Anda di halaman 1dari 23

Makalah PBL Blok 7

Sistem Respirasi I

Oleh :

Lydia Margaretha

10-2010-136

C6

Tutor :

dr. Clara
Sistem Pernafasan
Lydia Margaretha

10-2010-136

Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Jalan Arjuna Utara no.6 Jakarta Barat. Email: margaretha.lydia@yahoo.com

Pendahuluan

Pernapasan adalah istilah yang digunakan untuk menjelaskan dua proses yang
berbeda, tetapi slaing berhubungan : pernapasan seluler dan pernapasan mekanik.
Pernapasan seluler ialah proses dimana sel memperoleh energi melalui pemecahan
organik. Pernapasan mekanik adalah proses melalui dimana kebutuhan oksigen untuk
pernapasan seluler diserap dari atmosfer ke dalam sistem vaskular darah dan proses
melalui dimana karbon dioksida dikeluarkan ke atmosfer. Pernapasan mekanik terjadi
di dalam sistem pernapasan.

Sistem pernapasan memiliki dua komponen fungsional : sistem konduksi


untuk mengangkut gas-gas ekspirasi dan inspirasi antara atmosfer dan sistem sirkulasi
dan sebagai permukaan untuk pertukaran pasif gas antara atmosfer dan darah. Sistem
konduksi pada dasarnya dimulai sebagai saluran tunggal, yang bercabang-cabang
membentuk jalan napas yang diameternya semakin kecil. Percabangan terminal dari
sistem konduksi membuka ke dalam kantung berujung buntu yang disebut alveoli,
yang merupakan tempat terjadinya pertukaran gas. Alveoli, yang merupakan jaringan
paru, adalah struktur berdinding tipis dilapisi oleh jaringan kapiler yang amat banyak,
kapiler pulmoner. Susunan ini memberikan bidang temu berlimpah dengan ketebalan
minimal untuk pertukaran gas-gas antara atmosfer dan darah.

Melalui makalah ini, penulis ingin menjelaskan mengenai sistem pernapasan,


baik secara makrologis maupun mikrologis. Dalam makalah ini juga terdapat
penjelasan mengenai mekanika pernapasan dan tes fungsi paru. Hal-hal tersebut
dikaitkan juga dengan gangguan pernapasan yang dapat terjadi pada sistem respirasi
yang berperan.
Anatomi Fungsional Saluran Pernafasan
1.
Rongga hidung dan nasal. Hidung eksternal berbentuk piramid disertai
dengan suatu akar dan dasar. Bagian ini tersusun dari kerangka kerja tulang, kartilago
hialin, dan jaringan fibroareolar.1 Ke arah inferior, hidung memiliki dua pintu masuk
berbentuk bulat panjang, yakni nostril atau nares, yang terpisah oleh septum nasi.
Penyangga hidung terdiri atas tulang dan tulang-tulang rawan hialin. Rangka bagian
tulang terdiri atas os nasale, processus frontalis maxillae, dan bagian nasal ossis
frontalis. Rangka tulang rawan terdiri atas kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis,
dan kartilago ala nasi major dan minor, yang bersama-sama dengan tulang di
dekatnya saling dihubungkan.2

Septum nasal membagi hidung menjadi sisi kiri dan kanan rongga nasal. Bagian
anterior septum adalah kartilago. Tulang hidung membentuk jembatan dan bagian
superior kedua sisi hidung. Vomer dan lempeng perpendikular tulang etmoid
membentuk bagian posterior septum nasal. Lantai rongga nasal ialah palatum keras
yang terbentuk dari tulang maxilla dan palatinum. Konka nasalis superior, tengah,
dan inferior menonjol pada sisi medial dinding lateral rongga nasal. Setiap konka
dilapisi membran mukosa yang berisi kelenjar pembuat mukus dan banyak
mengandung pembuluh darah. Meatus superior, medial, dan inferior merupakan
jalan udara rongga nasal yang terletak di bawah konka.1

Sinus Paranasalis

Sinus berfungsi untuk meringankan tulang kranial, memberi area permukaan


tambahn pada saluran nasal untuk menghangatkan dan melembabkan udara yang
masuk, memproduksi mukus, dan memberi efek resonansi dalam produksi wicara.
Sinus paranasalis mengalirkan cairannya ke meatus rongga nasal melalui duktus
kecil yang terletak di area tubuh yang lebih tinggi dari lantai sinus. Pada posisi tegak,
aliran mukus ke dalam rongga nasal mungkin terhambat, terutama pada kasus infeksi
sinus.1

Sinus frontalis. Letak kedua sinus frontalis di sebelah posterior terhadap arcus
superciliaris antara tabula externa dan interna os frontale. Pendarahan disuplai oleh
cabang-cabang A. Ophtalmica, yakni A. Supraorbitalis, dan A. Ethmoidalis anterior.
Persarafan oleh N. Supraorbitalis. Sinus ethmoidalis. Tersusun dari rongga-rongga
kecil tak beraturan. Pada masing-masing sisi hidung, jumlah rongga kecil ini
bervariasi dari tiga rongga besar sampai 18 rongga kecil. Pendarahan disuplai oleh
Aa. Ethmoidalis anterior dan posterior serta A. Sphenopalatina. Persarafan oleh Nn.
Ethmoidalis anterior dan posterior. Sinus sphenoidalis. Kedua sinus ini terletak di
sebelah posterior terhadap bagian atas rongga hidung, di dalam corpus ossis
sphenoidalis, bermuara ke dalam recessus spheno-ethmoidalis. Pendarahan disuplai
oleh A. Ethmoidalis posterior dan cabang pharyngeal A. Maxillaris interna.
Persarafan oleh N. Ethmoidalis posterior. Sinus maxillaris. Sebagian besar sinus ini
menempati tulang maxilla. Berbentuk piramid, berbatasan dengan rongga hidung.
Pendarahan disuplai A. Facialis, A. Palatina major, A. Infraorbitalis. Persarafan oleh
N. Infraorbitalis dan Nn. Alveolaris superior anterior, medius, dan posterior.2

Gambar 1. Anatomi Hidung

2.
Faring merupakan sebuah pipa musculomembranosa, panjang 12-14 cm,
membentang dari basis cranii sampai setinggi vertebra cervical 6 atau tepi bawah
cartilago cricoidea. Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka
ke arah rongga nasal melalui dua garis internal (koana). Dua tuba eustachius
(auditorik) menghubungkan nasofaring dengan telinga tengah. Tuba ini berfungsi
untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gendang telinga. Amandel
(adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di dekat naris
internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara. Orofaring dipisahkan
dari nasofaring oleh palatum lunak muskular, suatu perpanjangan palatum keras
tulang. Uvula adalah processus kerucut kecil yang menjulur ke bawah dari bagian
tengah tepi bawah palatum lunak. Amandel palatinum terletak pada kedua sisi
orofaring posterior. Laringofaring mengelilingi mulut esofagus dan laring yang
merupakan gerbang untuk sistem respiratorik selanjutnya.1

3.
Laring merupakan kotak suara yang menghubungkan faring dan trakea.
Laring bersifat sphincter dan juga organ pembentuk suara, membentang antara lidah
sampai trachea atau pada laki-laki dewasa setinggi vertebra cervicalis 3 sampai 6,
tetapi sedikit lebih tinggi pada anak dan perempuan dewasa. Laring ialah tabung
pendek yang berbentuk seperti kotak triangular dan ditopang oleh sembilan kartilago;
tiga berpasangan dan tiga tidak berpasangan.1,2

Kartilago tidak berpasangan

a. Kartilago tiroid (jakun) terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid.


Biasanya berukuran lebih besar dan menonjol pada laki-laki akibat hormon yang
disekresi saat pubertas.

b. Kartilago cricoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih
tebal, terletak di bawah kartilago tiroid.

c. Epiglotis ialah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian


anterior kartilago tiroid. Saat menelan, epiglotis secara otomatis menutupi mulut
laring untuk mencegah masuknya makanan dan cairan.

Kartilago berpasangan

a. Kartilago aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kartilago cricoid.


Kartilago ini melekat pada pita suara sejati, yaitu lipatan berpasangan dari epitelium
skuamosa bertingkat.

b. Kartilago kurnikulata melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid.

c. Kartilago kuneiforme berupa batang-batang kecil yang membantu


menopang jaringan lunak.

4.
Trachea (tenggorok) merupakan sebuah pipa udara yang terbentuk dari tulang
rawan dan selaput fibro-muskular, panjangnya sekitar 10-11 cm sebagai lanjutan dari
laring, membentang mulai setinggi cervical 6 sampai tepi atas vertebra thoracal 5.
ujung caudal trachea terbagi menjadi bronkus principalis (primer, utama) dextra dan
sinistra. Trachea dilapisi epitelium respiratorik yang mengandung banyak sel goblet.
Bronkus primer dextra berukuran lebih pendek, lebih tebal, dan lebih lurus
dibandingkan bronkus primer kiri karena arkus aorta membelokan trakea bawah ke
kanan. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai 12 kali untuk membentuk bronki
sekunder dan tersier dengan diameter yang semakin kecil. Bronki disebut
ekstrapulmonar sampai memasuki paru-paru, setelah itu disebut intrapulmonar.1,2

5.
Thorax (dada) rangka thorax dibentuk oleh sternum dan kartilago kosta di
depan, kolumna vertebralis di belakang, serta kosta dan rongga interkostal di lateral.
Rongga ini dipisahkan dari rongga abdomen oleh diafragma dan memiliki hubungan
ke atas denga pangkal leher melalui pintu atas thorax.

Kosta. Dari 12 pasang kosta, tujuh pasang pertama memiliki artikulasi dengan
vertebra di posterior dan dengan sternum di anterior melalui kartlago kosta (kosta
sejati). Kartilago dari kosta ke-8, ke-9, dan ke-10 memiliki artikulasi dengan kartilago
kosta atas (kosta palsu). Kosta ke-11 dan ke-12 disebut melayang karena tidak
memiliki artikulasi di anterior (kosta palsu). Sternum terdiri atas manubrium, korpus,
dan processus xifoideus. Kartilago kosta merupakan batang-batang kartilago hialin
yang menghubungka ketujuh kosta teratas langsung ke sternum serta kosta ke-8, ke-9,
dan ke-10 dengan kartilago tepat di atasnya. Rongga interkostalis biasanya tiap
rongga memiliki tiga otot yang menyerupai otot dinding abdomen, yaitu M.
Interkostalis eksterna, interna, dan terdalam. Diafragma memisahkan rongga thorax
dan abdomen. Strukturnya terdiri dari bagian muskularis perifer yang berisensi di
aponeurosis anterior-tendon sentralis.3

6.
Paru-paru adalah organ berbentuk piramid seperti spons dan berisi udara,
terletak dalam rongga thorax. Paru kanan memiliki tiga lobus dan paru kiri memiliki
dua lobus. Setiap paru memiliki sebuah apex yang mencapai bagian atas iga pertama,
sebuah permukaan diafragmatis (bagia dasar) terletak di atas diafragma, sebuah
permukaan mediastinal (medial) yang terpisah dari paru lain oleh mediastinum, dan
permukaan kostal terletak di atas kerangka iga. Pleura ialah membran penutup yang
membungkus setiap paru. Pleura parietal melapisi rongga thorax (kerangka iga,
diafragma, mediastinum). Pleura viseral melapisi paru dan bersambungan dengan
pleura parietal di bagian bawah patu. Rongga pleura ialah ruang potensial antara
pleura parietal dan viseral yang mengandung lapisan tipis cairan pelumas. Resesus
pleura adalah area rongga pleura yang tidak berisi jaringan paru. Area ini muncul saat
pleura parietal bersilangan dari satu permukaa ke permukaan lain. Saat bernafas, paru-
paru bergerak keluar masuk area ini.1

Gambar 2. Anatomi Pernapasan

Struktur Mikro Sistem Pernafasan4,5

Mukosa Olfaktorius

Epitel respiratorik yang melapisi cavum nasi adalah epitel bertingkat silindris bersilia
dan bersel goblet. Epitel olfaktorius dikhususkan sebagai reseptor penghidu dan
berbeda dari epitel respiratorik, epitelnya ialah bertingkat bersilindris tinggi tanpa sel
goblet. Epitel olfaktorius dijumpai pada atap setiap cavum nasi, pada masing-masing
sisi septum dan pada konka nasal superior. Epitel olfaktorius terdiri dari :

Sel penyokong atau sel sustentakulat dengan inti lonjong yang terletak superfisial
pada epitel. Permukaan apexnya yang lebar mengandung mikrofili halus yang
menonjol ke dalam lapisan mukus permukaan dan bagian basalnya menyempit.
Dalam sitoplasma mempunyai granula kuning kecoklatan.

Sel olfaktorius adalah neuron bipolar sensoris. Inti bulat atau lonjongnya menempati
daerah pada epitel yang terletak di antara inti sel penyokong dan sel basal. Apex sel
olfaktorius itu langsing dan mengarah ke permukaan epitel. Memancar dari apex ini
adalah silia olfaktorius non motil dan panjang yang terletak paralel terhadap
permukaan epitel dalam mukus di atas epitel. Silia ini berfungsi untuk reseptor bau.
Terjulur ke luar dari basis sel yang sempit terdapat akson yang masuk ke dalam
jaringan ikat lamina propria di bawahnya, tempat mereka bergabung dalam berkas-
berkas kecil nervus olfaktorius tanpa mielin, yaitu fila olfaktoria. Saraf ini akhirnya ke
luar dari cavum nasi dan berjalan ke dalam bulbus olfaktorius otak.

Sel basal adalah sel kecil pendek yang terletak di basis epitel dan di antara basis sel-
sel penyokong da sel olfaktorius. Sel basal merupakan reserve cell/ sel cadangan yang
akan membentuk sel penyokong dan mungkin menjadi sel olfaktorius.

Faring

Terdapat nasofaring dengan epitel bersilindris bersilia bersel goblet, orofaring dengan
eptel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, dan laringofaring dengan epitel bervariasi,
sebagia besar epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Faring ialah ruangan di
belakang cavumnasi yang menghubungkan traktus digestivus dan traktus
respiratorius.

Laring

Laring yang dipotong vertikal, menunjukkan dua lipatan utama, tulang rawan
penunjang dan otot-otot. Terdapat pita suara palsu yang hanya dibentuk oleh mukosa.
Epitel yang meliputi ialah silindris bertingkat, bersilia, dan bersel goblet. Kelenjar
campur, terutama bersifat mukosa, terdapat di dalam lamina propria di bawah epitel.
Ventrikel merupakan identasi (takik) dan kantung yang memisahkan pita suara palsu
dan asli. Mukosa dinding lateral sama strukturnya dengan pita suara palsu. Lamina
propria bersatu dengan perikondrium dan tulang rawan tiroid. Dinding bagian bawah
ventrikel berubah menjadi pita suara asli.Mukosa pita suara asli, terdiri atas epitel
gepeng berlapis tanpa lapisan tanduk dan lamina propria padat yang tipis dan tidak
mengandung kelenjar, jaringan limfatik, dan pembuluh darah. Pada apex pita suara
asli terdapat ligamentum vokalis, suatu masa serat elastis padat.

Epiglotis

Merupakan bagian teratas dari laring menjulur ke atas dari dinding depan sebagai
katup yang lebar dan pipih. Suatu lempengan sentral dari tulang rawan elastis, tulang
rawan epiglotis membentuk kerangka untuk epiglotis. Permukaan lingual atau anterior
diliputi oleh epitel gepeng berlapis tanpa lapisan bertanduk dan suatu lamina propria
yang bersatu dengan perikondrium. Mukosa lingual terus mencapai apex epiglotis dan
sering melebihi setengah bagian posterior atau permukaan laringeal. Akan tetapi,
epitel berlapis gepeng menjadi jauh lebih rendah dan terjadi peralihan menjadi epitel
bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet (epitel respiratorik).

Trachea

Dinding trachea terdiri dari mukosa dengan epitel bersilindris bersilia bersel goblet,
submukosa (terdapat jaringan ikat jarang, lemak, kelenjar campur), lapisan
fibrokartilagineus, dan adventisia (fibrosa). Tulang rawannya berbentuk C. Di antara
ujung-ujungnya terletak muskulus trachealis (polos). Cincin-cincin tulang rawan satu
dengan yang lain dihubungkan oleh jaringan penyambung padat fibroelastis dan
retikulin disebut ligamentum annulare untuk mencegah agar lumen trakea jangan
meregang berlebihan. Otot polos berperan untuk mendekatkan kedua tulang rawan.

Paru-paru

Paru-paru terdiri dari sepasang, paru kanan terdiri dari 3 lobus; superior, medius, dan
inferior. Sedangkan, paru kiri terdiri dari 2 lobus; superior dan inferior. Selaput
pembungkus paru ialah pleura yang terdiri dari pleura viseral dan pleura parietalis. Di
antara pleura terdapat kavum pleura yag normal berisi cairan serosa. Pleura disusun
oleh jaringan ikat fibrosa dengan serat elastin dan kolagen dan sel fibroblas, dilapisi
oleh selapis mesotel.

Bronkus primer (ekstrapulmonar)

Pada mulanya sama seperti trakea. Pada saat masuk paru, bentuk C tulang rawan
digantikan oleh lempeng-lempeng terpisah tulang rawan yang mengelilingi bronkus
dan muskular polos menyebar dari muskulus trakealis untuk membentuk lapisan tidak
lengkap di sekeliling lumen.

Bronkus intrapulmonar

Bronkus primer selanjutnya bercabang menjadi bronkus intrapulmonar. Bronkus ini


dilapisi oleh epitel silindris bertingkat bersilia bersel goblet. Epitel ini dikelilingi
lamina propria tipis terdiri dari jaringan penyambung/ikat berserat halus dengan
banyak serat elastis dan limfosit jarang. Lamina propria dikelilingi oleh lapisan tipis
muskular polos dan terdapat noduli limfatisi dan kelenjar bronkialis/kelenjar campur.
Bronkiolus terminalis

Diameternya kurang lebih 0,3 mm. Terdiri dari epitel bersilindris bersilia tanpa sel
goblet. Di antara sel ini ada sel clara yang terdiri dari mikrofili dan bergraula kasar.
Sel clara ini tidak bersilia dan berperan dalam pembentukan cairan bronkiolar yang
mengandung protein, glikoprotein, kolesterol, mengeluarkan sejumlah kecil surfaktan
yang terdapat dalam sekret bronkiolar. Lapisan muskular yang berkembang baik
mengelilingi lamina propria yang tipis dan di luar diliputi oleh adventisia. Tulang
rawan dan kelenjar tidak ada.

Bronkiolus respiratorius

Diameternya kurang lebih 0,5 mm. Dinding bronkiolus dilapisi oleh epitel kubis
bersilia tanpa sel goblet yang mungkin terdapat pada bagian proksimal kemudian
menghilang. Otot polos membentuk lapisan dekat epitel. Sebuah cabang arteri
pulmonalis mengikuti bronkiolus respiratorius. Terdapat pula duktus alveolaris pada
bronkiolus ini dan alveoli pulmonaris yang bermuara ke dalamnya.

Duktus alveolaris

Dinding tipis, sebagian besar terdiri dari alveoli. Alveoli yang bulat/oval dibatasi oleh
epitel gepeng. Di dalam dinding tipis ini terdapat pleksus kapiler, disokong oleh
sedikit jaringan ikat halus dimana terdapat sedikit fibroblas dan beberapa sel lainnya.
Permukaan bebas dinding alveolus, di sekitar bibir alveoli, terdapat pita tipis
muskular polos, penerusan dari lapisan muskular bronkiolus respiratorius.

Respirasi

Mekanisme Dasar Pengembangan dan Pengempisan Paru6

Paru-paru dapat dikembangkan dan dikempiskan dalam dua cara, gerakan


turun naik diafragma untuk memperbesar atau memperkecil rongga dada dan elevasi-
depresi iga-iga untuk meningkatkan dan menurunkan diameter anteroposterior rongga
dada. Hampir seluruh pernapasan tenang yang normal dicapai melalui pergerakan
inspirasi diafragma. Selama inspirasi diafragma menarik batas bawah rongga dada ke
arah bawah. Selama pernapasan hebat, tetapi tenaga elastik tak cukup kuat untuk
menyebabkan ekspirasi cepat yang diperlukan, jadi ini dicapai dengan konsentrasi
otot perut, yang mendorong isi perut ke atas pada bagian bawah diafragma. Metode
kedua untuk mengekspansi paru-paru adalah mengangkat sangkar iga. Ia
mengekspansikan paru-paru karena pada posisi istirahat alamiah iga-iga miring ke
arah bawah sehingga memungkinkan sternum jatuh ke arah belakang ke arah kolumna
spinalis. Tetapi, bila sangkar iga terelevasi, maka iga-iga menonjol secara langsung ke
arah depan menjauhi tulang punggung, membuat diameter anteroposterior dada lebih
besar selama selama inspirasi maksimum daripada selama ekspirasi. Oleh karena itu,
otot-otot yang meninggikan rangka dada dapat digolongkan sebagai otot-otot inspirasi
dan otot-otot yang menurunkan sangkar dada ialah otot ekspirasi.

Mekanisme Respirasi7

Kekuatan pendorong untuk ventilasi ialah perbedaan tekanan atmosfer dan


tekanan intra pulmonar dalam alveoli. Untuk inspirasi, tekanan intrapulmonar harus
berada di bawah tekanan atmosfer eksternal (negatif), untuk ekspirasi tekanan
intrapulmonar harus berada di atasnya (positif). Gradien tekanan ini dibentuk saat
volume paru meningkat pada inspirasi dan menurun pada ekspirasi oleh kerja
diafragma dan toraks. Inspirasi merupakan suatu proses aktif. Kontraksi otot
meningkatkan volume dada, paru-paru berkembang, dan tekanan intrapulmonar
menurun sehingga udara mengalir ke dalam paru-paru. Pada akhir inspirasi tenang,
paru-paru dan dada rekoil ke posisi semula pada permulaan inspirasi. Dengan
demikian, ekspirasi tenang sebagian besar merupakan proses pasif.

Otot respirasi. Diafragma berpengaruh secara langsung terhadap volume paru


dengan berkontraksi (inspirasi) dan relaksasi (ekspirasi). Diafragma menyebabkan
75% volume tersebut berubah pada inspirasi tenang. Diafragma bergeser sebanyak
7cm pada inspirasi dalam. Lebih banyak pengaruh tidak langsung pada inspirasi yang
terjadi pada saat toraks membesar oleh kontraksi muskulus skaleneus dan muskulus
interkostalis eksternus dan otot tambahan lainnya. Diafragma atau muskulus
interkostales eksternus sendiri saja dapat mempertahankan ventilasi yang adekuat saat
istirahat.

Dalam posisi alamiahnya, paru-paru cenderung untuk mengkerut karena


elastisitasnya dan tegangan permukaan alveoli. Karena cairan dalam rongga pleura
tidak dapat mengembang, maka paru-paru tetap berhubungan dengan permukaan
dalam toraks, yang menyebabkan pengisapan, yaitu suatu tekanan negatif yang relatif
terhadap sekelilingnya (tekanan intrapleural atau tekanan intratoraks). Ketika toraks
berkembang selama inspirasi pengisapan menjadi lebih kuat, menurun lagi pada
ekspirasi. Hanya pada respirasi paksa, yang dibantu oleh otot ekspirasi, tekanan
intratoraks dapat menjadi positif.

Daya rekoil merupakan kemampuan untuk kembali ke bentuk semula sesudah


diregangkan. Dapat mengembalikan volume paru ke resting level. Compliance
merupakan kemudahan jaringan paru untuk diregang dinyatakan sebagai hubungan
antara volume paru dengan perubahan tekanan intra pulmonalis.

Tekanan Pernapasan8

1. Tekanan atmosfer (barometrik) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat


udara di atmosfer terhadap benda-benda di permukaan bumi. Di ketinggian
permukaan laut, tekanan ini sama dengan 760 mmHg. Tekanan atmosfer
berkurang seiring dengan penambahan ketinggian di atas permukaan laut
karena kolom udara di atas permukaan bumi menurun. Dapat terjadi fluktuasi
minor tekanan atmosfer akibat perubahan kondisi-kondisi cuaca (yaitu saat
tekanan barometrik meningkat/menurun).

2. Tekanan intra alveolus/ tekanan intra pulmonalis adalah tekanan di dalam


alveolus. Karena alveolus berhubungan dengan atmosfer melalui saluran
pernapasan, udara dengan cepat mengalir mengikuti penurunan gradien
tekanan setiap kali terjadi perbedaan antara tekanan intra alveolus dan tekanan
atmosfer; udara terus mengalir sampai tekanan keduanya seimbang.

3. Tekanan intra pleura/ tekanan intra toraks ialah tekanan yang terjadi di dalam
kantung pleura atau tekanan yang terjadi di luar paru di dalam rongga toraks.
Tekanan intra pleura biasanya lebih kecil dari tekanan atmosfer, rata-rata 756
mmHg saat istirahat.

Pusat Respirasi

Pusat respirasi merupakan sekelompok neuron yang tersebar luas dan terletak bilateral
di dalam substansia retikularis medula oblongata dan pons. Pusat respirasi dibagi
menjadi DRG (Dorsal Respiratory Group) dan VRG (Ventral Respiratory Group).
- DRG merupakan kumpulan neuron yang mengatur kerja otot eksternal
interkostal dan otot diafragma. DRG ini berfungsi pada seluruh proses
respirasi normal.
- VRG merupakan kumpulan neuron yang mengatur kerja otot respirasi
aksesori, yang berfungsi saat bernapas dengan kuat, yaitu saat inhalasi
maksimal dan ekshalasi aktif.

Kelompok dorsal terutama terdiri atas neuron inspirasi yang serat desendensnya
berakhir pada motor neuron di medula yang mempersarafi otot-otot inspirasi. Secara
periodik, neuron ini akan melepas impuls dengan frekuensi 12-15/menit. Sebagian
serat saraf dari dorsal akan berjalan ke kelompok ventral. Kelompok ventral terdiri
neuron inspirasi dan neuron ekspirasi yang keduanya tidak aktif selama pernapasan
tenang. Apabila kebutuhan ventilasi meningkat, neuron I pada kelompok ventral
diaktifkan melalui rangsang dari kelompok dorsal. Impuls melalui serat saraf yang
keluar dari neuron I kelompok ventral akan merangsang motor neuron yang
mempersarafi otot-otot inspirasi tambahan melalui n. IX dan n. X. Demikian pula
neuron E akan dirangsang untuk mengeluarkan impuls yang akan menyebabkan
kontraksi otot-otot ekspirasi, sehingga terjadi ekspirasi aktif. Terdapat pula suatu
mekanisme feedback negatif antara neuron I kelompok dorsal dan neuron E kelompok
ventral. Impuls dari I-DRG, selain merangsang motor neuron otot inspirasi, juga akan
merangsang neuron E-VRG. Neuron E-VRG sebaliknya akan mengeluarkan impuls
yang menghambat neuron I-DRG. Dengan demikian, neuron I-DRG akan
menghentikan aktivitasnya sendiri melalui penglepasan rangsang inhibisi.

Pertukaran Gas di Dalam Paru-paru

Oksigen larut secara fisika dalam plasma, namun sebagian besar berdifusi
dalam sel darah merah, bereaksi dengan deoksihemoglobin membentuk
oksihaemoglobin sambil melepaskan H+.

HHb + O2 HbO2 + H+

Pada saat Hb jenuh dengan O2, afinitas terhadap CO2 menurun, sehingga CO2
yang terikat Hb akan terdisosiasi dan berdifusi ke luar dari sel darah merah melalui
plasma menuju alveoli. Ion H+ yang dilepaskan pleh hemoglobin berikatan dengan ion
HCO3- yang berasal dari plasma (proses pertukaran dengan ion Cl -) masuk ke sel
darah merah membentuk H2CO3.

H+ + HCO3- H2CO3

H2CO3 kemudian pecah menjadi H2O dan CO2 dengan bantuan enzim karbonat
anhidrase.

H2CO3 H2O + CO2

CO2 berdifusi ke luar dari sel darah merah menuju plasma lalu ke alveoli.

Pertukaran Gas di Dalam Jaringan

Dalam sel jaringan, bahan organik dioksidasi dalam mitokondria. Untuk


oksidasi diperlukan O2 yang dibawa oleh Hb. Hasil pembakaran berupa CO2 diangkut
ke paru-paru dalam bentuk ion HCO3-, HbCO2, dan gas terlarut dalam plasma. CO 2
terlarut dalam jumlah kecil dalam plasma berdifusi ke dalam sel darah merah. Dalam
sel darah merah CO2 bereaksi dengan air dan ada juga yang berikatan dengan Hb
dengan bantuan enzim karbonat anhidrase H2CO3 terdisosiasi menjadi ion H+ dan
HCO3-.

CO2 + H2O H2CO3

CO2 + Hb HbCO2

H2CO3 H+ + HCO3-

HCO3- ini berdifusi keluar dari sel dari merah yang diganti oleh ion Cl -
(pergeseran klorida). Selanjutnya, HCO3- bertindak sebagai buffer untuk mengontrol
pH darah. Ion H+ dari H2CO3 yang terdisosiasi akan dibufferkan oleh Hb.

H+ + Hb HHb

Pada keadaan ini Hb mempunyai afinitas yang rendah terhadap O 2. Walaupun


demikian, sejumlah kecil O2 diangkut dalam keadaan terlarut secara fisik berdifusi
keluar dari plasma masuk ke dalam sel jaringan.
Gambar 3. Pertukaran Gas dalam Paru-Paru dan Jaringan

Ruang Rugi6,7

Pertukaran gas dalam sistem respirasi hanya terjadi di alveoli. Oleh karena itu,
volume tidal ekspirasi terdiri dari dua bagian, yang satu berasal dari ruang alveolar,
yang lain dari ruang rugi. Ruang rugi merupakan seluruh volume dari saluran udara
yang menyalurkan udara yang di inspirasi ke alveoli, tidak ambil bagian dalam
pertukaran gas. Udara yang mengisi jalan napas di setiap kali bernapas dinamai udara
ruang rugi. Pada inspirasi, banyak udara baru mula-mula harus mengisi berbagai area
ruang rugi jalan hidung, faring, trakea, dan bronkus- sebelum mencapai ke alveoli.
Hal ini disebut ruang rugi anatomis yang memiliki volume sekitar 150 ml. Fungsinya
sebagai saluran udara dimana udara secara serempak dibersihkan dari partikel debu,
dilembabkan, dan dihangatkan sebelum sampai di alveoli, serta menyumbang
kemampuan berbicara sebagai suatu kotak suara yang menentukan karakteristik suara.
Ruang rugi anatomis biasanya sama dengan fungsional, walaupun demikian, bila
pertukaran gas pada sebagian alveoli terhalang, ruang rugi fungsional melampaui
ruang rugi anatomis.
Tes Fungsi Paru9

Untuk mendiagnosis gangguan paru-paru dan seberapa parah gangguan tersebut.


Beberapa macam tes :
- spirometry rutin
- gas diffusion test
- residual volume measurement
- body plethysmography, dll.

Gambar 4. Tes dengan Spirometri

Volume statis paru-paru


Volume tidal (VT) = jumlah udara yang dihirup dan dihembuskan setiap kali
bernafas pada saat istirahat. Volume tidal normal bagi tubuh ialah 350-400 ml.
Volume residu (RV) = jumlah gas yang tersisa di paru-paru setelah
menghembuskan nafas secara maksimal atau ekspirasi paksa. Nilai normalnya
adalah 1200 ml.
Kapasitas vital (VC) = jumlah gas yang dapat diekspirasi setelah inspirasi secara
maksimal. VC = VT + IRV + ERV (seharusnya 80 % TLC). Besarnya adalah 4800
ml.
Kapasitas total paru-paru (TLC) = yaitu jumlah total udara yang dapat
dimasukkan ke dlm paru-paru setelah inspirasi maksimal. TLC = VT + IRV +
ERV + RV. Besarnya adalah 6000 ml.
Kapasitas residu fungsional (FRC) = jumlah gas yang tertinggal di paru-paru
setelah ekspirasi volume tidal normal. FRC = ERV + RV. Besarnya berkisar 2400
ml.
Kapasitas inspirasi (IC) = jumlah udara maksimal yang dapat diinspirasi setelah
ekspirasi normal. IC = VT + IRV. Nilai normalnya sekitar 3600 ml.
Volume cadangan inspirasi (IRV) = jumlah udara yang dapat diinspirasi secara
paksa sesudah inspirasi volume tidal normal.
Volume cadangan ekspirasi (ERV) = jumlah udara yang dapat diekspirasi secara
paksa sesudah ekspirasi volume tidal normal.

Gambar 4. Kapasitas dan Volume Statis Paru

Volume dinamis paru-paru


Parameter : FVC, FEV1 menentukan fungsi paru.
FEV1 : Forced Expired Volume in one second.
Volume udara yang dapat dihembuskan paksa pada satu detik pertama. Normalnya 3,2
liter.
FVC : Forced Vital Capacity
Volume udara maksimum yang dapat dihembuskan secara paksa kapasitas vital
paksa. Umumnya dicapai dalam 3 detik. Normalnya 4 liter.
Orang sehat dapat menghembuskan 75-80% atau lebih FVC-nya
dalam satu detik rasio FEV1/FVC = 75-80%.
Dasar Tes Fungsi Paru
Obstructive Lung Disease = tidak dapat menghembuskan udara (unable to get air
out).
FEV1/FVC < 75%
Semakin rendah rasionya, semakin parah obstruksinya.
FEV1: 60-75% = mild
FEV1: 40-59% = moderate
FEV1: <40% = severe
Restrictive Lung Disease = tidak dapat menarik napas (unable to get air in).
FVC rendah; FEV1/FVC normal atau meningkat.
TLC berkurang sebagai Gold Standard.

Obstructive
Jalan nafas yang menyempit akan mengurangi voulume udara yang dapat
dihembuskan pada satu detik pertama ekspirasi. Amati bahwa FVC hanya dapat
dicapai setelah ekshalasi yang panjang. Rasio FEV1/FVC berkurang secara nyata.
Ekspirasi diperlama dengan peningkatan perlahan pada kurva, dan plateautidak
tercapai sampai waktu 15 detik.
Restrictive
FEV1 dan FVC menurun. Karena jalan nafas tetap terbuka, ekspirasi bisa cepat dan
selesai dlm waktu 2-3 detik. Rasio FEV1/FVC tetap normal atau malah meningkat,
tetapi volume udara yang terhirup dan terhembus lebih kecil dibandingkan normal.
Mixed
Ekspirasi diperlama dengan peningkatan kurva perlahan mencapai plateau. Kapasitas
vital berkurang signifikan dibandingkan gangguan obstruktif. Pola campuran ini, jika
tidak terlalu parah, sulit dibedakan dengan pola obstruktif.

Peak flow meter sering digunakan oleh pasien asma untuk mengukur jumlah udara
yang dapat dihembuskan dari paru-paru. Jika saluran nafas menyempit atau tersumbat
karena asma, nilai peak flow akan menurun karena pasien tidak dapat
menghembuskan udara dengan sempurna. Peakflow meter berguna untuk memonitor
pasien asma sepanjang waktu dan dapat untuk menentukan apakah pengobatan asma
berhasil atau tidak.

Pemeriksaan Fisik Paru9


Pemeriksaan paru dan toraks posterior akan lebih mudah dilakukan pada
pasien yang duduk, sementara pemeriksaan paru dan toraks anterior pada pasien yang
berbaring telentang. Lakukan pemeriksaan dengan urutan yang benar : inspeksi,
palpasi, perkusi, dan auskultasi.
Saat pasien duduk, lakukan pemeriksaan paru dan toraks sebelah posterior.
Kedua lengan pasien harus disilangkan di depan dadanya dan kedua tangannya
diletakkan pada sisi bahu yang bersebrangan jika memungkinkan. Posisi ini akan
menggerakan kedua scapula ke samping, sehingga memperlebar daerah antar scapula
dan memudahkan untuk mengakses lapang paru. Kemudian, minta pasien untuk
berbaring.
Saat pasien berbaring telentang, lakukan pemeriksaan paru dan toraks anterior.
Posisi telentang (supinasio) akan memudahkan untuk memeriksa pasien wanita karena
kedua payudara dapat disisihkan ke samping dengan hati-hati. Selanjutnya, jika
terdapat gejala mengi, kemungkinan bunyi tersebut lebih mudah didengar. Namun,
sebagian dokter lebih suka memeriksa bagian posterior dan anterior dada saat pasien
duduk. Teknik pemeriksaan ini juga cukup baik.

Ada 4 teknik dalam pemeriksaan fisik yaitu :


1. Inspeksi
Adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa
melalui pengamatan. Cahaya yang adekuat diperlukan agar dapat membedakan warna,
bentuk dan kebersihan tubuh pasien. Fokus inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi
: ukuran tubuh, warna, bentuk, posisi, simetris. Dan perlu dibandingkan hasil normal
dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh lainnya. Contoh : mata kuning
(ikterus), terdapat struma di leher, kulit kebiruan (sianosis), dan lain-lain.

2. Palpasi
Palpasi adalah suatu teknik yang menggunakan indera peraba. Tangan dan jari-jari
adalah instrumen yang sensitif digunakan untuk mengumpulkan data, misalnya
tentang : temperatur, turgor, bentuk, kelembaban, vibrasi, ukuran. Pada saat palpasi,
fokuskan pada daerah-daerah yang nyeri ketika ditekan. Semua bagian yang nyeri
dipalpasi paling akhir. Misalnya : adanya tumor, oedema, krepitasi (patah tulang), dan
lain-lain.
3. Perkusi
Perkusi adalah pemeriksaan dengan jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu
untuk membandingkan dengan bagian tubuh lainnya (kiri kanan) dengan tujuan
menghasilkan suara. Perkusi bertujuan untuk mengidentifikasi lokasi, ukuran, bentuk
dan konsistensi jaringan. Dengan menggunakan kedua tangannya sebagai alat untuk
menghasilkan suara.

Adapun suara-suara yang dijumpai pada perkusi :


Sonor : suara perkusi jaringan yang normal.
Redup : suara perkusi jaringan yang lebih padat, misalnya di daerah paru-paru pada
pneumonia.
Pekak : suara perkusi jaringan yang padat seperti pada perkusi daerah jantung,
perkusi daerah hepar.
Hipersonor/timpani : suara perkusi pada daerah yang lebih berongga kosong,
misalnya daerah caverna paru, pada pasien asma kronik.

4. Auskultasi
Adalah pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang
dihasilkan oleh tubuh. Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop.
Hal-hal yang didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.

Bunyi normal :
Vesikular : pelan dan bernada rendah. Bunyi ini terdengar selama inspirasi, kemudian
berlanjut tanpa henti sepanjang ekspirasi, dan akhirnya terdengar semakin samar-
samar sekitar sepertiga perjalanan sepanjang ekspirasi.
Bronchovesikular : dengan bunyi inspirasi dan ekspirasi yang lebih kurang sama
panjangnya dan terkadang dipisahkan oleh interval yang sunyi (tanpa suara).
Bronchial : bunyi yang keras dan bernada lebih tinggi dengan interval tanpa suara
yang singkat di antara bunyi inspirasi dan ekspirasi.

Bunyi tidak normal yang dapat diauskultasi pada nafas :


Rales : suara yang dihasilkan dari eksudat lengket saat saluran-saluran halus
pernafasan mengembang pada inspirasi (rales halus, sedang, kasar). Misalnya pada
pasien pneumonia, TBC.
Ronchi : nada rendah dan sangat kasar terdengar baik saat inspirasi maupun saat
ekspirasi. Ciri khas ronchi adalah akan hilang bila pasien batuk. Misalnya pada edema
paru.
Wheezing : bunyi yang terdengar ngiii.k. bisa dijumpai pada fase inspirasi
maupun ekspirasi. Misalnya pada bronchitis akut, asma.

Pleura Friction Rub : bunyi yang terdengar kering seperti suara gosokan amplas
pada kayu.Misalnya pada klien dengan peradangan pleura.

Gambar 5. Pemeriksaan Fisik

Gangguan Pernapasan1,7
Hipoksia merupakan defisiensi oksigen, keadaan berkurangnya kadar oksigen
dibandingkan kadar normalnya secara fisiologis dalam jaringan dan organ.
Hipoksia hipoksik yaitu kekurangan oksigen di dalam darah, ditandai dengan
tekanan oksigen darah arteri menurun dan saturasi HbO2 tidak adekuat.
Hipoksia anemik terjadi karena kapasitas transport oksigen menurun,
penyebabnya ialah jumlah eritrosit turun sehingga Hb juga menurun. Hb abnormal
sehingga kurang efektif mengikat oksigen (metHb) dan keracunan CO.
Hipoksia stagnan (sirkulatorik) ialah jumlah darah yang teroksigenasi yang
sampai ke jaringan menurun. Tekanan oksigen dan kadar oksigen normal, jumlah
darah yang mencapai sel berkurang per satuan waktu.
Hipoksia histotoksik adalah keracunan jaringan, contohnya sianida. Jaringan
menjadi tidak mampu mengambil dan menggunakan oksigen. Kadar oksigen darah
arteri normal, aliran darah kapiler jaringan normal, dan tekanan oksigen darah vena
meningkat.
Hiperkapnia adalah peningkatan kadar CO2 dalam cairan tubuh dan sering disertai
hipoksia.
Asfisia atau sufokasi ialah suatu kondisi hipoksia dan hiperkapnia akibat
ketidakcukupan ventilasi pulmonary.
Sianosis terjadi ketika Hb yang mengalami deoksigenasi dalam kapiler melebihi
50g/l. Karena ia berwarna gelap, bantalan kuku, bibir, cuping telinga, dan daerah
dimana kulitnya tipis berubah warna menjadi ungu kehitam-hitaman.
Pneumonia adalah proses inflamasi infeksius akut yang mengakibatkan alveoli penuh
berisi cairan. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri, jamur, protozoa, virus, atau
zat kimia.

Kesimpulan

Respirasi dalam pengertian paling sempita ialah pertukaran gas antara


organisme dan lingkungan. Fungsi sistem pernapasan adalah untuk mengambil
oksigen dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranspor karbon dioksida
yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer. Organ-organ respiratorik juga
berfungsi dalam produksi wicara dan berperan dalam keseimbangan asam basa,
pertahanan tubuh melawan benda asing, dan pengaturan hormonal tekanan darah.
Mekanisme respirasi dalam tubuh melibatkan hidung, faring, laring, trakea,
percabangan bronkus, paru-paru, dan pleura. Masing-masing organ memegang
peranan penting dalam respirasi. Dalam respirasi terdapat juga pusat respirasi yang
merupakan sekelompok neuron yang tersebar luas dan terletak bilateral di dalam
substansia retikularis medula oblongata dan pons. Untuk mendiagnosis gangguan
paru-paru dan seberapa parah gangguan tersebut, dapat dilakukan dengan tes fungsi
paru, seperti tes spirometri, tes difusi gas, dan pengukuran volume residu. Selain itu,
dapat juga dilakukan pemeriksaan fisik dengan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan
auskultasi. Dalam respirasi, dapat terjadi gangguan, seperti hipoksia, hiperkapnia,
asfisia, sianosis, dan pneumonia.
Daftar Pustaka

1. Ethel S. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku


Kedokteran EGC.2004.h.266-77.
2. Santoso G. Anatomi sistem pernapasan. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.2007.h.2-53.
3. Omar F, David M. At a glance series anatomi. Jakarta: Penerbit
Erlangga.2004.h.2-5.
4. Mariano SH. Atlas histologi manusia. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.1992.h.175-83.
5. George B, Barbara Y, John WH. Histologi fungsional. Edisi ke-3. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2000.h.220-1.
6. Arthur CG. Fisiologi manusia dan mekanisme penyakit. Edisi ke-3.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.2001.h.343-5.
7. Agamemnon D, Stefan S. Atlas berwarna dan teks fisiologi. Edisi ke-4.
Jakarta: Penerbit Hipokrates.2000.h.79-104.
8. Lauralee S. Fisiologi manusia dari sel ke system. Edisi ke-2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2001.h.414-5.
9. Lynn SB, Peter G. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan
bates. Edisi ke-8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.2009.h.224-31.