Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PENGEMASAN

ACARA I
PENGUJIAN LAJU TRANSMISI UAP AIR DAN PERMEABILITAS
KEMASAN TERHADAP UAP AIR

Kelompok 6

Penanggung Jawab:
Destya Choirunisa (A1F015011)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2017
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pengemasan merupakan salah satu cara dalam memberikan kondisi yang


tepat bagi bahan pangan untuk menunda proses kimia dalam jangka waktu yang
diinginkan. Kerusakan yang disebabkan oleh lingkungan dapat dikontrol dengan
pengemasan. Kerusakan ini antara lain absorbsi uap air dan gas, interaksi dengan
oksigen dan kehilangan serta penambahan citarasa yang tidak diinginkan.
Integritas bahan makanan dalam kemasan ditentukan oleh kemampuan kemasan
(bahan dan sistem kemasan) untuk menahan kerusakan selama penanganan,
distribusi, dan penyimpanan yang baik di gudang dan di rumah sebelum bahan
makanan dikonsumsi. Salah satu factor penting yang mempengaruhi kerusakan
pangan ialah kontak dengan gas (oksigen) dan kelembaban. Kemasan diharapkan
mampu melindungi bahan makanan dengan menjaga supaya oksigen dan
kelembaban tetap berada di luar kemasan.
Plastik merupakan salah satu bahan pengemas pangan yang melindungi
makanan agar terhindar dari kontak oksigen dan kelembaban. Penggunaan plastik
sebagai bahan pengemas mempunyai keunggulan disbanding bahan pengemas lain
karena sifatnya yang ringan, transparan, dan selektif dalam permeabilitasnya
terhadap uap air, O2, dan CO2. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan
udara menyebabkan plastik berperan memodifikasi ruang kemas selama
penyimpanan. Sehubungan dengan sifat plastik yang memiliki permeabilitas
terhadap gas dan uap air sehingga mampu melindungi produk yang dikemas
dengan menjaga agar oksigen dan uap air tetap berada di luar, pada kenyataannya
plastik pengemas tidaklah secara absolut mampu menahan gas dan uap air tersebut
karena film plastik permeable terhadap gas dan uap air.
Permeabilitas uap air merupakan suatu ukuan kerentanan suatu bahan
untuk terjadinya proses penetrasi air. Permeabilitas uap air dari suatu film
kemasan didefinisikan sebagai laju kecepatan atau transmisi uap air melalui suatu
unit luasan bahan yang permukaannya rata dengan ketebalan tertentu, sebagai
akibat dari suatu perbedaan unit tekanan uap antara dua permukaan pada kondisi
suhu dan kelembaban tertentu. Sedangkan permeabilitas film kemasan terhadap
gas-gas, penting diketahui terutama gas oksigen karena berhubungan dengan sifat
bahan dikemas yang masih melakukan respirasi. Permeabilitas terhadap gas dan
uap air (gas or water vapor permeability/WVP) yang banyak digunakan dalam
teknologi pengemasan didefinisikan sebagai gram air per hari per 100 inc 2
permukaan kemasan, untuk ketebalan dan temperature tertentu, dan kelembaban
relatif di satu sisi 0% dan pada sisi lainnya 95%.
Permeabilitas uap air dari suatu film kemasan didefinisikan sebagai laju
kecepatan atau transmisi uap air melalui suatu unit luasan bahan yang
permukaannya rata dengan ketebalan tertentu, sebagai akibat dari suatu perbedaan
unit tekanan uap antara dua permukaan pada kondisi suhu dan kelembaban
tertentu. Sedangkan permeabilitas film kemasan terhadap gas-gas, penting
diketahui terutama gas oksigen karena berhubungan dengan sifat bahan dikemas
yang masih melakukan respirasi.

B. Tujuan

Tujuan praktikum acara ini adalah untuk mengetahui kemampuan bahan


kemasan dalam menahan perpindahan uap air yang melalui bahan kemasan.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Plastik merupakan salah satu jenis bahan kemas yang sering digunakan
selain bahan kemas lain seperti: kaleng, gelas, kertas, dan styrofoam. Plastik,
bahan pengemas yang mudah didapat dan sangat fleksibel penggunaannya. Selain
untuk mengemas langsung bahan makanan, seringkali digunakan sebagai pelapis
kertas. Secara umum plastik tersusun dari polimer yaitu rantai panjang dan satuan-
satuan yang lebih kecil yang disebut monomer. (Mareta dkk., 2011). Menurut
Herudiyanto, (2008), plastik pada umumnya terdiri dari polimer karbon, karbon
dengan oksigen, nitrogen, klorin, atau belerang di bagian dari rantai di jalur utama
yang menghubungkan unit monomer menjadi kesatuan. Sifat plastic adalah kuat,
ringan, tidak berkarat, bersifat termoplastis (direkatkan melalui panas), dapat
diberi label atau cetakan dengan berbagai kreasi, mudah diubah bentuknya, dan
dapat digunakan dalam bentuk tunggal komposit atau multilapis dengan hampir
semua jenis bahan lain seperti karton, kertas, plastic dan lainnya yang disebut
sebagai proses laminasi.
Integritas suatu produk hortikultura ketika dikemas ditentukan oleh
kemampuan bahan dan sistem kemasannya dalam menahan kerusakan selama
proses penanganan, distribusi dan proses lain yang terlibat hingga produk sampai
ke tangan konsumen. Menurut Winarno (2008), sifat terpenting bahan kemasan
yang digunakan meliputi permeabilitas gas dan uap air, bentuk dan
permukaannya. Permeabilitas uap air dan gas, serta luas permukaan kemasan
mempengaruhi produk yang disimpan. Jumlah gas yang baik dan luas permukaan
yang kecil menyebabkan masa simpan produk lebih lama. Permeabilitas beberapa
film plastik dapat dilihat pada Tabel dibawah ini.
Tabel 1. Permeabilitas dan transmisi beberapa jenis film

Sumber : Joseph (1984) dalam Suhelmi (2007)

Permeabilitas adalah proses larutnya suatu gas di salah satu permukaan


bahan kemasan kemudian berdifusi melewati sisi bahan kemasan lainnya. Laju
transmisi uap air pada kemasan dinyatakan dlam beberapa istilah yaitu WVTR,
WVP, dan WVPM. (Setiasih, I., 2006). Putro (2012) menyebutkan laju transmisi
uap air atau Water Vapour Transmission Rate (WVTR) adalah jumlah uap air yang
melewati satu unit permukaan luas dari suatu bahan selama satu satuan waktu
pada kondisi suhu dan RH yang relatif konstan. Berdasarkan American Society for
Testing and Materials (ASTM) E96-80, definisi permeabilitas uap air (water vapor
permeability, WVP) adalah kecepatan atau laju transmisi uap air melalui suatu
unit luasan bahan yang permukaannya rata dengan tebalan tertentu sebagai akibat
dari suatu perbedaan unit tekanan uap antara dua permukaan pada kondisi suhu
dan kelembaban tertentu. Permeabilitas menyangkut proses pemindahan larutan
dan difusi, dimana larutan berpindah dari satu sisi film dan lanjutnya berdifusi ke
sisi lainnya setelah menembus film tersebut. Permeabilitas uap air adalah laju
transmisi uap air dibagi dengan perbedaan tekanan uap air antara permukaan
produk (Fiardy, 2013), Permeabilitas menyangkut proses pemindahan larutan dan
difusi, dimana larutan berpindah dari satu sisi film dan lanjutnya berdifusi ke sisi
lainnya setelah menembus film tersebut.
Silika gel merupakan salah satu bahan kimia berbentuk padatan yang
banyak dimanfaatkan sebagai adsorben. Hal ini disebabkan oleh mudahnya
produksi dan juga beberapa kelebihan yang lain, yaitu: sangat inert, hidrofilik,
mempunyai kestabilan termal dan mekanik yang tinggi serta relatif tidak
mengembang dalam pelarut organik jika dibandingkan dengan padatan resin
polimer organik. Prinsip dari silika gel adalah menyerap uap air biasanya dalam
proses ditambahkan senyawa kobalt sebagai indikator untuk mengetahui kapasitas
uap air yang terserap (Sulastri dan Kristianingrum, 2010). Garam jenuh memiliki
keuntungan dalam mempertahankan suatu kelembaban yang konstan selama
jumlah garam yang ada masih diatas tingkat kejenuhannya. Namun demikian,
kemurnian garam, luas permukaan cairan, dan volume larutan garam jenuh juga
penting sekali jika pengukuran yang tepat dikehendaki. Garam dalam konsentrasi
tinggi dapat menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk dan patogen. Hal ini
disebabkan oleh penurunan nilai aktivitas air (aw) (Wulandari dkk., 2013).
Jenis plastik yang populer digunakan untuk pengemasan yaitu PE
(polyethylen) dan PP (polyprophylen), karena kedua jenis plastik ini selain
harganya murah, mudah ditemukan di pasaran, juga memiliki sifat umum yang
hampir sama. Plastik PE tidak menunjukan perubahan pada suhu maksimum 93C
- 121C dan suhu minimum -46C (-5)C, namun memiliki permeabilitas yang
cukup tinggi terhadap gas-gas organik sehingga masih dapat teroksidasi apabila
disimpan dalam jangka waktu yang lama. Menurut Yanti, dkk, (2008) bahan
kemasan plastik yang paling banyak digunakan adalah plastik PE karena
mempunyai harga relatif murah, mempunyai komposisi kimia yang baik, resisten
terhadap lemak dan minyak, tidak menimbulkan reaksi kimia terhadap makanan,
mempunyai kekuatan yang baik dan cukup kuat untuk melindungi produk dari
perlakuan kasar selama penyimpanan, mempunyai daya serap yang rendah
terhadap uap air, serta tersedia dalam berbagai bentuk. PP permeabilitas uap
airnya rendah, permeabilitas gas sedang, tahan suhu tinggi (150C) terutama
untuk makanan sterilisasi, titik leleh tinggi, sulit dibuat kantung, tahan terhadap
asam kuat, basa dan minyak, pada suhu tinggi bereaksi dengan benzena, siklen,
toluen, terpentin, asam nitrat kuat (Lestari, 2007).
Suhelmi (2007) mengatakan HDPE memberikan perlindungan yang baik
terhadap air dan meningkatkan stabilitas terhadap panas. Daya tembus HDPE
terhadap O2 sebesar 10,5 {(cm3/cm2/mm/dt/cmHg) 1010} dan H2O sebesar 30,5
{(cm3/cm2/mm/dt/cmHg) 1010}. Plastik jenis ini memiliki lebih banyak rantai
antar molekulnya, sehingga mempunyai densitas yang lebih tinggi sehingga lebih
kaku. Kemasan ini mempunyai daya tembus terhadap oksigen yang rendah dan
tahan terhadap asam.
Pada polietilen jenis low density terdapat sedikit cabang pada rantai antara
molekulnya yang menyebabkan plastik ini memiliki densitas yang rendah
sedangkan high density mempunyai jumlah rantai cabang yang lebih sedikit
dibanding jenis low density. Dengan demikian, high density memiliki sifat bahan
yang lebih kuat, keras, buram dan lebih tahan terhadap suhu tinggi. Bahan
kemasan Polyethylene telah merevolusi industri makanan. Bahan-bahan ini
berkisar dari High Density Polyethylene (HDPE) dibentuk untuk produk kemasan
susu, film untuk kemasan kering untuk PE berbasis produk makanan dan daging
dan sayuran beku atau didinginkan. Kemasan PE dapat meningkatkan umur
simpan makanan, mengurangi pembusukan dan meningkatkan ketersediaan
produk makanan yang berbeda kepada masyarakat umum (Krohn, 2013).
Adanya perbedaan kadar air bahan yang dikemas disebabkan oleh
permeabilitas berbeda-beda dari bahan kemasan. Besarnya permeabilitas bahan
pengemas terhadap air sangat terhadap laju kehilangan air dimana pengemas
polietilen (PE) mempunyai permeabilitas terhadap uap air terkecil 130 x
cc.mm/detik.cm2, cmHg pada suhu 25oC dibandingkan bahan pengemas lain,
sehingga dapat menghambat laju kehilangan air. Secara umum perlakuan
ketebalan berpengaruh terhadap permeabilitas O2 dan H2O yang berhubungan
dengan terjadinya penurunan kadar air dan berpengaruh pada perubahan susut
bobot (Sedani, 2008).
III. METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu:


1. Stoples berpenutup
2. Cawan petri
3. Timbangan
4. Selotip hitam dan selotip putih
5. Penggaris

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu:


1. Kertas roti
2. Aluminium foil
3. Plastik PP 0,05
4. Plastik PP 0,03
5. Plastik PE 0,03
6. Silika gel kering
7. NaCl
8. Aquades

B. Prosedur
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil

- Tabulasi data:
Tabel hasil pengamatan per jam
No Jenis pengemas Pengamatan (gram/jam)
0 1 2 3 4 5 6 7

1. Kertas Roti 57,5 57,7 57,2 57,9 58,0 58,1 58,2 58,3
223 405 716 932 820 715 512 512
2. Aluminium Foil 58,5 58,5 58,6 58,6 58,6 58,6 58,6 58,6
015 095 415 341 328 528 588 710
3. PP 0,05 56,9 56,9 57,0 57,0 57,1 57,1 57,1 57,1
255 343 886 950 014 168 419 398
4. PP 0,03 45,0 45,0 45,1 45,1 45,1 45,1 45,1 45,1
917 975 004 012 264 364 404 389
5. PE 0,03 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2 50,2
700 789 821 888 928 922 961 993

Tabel perhitungan
No. Jenis Slope Luas WVTR WVP
Pengemas permukaan
(m2)
1. Aluminium 0,0234 0,00679 3,44652 2899x10-8
foil
2. Kertas roti 0,1123 0,00636 17,66346 7429x10-8
3. PP 0,05 0,0313 0,00636 4,92236 10352x10-8
4. PP 0,03 0,0081 0,00664 1,21498 1533x10-8
5. PE 0,03 0,0039 0,00664 0,57981 7,31618442e-6

Perhitungan:
1. Slope
Menggunakan excel : Y = ax + b

2. Luas permukaan cawan petri


L = d2 (m2)
a) Aluminium foil (d = 9,3 cm = 0,093 m)
L = (0,0932)
L = 0,00679 m2
b) Kertas roti (d = 9 cm = 0,09 m)
L = (0,092)
L = 0,00636 m2
c) PP 0,05 (d = 9 cm = 0,09 m)
L = (0,092)
L = 0,00636 m2
d) PP 0,003 (d = 9,2 cm = 0,092 m)
L = (0,0922)
L = 0,00664 m2
e) PE 0,03 (d = 9,2 cm = 0,092 m)
L = (0,0922)
L = 0,00664 m2

3. WVTR

WVTR =

a) Aluminium foil

WVTR =

WVTR = 3,44652 gram/jam.m2


b) Kertas roti

WVTR =

WVTR = 17,66346 gram/jam.m2


c) PP 0,05

WVTR =

WVTR = 4,92236 gram/jam.m2


d) PP 0,03

WVTR =

WVTR = 1,21498 gram/jam.m2


e) PE 0,03

WVTR =

WVTR = 0,57981 gram/jam.m2

4. WVP
WVP =

P = 3,17 R2 = 0
R1 = 75% = 0,75
a) Aluminium foil

WVP =

WVP =

WVP = 0,00002899 = 2899 x 10-8


b) Kertas roti

WVP =

WVP =

WVP = 0,00007429 = 7429 x 10-8


c) PP 0,05

WVP =

WVP =

WVP = 0,00010352 = 10352 x 10-8


d) PP 0,03

WVP =

WVP =

WVP = 0,00001533 = 1533 x 10-8


e) PE 0,03

WVP =

WVP =

WVP = 7,31618442e-6

Grafik
B. Pembahasan

Pada praktikum ini digunakan beberapa kemasan plastik dan kemasan


kertas. Jenis kemasannya adalah kertas roti (0,01 mm), aluminium foil (0,02 mm),
PP (0,05 mm), PP (0,03 mm) dan PE (0,03 mm). Untuk mengatahui adanya uap
air yang tertahan di dalam kemasan atau masuk ke dalam kemasan menggunakan
dapat dilihat dengan menggunakan silika gel. Fungsi silika gel adalah untuk
menyerap uap air yang terdapat di dalam kemasan. Hal ini sesuai dengan literatur
yaitu menurut Sulastri dan Kristianingrum, (2010) prinsip dari silika gel adalah
menyerap uap air biasanya dalam proses ditambahkan senyawa kobalt sebagai
indikator untuk mengetahui kapasitas uap air yang terserap.

Prosedur kerja dari praktikum ini yaitu menyiapkan alat dan bahan yang
telah disediakan. Setiap kelompok mendapat masing masing satu jenis kemasan
yang berbeda. Setelah itu kemasan diukur dengan penggaris dan digunting dengan
diameter sebesar cawan petri (dibuat sedikit berlebih), kemudian dihitung luas
permukaannya. Kemudian setelah diukur dan digunting, timbang silika gel
sebesar 3 gr lalu dimasukan ke dalam cawan petri yang telah ditimbang dan telah
diketahui beratnya. Lalu cawan petri ditutup dengan kemasan secara rapat
sehingga memungkinkan di dalam cawan petri kedap udara, agar tidak ada udara
atau uap air yang keluar masuk kedalam stoples. Perlu adanya perlakuan dengan
membentuk lingkungan yang memiliki kelembaban 75% atau RH kurang lebih
75% dengan cara membuat larutan NaCl 20%. NaCl 20% dibuat dengan cara
melarutkan 20 gram garam di dalam 100 ml aquades. Lingkungan dengan
kelembaban 75% adalah lingkungan yang telah mencapai keadaan setimbang
(Mustafidah., dkk, 2015). Setelah larutan NaCl dibuat, kemudian silica gel yang
ada di dalam cawan petri di masukan ke dalam stoples. Lalu larutan NaCl 20%
dimasukan pula ke dalam stoples. Agar cawan petri tidak basah terkena larutan
NaCl 201%, maka cawan petri disangga dengan penutup cawan petri yang tidak
terpakai. Kemudian diamati perubahan yang terjadi pada berat silika gel dengan
melihat kenaikan berat silikia gel yang diamati setiap satu jam sekali selama 7
jam. Setelah diamati kemudian hasilnya dibuat slope yang akan digunakan untuk
menghitung laju transmisi uap air dan permeabilitas uap air pada kemasan.

Pada praktikum acara Pengujian Laju Transmisi Uap Air Dan


Permeabilitas Kemasan Terhadap Uap Air ini, dilakukan pengujian terhadap laju
transmisi uap air (WVTR) dan permeabilitas terhadap uap air (WVP) dari lima
sampel kemasan yaitu aluminium foil; kertas roti (ketebalan 0,01 mm); PP 0,05;
PP 0,03 mm; dan PE 0,05 mm. Adapun hasil slope kenaikan berat cawan yang
didapatkan berturut-turut dari jam kesatu hingga ketujuh sebagai berikut: Kertas
roti: 57,5223; 57,7405; 57,2716; 57,9932; 58,0820; 58,1715; 58,2512; 58,3512.
Aluminium foil: 58,5015; 58,5095; 58,6415; 58,6341; 58,6328; 58,6528; 58,6588;
58,6710. PP 0,05: 56,9255; 56,9343; 57,0886; 57,0950; 57,1014; 57,1168;
57,1419; 57,1398. PP 0,03: 45,0917; 45,0975; 45,1004; 45,1012; 45,1264;
45,1364; 45,1404; 45,1389. PE 0,03: 50,2700; 50,2789; 50,2821; 50,2888;
50,2928; 50,2922; 50,2961; 50,2993. Yang kemudian dibuat persamaan linear dan
didapat slope lalu ditentukan WVTR, dimana dari nilai WVTR tersebut dapat
dihitung nilai WVP.

Jika diurutkan sesuai dengan hasil dari praktikum, yang memiliki


permeabilitas uap air dari yang paling tinggi hingga paling rendah yaitu Kertas
Roti > PP (0,05 cm) > PP (0,03 mm) > PE (0,03 mm). Setiap plastik mempunyai
permeabilitas yang berbeda-beda tergantung sifat plastik itu sendiri .
Permeabilitas uap air dihitung melalui laju transmisi uap air atau water
vapour transmission rate (WVTR). Nilai permeabilitas suatu jenis film perlu
diketahui karena dapat dipergunakan untuk memperkirakan daya simpan produk
yang dikemas didalamnya. Nilai permeabilitas juga dapat digunakan untuk
menentukan produk atau bahan apa yang sesuai untuk kemasan tersebut. WVTR
merupakan slope dari plot jumlah uap air yang hilang tiap waktu dibagi oleh luas
film (Yuliasih, 2014). Penggunaan plastik sebagai bahan pengemas mempunyai
keunggulan dibanding bahan pengemas lain karena sifatnya yang ringan,
transparan, kuat, termoplastis dan selektif dalam permeabilitasnya terhadap uap
air, O2, CO2. Sifat permeabilitas plastik terhadap uap air dan udara menyebabkan
plastik mampu berperan memodifikasi ruang kemas selama penyimpanan, plastik
juga merupakan jenis kemasan yang dapat menarik selera konsumen.

Menurut Suhelmi (2007) HDPE terbuat dari kromium/silica dan memiliki


ikatan antar molekul yang lebih kuat sehingga sangat cocok untuk mengemas
produk yang mudah terkena gesekan dan tekanan. HDPE digunakan untuk
mengemas susu kotak karena dapat dibentuk menjadi botol kaku, aneka produk
olahan, sayuran, buah-buahan, mentega dan margarine. Polipropilen sangat mirip
dengan polietilen dan sifat-sifat penggunaannya juga serupa. Polipropilen lebih
kuat dan ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik
terhadap lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap. Jadi, plastik
yang memiliki WVTR rendah adalah plastik yang mampu menahan uap air lebih
baik dibandingkan dengan plastik yang memiliki WVTR yang tinggi, sehingga
plastik yang memiliki WVTR yang rendah cocok dan tepat untuk menyimpan
produk pangan yang tidak tahan uap air (mudah mlempem).
Pada perbandingan plastik PP dan PE, pengemas PP memiliki
permeabilitas lebih besar daripada PE. Hal ini tidak sesuai dengan literatur.
Menurut Mareta (2011) PP merupakan singkatan dari Poly Propylene, fungsinya
dalam dunia kemasan sering dipakai untuk pelapis bahan kemasan lainnya,
sebagai seal layer, maupun sebagai kemasan yang berdiri sendiri. Sedangkan PE
merupakan singkatan dari Poly Ethylene, fungsinya dalam dunia kemasan terkenal
sebagai seal layer-lapisan perekat. Dari beberapa jenis plastik di atas yang relatif
lebih aman digunakan untuk makanan/bahan pangan adalah Polyethylene yang
tampak bening dan Polypropylene yang lebih lembut dan agak tebal dan rapat.
Plastik jenis PP lebih sukar dilewati gas ataupun uap air daripada jenis PE karena
sifatnya yang lebih keras dengan titik lunak yang lebih tinggi. Menurut Anandito
(2010) Secara umum plastik Polipropilen memiliki permeabilitas yang paling
rendah dibanding plastik polietilen. Hal ini menunjukkan bahwa plastik
polipropilen memiliki daya proteksi terhadap uap air yang lebih baik
dibandingkan plastik polietilen, sehingga penurunan kadar airnya lebih lama.
Sementara itu, kemasan metalized merupakan kemasan perpaduan antara dua
bahan pengemasan yaitu alumunium foil dan plastik. Alumunium foil merupakan
bahan pengemasan yang berjenis logam sehingga kemasan metalized sangat tahan
terhadap uap air.

Hasil pengamatan yang didapatkan adalah terjadi kenaikan dan penurunan


dengan alasan bahwa kenaikan berat disebabkan oleh udara atau gas yang masuk
menembus kedalam gelas melalui kemasan yang disebut juga permeabilitas
sebaliknya penurunan terjadi karena udara dari dalam gelas keluar menembus
plastik uji melalui kemasan.

Berdasarkan teori Wulandari (2013) plastik kemasan yang tipis memiliki


permeabilitas uap air yang lebih besar, sehingga laju transmisi uap air yang masuk
ke dalam kemasan semakin besar. Hasil permeabilitas pada praktikum tidak
sesuai, dengan ketebalan plastik tidak menunjukan pengaruh yang signifikan
terhadap nilai permeabilitas, hal mungkin ini terjadi karena adanya human error
yang terjadi seperti saat meletakan silika gel dengan wadah yang terbuka ataupun
saat pengamatan, wadah stoples tidak ditutup dengan baik sehingga terjadi
kesalahan. Kesalahan dapat terlihat saat data telah didapatkan, beberapa jenis
kemasan memiliki data yang fluktuiatif sehingga menyebabkan hasil yang kurang
tepat. Menurut Mareta (2011) faktor-faktor yang mempengaruhi permeabilitas
uap air bahan kemasan antara lain: ketebalan, luas area permukaan dan jenis
bahan kemasan, khususnya dalam hal densitas.
V. PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Slope digunakan untuk menghitung laju transmisi uap air bergantung pada
kenaikan berat silika gel
2. Laju transmisi uap merupakan faktor penting dalam menentukan
permeabilits transmisi uap air
3. Setiap kemasan memiliki sifat dan karakteristiknya masing. Hal yang
mempengaruhi laju transmisi uap air dan permeabilitas uap air adlah
densitas pada kemasan. Semakin tebal film pengemas maka semakin kecil
permeabilitas uap air pada kemasan

B. Saran
Pengondisian para praktikan harus lebih baik lagi agar praktikum dapat
berjalan lebih baik dan lebih lancar. Kemudian pemberian instruksi lebih jelas lagi
sehingga tidak terjadi kesalahan saat praktikum. Secara keseluruhan praktikum ini
sudah baik.

DAFTAR PUSTAKA

Anandito, R. Baskara Katri, Basito, dan Hatmiyarni Tri Handayani. 2010.


Kinetika Penurunan Kadar Vanilin Selama Penyimpanan Polong Panili Kering
pada Berbagai Kemasan Plastik. AGROINTEK, Vol. 4, No. 2: 146-147.
Fiardy, A. 2013. Penentuan Umur Simpan Keripik Ubi Jalar Dan Keripik
Talas Dalam Kemasan Plastik Dan Aluminium Foil. (Skripsi). Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Herudiyanto,M.S. 2008. Teknologi Pengemasan Pangan. Widya
Padjajaran, UNPAD, Bandung.
Mareta, Dea Tio dan Shofia Nur A. 2011. Pengemasan Produk Sayuran
dengan Bahan Kemas Plastik Pada Penyimpanan Suhu Ruang Dan Suhu Dingin.
Jurnal Ilmu Ilmu Pertanian Vol. 7, No 1: 26 - 40 .
Mustadifah, Chilyatul, Simon Bambang W. 2015. Shelf Life of Dietary
Fiber Powder Drink from Porang Flour (Amorphophallus oncophyllus) with
Carrageenan throughout the Critical Moisture Sorption. Jurnal Agroindustri. Vol.
3 No 2 p.650-660.

Putro, J.S. 2012. Optimasi Proses Penggorengan Hampa dan Penyimpanan


Keripik Ikan Pepetek (Leiognathus Sp) [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian
Bogor.

Setiasih, I., Heri R.M. 2006. Buku Ajar penuntun Praktikum Prinsip
Keteknikan Pengolahan Pangan. Bandung: UNPAD

Suhelmi. 2007. Pengaruh Kemasan Polypropylene Rigid Kedap Udara


Terhadap Perubahan Mutu Sayuran Segar Terolah Minimal Selama Penyimpanan.
Skripsi Fakultas Teknologi Pertanian. Institut Pertanian Bogor,
Bogor. http://repository.ipb.ac.id.

Sulastri, Siti dan Kristianingrum Susila. 2010. Berbagai Macam Senyawa


Silika: Sintesis, Karakteristik, dan Pemanfaatan. Prosiding Seminar Nasional
Penelitian, Pendidikan, dan Penerapan MIPA. Yogyakarta.

Winarno, F.G. 2008. Kimia Pangan dan Gizi: Edisi Terbaru. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama.

Wulandari, Astrid., Sri Waluyo, dan Dwi Dian Novita. 2013. Prediksi Umur
Simpan Kerupuk Kemplang Dalam Kemasan Plastik Polipropilen Beberapa
Ketebalan. Jurnal Teknik Pertanian Lampung Vol. 2, No. 2: 105 114.

Yanti, Hafri, dkk. 2008. Kualitas Daging Sapi dengan Kemasan Plastik PE
(Polyethylen) dan Plastik PP (Polypropylen) di Pasar Arengka Kota Pekanbaru.
Jurnal Peternakan. Vol 5. No 1. Hal 23.
Yuliasih, Indah, Biantri Raynasari. 2014. Pengaruh Suhu Penyimpanan
Terhadap Sifat Fisik Mekanik Kemasan Plastik Ritel. Prosiding Seminar Nasional
Kulit, Karet, dan Plastik ke-3. Hal 375

LAMPIRAN