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi pada
diri dan lingkungannya agar mampu mandiri. Tujuan layanan bimbingan bagi anak luar
biasa adalah:
a. Tujuan Bimbingan di TKLB
1. Membantu anak didik agar secara sosio emosioanal dapat memulai masa
transisi dari kehidupan di rumah ke kehidupan di lingkungan sekolah.
2. Membantu anak mengurangi atau menghilangkan secara bertahap kebiasaan
buruk dan memupuk yang baik.
3. Membantu menyiapkan perkembangan mental anak untuk masuk SD/SDLB
4. Membnatu orang tua untuk mengerti dan memahami anak sebagai individu.
5. Membantu orang tua dalam mengenali kebutuhan anak.
6. Mambantu dalam mengatasi gangguan emosi anak yang ada hubungannya
dengan kelainan anak maupun situasi keluarga di rumah.
7. Membantu ornag tua anak dalam menyelesaikan masalah-masalah yang
timbul sebagai akibat dari kelainan mereka.

b. Tujuan Bimbingan di SDLB


1. Membantu anak didik agar secara sosio emosioanal dapat memulai masa
transisi dari lingkungan TK/lingkungan keluarga ke lingkungan SD/SDLB.
2. Membantu siswa mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi, baik dalam
kegiatan belajar maupun kegiatan pendidikan pada umumnya.
3. Membantu siswa dalam memahami dirinya ( kelebihan, kekurangan, dan
kelainan yang disandang ) maupun lingkungnnnya.
4. Membantu siswa dalam melakukan pilihan yang tepat untuk melanjutkan
pendidikan di SLTP umum/SLTPLB.
5. Membantu orang tua dalam mengambil keputusan untuk memilih jenis sekolah
yang sesuai dengan kemampuan dan kelainannya.
6. Membantu orang tua dalam memahami anak dan kebutuhannya, baik sebagai
makhluk individu maupun makhluk sosial.
c. Tujuan Bimbingan di SLTPLB
1. Membantu siswa agar secara sosio emosioanal dapat memulai masa transisi
dari lingkungan SDLB ke lingkungan sekolah lanjutan, dan dari masa kanak-
kanak ke usia remaja awal.
2. Membantu siswa dalam memahami kehidupan di lingkungan sekolah,
keluarga, dan masyarakat, serta mampu mengatasi kesulitan kesulitan yang
dihadapinya.
3. Membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman tentang dirinya
( kelebihan, kekurangan, dan kelainan yang disandang ) sehingga memiliki sikap
dan perilaku yang wajar.
4. Membantu menyiapkan perkembangan mental siswa untuk melanjutkan
pendidikan ke SMALB.
5. Menbantu orang tua untuk mengerti dan memahami anak sebagai individu
yang telah memasuki usia remaja awal, sehingga dapat memberikan perlakuan
yang wajar.
6. Membantu orang tua dalam mengambil keputusan mengenai jenis sekolah
ataupun arah pilihan karier yang sesuai dengan kemampuan dan kelainannya,
serta kebutuhan yang diperlukan.

d. Tujuan Bimbingan di SMALB


1. Membantu siswa agar secara sosio emosioanal dapat memulai masa transisi
dari lingkungan SLTPLB ke lingkungan SMALB, serta transisi pada usia remaja.
2. Membantu siswa untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, baik
dalam perkembangan pendidikan maupun pilihan karier.
3. Membantu siswa dalam mengembangkan pemahaman tentang dirinya
( kelebihan, kekurangan, dan kelainan yang disandang ) sehingga memiliki sikap
dan perilaku yang wajar.
4. Membantu menyiapkan perkembangan mental siswa untuk memasuki dunia
kerja yang sesuai dengan kemampuan, keterampilan, serta kondisinya.
5. Membantu orang tua untuk memahami anak sebagai individu yang telah
memasuki usia remaja dan membantu mengambil keputusan untuk memilih jenis
pekerjaan dan karier.
.

A . Layanan Bimbingan Konseling Anak Tunanetra


Bimbingan konseling bagi tuna netra adalah suatu pemberin bantuan pda
individu maupun kelompok agar ia bias mandiri yang dilakukn melalui pembicaraan,
interaksi, nsehat, gagasan tau arahan- arahan dan asuhan yngmemperhtikan norma
yang berlaku sehingga ia bias mandiri.Dalam hal ini sehingga muncul persepsi anak
tuna netra mampu untuk mandir.
Sebgimana telah dikemukakan, pengembangan kemanusiaan hendaknya
mencapai pribadi- pribadi yangpendiriannya matang dengan kemampuan social
yang mengejutkn, kesusilaan yang tinggi,dan keimanan serta ketakwan yang dalam.
Tetapi kenyataan yang sering dijumpai adlah keadan pribd yang kurang berkembang
dan rapuh, kesosialan yang pans dan sangar, kesusilaan yang rendah, dan keimana
yang dangkal,Hal ini banyak dijumpai pada tuna netra sehingga akan berpengaruh
pada aspek akademiknya kedepan
Anak Tunanetra cenderung memiliki berbagai masalah , baik yang
berhubungan dengan masalah pendidikan, social, emosi , kesehatan , pengisi waktu
luang maupun pekerjaan. Semua permasalahan tersebut perlu diantisipasi dengan
memberikan pelayanan pendidikan , arahan, bimbingan, latihan, dan kesempatan
yang luas bagi anak, sehingga permasalahan-permasalahan yang mungkin timbul
dalam berbagai aspek tersebut dapat ditanggulangi sedini mungkin.

B.Jenis-Jenis Layanan Bimbingan dan Konseling

1. Layanan Orientasi
Bimbingan konseling bagi tuna netra adalah suatu pemberin bantuan pda individu
maupun kelompok agar ia bias mandiri yang dilakukn melalui pembicaraan, interaksi,
nsehat, gagasan tau arahan- arahan dan asuhan yngmemperhtikan norma yang berlaku
sehingga ia bias mandiri.Dalam hal ini sehingga muncul persepsi anak tuna netra
mampu untuk mandir.
Sebgimana telah dikemukakan, pengembangan kemanusiaan hendaknya
mencapai pribadi- pribadi yangpendiriannya matang dengan kemampuan social yang
mengejutkn, kesusilaan yang tinggi,dan keimanan serta ketakwan yang dalam. Tetapi
kenyataan yang sering dijumpai adlah keadan pribd yang kurang berkembang dan
rapuh, kesosialan yang pans dan sangar, kesusilaan yang rendah, dan keimana yang
dangkal,
Hal ini banyak dijumpai pada tunanetra sehingga akan berpengaruh pada aspek
akademiknya kedepan. Anak Tunanetra memiliki keterbatasan atau ketidak mampuan
dalam menerima rangsang atau informasi dari luar melalui indera penglihatannya.
Penerimaan rangsang hanya dapat dilakukan melalui pemanfaatan indera lainnya.
Sehingga Anak Tunanetra perlu sekali adanya layanan bimbingan dan konseling
yang memungkinkan anak tersebut dapat memahami lingkungan termasuk sekolah
yang baru dimasuki. Hal ini untuk mempermudah dan memperlancar berperannya di
lingkungan yang baru..
Kegiatan orientasi ini memungkinkan Anak Tunanetra mengetahui dengan
posisinya,mengetahui posisi tujuan dan obyek disekitarnya serta mengetahui cara
bagaimana untuk mencapai tujuan obyek tersebut.

2. Layanan Informasi
Indera pendengaran sebagai saluran yang utama penerima informasi
Keterbatasan atau bahkan ketidak mampuan fungsi indra penglihatan, sebagai
penggantinya. Layanan Informasi ini memungkinkan anak tuna netra menerima dan
memahami bebagai informasi

3 .Layanan Penempatan dan Penyaluran


Layanan ini dimaksud agar pembagian dapat dikonsentrasikan tepat dan tidak
ada kesalahan penempatan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, program
latihan , magang, kegiatan ko/ekstra-kurkuler yang sesuai dengan potensi, bakat, dan
minat serta kondisi pribadinya.

4 Layanan Konselling Perorangan


Anak Tuna netra memiliki keterbatasan dalam visualisasi. Akibatnya anak
tersebut mempunyai berbagai permasalahan.Sehingga Anak tersebut memerlukan
layanan konseling perorangan .Layanan ini memungkinkan anak Tuna Netra untuk
mendapatkan secara langsung tatap muka dengan Guru pembimbing dalam rangka
pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dialaminya.

5. Layanan Pembelajaran
Layanan Bimbingan dan Konselling bagi Anak Tunanetra yang memungkinkan
dapat mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,
materi yang cocok dengan kecepatan dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek
tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

6 Layanan Bimbingan Kelompok.


Anak Tunanetra bersama sama dengan anak lainnya secara bersama
sama melalui dinamika kelompok memperoleh
berbagai bahan nara sumber terutama Guru Pembimbing dan atau membahas secara
bersama sama pokok bahasan tertentu yang berguna untuk menunjang pemahaman
dan kehidupannya sehari hari dan atau untuk perkembangan dirinya baik sebagai
individu, maupun sebagai pelajar , dan untuk pertimbangan dalam pengambilan
keputusan dan atau tidakan tertentu.

7. Layanan Konseling Kelompok


Anak Tuna Netra memungkinkan memperoleh layanan bimbingan dan
konseling untuk memperoleh kesempatan pembahasan dan kesempatan
permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok . Masalah yang dibahas itu
adalah masalah pribadi yang dialami oleh masing masing anggota kelompok .

B. Layanan Bimbingan Konseling Anak Tunarungu

1. Layanan Orientasi
Layanan yang memungkinan peserta didik Tuna Rungu memahami lingkungan
baru, terutama lingkungan sekolah dan obyek-obyek yang dipelajari, untuk
mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru
itu, sekurang-kurangnya diberikan dua kali dalam satu tahun yaitu pada setiap awal
semester. Tujuan layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang
berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman

2. Layanan Informasi
Layanan yang memungkinan Anak Tunarungu menerima dan memahami
berbagai informasi (seperti : informasi belajar, pergaulan, karier, pendidikan lanjutan).
Tujuan layanan informasi adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil
keputusan secara tepat tentang sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun
karier berdasarkan informasi yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi
berfungsi untuk pencegahan dan pemahaman

3. Layanan Konten
Mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam penguasaan
kompetensi yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan dirinya serta berbagai
aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya, dengan tujuan agar peserta didik dapat
mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Layanan pembelajaran
berfungsi untuk pengembangan

4. Layanan Penempatan dan Penyaluran


layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan
penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan/program studi, program latihan,
magang, kegiatan ko/ekstra kurikuler, dengan tujuan agar peserta didik dapat
mengembangkan segenap bakat, minat dan segenap potensi lainnya. Layanan
Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.
5. Layanan Konseling Perorangan
layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap
muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan
perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik
dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan
berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.

6. Layanan Bimbingan Kelompok


layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama
melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik)
tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta
untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok,
dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok
bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan
kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui
dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan
Pengembangan

7. Layanan Konseling Kelompok


layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok)
memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi
melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh
kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui
dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan
advokasi.

C. Layanan Bimbingan Konseling Anak Tunagrahita

1. Layanan Orientasi
Layanan yang memungkinan peserta didik tunagarahita adalah mengenal tempat
dan benda yang dijumpainya dan membiasakan agar anak tersebut tidak lupa. Tujuan
layanan orientasi adalah agar peserta didik dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan baru secara tepat dan memadai, yang berfungsi untuk pencegahan
dan pemahaman

2. Layanan Informasi
Layanan yang memungkinan Anak tunagrahita agar mendapatkan pendidikan
dan layanan info seputar mengasah kemampuan bagi mereka. Tujuan layanan informasi
adalah membantu peserta didik agar dapat mengambil keputusan secara tepat tentang
sesuatu, dalam bidang pribadi, sosial, belajar maupun karier berdasarkan informasi
yang diperolehnya yang memadai. Layanan informasi berfungsi untuk pencegahan dan
pemahaman

3. Layanan Konten
Mengeksploitasi kemampuan kreatifitas anak tunagrahita agar mereka dapat
mengerjakan pekerjaan yang dipegangnya dengan baik.

4. Layanan Penempatan dan Penyaluran


layanan yang memungkinan peserta didik memperoleh penempatan dan
penyaluran di dalam kelas, untuk pengembangan potensi yang ada pada anak. Layanan
Penempatan dan Penyaluran berfungsi untuk pengembangan.

5. Layanan Konseling Perorangan


layanan yang memungkinan peserta didik mendapatkan layanan langsung tatap
muka (secara perorangan) untuk mengentaskan permasalahan yang dihadapinya dan
perkembangan dirinya. Tujuan layanan konseling perorangan adalah agar peserta didik
dapat mengentaskan masalah yang dihadapinya. Layanan Konseling Perorangan
berfungsi untuk pengentasan dan advokasi.
6. Layanan Bimbingan Kelompok
layanan yang memungkinan sejumlah peserta didik secara bersama-sama
melalui dinamika kelompok memperoleh bahan dan membahas pokok bahasan (topik)
tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan kemampuan sosial, serta
untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui dinamika kelompok,
dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh bahan dan membahas pokok
bahasan (topik) tertentu untuk menunjang pemahaman dan pengembangan
kemampuan sosial, serta untuk pengambilan keputusan atau tindakan tertentu melalui
dinamika kelompok. Layanan Bimbingan Kelompok berfungsi untuk pemahaman dan
Pengembangan

7. Layanan Konseling Kelompok


layanan yang memungkinan peserta didik (masing-masing anggota kelompok)
memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi
melalui dinamika kelompok, dengan tujuan agar peserta didik dapat memperoleh
kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi melalui
dinamika kelompok. Layanan Konseling Kelompok berfungsi untuk pengentasan dan
advokasi.

D. Layanan Bimbingan Konseling Anak Tunadaksa


Anak-anak tunadaksa sebenarnya tidak selamanya memiliki keterbelakangan
mental. Ada yang mempunyai kemampuan daya pikir lebih tinggi dibandingkan anak
normal. Bahkan tidak jarang kelainan yang dialami seorang anak tuna daksa tidak
mempengaruhi perkembangan jiwa dan pertumbuhan fisik serta kepribadiannya.
Demikian pula ada diantara anak tuna daksa hanya mengalami sedikit hambatan
sehingga mereka dapat mengikuti pendidikan sebagaimana anak normal lainnya..
Secara umum perbedaan antara anak tuna daksa dengan anak normal terutama
terdapat dalam tingkat kemampuannya.
Hal tersebut merupakan tujuan utama pelayanan bimbingan di sekolah, dan
tujuan tersebut terutama tertuju bagi murid-murid sebagai individu yang diberi bantuan.
Akan tetapi sebenarnya tujuan bimbingan di sekolah tidak terbatas bagi murid saja,
melainkan juga bagi sekolah secara keseluruhan dan bagi masyarakat. Dengan
demikian hakekat tujuan bimbingan dan konseling yaitu yang

B. Jenis Layanan Bimbingan Konseling anak Tunadaksa


Pengertian yang cukup mengenai fase-fase perkembangan manusia pada
umumnya merupakan syarat utama apabila ingin membantu atau melayani seseorang
anak atau siswa mengembangkan dirinya hingga memperoleh perkembangan yang
harmonis dan optimal. Tiap fase perkembangan mempunyai sifat khas yang berlain-
lainnan antar individu atau anak, oleh karena itu apabila memiliki pengertian dan
pemahaman yang cukup tentang sifat khas dari fase-fase pekembangan tertentu.maka
akan dapat mengambil sikap yang tepat guna ikut mendorong individu berkembang
sebaiknyaseseorang dan atau sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing
individu mampu
Layanan yang diberikan kepada peserta didik di sekolah meliputi:

1 Layanan Orientasi
Memperkenalkan seseorang pada lingkungan yang baru dimasukinya, misalnya
memperkenalkan siswa baru pada sekolah yang baru dimasukinya. Memperkenalkan
lingkungan sekitarnya baik keadaan gedung sekolah,maupun nama dewan guru

2. Layanan Informasi
Bersama dengan layanan orientasi memberikan pemahaman kepada individu-
individu yang berkepentingan tentang berbagai hal yang diperlukan untuk menjalani
suatu tugas atau kegiatan, atau untuk menentukan arah suatu tujuan atau rencana yang
dikehendaki. Informasi yang dapat diberikan di sekolah di anataranya: informasi
pendidikan, informasi jabatan, dan informasi sosial budaya.

3 Layanan Bimbingan Penempatan dan Penyaluran


Membantu menempatkan individu dalam lingkungan yang sesuai untuk
perkembangan potensi-potensinya. Termasuk di dalamnya: penempatan ke dalam
kelompok belajar, pemilihan kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti, penyaluran ke
jurusan/program studi, penyaluran untuk studi lanjut atau untuk bekerja.

4 Layanan Bimbingan Belajar


Layanan bimbingan dan Konselling yang memungkinkan peserta didik
mengembangkan diri berkenaan dengan sikap dan kebiasaan belajar yang baik , materi
belajar yang cocock dan kesulitan belajarnya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan
belajar lainnya. Membantu siswa untuk mengatasi masalah belajarnya dan untuk bisa
belajar dengan lebih efektif.

5. Layanan Konseling Individual


Tingkat ketidakmampuan akibat ketinadaksaan, merupakan suatu variable
penting dalam perkembangan walaupun hal ini tidak terlepas dari perlakuan anak
normal . Dengan keterbatasan gerak maka perlu adanya bimbingan dan konseling yang
memungkinkan anak tuna daksa mendapatkan layanan langsung tatap muka dengan
guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan yang
dihadapinya. Konseling yang diberikan secara perorangan.

6. Layanan bimbingan dan konseling kelompok


Bersama dengan anak lainnya Anak tunadaksa memperolah layanan
bimbingan konseling yang memungkinkan mereka secara bersama sama melalui
dinamika kelompok memperoleh berbagai bahan dari guru pembimbing dan membahas
secara bersama sama masalah yang dihadapi kelompok yang berguna untuk
pemahaman dan kehidupannya sehari hari. Konseling diberikan pada sekelompok
orang yang mempunyai permasalahan yang serupa.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada
mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil
keputusan secara bertanggungjawab. Jadi yang ingin dicapai dengan bimbingan ialah
tingkat perkembangan yang optimal bagi setiap individu sesuai dengan kemampuannya.
Hal tersebut merupakan tujuan utama pelayanan bimbingan di sekolah, dan tujuan
tersebut terutama tertuju bagi murid-murid sebagai individu yang diberi bantuan. Akan
tetapi sebenarnya tujuan bimbingan di sekolah tidak terbatas bagi murid saja, melainkan
juga bagi sekolah secara keseluruhan dan bagi masyarakat. Dengan demikian hakekat
tujuan bimbingan dan konseling yaitu suatu upaya bantuan kepada individu agar dapat
menerima dan menemukakan dirinya sendiri secara efektif dan produktif, sehingga
dapat mengerahkan kemampuan dirinya dengan tepat, mengambil keputusan dengan
benar dan dapat menyesuaikan dengan lingkungannya
B. Kritik dan Saran
Tak ada gading yang tak retak oleh karena itu dalam penulisan ini mungkin kami banyak
terjadi kesalahan oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan juga saran yang
membangun sehingga mampu untuk lebih baik untuk pembuatan tugas dikemudian
hari.
http://prabowoandi.blogspot.co.id/2013/01/teknik-memberikan-layanan-
bimbingan_9719.html
http://senjaplb.blogspot.co.id/2013/05/program-layanan-bimbingan-
konseling.html

Kemuning Senja
ABK
DIARY
FILSAFAT
INFO KULIAH
MY TRIP
POWER POINT
PUISI
SAKINAH BERSAMAMU
PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN KONSELING
BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Berdasarkan sejarah perkembangan pandangan masyarakat


terhadap anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) maka dapat dicatat bahwa
kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarganya masih banyak
yang terabaikan selama bertahun-tahun hingga saat ini. Sejarah juga
mencatat bagaimana tanggapan sebagian besar masyarakat terhadap
keberadaan anak-anak tersebut dan keluarganya.

Sebagian besar masyarakat masih ada yang menganggap kecacatan


atau kelainan yang disandang oleh anak berkebutuhan khusus sebagai
kutukan, penyakit menular, gila, dan lain-lain. Akibat dari itu maka ABK dan
keluarga ada yang dikucilkan oleh masyarakatnya. Ada diantara ABK sendiri
yang menarik diri tidak mau berbaur dengan masyarakat karena merasa
cemas dan terancam.

Kondisi tersebut tentunya membawa dampak langsung maupun tidak


langsung terhadap tumbuh kembang ABK, bahkan terhadap keluarganya
(kedua orangtuanya). Pandangan atau penilain negative dari lingkungan
terhadap ABK dan keluarganya merupakan tantangan terbesar selain
kecacatan yang disandang oleh ABK itu sendiri dan dampaknya dapat
dirasakan langsung oleh yang bersangkutan beserta keluarganya. Dampak
yang jelas sering ditemui adalah terhadap konsep diri, prestasi belajar,
perkembangan fisik, dan perilaku menyimpang.

Persoalan yang dihadapi oleh anak berkebutuhan khusus menjadi


semakin bertumpuk-tumpuk. ABK tidak hanya harus mengatasi hambatan
yang muncul dari dirinya sendiri, ia harus menghadapi pula berbagai
tantangan atau rintangan yang datangnya dari lingkungan. Di satu sisi, ABK
berupaya memenuhi kebutuhannya, sedangkan lingkungan sering tidak dapat
memberikan peluang bagi ABK untuk dapat tumbuh serta berkembang sesuai
dengan kondisinya itu. Maka tidak sedikit ABK tidak mencapai perkembangan
yang optimal.

Semakin bertambahnya permasalahan membuat ABK menjadi kelompok


yang rentan terpinggirkan dari kehidupan social, poolitik, budaya, ekonomi,
dan pendidikan. Seolah-olah mereka bukan bagian dari anggota masyarakat
dan dianggap tidak membutuhkan hal tersebut. Sejatinya, ABK adalah
anggota masyarakat juga, sama-sama makhluk tuhan yang membutuhkan
banyak hal sebagaimana manusia lainnya agar mampu mengisi
kehidupannya secara mandiri sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya.

Berdasarkan keadaan sebagaimana dipaparkan di atas maka ABK


membutuhkan alat agar dirinya mampu mengatasi hambatan yang
dialaminya dan mampu hidup mandiri sesuai dengan kemampuan dan
kebutuhannya. Alat itu diantaranya adalah melalui pendidikan. Dengan
pendidikan diharapakan ABK memperoleh bekal hidup dan mencapai
perkembangan yang optimal. Namun, dengan menumpukknya berbagai
permasalahan yang dihadapi oleh ABK, tidaklah cukup melalui pendidikan
dengan proses belajar mengajar di kelas. ABK juga butuh layanan yang
mendukung kepada keberhasilan belajar dan layanan yang memandirikan
untuk mencapai perkembangan yang optimal. Layanan itu adalah program
bimbingan dan konseling. Melalui program layanan bimbingan dan konseling
diharapkan anak dapat mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi anak
dalam kehidupannya.

B. Permasalahan

Dalam penulisan makalah ini, permasalahan myang akan dibahas


adalah antara lain sebagai berikut:

1. Jelaskan Hakekat bimbingan dan konseling?

2. Jelaskan hakekat anak berkebutuhan khusus?

3. Bagaimana layanan bimbingan konseling bagi ABK?


C. Tujuan Penulisan

Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan di atas, maka tujuan


dari penulisan makalah ini tidak lain adalah untuk mengetahui:

1. Hakekat bimbingan dan konseling

2. Hakekat ank berkebutuhan khusu (ABK)

3. Layanan bimbingan konseling bagi ABK


BAB II

PEMBAHASAN

A. Hakekat Bimbingan dan Konseling

1. Pengertian Bimbingan dan Konseling

Bimbingan dan konseling merupakan dua istilah yang sering di


rangkaikan bagaikan kata majemuk. Hal ini mengisyaratkan bahwa kegiatan
bimbingan kadang di lanjutkan dengan kegiatan konseling. Beberapa ahli
menyatakan bahwa konseling merupakan inti atau jantung hati dari kegiatan
bimbingan. Ada pula yang menyatakan bahwa konseling merupakan salah
satu jenis layanan bimbingan. Dengan demikian dalam istilah bimbingan
sudah termasuk di dalamnya kegiatan konseling.

Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang di berikan kepada


individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau
mengatasi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya (Prayitno & Amti, 2008).
Sedangkan Konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang
individu di mana yang seorang (konselor) membantu yang lain (konseli)
supaya dia dapat lebih baik memahami dirinya dalam hubungannya dengan
masalah hidup yang di hadapinya pada waktu itu dan pada waktu yang akan
datang, (Prayitno & Amti, 2008).

Berdasarkan pendapat di atas dapat dsimpulkan bahwa bimbingan


dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara
perorangan maupun secara kelompok agar mampu mandiri dan berkembang
secara optimal, dalam bidang bimbingan pribadi, bimbingan sosial,
bimbingan belajar, dan bimbingan karir melalui berbagai jenis layanan dan
kegiatan pendukung.

Dengan demikian, program bimbingan dan konseling bagi ABK adalah


suatu kegiatan pelayanan bantuan kepada peserta didik atau siswa
berkebutuhan khusus disekolah oleh guru BK atau konselor secara terencana,
terorganisir dan terkoordinasi yang dilaksanakan pada periode tertentu,
teratur dan berkesinambungan atau berkelanjutan.

2. Prinsip-Prinsip Umum Bimbingan dan Konseling

Prayitno & Amti (2008) prinsip-prinsip umum bimbingan dan konseling


terdiri atas:

a. Bimbingan diberikan kepada individu yang sedang berada dalam proses


berkembang. Ini berarti bahwa bantuan yang diberikan kepada siswa harus
bertolak dari perkembangan dan kebutuhan siswa.

b. Bimbingan diperuntukan bagi semua siswa. Ini berarti bahwa pembimbing


perlu memahami perkembangan dan kebutuhan siswa secara menyeluruh,
dan menjadikan perkembangan dan kebutuhan siswa tersebut sebagai salah
satu dasar bagi penyusunan program bimbingan di sekolah.

c. Bimbingan dilaksanakan dengan mempedulikan semua segi perkembangan


siswa. Ini berarti bahwa dalam bimbingan semua segi perkembangan siswa
baik fisik, mental dan social maupun emosional dipandang sebagai satu
kesatuan dan saling berkaitan.
d. Bimbingan berdasarkan pada pengakuan atas kemampuan individu untuk
menentukan pilihan. Ini mengandung makna bahwa setiap siswa memiliki
kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri tentang apa yang akan dia
lakukan.

e. Bimbingan adalah bagian terpadu dari proses pendidikan. Proses pendidikan


bukanlah proses pengembangan aspek intelektual semata, melainkan proses
pengembangan seluruh aspek kepribadian siswa.

f. Bimbingan dimaksudkan untuk membentuk siswa merealisasikan dirinya. Ini


berarti bahwa bantuan di dalam proses bimbingan diarahkan untuk
membantu siswa memahami dirinya, mengarahkan diri kepada tujuan yang
realistic dan mencapai tujuan yang realistik itu sesuai dengan kemampuan
diri dan peluang yang di peroleh.

3. Tujuan bimbingan dan konseling

Secara khusus Yusuf dan Nurihsan (2010:14) menjelaskan tujuan-


tujuan pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling dibedakan sesuai
dengan kaitanya masing-masing pada aspek yang ada yaitu, pencapaian
tujuan-tujuan perkembangan yang meliputi (1) aspek pribadi-sosial, (2) aspek
belajar (akademik), (3) aspek karir.

1. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek pribadi-


sosial konseli adalah sebagai berikut:

a. Memiliki komitmen yang kuat dalam mengamalkan nilai-nilai keimanan dan


ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, baik dalam kehidupan pribadi,
keluarga, pergaulan dengan teman sebaya, Sekolah/ Madrasah, tempat kerja,
maupun masyarakat pada umumnya.

b. Memiliki sikap toleransi terhadap umat beragama lain, dengan saling


menghormati dan memelihara hak dan kewajibannya masing-masing.
c. Memiliki pemahaman tentang irama kehidupan yang bersifat fluktuatif
antara yang menyenangkan (anugrah) dan yang tidak menyenangkan
(musibah), serta dan mampu meresponnya secara positif sesuai dengan
ajaran agama yang dianut.

d. Memiliki pemahaman dan penerimaan diri secara objektif dan konstruktif,


baik yang terkait dengan keunggulan maupun kelemahan; baik fisik maupun
psikis.

e. Memiliki sikap positif atau respek terhadap diri sendiri dan orang lain.

f. Memiliki kemampuan untuk melakukan pilihan secara sehat

g. Bersikap respek terhadap orang lain, menghormati atau menghargai orang


lain, tidak melecehkan martabat atau harga dirinya.

h. Memiliki rasa tanggung jawab, yang diwujudkan dalam bentuk komitmen


terhadap tugas atau kewajibannya.

i. Memiliki kemampuan berinteraksi sosial (human relationship), yang


diwujudkan dalam bentuk hubungan persahabatan, persaudaraan, atau
silaturahim dengan sesama manusia.

j. Memiliki kemampuan dalam menyelesaikan konflik (masalah) baik bersifat


internal (dalam diri sendiri) maupun dengan orang lain.

k. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan secara efektif.

2. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek


akademik (belajar) adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kesadaran tentang potensi diri dalam aspek belajar, dan


memahami berbagai hambatan yang mungkin muncul dalam proses belajar
yang dialaminya.
b. Memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif, seperti kebiasaan
membaca buku, disiplin dalam belajar, mempunyai perhatian terhadap
semua pelajaran, dan aktif mengikuti semua kegiatan belajar yang
diprogramkan.

c. Memiliki motif yang tinggi untuk belajar sepanjang hayat.

d. Memiliki keterampilan atau teknik belajar yang efektif, seperti keterampilan


membaca buku, mengggunakan kamus, mencatat pelajaran, dan
mempersiapkan diri menghadapi ujian.

e. Memiliki keterampilan untuk menetapkan tujuan dan perencanaan


pendidikan, seperti membuat jadwal belajar, mengerjakan tugas-tugas,
memantapkan diri dalam memperdalam pelajaran tertentu, dan berusaha
memperoleh informasi tentang berbagai hal dalam rangka mengembangkan
wawasan yang lebih luas.

f. Memiliki kesiapan mental dan kemampuan untuk menghadapi ujian

3. Tujuan bimbingan dan konseling yang terkait dengan aspek karir


adalah sebagai berikut:

a. Memiliki pemahaman diri (kemampuan, minat dan kepribadian) yang terkait


dengan pekerjaan.

b. Memiliki pengetahuan mengenai dunia kerja dan informasi karir yang


menunjang kematangan kompetensi karir.

c. Memiliki sikap positif terhadap dunia kerja. Dalam arti mau bekerja dalam
bidang pekerjaan apapun, tanpa merasa rendah diri, asal bermakna bagi
dirinya, dan sesuai dengan norma agama.

d. Memahami relevansi kompetensi belajar (kemampuan menguasai pelajaran)


dengan persyaratan keahlian atau keterampilan bidang pekerjaan yang
menjadi cita-cita karirnya masa depan.
e. Memiliki kemampuan untuk membentuk identitas karir, dengan cara
mengenali ciri-ciri pekerjaan, kemampuan (persyaratan) yang dituntut,
lingkungan sosiopsikologis pekerjaan, prospek kerja, dan kesejahteraan kerja.

f. Memiliki kemampuan merencanakan masa depan, yaitu merancang


kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai
dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial ekonomi.

g. Dapat membentuk pola-pola karir, yaitu kecenderungan arah karir. Apabila


seorang konseli bercita-cita menjadi seorang guru, maka dia senantiasa harus
mengarahkan dirinya kepada kegiatan-kegiatan yang relevan dengan karir
keguruan tersebut.

h. Mengenal keterampilan, kemampuan dan minat. Keberhasilan atau


kenyamanan dalam suatu karir amat dipengaruhi oleh kemampuan dan minat
yang dimiliki. Oleh karena itu, maka setiap orang perlu memahami
kemampuan dan minatnya, dalam bidang pekerjaan apa dia mampu, dan
apakah dia berminat terhadap pekerjaan tersebut.

i. Memiliki kemampuan atau kematangan untuk mengambil keputusan karir.

4. Fungsi bimbingan dan konseling

Prayitno & Amti (2008) secara umum terdapat 5 (lima) fungsi dari
layanan bimbingan dan konseling yaitu

a. Fungsi pemahaman;

b. Fungsi pencegahan dan pengembangan;

c. Fungsi penyesuaian diri; dan

d. Fungsi pemecahan atau pengentasan masalah.

5. Asas Bimbingan dan Konseling


Keberhasilan bimbingan dan konseling juga sangat ditentukan oleh
diwujudkannya asas-asas dalam bimbingan dan konseling. Prayitno & Amti
(2008) beberapa asas yang yang perlu diperhatikan dalam bimbingan dan
konseling adalah asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan,
kemandirian, kekinian, kedinamisan, keterpaduan, keharmonisan, keahlian,
dan alih tangan kasus, serta asas tut wuri handayani.

6. Macam-macam layanan bimbingan dan konseling :

Prayitno & Amti (2008) macam-macam layanan bimbingan dan


konseling sebagai berikut:

a. Layanan Orientasi

Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik


(klien) memahami lingkungan (seperti sekolah) yang baru dimasuki peserta
didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di
lingkungan yang baru itu.

b. Layanan Informasi

Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik


(klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi
pendidikan dan jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien).

c. Layanan Penempatan dan penyaluran

Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik


(klien) memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya
penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar,
jurusan/program studi, program latihan, magang, kegiatan ektrakulikuler)
sesuai dengan potensi, bakat, minat erta kondisi pribadinya.

d. Layanan pembelajaran
Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik
(klien) mengembangkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam
menguasai meteri pelajaran yang cocok dengan kecepatan dan kemampuan
dirinya, serta berbagai aspek tujuan dan kegiatan belajar lainnya.

e. Layanan Konseling Individual

Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik


(klien) mendapatkan layanan langsung tatap muka (secara perorangan)
dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan
permasalahan pribadi yang dideritanya.

f. Layanan Bimbingan Kelompok

Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik


(klien) secara bersama-sama melalui dinamika kelompok memperoleh
berbagai bahan dari nara sumber tertentu (teruama dari guru pembimbing)
dan/atau membahas secara bersama-ama pokok bahasan (topik) tertentu
yang berguna untuk menunjanguntuk pemahaman dan kehidupannya
mereka sehari-hari dan/atau untuk pengembangan kemampuan sosial, baik
sebagai individu maupun sebagai pelajar, serta untuk pertimbangan dalam
pengambilan keputusan dan/atau tindakan tertentu.

g. Layanan Konseling Kelompok

Yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik


(klien) memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan
permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, masalah yang
dibahas itu adalah maalah-masalah pribadi yang dialami oleh masing-masing
anggota kelompok.

B. Hakekat Anak Berkebutuhan Khusus

1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus

Untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai pengertian anak


berkebutuhan khusus, berikut Kirk dan Gallagher (1979) dalam
Abdurrachman (1995:9) mengemukakan defenisi anak luar biasa atau
sekarang lebih dikenal dengan anak berkebutuhan khusus merupakan anak
yang menyimpang dari rata-rata atau normal dalam:

1. Kareakteristik mental,

2. Kemampuan sensoris,

3. Karakteristik neuromotor atau fisik,

4. Perilaku sosial,

5. Kemampuan berkomunikasi, dan

6. Gabungan dari beberapa variabel tersebut

Karena adanya penyimpangan tersebut, anak luar biasa atau anak


berkebutuhan khusus membutuhkan modifikasi pelaksanaan sekolah dalam
bentuk pelayanan pendidikan khusus untuk mengembangkan kapasitasnya
secara maksimum.

2. Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus

Anak-anak berkelainan fisik terdiri dari tunanetra, tunarungu dan


tunadaksa, adapun karakteristik kelainan fisik meliputi:

a. Tunanetra

Fisik, adanya kelainan pada indera penglihatan

Kemampuan akademik, tidak berbeda dengan anak normal pada umumnya.

Motorik, kurang dapat melakukan mobilitas secara umum

Sosial-emosional, mudah tersinggung dan bersifat verbalism yaitu dapat


bicara tetapi tidak tahu nyatanya.

b. Tunarungu

Fisik, kesan lahiriah tidak menampakan adanya kelainan pada anak


Kemampuan akademik, tidak berbeda dengan keadaan anak-anak normal
pada umumnya.

Motorik, sering anak tunarungu kurang memiliki keseimbangan motorik


dengan baik.

Sosial-emosional, sering memperlihatkan rasa curiga yang berlebihan,


mudah tersinggung.

c. Tunadaksa

Fisik, jelas menampakkan adanya kelainan baik fisik, maupun motorik.

Kemampuan akademik, untuk tunadaksa ringan tidak berbeda dengan anak-


anak normal pada umumnya. Sedangkan untuk tunadaksa berat terutama
bagai anak yang mengalami gangguan neuro-muscular sering disertai
dengan keterbelakangan mental.

Motorik, banyak tunadaksa yang mengalami gangguan motorik baik motorik


kasar maupun motorik halus.

Sosial-emosional, anak tunadaksa memiliki kecenderungan rasa rendah diri


(minder) dalam pergaulan dengan orang lain.

anak berkebutuhan khusus yang mengalami kelainan mental-


emosional, yaitu anak tunagrahita, dan tunalaras. Adapun karakteristik
kelainan mental-emosional sebagai berikut:

d. Tunagrahita

Pada dasarnya anak tunagrahita memiliki karakteristik yang relatif


homogin berdasar klasifikasinya. Adapun karakteristik tersebut dapat dirinci
sebagai berikut:

Tingkat ringan, memiliki kemampuan paling tinggi setraf dengan anak kelas
5 SD, mampu di ajar memca, menulis dan berhitung sederhana. Dalam
sosialisasi masih mampu mnyesuaikan diri dengan lingkungan sosial secara
terbatas.
Tingkat sedang, memiliki kemampuan akademik maksimal setaraf dengan
anak kelas 2 SD, biasanya sering disertai gangguan motorik dan komunikasi
sehingga sangat sulit untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, aktifitas
sosialnya hanya sebatas untuk memelihara diri sendiri.

Tingkat berat, anak ini tidak mampu dididik maupun dilatih, kemampuannya
paling tinggi setaraf anak pra-sekolah, sepanjang hidupnya anak ini
bergantung pada orang lain.

e. Tunalaras

Karakteristik anak tunalaras secara umum menunjukkan adanya


gangguan perilaku, seperti suka menyerang (agresive), gagngguan perhatian
dan hiperaktive. Secara akademik anak tunalaras sering ditemui tidak naik
kelas hal ini dikarenakan gangguan perilakunya bukan karena kapasitasv
intelektualnya. Karakteristik emosi-sosial anak tunalaras suka melanggar
norma baik yang berlaku di institusi seperti sekolah maupun masyarakat
sehingga anak ini sering disebut dengan anak maladjusted. Tunalaras sering
menunjukkan kepribadian yang tidak matang (immature) dan menunjukkan
adanya kecemasan (anxietas).

f. Kesulitan belajar

Adapun karakteristik atau ciri yang menonjol pada anak berbakat


meliputi:

Karakteristik Intelektual, cepat dalam belajar, rasa ingin tahunya tinggi,


daya konsentrasinya cukup lama, memiliki daya kompetetif tinggi.

Karakteristik Sosial-emosional, mudah bergaul atau menyesuaikan diri


dengan lingkungan yang baru, memiliki sifat kepemimpinan (leadership)
terhadap teman sebayanya, bersifat jujur, dan memiliki tenggangg rasa serta
mampu mengontrol emosi.

Karakteristik Fisik-kesehatan, berpenampilan menarik, memiliki daya tahan


tubuh yang baik terhadap penyakit, dapat memelihara penampilan fisik yang
bersih dan rapi.
3. Permasalahan Anak Berkebutuhan Khusus

Akibat kecacatan yang disandang oleh ABK, tentunya menimbulkan


banyak permasalahan yang harus di hadapi anak baik permasalahan
langsung maupun tidak langsung. Berikut akan diuraikan berbagai
permasalahan yang dihadapi ABK berdasarkan bentuk kecacatan yang
disandangnya:

a) Permasalahan anak tunanetra

Dari karakteristik yang dimilikinya maka muncullah beberapa jenis


masalah yang dihadapi individu terutama yang dihadapi oleh murid-murid
sekolah. Abdurrachman (1995:11) Masalah tersebut sekurang-kurangnya
dapat digolongkan sebagai berikut:

Masalah pengajaran dan pendidikan

Masalah orientasi dan mobilitas serta kebiasaan diri

Masalah gangguan emosi dan penyesuaian diri

Masalah keterampilan dan pekerjaan

Masalah ketergantungan diri

Masalah penggunaan waktu senggang

b) Permasalahan anak tunarungu

Adapun permasalahan anak tunarungu (Abdurrachman, 1995:153)


sebagai berikut:

Masalah komunikasi.

Masalah pribadi.

Masalah pengajaran atau kesulitan belajar.

Masalah penggunaan waktu terulang.


Masalah pembinaan keterampilan dan pekerjaan.

c) Permasalahan anak tunagrahita

Masalah-masalah yang mereka miliki relatif berbeda, walaupun


demikian ada juga kesamaan masalah yang dirasakan bersama oleh
sekelompok mereka. Abdurrachman (1995) Kemungkinan-kemungkinan
masalah yang dihadapi anak terbelakang dalam konteks pendidikan,
diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut :

Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Masalah ini berkaitan


dengan kesehatan dan pemeliharaan diri dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah kesulitan belajar.

Masalah penyesuaian diri.

Masalah penyaluran ke tempat kerja.

Masalah gangguan kepribadian dan emosi.

Masalah pemanfaatan waktu terluang.

d) Permasalahan anak tunadaksa

Chori (1995) Penggolongan masalah yang dihadapi oleh anak


tunadaksa adalah sebagai berikut :

Masalah kesulitan belajar.

Masalah sosialisasi.

Masalah kepribadian.

Masalah keterampilan dan pekerjaan.

Masalah latihan gerak.

e) Permasalahan anak tunalaras

Sunardi (1995) beberapa permasalahan yang sering dihadapi anak


tunalaras antara lain sebagai berikut:
Masalah pengajaran dan pendidikan.

Masalah keutuhan kepribadian.

Masalah penggunaan waktu senggang.

Masalah gangguan emosi dan penyesuaian diri.

Masalah keterampilan dan pekerjaan.

Dari uraian permasalahan yang dihadapi anak berkebutuhan khusus


di atas sesuai dengan jenis ketunaannya, dapat ditarik benang merah, bahwa
pada umumnya, permasalahan yang dihadapi anak berkebutuhan khusus
pada terkait dengan:

a. Masalah perkembangan fisik-motorik,

b. Masalah perkembangan kognitif,

c. Masalah perkembangan bahasa,

d. Masalah perkembangan sosial, dan

e. Masalah perkembangan emosi.

4. Kebutuhan Anak Berkebutuhan Khusus

Pada umumnya kebutuhan anak berkebutuhan khusus sama dengan


anak-anak lain pada umumnya (kebutuhan jasmani dan rohani). Tapi ada hal-
hal khusus yang membutuhkan penanganan khusus, biasanya berkaitan
dengan kelainan atau kecacatan yang disandangnya. Di dalam prosesnya
dapat berupa pendidikan, pembelajaran yang mendidik dan memandirikan,
terapi, layanan bimbingan dan konseling, layanan medis, dll.

Penanganan itu tentunya dilakukan oleh profesi yang sesuai dengan


bidangnya. Artinya akan banyak ahli yang terlibat dalam rangka memenuhi
kebutuhan ABK itu. Sehingga dikenal dengan pendekatan multidisipliner. Para
ahli dari berbagai bidang berkolaborasi memberikan layanan yang terbaik
untuk memenuhi kebutuhan ABK agar berkembangan secara optimal.

C. Layanan Bimbingan Konseling bagi ABK

1. Kebutuhan Bimbingan Konseling bagi ABK

Mengenai kebutuhan layanan bimbingan dan konseling ini, Thompson


dkk (2004) menuliskan garis besarnya sebagai berikut:

a. Anak harus mengenal dirinya sendiri

b. Menemukan kebutuhan ABK yang spesifik sesuai dengan kelainannya.


Kebutuhan ini muncul menyertai kelainannya.

c. Menemukan konsep diri

d. Memfasilitasi penyeusaian diri terhadap kelainan/kecacatanya

e. Berkoordinasi dengan ahli lain

f. Melakukan konseling terhadap keluarga ABK

g. Membantu perkembangan ABK agar berkembang efektif, memiliki


keterampilan hidup mandiri

h. Membuka peluang kegiatan rekreasi dan mengembangkan hobi

i. Mengembangkan keterampilan personal dan social

j. Bersama-sama merancang perencanaan pendidikan formal, pendidikan


tambahan, dan peralatan yang dibutuhkan

2. Tujuan Program Bimbingan Konseling Bagi ABK

a. Tujuan Umum
Tujuan umum dari layanan bimbingan dan konseling bagi ABK adalah
sesuai dengan tujuan pendididikan, yang tertulis pada Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu
terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang cerdas, yang beriman, dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian
yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan
kebangsaan. (Depdikbud, 1994:5)

Layanan bimbingan dan konseling bagi ABK secara umum disekolah


bertujuan agar setelah mendapatkan layanan bimbingan konseling anak
dapat mencapai penyesuaian dan perkembangan yang optimal sesuai
dengan sisa kemampuannya, bakat dan nilai-nilai yang dimilikinya.

Bagi ABK selain tujuan tersebut diatas, tekanan pencapaian tujuan


lebih diarah untuk membentuk kompensasi positif dari kecacatan yang
dimilikinya. Mereka tidak begitu terganggu dengan kecacatan yang ia miliki,
tetapi justru ada usaha optimalisasi sisa kecacatan tersebut.

b. Tujuan Khusus

Secara khusus tujuan layanan bimbingan dan konseling bagi


ABK antara lain :

a. Memahami dirinya dengan baik, yaitu mengenal segala kelebihan dan


kelemahan yang dimiliki berkenaan dengan bakat, minat, sikap, perasaan
dan kemampuannya.

b. Memahami lingkungan dengan baik, meliputi lingkungan pendidikan


disekolah, lingkungan diasrama, lingkungan pekerjaan, dan lingkungan sosial
masyarakat.

c. Membuat pilihan dan keputusan yang bijaksana yang didasarkan kepada


pemahaman yang mendalam tentang diri sendiri dan lingkungannya.

d. Mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,


baik disekolah maupun diluar sekolah.
http://singokalijogo.blogspot.com/2012/08/bimbingan-konseling-
bagi-anak.html

3. Lingkup Layanan Bimbingan Konseling Bagi ABK

Layanan bimbingan merupakan bagian dan penunjang yang tak


terpisahkan dari keseluruhan kegiatan pendidikan termasuk pada kegiatan
pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus dan mencakup seluruh tujuan
dan fungsi bimbingan. Syaodah & Agustin (2008) Dilihat dari tujuan dan
materinya, lingkup layanan bimbingan untuk anak berkebutuhan khusus
mengutamakan penekanan pada jenis kegiatan berikut ini:

a. Bimbingan pribadi-sosial

Bimbingan pribadi sosial ini dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan


tugas perkembangan pribadi sosial anak dalam mewujudkan pribadi yang
mampu menyesuaikan diri dan bersosialisasi dengan lingkungan secara baik.

Bimbingan pribadi sosial merupakan bimbingan untuk membantu anak


dalam memecahkan masalah-masalah pribadi-sosial. Biasanya yang
tergolong dalam masalah pribadi sosial adalah masalah hubungan dengan
sesama teman, dengan guru pendamping di tempat belajar, masalah
penerimaan diri, penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar dan masyarakat
tempat tinggal anak.

Bimbingan pribadi-sosial diarahkan untuk memantapkan kepribadian


dan mengembangkan kemampuan anak dalam menangani masalah-masalah
dirinya. Bimbingan ini merupakan layanan yang mengarah pada pencapaian
pribadi yang seimbang dengan memperhatikan keunikan karakteristik pribadi
serta ragam permasalahan yang dihadapi anak.

Bimbingan pribadi-sosial diberikan dnegan cara menciptakan


lingkungan yang kondusif, interaksi pendidikan yang akrab, mengembangkan
sistem pemahaman diri dan sikap-sikap yang positif, serta keterampilan-
keterampilan sosial pribadi yang tepat.

Bimbingan pribadi-sosial yang memuat layanan bimbingan yang


bersentuhan dengan:
1. Pemahaman diri.

2. Mengembangkan sikap positif

3. Membuat pilihan kegaiatan secara sehat

4. Menghargai orang lain

5. Mengembangkan rasa tanggungjawab

6. Mengembangkan keterampilan hubungan antar pribadi

7. Keterampilan menyelesaikan masalah

8. Membuat keputusan secara baik

b. Bimbingan belajar

Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas


perkembangan pendidikan. Bimbingan belajar merupakan bimbingan yang
diarahkan untuk membantu para anak dalam menghadapi dan memecahkan
masalah-masalah belajar.

Bimbingan belajar dilakukan dengan cara mengembangkan suasana


belajar-mengajar yang kondusif agar terhindar dari kesulitan belajar. Para
guru/pendamping membantu anak mengatasi kesulitan belajar,
mengembangkan cara belajar yang efektif, membantu anak agar sukses
dalam belajar dan agar mampu menyesuaikan diri tehadap semua tuntutan
belajar, para pembimbing berupaya memfasilitasi indvidu dalam mencapai
tujuan akademik yang diharapkan dengan berbagai cara, misalnya
membantu mengembangkan kreatifitas pada anak melalui kegiatan bermain.

Bimbingan belajar, memuat layanan yang berkenaan dengan:

1. Belajar yang benar

2. Menetapkan tujuan dan rencana pendidikan


3. Mencapai prestasi belajar secara optimal sesuai dengan bakat dan
kemampuannya

4. Keterampilan untuk menghadapi ujian

c. Bimbingan karier

Bimbingan karier yaitu bimbingan ntuk membantu anak dalam


perencanaan, pengembangan dan pemecahan masalah-masalah karier,
seperti pemahaman terhadap jabatan dan tugas-tugas kerja, pemahaman
kondsi dan kemampuan diri, pemahaman kondisi lingkungan, perencanaan
dan pengembangan karier, penyesuaian pekerjaan, dan pemecahan masalah-
masalah karier yang dihadapi secara sederhana.

Bimbingan karier juga merupakan layanan pemenuhan kebutuhan


perkembangan anak sebagai bagian integral dari program pendidikan.
Bimbingan karier terkait dengan perkembangan kemampuan kognitif, afektif,
maupun keterampilan individu dalam mewujudkan konsep diri yang positif,
memahami proses pengambilan keputusan maupun perolehan pengetahuan
dalam keterampilan yang akan membantu dirinya memasuki sistem
kehidupan sosial budaya yang terus berubah.

Dari uaraan diatas, dapat dsimpulkan bahwa bimbingan karier


merupakan upaya bantuan tehadap anak agar dapat mengenal dan
memahami dirinya, mengenal dunia kerjanya, mengembangkan masa
depannya yang sesuai dengan kehidupannya yang diharapkan. Lebih lanjut
dengan layanan bimbingan karier anak mampu menentukan dan mengambil
keputusan secara tepat dan bertanggungjawab atas keputusan yang
diambilnya sehingga mereka mampu mewujudkan dirinya secara bermakna
di masa yang akan datang.

Bimbingan pengembangan karier, meliputi:

1. Mengenali macam-macam dan ciri-ciri berbagai jenis pekerjaan

2. Menentukan cita-cita dan merencanakan masa depan

3. Mengeksplorasi arah pekerjaan


4. Menyesuaikan keterampilan, kemampuan dan minat dengan jenis pekerjaan

D. Rancangan Layanan BK Anak Berkebutuhan Khusus

Rancangan layanan bimbingan dan konseling dibuat dengan


memperhatikan tugas-tugas perkembangan anak juga berdasarkan
permasalahan dan kebutuhan anak yang diperoleh melalui kegiatan
asesmen.

Berdasarkan hal tersebut, sebelum membuat rancangan layanan


bimbingan konseling untuk anak berkebutuhan khusus, berikut akan
diuraikan terlebih dahulu tugas-tugas perkembangan anak serta hasil
asesmen untuk mengetahui permasalahan dan kebutuhan anak
berkebutuhan khusus yang dalam hal ini anak tunadaksa.

1. Tugas-tugas perkembangan anak

Tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan


individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu dan apabila berhasil
mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka
gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan
selanjutnya juga akan mengalami kesulitan. Adapun yang menjadi sumber
dari pada tugas-tugas perkembangan tersebut menurut Havighurst dalam
adalah: Kematangan pisik, tuntutan masyarakat atau budaya dan nilai-nilai
seta aspirasi individu. Pembagian tugas-tugas perkembangan untuk masing-
masing fase dari sejak masa bayi sampai usia lanjut dikemukakan oleh
Havighurst sebagai berikut:
(http://file.upi.edu/direktori/fip/jur._pend._luar_sekolah.koko_darkusno_a/tuga
s-tugas_perkembangan.pdf)

a. Masa Bayi dan Anak-Anak

Belajar berjalan

Belajar mekan makanan padat

Belajar berbicara
Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh

Mencapai stabilitas fisiologik

Membentuk pengertian sederhana tentang realitas fisik dan sosial

Belajar kontak perasaan dengan orang tua, keluarga, dan orang lain

Belajar mengetahui mana yang benar dan yang salah serta mengembangkan
kata hati

b. Masa Anak Sekolah

Belajar ketangkasan fisik untuk bermain

Pembentukan sikap yang sehat terhadap diri sendiri sebagai organism yang
sedang tumbuh

Belajar bergaul yang bersahabat dengan anak-anak sebaya

Belajar peranan jenis kelamin

Mengembangkan dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan berhitung

Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan guna keperluan


kehidupan sehari-hari

Mengembangkan kata hati moralitas dan skala nilai-nilai

Belajar membebaskan ketergantungan diri

Mengembangkan sikap sehat terhadap kelompok dan lembaga-lembaga

c. Masa Remaja

Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif

Menerima peranan sosial jenis kelamin sebagai pria/wanita

Menginginkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggung jawab sosial


Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya

Belajar bergaul dengan kelompok anak-anak wanita dan anak-anak laki-laki

Perkembangan skala nilai

Persiapan mandiri secara ekonomi

Pemilihan dan latihan jabatan

Mempersiapkan perkawinan dan keluarga

d. Masa Dewasa Awal

Mulai bekerja

Memilih pasangan hidup

Belajar hidup dengan suami/istri

Mulai membentuk keluarga

Mengasuh anak

Mengelola/mengemudikan rumah tangga

Menerima/mengambil tanggung jawab warga Negara

Menemukan kelompok sosial yang menyenangkan

e. Masa Dewasa Madya

Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis

Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu

Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang


bertanggung jawab dan berbahagia

Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir


pekerjaan

Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa


Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.

f. Masa Usia Lanjut

Menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan

Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan berkurangnya income keluarga

Menyesuaikan diri dengan kematian pasangan hidup

Membentuk hubungan dengan orang-orang yang seusia

Menyesuaikan diri dengan peran sosial

2. Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus (Anak Tunadaksa)

Dalam hal ini penulis melakukan asesmen di SLB B/C Waru Sidoarjo,
pada anak tunadaksa kelas dasar II dengan menggunakan teknik observasi
dan wawancara, bekerjasama dengan orangtua/wali dan guru kelas anak.
Berikut uraian lebih jelasnya:

I. IDENTITAS ANAK

Nama subjek : Hrm

Jenis kelamin : Laki-Laki

Alamat : Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1

Agama : Islam

Cita-Cita : TNI

Pendidikan : SLB B/C Al Ashar Sidoarjo Kelas Dasar II

Anak urutan ke : 2 dari 3 bersaudara

Orang tua :

AYAH

Nama : Sp
Usia : 40 Tahun

Pendidikan : SD

Pekerjaan : Wirausaha

Alamat : Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1

IBU

Nama : Jm

Usia : 35 Tahun

Pendidikan : SD

Pekerjaan : IRT

Alamat : Kepuhkiriman dalam, RT 4 RW 1

II. ASESMEN KONDISI KECACATAN YANG DIALAMI ANAK

Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan teknik obeservasi atau


pengamatan. Secara visual berikut hasil observasinya:

No Aspek yang diamati Ya Tid Keteranga


a n
k

1 Anggota-anggota gerak kaku/ Anggota


lemah/ lumpuh gerak
sebelah
kanan

2 Kesulitan dalam gerakan- Kesulitan


gerakan: kaku/ tidak dalam
lentur/ tidak terkendali menggu
nakan
anggota
tubuh
bagian
kanan
karena
mengal
ami
kekakua
n an
kelayua
n

3 Ada bagian-bagian anggota


gerak yang tidak lengkap/
tidak sempurna/ lebih kecil
dari biasa

4 Jari-jari tangan kaku tidak


dapat menggenggam

5 Kesulitan waktu berdiri, Tidak


berjalan atau duduk dan adanya
menunjukkan sikap tubuh keseimb
yang tidak normal angan
sehingg
a anak
tiidak
mampu
berdiri
dngan
sempur
na

6 Gerakan-gerakan hiperaktif/ Anak


tidak tenang terlihat
sangat
tenang.

Ket:

Berdasarkan hasil asesmen di atas, terlihat bahwa anak mengalami kecacatan


pada anggota gerak atas maupun anggota gerak bawah sebelah kanan
mengalami kekakuan dan kelayuan sehingga anak kesuitan dalam berdri
maupun berjalan tuk berpindah dari tempat yang satu ketempat yang lain

III. ASESMEN RIWAYAT KELAHIRAN ANAK

Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada


orang tua anak tunadaksa.

1. Riwayat kelahiran

a. Keadaan ibu sebelum kelahiran sempat mengalami tekanan darah tinggi

b. Saat kelahiran

1) Lama kandungan 8 bulan 2 minggu

2) Melahirkan di rumah

3) Ditolong oleh orangtua

4) Proses kelahiran normal

5) Tidak ada kelainan bawaan yang nampak saat anak lahir, hanya saja pada
usia 2 hari anak mulai kejang-kejang yan mengakibatkan kelayuan pada
anggota gerak bagian kanan.

6) Makanan pertama yang diberikan ASI

Ket:

Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa anak lahir dalam keadaan normal.
Kecacatan yang dialami anak terjadi pasca kelahiran yang bisa jadi
merupakan akibat dari kejang-kejang yang dialaminya ketika berumur 2 hari.
IV. ASESMEN KEGIATAN KESEHARIAN ANAK

Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada


orangtua anak. Berikut hasil asesmennya:

Penilaian

Kura
Tida
n
k
Ma g
M
No. Aspek yang diamati m M
a
p a
m
u m
p
p
u
u

Perawatan diri

1 Menyisir rambut

2 Menggosok gigi

3 Menghidupkan/
mematikan kran

4 Pergi ke kamar kecil/


WC

5 Buang air kecil sendiri

6 Buang air besar


sendiri

Kegiatan makan/
minum
1 Mengambil makanan
ke piring

2 Makan pakai sendok

3 Menyuap nasi atau


makanan

4 Minum dari gelas

Makan/Minum
5
menggunakan
tangan kanan

Kegiatan berpakaian

1 Memakai pakaian

2 Membuka pakaian

3 Memakai
sendal/sepatu

4 Mengikat sepatu

5 Mengenakan sabuk

Ket:

Data hasil asesmen diatas menujukkan bahwa kegiatan keseharian anak di


rumah hampir dapat semua dapat dilakukan sendiri, kecuali kegiatan yang
memerlukan mobilitas, anak memerlukan bantuan sehubungan dengan
kecacatan yang dialaminya.

V. ASESMEN PERILAKU ANAK DALAM BERGAUL


Asesmen ini dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada
orangtua dan guru kelas anak serta melakukan observasi secara langsung.

Penilaian

No Aspek yang diamati Ya Tid


Ket
a
k

Perilaku dalam
masyarakat

Dapat berkomunikasi dengan


1
baik dalam lingkungan
masyarakat

Percaya diri dalam bergaul


2
dengan masyarakat

Tidak merasa minder bergaul


3
dengan teman-temannya
yang normal dalam
lingkungan masyarakat

Tidak memilih-milih teman


4
dalam bergaul

Bersikap sopan dan santun


5
dalam lingkungan
masyarakat

Perilaku dalam keluarga

Mampu berkomunikasi
1
dengan baik kepada orang
tua

Mampu berkomunikasi
2
dengan baik kepada
saudara
Mematuhi perintah orang tua
3

Menyayangi saudara
4

Bersikap sopan dan santun


5
kepada orang tua

Iri dengan keadaan fisik Anak


6
saudaranya yang lain terkad
ang
menan
yakan
keadaa
nnya
yang
berbed
a
denga
n
kakak
dan
adikny
a

Perilaku di sekolah

Mampu berkomunikasi
1
dengan guru

Mampu berkomunikasi
2
dengan teman

Menghargai pendapat teman


3
dalam belajar

Patuh pada perintah guru


4
Sopan terhadap guru
5

Santun dalam bergaul


6

Tidak memilih-milih teman


7
dalam bergaul di sekolah

Ket:

Hasil asesmen perilaku anak dalam bergaul menunjukkan bahwa anak tidak
menghadapi masalah yang serius dalam bergaul baik dalam lingkungan
sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

VI. ASESMEN KEMAMPUAN KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN

Tida
k
Mam M Ketera
No Aspek yang diamati p a nga
u m n
p
u

1 Gerakan koordinasi
motorik kasar

2 Gerakan koordinasi
motorik halus

3 Gerakan koordinasi
mata dan anggota
tubuh
4 Keseimbangan
duduk

5 Keseimbangan
berdiri

6 Keseimbangan
berjalan

Ket:

Data asesmen koordinasi dan keseimbangan anak menunjukkan bahwa anak


mengalami hambatan keseimbangan dalam duduk, apalagi untuk berjalan
dan berdiri, sehingga membutuhkan bangku khusus untuk membantu
keseimbangannya dalam belajar.

VII. ASESMEN KEMAMPUAN ANAK DALAM PEMBELAJARAN

Dalam hal ini untuk memperoleh informasi mengenai


kemampuan anak dalam proses pembelajaran, penulis melakukan wawancara
langsung kepada guru kelasnya, terkait dengan keaktifan anak dalam
pembelajaran, kemampuan membaca dan menulis anak, kesulitan yang
dihadapi anak dalam belajar, serta kecenderungan anak pada salah satu
mata pelajaran. Adapun hasil wawancara dipaparkan sebagai berikut:

1. Di dalam kelas anak sedikit terlihat tidak nyaman dengan posisi duduknya,
hal tersebut sehubungan dengan kondisi fisik yang dialami oleh anak, dimana
anggota gerak bagian kanan mengalami kekakuan dan kelayuan.

2. Untuk taraf anak kelas dasar II, anak tersebut telah mampu menulis huruf,
suku kata, kata, dan kalimat dengan baik walaupun dengan menggunakan
tangan kiri, akibat kelayuan dan kekakuan pada anggota gerak bagian kanan.

3. Anak pun telah mampu membaca dengan fasih dan lancar.


4. Anak tidak mencolok pada satu mata pelajaran saja, tapi untuk semua mata
pelajaran, anak mampu mengikutinya dengan baik.

5. Anak aktif dalam pembelajaran, terbukti ketika anak mengajukan


pertanyaan terhadap hal-hal yang tidak dimengerti, begitupun sebaliknya jika
guru mengajukan pertanyaan sebagai umpan balik, anak mampu menjawab
pertanyaan dengan baik.

6. Anak menunjukkan kemajuan belajar dibandingkan dengan teman-


temannya yang lain sehingga anak bosan ketika guru harus mengulang
materi pembelajaran karena mengejar ketertinggalan teman-temannya.

Ket:

Data hasil asesmen yang diperoleh melalui wawancara dengan guru kelasnya
dapat diketahui bahwa anak tidak ada masalah dalam belajar, justru anak
menunjukkan kemajuan dalam belajar dibanding dengan teman-temannya
yang lain.

3. Analisis Hasil Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus (Anak


Tunadaksa)

Berdasarkan hasil asesmen yang telah diuraikan pada anak tunadaksa


kelas dasar II di SLB B/C Al-Azhar Sidoarjo, mulai dari identitas anak, asesmen
masa kelahiran, asesmen perilaku sosial baik dalam lingkungan masyarakat,
keluarga, maupun sekolah, asesmen kemampuan koordinasi dan
keseimbangan, serta asesmen kemampuan pembelajaran anak. Maka terlihat
dengan jelas beberapa kebutuhan yang diperlukan anak dalam proses
pertumbuhan dan perkembangannya agar dapat tumbuh dan berkembang
secara optimal. Berikut akan diuraikan beberapa kebutuhan anak tunadaksa
dengan nama berinisial Hrm:

1. Dilihat dari keadaan anggota gerak atas maupun anggota gerak bagian
bawah mengalami kekakuan dan kelayuan pada bagian kanan, maka anak
membutuhkan alat bantu untuk berpindah tempat dari satu tempat ke
tempat lain misalnya tongkat maupun kursi roda, namun karena keterbatasan
materi orang tua maka kebutuhan tersebut belum terpenuhi.

2. Masih sehubungan dengan keadaan anggota gerak yang mengalami


kekakuan dan kelayuan pada bagian kanan, baik anggota gerak atas maupun
anggota gerak bawah, maka anak juga membutuhkan fisioteraphy untuk
melatih kerja anggota gerak yang tidak berfungsi dengan baik karena kekuan
dan kelayuan yang dialaminya.

3. Sehubungan dengan sikap anak yang mulai mempertanyakan perbedaan


fisiknya dengan saudaranya yang lain kepada orang tuanya, maka anak juga
membutuhkan layanan bimbingan konseling untuk mendapatkan bimbingan
dalam memahami dirinya sendiri, menerima keadaan fisiknya, sehingga kelak
anak siap menghadapi masa depannya dengan keterbaasan fisiknya.

4. Sehubungan dengan cita-cita anak yang ingin menjadi seorang TNI, maka
dalam hal ini juga dibutuhkan peran tenaga bimbingan dan konseling, untuk
memberikan bimbingan karier, mengingat keadaan fisik anak yang tidak
memungkinkan untuk menjadi seorang TNI. Dengan adanya bantuan tenaga
bimbingan dan konseling diharapkan anak akan ada gambaran karier
kedepannya yang sesuai dengan kondisi fisiknya.

5. Masih sehubungan dengan cita-cita anak, maka dalam hal ini anak juga
membutuhkan layanan pelatihan keterampilan sejak dini, sebagai modal
kedepannya agar dapat hidup mandiri tanpa terus bergantunng pada orang
tua baik secara moral maupun materil.

6. Sehubungan dengan kemampuan yang ditunjukkan anak dalam proses


pembelajaran, yang lebih maju dibandingkan dengan teman-temannya yang
lain, maka Wawan perlu di buatkan PPI (Program Pembelajaran Individual)
dengan materi yang berbeda dengan temannya, sehingga kemampuannya
tidak terhambat karena menunggu temannya yang lain yang terkesan agak
lambat.

Berdasarkan uraian tugas-tugas perkembangan dan serentetan


kebutuhan anak yang telah ditemukan dari hasil asesmen, maka berikut
salah satu contoh rancangan program berkaitan dengan kemajuan yang
ditunjukkan anak dalam pembelajaran. Dalam hal ini, rancangan program
dibuat guna mengembangkan kemampuan menulis puisi anak pada mata
pelajaran bahasa Indonesia:

4. Contoh Rencana Program Layanan Bimbingan dan Konseling

RENCANA PROGRAM PELAYANAN

BIMBINGAN DAN KONSELING

(RPPBK)

A. IDENTITAS

Indentitas Sekolah

1. Sekolah : SLB Al-Azhar Waru Sidoarjo

2. Kelas/semester : III/I

3. Bidang Bimbingan : Akademik

4. Jenis layanan : Motivasi dan penyuluhan

5. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Aflikasi

6. Topik : Mengembangkan kreatifitas menulis puisi

7. Standar Kompetensi : Kematangan Menulis Puisi

8. Kompetensi dasar : Mengenal Potensi diri dalam menulis puisi


9. Alokasi Waktu : 35 Menit

Indentitas Siswa

1. Nama : Hrm

2. Kelas : III

3. Jenis kecacatan : Tunadaksa

4. Sekolah : SLB A-l-Azhar Waru Sidoarjo

B. TUJUAN LAYANAN

1. Siswa memahami apa yang dimaksud dengan perestasi belajar menulis puisi

2. Siswa dapat menggali potensinya lewat Puisi

3. Siswa mengetahui definisi dan cara membuat puisi

4. Siswa berkreatif dalam menuangkan ide imajinasinya

5. Siswa mampu mengaflikasikan potensinya di depan hal layak

C. MATERI LAYANAN

1. Menulis puisi

Menulis merupakan suatu proses melahirkan tulisan yang berisi


gagasan. Menulis merupakan bagian dari empat keterampilan berbahasa.
Keterampilan berbahasa itu adalah menyimak, berbicara, membaca, dan
menulis. Membaca dan menyimak merupakan keterampilan yang bersifat
reseptif sedangkan berbicara dan menulis merupakan keterampilan yang
produktif. Sebagai keterampilan produktif, menulis mempunyai peran
pemindahan informasi secara akurat dari diri seseorang ke dalam tulisan.
Menulis puisi merupakan kegiatan produktif yang lahir dari ekspresi
pribadi. Kepandaian menulis puisi bergantung pada pengalaman menulis
puisi. Menurut Wiyanto (2005:48), kemampuan menulis puisi sering dianggap
sebagai bakat sehingga orang yang merasa tidak mempunyai bakat tidak
akan dapat menulis, tetapi bakat tidak berarti tanpa ada pelatihan. Dan
begitu pun sebaliknya, tanpa bakat pun bila seseorang rajin belajar dan giat
berlatih, ia akan terampil dalam menulis puisi. Jadi, menulis puisi termasuk
jenis keterampilan, seperti halnya jenis keterampilan lainnya,
pemerolehannya harus melalui belajar dan berlatih, semakin sering belajar
dan semakin giat berlatih, tentu semakin cepat terampil.

Ada beberapa langkah-langkah di dalam menulis puisi seperti yang


diungkapkan oleh Komaidi (2007:207) diantaranya sebagai berikut :

Sebelum menulis puisi, pahami dulu apa itu puisi. Kita dapat mencoba
sebanyak mungkin membaca puisi-puisi yang ada di buku, majalah, atau
media massa. Setelah banyak membaca puisi tentu sedikit atau banyak kita
akan tahu apa itu puisi dan bagaimana membuatnya.

Mencari inspirasi dengan berkeliling-keliling ke alam lingkungan sekitar


karena hal itu akan memperluas pengalaman estetik kita untuk dituangkan ke
dalam puisi.

Cobalah membawa catatan atau buku kecil ke mana kita pergi. Hal ini untuk
menuliskan setiap ide atau inspirasi berharga yang terlintas di pikiran kita
agar tidak cepat hilang dan terlewatkan.

Tulis apa yang ada dalam pikiran, perasaan kita, kegelisahan kita ke dalam
bentuk kata-kata dalam puisi dengan bebas tanpa beban.

Baca dan perbaiki puisi yang sudah dibuat. Setelah selesai menulis puisi,
coba endapkan sebentar beberapa jam atau beberapa hari kemudian. Setelah
itu, baca lagi puisi yang sudah dibuat, mungkin kita merasakan sesuatu yang
berbeda dan muncul perspekstif baru dalam pikiran.
Setelah selesai menulis puisi, coba uji puisi yang dibuat untuk dikirimkan ke
media massa atau pun minta kritik, saran dari orang lain sehingga puisi yang
telah dibuat menjadi semakin menarik dan mempunyai nilai estetika tinggi.

2. Prinsip Belajar Menulis Puisi

Landasan utama dalam mencapai keberhasilan belajar Menulis Puisi


adalah kesiapan mental. Tanpa kesiapan mental, maka tidak akan dapat
bertahan terhadap berbagai kesukaran (kesulitan) yang dihadapi selama
belajar.

Setiap peserta didik diharapkan mempunyai minat yang besar terhadap


semua mata pelajaran Bahasa Indonesia, Karena bahasa Indonesia memiliki
peranan penting bagi kita. Salah satu aspek menguasai Bahasa Indonesia itu
yaitu siswa di tuntut mampu menulis puisi yang menjadi inti pelajaran di
semester dua. Suka atau tidak suka pelajaran menulis puisi ini harus
ditempuh. Sikap membenci Menulis puisi tidak ada manfaatnya, yang terbaik
adalah mengambil sikap positif dengan berusaha menyukai membuat puisi
sampai bisa mengkreasikan dan menganalisisnya sehingga menjadi sebuah
prestasi dalam mengembangkan bakat menulis.

3. Manfaat Menulis Puisi

Dengan menulis puisi, peserta didik dapat menyampaikan ide


imajinasinya yang terpendam sehingga menjadi sebuah aktualisasi dalam
mengembangkan potensi dan Prestasi di Sekolah.

D. KEGIATAN LAYANAN

Tahap Waktu

Pembukaan 1. Berdoa bersama sebelum memulai 5 Menit


pemberian layanan
2. Presensi

3. Membina hubungan baik dengan


metode Curhat

4. Menyampaikan materi tujuan dari


materi yang akan disampaikan
lewat cerita motivasi,

5. pemaparan materi menulis puisi


kreatif Simulasi

Inti 1. Siswa diberikan motivasi tentang 20 Menit


pentingnya memilki ke ahlian dan
pentingnya menulis.

2. Siswa diberikan pemahaman


tentang menulis puisi dan
diperlihatkan contoh puisi-puisi
anak, setelah itu mereka dibantu
untuk mencaritahu makna puisi
tersebut

3. Siswa diberikan kesempatan


berpendapat tentang pengetahuan
menulis puisinya dan di beri
kesempatan menulis puisi sesuai
kognitif mereka

4. Siswa diberikan kesempatan


menulis puisi sesuai dengan materi
yang telah disampaikan dan sesuai
dengan perasaan mereka

5. Siswa di tuntut untuk


mendeklarasikan/ membacakan
puisi yang mereka buat

Penutup 1. Konselor menyampaikan 10 Menit


kesimpulan

2. Evaluasi atau tindak lanjut

E. MEDIA

1. Gambar yang berhubungan dengan tema puisi

2. Buku Referensi, Kertas dan alat tulis


F. METODE

1. Diskusi

2. Tanya jawab dan Latihan

G. TEMPAT KEGIATAN

Di dalam kelas

H. PENILAIAN

1. Penilaian hasil

Penilaian hasil dilakukan melalui :

Penilaian Segera :

Siswa memahami materi yang telah disampaikan.

Jangka pendek :

Siswa merasa senang dengan menulis puisi dan dapat menulis puisi

Jangka panjang :

Di ukur dengan menggunakan lembar observasi siswa (untuk dapat


mengetahui perubahan sikap, dan semangat siswa melalui pengamatan
langsung terhadap perilaku siswa setelah mengikuti kegiatan tersebut).

2. Penilaian Proses

Penilaian proses dilaksanakan melalui analisis terhadap keterlibatan siswa


dalam pelaksanaan kegiatan.

3. Aspek yang diamati:

Partisipasi siswa dalam diskusi


Penyelesaian tugas refleksi diri dan mempresentasikan hasil puisi yang di
tulis siswa

I. EVALUASI

Evaluasi hasil

siswa dikatakan berhasil memperoleh pengalaman belajar dengan baik, bila:

Merasa senang dalam mengikuti kegiatan diskusi

Dapat berpartisipasi dalam penyelesaian tugas akhir diskusi.

Dapat menunjukkan perubahan sikap yang lebih baik dalam menjalankan


hidup dengan bertanggung jawab dan prestasi belajar meningkat.

J. SUMBER

Dede Jubaedah. 2012. Rencana Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling.


Artikel. Online. Diakses. Kamis, 27 Desember 2012. 15.30 WIB.

K. PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT

1. Memantau perkembangan siswa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan


sekolah.

2. Mengadakan bimbingan terus menerus untuk meningkatkan pemahaman


terhadap materi layanan yang disampaikan.

3. Memberikan layanan konseling individu bila mengalami hambatan.


BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan

Kebutuhan ABK dan keluarganya telah banyak terabaikan selama


sekian tahun. Stereotip dan perilaku dari masyarakat harus berubah dalam
menghadapi kecacatan. Anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar,
menik mati hidup, smampu mandiri, produktif, dan berkembang sesuai
potensinya, tentu melalui berbagai layanan, diantaranya melalui layanan
bimbingan dan konseling.

Anak-anak berkebutuhan khusus adalah individu yang unik. Mereka juga


mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang sebagaimana anak-anak
lainnya dan memiliki kebutuhan dasar yang sama. Ini merupakan tantangan
bagi para konselor untuk berkolaborasi memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu.

Pelayanan bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus


akan amat erat kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup
seharihari
yang tidak akan terisolasi dari konteks. Oleh karena itu pelayan BK bagi
anak berkebutuhan khusus merupakan pelayanan intervensi tidak langsung
yang akan lebih terfokus pada upaya mengembangkan lingkungan
perkembangan bagi kepentingan fasilitasi perkembangan konseli, yang akan
melibatkan banyak pihak di dalamnya.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, maka dalam hal


ini penulis merekomendasikan agar rencana layanan bimbingan konseling
untuk ABK yang telah disusun pada bab sebelumnya agar dilaksanakan dan
segera ditindaklanjuti. Pelaksanaan layanan bimbingan konseling tersebut
sebaiknya bekerja sama dengan guru kelas agar lebih jelas dan terarah.
DAFTAR PUSTAKA

Adurrachman dan Sudjadi. 1995. Pendidikan Luar Biasa Umum. Jakarta.


Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Chori, Salim. 1995. Ortopedagogik Anak Tunadaksa. Jakarta. Departemen


Pendidikan dan Kebudayaan.

Sunardi. 1995. Ortopedagogik Anak Tunalaras 1. Jakarta. Departemen Pendidikan


dan Kebudayaan.

Prayitno & Amti.2008. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta.Rineka Cipta

Syaodah &Agustin. 2008. Bimbingan dan Konseling Untuk Anak Usia Dini. Jakarta.
Universitas Terbuka

Yusuf, Syamsu & Nurihsan, Juntika. 2010. Landasan Bimbingan dan Konseling.
Bandung : PT. REMAJA ROSDAKARYA

http://singokalijogo.blogspot.com/2012/08/bimbingan-konseling-bagi-anak.html

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_SEKOLAH/19441205196
7101-KOKO_DARKUSNO_A/TUGAS-TUGAS_PERKEMBANGAN.pdf
Diposkan oleh MIRNAWATI MINNA di Jumat, Mei 24, 2013

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest

1 komentar:

Riko Yuditio mengatakan...

mksh ka, izin mengunakan juga ya:)

12 April 2017 22.01

Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

MY INSPIRATION

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam
masyarakat dan dari sejarah (Pramoedya Ananta Toer).

THIS IS ME...
MIRNAWATI MINNA

muslimah penikmat SENJA.. menjemput bahagia dengan KESEDERHANAAN

Lihat profil lengkapku

MY FAVORITE PICTURE

BLOG ARCHIVE

2016 (10)
2015 (14)
2014 (18)
2013 (49)
o Desember 2013 (2)
o November 2013 (8)
o Oktober 2013 (12)
o September 2013 (5)
o Agustus 2013 (2)
o Juli 2013 (3)
o Juni 2013 (5)
o Mei 2013 (12)
HARI KEMENANGAN
PROGRAM LAYANAN BIMBINGAN KONSELING BAGI ANAK BER...
HARAPAN KESETIAAN
GALAU
CINTA DI SEPERTIGA MALAM
PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DALAM PEMBERIA...
BUAT APA BERSEDIH, KITA PUNYA ALLAH...
AYAH
AYAH BUNDA
ASESMEN AREA KEBUTUHAN ANAK TUNADAKSA KELAS DASAR ...
KEBUTUHAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING BAGI ANA...
POTRET PENYELENGGARAAN BIMBINGAN DAN KONSELING PAD...

Tema Jendela Gambar. Diberdayakan oleh Blogger.

FACEBOOK

TWITTER

CATEGORIES

KALIMANTAN BARAT

MUSIC

MOVIE

NEWS

Search on

Ira Widyastuti
Barangsiapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke
surga. (HR. Muslim)

HOME

POSTS RSS

COMMENTS RSS

EDIT
Search...

Makalah Perbedaan Prinsip Bimbingan dan


Prinsip ABK
0 komentar

Posted in Label: Pendidikan

undefined
undefined

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan dasar merupakan pondasi untuk pendidikan selanjutnya


dan pendidikan nasional, maka dari itu aset suatu bangsa tidak hanya
terletak pada sumber daya alam yang melimpah, akan tetapi terletak pada
sumber daya manusia yang berkualitas. maka diperlukan peningkatan
sumber daya manusia Indonesia sebagai kekayaan negara yang kekal dan
sebagai investasi untuk mencapai kemajuan bangsa.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan


memberikan Bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam menghadapi
persoalan-persoalan yang dapat timbul dalam hidupnya. Bantuan semacam
itu sangat tepat jika diberikan di SD, demi perkembangan siswa ke arah yang
semaksimal mungkin. Guru sebagai salah satu pendukung unsur pelaksana
pendidikan mempunyai tanggung jawab sebagai pendukung pelaksana
layanan bimbingan pendidikan di sekolah, dituntut untuk memiliki wawasan
yang memadai terhadap konsep-konsep dasar bimbingan dan kebutuhan
bimbingan di sekolah.
Anak dengan kebutuhan khusus perlu dikenal dan diidentifikasi dari
kelompok anak pada umumnya, oleh karena mereka memerlukan pelayanan
yang bersifat khusus. Pelayanan tersebut dapat berbentuk pertolongan
medik, latihan-latihan therapeutic, maupun program pendidikan khusus, yang
bertujuan untuk membantu mereka mengurangi keterbatasannya dalam
hidup bermasyarakat.

Dalam rangka mengidentifiksi (menemukan) anak dengan kebutuhan khusus,


diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan gradasi (tingkat) kelainan
organis maupun fungsional anak melalui gejala-gejala yang dapat diamati
sehari-hari.

Anak-anak berkebutuhan khusus, adalah anak-anak yang memiliki


keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, yang membedakan
mereka dari anak-anak normal pada umumnya. Keadaan inilah yang
menuntut adanya penyesuaian dalam pemberian layanan pendidikan yang
dibutuhkan. Keragaman yang terjadi, memang terkadang menyulitkan guru
dalam upaya pemberian layanan pendidikan yang sesuai. Namun apabila
guru telah memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai cara
memberikan layanan yang baik, maka akan dapat dilakukan secara optimal.
Kita akan mengkaji beberapa prinsip bimbingan dengan prinsip layanan
pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus, yang dilengkapi dengan
beberapa ilustrasi yang akan memudahkan pembaca untuk mengkajinya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas dapat dirumuskan permasalahan yakni:

1. Apa konsep dasar bimbingan?

2. Apa sajakah konsep dasar bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus?

3. Apa sajakah karakateristik umum anak berkebutuhan khusus?

4. Apa sajakah prinsip dasar layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus?

5. Bagaimana bentuk penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan


khusus?

C. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai melalui penulisan makalah ini adalah:

1. Menjelaskan konsep dasar bimbingan

2. Menjelaskan konsep dasar bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus

3. Menjelaskan karakateristik umum anak berkebutuhan khusus

4. Menjelaskan prinsip dasar layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus

5. Menjelaskan bentuk penyelenggaraan pendidikan anak berkebutuhan


khusus

D. Manfaat

Adapun manfaat makalah ini:

1. Sebagai sumber bacaan dan tambahan bagi semua pihak yang ingin
mengetahui perbedaan prinsip bimbingan dengan prinsip anak berkebutuhan
khusus

2. Sebagai bahan perbandingan dengan makalah lain yang mengangkat


masalah yang sama.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Bimbingan

Konsep dasar bimbingan mencakup pengertian, tujuan, fungsi,


prinsip, serta asas-asas bimbingan di SD.

1. Pengertian Bimbingan

Banyak ahli yang telah merumuskan pengertian bimbingan. Di


antaranya yang klasik dan sudah cukup lama berkembang di Amerika Serikat
serta banyak dikutip oleh para penulis di Indonesia adalah sebagaimana
dikemukakan oleh Crow& Crow (1960), Jones (1963), dan Mortensen &
Schmuller (1964) sebagai berikut:
Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang yang telah
terlatih dengan baik dan memiliki kepribadian serta pendidikan yang
memadai kepada individu dari semua usia untuk membantu mengatur
kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan pandangan hidupnya
sendiri, membuat keputusan sendiri dan menanggung bebannya sendiri
(Crow & Crow 1960:14).

Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu-


individu dalam menentukan pilihan-pilihan dan mengadakan berbagai
penyesuaian secara bijaksana dengan lingkungannya. Tujuan utama
bimbingan adalah untuk mengembangkan setiap individu sesuai dengan
kemampuannya (Jones, dalam Djumhur dan M. Surya 1975:10).

Bimbingan dapat diartikan sebagai bagian dari keseluruhan program


pendidikan yang membantu menyediakan kesempatan-kesempatan pribadi
dan layanan-layanan petugas ahli dengan mana setiap individu dapat
mengembangkan kemampuan-kemampuan dan kecakapan-kecakapannya
secara penuh sesuai dengan yang diharapkan (Mortensen & Shmuller,
1964:3)

Dari definisi diatas dapat diangkat makna sebagai berikut:

a. Bimbingan merupakan suatu proses, yang berkesinambungan.


Bimbingan memiliki tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana yang
terarah kepada pencapaian tujuan.

b. Bimbingan merupakan helping, yang identik dengan aiding, assisting, atau


awailing. Dalam proses bimbingan, pembimbing tidak memaksakan
kehendaknya sendiri, tetapi berperan sebagai fasilitator.

c. Individu yang dibantu adalah individu yang sedang berkembang


dengan segala keunikannya.

d. Tujuan bimbingan adalah perkembangan optimal, yaitu perkembangan yang


sesuai dengan potensi dan sistem nilai tentang kehidupan yang baik dan
benar.

2. Tujuan
Pelayanan bimbingan di sekolah memiliki tujuan tertentu. Tujuan itu dapat
dibedakan atas tujuan umum dan tujuan khusus.

a. Tujuan umum

Secara umum pelayanan bimbingan di sekolah terutama di SD bertujuan agar


setelah mendapat pelayanan bimbingan siswa dapat mencapai
perkembangannya secara optimal sesuai dengan bakat, kemampuan, dan
nilai-nilai yang dimiliki. Tujuan ini dirumuskan berdasarkan kenyataan adanya
perbedaan antara siswa sesamanya. Setiap siswa memiliki keunikan-keunikan
tertentu.

b. Tujuan Khusus

Secara khusus pelayanan bimbingan di sekolah bertujuan agar siswa dapat:

1) Memahami dirinya dengan baik.

2) Memahami lingkungan sosial masyarakat dengan baik.

3) Membuat pilihan dan keputusan yang bijaksana.

4) Mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari,


baik di sekolah maupun dilingkungan sekolah.

5) Mencapai kehidupan yang efektif dan produktif.

3. Fungsi Bimbingan

Beberapa fungsi umum diadakannya bimbingan di SD yaitu:

a. Fungsi Pemahaman, yaitu Mengetahui siapa dan bagaimana individu siswa


yang dibimbing, berusaha mengungkapkan dan memahami apa masalah dan
kesulitan yang dihadapinya, apa dan bagaimana kekuatan-kekuatan dan
kelemahan-kelemahannya.

b. Fungsi Pencegahan (Preventif), yaitu Pelayanan bimbingan harus memiliki


fungsi pencegahan, yaitu penciptaan suatu suasana agar pada diri siswa
tidak timbul berbagai masalah yang dapat menghambat proses belajar dan
perkembangannya. Kegiatan bimbingan yang mengarah pada pemenuhan
fungsi ini antara lain adalah:
1) Pemberian orientasi dan informasi

2) Penciptaan kondisi pendidikan yang sehat dan menunjang

3) Kerjasama dengan orang tua murid

c. Fungsi Pemecahan (Pemberian Bantuan), yaitu Fungsi pemecahan


merupakan usaha sekolah untuk mengatasi berbagai masalah atau kesulitan
yang dialami siswa dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Fungsi
pemecahan ini dapat diselenggarakan oleh konselor atau guru sesuai dengan
jenis dan sifat dari kesulitan yang dialami oleh siswa.

d. Fungsi Pengembangan, yaitu Pelayanan bimbingan bukan sekedar


mengatasi kesulitan yang dialami siswa melainkan juga berupaya agar siswa
dapat mengembangkan segenap potensi yang dimilikinya.

e. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu


memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi sesuai dengan
minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadiannya.

f. Fungsi Penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu individu


(siswa) agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif
terhadap program pendidikan, peraturan sekolah, atau norma-norma yang
ada.

4. Prinsip-Prinsip Bimbingan

Pelayanan bimbingan di sekolah hendaklah dilaksanakan menurut prinsip-prinsip


tertentu, yaitu:

a. Bimbingan adalah untuk semua murid.

b. Bimbingan melayani murid-murid dari semua usia.

c. Bimbingan bersifat individualisasi.

d. Bimbingan harus mencakup semua bidang pertumbuhan dan perkembangan


siswa.

e. Bimbingan menekankan hal yang positif.

f. Bimbingan mendorong penemuan dan pengembangan diri.


g. Pelaksanaan bimbingan menghendaki adanya kerjasama dari murid, orang tua,
kepala sekolah, dan konselor.

h. Bimbingan harus menjadi bagian yang terpadu dalam keseluruhan


program pendidikan di Sekolah.

i. Bimbingan harus dapat dipertanggungjawabkan kepada individu dan masyarakat.

. 5. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling

Pemenuhan asas-asas bimbingan dan konseling akan memperlancar


pelaksanaan dan menjamin keberhasilan layanan bimbingan dan konseling.
Asas-asas yang dimaksud adalah sebagai berikut.

a. Kerahasiaan,

b. Kesukarelaan,

c. Keterbukaan,

d. Kekinian,

e. Kemandirian,

f. Kegiatan,

g. Kedinamisan,

h. Keterpaduan

i. Kenormatifan,

j. Keahlian,

k. Alih tangan,

l. Tutwuri Handayani,

B. Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus


1. Pengertian anak berkebutuhan khusus

Secara historis istilah untuk menyebutkan anak berkebutuhan khusus


(ABK) mengalami perubahan beberapa kali sesuai paradigma yang diyakini
pada saat itu. Perubahan yang dimaksud dimulai dari anak cacat, anak tuna,
anak berkekurangan, anak luar biasa atau anak berlainan sampai anak
berkebutuhan khusus. Klirk (1986:5) mengemukakan bahwa kekeliruan orang
dalam memahami anak-anak ini akan berdampak kepada bagaimana ia
melakukan pendidikan bagi mereka.

Di Indonesia penggunaan istilah tersebut baru diundangkan secara


khusus pada tahun 1950 melalui Undang Undang Nomor 4, kemudian disusul
dengan Undang Undang Nomor 12 tahun 1954.

Istilah yang digunakan di Indonesia saat ini adalah anak berkebutuhan


khusus sebagai terjemahan dari istilah Children with Special needs. Istilah
ini muncul sebagai akibat adanya perubahan cara pandang masyarakat
terhadap anak luar biasa (Exceptional Children). Pandangan ini baru
meyakini bahwa semua anak luar biasa mempunyai hak yang sama dengan
manusia pada umumnya. Oleh karena itu, semua anak luar biasa baik yang
berat maupun yang ringan harus di didik bersama-sama dengan anak-anak
pada umumnya di tempat yang sama. Dengan perkataan lain anak-anak luar
biasa tidak boleh ditolak untuk belajar di sekolah umum yang mereka
inginkan. System pendidikan seperti inilah yang disebut dengan pendidikan
inklusif. Dalam system pendidikan seperti ini digunakan istilah anak
berkebutuhan khusus untuk menggantikan istilah anak luar biasa yang
mengandung makna bahwa setiap anak mempunyai kebutuhan khusus baik
yang permanen maupun yang tidak permanen.

Yang termasuk kedalam ABK antara lain: tunanetra, tunarungu,


tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, kesulitan belajar, gangguan perilaku, anak
berbakat, anak dengan gangguan kesehatan. istilah lain bagi anak
berkebutuhan khusus adalah anak luar biasa dan anak cacat.

Banyak istilah yang dipergunakan sebagai variasi dari kebutuhan


khusus, seperti disability, impairment, danHandicap. Menurut World Health
Organization (WHO), definisi masing-masing istilah adalah sebagai berikut:
a. Disability : keterbatasan atau kurangnya kemampuan (yang dihasilkan
dari impairment) untuk menampilkan aktivitas sesuai dengan aturannya atau
masih dalam batas normal, biasanya digunakan dalam level individu.

b. Impairment: kehilangan atau ketidaknormalan dalam hal psikologis, atau


struktur anatomi atau fungsinya, biasanya digunakan pada level organ.

c. Handicap : Ketidak beruntungan individu yang dihasilkan


dari impairment atau disability yang membatasi atau menghambat
pemenuhan peran yang normal pada individu.

C. Karakateristik Umum Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini adalah anak yang


mengalami penyimpangan sedimikian rupa dari anak normal baik dalam
karakteristik mental, fisik, social, emosi, ataupun kombinasi dari hal-hal
tersebut sehingga memerlukan layanan pendidikan khusus supaya dapat
mengembangkan potensinya seoptimal mungkin.

Meskipun anak berkebutuhan khusus itu berdiferensiasi, namun pada


dasarnya mereka juga memiliki karakteristik yang relative sama diantaranya
dalam hal perkembangan intelektual, sosialisasi, stabilitas emosi, dan
komunikasi.

Dalam segi perkembangan intelektual, rata-rata semua jenis anak


berkebutuhan khusus terhambat bahkan ada yang terhambat sekali. Hal ini
tergantung tingkat intensitas kelainannya dan derajat kedalaman
pengalaman yang diberikan kepadanya.

Dalam segi sosialisasi, pada umumnya mereka mengalami kesulitan


dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya, meskipun di balik itu
mengalami kemudahan dalam menyesuaikan dengan sesama anak
berkebutuhan khusus yang sama kelainannya. Kesulitan menyesuaikan diri
dapat terjadi karena adanya rasa rendah diri yang disebabkan adanya
kelainan ataupun keterbatasan dalam kesanggupan menyesuaikan diri.

Dari stabilitas emosi, nampak pada umumnya emosi kurang stabil,


mudah putus asa, tersinggung, konflik diri dan sebagainya. Hal ini muncul
diduga karena keterbatasannya di dalam gerak, wawasan dan mengendalikan
diri.

Dari segi komunikasi, mengalami hambatan terutama bagi mereka


yang mempunyai kelainan cukup berat, meskipun terbantu dengan
kemampuan-kemampuan lainnya, misalnya yang mengalami gangguan
penglihatan dapat diatasi dengan pendengaran atau perabaan, gangguan
pendengaran dapat diatasi dengan penglihatan dan sebagainya.

D. Prinsip Dasar layanan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Beberapa prinsip dasar dalam layanan anak berkebutuhan khusus


pada umumnya yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan.
Prinsip dasar tersebut menurut musjafak Assjari (1995) adalah sebagai
berikut:

a. Keseluruhan anak (all the chilldren )

Layanan pendidikan pada anak berkebutuhan khusus harus didasarkan


pada pemberian kesempatan pada seluruh anak berkebutuhan khusus dari
berbagai derajat, ragam, dan bentuk kecacatan yang ada. Dengan layanan
pendidikan diharapkan anak dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya
seoptimal mungkin, sehingga ia dapat mencapai hidup bahagia sesuai
dengan kecacatannya. Oleh karena itu guru harus kreatif. Guru dituntut
mencari berbagai pendekatan pembelajaran yang cocok bagi anak.
Pendekatan tersebut harus disesuaiakan dengan keunikan dan karakteristik
dari masing masing kecatatan.

b. Kenyataan (reality)

Pengungkapan tentang kemampuan fisik dan psikologis pada masing


masing anak berkebutuhan khusus mutlak dilakukan. Hal ini penting,
mengingat melalui tahapan tersebut pelaksanaan pendidikan maupun
pelaksanaan rehabilitasi dapat memberikan layanan yang sesuai dengan
kemampuan yang dimilki oleh masing masing anak berkebutuhan khusus.
Dasar pendidikan yang menempatkan pada kemampuan masing masing
anak tunadaksa inilah yang dimaknai sebagai dasr yang berlandaskan pada
kenyataan.
c. Program yang dinamis (a dynamic program)

Pendidikan pada dasarnya bersifat dinamis. Pendidikan dikatakan


dinamis karena yang menjadi subjek pendidika adalah manusia yang sedang
tumbuh dan berkembang, yang di dalamnya terdapat proses yang
bergradasi, berkesinambungan untuk mencapai sasaran pendidikan.
Dinamika dlam proses pendidikan terjadi karena subjek didinya selalu
berkembang, sehingga penyesuaian layanan harus memperhatikan
perkembangan yang terjadi pada subjek didik. Dinamika juga terjadi karena
perkembangan ilmu pengetahuan. Kedua kenyataan ini menuntut guru untuk
mengkaji teori teori pendidikan yang berkembang setiap saat.
Memperhatikan kedua dinamika tersebut layanan pendidikan seharusnya
memperhtikan karakteristik yang cukup hetergen pada anak dengan segala
dinamikanya.

d. Kesempatan yang sama (equality of opportunity)

Pada dasarnya anak berkebutuhan khusus diberi kesempatan yang


sama untuk mengembangkan potensinya tanpa memprioritaskan jenis jenis
kecacatan yang dialaminya. Titik perhatian yang utama pada anak
berkebutuhan khusus adalah optimalisasi potensi yang dimiliki masing
masing anak melalui jenjang pendidikan yang ditempuhnya. Hal hal yang
besifat teknis berkaitan dengan sarana dan prasarana sekolah disesuiakan
dengan kenyataan yang ada. Kesempatan yang sama dalam memperoleh
pendidikan menuntut penyelenggara pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus untuk menyediakan dan mengusahakan sarana dan prasarana
pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak dan variasi kecacatannya.

e. Kerjasama (cooperative)

Pendidikan pada anak berkebutuhan khusus tidak akan berhasil


mengembangkan potensi merekajika tidak melibatkan pihak pihak yang
terkait. Beberapa pihak terkait yang paling utama dalah orang tua. Orang tua
anak berkebutuhan khusus perlu dilibatkan dalam merancang dan
melaksanakan program pendidikan. Selain orang tua pihak lain.

Selain prinsip umum tersebut diatas, ada prinsip lain yang juga perlu
diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan bagi anak berkebutuhan
khusus. Prinsip prinsip yang dimaksud ialah :
1) Prinsip Kasih Sayang

Sebagai manusia, anak berkebutuhan khusus membutuhkan kasih sayang


bukan belas kasihan. Kasih sayang yang dimaksudkan merupakan
wujud penghargaan bahwa sebagai manusia mereka memiliki kebutuhan
untuk diterima dalam kelompok dan diakui bahwa mereka adalah sama
seperti anak-anak yang lainnya. Untuk itu, guru sudah seharusnya
mampu menggantikan kedudukan orangtua untuk memberikan
perasaan kasih sayang kepada anak. Wujud pemberian kasih sayang
dapat berupa sapaan, pemberian tugas sesuai dengan kemampuan
anak, menghargai dan mengakui keberadaan anak.

2) Prinsip keperagaan

Anak berkebutuhan khusus ada yang memiliki kecerdasan dibawah rata-


rata. Keadaan ini berakibat anak mengalami kesulitan dalam menangkap
informasi, ia memiliki keterbatasan daya tangkap pada hal-hal yang
kongkret , ia mengalami kesulitan dalam menangkap hal-hal yang abstrak.
Untuk itu, guru dalam membelajarkan anak hendaknya menggunakan alat
peraga yang memadai agar anak terbantu dalam menangkap pesan. Alat-alat
peraga hendaknya disesuaikan dengan bahan, suasana, dan perkembangan
anak.

3) Keterpaduan dan keserasian antar ranah

Dalam proses pembelajaran, ranah kognitif sering memperoleh sentuhan


yang ebih banyak, sementara ranah afeksi dan psikomotor kadang
terlupakan. Akibat yang terjadi dalam proses pembelajaran seperti ini terjadi
kepincangan dan ketidak utuhan dalam memperoleh makna dari apa yang
dipelajari. Keterpaduan dan keserasian antar ranah yang dirancang dan
dikembangkan secara komprehensif oleh guru dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran mendorong terbentuknya kepribadian yang utuh
pada diri anak. Untuk itu seyogyanya menciptakan media yang tepat untuk
mengembangkan ketiga ranah tersebut.

4) Pengembangan minat dan bakat

Proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus pada dasarnya


mengembangkan bakat dan minat mereka. Minat dan bakat masing-masing
subyek didik mereka, baik dalam kuantitas maupun kualitasnya. Tugas guru
dan orangtua adalah mengembangkan minat dan bakat yang terdapat pada
diri anak masing-masing. Hal ini dilakukan karena minat dan bakat seseorang
memberikan sumbangan dalam pencapaian keberhasilan. Oleh karena itu
proses pembelajaran pada anak berkebutuhan khusus hendaknya didasarkan
pada minat dan bakat yang mereka miliki.

5) Kemampuan anak

Heterogenitas mewarnai kelas-kelas pendidikan pada anak berkebutuhan


khusus, akibatnya masing-masing subyek didik perlu memperoleh perhatian
dan layanan yang sesuai dengan kemampuannya.

6) Model

Guru merupakan model bagi subyek didiknya. Perilaku guru akan ditiru
oleh anak didiknya. Oleh karena itu guru perlu merancang secermat mungkin
pembelajaran agar model yang ditampilkannya oleh guru dapat ditiru oleh
anak.

7) Pembiasaan

Penanaman pembiasaan pada anak normal lebih mudah bila dibarengi


dengan informasi pendukungnya. Hal ini tidak mudah bagi anak
berkebutuhan khusus. Pembiasaan pada anak berkebutuhan khusus harus
dilakukan secara berulang-ulang dan diiringi dengan contoh kongkret.

8) Latihan

Latihan merupakan cara yang sering ditempuh dalam pendidikan bagi


anak berkebutuhan khusus. Latihan sering dilakukan bersamaan dengan
pembentukan pembiasaan.

9) Pengulangan

Karakteristik umum anak berkebutuhan khusus adalah mudah lupa. Oleh


karana itu, pengulangan dalam memberikan informasi perlu memperoleh
perhatian tersendiri.

10) Penguatan
Penguatan atau reinforcement merupakan tuntutan untuk membentuk
perilaku pada anak. Pemberian penguatan yang tepat berupa pujian atau
penghargaan yang lain terhadap munculnya perilaku yang dikehendaki anak
akan membantu terbentuknya perilaku.

Selain prinsip umum, ada beberapa prinsip khusus yang perlu


diperhatikan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
Prinsip khusus tersebut berkaitan erat dengan kecacatan yang dialami anak.
Prinsip khusus yang berkaitan dengan layanan pendidikan anak tunanetra
menurutAnnastasia Widjajanti dan Imanuel Hitipeuw (1995) adalah :

a. Prisip totalitas

Prinsip totalitas berarti prisip keseluruhan atau keutuhan. Dalalm


prinsip ini guru mengajar harus secara keseluruhan atau utuh. Keseluruhan
dimaksudkan bahwa dalam mengajarkan konsep sedapat mungkin
melibatkan keseluruhan indera, sedangkan keutuhan dimaksudkan bahwa
konsep yang dikenalkan harus utuh, tidak sepotong potong. Misalnya,
menjelaskan tomat, guru tidak hanya mengenalkan model tomat , tetapi
juga harus menunjukkan tomat yang asli, anak disuruh meraba bentuk
bentuk tomat, mencium bau tomat, merasakan tomat, bahkan
melengkapinya dengan pohon tomat.

b. Prinsip Keperagaan

Prinsip keperagaan sangan dibutuhkan untuk menjelaskan konsep baru


pada anak tunanetra. Prinsip keperagaan berkaitan erat dengan tipe belajar
anak. Ada anak yang mudah menerima konsep melalui indera perabaan, ada
anak yang mudah dengan indera pendengaran. Dengan peragaan anak akan
terhindar dari verbalisme. Misalnya, guru menerangkan perbedaan antara
apel dan tomat. Guru harus membawa kedua jenis buah tersebut. Anak harus
dapat membedakan keduanya dari segi teksture (kasar halus, keras lembut),
berat, rasa, dan baunya. Contoh lain misalnya guru menerangkan nyamuk ,
untuk suara mungkin dapat langsung, tetapi untuk bentuk guru harus
mencari spesimen nyamuk, yang besarnya ratusan kali dari nyamuk yang
sebenarnya.

c. Prinsip Kesinambungan
Prinsip kesinambungan sangat dibutuhkan anak tunanetra dalam
mempelajari konsep. Mata pelajaran yang satu harus berhubungan dengan
mata pelajaran yang lain. Kesinambungan tersebut dalam hal materi dan
istilah yang digunakan guru. Istilah yang digunakan sebaiknya tidak terlalu
banyak variasi.

d. Prinsip Aktivitas

Prinsip aktivitas penting artinya dalam kegiatan belajar anak. Murid


dapat memberikan respon terhadap stimulus yang diberikan guru. Reaksi ini
dilaksanakan dalam bentuk mengamati sendiri dengan bekerja sendiri. Anak
tunanetra diharapkan aktif dan tidak hanya mendengarkan. Tanpa aktivitas ,
konsep yang diterima anak hanya sedikit dan mereka akan merasa jenuh. Jika
anak aktif dalam pembelajaran, maka pengalaman mereka akan banyak,
memperoleh kepuasan dalam belajar sehingga akan mendorong rasa ingin
tahu yang tinggi.

e. Prinsip individual

Prinsip individual dalam pembelajaran berarti pengajaran dilakukan


dengan memperhatikan perbedaan individu, potensi anak, bakat dan
kemampuan masing masing anak. Prinsip ini merupakan ciri khusus dalam
layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Bagi anak tunanetra, prinsip
induvidual mendorong guru untuk memenuhi tuntutan variasi ketunaan dan
kemampuan anak. Guru dituntut sabar, telaten, ulet dan kreatif. Guru harus
mengajar satu per satu sesuai dengan perbedaan anak

E. Bentuk Penyelenggaraan Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus

Menurut Hallahan dan Kauffman (1991) bentuk penyelenggaraan


pendidikan bagi anak bagi anak berkebutuhan khusus ada berbagai pilihan,
yaitu :

1. Regular Class Only (Kelas biasa dengan guru biasa)

2. Regular Class with Consultation (Kelas biasa dengan konsultan guru PLB)

3. Itinerant Teacher (Kelas biasa dengan guru kunjung)


4. Resource Teacher (Guru sumber, yaitu kelas biasa dengan guru biasa, naun
dalam beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru
sumber)

5. Pusat Diagnostik-Prescriptif

6. Hospital or Homebound Instruction (Pendidikan di rumah atau di rumah


sakit, yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk kesekolah biasa)

7. Self-contained Class (Kelas khusus disekolah biasa bersama guru PLB)

8. Special Day School (Sekolah luar biasa tanpa asrama)

9. Residential School (Sekolah luar biasa berasrama)

Bentuk penyelenggaraan pendidikan menurut Hallahan dan Kauffman


(1991) tersebut menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus dapat
dididik dimana saja, disekolah, dirumah, ataupun dirumah sakit selama
memungkinkan. Pilihannya anak berkebutuhan khusus dapat di didik
ditempat yang hampir tidak ada campur tangan Guru PLB sama sekali dikelas
reguler sampai dengan pelayanan pendidikan disekolah khusus, seperti SLB
untuk tunarungu, SLB untuk tunagrahita, SLB untuk tunadaksa, dan
sebagainya.

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Bimbingan adalah suatu proses, sebagai suatu proses, bimbingan


merupakan kegiatan yang berkelanjutan, bimbingan adalah bantuan. Makna
bantuan dalam bimbingan adalah mengembangkan lingkungan yang kondusif
bagi perkembangan siswa dan bantuan itu diberikan kepada individu yang
sedang berkembang, tujuan bimbingan adalah perkembangan yang optimal.

Pada dasarnya semua anak berkebutuhan khusus memiliki


karakteristik dan permasalahan yang realtif sama, yaitu mengalami
hambatan perkembangan intelektualnya, kesulitan dalam sosialisasi,
emosinya tidak stabil, dan hambatan dalam berkomunikasi dengan
lingkungannya.

Bimbingan terhadap anak berkebutuhan khusus hendaknya


dilaksanakan secara terus menerus dan sistemik agar mereka kelak akan
sanggup berdiri sendiri menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari
masyarakatnya.

Jenis layanan bimbingan yang hendaknya diberikan meliputi bimbingan


perkembangan fisik, bimbingan dalam mengatasi kesulitan belajar,
bimbingan dalam mengatasi kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan
lingkungan, dan bimbingan vokasional atau bimbingan pekerjaan

B. SARAN

Guru sebagai pendukung pelaksana layanan bimbingan pendidikan di


sekolah, sebaiknya memiliki wawasan yang luas dan memadai terhadap
konsep-konsep dasar bimbingan serta konsep dasar anak berkebutuhan
khusus di sekolah.

1. Kita sebagai calon guru perlu memiliki keterampilan


memahamiperkembangan, kebutuhan, dan masalah siswa

2. Menerapkan dan mengoptimalkan pendekatan perkembangan dalam


bimbingan

3. Mampu menciptakan kondisi dinamik untuk


menciptakanperkembangan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

http://senjaplb.blogspot.com/2013/05/penerapan-prinsip-prinsip-bimbingan.html

http://deevashare.blogspot.com/2012/05/prinsip-layanan-pendidikan-bagi-
anak.html

http://sayyida-sarah.blogspot.com/2011/12/prinsip-prinsip-layanan-anak.html

http://muhlianto.blogspot.com/2012/03/makalah-bimbingan-anak-sd.html
http://ajengayuvindriatin.blogspot.com/2011/12/kebutuhan-dan-syarat-
pokok-layanan.html

http://www.sabda.org/c3i/bimbingan_konseling_sekolah_dasar

0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Animasi Blog
@Aan_Celluler

Link
Buku Sekolah Elektronik

Cerita Rakyat Nusantara

Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi (DIKTI)

DR. OZ INDONESIA

Ganesha Operation

HIMA PGSD FKIP UNTAN

Info Diknas

Info Beasiswa

Info Korupsi

Liputan 6 Pendidikan

Kamus Orisinil

Kamus Bahasa Arab

Kantor Berita Pendidikan

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI

Kompas

Kompasiana

M-edukasi

Meteorika

Tribun Pontianak
Republika

STKIP PGRI Pontianak

Okezone

Sampoerna Foundation

Siakad Untan

Universitas Airlangga

Universitas Gajah Mada

Universitas Indonesia

Universitas Tanjungpura

World Health Organization (WHO)

Blog Archive
2015 (4)
2014 (104)
o Oktober (2)
o September (1)
o Agustus (1)
o Juli (2)
o Juni (24)
o Mei (54)
Kata Mutiara Bijak Penuh Makna
Makalah Media dan Metode Pembelajaran IPS di SD
Jadi Guru SM-3T Itu Harus Ikhlas
Guru Tipe Umar Bakri atau Aburizal Bakrie?
Kita Tidak Butuh Sekolah, Apalagi Kurikulum
Menyontek dan Pendidikan Karakter
Menakar Kedaulatan TI Bangsa
Menemukan Api Semangat Pendidikan
Otonomi Profesional Guru dan Kualitas Pendidikan
Pelapukan Mutu Pendidikan
Kekerasan dan Dunia Pendidikan Kita
Surat Terbuka untuk Pak Nuh
Persekolahan tanpa Pendidikan
Dilema Pendidikan Nasional
Perilaku Otentik Siswa dan Guru
Guru Bagaimanakah yang Diinginkan Negara Ini?
Kumpulan Puisi Chairil Anwar
Kumpulan Puisi WS Rendra
Kumpulan Puisi Taufik Ismail
Jangan Malu Jadi Mahasiswa PGSD!
Makalah Penerapan PAIKEM dalam Proses Pembelajaran...
Makalah Proses Pembelajaran dan Lesson Study
Mirisnya Pendidikan Di Daerah Terpencil
Separo Guru SD Belum Sarjana
2015 Ingin Jadi Guru PNS ? Ikut PPG SM3T Dulu
Calon Guru Wajib Ikuti Pendidikan Profesi
Bagaimana Saya Menjadi Seorang Guru ?
76 Mutiara Guru
Makalah Pembelajaran Sebagai Pilar Utama Pendidika...
Makalah Kecerdasan Ganda
Makalah Periodesasi dan Perkembangan
Makalah Urgensi Guru Sebagai Pembaharu Pendidikan
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional
Makalah Manusia Sebagai Makhluk Individu dan Sosia...
Makalah Seni Karya Batik Dalam Tradisi Baru Mengha...
Makalah Implikasi Makna Pendidikan Multikultural
Makalah Konsep Dasar Pengembangan Materi Pembelaja...
Makalah Teknik Memahami Anak dan Cara Mengidentifi...
Makalah Perbedaan Prinsip Bimbingan dan Prinsip AB...
Makalah Penerbangan Antariksa
Makalah Tradisi Tepung Tawar Masyarakat Melayu
Makalah Bentuk dan Gerakan Bumi Serta Bulan
Makalah Atmosfer
Makalah Makhluk Hidup dan Perkembangbiakannya
Makalah Metamorfosis, Populasi dan Alat Indera
Biografi Raden Ajeng Kartini
Makalah Analisis Kesulitan Perkembangan dan Belaja...
Makalah MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) dan WHO (Wo...
Makalah Implementasi HAM Dalam Kehidupan Ekonomi, ...
Makalah Pengalamanku Melaksanakan Nilai-nilai dari...
Makalah Budaya Perkawinan Masyarakat Bugis Bone
Makalah Struktur Morfologi Bahasa Indonesia
Jenjang Pendidikan Kepramukaan
Makalah Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Mela...
o Maret (15)
o Februari (5)

Popular Post
Makalah MEE (Masyarakat Ekonomi Eropa) dan WHO (World Health Organization)
MAKALAH PENGERTIAN, TUJUAN, FUNGSI, DAN PRINSIP PENILAIAN PKn SD
Makalah Konsep Keluarga dalam Islam
Perkembangan Individu dalam Belajar (Makalah Psikologi Pendidikan)
Makalah Bentuk dan Gerakan Bumi Serta Bulan
Makalah Atmosfer
Makalah Tradisi Tepung Tawar Masyarakat Melayu
Makalah Makhluk Hidup dan Perkembangbiakannya
Makalah Pengalamanku Melaksanakan Nilai-nilai dari Masing-masing Sila Pancasila
Teori Pembelajaran Matematika

Berita Edukasi
"Capres-Cawapres, Perhatikan Pendidikan!"

Bahasa Bukan Lagi Kendala Utama Belajar di Jepang

Ingin Studi ke Jepang? Datangi Pameran Pendidikan Jepang 2014

Jokowi-JK Ingin Hapus Ujian Nasional

Jokowi: Pendidikan Kunci Majunya Sebuah Daerah

Jokowi: Sertifikasi Guru Akan Dihapus? Kalau Percaya, Kebangetan!

Kalla: Pak Jokowi dan Saya Rencanakan Kesejahteraan yang Lebih Baik untuk Guru

Mayoritas Sarjana Indonesia Masih Pencari Kerja

Mendikbud: Belajar Jangan Selalu di Kelas

Mereka Ingin Kembali Mengabdi di Manggarai NTT

Potret Pendidikan Daerah Terpencil

Rerata Biaya Pendidikan di Indonesia Naik 15 Persen


Sarjana Mendidik Kelak Jadi Dasar Pengangkatan Guru

Sarjana Mendidik Solusi Membanggakan

Submit

Ira Widyastuti

"Menjadi pendidik adalah pengabdian, menjadi guru berprestasi adalah kebanggaan"

Aku bangga menjadi mahasiswi PGSD FKIP UNTAN

Lihat profil lengkapku

193433

Subscribe in a reader

Ira Widyastuti

Designed by: wordpress-solutions | Blogger Templates by Blogger Template


Place | Blogger Tutorial

http://irawidyastuti94.blogspot.co.id/2014/05/makalah-perbedaan-prinsip-
bimbingan-dan.html

CISKAKHOERUNNIS A
A great WordPress.com site

SKIP TO CONTENT
HOME
ABOUT
MODEL DAN BENTUK LAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

MAY 13, 2014 / CISKAKHOERUNNIS A

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah Yang


Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan
memercikkan setetes ilmu-Nya, sehingga penulis dapat
menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat
dan Salam terlimpah curah kepada Muhammad SAW.
yang tidak pernah berputus asa dalam perjuangannya
sehingga menginspirasi Penulis untuk tetap berusaha
menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini membahas tentang Model dan Bentuk


Layanan Anak Berkebutuhan Khusus, diajukan guna
memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Anak
Berkebutuhan Khusus.

Dalam penyusunan makalah ini, Penulis banyak


mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi
dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Untuk itu pada kesempatan ini, Penulis
menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-
pihak yang telah memberikan bantuan dalam
penyusunan makalah ini, semoga mendapat balasan
dari Allah Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari


kesempurnaan,baik dari bentuk penyusunan maupun
materinya. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan
kritik dan saran yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah selanjutnya.

Semoga makalah ini memberikan informasi bagi


masyarakat dan bermanfaat untuk pengembangan
ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Bandung, April 2014

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami
problema dalam belajar, hanya saja problema tersebut
ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian
khusus dari orang lain karena dapat diatasi sendiri oleh
anak yang bersangkutan dan ada juga yang problem
belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatka
perhatian dan bantuan dari orang lain. Anak
penyandang cacat mulai diakui keberadaannya, dan
oleh sebab itu mulai berdiri sekolah-sekolah khusus,
rumah-rumah perawatan dan panti sosial yang secara
khusus mendidik dan merawat anak-anak penyandang
cacat. Mereka yang menyandang kecacatan,
dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dari
orang kebanyakan, sehingga dalam pendidikannya
mereka memerlukan pendekatan dan metode yang
khsusus pula sesuai dengan karakteristiknya. Oleh
sebab itu, pendidikan anak penyandang cacat harus
dipisahkan (di sekolah khusus) dari pendidikan anak
lainnya.

Konsep pendidikan seperti inilah yang disebut dengan


konsep Special Education, yang melahirkan sistem
pendidikan segregasi. Konsep special education dan
sistem pendidikan segregasi lebih melihat anak dari
segi kecacatannya (labeling), sebagai dasar dalam
memberikan layanan pendidikan. Oleh karena itu
terjadi dikotomi antaran pendidikan khusus (PLB)
dengan pendidikan reguler. Pendidikian khusus dan
pendidikan regular dianggap dua hal yang sama sekali
berbeda.
Konsep dan pemahaman terhadap pendidikan anak
penyandang cacat terus berkembang, sejalan dengan
dinamika kehidupan masyarakat. Pemikiran yang
berkembang saat ini, melihat persoalan pendidikan
anak penyandang cacat dari sudut pandang yang lebih
bersifat humanis, holistik, perbedaan individu dan
kebutuhan anak menjadi pusat perhatian. Dengan
demikian layanan pendidikan tidak lagi didasarkan
atas label kecacatan anak, akan tetapi didasarkan
pada hambatan belajar dan kebutuhan setiap individu
anak. Oleh karena itu layanan pendidikan anak
penyandang cacat tidak harus di sekolah khusus,
tetapi bisa dilayani di sekolah regular terdekat dimana
anak itu berada. Cara berpikir seperti ini dilandasi oleh
konsep Special needs education, yang antara lain
melatarbelakangi munculnya gagasan pendidikan
inklusif.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Apa hakikat layanan bagi anak berkebutuhan
khusus?
1.2.2 Bagaimana konsep layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus?
1.2.3 Apa saja model layanan bagi anak berkebutuhan
khusus?
1.2.4 Apa pengertian dari pendidikan inklusif serta
bagaimana implementasinya?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui hakikat lyanan bagi anak
berkebutuhan khusus
1.3.2 Untuk memahami konsep layanan pendidikan
bagi anak berkebutuhan khusus
1.3.3 Mengetahui dan memahami model layanan bagi
anak berkebutuhan khusus
1.3.4 Mengetahui pengertian dari pendidikan inklusif
serta bagaimana implementasinya

Model layanan pendidikan bagi anak


berkebutuhan khusus
ABK memiliki tingkat kekhususan yang amat beragam,
baik dari segi jenis, sifat, kondisi maupun
kebutuhannya, oleh karena itu, layanan
pendidikannnya tidak dapat dibuat tunggal/seragam
melainkan menyesuaiakan diri dengan tingkat
keberagaman karakteristik dan kebutuhan anak.
Dengan beragamnya model layanan pendidikan
tersebut, dapat lebih memudahkan anak-anak ABK dan
orangtuanya untuk memilih layanan pendidikan yang
sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Ada
beberapa model layanan pendidikan bagi ABK yang
ditawarkan mulai dari yang model klasik sampai yang
modern/terkini.

2.3.1 Bentuk Layanan Pendidikan Segregrasi


Sistem layanan pendidikan segregasi adalah sistem
pendidikan yang terpisah dari sistem pendidikan anak
normal. Model ini mencoba memberikan layanan
pendidikan secara khusus dan terpisah dari kelompok
anak normal maupun ABK lainnya. Dengan kata lain
anak berkebutuhan khusus diberikan layanan
pendidikan pada lembaga pendidikan khusus untuk
anak berkebutuhan khusus, seperti Sekolah Luar Biasa
atau Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Menengah
Pertama Luar Biasa, Sekolah Menangah Atas Luar
Biasa. Sistem pendidikan segregasi merupakan sistem
pendidikan yang paling tua. Pada awal pelaksanaan,
sistem ini diselenggarakan karena adanya
kekhawatiran atau keraguan terhadap kemampuan
anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama
dengan anak normal.
Kelebihan dari model ini adalah (1) anak merasa
senasib, sehingga dapat menghilangkan rasa minder,
rasa rendah diri, dan membangkitkan semangat
menyongsong kehidupan di hari-hari mendatang, (2)
anak lebih mudah beradaptasi dengan temannya yang
sama-sama mengalami/menyandang ketunaan, (3)
anak termotivasi dan bersaing secara sehat dengan
sesama temannya yang senasib di sekolahnya, dan
anak lebih mudah bersosialisasi tanpa dibayangi rasa
takut bergaul, minder, dan rasa kurang percaya diri.
Kekurangan/Kelemahan adalah (1) anak terpisah dari
lingkungan anak lainnya sehingga anak sulit bergaul
dan menjalin komunikasi dengan mereka yang normal,
(2) anak merasa terpasung dan dibatasi pergaulanya
dengan anak yang cacat saja sehingga pada giliranya
dapat menghambat perkembangan sosialisasinya di
masyarakat, dan (3) anak merasakan ketidakadilan
dalam kehidupan di sekolah yang terbatas bagi mereka
yang tergolong berkelainan.
Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan
dengan sistem segregasi, yaitu:
a.) Sekolah Luar Biasa (SLB)
Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah
yang paling tua. Bentuk SLB merupakan bentuk unit
pendidikan. Artinya, penyelenggaraan sekolah mulai
dari tingkat persiapan sampai dengan tingkat lanjutan
diselenggarakan dalam satu unit sekolah dengan satu
kepala sekolah. Pada awalnya penyelenggaraan
sekolah dalam bentuk unit ini berkembang sesuai
dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja),
sehingga ada SLB untuk tunanetra (SLB-A), SLB untuk
tunarungu (SLB-B), SLB untuk tunagrahita (SLB-C), SLB
untuk tunadaksa (SLB-D), dan SLB untuk tunalaras
(SLB-E). Di setiap SLB tersebut ada tingkat persiapan,
tingkat dasar, dan tingkat lanjut. Sistem
pengajarannya lebih mengarah ke sistem
individualisasi.
Selain, ada SLB yang hanya mendidik satu kelainan
saja, ada pula SLB yang mendidik lebih dari satu
kelainan, sehingga muncul SLB-BC yaitu SLB untuk
anak tunarungu dan tunagrahita; SLB-ABCD, yaitu SLB
untuk anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan
tunadaksa. Hal ini terjadi karena jumlah anak yang ada
di unit tersebut sedikit dan fasilitas sekolah terbatas.

b.) Sekolah Luar Biasa Berasrama


Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk
sekolah luar biasa yang dilengkapi dengan fasilitas
asrama. Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan
bentuk sekolah luar biasa yang
dilengkapi dengan fasilitas asrama. Peserta didik SLB
berasrama tinggal diasrama. Pengelolaan asrama
menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah,
sehingga di SLB tersebut ada tingkat persiapan,
tingkat dasar, dan tingkat lanjut, serta unit asrama.
Pada SLB berasrama, terdapat kesinambungan
program pembelajaran antara yang ada di sekolah
dengan di asrama, sehingga asrama merupakan
tempat pembinaan setelah anak di sekolah. Selain itu,
SLB berasrama merupakanpilihan sekolah yang sesuai
bagi peserta didik yang berasal dari luar daerah,
karena mereka terbatas fasilitas antar jemput.

c.) Kelas jauh/Kelas Kunjung


Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang
disediakan untuk memberi pelayanan pendidikan bagi
anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB
atau SDLB. Pengelenggaraan kelasjauh/kelas kunjung
merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam rangka
menuntaskan wajib belajar serta pemerataan
kesempatan belajar. Anak berkebutuhan khusus
tersebar di seluruh pelosok tanah air, sedangkan
sekolah-sekolah yang khusus mendidik mereka masih
sangat terbatas di kota/kabupaten. Oleh karena itu,
dengan adanya kelas jauh/kelas kunjung ini. Dalam
penyelenggaraan kelas jauh/kelas kunjung menjadi
tanggung jawab SLB terdekatnya. Tenaga guru yang
bertugas di kelas tersebut berasal dari
guru SLB-SLB di dekatnya. Mereka berfungsi sebagai
guru kunjung (itenerant teacher). Kegiatan
administrasinya dilaksanakan di SLB terdekat tersebut.

d.) Sekolah Dasar Luar Biasa


Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi
anak berkebutuhan khusus, pemerintah mulai Pelita II
menyelenggarakan Sekolah Dasar LuarBiasa (SDLB). Di
SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari
berbagai kelainan yang dididik dalam satu atap. Dalam
SDLB terdapat anak tunanetra, tunarungu,
tunagrahita, dan tunadaksa. SDLB keberadaannya
hampir mirip dengan SLB, akan tetapi SDLB sesuai
adalah sekolah yang diperuntukkan dan untuk
menampung anak-anak berkebutuhan khusus usia
sekolah dasar dari berbagai jenis dan tingkat
kekhususan yang dialaminya. Mereka belajar di kelas
masing-masing yang disesuaikan dengan jenis
kekhususannya, akan tetapi mereka bersosialisasi
secara bersama-sama dalam satu naungan sekolah.
SDLB pada hakikatnya adalah SD Negeri Inpres biasa
tetapi diperuntukkan bagi anak usia wajib belajar yang
memerlukan pendidikan khusus. Dilihat dari
keragaman anak di SDLB dengan berbagai jenis
kekhususannya tersebut, maka SDLB sebenarnya
termasuk sekolah terpadu, akan tetapi terpadu secara
fisik bukan terpadu secara akademik.

2.3.2 Bentuk Layanan Pendidikan


Terpadu/Integrasi
Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah
sistem pendidikan yang memberikan kesempatan
kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar
bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah
umum. Dengan demikian, melalui sistem integrasi
anak berkebutuhan khusus bersama-sama dengan
anak normal belajar dalam satu atap.
Sistem pendidikan integrasi disebut juga sistem
pendidikan terpadu, yaitu sistem pendidikan yang
membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana
keterpaduan dengan anak normal. Keterpaduan
tersebut dapat bersifat menyeluruh, sebagaian, atau
keterpaduan dalam rangka sosialisasi.
Ada tiga bentuk keterpaduan dalam layanan
pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menurut
Depdiknas (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:
a. Bentuk Kelas Biasa
Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan
khusus belajar di kelas biasa secara penuh dengan
menggunakan kurikulum biasa. Oleh karena itu sangat
diharapkan adanya pelayanan dan bantuan guru kelas
atau guru bidang studi semaksimal mungkin dengan
memperhatikan petunjukpetunjuk khusus dalam
melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di kelas
biasa. Bentuk keterpaduan ini sering juga disebut
keterpaduan penuh.
Pendekatan, metode, cara penilaian yang digunakan
pada kelas biasa ini tidak berbeda dengan yang
digunakan pada sekolah umum. Tetapi untuk beberapa
mata pelajaran yang disesuaikan dengan ketunaan
anak. Misalnya, anak tunanetra untuk pelajaran
menggambar, matematika, menulis, membacaperlu
disesuaikan dengan kondisi anak. Untuk anak
tunarungu mata pelajaran kesenian, bahasa
asing/bahasa Indonesia (lisan) perlu disesuaikan
dengan kemampuan wicara anak.

b. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus


Pada keterpaduan ini, anak berkebutuhan khusus
belajar di kelas biasa dengan menggunakan kurikulum
biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata
pelajaran tertentu yang tidak dapat diikuti oleh anak
berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal.
Pelayanan khusus tersebut diberikan di ruang
bimbingan khusus oleh guru pembimbing khusus
(GPK), dengan menggunakan pendekatan individu dan
metode peragaan yang sesuai. Untuk keperluan
tersebut, di ruang bimbingan khusus dilengkapi
dengan peralatan khusus untuk memberikan latihan
dan bimbingan khusus. Misalnya untuk anak
tunanetra, di ruang bimbingan khusus disediakan alat
tulis braille, peralatan orientasi mobilitas. Keterpaduan
pada tingkat ini sering disebut juga keterpaduan
sebagian.

c. Bentuk Kelas Khusus


Dalam keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus
mengikuti pendidikan sama dengan kurikulum di SLB
secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum
yang melaksanakan program pendidikan terpadu.
Keterpaduan ini disebut juga keterpaduan
lokal/bangunan atau keterpaduan yang bersifat
sosialisasi.
Pada tingkat keterpaduan ini, guru pembimbing khusus
berfungsi sebagai pelaksana program di kelas khusus.
Pendekatan, metode, dan cara penilaian yang
digunakan adalah pendekatan, metode, dan cara
penilaian yang digunakan di SLB. Keterpaduan pada
tingkat ini hanya bersifat fisik dan sosial, yang artinya
anak berkebutuhan khusus yang dipadukan untuk
kegiatan yang bersifat non akademik, seperti olah
raga, ketrampilan, juga sosialisasi pada waktu jam-jam
istirahatatau acara lain yang diadakan oleh sekolah.

tiga alasan mengapa ABK memerlukan layanan


pendidikan khusus, yaitu
1. Individual differences, manusia diciptakan Tuhan
berbeda-beda. memiliki kapasitas intelektual, sosial,
fisik, suku, agama yang berbeda, sehingga
memerlukan pendidikan yang sesuai dengan
karakteristik dan kebutuhannya.
2. Potensi siswa akan berkembang optimal dengan
adanya layanan pendidikan khusus
3. Siswa ABK akan lebih terbantu dalam melakukan
adaptasi sosial.
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah
anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik
perbedaan interindividual maupun intraindividual yang
signifikan dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi
dengan lingkungan sehingga untuk mengembangkan
potensinya dibutuhkan pendidikan
Penanganan pendidikan untuk anak-anak ABK dapat
berbentuk model segregasi (Contohnya SLB),
kelaskhusus, SDLB, guru kunjung, sekolah terpadu, dan
pendidikan inklusi. Sedangkan Personil/tenaga yang
terlibat dalam pelaksanaan pelayanan pendidikan ABK,
meliputi: guru, konselor, tenaga medis, psikolog dan
personil lain yang dibutuhkan.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini diharapkan kita bisa
memberikan layanan bagi Anak Berkebutuhan Khusus
dengan baik dan benar, dan kita bisa memberikan
pelayanan terbaik bagi anak yang berkebutuhan
khusus

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, dkk. 2006. Bimbingan Anak Berkebutuhan


Khusus. Bandung: Upi Press
Http://Www.Scribd.Com/Doc/17387933/Mengenal-Anak-
Berkebutuhan-Khusus
http://z-alimin.blogspot.com/2008/03/pemahaman-
konsep-pendidikan-kebutuhan.html
Suparno, dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus. Universitas Lampung.
Sujiono,Nuraini yuliana.2012.Konsep Dasar Anak Usia
Dini.Indeks.s

Advertisements
Share this:

Twitter

Facebook

Google

Uncategorized

Post navigation

kamut

identitas ku

Leave a Reply

Search for:
Search
RECENT POSTS

4-B PGSD unpas

Kisah Nabi Sulaiman Dan Semut


identitas ku
MODEL DAN BENTUK LAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
kamut

RECENT COMMENTS

ARCHIVES

May 2014

CATEGORIES

Uncategorized

META

Register

Log in
Entries RSS
Comments RSS
WordPress.com
Search for:
Search
RECENT POSTS

4-B PGSD unpas

Kisah Nabi Sulaiman Dan Semut


identitas ku
MODEL DAN BENTUK LAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
kamut

RECENT COMMENTS

ARCHIVES

May 2014

CATEGORIES

Uncategorized

META

Register

Log in
Entries RSS
Comments RSS
WordPress.com

BLOG AT WORDPRESS.COM.

Follow

https://ciskakhoerunnisa.wordpress.com/2014/05/13/model-dan-bentuk-

layanan-anak-berkebutuhan-khusus/

ispiniya Spd.Sd
Rabu, 14 Januari 2015

LAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN


KHUSUS

konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus

A. Pengertian layanan
Layanan adalah suatu jasa yang diberikan oleh sesesorang kepada orang
lain untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam layanan terdapat hubungan
timbal balik antara yang memberi layanan dan yang membutuhkan layanan,
jadi layanan diberikan berdasarkan kebutuhan.

Dalam beberapa terminologi, Istilah layanan diartikan sebagai

(1) cara melayani.

(2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang).

(3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang.

Layanan pendidikan merupakan satu kajian penting untuk memenuhi


kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), yang memiliki keunikan
tersendiri dalam jenis dan karakteristiknya, dan membedakan mereka dari
anak-anak normal pada umumnya.
B. Layanan bagi anak berkebutuhan khusus

Anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mengalami


keterbatasan atau hambatan dalam segi fisik, mental-intelektual, maupun
sosial emosional. Kondisi yang demikian, baik secara langsung atau tidak
berdampak pada berbagai aspek kehidupan mereka. Untuk itu layanan
sangat diperlukan bagi mereka, untuk dapat menjalani kehidupannya secara
wajar.

Secara umum kondisi anak-anak berkebutuhan khusus memang berbeda


dengan anak-anak pada umumnya. Namun keadaan yang demikian, bukan
berarti layanan yang diberikan selalu berbeda dengan anak-anak pada
umumnya. Mungkin saja anak anak berkebutuhan khusus secara umum
memerlukan layanan sebagaimana anak anak pada umumnya (ini juga dapat
lihat pada standar isi kurikulum 2005 yang terstandarkan untuk anak
tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan tunalaras), dan hanya pada beberapa
bidang yang memerlukan layanan atau pendampingan khusus. Artinya, untuk
beberapa jenis anak berkebutuhan tersebut sebagian besar dapat mengikuti
layanan pendidikan sebagaimana anak-anak normal pada umumnya.

Dari segi waktu, pemberian layanan pada anak berkebutuhan khusus juga
sangat bervariasi. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan
layanan sepanjang hidupnya, ada kalanya layanan bagi mereka bersifat
temporer. Anak-anak mungkin hanya membutuhkan layanan dalam beberapa
periode waktu. Contohnya anak-anak tunanetra membutuhkan layanan
orientasi dan mobilitas hanya diperlukan pada tingkat satuan pendidikan
Sekolah Dasar.

Demikian juga bina komunikasi untuk anak tunarungu, bina diri dan gerak
untuk anak tunadaksa, bina diri dan sosial untuk anak tunalaras. Namun
untuk anak anak yang berklasifikasi berat, memerlukan berbagai layanan
yang lebih lama untuk menumbuhkan kemandirian mereka.
Ada beberapa jenis layanan yang bisa diberikan kepada anak-anak
berkebutuhan khusus, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Namun
secara umum akan mencakup:

1. layanan medis dan fisiologis

2. layanan sosial-psikologis

3. layanan pedagogis/pendidikan

Jenis layanan tersebut diberikan oleh para ahli yang kompeten pada
bidangnya masing-masing, dan dilakukan berdasarkan kebutuhan anak

model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus

A. Model layanan anak berkebutuhan khusus

Anak berkebutuhan khusus memiliki tingkat kekhususan yang amat


beragam, baik dari segi jenis, sifat, kondisi maupun kebutuhannya, oleh
karena itu, layanan pendidikannnya tidak dapat dibuat tunggal/seragam
melainkan menyesuaiakan diri dengan tingkat keberagaman karakteristik
dan kebutuhan anak. Dengan beragamnya model layanan pendidikan
tersebut, dapat lebih memudahkan anak-anak ABK dan orangtuanya untuk
memilih layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan
kebutuhannya. Ada beberapa model layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus yang ditawarkan mulai dari yang model klasik sampai
yang modern/terkini.

1. Model Segregasi

Model segregasi merupakan model layanan pendidikan yang sudah lama


dikenal dan diterapkan pada anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia.
Model ini mencoba memberikan layanan pendidikan secara khusus dan
terpisah dari kelompok anak normal maupun anak berkebutuhan khusus
lainnya. Dalam praktiknya, masing-masing kelompok anak dengan jenis
kekhususan yang sama dididik pada lembaga pendidikan yang melayani
sesuai dengan kekhususanya tersebut. Contohnya : SLB/A, lembaga
pendidikan untuk anak tuna netra; SLB/B, lembaga pendidikan untuk Anak
tunarungu; SLB/C, lembaga pendidikan untuk anak tuna grahita, SLB/D
lembaga pendidikan untuk anak tuna daksa, dan SLB/E lembaga pendidikan
untuk anak tuna laras, sekolah autisme, sekolah anak ber IQ sedang, sekolah
anak berbakat, dan sebagainya.

Kelebihan dari model ini adalah (1) anak merasa senasib, sehingga dapat
menghilangkan rasa minder, rasa rendah diri, dan membangkitkan
semangat menyongsong kehidupan di hari-hari mendatang, (2) anak lebih
mudah beradaptasi dengan temannya yang sama-sama
mengalami/menyandang ketunaan, (3) anak termotivasi dan bersaing secara
sehat dengan sesama temannya yang senasib di sekolahnya, dan anak lebih
mudah bersosialisasi tanpa dibayangi rasa takut bergaul, minder, dan rasa
kurang percaya diri.

Kekurangan/Kelemahan adalah (1) anak terpisah dari lingkungan anak


lainnya sehingga anak sulit bergaul dan menjalin komunikasi dengan mereka
yang normal, (2) anak merasa terpasung dan dibatasi pergaulanya dengan
anak yang cacat saja sehingga pada giliranya dapat menghambat
perkembangan sosialisasinya di masyarakat, dan (3) anak merasakan
ketidakadilan dalam kehidupan di sekolah yang terbatas bagi mereka yang
tergolong berkelainan.

2. Model Kelas Khusus

Sesuai dengan namanya, keberadaan kelas khusus tidak berdiri sendiri


seperti halnya sekolah khusus (SLB), melainkan berada di sekolah
umum/regular. Keberadaan kelas khusus tidak bersifat permanen, melainkan
didasarkan pada ada / tidaknya anak-anak yang memerlukan
pendidikan/pembelajaran khusus di sekolah tersebut. Pada kelas khusus
biasanya terdapat beberapa siswa yang memiliki derajat kekhususan yang
relatif sama. Untuk menanganinya digunakan pembelajaran individual
(individualized instruction) karena masing-masing anak memiliki
kekhususan. Tujuan pembentukan kelas khusus adalah untuk membantu
anak-anak agar tidak terjadi tinggal kelas/ drop out atau untuk menemukan
gejala keluarbiasaan secara dini pada anak-anak SD. Dalam praktiknya kelas
khusus bersifat fleksibel.

kelebihan model ini adalah (1) anak lebih mendapatkan perlakuan dan
pelayanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya
karena anak dikelompokkan relative homogen, (2) potensi anak dapat lebih
cepat berkembang karena pembelajarannya menggunakan pendekatan
individual atau kelompok kecil, (3) secara sosial, anak dapat lebih mudah
mengembangkan diri karena berada dalam lingkungan yang normal.

Kelemahannya adalah (1) anak berkebutuhan khusus kadang- masih


mendapatkan stigma negative dari sebagian temannya sehingga dapat
mengganggu/ menghambat perkembangan belajarnya, (2) anak
berkebutuhan khusus dalam bersosialisasi kadang-kadang masih enggan
untuk bergaul dengan mereka yang bukan kategori anak berkebutuhan
khusus. dan (3) sebahagian orangtua kadang-kadang tidak terima bila
anaknya dicap sebagai anak berkebutuhan khusus apalagi kalau
dikelompokkan dengan sesama anak berkebutuhan khusus dalam kelas
khusus.

3. Model Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB)

SDLB keberadaannya hampir mirip dengan SLB, akan tetapi SDLB


sesuai adalah sekolah yang diperuntukkan dan untuk menampung anak-anak
berkebutuhan khusus usia sekolah dasar dari berbagai jenis dan tingkat
kekhususan yang dialaminya. Oleh karena itu, dalam SDLB ada ABK kategori
tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, dan sebagainya. Mereka belajar di kelas
masing-masing yang disesuaikan dengan jenis kekhususannya, akan tetapi
mereka bersosialisasi secara bersama-sama dalam satu naungan sekolah.
SDLB pada hakikatnya adalah SD Negeri Inpres biasa tetapi diperuntukkan
bagi anak usia wajib belajar yang memerlukan pendidikan khusus. Dilihat
dari keragaman anak di SDLB dengan berbagai jenis kekhususannya
tersebut, maka SDLB sebenarnya termasuk sekolah terpadu, akan tetapi
terpadu secara fisik bukan terpadu secara akademik. (Dwidjo Sumarto,
1988).

Kelebihan Model ini adalah (1) anak merasa berada dalam dunia yang
lebih luas, tidak hanya terbatas pada jenis kelainan tertentu saja, (2) dalam
perkembangan sosial, anak lebih leluasa mengadakan interaksi dan
komunikasi dengan sesama teman yang sangat bervariasi jenis ketunaannya,
dan (3) secara psikologis, anak dapat lebih mudah meningkatkan rasa
percaya diri, menebalkan semangat, dan motivasi berprestasi.

Kelemahan (1) anak masih merasakan bahwa mereka hidup dalam


lingkungan yang terpisah dari anak yang, (2) anak merasakan terbatas
dalam mengembangkan interaksi dan komunikasi dengan mereka yang
berkategori normal, karena anak-anak dikelompokkan berdasarkan jenis
ketunaan tertentu, sehingga kadang-kadang timbul sikap permusuhan
diantara kelompok mereka.

4. Model Guru Kunjung

Model guru kunjung dapat diterapkan untuk melayani pendidikan ABK


yang ada atau bermukim di daerah terpencil, daerah perairan, daerah
kepulauan atau tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh layanan pendidikan
khusus yang telah ada, misalnya SLB, SDLB, kelas khusus. Di tempat-tempat
tersebut dibentuk sanggar/kelompok-kelompok belajar tempat anak-anak
memperoleh layanan pendidikan. Guru kunjung secara periodik mengunjungi
kelompok belajar yang menjadi binaannya. Program pendidikannya meliputi
pembelajaran dengan materi praktis dan pragmatis, seperti keterampilan
kehidupan sehari-hari, membaca, menulis, dan berhitung sederhana.
Kelompok belajar ini dapat dikatakan sebagai kelas jauh yang menginduk
kepada SLB,SDLB, SD terdekat. Guru kunjung tersebut biasanya diambilkan
dari guru khusus yang mengajar di sekolah induknya atas penunjukan dari
dinas pendidikan setempat.

Kelebihan model ini adalah (1) anak dapat lebih mendapat layanan
pendidikan dengan tidak perlu datang ke jauh karena sudah ada
petugas/guru khusus yang mendatanginya, (2) anak-anak bisa saling
berkomunikasi dengan sesama ABK dari daerah/tempat yang lain yang saling
berjauhan sehingga dapat memicu semangat belajar, (3) anak-anak
memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis dan pragmatis yang
mereka butuhkan sehari-hari.

Kelemahannya adalah (1) layanan pendidikan dengan guru kunjung


dalam banyak hal masih sulit diterapkan karena memerlukan jaringan
kerjasama berbagai pihak, (2) ABK di daerah terpencil, pedalaman, atau di
tempat terasing lain keberadaannya terpencar-pencar sehingga menyulitkan
dalam koordinasi dalam pelaksanaan pembelajaran, (3) orangtua anak ABK di
daerah terpencil umumnya masih rendah kesadarannya untuk mengirimkan
anaknya ke sanggar belajar, dan (4) masalah transportasi adalah persoalan
klasik yang menjadi kendala orangtua untuk mengirimkan anaknya belajar ke
sanggar belajar.

5. Model pendidikan terpadu / integrasi

Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan


yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk
belajar bersama-sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. Dengan
demikian, melalui sistem integrasi anak berkebutuhan khusus bersama-sama
dengan anak normal belajar dalam satu atap. Sistem pendidikan integrasi
disebut juga sistem pendidikan terpadu, yaitu sistem pendidikan yang
membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana keterpaduan dengan
anak normal. Keterpaduan tersebut dapat bersifat menyeluruh, sebagaian,
atau keterpaduan dalam rangka sosialisasi.

Pada sistem keterpaduan secara penuh dan sebagaian, jumlah anak


berkebutuhan khusus dalam satu kelas maksimal 10 % dari jumlah siswa
keseluruhan. Selain itu dalam satu kelas hanya ada satu jenis kelainan. Hal
ini untuk menjaga agar beban guru kelas tidak terlalu berat, dibanding jika
guru harus melayani berbagai macam kelainan. Untuk membantu kesulitan
yang dialami oleh anak berkebutuhan khusus, di sekolah terpadu disediakan
Guru Pembimbing Khusus (GPK). GPK dapat berfungi sebagai konsultan bagi
guru kelas, kepala sekolah, atau anak berkebutuhan khusus itu sendiri.
Selain itu, GPK juga berfungsi sebagai pembimbing di ruang bimbingan
khusus atau guru kelas pada kelas khusus.

kelebihan model ini adalah (1) anak merasa dihargai harkat dan
martabatnya sehinga mereka bisa belajar bersama-sama dengan anak
normal tanpa dibatasi oleh dinding tembok pemisah yang tegas,(2) dari
perkembangan sosial, anak lebih mudah berinteraksi dan berkomunikasi
secara luas dengan mereka/anak-anak yang normal di sekolah tersebut, (3)
secara psikologis, anak merasa percaya diri dan dapat menimbulkan
semangat/motivasi untuk bersaing secara sehat dengan mereka yang
berkategori normal.

kelemahan, adalah (1) anak kadang merasa rendah diri sehingga dapat
meruntuhkan semangat belajar, (2) dalam kondisi tertentu, anak menjadi
bahan olok-olokan egative dari temannya yang normal sehingga kondisi
kejiwaan ABK menjadi tertekan, dan (3) ketersediaan guru GPK (Guru
Pendamping Khusus) bagi anak ABK di sekolah tersebut tidak selalu ada .

Diposkan oleh ispiniya scorpio di 22.04

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Lokasi: Jawa Timur, Indonesia

2 komentar:

1.

Akmalia Khairunnisa22 Desember 2015 17.38


izin copas ya mba, kalau boleh usul cantumkan juga daftar pustakanya

Balas

2.

navyseal Mufti1 Desember 2016 05.31

good articel...ilmu jdi nambah....

...mampir ya ke blog aq...


http://liriklagurilisbaru.blogspot.co.id/2016/12/24k-magic-lyricssealvyblogers.html?m=1

atau

http://jangangamo.blogspot.com/2016/11/tanda-cowok-sudah-mulai-bosan-warning.html?
m=1..kasihh

Balas

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Translate

Diberdayakan oleh Terjemahan

Mengenai Saya
ispiniya scorpio
Lihat profil lengkapku

Arsip Blog

2015 (2)
Mei (1)
Januari (1)
LAYANAN
ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
2014 (25)
Tema Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger.

http://ispiniyapanda.blogspot.co.id/2015/01/layanan-anak-berkebutuhan-
khusus.html

blog ini dibuat untuk menyalurkan informasi dan kreativitas saya sebagai
pemuda bangsa

selamat datang selamat membaca dan semoga bermanfaat

Rabu, 09 April 2014


HAKIKAT LAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN
KHUSUS

A. HAKEKAT LAYANAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang


digunakan dan merupakan terjemahan dari child with specials needs yang
telah digunakan secara luas di dunia nternasional.

Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa kosekuensi cara


pandang yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah
diergunakan dan mungkin masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih
menitik beratkan pada kondisi (fisik, mental, emosi-sosial) anak, maka pada
berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan anak untuk mencapai prestasi
sesuai dengan prestesinya.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan


memerlukan layanan yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada
umumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memiliki apa yang disebut dengan
hambatan belajar dan hambatan perkembangan (barier to learning and
development). Oleh sebab itu mereka memerlukan layanan pendidikan yang
sesuai dengan hamabatan belajar dan hambatan perkembang yang dialami
oleh masing-masing anak.

Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori


yaitu: (a) anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen,
akibat dari kecacatan tertentu (anak penyandang cacat), seperti anak yang
tidak bisa melihat (atunanetra), tidak bisa mendengar (tunarungu), anak
yang mengalami cerebral palsy. Dan (b) anak berkebutuhan khusus yang
bersifat temporer.

1. Konsep Layanan
Anak berkebutuhan khusus memiliki keunikan tersendiri dalam jenis
jenis karakteristiknya, dan membedakan mereka dari anak- anak normal pada
umumnya. Oleh sebab itu dalam memberikan layanan anak berkebutuhan
khusus menuntut adanya penyesuaian sesuai dengan kebutuhaan dari anak
ABK tersebut. Untuk itu maka sebagai seorang guru harus memiliki
pengetahuan dan pemahaman mengenai cara memberikan layanan yang
baik terhadap anak berkebutuhan khusus agar mereka dapat berkembang
secara optimal. Layanan adalah suatu jasa yang diberikan oleh seseorang
kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Istilah layanan dapat
diartikan dalam beberapa hal yaitu; 1) cara melayani, 2) usaha melayani
kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan, 3) kemudahan yang
diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau barang. Dalam layanan
terjadi hubungan timbal balik antara yang memberi layanan dan yang
membutuhkan layanan. Jadi layanan diberikan sesuai dengan kebutuhan.

Anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang membutuhkan layanan


khusus karena mereka memiliki keterbatasan atau hambatan dari segi fisik,
mental intelektual, maupun sosial emosional. Kondisi yang demikian itu baik
secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada berbagai aspek
kehidupan mereka. Oleh sebab itu layanan yang sesuai dengan
kekhususannya sangat diperlukan agar dapat menjalani kehidupannya secara
wajar. Namun demikian bukan berarti layanan yang diberikan selalu berbeda
dengan anak-anak pada umumnya. Ada beberapa jenis anak berkebutuhan
khusus sebagian besar dapat mengikuti layanan pendidikan sebagaimanaa
anak-anak normal pada umumnya dan hanya pada beberapa bidang yang
memerlukan layanan atau pendampingan khusus, karena memang ada juga
anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan secara individual
karena kondisi dan keadaannya yang tidak memungkinkan untuk mengikuti
layanan sebagai anak-anak normal.

Dari segi waktu pemberian layanan pada anak berkebutuhan khusus juga
sangat bervariasi. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan
layanan sepanjang hindupnya, ada kalanya layanan bagi mereka bersifat
temporer, yaitu hanya membutuhan layanan dalam beberapa periode waktu
saja. Ada beberapa jenis layanan yang bias diberikan kepada anak
berkebutuhan khusus sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, yaitu ; 1)
layanan medis dan fisiologis, 2) layanan social psikologis, 3) layanan
paedogogis/ pendidikan.

2. Model Layanan
Model layanan anak berkebutuhan khusus dikelompokkan menjadi 3
yaitu;

a. Bentuk Layanan Pendidikan Segregasi

Model layanan ini adalah merupakan system pendidikan yang paling tua.
Pada awal penyelenggaraan system ini dikarenakan adanya kekhawatiran
atau keraguan terhadap kemampuan anak berkebutuhan khusus untuk
belajar bersama dengan anak normal.

Model layanan pendidikan segregasi merupakan system pendidikan yang


terpisah dari system pendidikan anak normal. Model layanan pendidikan
segregasi merupakan system pendidikan yang terpisah dari system
pendidikan anak normal. Pendidikan anak berkebutuhan khusus melalui
system segregasi maksudnya adalah penyelenggaraan pendidikan yang
dilaksanakan secara khusus, dan terpisah dari penyelengaraan pendidikan
untuk anak normal, seperti Sekolah Luar Biasa. Ada empat bentuk
penyelenggaraan pendidikan dengan system segregasi yaitu:

1) Sekolah Luar Biasa (SLB)

Sekolah ini merupakan bentuk sekolah yang paling tua yang berbentuk unit
pendidikan, yaitu artinya dalam penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat
persiapan sampai dengan tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit
sekolah dengan satu kepala sekolah. Pada awalnya penyelenggaraan sekolah
dalam bentuk unit ini berkembang sesuai dengan kelainan yang ada, seperti
tanggung jawab SLB terdekatnya. Tenaga guru yang bertugas di kelas
tersebut berasal dari guru SLB-SLB di dekatnya.

2) Sekolah Dasar Luar Biasa

Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan


khusus, pemerintah mulai Pelita II menyelenggarakan Sekolah Dasar Luar
Biasa (SDLB). Di SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai
kelainan yang dididik dalam satu atap. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra ,
tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Kurikulum yang digunakan di SDLB
adalah kurikulum yang digunakan di SLB untuk tingkat dasar yang
disesuaikan dengan kekhususannya. Kegiatan belajar dilakukan secara
individual, kelompok, dan klasikal sesuai dengan ketunaan masing-masing.
Pendekatan yang dipakai juga lebih kependekataan individualisasi. Selain
diberikan pembelajaran juga mereka direhabilitasi sesuai dengan
ketunaannya masing-masing.
b. Bentuk Layanan Pendidikan Terpandu/Integrasi

Bentuk pendidikan terpadu/integrasi dapat disebut juga system


pendidikan terpadu, yang system pendidikanya dibaur antara anak
berkebutuhan khusus dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. Sistem
ini memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk
belajar bersama-sama dengan anak normal dalam suatu atap. Adapun
keterpaduanya bisa bersifat menyeluruh, sebagai, atau keterpaduan dalam
rangka sosialisasi. Adapun bentuk keterpaduanya munurut Depdiknas (1980)
ada tiga jenis yaitu: bentuk kelas biasa , kelas biasa dengan ruang bimbingan
khusus, dan bentuk kelas khusus.

1) Bentuk Kelas Biasa

Pada bentuk keterpaduaan ini anak berkebutuhan khusus belajar dikelas


biasa secara penuh dengan menggunakan kurikulum biasa. Oleh sebab itu
sangat diharapakan adanya pelayanan dan bantuan guru kelas atau guru
kelas atau guru bidang studi semaksimal mungkin dengan memperhatikan
petunjuk-petunjuk khusus dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di
kelas biasa. Metode, pendekatan dan, cara penilaian yang digunakan pada
kelas biasa ini tidak berbeda dengan yang digunakan pada sekolah umum.
Tetapi untuk beberapa mata pelajaran harus disesuaikan dengan
ketentuanya. Bentuk keterpaduan ini disebut juga keterpaduan yang bersifat
penuh/menyeluruh.

2) Kelas Biasa Dengan Bimbingan Khusus

Pada bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar dikelas


biasa dengan menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelajaran
khusus untuk mata pelajaran tertentu yang tidak dapat diikuti oleh anak
berkebutuhan khusus bersama anak normal. Pelaksanaanya diberikan
diruang bimbingan khusus yang dilengkapi dengan peralatan khusus untuk
memberikan latihan oleh guru pembimbing khusus (GPK), dengan
menggunakan pendekatan individu dan metode peragaan sesuai. Bentuk
keterpaduaan ini biasa disebut keterpadauan yang bersifat sebagaian.

3) Bentuk Kelas Khusus

Pada bentuk ini anak berkebutuhan khusu mengikuti pendidikan dengan


menggunakan kurikulum SLB Secara penu dikelas khusus pada sekolah
umum yang melaksanakan program pendidikan terpadu. Guru pembimbing
khusus berfungsi sebagai pelaksanaan program dikelas khusus. Pendekatan,
metode dan cara penilaian menggunakan format yang biasa digunakan SLB.
Keterpaduan pada tinggkat ini hanya bersifat fisik dan sosial, artinya anak
berkebutuhan khusus dapat dipadukan untuk kegiatan yang bersifat non
akademik. Bentuk keterpaduan ini adalah keterpaduan dalam rangka
sosialisasi.

c. Bentuk Pendididkan Inklusi

Pendidikan inklus adalah sebagian suatu system layanan pendidikan


khusus yang masyarakat agara anak semua yang berkebutuhan khusus
dilayani di sekolah-sekolah terdekat disekolah biasa bersam teman-teman
seusianya. Oleh sebab itu perlu restrukturisasi di sekolah sehingga menjadi
komonitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus bagi setiap anak.
Menurut Smith (2006) mengemukakan bahwa inklusi dapat berarti
penerimaan pada anak-anak yang mengalaami hambatan kedalam
kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep dari (visi-misi) sekolah.
Gagasan utam mengenai pendidikan inklusif menurut Johnsep (2003), adalah
sebagi berikut.

1) Bahwa setiap anak merupakan bagian integrasi dari komonitas lokalnya dan
kelas kelompoknya.

2) Bahwa kegiatan sekolah diatur dengan sejumlah besar tugas belajar yang
kooperatif , individualisasi pendidikan dan flesibelitas dalam pilihan
materinya.

3) Bahwa guru bekerjasama dan memiliki pengetahuan tentang


strategipembelajaran dan kebutuhan pengajar umum, khusus dan individual,
dan memiliki pengetahuan tentang cara menghargai tentang pluralitas
perbedaan individual dalam mengatur aktivitas kelas. Pendidikan insklusif
sebenarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari
programmainstreaming yang sudah beberapa dekade ini diterapkan secara
luas oleh para pendidik di berbagai negara untuk anak-anak berkebutuhan
khusus meskipun orientasi dan implementasinya berbeda. Di Indonesia
pendidikan insklusif dalam pelaksanaanya di sekolah didasarkan pada
beberapa landasan, filosofis dan yuridis-empiris. Secara filosifis
implementasinya inklusi mengacu pada beberapa hal,diantaranya,bahwa

4) Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap anak, termaksuk berkebutuhan


khusus.

5) Anak adalah pribadi yang unik, memiliki karakteristik, minat, kemampuan


dan kebutuhan belajar yang berbeda.

6) Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama orang tua


masyarakat dan pemerintah.

7) Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak.

8) Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang ada dilingkungan.

Sekolah penyelenggara pendidikan insklusif adalah sekolah umum yang


telah memenuhi beberapa persyaratan yang telah ditentukan. Adapun syarat-
syarat tersebut antara laini: berkenaan dengan keberadaan siswa
berkebutuhan khusus, memiliki komitmen, manajemen sekolah, sarana
prasarana, dan ketenagaan. Sekolah penyelenggaraan pendidikan inklusijuga
harus menciptakan lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran, yang
memungkinkan semua siswa dapat belajar dengan nyaman dan
menyenangkan. Pada pendidikan inklusif dikembangkan berbagai macam
metode atau strategi untuk digunakan dalam proses belajar mengajar agar
tercapaisituasi belajar aktif dan fleksibel.

Pelayanan yang diberikan di dalam sebuah sekolah yang dirancang untuk


membantu siswa dengan perbedaan belajar dan kondisi lemah lainnya. Anak-
anak dirujuk untuk mendapat bantuan khusus, dengan pengelompokan yang
biasanya berdasarkan kebutuhan pendidikan.
Diposkan oleh Meli Novikasari

Reaks

i:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest

Posting Lebih BaruPosting LamaBeranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Arsip Blog

2014 (9)
o April (8)
layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus di TK ...

layanan pendidikan anak berkelainan mental emosion...


layanan pendidikan anak berkebutuhan khusus
karakteristik anak berkelinan emosional (tuna grah...
karakteristik anak berkelainan fisik
karakteristik anak berkelainan mental emosional
ABK Berkelainan Fisik

HAKIKAT LAYANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


o Maret (1)
2013 (87)
2012 (61)
Mengenai Saya

Meli Novikasari

saya adalah seorang wanita yang sederhana dan terlalu apa adanya. optimis dan selalu
tersenyum.
sesuatu yang saya sukai adalah FAKTA
hubungi saya di

twitter: @melyloelha

yahoo: melinovikasari@yahoo.co.id

cp: 085345006xxx

Lihat profil lengkapku

Cari Blog Ini

Telusuri

Translate

Pilih Bahasa

Pengikut

Follow by Email bagaimana blog ini me

Google+ Badge
Submit

galeri foto

see you again

terima kasih telah meluangkan waktunya

@melyloelha. Tema PT Keren Sekali. Gambar tema oleh molotovcoketail. Diberdayakan


oleh Blogger.

http://melyloelhabox.blogspot.co.id/2014/04/hakikat-layanan-anak-
berkebutuhan-khusus.html

makalah bimbingan konseling


THURSDAY, JUNE 27, 2013
layanan pendidikan ABK di sekolah Dasar

BAB I
PENDAHULUAN
A.LATAR BELAKANG

Pada mulanya, pengertian anak berkebutuhan khusus adalah anak cacat,


baik cacat fisik maupun cacat mental. Anak-anak yang cacat fisik sejak lahir,
seperti tidak memiliki kaki atau tangan yang sempurna, buta warna, atau tuli
termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus. Pengertian anak
berkebutuhan khusus kemudian berkembang menjadi anak yang memiliki
kebutuhan individual yang tidak bisa disamakan dengan anak yang normal.
Pengertian anak berkebutuhan khusus akhirnya mencakup anak yang
berbakat, anak yang cacat, dan anak yang mengalami kesulitan.

Selama ini cara pandang terhadap anak berkebutuhan khusus masih negatif,
maka pemenuhan layanan anak berkebutuhan khusus juga belum dapat
memperoleh hak yang sama dengan anak-anak lainnya. Sehubungan dengan
itu, maka guru sebagai ujung tombak pendidikan formal perlu memberikan
layanan secara optimal bagi semua siswa termasuk anak berkebutuhan
khusus. Karena dalam jenjang sekolah umum, termasik sekolah dasar,
terkadang ditemui siswa yang termasuk anak berkebutuhan khusus yang
memerlukan perhatian dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kondisi
dan kebutuhannya. Sebab anak-anak tersebut tidak serta merta dapat
dilayani kebutuhan belajarnya sebagaimana anak-anak normal pada
umumnya.

Guru di sekolah dasar diharapkan mampu memberikan layanan pendidikan


pada setiap anak berkebutuhan khusus. Namun masih banyak guru yang
belum memahami tentang anak berkebutuhan khusus. Sehingga mereka
tidak dapat memberikan layanan pendidikan yang optimal terhadap anak
berkebutuhan khusus. Apalagi anak berkebutuhan khusus mencakup
berbagai jenis dan derajat kelainan yang bervariasi. Padahal setiap anak
memiliki keunikannya masing-masing yang berbeda dengan anak lainnya,
dimana setiap anak perlu mendapatkan penanganan yang berbeda sesuai
dengan karakternya.
Makalah ini akan memaparkan langkah-langkah dan tindak lanjut yang
harus dilakukan guru terhadap anak berkebutuhan khusus. Guru terlebih
dahulu harus dapat menemukan siswa yang termasuk anak berkebutuhan
khusus, untuk kemudian dapat mengambil tindakan yang tepat terhadap
anak tersebut. Sehingga anak berkebutuhan khusus dapat mengembangkan
potensinya seperti anak-anak lain untuk membekali hidupnya serta dapat
bermanfaat bagi dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungannya.

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai


berikut.
1. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan utnuk mengenali dan
menemukan adanya anak berkebutuhan khusus?

2. Bagaimana cara pemberian layanan pendidikan terhadap anak-anak


berkebutuhan khusus?

C. TUJUAN

Agar kita bisa mengetahui bagaimana kita menemukan anak-anak yang


mengalami atau tergolong dalam anak berkebutuhan khusus, kemudian
menindaklanjutinya.
BABII

PEMBAHASAN
Banyak kasus yang terjadi berkenaan dengan keberadaan anak
berkebutuhan khusus di sekolah-sekolah umum, termasuk di sekolah dasar
(SD). Anak-anak tersebut memerlukan perhatian dan layanan pendidikan
yang sesuai dengan kondisi dan keadaannya agar dapat mengembangkan
kemampuannya seperti anak-anak normal lainnya. Pada dasarnya setiap
anak adalah pribadi yang unik yang harus diperlakukan sesuai dengan
keunikannya. Untuk dapat memberikan perlakuan yang tepat terhadap anak
yang bersangkutan, seorang guru harus mengetahui apa keunikan atau
kelainan yang dimiliki oleh anak didiknya. Untuk mengetahuinya, seorang
guru perlu melakukan tahap identifikasi dan asesmen terhadap anak yang
diduga anak berkebutuhan khusus, sehingga dapat memberikan layanan
yang tepat.

A. Identifikasi

Anak berkebutuhan khusus perlu dikenal dan diidentifikasikan dari kelompok


anak pada umumnya, oleh karena mereka memerlukan pelayanan yang
bersifat khusus. Pelayanan tersebut bertujuan untuk membantu anak
berkebutuhan khusus mengurangi keterbatasannya dalam hidup
bermasyarakat. Dalam rangka mengidentifikasi (menemukan) anak dengan
kebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai jenis dan
tingkat kelainan organis maupun fungsional anak melalui gejala-gejala yang
dapat diamati sehari-hari. Sehubungan dengan hal itu, maka disiapkan alat
identifikasi anak berkebutuhan khusus berbentuk kelimat pertanyaan tentang
gejala-gejala yang nampak pada anak dalam kesehariannya. Dengan alat
identifikasi ini, secara sederhana dapat disimpulkan apakah seseorang
tergolong anak berkebutuhan khusus atau bukan.

Identifikasi adalah usaha untuk mengenali atau menemukan anak


berkebutuhan khusus sesuai dengan ciri-ciri yang ada. Identifikasi yang
dilakukan untuk menemukenali keberadaan anak berkebutuhan khusus di SD
berorientasi pada ciri-ciri atau karakteristik yang ada pada seorang anak
yang mencakup hal-hal sebagai berikut.

1. Kondisi Fisik

Mencakup keberadaan kondisi fisik secara keseluruhan (anggota tubuh) dan


kondisi indera seorang anak, baik secara organik maupun fungsional, apakah
kondisi yang ada mempengaruhi fungsinya atau tidak.

2. Kemampuan Intelektual

Mencakup kemampuan anak untuk melaksanakan tugas-tugas akademik di


sekolah.
3. Kemampuan Komunikasi

Mencakup kesanggupan seorang anak dalam memahami dan


mengekspresikan gagasannya dalam berinteraksi terhadap lingkungan
sekitar, baik secara lisan maupun tulisan.
4. Sosial Emosional

Mencakup aktivitas sosial yang dilakukan seorang anak dalam kegiatan


interaksinya dengan teman-teman maupun dengan gurunya serta perilaku
yang ditampilkan dalam pergaulan kesehariannya.

Ada beberapa teknik identifikasi secara umum, yang memungkinkan guru-


guru untuk melakukannya sendiri di sekolah. Teknik-teknik tersebut adalah
sebagai berikut.
1. Observasi
Observasi adalah suatu cara pengumpulan data dengan mengadakan
pengamatan langsung terhadap suatu obyek dalam suatu periode tertentu
dan mengadakan pencatatan ecara sistematis tentang hal-hal tertentu yang
diamati termasuk anak berkebutuhan khusus.

Berdasarkan situasi yang diobservasi, observasi dibedakan menjadi:

a. Observasi Langsung, dilakukan secara langsung terhadap siswa dalam


lingkungan yang wajar dalam aktivitas keseharian.

b. Observasi tak Langsung, dilakukan dengan menciptakan kondisi yang


diinginkan untuk diobservasi.

Berdasarkan keterlibatan pengobservasi, observasi debedakan menjadi:


a. Partisipan, yaitu orang yang melakukan observasi turut mengambil bagian
pada situasi yang diobservasi.

b. Nonpartisipan, yaitu orang yang melakukan observasi berada di luar situasi


yang sedang diobservasi, tujuannya agar tidak menimbulkan kecurigaan bagi
anak yang diobservasi.

2. Wawancara

Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data dengan jalan mengajukan


pertanyaan secara lisan kepada sumber data, dan sumber data memberikan
jawaban secara lisan. Guru dapat melakukan wawancara terhadap siswa,
keluarga, orangtua, teman seperrmainan, atau pihak lain yang dimungkinkan
untuk dapat memberikan informasi tambahan mengenai keberadaan siswa
tersebut.

3. Tes

Tes merupakan suatu cara untuk melakukan penilaian yang berupa suatu
tugas yang harus dikerjakan oleh anak, yang akan menghasilkan suatu nilai
tentang kemampuan atau perilaku anak yang bersangkutan. Untuk
mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus tes dapat dilakukan dalam
bentuk perbuatan maupun tulisan. Dalam hal ini tes berupa buatan guru
sendiri.
4. Tes Psikologi

Tes psikologi yaitu tes yang sangat popular dan sering digunakan dalam upaya
identifikasi anak berkebutuhan khusus, karena memiliki akurasi yang lebih
baik dari tes buatan guru, waktu pelaksanaan tes lebih singkat, dan dapat
memprediksi apa-apa yang akan terjadi dalam belajar anak di tahap
berikutnya. Untuk melihat tingkat kecerdasan seorang anak, tes psikologi
merupakan salah satu instrumen yang lebih obyektif dan validitasnya telah
teruji. Tes psikologi tidak hanya terbatas pada tes kecerdasan saja, tetapi
juga digunakan untuk mengetahui kepribadian, perilaku, dan bakat khusus
seseorang.

B. Asesmen

Asesmen adalah penilaian terhadap suatu keadaan, penilaian terhadap


kondisi atau keadaan anak berkebutuhan khusus. Asesmen merupakan
kelanjutan dari identifikasi. Hasil yang diperoleh dari asesmen pendidikan
akan bermanfaat bagi guru sebagai panduan dalam dua hal pokok, yaitu
perencanaan program dan implementasi program pembelajaran. Informasi
yang dikumpulkan dalam asesmen hendaknya relevan dan komperhensif
karena akan digunakan merencanakan tujuan dan penentuan sasaran
pembelajaran serta strategi pembelajaran yang tepat.

1. Tujuan Asesmen

- Menyeleksi anak-anak yang termasuk anak berkebutuhan khusus

- Menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya

-Merencanakan program dan strategi pembelajaran

-Mengevaluasi dan memantau perkembangan belajar siswa

2. Langkah-Langkah dalam Asesmen

- Menentukan cakupan dan tahapan keterampilan yang diajarkan

- Menetapkan perilaku yang diases

-Memilih aktivitas evaluasi (evaluasi khusus atau umum)


- Pengorganisasian alat evaluasi

-Pencatatan kinerja siswa

- Penentuan tujuan pembelajaran khusus untuk jangka panjang dan jangka


pendek
3. Teknik Pelaksanaan Asesmen

a. Observasi
Mencakup pengamatan yang dilakukan secara seksama terhadap aktivitas
belajar siswa, seperti cara belajar, kinerja, perilaku, atau kompetensi yang
dicapai.

b. Tes Formal

Merupakan suatu bentuk tes yang telah distandarkan, yang memiliki acuan
norma atau patokan dengan tolak ukur yang telah ditetapkan. Dalam konteks
asesmen pendidikan anak berkebutuhan khusus sesungguhnya kurang cocok
dilakukan karena tujuannya yang sangat spesifik mencakup persoalan-
persoalan pendidikan yang unik yang dihadapi siswa berkebutuhan khusus
secara individual.

c. Tes Informal

Merupakan tes yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang


berbagai hal yang berkenaan dengan kompetensi dan kemajuan belajar anak
berkebutuhan khusus yang disusun oleh guru. Tes ini digunakan secara
intensif untuk mengetahui kompetensi-kompetensi khusus pada anak.

d. Wawancara
Merupakan usaha memperoleh informasi tentang anak anak berkebutuhan
khusus dengan sasaran utama orangtua, keluarga, guru di sekolah, ataupun
teman sepermainan.
C. Pemberian layanan pendidikan

Sebelum menentukan layanan pendidikan yang akan diberikan terhadap anak


berkebutuhan khusus, seorang guru SD terlebih dahulu melakukan
identifikasi yang dilanjutkan dengan asesmen terhadap anak yang diduga
berkebutuhan khusus. Menemukan anak berkebutuhan khusus sangat
penting dilakukan, mengingat kebutuhan layanan pendidikan bagi anak
berkebutuhan khusus sangatlah spesifik, dengan keunikan yang dimiliki.
Melalui asesmen permasalahan-permasalahan pendidikan khusus yang
dialami anak akan diketahui, dalam bidang apa dan tentang persoalan yang
dihadapinya.

Salah satu program pembelajaran yang dirancang untuk anak-anak


berkebutuhan khusus adalah program pembelajaran individual (PPI), yaitu
program yang disusun sesuai dengan kebutuhan individu anak-anak
berkebutuhan khusus. Pemberian layanan diberikan dengan menyusun
rencana, aktivitas kegiatan, dan melakukan evaluasi. Semua program yang
dilakukan terhadap anak berkebutuhan khusus harus memperoleh
persetujuan orangtua murid.

Idealnya semua siswa berkebutuhan khusus yang berkelainan fisik dan mental
dilayani dengan PPI, terutama diperuntukkan bagi murid berkelainan pada
tingkat sedang dan berat. Pengembangan PPI sesungguhnya tidak dapat
dilakukan sendiri oleh seorang guru, tetapi harus ada koordinasi dengan
berbagai pihak terkait di sekolah, dinas pendidikan, komite sekolah, dan
orangtua murid. Langkah awal yang harus dilakukan untuk penyelenggaraan
program PPI adalah membentuk tim penyusun program, dengan kerja awal
melakukan diskusi dan menganalisis permasalahan yang dihadapi siswa,
untuk selanjutnya dibuatkan program yang sesuai dengan kebutuhannya.

Proses pengembangan PPI dapat dilakukan dengan mengikuti beberapa


prosedur teknis, yaitu sebagai berikut.

1.Mendeskripsikan kompetensi siswa secara rinci pada saat sekarang dalam


berbagai bidang pelajaran.
2.Merumuskan tujuan jangka panjang dan jangka pendek kegiatan pembelajara.
3.Menentukan teknik dan akat evaluasi untuk mengetahui kemajuan yang
telah dicapai.
4.Mengembangkan ranah kurikulum yang akan dibuat atau dipropagandakan.
5.Menetapkan strategi pembelajaran sesuai dengan penekanan pada ranah
kurikulumnya.

Dalam pelaksanaan program PPI harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya


agar kompetensi yang diharapkan untuk mengatasi kesulitan akan lebih
mudah dicapai. Selama kegiatan berlangsung, guru berperan sebagai
pendidik, fasilitator, dan motivator dalam pelaksanaan program. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam pelaksanaan program adalah sebagai berikut.

1.Mencermati tujuan dan sasaran program yang akan dicapai.


2.Materi dan lembar kegiatan yang diperlukan selama pelaksanaan program
berlangsung di sekolah.

3. Fasilitas dan sumber belajar berupa media atau ruang sumber untuk kegiatan
pembelajaran.
4. Kalender pembelajaran.

5. Rapat koordinasi mengenai pelaksanaan program.

Pelaksanaan program harus dimonitor dan dievaluasi setiap saat untuk


melihat perkembangan atau kemajuan yang dicapai siswa, melalui observasi
atau tes. Evaluasi diberikan pada setiap akhir kegiatan pembelajaran ataupun
dalam periode waktu tertentu dalam bentuk tes formal maupun tes informal
untuk mengukur tingkat kemajuan dan prestasi belajar yang telah dicapai
siswa.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Setiap anak memiliki karakter dan keunikan yang berbeda-beda. Jika dalam
satu kelas terdapat empat puluh orang siswa, maka ada empat puluh
perlakuan berbeda yang harus diberikan oleh seorang guru SD. Namun
hendaknya perlakuan tersebut tidak menimbulkan adanya kecemburuan
sosial di antara siswa. Dapat dikatakan bahwa semua anak memiliki
kebutuhan khusus. Namun jika dilihat secara umum, anak berkebutuhan
khusus adalah anak yang benar-benar membutuhkan penanganan khusus
karena tingkahlaku atau sifatnya yang menyimpang dari anak-anak pada
umumnya.

Langkah awal dalam menemukan dan menentukan anak berkebutuhan


khusus di SD adalah melalui identifikasi. Identifikasi adalah upaya
menemukenali anak-anak yang diduga memiliki kelainan atau berkebutuhan
khusus. Kegiatan identifikasi dilanjutkan dengan asesmen yang merupakan
aktivitas penting dalam proses pembelajaran di sekolah, sehingga
pelaksanaannya harus benar-benar dilakukan secara obyektif terhadap
kondisi dan kebutuhan anak. Pada intinya asesmen berorientasi pada upaya
pengumpulan informasi secara sistematis dalam upaya perencanaan dan
implementasi pembelajaran siswa di sekolah.
Anak berkebutuhan khusus memiliki karakteristik yang unik dengan berbagai
ragam permasalahan belajar yang dihadapi di sekolah. Untuk
mengoptimalkan potensinya, maka perlu dirancang program khusus yang
sesuai dengan kebutuhan pendidikan masing-masing individu yang mungkin
selama ini masih mengikuti program umum di sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Suparno, dkk, Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus, Direktorat Jenderal


Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional, 2007

Posted by Kampung Wolles at 5:13 AM

Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest

No comments:

Post a Comment

Home

Subscribe to: Post Comments (Atom)

BLOG ARCHIVE

2013 (1)
o June (1)
layanan pendidikan ABK di sekolah Dasar

ABOUT ME

Kampung Wolles

View my complete profile

Picture Window theme. Powered by Blogger.

http://kampungwolle.blogspot.co.id/2013/06/layanan-pendidikan-abk-di-sekolah-
dasar.html

Winda
Novelasari
post

Widgetbar

Home
About
Categories
Contact
Anime
Sitemap
MAKALAH HAKIKAT LAYANAN BAGI ANAK
BERKEBUTUHAN KHUSUS
// POSTED BY :WINDA NOVELASARI// ON :RABU, 27 NOVEMBER 2013

HAKIKAT LAYANAN BAGI ANAK


BERKEBUTUHAN KHUSUS

Oleh :
1. WINDA NOVELASARI
2. MAHFUDHA Y. NURRISKIYAH
3. RETNO UVI ARUMDANI
4. SITI NURUL QOMARIAH
5. ZAINUL HASAN CH.
6 .HADI PURNOMO

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS ABDURACHMAN SALEH
SITUBONDO
2013
Kata Pengantar

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat, hidayah, dan
bimbingannya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Makalah berjudul
Hakikat Layanan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Penulisan makalah ini
dimaksudkan guna memenuhi tugas kuliah studi Pendidikan Anak Berkebutuhan
Khusus.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis telah mendapatkan bantuan dan bimbingan
secara langsung maupun tidak langsung dari ibu dosen mata kuliah Pendidikan Anak
Berkebutuhan Khusus Inda Novitasari, S. Pd, rekan serta kakak tercinta. Untuk itu,
penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
membantu. Semoga Tuhan memberikan anugerah yang setimpal.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam penulisan makalah
ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Selanjutnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberi tambahan
pengetahuan dan memberikan manfaat bagi kita semua.

Situbondo, 23 Oktober 2013

Penulis
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada dasarnya setiap anak berpotensi mengalami problema dalam belajar, hanya saja
problema tersebut ada yang ringan dan tidak memerlukan perhatian khusus dari orang
lain karena dapat diatasi sendiri oleh anak yang bersangkutan dan ada juga yang
problem belajarnya cukup berat sehingga perlu mendapatka perhatian dan bantuan dari
orang lain.

Anak penyandang cacat mulai diakui keberadaannya, dan oleh sebab itu mulai berdiri
sekolah-sekolah khusus, rumah-rumah perawatan dan panti sosial yang secara khusus
mendidik dan merawat anak-anak penyandang cacat. Mereka yang menyandang
kecacatan, dipandang memiliki karakteristik yang berbeda dari orang kebanyakan,
sehingga dalam pendidikannya mereka memerlukan pendekatan dan metode yang
khsusus pula sesuai dengan karakteristiknya. Oleh sebab itu, pendidikan anak
penyandang cacat harus dipisahkan (di sekolah khusus) dari pendidikan anak lainnya.
Konsep pendidikan seperti inilah yang disebut dengan konsep Special Education, yang
melahirkan sistem pendidikan segregasi. Konsep special education dan sistem
pendidikan segregasi lebih melihat anak dari segi kecacatannya (labeling), sebagai
dasar dalam memberikan layanan pendidikan. Oleh karena itu terjadi dikotomi antaran
pendidikan khusus (PLB) dengan pendidikan reguler. Pendidikian khusus dan
pendidikan regular dianggap dua hal yang sama sekali berbeda.
Konsep dan pemahaman terhadap pendidikan anak penyandang cacat terus
berkembang, sejalan dengan dinamika kehidupan masyarakat. Pemikiran yang
berkembang saat ini, melihat persoalan pendidikan anak penyandang cacat dari sudut
pandang yang lebih bersifat humanis, holistik, perbedaan individu dan kebutuhan anak
menjadi pusat perhatian. Dengan demikian layanan pendidikan tidak lagi didasarkan
atas label kecacatan anak, akan tetapi didasarkan pada hambatan belajar dan
kebutuhan setiap individu anak. Oleh karena itu layanan pendidikan anak penyandang
cacat tidak harus di sekolah khusus, tetapi bisa dilayani di sekolah regular terdekat
dimana anak itu berada. Cara berpikir seperti ini dilandasi oleh konsep Special needs
education, yang antara lain melatarbelakangi munculnya gagasan pendidikan inklusif.

1.2 Rumusan masalah


1.2.1 Apa hakikat layanan bagi anak berkebutuhan khusus?
1.2.2 Bagaimana konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus?
1.2.3 Apa saja model layanan bagi anak berkebutuhan khusus?
1.2.4 Apa pengertian dari pendidikan inklusif serta bagaimana implementasinya?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui hakikat lyanan bagi anak berkebutuhan khusus
1.3.2 Untuk memahami konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
1.3.3 Mengetahui dan memahami model layanan bagi anak berkebutuhan khusus
1.3.4 Mengetahui pengertian dari pendidikan inklusif serta bagaimana implementasinya
BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Anak Berkebutuhan Khusus


Istilah anak berkebutuhan khusus merupakan istilah terbaru yang digunakan dan
merupakan terjemahan dari child with specials needs yang telah digunakan secara luas
di dunia nternasional.
Penggunaan istilah anak berkebutuhan khusus membawa kosekuensi cara pandang
yang berbeda dengan istilah anak luar biasa yang pernah diergunakan dan mungkin
masih digunakan. Jika pada istilah luar biasa lebih menitik beratkan pada kondisi (fisik,
mental, emosi-sosial) anak, maka pada berkebutuhan khusus lebih pada kebutuhan
anak untuk mencapai prestasi sesuai dengan prestesinya.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara pendidikan memerlukan layanan
yang spesifik yang berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Anak berkebutuhan
khusus ini memiliki apa yang disebut dengan hambatan belajar dan hambatan
perkembangan (barier to learning and development). Oleh sebab itu mereka
memerlukan layanan pendidikan yang sesuai dengan hamabatan belajar dan hambatan
perkembang yang dialami oleh masing-masing anak.
Secara umum rentangan anak berkebutuhan khusus meliputi dua kategori yaitu: (a)
anak yang memiliki kebutuhan khusus yang bersifat permanen, akibat dari kecacatan
tertentu (anak penyandang cacat), seperti anak yang tidak bisa melihat (atunanetra),
tidak bisa mendengar (tunarungu), anak yang mengalami cerebral palsy dst. Dan (b)
anak berkebutuhan khusus yang bersifat temporer.

2.2 Konsep layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus


konsep layanan memiliki arti yang sama meskipun dalam konteks kegiatan yang
berbeda, yaitu suatu jasa yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain untuk
memenuhi kebutuhannya. Dalam beberapa terminologi, Istilah layanan diartikan sebagai
(1) cara melayani; (2) usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh
imbalan (uang); (3) kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa atau
barang.
Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak
yang mengalami keterbatasan atau hambatan dalam segi fisik, mental-intelektual,
maupun sosial emosional. Kondisi yang demikian, baik secara langsung atau tidak
berdampak pada berbagai aspek kehidupan mereka. Untuk itu layanan sangat
diperlukan bagi mereka, untuk dapat menjalani kehidupannya.
Dari segi waktu, pemberian layanan pada anak berkebutuhan khusus juga sangat
bervariasi. Tidak semua anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan secara
wajar. sepanjang hidupnya, ada kalanya layanan bagi mereka bersifat temporer. Anak-
anak mungkin hanya membutuhkan layanan dalam beberapa periode waktu.
Contohnya, anak-anak tunanetra membutuhkan layanan orientasi dan mobilitas hanya
diperlukan pada tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar. Demikian juga bina
komunikasi untuk anak tunarungu, bina diri dan gerak untuk anak tunadaksa, bina diri
dan sosial untuk
anak tunalaras. Namun untuk anak-anak yang berklasifikasi berat, memerlukan berbagai
layanan yang lebih lama untuk menumbuhkan kemandirian mereka.
Ada beberapa jenis layanan yang bisa diberikan kepada anak-anak berkebutuhan
khusus, sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Namun secara umum akan
mencakup (1) layanan medis dan fisiologis, (2) layanan sosialpsikologis, dan (3) layanan
pedagogis/pendidikan. Beberapa jenis layanan tersebut diberikan oleh para ahli yang
kompeten pada bidangnya masing-masing, dan dilakukan berdasarkan kebutuhan
anak.

2.3 Model layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus


ABK memiliki tingkat kekhususan yang amat beragam, baik dari segi jenis, sifat, kondisi
maupun kebutuhannya, oleh karena itu, layanan pendidikannnya tidak dapat dibuat
tunggal/seragam melainkan menyesuaiakan diri dengan tingkat keberagaman
karakteristik dan kebutuhan anak. Dengan beragamnya model layanan pendidikan
tersebut, dapat lebih memudahkan anak-anak ABK dan orangtuanya untuk memilih
layanan pendidikan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhannya. Ada beberapa
model layanan pendidikan bagi ABK yang ditawarkan mulai dari yang model klasik
sampai yang modern/terkini.

2.3.1 Bentuk Layanan Pendidikan Segregrasi


Sistem layanan pendidikan segregasi adalah sistem pendidikan yang terpisah dari
sistem pendidikan anak normal. Model ini mencoba memberikan layanan pendidikan
secara khusus dan terpisah dari kelompok anak normal maupun ABK lainnya. Dengan
kata lain anak berkebutuhan khusus diberikan layanan pendidikan pada lembaga
pendidikan khusus untuk anak berkebutuhan khusus, seperti Sekolah Luar Biasa atau
Sekolah Dasar Luar Biasa, Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa, Sekolah Menangah
Atas Luar Biasa. Sistem pendidikan segregasi merupakan sistem pendidikan yang
paling tua. Pada awal pelaksanaan, sistem ini diselenggarakan karena adanya
kekhawatiran atau keraguan terhadap kemampuan anak berkebutuhan khusus untuk
belajar bersama dengan anak normal.
Kelebihan dari model ini adalah (1) anak merasa senasib, sehingga dapat
menghilangkan rasa minder, rasa rendah diri, dan membangkitkan semangat
menyongsong kehidupan di hari-hari mendatang, (2) anak lebih mudah beradaptasi
dengan temannya yang sama-sama mengalami/menyandang ketunaan, (3) anak
termotivasi dan bersaing secara sehat dengan sesama temannya yang senasib di
sekolahnya, dan anak lebih mudah bersosialisasi tanpa dibayangi rasa takut bergaul,
minder, dan rasa kurang percaya diri.
Kekurangan/Kelemahan adalah (1) anak terpisah dari lingkungan anak lainnya sehingga
anak sulit bergaul dan menjalin komunikasi dengan mereka yang normal, (2) anak
merasa terpasung dan dibatasi pergaulanya dengan anak yang cacat saja sehingga
pada giliranya dapat menghambat perkembangan sosialisasinya di masyarakat, dan (3)
anak merasakan ketidakadilan dalam kehidupan di sekolah yang terbatas bagi mereka
yang tergolong berkelainan.
Ada empat bentuk penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu:
a.) Sekolah Luar Biasa (SLB)
Bentuk Sekolah Luar Biasa merupakan bentuk sekolah yang paling tua. Bentuk SLB
merupakan bentuk unit pendidikan. Artinya, penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat
persiapan sampai dengan tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit sekolah
dengan satu kepala sekolah. Pada awalnya penyelenggaraan sekolah dalam bentuk unit
ini berkembang sesuai dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja), sehingga ada
SLB untuk tunanetra (SLB-A), SLB untuk tunarungu (SLB-B), SLB untuk tunagrahita
(SLB-C), SLB untuk tunadaksa (SLB-D), dan SLB untuk tunalaras (SLB-E). Di setiap
SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut. Sistem
pengajarannya lebih mengarah ke sistem individualisasi.
Selain, ada SLB yang hanya mendidik satu kelainan saja, ada pula SLB yang mendidik
lebih dari satu kelainan, sehingga muncul SLB-BC yaitu SLB untuk anak tunarungu dan
tunagrahita; SLB-ABCD, yaitu SLB untuk anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan
tunadaksa. Hal ini terjadi karena jumlah anak yang ada di unit tersebut sedikit dan
fasilitas sekolah terbatas.

b.) Sekolah Luar Biasa Berasrama


Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar biasa yang dilengkapi
dengan fasilitas asrama. Sekolah Luar Biasa Berasrama merupakan bentuk sekolah luar
biasa yang
dilengkapi dengan fasilitas asrama. Peserta didik SLB berasrama tinggal diasrama.
Pengelolaan asrama menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah, sehingga di
SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut, serta unit asrama.
Pada SLB berasrama, terdapat kesinambungan program pembelajaran antara yang ada
di sekolah dengan di asrama, sehingga asrama merupakan tempat pembinaan setelah
anak di sekolah. Selain itu, SLB berasrama merupakanpilihan sekolah yang sesuai bagi
peserta didik yang berasal dari luar daerah, karena mereka terbatas fasilitas antar
jemput.

c.) Kelas jauh/Kelas Kunjung


Kelas jauh atau kelas kunjung adalah lembaga yang disediakan untuk memberi
pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari SLB atau
SDLB. Pengelenggaraan kelasjauh/kelas kunjung merupakan kebijaksanaan pemerintah
dalam rangka menuntaskan wajib belajar serta pemerataan kesempatan belajar. Anak
berkebutuhan khusus tersebar di seluruh pelosok tanah air, sedangkan sekolah-sekolah
yang khusus mendidik mereka masih sangat terbatas di kota/kabupaten. Oleh karena
itu, dengan adanya kelas jauh/kelas kunjung ini. Dalam penyelenggaraan kelas
jauh/kelas kunjung menjadi tanggung jawab SLB terdekatnya. Tenaga guru yang
bertugas di kelas tersebut berasal dari
guru SLB-SLB di dekatnya. Mereka berfungsi sebagai guru kunjung (itenerant teacher).
Kegiatan administrasinya dilaksanakan di SLB terdekat tersebut.

d.) Sekolah Dasar Luar Biasa


Dalam rangka menuntaskan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus,
pemerintah mulai Pelita II menyelenggarakan Sekolah Dasar LuarBiasa (SDLB). Di
SDLB merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan yang dididik dalam
satu atap. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan
tunadaksa. SDLB keberadaannya hampir mirip dengan SLB, akan tetapi SDLB sesuai
adalah sekolah yang diperuntukkan dan untuk menampung anak-anak berkebutuhan
khusus usia sekolah dasar dari berbagai jenis dan tingkat kekhususan yang dialaminya.
Mereka belajar di kelas masing-masing yang disesuaikan dengan jenis kekhususannya,
akan tetapi mereka bersosialisasi secara bersama-sama dalam satu naungan sekolah.
SDLB pada hakikatnya adalah SD Negeri Inpres biasa tetapi diperuntukkan bagi anak
usia wajib belajar yang memerlukan pendidikan khusus. Dilihat dari keragaman anak di
SDLB dengan berbagai jenis kekhususannya tersebut, maka SDLB sebenarnya
termasuk sekolah terpadu, akan tetapi terpadu secara fisik bukan terpadu secara
akademik.

2.3.2 Bentuk Layanan Pendidikan Terpadu/Integrasi


Bentuk layanan pendidikan terpadu/integrasi adalah sistem pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama-
sama dengan anak biasa (normal) di sekolah umum. Dengan demikian, melalui sistem
integrasi anak berkebutuhan khusus bersama-sama dengan anak normal belajar dalam
satu atap.
Sistem pendidikan integrasi disebut juga sistem pendidikan terpadu, yaitu sistem
pendidikan yang membawa anak berkebutuhan khusus kepada suasana keterpaduan
dengan anak normal. Keterpaduan tersebut dapat bersifat menyeluruh, sebagaian, atau
keterpaduan dalam rangka sosialisasi.
Ada tiga bentuk keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus
menurut Depdiknas (1986). Ketiga bentuk tersebut adalah:
a. Bentuk Kelas Biasa
Dalam bentuk keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa secara
penuh dengan menggunakan kurikulum biasa. Oleh karena itu sangat diharapkan
adanya pelayanan dan bantuan guru kelas atau guru bidang studi semaksimal mungkin
dengan memperhatikan petunjukpetunjuk khusus dalam melaksanakan kegiatan belajar-
mengajar di kelas biasa. Bentuk keterpaduan ini sering juga disebut keterpaduan
penuh.
Pendekatan, metode, cara penilaian yang digunakan pada kelas biasa ini tidak berbeda
dengan yang digunakan pada sekolah umum. Tetapi untuk beberapa mata pelajaran
yang disesuaikan dengan ketunaan anak. Misalnya, anak tunanetra untuk pelajaran
menggambar, matematika, menulis, membacaperlu disesuaikan dengan kondisi anak.
Untuk anak tunarungu mata pelajaran kesenian, bahasa asing/bahasa Indonesia (lisan)
perlu disesuaikan
dengan kemampuan wicara anak.

b. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus


Pada keterpaduan ini, anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa dengan
menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata pelajaran
tertentu yang tidak dapat diikuti oleh anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak
normal. Pelayanan khusus tersebut diberikan di ruang bimbingan khusus oleh guru
pembimbing khusus (GPK), dengan menggunakan pendekatan individu dan metode
peragaan yang sesuai. Untuk keperluan tersebut, di ruang bimbingan khusus dilengkapi
dengan peralatan khusus untuk memberikan latihan dan bimbingan khusus. Misalnya
untuk anak tunanetra, di ruang bimbingan khusus disediakan alat tulis braille, peralatan
orientasi mobilitas. Keterpaduan pada tingkat ini sering disebut juga keterpaduan
sebagian.

c. Bentuk Kelas Khusus


Dalam keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan sama dengan
kurikulum di SLB secara penuh di kelas khusus pada sekolah umum yang
melaksanakan program pendidikan terpadu. Keterpaduan ini disebut juga keterpaduan
lokal/bangunan atau keterpaduan yang bersifat sosialisasi.

2.4 Pendidikan Inklusif Dan Pengimplementasiannya


a. Pengetian Inklusif
konsep inklusif lebih menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi
anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusif menurut Sapon-Shevin dalam
ONeil (1994/1995) didefinisikan sebagai suatu sistem layanan pendidikan khusus yang
mensyaratkan agar semua anak berkebutuhan khusus dilayani di sekolah-sekolah
terdekat di kelas biasa bersama teman-teman seusianya. Untuk itu perlu adanya
restrukturisasi di sekolah sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan
kebutuhan khusus bagi setiap anak. Sejalan dengan konsep ini, Smith (2006:45)
mengemukakan, bahwa inklusi dapat berarti penerimaan anak-anak yang mengalami
hambatan ke dalam kurikulum, lingkungan, interaksi sosial dan konsep diri (visimisi)
sekolah.
Gagasan utama mengenai pendidikan inklusif ini menurut Johnsen (2003:181), adalah
sebagai beriku:
Bahwa setiap anak merupakan bagian integral dari komunitas lokalnya dan kelas dan
kelompok reguler.
Bahwa kegiatan sekolah diatur dengan sejumlah besar tugas belajar yang kooperatif,
individualisasi pendidikan dan fleksibilitas dalam pilihan materinya.
Bahwa guru bekerjasama dan memiliki pengetahuan tentang strategi pembelajaran dan
kebutuhan pengajaran umum, khusus dan individual, dan memiliki pengetahuan tentang
cara menghargai tentang pluralitas perbedaan individual dalam mengatur aktivitas
kelas.

b.Implementasi Inklusif
Ada beberapa faktor yang harus dipertimbagkan dalam implementasi pendidikan
inklusif, beberapa faktor dimaksud menurut skjorten, Miriam D (2003:52-58) adalah;
1)Kebijakan hukum- undang-undang ekonomi, yaitu perlunya ada undang-undang
khusus yang mengakomodasi kepentingan anak berkebutuhan khusus, sertu dukungan
dana dalam implementasinya;
2)Sikap pengalaman- pengetahuan, yaitu berkenaan dengan pengakuan hak anak
serta kemampuan dan potensinya;
3Kurikulum lokal, reginal, dan nasional;
4Perubahan pendidikan yang potensial, inklusi harus didukung oleh reorientasi di
lapangan, dalam bidang pendidikan guru dan penelitian;
5)Kerjasama lintas sektoral;
6Adaptasi lingkungan, dan
7)Penciptaan lapangan kerja.

Di Indonesia sendiri Pelaksanaan pendidikan inklusif di sekolah didasarkan pada


beberapa landasan, filosofis dan yuridis-empiris. Secara filosofis, implementasi inklusi
mengacu pada beberapa hal, diantaranya, bahwa:
Pendidikan adalah hak mendasar bagi setiap anak, termasuk anak berkebutuhan
khusus
Anak adalah pribadi yang unik yang memiliki karakteristik, minat, kemampuan dan
kebutuhan belajar yang berbeda
Penyelenggaraan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara orang tua
masyarakat dan pemerintah
Setiap anak berhak mendapat pendidikan yang layak
Setiap anak berhak memperoleh akses pendidikan yang ada di lingkungan Sekitarnya

c.Tenaga Kependidikan dalam Layanan ABK


Personil pendidikan ABK tidak jauh berbeda dengan personil pendidikan umum
lainnya.Personil yang dimaksud adalah sebagai berikut :
Tenaga Guru
Guru yang bertugas pada pendidikan ABK harus memiliki kualifikasi dan kemampuan
yang dipersyaratkan. Tenaga guru tersebut meliputi: Guru Khusus, Guru Pembimbing
(Konselor Pendidikan), Guru Umum yang telah memiliki pengalaman luas dalam
mendidik dan menangani masalah-masalah pendidikan anak di sekolah.

Tenaga Ahli
Tenaga ahli dalam pendidikan ABK sangat diperlukan keberadaannya untuk ikut
membantu pemecahan permasalahan anak dalam bidang non akademik. Tenaga ahli itu
meliputi: Dokter umum, Dokter spesialis, Psikolog, Social worker, maupun tenaga ahli
lainnya yang diperlukan.

Tenaga Administrasi
Untuk kelancaran proses belajar-mengajar perlu dukungan tenaga admistrasi sekolah.
Sebagai tenaga non akademik keberadaannya sangat diperlukan untuk kelancaran
tugas-tugas sekolah secara umum, misalnya keuangan, surat-menyurat, pendataan
murid/guru, dan sebagainya.
BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari berbagai pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa anak berkebutuhan
khusus adalah anak yang memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan interindividual
maupun intraindividual yang signifikan dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi
dengan lingkungan sehingga untuk mengembangkan potensinya dibutuhkan pendidikan
Penanganan pendidikan untuk anak-anak ABK dapat berbentuk model segregasi
(Contohnya SLB), kelaskhusus, SDLB, guru kunjung, sekolah terpadu, dan pendidikan
inklusi. Sedangkan Personil/tenaga yang terlibat dalam pelaksanaan pelayanan
pendidikan ABK, meliputi: guru, konselor, tenaga medis, psikolog dan personil lain yang
dibutuhkan.

3.2 Saran
Setelah membaca makalah ini diharapkan kita bisa memberikan layanan bagi Anak
Berkebutuhan Khusus dengan baik dan benar, dan kita bisa memberikan pelayanan
terbaik bagi anak yang berkebutuhan khusus

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat, dkk. 2006. Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Upi Press
Http://Www.Scribd.Com/Doc/17387933/Mengenal-Anak-Berkebutuhan-Khusus
http://z-alimin.blogspot.com/2008/03/pemahaman-konsep-pendidikan-kebutuhan.html
Suparno, dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Universitas Lampung.
Sujiono,Nuraini yuliana.2012.Konsep Dasar Anak Usia Dini.Indeks.s

Share This

Back to Home

MAKALAH HAKIKAT LAYANAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS


Related Posts :

Leave a Reply
Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

NEXTPREV
// Copyright 2017 Winda Novelasari //Anime-Note//Powered by Blogger // Designed
by Johanes Djogan //

http://wiendha29.blogspot.co.id/2013/11/makalah-hakikat-layanan-bagi-
anak.html

nurulhannisaazhar's Blog

Search

SKIP TO CONTENT

ABOUT

MAKALAH BIMBINGAN ABK DI


SD
JUNE 19, 2014 NURULHANNISAAZHAR LEAVE A COMMENT

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak dengan kebutuhan khusus perlu dikenal dan diidentifikasi


dari kelompok anak pada umumnya, oleh karena mereka
memerlukan pelayanan yang bersifat khusus. Pelayanan
tersebut dapat berbentuk pertolongan medidik, latihan-latihan
therapeutic, maupun program pendidikan khusus, yang
bertujuan untuk membantu mereka mengurangi
keterbatasannya dalam hidup bermasyarakat.

Dalam rangka mengidentifiksi (menemukan) anak dengan


kebutuhan khusus, diperlukan pengetahuan tentang berbagai
jenis dan gradasi (tingkat) kelainan organis maupun fungsional
anak melalui gejala-gejala yang dapat diamati sehari-hari.

Dalam PP Nomor 72 Tahun 1991 Bab XII Pasal 28 Ayat I


dinyatakan bahwa : Bimbingan merupakan bantuan yang
diberikan kepada peserta didik dalam rangka upaya
menemukan pribadi, mengatasi masalah yang disebabkan oleh
kelainan yang disandang, mengenal lingkungan, dan
merencanakan masa depan .

Dari pernyataan ini tampak jelas bahwa layanan bimbingan


memegang peranan penting dalam mempersiapkan siswa
menghadapi masa depannya. DI pihak lain, guru sebagai
pengelola inti dalam proses belajar mengajar (PBM)
mempunyai tugas untuk melaksanakan layanan bimbingan di
sekolahnya, terlepas dari ada atau tidak ada petugas khusus
yang disiapkan untuk itu. Peran guru sebagai pembimbing
semakin diperkokoh posisinya selaku fasilitator dalam
mencapai perkembangan siswa secara optimal.

Hal ini selaras dengan tugas pokok guru yang tercantum dalam
PP Nomor: 84/P/1993 Bab II pasal 3 tentang Tugas tugas
Pokok Guru yaitu:

Menyusun program pengajaran, menyajikan program


pengajaran, evaluasi belajar, analisis hasil evaluasi belajar,
serta menyusun program perbaikan dan pengayaan terhadap
peserta didik yang menjadi tanggung jawabnya; atau
menyusun program bimbingan, melaksanakan program
bimbingan, evaluasi pelaksanaan bimbingan, analisis hasil
pelaksanaan bimbingan, dan tindak lanjut dalam program
bimbingan terhadap peserta didik yang menjadi tanggung
jawabnya.

Dari uraian di atas, jelas bahwa guru di sekolah dasar


khususnya, di samping merupakan petugas inti pengelola
peristiwa belajar mengajar dan pemelancar belajar siswa, juga
memegang peranan kunci dan menjadi suatu keharusan bagi
guru tersebut untuk bertanggung jawab atas pelaksanaan
layanan bimbingan khususnya dalam proses pembelajarannya.

Fenomena di lapangan menunjukkan bahwa latar belakang


pendidikan guru di sekolah dasar, tidak dipersiapkan untuk
menjadi seorang konselor terlebih konselor bagi anak
berkebutuhan khusus (ABK). Dengan demikian, pengetahuan
guru tentang Bimbingan dan konseling relatif sedikit. Demikian
pula program yang khusus dirancang bagi anak berkebutuhan
khusus di sekolah dasar belum tersedia, sementara siswa yang
dihadapi guru sangat memerlukan layanan bimbingan secara
khusus, sehingga setiap kebutuhan siswa dapat terpenuhi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Konsep dasar hakikat bimbingan di Sekolah Dasar

2. Konsep dasar karakteristik dan permasalahan anak


berkebutuhan khusus

3. Konsep dasar bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus


1.3 Tujuan Pembuatan Makalah

1. Mengetahui konsep dasar hakikat bimbingan di Sekolah


Dasar

2. Mengetahui konsep dasar karakteristik dan permasalahan


anak berkebutuhan khusus

3. Mengetahui konsep dasar bimbingan bagi anak


berkebutuhan khusus

4. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Bimbingan


Anak Berkebutuhan Khusus

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hakikat Bimbingan di Sekolah Dasar

Konsep belajar tuntas yang dianut kurikulum di


Indonesia menuntut agar para siswa dalam setiap pertemuan
pembelajaran dapat menguasai unit bahan tertentu secara
tuntas sebelum siswa tersebut melanjutkan usahanya untuk
mempelajari atau menguasai bahan selanjutnya. Penguasaan
terhadap bahan yang kini sedang dipelajarinya akan
mempunyai pengaruh yang besar terhadap usaha dan
keberhasilan siswa dalam menguasai bahan berikutnya.

Kenyataan menunjukan kepada kita bahwa tidak semua siswa,


pada setiap saat berhasil dalam kegiatan belajar yang
dilakukannya. Ketidakberhasilan yang dialami siswa dapat
bersumber pada keadaan diri siswa sendiri atau dapat pula
bersumber pada faktor uang ada diluar dirinya. Yang pasti
bahwa mereka, sadar ataupun tidak membutuhkan bimbingan
orang lain dalam usaha mengatasi kesulitan yang dihadapinya
agar tujuan belajar yang mereka lakukan tercapai secara lebih
baik. Layanan bimbingan ini lebih-lebih dirasakan
kebutuhannya bagi siswa-siswa anak berkebutuhan khusus
yang karena kelainannya yang bermacam-macam dapat
merupakan salahsatu faktor timbulnya kesulitan belajar di
sekolah.

Secara formal kedudukan bimbingan dalam sistem pendidikan


di Indonesia telah digariskan dalam UU No.2/1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional beseta perangkat Peraturan
Pemerintahannya. Hal-hal yang berkenaan dengan pendidikan
dasar dibicarakan secara khusus dalam PP No. 28/1989. Pada
pasal 25 dalam PP tersebut dikatakan bahwa:

(1) Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada


siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal
lingkungan dan merencanakan masa depan;

(2) Bimbingan dilakukan oleh guru pembimbing.

Adapun target layanan bimbingan, antara lain:


a. Siswa dengan kecerdasan dan kemampuan tinggi;

b. Siswa yang mengalami kesulitan belajar;

c. Siswa dengan perilaku bermasalah.

Pengakuan formal seperti ini mengandung arti bahwa layanan


bimbingan di Sekolah Dasar perlu dilaksanakan secara
terprogram dan ditangani oleh orang yang memiliki
kemampuan untuk itu. Oleh karena itu, guru Sekolah Dasar
dikehendaki memiliki pemahaman dan kemampuan untuk
menyelenggarakan layanan bimbingan.

Keberadaan bimbingan di SD terkait erat dengan


sistem pendidikan dasar 9 tahun. Sehingga SD tidak hanya
mengantarkan siswanya untuk tamat belajar, melainkan harus
membantu siswa mengembangkan kesiapan baik dalam segi
akademik, social maupun pribadi untuk memasuki proses
pendidikan di SLTP. Ini berarti bahwa di Sekolah Dasar guru
memegang peran kunci didalam pelaksanaan bimbingan. Pada
tingkat Sekolah Dasar bimbingan dapat dikatakan identik
mengajar yang baik terutama jika guru memainkan peran-
peran penting dalam mengembangkan lingkungan kondusif
bagi perkembangan siswa.

Kebutuhan akan layanan bimbingan di SD bertolak dari


kebutuhan dan masalah perkembangan siswa. Temuan
lapangan (Sunaryo Kartadinata, 1992; Sutaryat Trisnamansyah,
dkk, 1992) menunjukkan bahwa masalah perkembangan siswa
Sekolah Dasar menyangkut aspek perkembangan fisik, kognitif,
pribadi, dan social. Masalah perkembangan ini memunculkan
kebutuhan akan layanan bimbingan di SD ialah tentang
keragaman individual siswa amat lebar.
Adapun hubungan bimbingan dengan kurikulum antara lain:
kurikulum merupakan rancangan pengalaman belajar bagi
siswa untuk mempercepat perkembangan intelektualnya.
Karena perkembangan siswa SD yang bersifat holistik yang
menghendaki keterpaduan antara layanan bimbingan dan
proses pembelajaran, maka:

Pertama, bimbingan merupakan piranti (instrument) untuk


memahami rentang kecakapan, prestasi, minat, kekuatan,
kelemahan, masalah, dan karakteristik perkembangan siswa
sebagai segi- segi esensial yang mendasar perencanaan
kegiatan kurikuler;

Kedua, bimbingan membantu siswa dalam memahami dan


memasuki kegiatan belajar yang disediakan dalam
pengalaman kurikuler itu.

Atas dasar itu, maka implementasi bimbingan dan konseling di


Sekolah/Madrasah diorientasikan kepada upaya memfasilitasi
perkembangan potensi konseli, yang meliputi as-pek pribadi,
sosial, belajar, dan karir; atau terkait dengan pengembangan
pribadi konseli sebagai makhluk yang berdimensi
biopsikososiospiritual (biologis, psikis, sosial, dan spiritual).

2.2 Karakteristik dan Permasalahan Anak


Berkebutuhan Khusus

Konsep Dasar Anak Berkebutuhan Khusus

Secara historis istilah untuk menyebutkan anak berkebutuhan


khusus (ABK) mengalami perubahan beberapa kali sesuai
paradigma yang diyakini pada saat itu. Perubahan yang
dimaksud dimulai dari anak cacat, anak tuna, anak
berkekurangan, anak luar biasa atau anak berlainan sampai
anak berkebutuhan khusus. Klirk (1986:5) mengemukakan
bahwa kekeliruan orang dalam memahami anak-anak ini akan
berdampak kepada bagaimana ia melakukan pendidikan bagi
mereka.

Di Indonesia penggunaan istilah tersebut baru diundangkan


secara khusus pada tahun 1950 melalui Undang Undang
Nomor 4, kemudian disusul dengan Undang Undang Nomor 12
tahun 1954.

Istilah yang digunakan di Indonesia saat ini adalah anak


berkebutuhan khusus sebagai terjemahan dari istilah Children
with Special needs. Istilah ini muncul sebagai akibat adanya
perubahan cara pandang masyarakat terhadap anak luar biasa
(Exceptional Children). Pandangan ini baru meyakini bahwa
semua anak luar biasa mempunyai hak yang sama dengan
manusia pada umumnya. Oleh karena itu, semua anak luar
biasa baik yang berat maupun yang ringan harus dididik
bersama-sama dengan anak-anak pada umumnya di tempat
yang sama. Dengan perkataan lain anak-anak luar biasa tidak
boleh ditolak untuk belajar di sekolah umum yang mereka
inginkan. System pendidikan seperti inilah yang disebut
dengan pendidikan inklusif. Dalam system pendidikan seperti
ini digunakan istilah anak berkebutuhan khusus untuk
menggantikan istilah anak luar biasa yang mengandung makna
bahwa setiap anak mempunyai kebutuhan khusus baik yang
permanen maupun yang tidak permanen.

Karakateristik Umum Anak Berkebutuhan Khusus

Anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini adalah anak


yang mengalami penyimpangan sedimikian rupa dari anak
normal baik dalam karakteristik mental, fisik, social, emosi,
ataupun kombinasi dari hal-hal tersebut sehingga memerlukan
layanan pendidikan khusus supaya dapat mengembangkan
potensinya seoptimal mungkin.

Meskipun anak berkebutuhan khusus itu berdiferensiasi,


namun pada dasarnya mereka juga memiliki karakteristik yang
relative sama diantaranya dalam hal perkembangan
intelektual, sosialisasi, stabilitas emosi, dan komunikasi.

Dalam segi perkembangan intelektual, rata-rata semua jenis


anak berkebutuhan khusus terhambat bahkan ada yang
terhambat sekali. Hal ini tergantung tingkat intensitas
kelainannya dan derajat kedalaman pengalaman yang
diberikan kepadanya.

Dalam segi sosialisasi, pada umumnya mereka mengalami


kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya,
meskipun di balik itu mengalami kemudahan dalam
menyesuaikan dengan sesama anak berkebutuhan khusus
yang sama kelainannya. Kesulitan menyesuaikan diri dapat
terjadi karena adanya rasa rendah diri yang disebabkan
adanya kelainan ataupun keterbatasan dalam kesanggupan
menyesuaikan diri.

Dari stabilitas emosi, nampak pada umumnya emosi kurang


stabil, mudah putus asa, tersinggung, konflik diri dsb. Hal ini
muncul diduga karena keterbatasannya di dalam gerak,
wawasan dan mengendalikan diri.

Dari segi komunikasi, mengalami hambatan terutama bagi


mereka yang mempunyai kelainan cukup berat, meskipun
terbantu dengan kemampuan-kemampuan lainnya, misalnya
yang mengalami gangguan penglihatan dapat diatasi dengan
pendengaran atau perabaan, gangguan pendengaran dapat
diatasi dengan penglihatan dsb.

2.3 Bimbingan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus di


Sekolah Dasar

Peranan Bimbingan Bagi Anak Berkekutuha khusus

Seperti telah kita sepakati bersama bahwa anak berkebutuhan


khusus adalah anak biasa yang menunjukan penyimpangan
dalam bidang fisik, mental dan sosial dari anak nomal,
sehingga dalam pendidikannya mereka memerlukan berbagai
modifikasi dan layanan khusus agar dapat berkembang secara
maksimal. Pada kenyataannya mereka ini mengalami kelainan
perkembangan dan pertumbuhan pada salah satu aspek atua
beberapa aspek ( fisik, mental, emosi, dan sosial ) apabila
dibandingkan dengan anak normal. Dalam istilah kelainan
perkembngan dan pertumbuha termasuk didalamnya
pengertian kekurangan, kelemahan, kecacatan dan
penyimpangan. Oleh karena itulah kepada mereka seyogyanya
diberikan layanan bimbingan khusus.

Kita semua sadar bahwa setiap siswa memiliki berbagai


keterbatasan tertentu. Seperti telah dinyatakan di atas
keterbatasan ini sangat nampak pada anak bekebutuhan
khusus yaitu pada jenis kecacatan yang disandangnya.
Kaerena kecacatannya ini siswa berkabutuhan khsus seringkali
mempunyai perasaan takut akan kurang atau tidak diterima
dalam pergaulan, akhinya meeka menarik diri dai pergaulan
dalam masyarakat. Akibatnya adalah tidak berkembagnya
potensi potensi lain yang masih mereka miliki.

Pendidikan adalah suatu proses yang berlangsung sepanjang


hayat ( a life long education ) baik dilembaga normal maupun
diluar lembaga normal yaitu dalm masyarakat. Menarik diri dari
pergaulan masyarakat berarti manghilangkan satu kesempatan
untuk tumbuh dan berkembang.

Proses pendidikan adalah peroses penyesuaian diri, proses


pemecahan problem problem hidup. Dalam proses ini siswa
( baik yang normal maupun yang berkebutuhan khusus )
berkesempetan untuk mengembangkan semua aspek
kepribadiannya dalam mencapai tujuan pendidikn secara utuh.
Siswa baru akan tumbuh maksimal bila mereka berkesempatan
untuk berdialog dengan manusia sekitarnya dan dengan
sesamanya. Melalui dialog ini siswa akan dirangsang untuk
mampu berfikir, mampu merasakan, mampu berbuat hal yang
positif walaupun sebagian aspek kepribadiannya mengalami
kecacatan.

Bimbingan ialah proses bantuan terhadap individu untuk


mencapai pemahaman di dan pengarahan diri yang dibutuhkan
untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimal terhadap
keluarga, sekolah serta masyarakat. Peranan bimbingan bagi
anak berkebutuhan khusus ialah agar mereka dapat dan
mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehinga
mereka dapat mempersiapkan dan melakukan tugasnya
sebagai salah seorang warga masyarakat sekolah dan
masyarakat luas.
Untuk mencapai tujuan tersebut peranan pembimbing cukup
besar. Oleh karena itu pembimbing diharapkan berfungsi
sebagai :

a. Sumber informasi. Informasi pembimbing hendaknya tidak


hanya ditunjukan bagi siswa itu sendiri, akan tetapi juga
selayaknya ditunjukan kepada orang tua siswa dan masyarakat
luas sehingga semua pihak mempunyai pemahaman yang
tetat dan harapan yang realistik terhadap semua siswa, baik
siswa yang normol apalagi anak yang cacat, dan juga bagi
anak itu sendiri, informasi yang benar dari pembimbing akan
sangat membantu mereka dalam menghadapi problem psihis.
Banyak orang tua dan anak yang menjadi bingung,
menunjukan kecemasan dan kekhawatiran yang belebihan
menghadapi musibah kecacatan. Mereka bingung dalam
merencanakan dan menentukan masa depan mereka.
Pembimbing diharapkan dapat memainkan perannya secara
bijaksana.

1. Fasilitator yaitu pemberi kemudahan dalam mengatasi asalah


yang dihadapi oleh siswa. Pembimbing bersama dengan siswa
harus dapat menunjukan dan menemukan cara memecahkan
masalah, menujukan dimana alat dan fasilatas diperlukan
mungkin dperoleh, dan lembaga nmana yang dapat dihubungi
untuk diajak bekerjasama memecahkan berbagai macam
pesoalan.
2. Mediator yang dapat dan mau mengerti sepenuhnya
kehidupan siswa, dan problema-problema yang meeka hadapi.
Pembmbing diharapkan dapat menuntun para siswa dalam
menemukan kebutuhan-kebutuhannya, serta menari alternatif
pemecahan dan jalan keluar.
3. Sumber kasih sayang bagi siswa, sehingga siswa akan tumbuh
menjadi pribadi yang stabil, matang dan mantap.

Demikian besar peran pembimbing dalam rangka membanu


siswa, oleh karena itu sangat diharapkan agar pembimbing
memberikan layanan kepada siswa secara terencana, tearah
dan terus menerus agar mampu mengantarkan mereka untuk
berdiri dengan kaki sendiri ditengah-tengah masyarakat.

Bimbingan Belajar

Belajar kita artikan sebagai suatu proses perusahaan pada


individu sebagai hasil pengalaman. Perubahan itu dapat terjadi
dalam bidang keterampilan, kebiasaan, sikap, pengertian,
pengetahuan dan apresiasi.

Bimbingan belajar di berikan kepada anak berkebutuhan


khusus pada umumnya, khususnya kepada siswa yang pada
suatu saat membutuhakan bantuan untuk memecahkan
masalah atau kesulitan yang berhubungan dengan kegiatan
belajar, baik itu disekolah, di asrama, di luar sekolah ataupun
di luar asrama.

Kesulitan yang biasa dipecahakan melalu kegiatan bimbingan


belajar antara lain:

a) Kesulitan dalam menguasai efektivitas dan efisiensi belajar


baik secara kelompok maupun secara individual. Kesulitan
dalam efektivitas belajar ini berbeda dengan anak yang
tunanetra misalnya, akan tetapi belajar yang efektif bagi
siapapun pada pinsipnya sama.

b) Kesulitan dalam upaya meningkatkan motif belajar. Tidak


jarang anak yang enggan belajar, malas untuk memeulai
belajar dan bahkan seringkali tidak siap untuk belajar
akibatnya anak asal-asalan saja dengan hasil yang tidak
memuaskan.

c) Kesulitan dalam cara memahami dan menggunakan buku


pelajaran dan kemudahan lainnya ayang telah tersedia dipusat
sumber belajar disekolah

d) Kesulitan dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah, baik


tugas yang harus dilakasanakan secara individual maupun
yang harus dikerjakan melalui kelompok terbatas.

e) Kesulitan dalam mempersiapkan diri menghadapi ulangan


dan ujian.

f) Kesulitan dalam memilih pelajaran atau kegiatan vokasional


yang cocok dengan minat, bakat, dan kondisi nyata dari siswa.

g) Kesulitan yang dtemui siswa dalam bidang studi khusus


seperti matematika, olah raga, menggambar dan lainnya.

h) Kesulitan dalam mengembangkan cara-cara belajar yang


baik.

i) Kesulitan dalam membagi waktu belajar diantara kegiatan


lainnya, baik disekolah maupun di luar sekolah.

j) Kesulitan dalam menentukan pilihan kegiatan tambahan


yang termasuk dalam kegiatan ko-kurikuler dan kegiatan
ekstra kulikuler.

Guru berkewajiban membantu siswa dalam memecahkan


masalah pengajaran diatas dengan berbagai bentuk
bimbingan. Usaha pembimbing diarahkan kepada siswa untuk
membantu siswa agar dapat menyesuaikan dii secara
memadai dalam situasi belajar. Guru harus bisa membina motif
belajar intringsing siswa. Upaya yang dapat dilakukan misalnya
dengan jalan mempekuat motif positif yang sudah ada pada
diri siswa, mempejelas tujuan belajar, merumuskan tujuan-
tujuan sementara yang segera dapat dicapai, membina situasi
persaingan yang sehat dan kalau perlu membeikan
rangsangan bak dengan kata-kata pujian atau sesekali dalam
bentuk hadiah berupa benda.

Melalui usaha bimbingan dapat diharapkan semua siswa dapat


belajar secara efektif dan efisien, sesuai dengan kemampuan
dan keterbatasan yang dimilikinya dengan mempegunakan
fasilitas yang ada dalam lingkungan keluarga, sekolah dan
masyarakat.

Pemberian informasi sebagai salah satu teknik dalam


bimbingan belajar akan sangat membantu siswa. Informasi
tentang cara belajar yang efektif, bagaimana cara melakukan
diskusi yang baik, cara-cara mengembangkan kebiasaan
belajar yang baik dan cara menghilangkan kebiasaan belajar
yang buruk.

Advertisements
SHARE THIS:

Twitter
Facebook

Google

Post navigation

PREVIOUS POSTPANTUN : DEFENISI, CIRI-CIRI, CONTOH, DAN JENIS-JENIS

PANTUNNEXT POSTCara Menggunakan Google Search Secara Efektif

LEAVE A REPLY

This WordPress.com site is the cats pajamas

Search for:

RECENT POSTS

Perbedaan antara Google doc, Google sheet, dan Google slide

Cara Menggunakan Google Search Secara Efektif

Makalah Bimbingan ABK di SD

PANTUN : DEFENISI, CIRI-CIRI, CONTOH, DAN JENIS-JENIS PANTUN

Langkah-langkah Memdaftar sebagai siswa di edmodo

RECENT COMMENTS

ARCHIVES

June 2014

CATEGORIES
Uncategorized

META

Register

Log in

Entries RSS

Comments RSS

WordPress.com

Blog at WordPress.com.

Follow

https://nurulhannisaazhar.wordpress.com/2014/06/19/makalah-bimbingan-abk-
di-sd/

Anda mungkin juga menyukai