Anda di halaman 1dari 3

TUGAS

Kasus Pajak Asian Agri

Mata Kuliah : Auditing Sektor Publik


Dosen : Helmiansyah Irawan, S.E., Ak., M.Ak, C.A

Disusun oleh:

KELAS : 6 B-2 Akuntansi ( Kelompok 4 )


NAMA ANGGOTA KELOMPOK :
1. Angelina Magdalena H (201410315004)
2. Anggita Ersa. S (201410315063)
3. Aprillia Kusnadi (201410315057)
4. Dina Septiyanti (201410315009)
5. Eva Dean Putri N. (201410315085)
6. Ikbal Royrafih (201410315103)
7. Lusinda Sihombing (201410315117)
8. Rohayu Manalu (201410315143)

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI

UNIVERSITAS BHAYANGKARA JAKARTA RAYA

Jl. Raya Perjuangan, Bekasi Utara, Telp. (021) 88955881. Fax (021) 8895871

1. Bagaimana pendapat mengenai artikel tersebut?


Menurut kelompok kami Terhadap Kasus Pajak Asian Agri ini adalah Direktorat
Jenderal Pajak melakukan enam Kesalahan ketika memeriksa dan menyidik dugaan
penggelapan pajak Asian Agri periode 2002-2005. Pada hakikatnya, pelaksanaan
pemeriksaan pajak telah ditentukan sedemikian rupa dan seharusnya mampu untuk
ditaati oleh Direktorat Jendral Pajak. Namun, faktanya pemeriksaan yang dilakukan
tidak memiliki jangka waktu yang tepat dan dengan kata lain tidak mengikuti
Kebijakan umum pemeriksaan pajak.

Kesalahan yang dilakukan oleh Direktorat Jendral Pajak itu diantaranya:


1. Pemeriksaan dugaan penggelapan pajak Asian Agri melebihi jangka waktu
yang ditetapkan seharusnya 2 bulan tapi molor 40 hari.
2. Direktorat Jenderal pajak tidak membuat berita acara penggeledahan
kantor Asian Agri di Marunda, Jakarta.
3. Alamat penggeledahan pun berbeda dengan yang tertera dalam surat
penggeledahan dan kantor yang didatangi.
4. Penyitaan dokumen perpajakan Asian Agri yang dilakukan Direktorat
Jenderal Pajak pada 14 Mei 2007 juga baru dilaporkan pada 14 Agustus 2007.
5. Penyidik pajak melewati batas waktu dalam melengkapi berkas perkara.
6. Belum menyerahkan barang bukti serta tersangkanya.

Pengauditan yang dilakukan bukan merupakan sebuah pengauditan yang sederhana,


ini merupakan pengauditan yang besar dan seharusnya sangat jelas untuk mampu
menentukan critical pointnya artinya, adanya dugaan penggelapan pajak yang
sampai merugikan negara hingga Rp 1,3, triliun bukan merupakan sebuah masalah
yang kecil. Akan banyak temuan yang seharusnya mampu diperoleh DJP terkait
permasalahan yang sangat krusial ini. Namun faktanya, DJP seolah kembali diaudit
oleh BPK. Setelah empat tahun, dari 12 berkas perkara tersebut hanya satu berkas
tersangka yang masuk ke kejaksaan agung.

2. Kenapa banyak kesalahan-kesalahan dari Direktorat Jenderal Pajak ketika


menyelidiki kasus Asian Agri? Apakah ada unsur kesengajaan di kasus ini?
Bagaimana menurut anda? Jelaskan.

Karena, Penyidik yang melakukan pemeriksaan tidak menjalankan proses


pemeriksaan yang sesuai dengan Undang-Undang perpajakan atau tidak mengikuti
beberapa tata cara ataupun dasar hukum pemeriksaan pajak. dan ini Terbukti
karena banyak kesalahan dari Direktorat Jenderal Pajak ketika menyelidiki kasus
Asian Agri karena pemeriksaan melebihi jangka waktu yang ditetapkan , melewati
batas waktu dalam melengkapi berkas perkara, belum menyerahkan barang bukti
serta tersangka-tersangka nya pada waktu yang ditentukan, dan Terutama terkait
dengan tidak adanya berita acara dan bahkan adanya alamat yang berbeda yang
dicantumkan.
Artinya, sangat memungkinkan berbagai bentuk kesalahan tersebut adalah adanya
unsur Kesengajaan yang dilakukan oleh DJP karena banyaknya kesalahan terutama
keterlambatan yang dilakukan oleh DJP seolah-olah membuat kasus ini menjadi
lebih lama lagi untuk ditindaklanjuti dan setelah 4 tahun dari 12 perkara baru satu
berkas tersangka masuk ke Kejaksaan Agung, serta Audit Kinerja ini juga merupakan
pesanan dari panitia perpajakan Dewan Perwakilan Rakyat.
3. Kenapa BPK sampai melakukan audit lanjutan pada Asian Agri? Apakah hasil audit
direktorat jenderal pajak tidak dapat dipercaya? Jelaskan.

BPK melakukan audit lanjutan terkait kasus Asian Agri dikarenakan, DJP sendiri
telah melakukan berbagai bentuk kesalahan secara berlapis yang sifatnya sangat
sulit untuk mempercayai hasil pengauditan yang telah dilakukannya karena
melakukan beberapa kesalahan, seperti alamat penggeledahan berbeda yang
tertera dalam surat penggeledahan dan kantor yang didatangi dan belum
menyerahkan barang bukti serta tersangka, sehingga kinerja pemeriksaan dari
Direktorat Jenderal Pajak dianggap Buruk.

Jadi, ketika BPK mengetahui hasil pengauditan yang dilakukan oleh DJP tentunya
BPK melakukan pemeriksaan terkait temuan dan segala dokumen yang berhubungan
dengan kegiatan pengauditan tersebut. Hal ini bisa diasumsikan, ketika BPK
melakukan pemeriksaan terhadap DJP maka, BPK melihat beberapa temuan yang
sangat layak untuk dipertanyakan kembali. Sehingga hal inilah yang membuat DJP
harus diaudit kembali, dan Asian Agri juga harus diaudit kembali. Selain itu, hal
yang sangat mendukung adalah lumpuhnya kelengkapan dokumen pengauditan yang
dimiliki oleh DJP, sehingga BPK harus turun tangan untuk melakukan pengauditan
kembali. Dan ada satu pertimbangan mutlak yang menjadi sebuah tolok ukur untuk
melakukan pengauditan kembali oleh BPK yaitu, bahwa Asian Agri sangat
berpengaruh untuk penerimaan pajak negara. Makanya, kasus ini harus ditelusuri
secara mendalam.