Anda di halaman 1dari 138

TEKNOLOGI

BAHAN II

1
BAB I
TEKNOLOGI ADUKAN/MORTAR
1.1 Pendahuluan
Pengertian :
Adukan untuk pasangan bata dan plesteran tersusun dari bahan perekat,
agregat halus dan air sehingga merupakan campuran yang memiliki kelecakan
(konsistensi yang enak untuk dikerjakan/ workable).
Adukan untuk pengisi (grouting) mempunyai workability sangat tinggi
sehingga adukan tersebut dapat mengalir dengan mudah.

Bahan Adukan
a. Perekat
Umumnya perekat mineral, seperti :
Semen Portland
Kapur
Kapur dan Pozolan
Semen Portland dan Pozolan
Semen Portland dan Kapur
b. Agregat halus
Pasir alam, seperti pasir alami dan pecahan batu
Agregat halus buatan
c. Bahan pengisi
Tepung batu
Bahan Pozolan
d. Air
1.2 Persyaratan bahan

2
1.2.1 Agregat
Karena ketebalan adukan dibatasi 5 15 mm, besar butir agregat
maksimum dibatasi 1/5 tebal adukan.
Susunan butir pasir untuk adukan, antara lain menurut ASTM sebagai
berikut:

Lubang ayakan,mm Standar ASTM Susunan butir ideal


4,8 100 100
2,4 95-100 97
1,2 60-100 84
0,6 35-70 50
0,3 15-35 27
0,15 0-15 6

Susunan besar butir yang ditetapkan dengan angka kehalusan


(FinenessModulus) berkisar antara 2,2-2,6 yang ideal dengan maksimum
2,8. Besar butir ideal 2,4 mm.
Untuk mendapatkan workability yang baik, sebaiknya : antara ayakan 0,6-
0,3 mm kurang lebih 15 % dan antara ayakan 0,15-0,075 maksimum 10 %.
Agregat harus keras antara lain mengandung silika dalam jumlah besar.
Agregat harus bersih jika mengandung butiran halus (< 0,075mm) dibatasi
maksimum 5%, karena jika terlalu banyak maka penyusutan menjadi besar
; bersih dari zat organik agar tidak mengganggu rekatan dengan bahan
perekat.
Butiran halus (< 0,3 mm) sebaiknya lebih besar dari 20 % sedangkan
butiran kasar harus sedikit.
1.2.2 Perekat
Harus sesuai dengan :

3
Jenis bahan / komponen bahan bangunan yang direkatkan
Kekuatan yang harus dicapai
Iklim dan cuaca dimana bangunan ditempatkan.
Penampakan yang diinginkan
Persyaratan mutu sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan
Jenis-jenis perekat mineral yang digunakan untuk adukan antara lain :
Semen Portland, semen Portland Pozolan, semen Pozolan kapur, semen
adukan/masonry cement,kapur padam
1.2.3 Air
Persyaratan umum air harus bersih dan dapat diminum. Apabila tidak
memungkinkan, dapat dipakai air yang tidak menurunkan kekuatan
adukan. > 10% dari adukan yang dibuat dengan air bersih.
1.2.4 Bahan tambah
Serbuk halus
Untuk membuat adukan lebih lecak/plastis (berfungsi sebagai plastimen.
Bahan dati gilingan batu ataupun yang lain [tras, semen merah] yang tidak
memberikan dampak negatif [retak akibat susut muai tinggi]), bersih dan
kekal.
Admixture
Sebaiknya pemakaian admixture dipertimbangkan dengan baik karena
sifat mortar tidak seperti halnya beton dalam kebutuhan terhadap
admixture.

1.3 Jenis adukan


Jenis adukan dapat digolongkan menurut :
1.3.1 Menurut perekatnya :
PC , pasir , air

4
Kapur, pasir, air
PC, kapur, pasir, air
Kapur, tras, pasir, air
1.3.2 Menurut sifatnya
Aduk rapat air (trasraam) : tidak menyerap air, mencegah rembesan air
masuk ke tembok
Aduk biasa : tanpa penekanan sifat tertentu
Kedua macam adukan diatas dapat berupa
Aduk pasangan untuk merekatkan bata atau batako
Aduk plesteran untuk menutup permukaan atau meratakan permukaan
tembok
Dalam pembuatan dinding tembok bata tergantung antara lain dari :
Sifat dari adukannya
Sifat bata yang dipakai
Cara kerja dalam pemasangan bata
Adukan untuk pasangan harus memiliki sifat
Cukup plastis sehingga mudah dikerjakan
Menghasilkan rekatan yang baik antara aduk dengan pasangannya
Menghasilkan rekatan yang baik antara bata dengan bata
Dapat mengisi celah-celah antara bata dengan rapat dan merata, mencegah
masuknya air dan memberikan kekuatan yang merata.
Susunan campuran (komposisi) antara aduk pasangan dan plesteran dapat
dibuat sama ataupun berbeda, tergantung dari sifat bahan dan tujuan pemakaian
tembok tersebut

1.4 Perbandingan campuran

5
Sebaiknya dalam perbandingan berat, karena perbandingan dan jumlah
bahan dapat dijaga tetap sehingga mutu adukan seragam.Namun perbandingan
volume masih banyak dijumpai, karena lebih mudah, volume pekerjaan relatif
kecil dan bukan pekerjaan struktural.
Dalam buku analisa BOW, pedoman angka bahan adukan sebagai berikut:
Jenis bahan Kadar padat tiap bagian Kebutuhan air untuk tiap
bahan bagian
Kapur padam 0,325 bagian volume 0,225 bagian volume
PC 0,51 bagian volume 0,25 bagian volume
Tras alam 0,48 bagian volume 0,25 bagian volume
Semen merah 0,57 bagian volume 0,175 bagian volume
Pasir biasa 0,58 bagian volume 0,175 bagian volume

Berpedoman angka diatas, misalnya adukan dengan 1 PC : 3 pasir, didapat:


1 x 0,51 + 1 x 0,25 + 3 x (0,58 + 0,875) = 3,025 bagian volume adukan
Angka tersebut dapat berubah-ubah, bila:
Cara pengisian tidak seragam
Kadar air bahan berubah
Kehalusan bahan berubah
Bahan yang halus dan kering beratnya tiap bagian volume lebih kecil dari
bahan yang kasar.Perbandingan campuran bahan dapat juga dilakukan sesuai
tujuan penggunaannya.
Susunan campuran adukan harus memenuhi sebagian atau seluruh kriteria
dibawah ini.
Kekuatan, disesuaikan dengan:
a. Jenis komponen bangunan yang akan direkatkan.
b. Daya rekat yang dibutuhkan.
c. Kekuatan konstruksi yang dibuat.
Workability, disesuaikan dengan:

6
a. Jenis komponen bangunan
b. Cara pengerjaan
c. Besar/kecilnya pengerjaan
c. Suhu, tingkat penguapan
Penggunaan, disesuaikan dengan:
Untuk apa adukan tersebut dibuat, seperti: pasangan, plesteran, adukan
kedap air, dan sebagainya.

1.5 Sifat adukan segar


Sifat penting untuk menghasilkan pasangan bata yang baik antara lain:
lecak, enak dikerjakan, plastis, dapat menahan air, memiliki kekuatan rekatan
yang cukup baik, stabil/tidak banyak berubah volumenya, tahan lama dan
memberikan penampilan yang baik.
Apabila syarat-syarat bahan dan cara pengerjaannya dipenuhi, biasanya
hasilnya akan memuaskan.Namun, sifat konstruksi yang dibuat, pertimbangan
biaya dan sebagainya, tidak semua sifat tersebut harus dipenuhi untuk
mendapatkan hasil yang ekonomis. Beberapa sifat adukan segar perlu diketahui
sebagai berikut :
a. Kelecakan/ konsistensi
Kelecakan tergantung dari jumlah air pencampur. Jumlah air yang tepat
dinyatakan sebagai konsistensi normal diukur dengan alat tertentu, dimana mortar
memiliki derajat kecairan tertentu.. Sifat lecak berhubungan dengan kemudahan/
enak untuk dikerjakan. Kelecakan yang diukur dengan meja alir (flow table)dari
ASTM dilakukan sebagai berikut : Buat adukan dengan perbandingan sesuai
kebutuhan. Tambahkan air pencampur secara coba-coba berkisar 50% dari berat
semen. Campuran diaduk menggunakan mesin pengaduk sesuai dengan
prosedur.Adukan dicetak diatas meja alir, kemudian tuas pada meja alir diputar
sehingga meja alir terangkat dan terbanting selama 15 detik sebanyak 25 ketukan.

7
Pelebaran adukan diukur dengan jangka sorong khusus pada tempat yang telah
ditentukan. Konsistensi normal adalah rata-rata dari empat kali pengukuran,
dinyatakan dalam persen. Menurut ASTM, adukan dinyatakan mempunyai
konsistensi normal jika pelebarannya 110 5 %.

b. Keplastisan dan kemudahan dikerjakan (plasticity & workability)


Kemudahan dikerjakan diartikan sebagai mudah untuk diaduk dengan
sendok tukang batu, dipasang diantara bata, tanpa banyak bahan yang jatuh/ lepas.
Sifat ini banyak dipengaruhi oleh kelecakan, daya menahan air, dan plastisitas
yang dipengaruhi juga oleh sifat bahan perekat dan kehalusan agregat.
Mortar yang mudah dikerjakan, biasanya juga bersifat plastis. Sifat ini
sukar diukur secara kuantitatif. Apabila plesteran tembok tidak enak untuk
dikerjakan, tidak lecak dan tidak plastis, maka plesteran akan mudah lepas dari
bidang plesterannya.

8
c. Sifat dapat menahan air(Water Retentivity)
Sifat dapat menahan air (Water Retentivity) berarti setelah adukan
ditambah air, ia mampu untuk menahan air tersebut selama beberapa saat untuk
memberikan kesempatan bagi adukan mengeras tanpa terlepas. Sifat ini
dipengaruhi oleh jumlah butiran halus, serta pembentukan gel dari bahan perekat.
Air yang dicampur ke adukan akan melekat pada butir-butir agregat dan
perekat sebanding dengan jumlah permukaannya. Hal ini dipengaruhi juga oleh
daya kohesi dan adhesinya terhadap air.
Butiran semen atau kapur padam jika terkena air akan membentuk gel
yang bersifat tixotropik, yang akan menahan air bila tidak ada gaya dari luar,
jumlah air tidak berlebihan, dan tidak tejadi perubahan kimia pada gel tersebut.
Air yang diserap akan membentuk massa yang keras. Setelah itu sifat tixotropik
hilang dan adukan mengeras. Pada kapur padam sifat tixotropik lebih lama karena
reaksi kapur dengan udara atau dengan agregat lebih lama. Bila dalam adukan
mengandung partikel halus seperti lumpur atau tanah maka sebagian partikel
membentuk koloid yang menahan air juga dan air yang diserap tersebut akan
terlepas bila udara sekelilingnya kering.
Partikel agregat yang kasar, menyerap air lebih sedikit karena luas
permukaan kecil serta daya kohesi dengan air relatif kecil terutama jika
butirannya padat dan keras sehingga cenderung untuk lebih mudah terjadi
bleeding.
Sifat dapat menahan air ini diuji di laboratorium dengan mengukur
perbedaan kelecakan adukan sebelum dan sesudah diisap airnya. Misalnya
sebelum diisap flownya 100 dan sesudah diisap dengan besarnya isapan 5cmHg =
85 maka nilai retentivitasnya = 85 x 100% = 85%
100
Makin kecil nilai retentivitas adukan kurang baik karena mudah untuk
bleeding. ASTM C 270 mensyaratkan nilai retentivitas minimum 70%. Nilai

9
retentivitas adukan harus sebanding dengan besarnya daya serap air bata agar daya
lekat dan proses pengerasan adukan berjalan sempurna.
Untuk mencapai workability yang baik, yaitu dapat dikerjakan dengan
baik, diratakan (difinishing) dengan baik dan mempunyai retentivitas yang sesuai,
dapat dicapai dengan :
Modifikasi bahan perekat
Penambahan bahan reaktif atau bahan pengisi
Retentivitas dibuat lebih baik sehingga adukan dapat dipertahankan lebih
lama
Modifikasi agregat halus dan pengisi.
Adukan juga harus mempunyai penyusutan serendah mungkin yang dapat
dicapai antara lain dengan modifikasi semen.
d. Daya serap air bata (suction rate)
Diartikan sebagai kemampuan permukaan bata untuk menyerap air pada
menit pertama bata tersebut bersentuhan dengan air. Untuk bata dengan ukuran
standar sebaiknya daya serap air lebih kecil dari 20 gr/dm2/menit.
Untuk memperoleh kekuatan ikatan yang baik harus diseimbangkan antara
daya serap air bata dan retentivitas adukan.

e. Daya rekat ( bond strength)


Merupakan sifat yang penting karena menentukan kekuatan pasangan
tembok. Daya rekat ditentukan oleh :
1. Jenis adukan
2. retentivitas adukan
3. daya serap air bata
Daya rekat yang kurang baik mempengaruhi ketahanan konstruksi tembok
terhadap gaya-gaya horisontal (angin, dll), serta ketahanan tembok terhadap
rembesan air.

10
Untuk mendapatkan daya rekat yang baik antara adukan dengan bata
perlu diperhatikan hal-hal berikut :
Daya serap air bata hendaknya antara 10-20 gr/dm2/menit
Untuk bata yang daya serapnya tinggi, agar direndam dulu dalam air
supaya tidak menyerap air dari adukannya, serta mencuci debu yang
melekat pada permukaan bata.
Bila tembok dibuat dari bata tras kapur, jangan direndam air cukup
dibasahi permukaannya sebelum dipasang.
Aduk yang terbuat dari campuran PC + kapur padam + pasir lebih baik
daya rekatnya karena aduk jenis ini memiliki kelecakan (keplastisan) dan
workability yang baik.
Aduk yang mengandung tras halus atau pasirnya banyak mengandung
lumpur, memiliki daya rekat lebih baik.
Adukan yang memiliki angka flow 100% berdaya rekat lebih baik dari
yang kering. Oleh karena itu jangan menggunakan adukan kering.
Ketebalan adukan sebaiknya 10 mm.
Untuk mendapat daya rekat yang baik, bidang tembok yang akan diplester
dikasarkan dulu dengan aduk cair PC + pasir, tunggu sampai mengeras,
basahi dulu baru diplester

1.6 Sifat adukan keras


a. Kekuatan adukan
Adukan harus mempunyai kekuatan, dinyatakan sebagai kuat tekan yang
sesuai dengan kebutuhan konstruksi. Hal ini dapat dipenuhi dengan :
Modifikasi perekat
Modifikasi agregat
Susunan campuran / jenis adukan

11
Kekuatan perlu bagi konstruksi tembok, karena dapat membantu menahan
gaya-gaya samping (horisontal ). Dari segi kekuatan, adukan digolongkan menjadi
1. Adukan dengan kekuatan sangat tinggi.
Untuk memikul beban langsung. Adukan berfungsi monolit dengan
bagian konstruksi yang bersangkutan
2. Adukan berkekuatan tinggi.
Untuk memikul beban konstruksi dan mempunyai ikatan cukup kuat
terhadap bagian konstruksi yang diberi adukan
3. Adukan berkekuatan sedang
Untuk penggunaan luar (eksterior) dimana adukan akan berhubungan
terus menerus dengan air, gas, cuaca panas/ dingin, lumut, dsb, serta
untuk interior
4. Adukan berkekuatan rendah.
Untuk konstruksi yang tidak memikul beban dan terlindung dari
pengaruh cuaca.
5. Adukan berkekuatan sangat rendah.
Untuk bagian konstruksi di dalam dan terlindung dari pengaruh cuaca.
Sifatnya hanya sebagai pengisi, misalnya partisi.
Kuat tekan adukan ditentukan dengan cara uji yang sama dengan uji kuat
tekan semen Portland.

12
Syarat kuat tekan adukan
ASTM C 270 membagi adukan dalam kekuatan (dalam perbandingan
volume) sebagai berikut
Tipe Adukan Komposisi Kuat Tekan
Psi, kg/cm2
Tipe M 1 PC : min 21/4 pasir 2500 psi 172 kg/cm2
1semen tembok: 1/4kp: min 21/4 pasir
1
Tipe S /2 PC : 1semen tembok:maks 3 pasir 1800 124
1PC : 1/4-1/2 kp : maks 3 pasir
Tipe N 1semen tembok : pasirsama dengan 750 52
volume semen &kapur
1 PC : 1/2-11/4 kapur : pasirsama
dengan volume semen &kapur
Tipe O 1 semen tembok : pasir tidak 350 24
dibatasi
1 PC : 11/4-21/2 kapur : pasir tidak
dibatasi
Tipe K 1 PC : 21/2 kapur : pasir tidak 75 5
dibatasi

Menurut spesifikasi Inggris dibagi dalam 5 kelas (dalam perbandingan volume)


sbb :

13
Mutu Kapur Semen Semen Semen Semen
adukan pasir kapur pasir pasir pasir&bahan tembok Kuat tekan
pembantu pasir N/mm2)

7hr 28hr
1 - 1 : 1/2 : 3 1:3 - - 7,0 11,0
2 - 1:1/2:41/2 - 1:4 1:3 3,5 5,5
3 - 1:1:(5-6) - 1:6 1:41/2 1,0 2,5
4 1:2 1:2:(8-9) - 1:(7-8) 1:6 0,7 1,0
5 1:3 1:3:(10:12) - 1:8 1:7 - -

Di Indonesia belum ada syarat kekuatan, tetapi untuk konstruksi tertentu,


dianjurkan untuk menggunakan jenis campuran seperti tercantum dalam Peraturan
Bangunan Nasional 1977, sbb (dalam perbandingan volume):

PC Tras Semen Kapur padam Pasir Tujuan Pemakaian


Merah
Aduk Perekat
- - 1 1 1 Pondasi konst.berat
- - 1 1 2
- - 1 1 3 rumah biasa
- - 2 3 4 sederhana
- 1 - 1 3 Dinding rumah
- 1 - 11/2 5 Pondasi rumah
- 2 - 1 5
sederhana
- 1 - 1 5
Dinding rumah
1 - - - 2
Trasraam dinding
1 - - - 4
Pondasi rumah

Plesteran
- - - 1 2
Dinding lama/ baru
- - 1 1 1
Dinding baru
1 - - - 2
Trasraam
1 - - - 3
Lantai
1 - - - 4
Anyamanbambu/kawat
1
Dekat laut
- 1 - - 4
Dinding
1 - 1 3

14
Selain itu pasangan untuk dinding bata tras kapur sekurang-kurangnya
harus sama dengan kekuatan batanya, seperti : 1kp : 5 tras atau 1/2 PC : 1kp :
7pasir.

b. Modulus elastisitas
Pada pekerjaan bata yang dibebani secara vertikal yang penting bukan
kekuatan tekan tetapi modulus elastisitas yang menentukan beban tekuk pada
tembok tersebut.

c. Modulus patah
Jika dinding tembok dibebani lentur murni oleh
gaya-gaya yang melintang dari sisi tembok, maka
modulus patah akan menentukan ketahanan tembok
terhadap gaya-gaya yang melintang.
Kekuatan tarik dan daya rekat penting untuk
menilai modulus patah tersebut. Modulus patah tinggi
dapat diperoleh dari bata yang memiliki daya serap
5-30 gr/dm2/menit dengan retentivitas adukan yang seimbang.

d. Kekekalan bentuk
Akibat basah dan kering , dingin dan panas,
adukan dapat berubah bentuk terutama memanjang
dan menyusut. Apabila pengembangan dan
penyusutan besar maka rekatan adukan akan
mudah lepas atau retak-retak. Adukan yang gemuk,
terlalu banyak butiran halus/ lumpur memiliki susut

15
muai besar dan mudah retak. Susut muai adukan harus
sesuai dengan batanya agar mempunyai kekekalan
bentuk yang baik.

1,7 Yang harus diperhatikan


Yang harus diperhatikan dalam pembuatan adukan, adalah :
1 Pencampuran merata
2 Kadar air jangan berlebihan
3 Gradasi dengan besar butir maksimum yang sesuai
4 Workability sesuai dengan teknik pemasangan
5 Perawatan secara sempurna.
1.8 Macam-macam produk bata
a. Terdiri dari :
1. Bata merah/ bata tanah liat dibakar :
Bata pejal
Masif atau kalau mempunyai lubang , tidak lebih dari 15%
Bata berlubang
Jumlah luas penampang lubang antara 15% - 35%
Bata berongga/ bata kerawang/ hollow brick
Jumlah luas penampang lubang antara 35% - 75%
2. Bata tidak dibakar :
Bata jenis ini dibuat pejal dan berongga, terdiri dari :
Bata tanah stabilisasi
Bata tras kapur/ Batako
Bata beton
b. Ukuran bata
1. Bata merah/ bata tanah liat dibakar :

16
Bata pejal - Bata M6 : 230 x 110 x 55mm
- Bata M5a: 190 x 90 x 65mm
- Bata M5b: 190 x190 x 65mm
Bata berlubang- panjang 200,220,240,300mm
- lebar 105,115 ( untuk panjang 200-240mm)
175 untuk panjang 300mm
- tebal 52, 71, 115 mm
2. Bata tidak dibakar :
Ukuran tebal - 400 x 200 x 200 mm
Ukuran tipis - 400 x 200 x 100 mm
Pada kenyataannya ukuran masing-masing direduksi 10mm. Untuk bata berlubang
tebal minimum dinding sel/ rongga bata 20mm untuk bata dengan ketebalan 100
mm dan 25 mm untuk untuk ketebalan 200mm.
c.Kuat tekan bata
1. Bata merah/ bata tanah liat dibakar :
Bata pejal
Terbagi 6 tingkat mutu : 25, 50, 100, 150, 200, dan 250 kg/cm2
Bata berlubang
Terbagi 5 tingkat mutu : 50, 100, 150, 200, dan 250 kg/cm2
2. Bata tidak dibakar
Tingkat mutu bata
Sifat fisis Bata beton pejal Bata beton berlubang
I II III IV I II III IV
Kuattekanbruto,min
. Rata2kg/cm2 100 70 40 25 70 50 35 20
Kuat tekan bruto
masing2 bendauji
2
min.kg/cm 90 65 35 21 65 35 21 17
Penyerapan air
rata2,maks% 25 35 - - 25 35 - -

17
Syarat bata tras I II III I II III
kapur
Pejal Berlubang

d. Ikatan pasangan bata


Untuk mendapatkan ikatan pasangan yang baik harus selalu diingat bahwa
siar sambungan vertikal tidak merupakan garis lurus. Untuk bata ukuran besar
(bata beton atau bata berlubang) pasanagn ikatan bata umumnya disebut ikatan
memanjang, dimana siar vertikal berada ditengah panjang bata (strescher bond).
Untuk bata ukuran kecil seperti umumnya bata merah ada ikatan memanjang dan
ada ikatan silang atau ikatan palang (cross bond) dimana siar vertikal satu sama
lain berselang keatas, dalam jarak 1/2 bata.
Untuk mendapatkan pasangan bata yang kuat, perlu diperhatikan hal sbb:
Usahakan agar jumlah sambungan sesedikit mungkin
Seandainya bata harus dipotong usahakan ukuran yang umum misalnya 1/2
bata

1.9 Sifat-sifat pasangan bata


Karena sifat fisis dari elemennya, perencanaan pembuatan besar
pengaruhnya terhadap sifat pasangan bata, maka sifat pengerjaan, sifat aduk
pasangan dan rencana konstruksi pasangan bata menjadi penting dan berkaitan
satu sama lain .
Beberapa sifat yang penting antara lain :
a. Kuat tekan dan kuat lentur
Kedua macam gaya ini menyatu menjadi gaya vertikal dan gaya
horizontal. Beban vertikal biasanya tidak melebihi 7 kg/cm2 maka adukpasangan
dengan kuat tekan antara 52,5 sampai 175 kg/cm 2 sudah mencukupi. Ketahanan
terhadap gaya yang bekerja tersebut dipengaruhi oleh elemen pembentuknya, cara

18
pengerjaan, sifat adukan, luas penampang pasangan, dan keteraturan ukuran bata
serta aduk siarnya. Sehubungan dengan itu beberapa hal perlu diperhatikan sbb:
Siar adukan 10mm dan tidak lebih dari 14mm. Untuk bata besar tidak
lebih dari 18mm.Untuk bata kapur tras/ batako kekuatan adukan harus
sama dengan komposisi pembuatan bata misalnya 1kp +(4-6) tras atau
1
/2PC +1kp + 3 pasir.
Dinding tidak memikul beban dapat memakai bata dengan kekuatan 25
kg/cm2. Tebal dinding min.1/2bata.Luas dinding interior tidak lebih
dari12m2 dan dinding eksterior tidak lebih dari 6 m 2. Jika lebih maka harus
diberi penguat (pilar/rangka beton)
Untuk dinding memikul beban dipakai bata dengan kekuatan 50 kg/cm2
keatas. Untuk bata merah sebaiknya ukuran M5b dan tebal dinding min. 1/2
bata. Untuk bata beton tebal min.15cm untuk bata pejal dan 20cm untuk
bata berlubang. Tinggi dinding tidak lebih dari 12m. Jika lebih maka tebal
dinding min.30cm, pada tiap jarak 2,5 m diberi penguat 20x30cm.
b. Pengaruh basah kering
Besarnya susut muai bata dipengaruhi oleh bahan pembuatnya. Bata yang
berpori dapat mengakibatkan naiknya air tanah ke tembok sehingga menjadi
lembab. Jika air tanah mengandung sulfat tembok akan cepat rusak. Unuk
mencegah hal tersebut dapat dibuat aduk rapat air
c. Susut muai
Susut muai bata berkisar 31-33x10-4 inci/ F.Sebagai perbandingan susut
muai beton sebesar 604 x 10-5 inci/ F (separuh dari bata). Walaupun sangat kecil
sebaiknya panjang dinding maksimum 30 m dan dilengkapi dengan siar
sambungan/ expansion joint.
d. Pengaruh suhu tinggi

19
Pasangan bata tanah liat lebih tahan terbakar daripada bata
beton.Walaupun demikian untuk pemakaian tahan api sebaiknya menggunakan
bata yang khusus untuk itu, seperti bata samot yang diaduk dengan semen tahan
api, karena perubahan panas dan dingin yang ekstrim akan menyebabkan bata
biasa mudah retak.
Bata dari semen kurang tahan suhu tinggi lebih dari 300C dan akan
hancur karena terhidrasi sepenuhnya pada suhu 900C. Dalam uji ketahanan
terhadap kebakaran pasangan dinding disembur api hingga suhu 600Cselama
waktu tertentu setelah itu disembur air. Kerusakan pada permukaan dinding, misal
pengelupasan, diamati. Derajat ketahanan kebakaran pengujian untuk bata tanah
liat sebenarnya lebih dari 10 jam walaupun yang dipakai 4 jam.
e. Kemampuan menyekat panas.
Sifat menyekat panas yang perlu diketahui ialah kemampuan dinding
untuk menahan panas pada bagian muka sedangkan pada bagian dalam
tidak atau kecil- dipengaruhi panas.Makin tinggi sifat menyekat panas
berarti makin tinggi kemampuan dinding menyimpan panas dan makin
rendah panas yang diserap.Pengukuran akan daya menahan panas ini
disebut Waktu tertahan (Time lag).Contoh : Bila bagian luar dinding suhu
tertinggi dicapai jam 13.00 dan bagian dalam jam 18.00 maka waktu
tertahan = jam 18.00 jam 13.00 = 5 jam.

1.10 Pekerjaan Plesteran


Plester bagian luar dari sebuah bangunan harus awet serta dapat menahan
rembesan air dari luar secara merata dan tahan terhadap serangan cuaca.Selain itu
harus memperlihatkan warna dan pola permukaan yang menarik.
Untuk menghasilkan plesteran yang awet dan bebas dari retak-retak
sebaiknya diperhatikan hal berikut :

20
Teknologi serta peralatan yang tepat.
Sifat dari bahan plesteran
Sifat dinding yang akan diplester
Pekerjaan plesteran harus direncanakan dengan memperhatikan antara lain :
1 Teknologi dan alat-alat yang digunakan dalam plesteran
Pekerjaan dilakukan dalam 3 tahap yaitu melemparkan aduk
ketembok dengan sendok aduk, meratakan dengan roskam dan
membersihkan dengan gerakan melingkar menggunakan bilah
penggaris.
2 Sifat bahan plesteran
Perhatikan pemakaian kapur yang belum terbakar sempurna
ataupun sudah terbakar lewat.
3 Lapisan plesteran
Jumlah lapisan ideal dua lapis dengan ketebalan10-15mm tiap
lapisnya
4 Daya isap permukaan yang diplester
Keseragaman daya isap harus dicapai oleh tembok dengan
membasahi bata sebelum dipasang, danmembasahi permukaan
yang akan diplester.

1.11 Kerusakan pada plesteran


Yang sering dijumpai adalah :
Retak-retak serta ikatan yang lemah
Retak-retak akibat diskontinuitas
Melepuh atau menggembung
Permukaan yang tidak rata dan tidak teratur

21
Berlubang-lubang
Permukaan yang berlubang-lubang menjadi basah
Lunak dan banyak mengandung butiran kapur
Alur atau lekuk memanjang dalam plesteran
Kerusakan pada bagian luar akibat pengaruh cuaca

1.12 Bahan baku bahan bangunan dari semen/beton


Yang dimaksud adalah bahan bangunan yang dibuat menggunakan perekat
hidrolis baik dicetak dipabrik (pracetak) maupun ditempat(insitu). Ditinjau dari
berat volumenya, bahan bangunan semen/ beton dibagi menjadi 2 kelompok
besar:
Bahan bangunan beton berat: berat volume > 1.200 kg/m3
Bahan bangunan beton ringan: berat volume < 1.200 kg/m3
Bahan bakunya menggunakan bahan dasar adukan, sebagai berikut
1. Bahan perekat, terdiri dari gips, kapur padam, semen Portland, semen
alumina, dll
2. Agregat, terdiri dari
Agregat anorganik alam, seperti tanah, tanah yang bersifat
tras/pozolan, pasir dan batu alam, batu apung, serat asbes, dll
Agregat anorganik buatan, seperti terak tanur tinggi, artificial light
weight aggregate (ALWA), serta fly ash dan sisa bakaran batu bara,
dsb.
Agregat organik, seperti pulp, limbah kayu, limbah industri ,misalnya
serat majun dari limbah industri tekstil, limbah pertanian, serat sisal,
jute dari industri karung goni, serat ijuk sabut kelapa, sekam padi, dsb.
3. Bahan pengisi
4. Air
5. Bahan tambah

22
Untuk keperluan khusus dapat menggunakan bahan tambah untuk
beton. Yang banyak digunakan jenis tanah dan pigmen. Pigmen
sebaiknya oksida logam. Untuk bahan bangunan yang berpori kecil
misalnya beton gas/ beton busa bahan tambah yang dipakai
pembentuk busa, misal serbuk alumunium atau hydrolyzed albumin
yang dicampur dengan agregat, air dan perekat lalu diaduk kemudian
dicetak.Tanah yang bersifat pozolan dapat dijadikan agregat atau
bahan tambah.

1.13 Proses pembuatan

A. Unsur bangunan berbentuk bata/ blok

1. Bata tanah stabilisasi

Bahan utama :

Tanah yang distabilisasi dengan PC atau kapur. Tanah yang baik


mengandung lempung 10%-35% sisanya tanah mengandung pasir.

Pembuatan

Tanah dikeringkan lalu diayak dengan ayakan < 5mm


Dicampur dengan PC/ kapur lalu diaduk kering
Tambahkan air sampai mencapai moisture densitymaksimum lalu
dipadatkan dan dicetak
Disusun ditempat terlindung, jaga agar tetap lembab.
Dipasarkan.
Contoh komposisi campuran (dalam perbandingan berat)

Tanah : kapur = 3 : 1
Tanah : pasir : kapur = 1 : 2: 1/2

23
Tanah : pasir :kerikil : kapur = 3 : 2 : 1 : 1
Tanah : PC = 10 : 1
Tanah : pasir : PC = 8 : 2 : 1
Tanah : pasir :kerikil : PC = 9 : 3 : 6 : (2atau1)
Pemakaian

Karena kurang tahan air apabila dipakai ditempat yang berair atu kaki
tembok dilindungi dengan aduk rapat air/trasraam.

2. Bata tras kapur/ batako

Sejenis dengan bata tanah stabilisasi hanya tanahnya bersifat pozolan. Agar
hasilnya baik, kehalusan tras alam sebagai berikut :

a. Untuk bata pejal :

Butir halus < 0,3 mm 30 60 %, harus bersifat aktif


Besar butir maksimal = 1/4 tebal bata atau maksimal 10 mm.
b. Untuk bata berlubang :

Butir halus < 0,3 mm 30 60 %


Besar butir maksimal 2/3 tebal dinding tertipis bata, atau minimal tebal
dinding 25 mm.

Komposisi :

Komposisi yang baik 1 kp : 4 6 tras alam = kuat tekan + 70 kg/cm2

Adukan lebih kurus 1 kp : 8 tras alam = kuat tekan 15 25 kg/cm2

Sama seperti bata tanah stabilisasi dicetak dengan alat sederhana pres
ungkit Cinva Ram, dan dirawat di tempat teduh dan dijaga agar tetap lembab.

24
Sifatnya tidak rapat air, penyerapan tinggi, susut muai besar sehingga
harus dipakai di tempat dimana perubahan basah kering tidak terlalu basah.
Apabila trasnya baik, tahan air kotor, kekuatan akan meningkat jika
ditempatkan di tempat yang basah, tetapi perlu dilindungi dengan aduk rapat
air atau trasraam.

3. Bata Beton / Conblock

Bahan :

PC, agregat anorganik mineral (pasir dan kerikil) serta air

Syarat agregat sama dengan syarat untuk beton biasa, hanya besar butir dan
gradasinya tersendiri sebagai berikut :

Butir maksimal 10 mm untuk bata pejal dan 2/3 tebal dinding tertipis untuk
bata berlubang
FM 3,45 3,70 maksimal 4,25
Susunan butir, antara lain sebagai berikut :
Agregat alam Agregat
buatan
Tertahan di 12,5 mm Nihil Nihil
10 05% 05%
4,8 20 30 % 16 28 %
2,4 10 23 % 21 29 %
1,2 10 20 % 16 24 %
0,6 10 20 % 11 19 %
0,3 10 20 % 6 14 %
0,15 5 15 % 39%
Lolos 0,15 1,5 10 % 39%
Faktor air semen berkisar 0,4 0,5. Jika dicetak dengan getaran maka fas
dengan agregat padat 0,33 0,35. Agregat ringan 0,35 0,38.

25
Perbandingan campuran :

Agregat alam :
Ps dan kerikil alam = 1 PC : 8 12 agregat

Pecahan batu kapur = 1 PC : 7 12 agregat

Pecahan terak tanur tinggi = 1 PC : 8 12 agregat

Agregat ringan :
Sisa bakaran bata / cinder = 1 PC : 6 8 agregat

Lempung belah = 1 PC : 6 9 agregat

Batu apung / pumice = 1 PC : 4 6 agregat

Expanded slag = 1 PC : 5 7 agregat

Untuk bata lantai / paving block = 1 PC : 4 6 agregat / pasir


Pencampuran :

Sama dengan untuk beton, atau pengaduk berputar / rotary blade mixer.

Untuk agregat padat : Agregat dan semen diaduk kering, baru ditambah
seluruh air pengaduk.
Untuk agregat ringan : Agregat dulu, tambah 2/3 air, aduk, tambah air
semua.
Pencetakan :

Sebaiknya digetar dengan frekuensi 1500 rpm selama 30 detik.

Perawatan :

Dalam cetakan 1 hari, setelah itu 21 hari atau 7 hari dengan tekanan uap
rendah, atau 12 jam dengan tekanan 8 atm.

Pemakaian :

26
Untuk dinding, balok, elemen prategang, lantai (paving block).

4. Bata kapur pasir

Tidak dibuat di Indonesia.

Bahan :

Kapur padam/tohor 4%-10%, pasir dengan silika 85%, min.85%, air


sampai adukan lembab dan pewarna maksimum 2 %.

Pembuatan

Kapur dan pasir digiling halus dalam ballmill 0,1mm


Ditambah sedikit air, diaduk
Dicetak dengan alat pres yang bertekanan 500-600 kg/cm2
Setelah dicetak, dikeraskan dengan auto clave bertekanan tinggi (10 17
atm) selama 8 12 jam.
Autoclave didinginkan, bata langsung dapat dipakai dengan kuat tekan 380
350 kg/cm2 dan berat jenis > 1800 kg/m3.
5. Beton Gas (Celcon / Hebel)

Disebut juga beton busa / foamed concrete atau beton cell (cellular concrete)
adalah beton yang mengandung gelembung-gelembung udara halus yang
tersebar merata.

Bahan :

Kapur padam, pasir silika halus dan bubuk atau tepung alumunium 100
gr atau 300 gr untuk setiap M3 beton dengan berat isi 0,32 atau 0,96 kg/dm3

Pembuatan :

Kapur padam dan pasir silika dicampur.


Tambahkan tepung alumunium dalam keadaan kering.

27
Tambahkan air sampai menjadi bubur agak cair.
Masukkan ke cetakan baja 1/2 1/3 volume cetakan.
Adonan akan mengembang karena reaksi kapur dan alumunium menjadi
H2. Kemudian tunggu sampai cetakan penuh.
Masukkan ke dalam autoclave + 1700C dengan tekanan 8 14 atm selama
8 12 jam.
Setelah dingin, blok beton busa dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan.
Bahan dapat diganti kapur dengan PC dan pasir dicampur dengan fly ash.

Sifat :

Ringan, susut muai kecil


Kuat tekan 70 100 kg/cm3
Daya serap air kecil, meskipun berpori, karena seolah disekat oleh busa
Mempunyai daya isolasi suara dan panas yang baik karena adanya pori-
pori
Mudah digergaji dan dipaku
B. Unsur Bangunan Berbentuk Kepingan / Ubin

1. Ubin Semen dan Ubin Teraso

Yang membedakan adalah lapisan kepala, dimana ubin ini dibuat tiga lapis :
lapisan kaki, lapisan badan dan lapisan kepala.

Bahan :

Semen Portland biasa (tipe I), bila lapisan kepala akan diberi warna,
dipakai semen putih.
Pewarna / pigmen oksida logam.
Agregat :

28
Untuk lapisan kaki : Pasir harus baik, besar butir maksimal 1/5 tebal
lapisan. Untuk ubin semen dengan tebal 20 mm dan tebal lapisan kaki 15
mm, besar butir maksimal 3 mm. Untuk ubin teraso, tebal lapisan kaki 2/3
tebal ubin dan butir maksimal juga 1/5 tebal lapisan.
Untuk lapisan badan antara : Pasir halus yang digiling bersama-sama
semen 1 PC: 4 pasir halus.
Untuk lapisan kepala ubin teraso, agregat dari batu pecah 3, 5, 10 mm atau
pecahan kulit siput laut yang tebal diayak 10 20 mm (disebut juga
teralux).
Pembuatan :

a. Pencampuran bahan :
Lapisan kaki : 1 PC : 4 6 pasir dengan air sedikit.
Lapisan antara : 1 PC : 2 4 pasir digiling sampai 80 mesh dengan tebal 3
5 mm, untuk menambah kuat lentur ubin.
Lapisan kepala :
- Ubin semen biasa : Bubur semen cair, semen yang diberi air sampai
lembab.
- Ubin teraso dengan agregat banyak : 1 PC : 6 8 bubuk teraso
dengan kelecakan seperti beton.
b. Pencetakan :
Pada alas ditaburkan lapisan kepala, antara, dan terakhir lapisan kaki

Di pres dengan tekanan 40-60 disimpan untuk manual dan 100-200 kg/cm 2
jika menggunakan mesin
Dikeluarkan dari cetakan, taruh ditempat lembab selama 24 jam
c. Perawatan :
cara sederhana dengan rendaman 3-7 hari kemudian disimpan
di tempat lembab2-3 minggu

29
cara dipercepat dengan diberi uap dan tekanan rendah selama 12 jam
Di poles supaya rata.Untuk ubin teraso, pemolesan setelah dipasang
minimal 3 hari
Sifat-sifat:

Kuat lentur min.25 kg/cm2 (kelas III); 30 kg/cm2 (kelasII), 35 kg/cm2


(kelasI).
Ketahanan aus , 0,16mm/menit diuji dengan menggosok permukaannya
dengan pasir kuarsa halus yang dibebani dengan beban 31/3 kg dengan
kecepatan 49m/menit
Tidak tahan asam dan senyawa sulfat
2. Kepingan penutup kabel

Sebagai pelindung kabel bawah tanah (telepon?listrik agar tidak


terkena alat penggali. Ukurannya20 x 30 cm dengan komposisi 1PC : 4-6
pasir. Dibuat dengan di pres.Persyaratan kuat lentur sama dengan ubin semen.

3. Genteng beton

Dinamakan sesuai bentuknya seperti Monier, Victoria, Rama, Villa dan


sebagainya.

Bahan :

PC dan pasir( maksimal 2,4mm) dengan komposisi 1PC:3-4 pasir

Pembuatan

Adukan dicampur dalam keadaan lembab.


Dicetak dan dipres. Bila manual lebih cair (fas 0,4-0,5) lalu digilas
Alas cetakan dilepas setelah 24 jam, disimpan ditempat lembab 3-7 hari.
Jika dirawat dipercepat diberi uap panas
Dikerngkan

30
Supaya lebih rapat air, dipulas dengan bubur semen, disempror dengan cat
epoxy, dapat/tidak diglasir (melebur pada suhu 300-5000C)
Pemakaian

Untuk sudut-sudut yang terjal, genteng dipaku ke reng ditempat yang


sudah disediakan.Genteng beton dibuat datar agar kuat lentur lebih tinggi.
Kuat lentur minimal 50 kg dan tidak menetes jika diuji rembesan air
Jumlah 9 buah/m2 sedangkan yang kecil 15-20 buah

C. Unsur bangunan berbentuk lembaran

1. Lembaran semen asbes

Bahan :

80 90 % PC + 20 10 % serat asbes 3 5 mm.Umumnya dari jenis


Chrysotile.

Pembuatan :

Serat asbes diuraikan dengan cara digilas.


Dicampur dengan PC dan air dalam jumlah banyak, diaduk.
Dari bak pencampur, bubur semen asbes dipindahkan ke bak yang
memiliki silinder dan saringan kawat kasa pada bagian atasnya.
Pada pemindahan itu silinder berputar sehingga lapisan semen asbes
menempel pada kawat kasa.
Kemudian lapisan itu berpindah ke kain felt melalui bejana penghisap
untuk dikeringkan dengan cara divakum (0,3 0,4 atm).
Kemudian lapisan ini membelit drum penggulung sampai ketebalan yang
cukup. Keliling drum 250 270 cm = pj lembaran dan lebar lembaran = pj
drum = 120 cm.

31
Setelah itu lembaran dilepas dari drum penggulung, diterima plat datar
sebagai penopang untuk pengerasan selama satu malam. Hasil : plat rata.
Jika bergelombang, plat penopangnya yang bergelombang, kemudian
ditekan dengan plat gelombang juga.
Dirawat di tempat lembab 2 3 minggu.
Sifat :

Kuat lentur tinggi


dapat dipaku dan digergaji
tahan api (suhu bakar 6000C) selama 2 jam
rapat air dan tahan air. Untuk pipa air tahan tekanan hidrostatik 10 atm.
Untuk mengurangi jumlah asbes, diganti dengan pulp, tetapi tidak tahan air.

2. Lembaran Serat Tumbuhan

Bahan :

Serat sisal, majun, pulp 10 20 %, semen yang dicampur dengan tepung


batu kapur 80 90%

Pembuatan

Serat dipotong 3-5cm, diaduk dengan perekat diberi sedikit air


Ditempatkan pada cetakan dengan tebal 2x tebal cetakan (3mm) dipres
dengan tekanan rendah
Dirawat
Dipotong-potong tepinya agar rata.
Sifat

Tidak tahan air, tidak tahan api ( maksimum 300oC), dapat dipaku

3. Pulp Cement Board

32
Bahan:

Pulp (bubur kayu) dan PC

Pembuatan :

Sama dengan semen asbes

Sifat:

Tidak tahan air, tidak tahan api

4. Papan semen kayu dan papan wool kayu

Papan semen kayu (yumen,wood cement board) dibuat dari pecahan


kayu/ wood chip dengan perekat PC. Sedangkan papan wool kayu (wood wool
cement board) dibuat dari kayu yang diserut halus/ wood wool

Bahan:

Kayu 80% dan 20% perekat PC dicampur fly ash atau tepung batu kapur.

Pembuatan :

Kayu direndam air kapur dikeringkan


Diaduk dengan perekat, dicetak dengan ketebalan antara 1-5cm
Dirawat
Sifat:

Isolasi panas dan suara baik.


Tahan rayap tapi tidak tahan air.
Daya hantar panas maksimum0.08kcal/jam,meteroC.
Penyusutan tebal dengan beban 3 kg/cm2 lebih kecil 20%dari tebal asli.
Pemakaian:

33
Semua lembaran dapat dipakai untuk dinding, plafond, atap (khusus asbes)
dan konstruksi yang tidak memikul beban.

D Unsur bangunan berbentuk pipa, tiang, balok

1. Pipa beton dan saluran air

Bahan:

1 PC : 4-5 agregat dengan maksimum butir 1/4 tebal dinding beton yang
dibuat

Pencetakan:

a. Cara tumbukan :

Adukan dengan fas 0,4 diisi sedikit demi sedikit secara berlapis-lapis
kedalam cetakan dari plat baja.
Tiap lapis ditumbuk dan dipadatkan, ratakan permukaannya
Buka cetakan dirawat ditempat lembab.
Agar lebih tahan air bagian dalam dilapisi pasta semen
Pemakaian :

Untuk saluran air, termasuk kedalam jenis pipa tanpa tulangan.

b. Cara getaran:

Adukan yang agak encer (slump + 50 mm) diisi ke dalam cetakan yang
bergetar, selama 30 detik setiap lapis pengisian. Penggetaran dengan pin
vibrator, penggetar tempel atau meja penggetar. Jika digetarkan setelah
setelah penuh maksimum 60 detik.
Selanjutnya sama dengan tumbukan, pemakaian sama.
c. Cara pusingan/spinning (di pabrik)

34
Adukan dengan slump 50 100 mm diisi ke dalam cetakan, kemudian
ditutup
Cetakan diputar horizontal pada tempatnya 1.500 rpm, adukan melekat ke
dinding cetakan, airnya terpisah, dialirkan ke luar
Dirawat dengan uap panas.
Pemakaian :

Pipa bertulang untuk tiang pancang, tiang listrik

d. Cara Packerhead

Adukan dengan slump + 50 mm diisikan ke dalam cetakan pipa yang


dipasang diatas meja Packerhead = piringan baja yang diberi batang putar
ditengahnya, berputar 1.500 rpm dan dapat turun naik.
Cara pengisian adukan: piringan baja diturunkan ke alas. Sambil diputar,
beton diisi. Piringan ditarik ke atas lambat-lambat, sementara itu adukan
melekat ke dinding cetakan akibat putaran. Setelah beton naik sampai
ujung pipa, putaran dihentikan. Ujungnya diratakan.
Dikeraskan dengan uap tekanan rendah selama 12 jam
2. Tiang dan Balok.

Cara pembuatannya hampir sama.

a. Tiang dan balok penampang persegi.

Tulangan dipasang pada cetakan.


Dicetak dengan cara digetar.
Selanjutnya sama seperti di atas

35
Jika tulangan pratekan, ditarik dulu sampai setengah kuat tarik maksimum,
baru diisi beton

b. Tiang dan balok penampang bulat.

Dicetak dan dipadatkan dengan cara diputar.


Dirawat dengan uap panas tekanan rendah 8 12 jam
Mutu beton > K 225 dan rapat air. Untuk tiang atau balok pra tekan > K 350.

E. Unsur Bangunan Bentuk Khusus

1. Tiang-tiang hias

Bahan utamanya beton biasa, dicetak secara khusus sehingga berbentuk khas.
Satu dua hari setelah dicetak, dihaluskan sampai bentuk akhirnya menjadi
indah.

2. Barang-barang sanitair: bak cuci/mandi, kloset

Beton biasa dengan agregat halus. Bagian yang terlihat, dilapis dengan semen
putih, semen berwarna atau bubuk teraso.

1.14 Bentuk-bentuk produk yang dihasilkan

Yang berbentuk bata/blok:


Batako/bata tras kapur, bata tanah semen/soil cement block, bata beton,
bata untuk lantai, jalan/paving block, dsb.
1. Yang berbentuk kepingan atau ubin:
Ubin semen biasa, ubin teraso yang dinamakan sesuai dengan corak
permukaan ubin.
Genteng beton, kepingan semen asbes yang dibuat semacam sirap.

36
2. Bentuk lembaran:
Serat semen untuk langit-langit; semen asbes: baik untuk langit-langit,
atap (rata
atau bergelombang), atau untuk dinding.
3. Bentuk pipa:
Pipa beton tanpa tanpa tulangan atau dengan tulangan.
4. Bentuk balok atau tiang:
Tiang beton untuk kabel listrik, tiang pancang atau balok jembatan.
5. Bentuk khusus, didasarkan pada pesanan:
Bak beton, closet, septiktank, talang, balok tanda jalan, saluran terbuka,
dll.

Penamaan lain
Penaman lain disebut menurut proses, sifat, bahan yang dipakai, seperti:
bata kapur pasir, celcon/hebel, yumen (lembaran/potongan dari pecahan
kayu/semen), papan semen wol kayu, beton bermis (beton dari batu apung), bata
sekam padi, ferro cement, dll.

1.15 Pemakaian adukan dan bahan bangunan dari semen

Adukan dan plesteran dipakai secara luas pada bangunan, sedangkan


bahan bangunan dari semen digunakan sebagai komponen pada bangunan
tersebut

37
1.16. RINGKASAN

Adukan untuk pasangan bata tersusun dari bahan perekat, agregat halus dan air
sehingga merupakan campuran yang memiliki kelecakan (konsistensi yang enak
untuk dikerjakan/ workable). Bahan adukan terdiri dari perekat mineral, agregat
halus, pengisi dan air. Jika diperlukan dapat menggunakan bahan tambah baik
mineral maupun kimia. Adukan dapat digunakan untuk aduk pasangan, plesteran,
ataupun komponen bangunan berbentuk bata/ blok, kepingan ubin dan genteng,
lembaran panel dinding dan penutup atap (plafon), pipa air bersih dan kotor, tiang
tiang hias, alat-alat sanitair, dsb. Susunan campuran harus memenuhi kriteria
kekuatan, workability, dan peruntukannya. Sifat penting untuk menghasilkan
pasangan bata yang baik antara lain: lecak, enak dikerjakan, plastis, dapat
menahan air, memiliki kekuatan rekatan yang cukup baik, stabil/tidak banyak
berubah volumenya, tahan lama dan memberikan penampilan yang baik. Untuk
memenuhi hal tersebut sifat adukan segar yang harus diperhatikan adalah
konsistensi normal, workability, kemampuan menahan pelepasan air yang harus

38
diimbangi dengan laju penyerapan air bata, susut muai serta daya rekat adukan.
Sedangkan sifat adukan keras meliputi kekuatan tekan, modulus elastisitas dan
kuat lentur. Bata yang digunakan untuk pasangan adalah bata tidak dibakar dan
dibakar, dengan kuat tekan berkisar 25 250 kg/cm 2.Sifat pasangan bata yang
harus diperhatikan adalah ikatan pasangan, kuat tekan, kuat lentur, susut muai,
pengaruh basah kering, dan kemampuan menyekat panas. Plesteran harus
memperhatikan teknologi serta peralatan yang tepat,.sifat dari bahan plesteran,
serta sifat dinding yang akan diplester. Hal ini untuk mencegah kerusakan pada
plesteran seperti retak-retak serta ikatan yang lemah ataupun karena
diskontinuitas, melepuh atau menggembung, permukaan yang tidak rata dan tidak
teratur, berlubang-lubang, permukaan yang berlubang-lubang menjadi basah,
lunak dan banyak mengandung butiran kapur, alur atau lekuk memanjang dalam
plesteran, maupun kerusakan pada bagian luar akibat pengaruh cuaca.

39
1.17 Soal-soal

1. Kriteria apa yang harus dipertimbangkan ketika akan merencanakan


pembuatan adukan?
2. Hal apa yang harus diperhatikan pada pembuatan plesteran?
3. Jelaskan tahapan pembuatan komponen bangunan dengan bahan dasar
adukan, secara umum.

oooooooOoooooo

40
BAB II
TEKNOLOGI BETON

2.1. Pendahuluan

Beton umumnya didefinisikan sebagai batu buatan yang terdiri dari


campuran agregat (alam atau buatan),semen (umumnya PC), dan air; yang setelah
mengeras menjadi massa yang padat dan punya kekuatan serta tidak larut dalam
air.
Beton umumnya mempunyaid kuat tarik kecil tetapi sangat kuat menahan tekan

Sesuai dengan berat jenis agregat ,berat isi beton dikelompokkan dalam:
Beton ringan density beton keras 1,8 kg/l agregat ringan
Beton normal ,, 1,8-2,8 kg/l agregat normal
Beton berat ,, 2,8 kg/l agregat berat

Kelas dan mutu beton sesuai PBI 71


Kela Mutu bk bm(S=46) Tujuan Pengawasan terhadap
s kg/cm2 kg/cm2 Mutu agregat Kuat tekan
I Bo - - Non Ringan Tanpa
II B1 - - strukturil Sedang Tanpa
K 125 125 200 Strukturi Ketat Kontinyu
K 175 175 250 l Ketat Kontinyu
K 225 225 300 Strukturi Ketat Kontinyu
III >K225 >225 > 300 l Ketat Kontinyu
Strukturi
l

41
Strukturi
l

Untuk pembuatan benda uji kuat tekan dan perhitungan diatur sbb:

1.Benda uji berbentuk kubus 15x15x15cm sebanyak 20 buah


2.Kuat tekan dihitung sebagai berikut:
Kuat tekan 1 buah benda uji : b = P/A, kg/cm2
Kuat tekan rata-rata bm = b / n
Deviasi standar S = (b -bm)/n-1
Kuat tekan karakteristik bk = bm kS, kg/cm2 dimana k untuk tingkat
kegagalan 5% = 1,64
Kelas dan mutu beton sesuai SNI
PBI 89 yang diatur dalam SK SNI dan SNI tata cara pembuatan dan
perhitungan beton normal tidak mengatur kelas dan mutu beton seperti
diatas,tetapi mensyaratkan bahwa untuk pembuatan beton mutu 20 MPa
harus dilakukan dalam perbandingan berat dan diawasi secara kontinyu

Untuk pembuatan benda uji kuat tekan dan perhitungan diatur sbb :

1.Kuat tekan dihitung sebagai berikut:


fcr = fc + k x S ,Mpa
fcr = kuat tekan rata-rata yang ditargetkan
fc = kuat tekan yang disyaratkan
k = konstanta untuk tingkat kegagalan/cacat 5% = 1,64
S = sama dengan PBI 71
2.Benda uji berbentuk silinder 15 cm ,tinggi 30 cm,sebanyak 30 buah.Jika
kurang dari yang disyaratkan maka dikalikan dengan pengali deviasi standar,sbb:

42
Tabel 2.1. Faktor Pengali deviasi standar, SNI T 15 - 1991
Jumlah benda uji Faktor pengali deviasi standar
Kurang dari 15 Rumus khusus **
15 1,16
20 1,08
25 1,03
30 1,00
**Rumus khusus fcr = fc + 12 Mpa
2.2 Bahan Baku
Pada umumnya bahan baku beton adalah :
Bahan Perekat
Dapat berupa bahan perekat hidrolis maupun non hidrolis
Agregat
Berupa agregat halus, agregat kasar, jika perlu dapat ditambahkan filler.
Agregat dapat berasal dari alam maupun buatan.
Air
Bahan tambah
Bahan tambah dipakai untuk meningkatkan kinerja beton, jika diperlukan.
Untuk menghasilkan beton, semua bahan baku dengan jumlah yang sudah
dihitung sesuai kebutuhan, diaduk baik manual maupun memakai mesin .
Lamanya pengadukan, kecepatan putaran mesin, posisi dan bentuk bilah
pengaduk, mutu bahan, pemakaian bahan tambah, menentukan kekohesifan beton
segar dan mempengaruhi mutu beton secara keseluruhan. Setelah diaduk beton
dicetak sesuai bentuk yang dinginkan, kemudian dirawat sampai beton mencapai
seluruh kekuatannya pada umur 28 hari atau lebih tergantung bahan bakunya.

2.3 Sifat Umum Beton


Beberapa sifat beton yang menguntungkan dapat dikemukakan sebagai berikut
:

43
Dapat dicetak menurut bentuk yang dikehendaki
Dapat dicor di tempat sehingga memudahkan pekerjaan
Mempunyai sifat lebih tahan api
Lebih awet dan tahan lama
Lebih ekonomis
Sebaliknya kerugian menggunakan konstruksi beton adalah :
Untuk pembuatan beton yang dilaksanakan di lapangan memerlukan
kontrol/pengawasan yang ketat.
Keseragaman beton sukar dipertahankan jika kondisi dilapangan berubah-
ubah.
Dalam penggunaannya beton dibatasi oleh suatu harga yang diinginkan
dalam perencanaan.
Jika proses pengerjaan dan perawatan tidak sesuai dengan yang
dibutuhkan, mutu beton dapat menurun secara signifikan.

2.4. Beton Segar

Yang dimaksud dengan beton segar adalah beton yang berada pada kondisi
setelah selesai diaduk dan belum mengeras (plastis, sebelum semen mengikat)

2.4.1 Sifat Beton segar

Tiga sifat utama beton segar :

1.kekentalan yaitu ukuran untuk menunjukkan kecairan beton


2.Kemudahan mengalir dalam acuan/cetakan
3.Kemudahan dipadatkan yaitu mudah /sukarnya mengeluarkan
udara yang tersekap.
Sifat pengerjaan beton
Sifat pengerjaan beton tergantung antara lain:

44
Karakteristik bahan
Perbandingan campuran
Cara pengangkutan dan pemadatan
Ukuran, bentuk,kekasaran permukaan acuan/cetakan
Jumlah dan jarak tulangan
Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat pengerjaan beton :

1 Bahan-bahan campuran :
a.Jenis semen
b.Kebersihan air
c.Penggunaan admixture
d.Agregat: ukuran maksimum, bentuk dan kondisi permukaan, gradasi,
susunan
campuran (perbandingan kasar & halus), kebersihan agregat, kadar
air
dan daya serap air.
e.Susunan campuran masing-masing bahan
f. Pengadukan rata/tidak
2 Kondisi lingkungan sekeliling :
a.Suhu
b.Kelembaban
c.Kecepatan angin
Dinyatakan sebagai kecepatan penguapan air
3 Waktu pengadukan,
4 Stabilitas bahan dalam adukan :
Segregasi : beton kasar, sangat encer, bleeding : beton kurus,butir
semen

45
kasar. Jika terjadi ketidak kohesifan campuran diatasi dengan
perbaikan
susunan campuran antara lain dengan memperbaiki kadar air, kadar
pasir,
max.besar butir, jumlah butiran halus/filler Ketidak kohesifan beton
umumnya disebabkan oleh: kekurangan semen, kekurangan pasir,
kekurangan air, kekurangan susunan besar butir agregat tidak baik,
A/C
dan C/W, kebersihan agregat, cara pengadukan, penggunaan
admixture,
susunan besar butir agregat tidak baik.
Perbandingan agregat-semen yang mempengaruhi sifat pengerjaan beton,
secara pendekatan dinyatakan dalam tabel di bawah ini:

Tabel 2.2. Pengaruh ukuran max agregat dari gradasi sama terhadap perbandingan
agregat-semen dengan fas 0,55 (Mc.Intosh 1964).
Ukuran Max Sifat Pengerjaan
Agregat mm
Sukar Sedang Mudah

kerikil Batu kerikil Batu kerikil Batu pecah


bentuktd bentuk bentuk
pecah pecah
k teratur tdk teratur tdkteratu
r
9,5 5,3 4,8 4,7 4,2 4,4 3,7
19,0 6,7 5,5 5,4 4,7 4,9 4,4
37,5 7,6 6,4 6,5 5,5 5,9 5,2

2.4.2 Pengujian Beton Segar


Sifat yang ditentukan / diuji:

46
1.Konsistensi
Workability dinyatakan sebagai kemudahan dikerjakan.
Cohesiveness (kekompakan / plastisitas) dinyatakan sebagai tidak terjadi
bleeding dan segregasi.
Konsistensi diuji dengan cara sbb:
a. Alat slump berupa kerucut Abram
Pengujian slump ini tidak cocok untuk beton yang sangat kering atau sangat
encer. Nilai slump dinyatakan dalam mm,cm,inci.
BS : 4 lapis a 25 tusukan tiap lapis
ASTM : 3 lapis a 25 tusukan tiap lapis
Batas nilai slump (menurut PBI 71)
Tabel 2.3: Nilai nilai slump untuk pekerjaan beton
Uraian Slump (cm)
Max Min
Dinding,pelat pondasi telapak bertulang 12,5 5,0
Pondasi telapak tidak bertulang,kaison,& 9,0 2,5
konstruksi dibawah tanah
Pelat,balok,kolom,dinding 15,0 7,5
Perkerasan jalan 7,5 5,0
Pembetonan massal 7,5 2,5

b. VB (von bhrner) konsistometer


Terutama untuk beton yang kental. Konsistensi dinyatakan dalam detik.Alat
ini jarang digunakan di lapangan, karena membutuhkan sumber listrik.
c.Meja Alir (flowtable)
Terutama untuk beton yang encer (flowing concrete)
1 ASTM
Benda uji dicetak dengan ukuran atas 15cm bawah 20 cm dan tinggi 20
cm diketuk 25X dalam waktu 15 detik

47
Dd
F = X 100 % F = D d cm /mm
d

2. DIN
Benda uji yang dicetak dengan ukuran atas 13 cm bawah 20 cm dan
tinggi 20 cm diketuk 15X dalam waktu 45 detik
F = D d cm

d. Kelly ball, hampir sama dengan slump test. Nilai slump ditentukan dari
berapa dalam bola dengan tinggi 15,2 cm ( 6 inci) tenggelam di dalam beton
e. K slump tester.
2.Berat isi /Bulk density
Gunanya:
a. Untuk menghitung hasil beton (yield) yang diperoleh dalam
pelaksanaan dibandingkan dengan rencana.
Total bahan mix design
Yield = ____________________ X100% 90 %
Berat isi beton pelaks
.
b Mengkoreksi susunan campuran jika B.I. pelaksanaan berbeda jauh
dengan B.I. disain / rencana
Cara pengujian :
Berat didefinisikan sebagai berat isi bersih beton segar dibagi dengan
volume silinder.
3. Kadar udara

48
Gunanya untuk mengetahui banyaknya udara yang terperangkap dalam
beton segar. Sebaiknya udara dibatasi 2% karena udara dapat menurunkan
kekuatan beton. Kadar udara diuji antara lain dengan airmeter
4.Waktu ikat awal
Penting diketahui untuk menentukan lamanya pengerjaan beton mulai dari
pencampuran sampai penyelesaian akhir/finishing. Diuji antara lain dengan alat
penetrometer dimana waktu ikat awal tercapai apabila beton segar tersebut dapat
menahan beban 500 psi.
2.4.3.Pengerjaan Beton Segar
1.Perencanaan kebutuhan bahan
Di bahas pada bab berikutnya.
2. Pencampuran
a.Perbandingan berat. Beton yang di bahas pada bab ini adalah yang bermutu 20
MPa
2
atau 225 kg/cm yang susunan campurannya direncanakan dalam
perbandingan
berat.
b.Perbandingan volume, dilakukan jika tidak terdapat timbangan di lapangan:
Konversi dari perbandingan berat,dengan cara bulking,contoh :
1 m beton
Berat Volume
Air 200 kg 200 lt
Semen 320 kg 320 = 256 lt
1,25
Pasir 650 kg 650 = 500 lt
1,3
Agregat kasar 1250 kg 1250 = 833 lt

49
1,5
Susunan campuran nominal (nominal mix)
Contoh : semen : pasir : agregat kasar
1 bg : 2 bg : 3 bg = 50 kg : 100 kg : 150 kg
3.Pengadukan
Dengan cara :
Manual
Karena tergantung dari tenaga orang & alat yang dipakai , memerlukan
waktu
yang lama dengan resiko pencampuran kurang rata.Agar campuran rata
sebaiknya sekali aduk maksimum 50 liter dengan waktu pengadukan
sekitara 10
15 menit.
Mesin pengaduk :
a. Drum

Wadahnya berbentuk semacam drum dengan sudu/bilah (blade).mesin


pengaduk berputar bersama-sama sudu/bilahnya.kemiringan drum dapat
diatur
agar pengadukan homogen.Pengisian dan pengeluaran dari arah
samping.Ada
juga yang drumnya berputar pada arah horizontal kapasitas 250 lt, 500 lt ,
1m.
b. Kincir
Wadahnya dilengkapi dengan kincir baik berbentuk spiral maupun sudu,
yang
bergerak kincirnya,sedang wadahnya diam.biasanya untuk pembuatan bata
beton.

50
c. Pan mixer
Terdiri dari pan / semacam drum yang duduk.Wadahnya berputar,
bladenya
diam atau sebaliknya. Dapat digunakan untuk beton yang kental sekali.
Kekenyalan dan rata atau tidaknya pengadukan dapat langsung terlihat.
Umumnya untuk beton pracetak.
Kecepatan Putaran
Tergantung kapasitasnya,jenis drum 14-20 rpm. Untuk kincir 20- 30 rpm.
Untuk pan lambat 12-20 rpm, sedangkan yang cepat 2060 rpm tergantung
konsistensi rencana adukan. Ada yang kecepatan putarannya dapat diatur
tergantung dari konsistensinya.
Lama Pengadukan
Tergantung dari :
a. Jumlah beton yang diaduk
b. Besar butir max agregat
c. Kekentalan adukan
d. Kapasitas dan efektifitas mesin pengaduk
Untuk beton yang terlalu kental,waktu pengadukan 2x beton yang
normal konsistensinya. Secara umum waktu pengadukan berkisar 5 15 menit.
Untuk 400 lt beton (kapasitas mixer) 1 menit sedangkan kapasitas 4500 lt 3
menit. Jumlah beton yang diaduk umumnya kapasitas mesin pengaduk.
Jika pengadukan terlalu lama,dapat mengakibatkan :
a. Adukan semakin kental karena terjadi penguapan
b. Sebagian agregat kasar menjadi aus dan pecah
c. Sebagian butir pasir yang lunak dapat hancur sehingga beton makin kental dan
penyusutannya besar.
4. Pengangkutan

51
Selama pengangkutan ke tempat pengecoran, kekentalan dan kehohesifan,
beton harus terjaga.Di perjalanan beton dapat bertambah kental karena :
a. Hidrasi semen
b. Penguapan oleh suhu dan agregat
Minimal kekentalan beton ketika dicorkan harus kurang lebih sama
dengan rencana.Untuk beton yang diaduk pada Batching plant sebaiknya disertai
dengan keterangan nama dan alamat Batching plant, tanggal pembuatan, jumlah
beton per-m3, jumlah semen per-m3 beton, maksimum besar butir agregat dan
susunan besar butir, kekentalan beton, jenis beton dan data pengujian tekan dicatat
dengan lengkap.
Pengangkutan dapat dilakukan secara :
Sederhana :
Ember / dolag diangkut orang
Kereta dorong
Talang
Mekanis:
Truck (dumptruck)
Conveyer belt
Crane dengan skip : pengecoran dam, basement, dalam air
Trimi : pengecoran pondasi, pengecoran dalam air
Pompa
5. Pengecoran
Hal-hal yang harus diperhatikan :
a. Persiapan pengecoran
Antara lain meliputi :
Pembersihan cetakan dan bagian-bagian yang akan dicor dari sampah,
tanah, minyak.

52
Kecermatan dimensi cetakan dari bagian-bagian konstruksi yang akan
dicor.
Ukuran, bentuk, dan pemasangan tulangan.
Kerapatan cetakan.
Letak, kekuatan perancah / penyangga.
b. Konsistensi beton
Konsistensi beton yang akan dibuat, sesuai / tidak dengan kondisi
lapangan meliputi :
Suhu
Jarak dari tempat pembuatan beton ke tempat pengecoran
Dimensi bagian konstruksi yang akan dicor
c. Kekohesifan beton :
Pada waktu pengecoran, baik dari pengangkutan sampai pengisian
cetakan, harus selalu kompak, tidak terjadi segregasi dan bleeding.
d. Waktu pengikatan
Apabila jarak angkut jauh dan waktu tempuh lama, pengecoran dilakukan
sebelum waktu ikat awal tercapai.
e. Sambungan dingin (cold joint)
Jika pengerjaan beton adalah menyambung antara beton yang sudah kuat
dengan beton baru / fresh concrete, sambungan harus diusahakan berada pada
posisi netral dalam konstruksi. Untuk pelat dan balok kira-kira di tengah bentang
dimana D 0 atau jika terdapat pertemuan dengan balok lain pada jarak 2x lebar
balok dari titik pertemuan tersebut.
Untuk beton yang kedap air: reservoar, atap, konstruksi di laut, usahakan
tidak terdapat sambungan. Sudut sambungan 450.
Cara pengecoran
1. Sederhana :

53
Ditumpahkan
Dialirkan dengan corong, talang, pipa
2. Dengan bantuan alat :
a. Skip : Untuk beton berukuran besar ( 1 3 M3) yang ditumpahkan
sekaligus. Untuk beton yang berhubungan / dalam air.
b. Trimi : Untuk konstruksi di bawah air / yang akan terganggu oleh air.
Beton dimasukkan dalam pipa yang -nya bertingkat kemudian
ditekankan masuk ke tempat beton dicorkan
c. Pompa: Memerlukan kecermatan pelaksanaan dalam hal :
Mix design beton
Jenis peralatan dan pompa disesuaikan dengan jarak, permukaan dan
daya pemompaan yang diperlukan. Peralatan yang dipakai pada
prinsipnya terdiri dari: bak penampung, mesin pemompa, pipa
penyaluran, pipa-pipa penyaluran yang dapat dibengkokkan,
dibelokkan, dan diarahkan ke tempat pengecoran. Pengecoran dengan
pompa dapat dilakukan untuk berbagai macam konstruksi.
d. Spraying / disemprotkan
Untuk penggunaan khusus, misalnya :
Untuk konstruksi yang tidak memerlukan cetakan pada 2 bidang beton,
misalnya : terowongan, kanal (ukuran besar) dsb.
Untuk mengisikan beton ke dalam rongga-rongga pada suatu
konstruksi yang tidak dapat dikerjakan dengan cara biasa.
Untuk perbaikan bidang-bidang tertentu yang tidak dapat dicapai
dengan cara biasa.
e. Slip Forming
Cara pengecoran untuk konstruksi yang mempunyai dimensi sama
sepanjang /

54
setinggi tertentu, umpama : silo, menara, cerobong.
Cetakan / acuannya adalah untuk sebagian konstruksi tersebut
dilaksanakan
tahap demi tahap sesuai dengan waktu pengikatan beton. Umpamanya
waktu
pengikatan beton 3 jam, maka setelah 3 jam cetakan ini digerakkan ke
atas
sampai beton dicorkan.
Pelaksanaan Pengecoran
1. Pondasi :
Telapak
Sumuran : ditumpahkan dengan mencegah segregasi. Jatuhnya beton tegak
lurus. Jika miring jangan sampai kena dinding.
Plat
Pengecoran dengan cara ditumpahkan tetapi dijaga jangan sampai beton
mengalir horisontal.Jiksa menggunakan talang,sediakan penampung.Beton
jangan dibiarkan bertimbunan baru dipindahkan,untuk mencegah
segregasi.
2. Kolom
Beton boleh dijatuhkan setinggi < 1,5 m.Beton dimasukkan pada lubang
pada bidang sisi cetakan.Jatuhnya beton harus tegak dan lurus dan tidak
menyentuh dinding cetakan.Pengecoran dilakukan secara bertahap.
Pemadatan untuk kolom dilakukan :
Dari dalam dengan penggetar tusuk (pin vibrator)
Dari luar dengan menempelkan penggetar pada dinding cetakan.
Gabungan dari kedua hal tersebut,tergantung dimensi kolom.
3. Balok

55
Untuk pertemuan balok dengan kolompada tulangan rapat perlu
diperhatikan besar butir max.agregat.Beton jangan dibiarkan mengalir
horisontal,untuk mencegah segregasi.
4. Dinding
Tinggi jatuh beton jangan >1,5 m.Jika dinding cukup tinggi harus dibagi
menjadi beberapa tahap sepanjang dinding.Kalau perlu memakai
corong.Hindarkan sambungan pada tempat yamg berbahaya dan antara beton yang
sudah keras dengan yang masih segar.Karena itu kecepatan pengecoran harus
disesuaikan dengan dimensi dinding.Untuk dinding yang harus kedap air tidak
boleh ada cold joint.
5. Lantai atau Atap.
Karena permukaannya terbuka, beton harus dibuat sekental mungkin
dengan gradasi agregat yang baik.Dapat dicorkan dengan kereta dorong atau
ditumpahkan dengan ember / dolak. Beton tidak boleh mengalir horizontal atau
digeser sebagian-sebagian. Sedapat mungkin tidak ada cold joint. Pemadatan
dengan pin / vibrator. Segera sesudah pemadatan permukaan beton harus dijaga
dari kontak langsung dengan matahari.

6. Pemadatan (vibrating)
Dilakukan secara :
a. Ditusuk :
Untuk beton relatif encer (slump 100 mm) dan kekuatan rendah. Dengan
cara ini beton tidak dapat menjadi plastis pada waktu pencetakan.
b. Digetar :
Beton menjadi lebih plastis sehingga dapat bergerak mengisi cetakan
dengan banyak serta padat.
Lama penggetaran tergantung dari :
Slump(workability). Makin kental makin lama.

56
Frekuensi penggetar (rpm). Makin tinggi frekuensi makin pendek
waktu.
Amplitudo alat penggetar. Amplitudo makin besar waktu penggetaran
semakinsebentar.
Jenis-jenis alat penggetar :
a. Pin vibrator internal vibrator
Dimasukkan ke dalam beton sedalam tidak lebih dari panjang jarum.
Kemiringan
jarum tidak boleh lebih dari 300. Alat penggetar dengan fekuensi tertentu
mempunyai jarak penggetaran tertentu sekitar 20 30 cm.
b. Penggetar batang (single/double beam) surface vibrator
Untuk lantai, atap, jalan dengan panjang batang 4, 6, 9, 12 meter. Dilengkapi
roda
dan rel sehingga dapat digerakkan horizontal. Jika terjadi bleeding dilakukan
penggetaran ulang/revibrating. Untuk lantai/jalan menggunakan trowel =
ruskam
yang sekaligus juga sebagai penggetar.
c. Penggetar luar (tempel) eksternal vibrator
d. Meja penggetar (vibrating table)
e. Spinning/dipintal
f. Digetar dan dikempa.
Tidak digunakan untuk beton konstruksi di tempat. Untuk beton pracetak
misalnya
untuk pipa, plat, panel, ubin, bata, beton, balok atau konstruksi khusus. Juga
untuk
beton mutu tinggi pracetak.

57
7. Perawatan (curing)
Pengertian:
Curing adalah usaha untuk memberi kesempatan pada beton
mengembangkan kekuatan hingga tingkat kematangan tertentu tanpa terjadi cacat.
Curing dibedakan menjadi dua:
1.Curing normal :
Suhu udara sama dengan suhu ruangan/air sehingga kematangan
ditentukan oleh lamanya waktu perawatan. Selama proses pematangan beton
harus cukup diberi air/ kelembaban agar tidak terjadi pelepasan air dari beton.
Cara perawatan normal :
Memberikan kelembaban cukup di permukaan beton (< 65 % RH)
a. Penyiraman ruangan sekitar beton
Memberikan embun
Membasahi permukaan beton secara periodik
b. Perendaman (water curing)
Menggenangi permukaan beton untuk waktu tertentu : lantai, plat, atap,
jembatan, jalan.
Menutup beton dengan pasir basah / kain / bahan menyerap air yang
basah.
c. Menggunakan curing membrance
Dari lembaran plastik, atau terpal
d. Bahan kimia yang ditaburkan pada permukaan beton.
2. Curing Dipercepat
Mempercepat hidrasi semen karena suhu rendah. Cara perawatan antara lain :
Memberikan uap air pada beton. Suhu + 800C disemburkan secara
bertahap
selama waktu tertentu.

58
Menghembuskan udara panas.
Menutup permukaan beton dengan lembaran isolasi panas beton
menjadi panas karena panas hidrasi tidak keluar dari beton.
Mempercepat pengerasan mis : 1 hari curing normal = 7 hari curing
dipercepat.
Menutup dengan lembaran isolasi
Dengan aliran listrik untuk beton pracetak
Dengan uap :
o Tekanan rendah : suhu < 800C dalam ruangan curing.
o Tekanan tinggi : suhu 2000C, 8 16 atm.
Merendam dalam air panas, 40 500C dengan waktu 4 16 jam

2.5 Beton Keras (Hardened Concrete)


2.5.1 Pendahuluan
Sifat beton keras dinyatakan dalam : a.Kekuatan.
b.Keawetan.
Sifat ini diperhitungkan setelah beton berumur 28 hari dimana dianggap
proses pengembangan kekuatan telah ,mencapai 100 %.
Walaupun demikian,proses pengerasan beton setelah selesai dicetak
sampai umur 28 hari harus dirawat secara serius terutama untuk beton mutu
tinggi,karena kekuatan dan keawetan beton tergantung dari proses pematangan
(maturity) tersebut.

2.5.2 Kekuatan Beton.


Kekuatan beton dinyatakan dengan sifat mekanisnya yaitu kemampuan
beton untuk memikul beban yang bekerja padanya,baik sendiri sendiri maupun
bersamaan.

59
Kekuatan antara lain dinyatakan dalam:
a.Kekuatan Tekan
1. Destruktif : di laboratorium dengan benda uji kubus atau silinder
di lapangan dengan coredrill, lalu diuji destruktif di lab.
2. non destruktif : di lapangan dengan Schmidt hammer test dan Pundit
Mutu beton umumnya dinilai dari kuat tekannya. Beton merupakan bahan
yang getas,karena itu kemampuan untuk memikul beban tekan jauh lebih besar
dibandingkan dengan beban yang lain.
Pada PBI 1971 kuat tekan beton dinyatakan dengan kuat tekan
karakteristik yaitu kekuatan tekan dari sejumlah benda uji yang menyebar dengan
penyimpangan/ deviasi tertentu menurut lengkung Gaus. Kuat tekan karakteristik
dinyatakan sebagai bk = bm kS.
Pada PBI 89 yang diatur dalam SK SNI kuat tekan dinyatakan sebagai
kuat tekan yang disyaratkan, dinyatakan sebagai fc. Hasil perhitungan dinyatakan
sebagai kuat tekan rata-rata yang ditargetkan dinyatakan sebagai fcr = fc + kS
Kuat tekan dipengaruhi oleh :
1. karakteristik bahan
2. susunan campuran
3. suhu pengerasan
4. pengerjaan beton segar
5. perawatan
Pengujian di Laboratorium dilakukan dengan benda uji berbentuk :
Kubus :
10X10X10 cm
15X15X15 cm (standar)
20X20X20 cm
Silinder:

60
10 cm tinggi 20 cm
15 cm tinggi 30 cm (standar).
Pengujian dilakukan pada umur-umur tertentu sesuai dengan pengujian
PC.Jika tidak dapat diuji pada umur-umur tersebut,PBI 71 dan SNI T-15_91
memberikan tabel konversi perkiraan perbandingan kekuatan tekan beton.
Tabel 2.4. Perkiraan Kuat tekan beton pada berbagai umur menurut PBI 71
UmurBeton(Hr) 3 7 14 21 28 90 365

PC biasa 0,40 0,65 0,88 0,95 1,0 1,2 1,35


PC dg kekuatan 0,55 0,75 0,90 0,95 1,0 1,15 1,20
awal tinggi

Kuat tekan dihitung sebagai berikut:


Kuat tekan 1 buah benda uji : b = P/A, kg/cm2
Kuat tekan rata-rata bm = b / n
Deviasi standar S = (b -bm)/n-1
Kuat tekan karakteristik bk = bm kS, kg/cm2 dimana k untuk tingkat
kegagalan 5% = 1,64
Tabel 2.5. Perkiraan Kuat tekan beton pada berbagai umur menurut SNI T 15 - 91
Umurbeton(Hr) 3 7 14 21 28 90 365
PC type I 0,46 0,70 0,88 0,96 1,0 - -

Kuat tekan dihitung sebagai berikut:


fcr = fc + k x S ,Mpa
fcr = kuat tekan rata-rata yang ditargetkan
fc = kuat tekan yang disyaratkan
k = konstanta untuk tingkat kegagalan/cacat 5% = 1,64
S = sama dengan PBI 71

61
b.Kuat tarik
Kuat tarik beton walaupun kecil harus diketahui terutama dalam
perencanaan jalan beton, landasan pesawat udara, atau pada permukaan yang
luas..Komponen-komponen beton disyaratkan dapat menahan tegangan-tegangan
tarik akibat perubahan-perubahan suhu dan cuaca.
Menentukan kuat tarik langsung adalah sukar karena itu diuji tidak
langsung ataupun dengan mengetahui kuat lentur. Kuat tarik tak langsung
(splittering cylinder test diuji dengan cara membelah silinder beton tersebut.

fct = 2P n/mm2
ld Dimana : P = beban maksimum
l = panjang benda uji
d = diameter silinder
Kuat tarik langsung berkisar 0,45 kuat tekan

c.Modulus elastisitas
Modulus elastisitas beton perlu diketahui dalam hubungannya dengan perhitungan
pemakaian tulangan. Diuji dengan menggunakan alat compressometer
menggunakan benda uji silinder 15cm tinggi 30 cm.

E = S2 S1 kg/cm2
2 - 1

Dimana : S2 = tegangan ketika berada pada daerah elastis = 40% tegangan


maksimum S1 = tegangan ketika 1 terjadi
2 =regangan ketika berada pada daerah elastis = 40% regangan
maksimum
1 = regangan tetap = 0,00005

62
d.Kuat lentur statis
Merupakan kuat tarik tak langsung. Momen lentur merupakan pengalihan
dari tegangan tekan pada bagian atas serta tegangan tarik pada bagian
bawah.Balok hancur akibat tegangan tarik dan lentur (modulus of rupture)
dihitung menurut :

flt = P x L kg/cm2
bd2

Dimana : P = beban maksimum


L = jarak antara kedua perletakan
b = lebar balok
d = tinggi balok
Kuat lentur kira-kira 0,7 kuat tekan
2.5.3 Keawetan Beton
Keawetan dinyatakan dengan ketahanan terhadap kemunduran mutu
akibat pengaruh intern dan ekstern.

Pengaruh intern:
1.Karakteristik bahan
Makin baik dan makin tinggi karateristik dan mutu bahan, makin awet
beton
tersebut.
2.Reaksi alkali agregat

63
Agregat yang reaktif akan bereaksi dengan alkali pada semen yang
mengakibatkan agregat mengembang sehingga beton menjadi retak dan
terurai
3.Perubahan volume
Reaksi kimia semen dan air beton mengering
Perbedaan suhu basah kering berganti-ganti
Tertahannya perubahan volume oleh gaya luar dan dalam retak-retak
4. Daya serap dan permeabilitas
Permeabilitas : daya tembus : kemudahan air mengalir melalui beton
Daya serap : kemampuan beton untuk menghisap air kedalam pori-
porinya. Dipengaruhi oleh :
a. Faktor air semen yang besar
b. Adanya udara yang tersekap pada beton setelah aelesai dipadatkan
c. Kehalusan butiran semen
d. Komposisi kimia semen
e. Segregasi pada saat pengecoran
Pengaruh ekstern:
1. Pengaruh lingkungan
Pembekuan dan pencairan : mengakibatkan perubahan volume, timbul
retak-retak halus
Perbedaan kelembaban : akibatnya akan menyusut dan memuai berganti-
ganti
Pengaruh cuaca terutama untuk beton yang di luar, akibat hujan dan angin
akan menyebabkan beton terkikis
2. Pengaruh kimia : umumnya menyerang semen
Serangan alkali :

64
Ca(OH)2 larut dalam air yang mengandung CO 2. Karena terjadi
pengapuran ini dapat timbul retak-retak dan penyusutan sehingga
keawetan dapat berkurang. Hal ini dapat terjadi, antara lain karena:
a. Pada bangunan yang berhubungan dengan air, terdapat bagian yang retak.
b. Daerah kropos karena terjadi segregasi.
c. Siar-siar pelaksanaan yang jelek
d. Banyak pori
e. Menyerap air hujan/tanah yang mengandung CO2
Serangan sulfat:
Sulfat bereaksi dengan Ca(OH)2 dan C3A membentuk Calsium Sulfat dan
Calsium Sulfoaluminat. Jenis magnesium sulfat yang paling serius
mengakibatkan pengembangan volume dan rusaknya beton. CaCl
mengurangi ketahanan beton terhadap sulfat.
3. Pengausan : terjadi akibat :
Aliran air yang cepat sehingga terjadi lubang-lubang (erosi kavitasi)
Adanya bahan-bahan pengaus dalam air
Tiupan angin kencang
Gesekan dan benturan lalu lintas
Cara pencegahan antara lain:
Aliran hidrolis setenang mungkin. Di tempat-tempat kritis harus diperkuat
dengan bahan-bahan tahan terhadap erosi kavitasi
Mutu beton dipertinggi
Menggunakan agregat keras

2.6 Pemakaian Beton


Konstruksi beton dapat digunakan hampir di seluruh bidang pekerjaan konstruksi baik diatas tanah, di dalam tanah, di
dalam air baik air tawar maupun air laut. Tidak jarang dalam pemakainannya dikombinasikan dengan bahan lain
seperti baja atau polimer.

65
2.7 Rancangan Campuran Beton Normal

Untuk menghitung banyaknya bahan pembentuk beton dalam setiap meter


kubik, dapat dihitung dalam berbagai cara. Di Indonesia, perhitungan
rancangan campuran yang dibakukan dalam SK-SNI T 15 1990 03 diambil
dari Departmen of Environmental ( DoE ) British Standard, dengan berbagai
penyesuaian terhadap kondisi di Indonesia

Metode rancangan campuran lain yang banyak dipakai adalah yang berasal dari
American Concrete Institute dan Portland Cement Asosiation.

2.8 Langkah-langkah Perancangan dengan metoda SK SNI T 15 1990


03

Sebelumnya ada tiga faktor yang harus dperhatikan dalam merancang


campuran cara ini, yaitu :

1. Harga- harga yang didapatkan dari tabel dan grafik dimaksudkan untuk I
meter kubik beton.
2. Agregat dianggap berada pada kondisi jenuh permukaan kering ( ssd )
sehingga harus dilakukan koreksi terhadap kadar air agregat yang
sebenarnya.
3. Suhu dasar adalah 20 0 C sehingga harus dilakukan koreksi terhadap kadar
air pada suhu sebenarnya karena adanya penguapan saat proses pengerjaan
beton.
Langkah-langkah dalam melakukan hitungan rancangan campuran beton,
adalah sebagai berikut :

1. Tuliskan besarnya kuat tekan yang disyaratkan, sebagai contoh 30 N/mm 2


pada umur 28 hari, pada butir 1.

66
2. Tentukan besarnya deviasi standar, diketahui atau diperkirakan, tulis di
butir 2, misalnya diambil 5 N/mm2
3. Hitung nilai tambah margin, yaitu K x S = 1,64 x 5N/ mm2 = 8,2 N/ mm2
4. Kuat tekan rata-rata yang ditargetkan = butir 1 + butir 3 = 30 + 8,2 = 38,2
N/ mm2

5. Jenis PC yang dipakai tipe I.


6. Bentuk agregat kasar: batu pecah
Bentuk agregat halus: pasir alami

7. Untuk mencari FAS bebas, tentukan dulu benda uji yang akan dipakai
dalam trial mix, contoh diambil benda uji silinder.Lihat tabel 2.

Menurut tabel.2: Beton dengan agregat kasar batu pecah, FAS 0,5, semen
Portland tipe 1, benda uji silinder, mempunyai kuat tekan 37 N/mm2.
Setelah itu lihat Grafik 1. Tarik garis mendatar (horizontal) dari angka 370
kg/cm2 hingga memotong tegak lurus garis FAS 0,5. Lihat apakah terdapat
kurva kekuatan agregat pada perpotongan tersebut. Jika tidak, buat kurva
baru pada perpotongan tersebut sebagai garis kerja kekuatan agregat 37
N/mm2.

Tarik garis hosontal dari kuat tekan rata-rata 38,2 N/mm2 memotong kurva
agregat yang baru. Tarik garis vertikal kebawah dari titik perpotongan
tersebut untuk mendapatkan besarnya FAS. Dari contoh di dapatkan FAS
0,49.

8. Jika ditentukan, tulis besarnya FAS maksimum.

9. Tulis besar nilai slump. Sebagai contoh ditetapkan 30 60 mm.

10. Tulis ukuran agregat maksimum. Sebagai contoh ditetapkan 20 mm.

11. Kadar air bebas , lihat tabel 6. Nilai slump 30 60 mm, ukuran besar butir
maksimum agregat 20 mm, jenis agregat kasar batu pecah, agregat halus

67
pasir alam, kadar air tidak dapat diambil langsung dari tabel, tetapi
dihitung dari rumus : 1/3 agregat kasar + 2/3 agregat halus. Dari contoh,
kadar air bebas = 1/3 x 210 kg + 2/3 x 180 kg = 190 kg.

Karena tidak ditetapkan secara pasti, koreksi air terhadap suhu dapat
ditambahkan pada kadar air ini., atau terakhir setelah semua perhitungan
selesai. Jika ditambahkan pada tahap ini maka kadar air = 190 kg + 10 kg
= 200 kg/m3

12. Kadar semen dihitung dari no.11 dibagi no 7 = 200 : 0,49 = 408 kg/m3

13. Kadar semen maksimum diisi jika ditetapkan

14. Kadar semen minimum diisi jika ditetapkan

15. Faktor air semen yang disesuaikan diisi jika no.13 dan 14 ditetapkan.

16. Susunan besar butir agregat halus: dari laboratorium didapat zona II.

17. Persen agregat halus dilihat dari grafik 10 untuk besar butir maksimum
agregat 20 mm, kolom slump 30 60 mm, FAS 0,49, susunan butit zona
II, didapatkan 34% - 40 %, diambil rata-rata 37%.

18. Berat jenis relatif agregat ( kering permukaan ) dihitung = 34% x 2,62 +
66% x 2,64 = 2,63.

19. Berat isi beton dilihat dari grafik 13 diambil rata-rata 2365 kg/m3

20. Kadar agregat gabungan = 19 ( 12 + 11 ) = 1757 kg/m3

21. Kadar agregat halus no.17 x no.20 = 37% x 1757 = 650 kg/m3

22. Kadar agregat kasar = 1757 650 = 1107 kg/m3

Campuran beton rencana untuk 1 m3 beton :

Semen = 408 kg

68
Air = 200 kg

Agregat halus = 650 kg

Agregat kasar = 1107 kg

Berat isi beton segar rencana = 2365 kg/m3

Koreksi air agregat :

1.Agregat halus : penyerapan air 2,1 %. Kadar air 1,9 %

Koreksi : ( 2,1% - 1,9% ) x 650 kg = 1,3 kg

2.Agregat kasar : penyerapan air 1,1 %. Kadar air 1,3 %

Koreksi : | 1,1% - 1,3% | x 1107 kg = 2,2 kg

Campuran beton pelaksanaan untuk 1 m3 beton :

Semen = 418 kg 418 kg

Air = 200 + 1,3 2,2 = 199,1 kg 199 kg

Agregat halus = 650 1,3 = 648,7 kg 649 kg

Agregat kasar = 1107 + 2,2 = 1109,2 kg 1109 kg

Berat isi beton segar pelaksanaan = 2365 kg/m3

2.9. Tabel Dan Grafik Rancangan Campuran

Tabel dan grafik rancangan disajikan dibawah ini

69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
2.10RINGKASAN

Beton umumnya didefinisikan sebagai batu buatan yang terdiri dari campuran agregat
(alam atau buatan),semen (umumnya PC), dan air; yang setelah mengeras menjadi
massa yang padat dan punya kekuatan serta tidak larut dalam air. Pembahasan beton
dibagi menjadi beton segar, perawatan, beton keras, keawetan, serta rancangan
campuran beton. Pada beton segar dibahas sifat dan pengujian yang dilakukan
meliputi konsistensi dan workability, berat isi, kadar udara dan waktu ikat awal.
Selanjutnya pengerjaan beton segar meliputi pencampuran, pengadukan,
pengangkutan, pengecoran dan pemadatan. Beberapa hal harus diperhatikan agar
pembuatan beton berhasil sesuai rencana. Perawatan dibedakan menjadi perawatan
normal dan dipercepat. Pembahasan beton keras meliputi kuat tekan destruktif dan
non destruktif serta perhitungan kuat tekan beton hasil uji di laboratorium, kuat tarik
belah, modulus elastisitas, dan kuat lentur. Keawetan beton ditinjau dari pengaruh
internal seperti mutu bahan, reaksi kimia agregat dan semen, proses pengerjaan dan
perawatan beton, serta pengaruh eksternal meliputi pengaruh lingkungan seperti
pembekuan dan pencairan yang mengakibatkan perubahan volume dan timbul retak-
retak halus, perbedaan kelembaban yang mengakibatkan susut dan muai berganti-
ganti, pengaruh cuaca terutama untuk beton yang di luar, akibat hujan dan angin akan
menyebabkan beton terkikis, lingkungan yang mengandung kimia agresif serta
pengausan. Rancangan campuran beton normal mengikuti metode SK-SNI yang
diambil dari metode DoE BS bertujuan mengetahui kebutuhan bahan pembuat beton
untuk setiap meter kubik beton normal.

2.11 Soal-soal

79
1. Pada pembuatan campuran uji coba di laboratorium, pengujian apa yang
mutlak perlu dilakukan untuk beton segar dan beton keras (masing-masing 2).
Jelaskan alasannya.

2. Sebelum pengecoran dimulai, hal-hal apa yang harus diperhatikan agar sesuai
dengan rencana (5).

3. Untuk pengecoran di lapangan, apa yang harus diperhatikan pada pengecoran


balok, kolom dan plat (masing-masing 2).

4. Jika struktur beton yang sudah terpasang tidak sesuai dengan rencana, jelaskan
langkah-langkah apa yang harus ditempuh ( 2 ).

5. Hal apa yang paling penting diperhatikan pada proses pengerjaan beton agar
beton mempunyai keawetan maksimum ( 3 ).

6. Akan dibangun pusat perbelanjaan di kota Jogja. Mutu beton rata-rata 40


MPa. Untuk merancang campuran beton data yang ada sebagai berikut:
Agregat kasar batu pecah; BJ ssd 2,61; besar butir maksimum 10 mm;
penyerapan air 1,1%; kandungan air 0,9%. Agregat halus berasal dari letusan
gunung Merapi; BJ ssd 2,58; penyerapan air 2,1%; kandungan air 2,1%;
masuk Zone III BS; jumlahnya 38% = 674 kg. Faktor air semen 0,48 dengan
air yang sudah dikoreksi terhadap suhu 190 kg. Hitung kebutuhan bahan
pelaksanaan untuk 1 m3 beton.

OooooooOooooo0

80
81
BAB III
BETON RINGAN

3.1 Pendahuluan

Beton ringan adalah beton dengan berat isi (unit weight) lebih rendah dari
2200 kg/m3. Karena berat isinya rendah, maka ada beberapa keuntungan
menggunakan beton ringan, diantaranya:

A. Dapat memakai pemakaian besi tulangan, karena berat sendirinya


rendah, sehingga momennya kecil

B. Dengan beton ringan, dapat menghemat pemakaian tiang formwork

C. Dapat mengurangi ukuran pondasi

D. Memiliki isolasi panas (thermal insulation) yang tinggi atau thermal


conductivity yang rendah

Kerugiannya adalah kuat tekannya relatif rendah dan tidak tahan terhadap
abrasi

3.2 Klasifikasi beton ringan:

Ada tiga cara pembuatan beton ringan:

A. Menggunakan agregat ringan yang porous dengan BJ < 2,4. Nama


betonnya dari jenis agregat ringan yang digunakan

B. Memperbesar pori dalam beton, atau masa mortarnya, dengan cara


menggunakan udara. Betonnya disebut aerated, cellular foamed atau
gas concrete

82
C. Dengan mengurangi agregat halus (pasir) dari campuran betonnya.
Betonnya disebut no fines concrete.

Umumnya beton ringan lebih mahal dari beton normal. Dan dalam
pengerjaannya, baik dalam waktu pencampuran, pengadukan serta pemadatannya
memerlukan perhatian yang tinggi dibandingkan beton normal.

Pemakaian beton ringan dapat digunakan untuk struktural maupun non


struktural (dinding penyekat dsb). Menurut ASTM C 33077 beton ringan
struktural > 17 MPA (benda uji silinder, umur 28 hari) dan dengan berat isi tidak
lebih dari 1800 kg/m3.

Untuk beton non struktural (dinding penyekat) umumnya memiliki berat isi
kurang dari 800 kg/m3 dengan kuat tekan antara 0,7 MPa sampai 7 Mpa

3.3 Agregat Ringan

Sifat dasar dari agregat ringan adalah memiliki porositas yang tinggi,
sehingga berat jenisnya rendah. Beberapa agregat ringan dapat terbentuk secara
alami atau dengan cara dibuat.

a. Agregat alam, yang terutama dari jenis ini adalah diatomite, pumice,
scoria, volcanic cinders dan tuff. Kecuali diatomite, yang lainnya
adalah batuan vulkanik

b. Agregat buatan, dalam pembuatannya dikenal dua cara, yaitu:

dibakar sehingga mengembang

didinginkan pada saat mengembang

Contoh agregat buatan adalah: expanded clay, shale, slate, expanded blast
furnance slag, breeze, lytag, clinker aggregate

Sifat fisik agregat ringan

83
1. Bentuk tidak beraturan dan kasar permukaannya

2. Porositasnya tinggi

3. Berat jenis tergantung besar maksimum butirannya

4. Penyerapan airnya tinggi

Pemakaian agregat ringan dalam beton serta berat isinya dapat dilihat pada

diagram dibawah ini :

3.4 Beton Agregat Ringan

Dari gambaran diatas ternyata pemakaian beton ringan sangat luas sekali
dengan menggunakan beberapa jenis agregat. Berat isi beton bervariasi antara 300
sampai 1850 kg / m3 dengan kuat tekan antara 0,3 40 MPa. Kekuatan lebih dari

84
60 MPa dapat dicapai dengan memperbanyak kadar semen ( 560 kg / m3 ).
Kekuatan beton selain dipengaruhi kepadatan agregat juga dipengaruhi oleh jenis
agregatnya. Pada umumnya pada beton ringan , untuk mencapai kekuatan yang
sama dengan beton normal membutuhkan semen lebih banyak 2 sampai 3
kalinya.

Pemakaian agregat ringan yang hampir sama karakteristiknya perlu diuji


terlebih dahulu , karena akan memberikan sifat yang berlainan pada beton. Sifat
pada beton akan sangat dipengaruhi oleh gradasi agregat , kadar semen, faktor air
semen dan tingkat pemadatannya.
Selain sifat workability pada beton ringan faktor lainnya seperti kekuatan ,
density, penyusutan dan konduktivitas panas dapat dilihat pada grafik dibawah
ini :

85
3.5 Pemakaian Beton Ringan

Karena pada umumnya beton ringan workabilitynya rendah , maka sebaiknya


pembuatannya dilakukan di pabrik ( pre fab ) daripada dibuat di lapangan ( in
situ ) , karena di pabrik pengerjaannya dapat diatur. Jika akan menggunakan
tulangan , perlu diperhatikan ketebalan selimut betonnya yaitu kurang lebih 2
( dua ) kali tebal selimut beton pada beton normal. Untuk beton ringan yang
menggunakan clinker aggregate tidak diijinkan menggunakan tulangan.

Sifat Beton Agregat Ringan

86
Sifat beton agregat ringan yang perlu diperhatikan selain memiliki berat isi
yang rendah dan isolasi panas yang tinggi , sifat lainnya adalah :

Perbandingan kuat tarik dan kuat tekan tidak begitu jauh dibandingkan
dengan beton normal
Modulus elastisitas sekitar 0,5 s/d 0,75 nya dibandingkan dengan beton
normal pada kekuatan tekan yang sama
Koefisien daya serap bunyi 2 kali lebih baik dari beton normal
Ketahanan terhadap api , lebih tinggi dibandingkan dengan beton normal
3.6 Beton mengandung udara ( Aerated Concrete)

Telah dijelaskan dimuka bahwa cara lain untuk mendapatkan beton ringan
yaitu dengan memasukkan gelembung udara ke dalam mortar pada waktu masih
plastis, sehingga membentuk benda yang menyerupai busa. Gelembung udara
dalam ukuran yang kecil ( 0,10 dan 1,00 mm ) harus stabil di dalam beton , baik
pada waktu dicampur ataupun pada waktu dipadatkan. Pada umumnya beton
seperti ini tidak mengandung agregat kasar. Ada 2 ( dua ) cara untuk melakukan
pengisian udara ke dalam beton yaitu :

1. Beton gas
Didapat dengan cara reaksi kimia antara bahan yang menimbulkan gas di
dalam mortar. Mortar harus dapat memiliki konsistensi yang baik ( tidak
terlalu encer ) agar gas yang terdapat di dalamnya tetapdan tidak keluar.
Kecepatan terbentuknya gas, konsistensi mortar dan waktu pengikatan harus
tepat..Zat kimia yang biasa digunakan adalah serbuk aluminium dengan
konsentrasi 0,2 % dari berat semen yang dapat menghasilkan gelembung
udara . Selain itu juga digunakan seng atau aluminium paduan.

87
2. Beton busa ( foamed concrete )
Dihasilkan dengan cara menambahkan ke dalam campuran sejenis bahan yang
menghasilkan busa. Umumnya dari jenis Hydrolized Protein atau sejenis resin
soap yang stabil pada saat dicampur dengan kecepatan tinggi.
Aerated concrete dapat menggunakan agregat atau tanpa agregat. Umumnya
digunakan untuk pemakaian non structural yang memerlukan isolasi panas
dengan kepadatan 300 kg/m3 atau kepadatan 200 kg/m3. Jika digunakan
agregat yang sangat halus sebagaian besar memiliki kepadatan antara 500
sampai 1100 kg/m3.
Kekuatan dan konduktivitas panas dari beton ini sangat tergantung dari
kepadatannya. Beton dengan kepadatan 500 kg/m3 dapat mencapai kekuatan
antara 3 4 MPa dengan konduktivitas panas 0,10 J/msC/m. Untuk beton
dengan kepadatan 1400 kg/m3 dapat mencapai kekuatan antara 12 14 MPa
dengan konduktivitas panas 0,4 J/msC/m.

Konduktivitas panas sangat tergantung dari kadar air. Dengan kadar air
sebesar 20 % maka konduktivitas panasnya bisa mencapai 2 ( dua ) kali lipat
disbanding beton kering mutlak.
Aerated concrete mempunyai sifat-sifat fisik sebagai berikut :
Memiliki modulus elastisitas antara 1,70 sampai dengan 3,50 GPa
Memiliki perubahan panas, penyusutan dan perubahan kadar air yang
tinggi( kadang lebih tinggi dari beton agregat ringan pada kekuatan yang
sama ). Tapi sifat ini dapat diperkecil dengan perawatan dengan high
pressure steam
Memiliki sifat konduktivitas thermal rendah dan sifat tahan api lebih tinggi
dibandingkan dengan beton normal
Memiliki penyerapan air yang tinggi dan tahan terhadap pembekuan
Mudah digergaji dan dipasang paku

88
Untuk mencegah supaya tulangan tidak berkarat, tulangan harus dilindungi
dengan bahan anti korosi seperti aspal, epoxyresin

Merancang campuran beton mengandung udara

Untuk merancang campuran beton ini dapat menggunakan metode DOE


atau metode SK-SNI. Hal yang perlu diperhatikan apabila beton mengandung
gelembung udara adalah kuat tekannya, karena setiap prosentase kadar udara yang
terdapat pada beton , kekuatan tekannya akan turun 5,5 %. Sedangkan kekuatan
tariknya turun kurang lebih 4 %. Demikian pula dengan workability beton
menjadi bertambah, sehingga akan mengurangi jumlah air pengaduk. Sebagai
contoh apabila kuat tekan yang direncanakan sebesar 300 kg/cm2, dengan
kandungan udara 5 % dan nilai slumpnya 30 60 mm, maka kekuatan tekan
rencananya perlu dipertinggi menjadi : ( 300 : 1 0,055 x 5 ) = 414 kg/cm2.
Sedangkan nilai slump rencana dapat dikurangi menjadi 10 30 mm

3.7. No Fines Concrete

Jenis lain dari beton ringan adalah no fine concrete yaitu beton ringan yang
mengandung pasir sangat sedikit, sehingga kelihatannya hanya mengandung pasta
semen dan agregat kasar saja . Bahkan beton ini dapat dibuat tanpa agregat halus.
Dengan pori - pori yang besar, maka kekuatannya menjadi lebih rendah. Hal ini
tidak akan mengakibatkan terjadinya perubahan kadar air di dalamnya , karena
tidak ada pori-pori kapiler.
Biaya pembuatan beton ini menjadi lebih ringan karena kadar semennya
rendah antara 70 sampai 130 kg/m3 beton. Hal ini disebabkan karena
berkurangnya luas permukaan butiran.Kepadatan beton tergantung pada gradasi
agregat kasarnya. Beton ini apabila menggunakan agregat normal berat isinya

89
bervariasi antara 1600 sampai dengan 2000 kg/m3. Apabila menggunakan agregat
ringan berat isinya hanya 640 kg/m3.
Ukuran butiran yang biasa digunakan adalah 9,50 mm sampai 19 mm
dengan 5 % diatasnya dan 10 % dibawahnya tetapi tidak boleh ada agregat yang
lebih kecil dari 4,75 mm. Kadang kadang butiran agregat yang lebih besar dari
50 mm juga dapat digunakan

Perb. Agr / Semen FAS Berat Isi ( kg/m3 ) Kuat Tekan 28 hari ( MPa )
6 0,38 2020 14
7 0,40 1970 12
8 0,41 1940 10
10 0,45 1870 7

Pemadatan beton dengan vibrator tidak boleh terlalu lama , tidak boleh
dengan cara ditusuk-tusuk karena keduanya dapat menurunkan pasta semen,
sehingga kepadatannya tidak merata. Demikian juga pasta semennya tidak boleh
terlalu encer. Pengujian workability hanya dilakukan secara visual dengan melihat
sampai seberapa tebal pasta semen menyelimuti agregat.
Untuk menentukan kadar air dalam campuran dapat diambil 180 kg/m3
beton. Kadar semennya tergantung dari kuat tekan yang diharapkan ( lihat tabel
diatas ). Sedangkan campurannya harus dicoba-coba karena banyak factor yang
menentukan terhadap penampilan ( tebal selimut pasta semen terhadap agregat )
dan kekuatan beton ini.
Dalam prakteknya campuran sangat bervariasi dengan campuran kurus
antara 1 : 10 ( perbandingan semen dan agregat dalam perbandingan volume )
memerlukan semen 130 kg/m3 dan 1 : 20 kadar semennya 70 kg/m3. Karena
dalam beton ini tidak terdapat agregat halus , maka daya kohesinya menjadi kecil
sehingga pemasangan cetakan memerlukan waktu agak lama sampai kekuatan
betonnya memenuhi syarat. Perawatan dalam tempat lembab ( curing normal )
sangat diperlukan terutama pada musim panas ( kering ). Hal ini untuk mencegah

90
pasta semen yang sangat tipis cepat kehilangan air, sehingga proses hidrasi tidak
sempurna.
Sifat beton kerasnya adalah sebagai berikut :

Perbandingan kuat lentur dan kuat tekannya kurang lebih 30 % lebih tinggi
dibandingkan dengan beton normal
Modulus elastisitasnya 2,50 sampai 3,0 kali lipat kuat tekannya
Penyusutan lebih kecil dibandingkan dengan beton normal , berkisar
antara 120 200 x 10 6
Tahan terhadap pembekuan
Sangat tinggi penyerapan airnya yaitu dapat mencapai 25 % dari
volumenya , sehingga tidak diijinkan untuk pondasi atau konstruksi yang
selalu bersentuhan dengan air
Beton ini tidak umum menggunakan tulangan. Apabila disyaratkan harus
menggunakan tulangan, maka tulangannya perlu dilapisi dengan pasta
semen setebal 3 mm atau dapat dilapisi dengan shotcrete

3.8. Beton limbah kayu (Sawdust Concrete)

Kadang-kadang diperlukan beton yang mudah digergaji atau dipaku yang


biasanya digunakan untuk dinding atau plafond. Untuk menghasilkan beton
seperti itu dapat dibuat dengan campuran semen dengan serbuk gergaji ( sawdust
concrete ).
Selain serbuk gergaji dapat juga digunakan bahan lain seperti serutan kayu,
sekam padi atau limbah kayu lainnya. Batu apung dan expanded polystyrene dapat
pula digunakan pada beton ini. Serbuk gergaji yang digunakan harus bersih dari
kotoran. Hal ini untuk mencegah agar supaya tidak memperlambat pengikatan
pada semen.

91
Untuk Pembuatan beton ini dengan cara mencampur semen, pasir serbuk
gergaji dan air sampai mencapai nilai slump 25 50 mm. Ukuran butiran yang
baik antara 1,18 mm sampai dengan 6,30 mm
Untuk membuang zat tepung dan gula terlebih dahulu serbuk tersebut
direndam dalam air kapur. Berat isi bervariasi antara 650 1600 kg/m3 dengan
kadar semen 410 kg/m3 dapat mencapai kekuatan tekan sebesar 2 MPa. Karena
perubahan kadar airnya sangat tinggi, maka tidak diperbolehkan digunakan pada
tempat yang lembab.

3.9. RINGKASAN

Beton ringan adalah beton dengan berat isi (unit weight) lebih rendah dari 2200
kg/m3.. Sifat beton agregat ringan yang perlu diperhatikan selain memiliki berat isi
yang rendah dan isolasi panas yang tinggi , sifat lainnya adalah modulus elastisitas
sekitar 0,5 s/d 0,75 nya dibandingkan dengan beton normal pada kekuatan tekan yang
sama, koefisien daya serap bunyi 2 kali lebih baik dari beton normal, ketahanan
terhadap api lebih baik dari beton normal.
Ada tiga cara pembuatan beton ringan: menggunakan agregat ringan yang porous
dengan BJ < 2,4.,nama betonnya dari jenis agregat ringan yang digunakan,
memperbesar pori dalam beton, atau masa mortarnya, dengan cara menggunakan
udara betonnya disebut aerated, cellular yang terdiri dari foamed atau gas concrete,
dengan mengurangi agregat halus (pasir) dari campuran betonnya, betonnya disebut
no fines concrete. Beton yang mudah digergaji atau dipaku yang biasanya digunakan
untuk dinding atau plafond, dapat dibuat dengan campuran semen dengan serbuk
gergaji ( sawdust concrete ). Karena perubahan kadar airnya sangat tinggi, maka tidak
diperbolehkan digunakan pada tempat yang lembab. Sifat dasar dari agregat ringan
adalah memiliki porositas yang tinggi, sehingga berat jenisnya rendah. agregat ringan
dapat terbentuk secara alami, contohnya diatomite, pumice, scoria, volcanic cinders

92
dan tuff. Kecuali diatomite, yang lainnya adalah batuan vulkanik. Agregat buatan,
dalam pembuatannya dikenal dua cara, yaitu: dibakar sehingga mengembang, dan
didinginkan pada saat mengembang, contohnya expanded clay, shale, slate, expanded
blast furnance slag, breeze, lytag, clinker aggregate

3.10. Soal-soal

1 Jelaskan tujuan pemakaian beton ringan

2 Jelaskan jenis-jenis beton ringan


3 Jelaskan keuntungan dan kerugian beton ringan

00000000O0000000

93
BAB IV
BETON BERAT

4.1 Pendahuluan

Beton berat adalah beton dengan kepadatan (berat isi) lebih dari 2700 kg/m3.
Beton ini hanya dapat dibuat dengan menggunakan agregat yang berat jenisnya
lebih dari 3.0.

4.2 Penggunaan beton berat

Beton berat yang dibuat untuk pondasi, kolom, balok, lantai jembatan atau
elemen bangunan lainnya harus diperhitungkan dengan baik berat sendirinya
terutama jika dicor di tempat ( insitu ), agar formworknya dapat dirancang sesuai
dengan berat sendirinya tersebut.

Beton berat untuk keperluan khusus harus mempunyai kepadatan tinggi dan
tahan terhadap pengaruh cuaca.termasuk pembekuan dan pencairan kembali
(freezing & thawing).Tetapi beton dengan mutu sangat tinggi berkisar 100 MPa
atau lebih secara otomatis akan menjadikan beton berat bermutu lebih baik dan
memenuhi syarat diatas karena agregat yang digunakan bermutu sangat baik
dengan kekerasan dan berat jenis diatas rata-rata.

Pemakaian beton berat yang khusus misalnya untuk beton yang secara
periodik atau permanen berhubungan dengan air baik air tawar atau air laut, beton
yang harus tahan panas atau refractory concrete, beton yang harus tahan terhadap
asam atau lingkungan kimia agresif, atau yang akan digunakan untuk dinding
penyekat radiasi sinar x dan sinar gamma . Untuk menyekat sinar x dan sinar
gamma beton harus memiliki kepadatan yang tinggi serta dibutuhkan material

94
yang berat dan mengandung sejumlah hidrogen dan oksigen yang memenuhi
syarat untuk menurunkan neutron dan menyerapnya.

Kadar hidrogen pada beton pelindung inti nuklir dapat mencapai 4% dari
berat betonnya (lebih dari yang dibutuhkan = 0,45%). Hidrogen tersebut terdapat
dalam air, baik berupa air bebas dalam pori-pori beton, air dari proses hidrasi
semen atau air yang terdapat dalam agregat.

Dalam beton yang kering kandungan hidrogennya dapat turun mencapai


0,25% dari berat betonnya. Agregat alam yang biasa digunakan adalah barites
(barium sulphate), limonite, goethite yang memiliki berat jenis lebih besar dari 4.

Limonite dan goethite merupakan agregat sumber hidrogen beton, asal panas
pada beton tidak lebih dari 2000 . Agregat Serpentine lebih baik lagi karena
hidrogen di dalamnya tahan sampai suhu lebih dari 4000.

Pemakaian barites sama dengan agregat batu pecah lainnya. Pada waktu
pencampuran sebaiknya perlu diperhatikan, karena adanya batuan barites yang
halus dapat memperlambat pengikatan dan pengerasan.

Selain hidrogen, oksigen pun dapat menyerap radiasi, maka pemilihan


agregat yang mengandung oksigen tinggi sangat diperlukan. Pasir silika
merupakan bahan yang banyak mengandung oksigen.

Agregat yang digunakan harus memiliki gradasi yang baik. Kadang-kadang


digunakan scrap atau logam untuk memperoleh berat yang tinggi, tetapi harus
diingat bahwa permukaan logam yang licin dapat menurunkan kemampuan
menerima beban. Pengadukan beton harus sangat rata karena beda berat yang
besar akan cenderung membuat agregat terkonsentrasi pada satu tempat yang
disebut kantong-kantong agregat.

Adanya kantong agregat dalam beton membuat beton keropos atau tidak
homogen sehingga memperkecil penyerapan sinar gamma. Pada beton yang

95
ditempatkan di air atau harus tahan asam dan kimia agresif, beton yang keropos
akan membuatnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Untuk mencegah segregasi , agregat dapat diletakkan terlebih dahulu dalam


cetakan beton, lalu dicor dengan pasta semen. Atau dapat pula dengan cara
memperbanyak semen, sehingga berat jenis pasta semennya mendekati berat jenis
agregat.

Untuk alasan ekonomis, tidak ada semen khusus untuk struktur penyekat, tapi
pemakaian semen putih sangat dianjurkan pada beton pelindung inti nuklir karena
dapat mereduksi neutron. Pada beton yang berfungsi menahan radiasi harus
diperhatikan adanya penurunan kekuatan dalam jangka waktu tertentu akibat
penyinaran.

Beton yang kedap mempunyai FAS kecil dan membutuhkan semen banyak
sehingga mempunyai susut muai tinggi. Pemakaian blending cement yang
memperlambat reaksi hidrasi semen sangat dianjurkan untuk mereduksi retak
yang membuat beton tidak kedap.

Berat isi betonnya bervariasi tergantung dari perbandingan campuran dan


mutu agregatnya. Sebagai contoh dengan agregat batuan barit campuran 1 : 4,6 :
6,4 dan FAS 0,58 berat isinya 3700 kg/m3 dengan kuat tekan 42 MPA. Dengan
FAS 0,9 kekuatannya dapat mencapai 24 MPA.

4.3 RINGKASAN

Beton berat adalah beton dengan kepadatan (berat isi) lebih dari 2700 kg/m3. Beton
ini hanya dapat dibuat dengan menggunakan agregat yang berat jenisnya lebih dari
3.0. Beton berat yang dibuat untuk pondasi, kolom, balok, lantai jembatan atau
elemen bangunan lainnya harus diperhitungkan dengan baik berat sendirinya
terutama jika dicor di tempat ( insitu ), agar formworknya dapat dirancang sesuai

96
dengan berat sendirinya tersebut. Hindarkan adanya kantong agregat karena beda
berat yang besar, sehingga pengadukan beton harus sangat rata. Beton berat yang
harus sangat kedap dianjurkan menggunakan blending cement untuk mencegah retak
karena susut muai yang tinggi. Untuk beton yang melindungi inti nuklir dan
menahan sinar x dan sinar gamma dianjurkan menggunakan agregat yang
mengandung hidrogen dan oksigen serta memakai semen putih untuk menyerap
radiasi.

4.4 Soal-soal

1. Apa yang harus diperhatikan dalam pembuatan beton berat agar tidak terjadi
segregasi ?
2. Jelaskan apa yang harus dilakukan agar beton berat untuk keperluan khusus
tidak menjadi keropos karena FAS kecil.

97
BAB V
BETON MUTU TINGGI

5.1 Pendahuluan

Kemajuan dalam pengerjaan struktur beton ditandai dengan meningkatnya


permintaan beton bermutu dan berkinerja tinggi, baik untuk beton prategang,
beton perkerasan jalan atau high rise building, yang menuntut perbaikan kualitas
campuran beton. Tuntutan terhadap kinerja beton mutu tinggi (high performance
concrete) meliputi kondisi dalam pemakaian (masa layan), kondisi batas dan
keawetan Saat ini kekuatan yang dapat dibuat sampai 180 MPa adalah jembatan
Sakata Mirai di Jepang yang menggunakan bahan polimer reaktif dicampur
dengan serat baja. Di Indonesia dengan berbagai kendala di lapangan mutu beton
yang dapat dibuat dengan hasil memuaskan berkisar 80 MPa walaupun percobaan
di laboratorium dapat menghasilkan lebih dari 100 MPa. Kinerja beton tinggi
dibutuhkan, sebagai contoh, jika beton harus sangat kedap walaupun kekuatan
tekannya tidak harus tinggi sekali. Untuk itu perlu penanganan khusus yang tidak
dilakukan dalam pembuatan beton umum.

5.2 Mutu bahan pembuat beton

Beton berkinerja tinggi tidak lagi dapat mengandalkan penggunaan bahan


beton standar seperti semen, agregat dan air. Cara konvensional dalam
meningkatkan mutu beton adalah dengan membuat FAS sekecil mungkin sehingga
pemakaian semen menjadi sangat banyak. Cara ini menjadi beresiko tinggi
apabila beton harus sangat kedap, karena pemakaian semen dalam jumlah banyak

98
akan menyebabkan susut muai besar yang dapat mengakibatkan beton retak pada
proses pengeringan dan pengaruh cuaca pada masa layannya.

Saat ini berbagai macam bahan tambah digunakan untuk meningkatkan kinerja
beton antara lain menambahkan serat jenis tertentu seperti serat baja dan tembaga,
berbagai jenis bahan pozolan seperti mikrosilika, fly ash, dan GGBS ( Ground
Granulated Blast furnace Slag) terdiri dari iron slag, copper slag dan nickel slag.
Bahan tambah mineral ini ditambahkan ke beton sambil mengurangi jumlah
semen (cementitious). Kinerja beton akan meningkat pesat karena sifat pozolan
bahan, sementara di sisi lain bahan tambah mineral ini memperlambat
pengeluaran panas (reaksi hidrasi) semen sehingga meminimalkan terjadinya
retak. Beton yang kedap juga akan terjaga keawetannya sehingga memperpanjang
masa layannya.

Perbedaan antara beton normal dengan beton mutu tinggi secara prinsip
sebenarnya tidak terlalu besar. Selain dari hal diatas, yang perlu diperhatikan
adalah:

Kekuatan / kekerasan agregat


Bentuk agregat
Gradasi agregat
Faktor air semen
Perbandingan agregat dan semen
Workability atau kelecakan
a. Kekuatan / kekerasan agregat

Untuk mendapatkan agregat yang keras dapat diambil dari batuan beku dalam,
seperti batu granit, gabro atau diorit. Batuan beku dalam lebih keras dibanding
batuan beku luar, karena proses terbentuknya batuan tersebut lebih lambat,
sehingga tidak ada kemungkinan udara yang terperangkap. Batuan beku dalam

99
juga hampir tidak mempunyai kemungkinan terjadi kontaminasi oleh bahan
yang melemahkan kekuatan agregat.

b. Bentuk agregat

Bentuk agregat harus menggunakan batu pecah yang memiliki bentuk bersudut
dan tajam serta permukaan kasar. Jangan menggunakan batu alami (bentuk
bulat) dengan permukaan licin. Jika bentuk bersudut, ikatan antara pasta semen
dengan agregat menjadi tinggi, demikian pula daya saling mengunci di antara
agregat sangat tinggi dibanding agregat bulat.

c. Gradasi agregat

Gradasi agregat sangat penting dalam pembuatan beton mutu tinggi. Gradasi
harus sangat baik dan jika perlu ditambahkan filler untuk membuat beton
dengan kepadatan semaksimal mungkin. Pilih gradasi agregat yang memenuhi
syarat, baik British Standard, ASTM ataupun MacIntosh.

d. Faktor Air Semen (FAS)

Pada beton mutu tinggi FAS sangat rendah. Air untuk hidrasi semen tidak
boleh berlebihan agar menghasilkan pasta semen yang padat.

Jenis semen yang digunakan dapat jenis I atau jenis III, yang penting harus
menghasilkan pasta semen yang berfungsi sebagai bahan perekat yang baik,
padat dan hidrasinya sempurna. Beton dengan FAS rendah akan menghasilkan
panas hidrasi yang sangat tinggi sehingga perlu penanganan yang tepat untuk
meminimalkan retak akibat tegangan termal dalam lapisan beton..

e. Perbandingan Agregat dan Semen

Pada umumnya untuk beton dengan kuat tekan dan kinerja tinggi perbandingan
agregat / semen berkisar antara 3 5,5. Mutu agregat sangat penting untuk

100
diperhatikan karena sangat berpengaruh pada kinerja beton yang dihasilkan.
Beton yang terlalu gemuk (terlalu banyak semen) menghasilkan kuat tekan
yang tinggi tetapi dapat pula menyebabkan pengaruh yang buruk, yaitu
penyusutan dan creep beton juga tinggi.

f. Workability

Sifat workability dipengaruhi oleh: kadar semen, FAS, susunan butir agregat,
dan perbandingan agregat/ semen. Untuk menghasilkan beton yang padat dapat
digetar dengan vibrator yang memiliki frekuensi lebih dari 5000 rpm. Karena
FAS sangat rendah, pemakaian bahan tambah kimia dan mineral untuk
meningkatkan workability merupakan keharusan. Untuk memperbaiki
workability beton dalam pengerjaannya ditambah dengan WRA (Water
Reducing Admixture), yang sesuai dengan mutu beton yang akan dihasilkan.
Bahan tambah mineral juga dapat ditambahkan untuk meningkatkan
workability sekaligus memperbaiki gradasi agregat dan meningkatkan
kepadatan beton.

6.3. Rancangan campuran beton

Rancangan campuran beton umum (beton normal) tidak dapat memenuhi


kekuatan yang disyaratkan, sehingga harus dicari cara lain untuk merancang
kebutuhan bahan beton Untuk beton normal kekuatannya hanya dapat mencapai
400 500 kg/cm2 sedangkan beton berkinerja tinggi sering mensyaratkan
mutunya lebih dari itu. Salah satu rancangan campuran yang akan dibahas disini
adalah dengan menggunakan cara yang diperkenalkan oleh Erntroy dan Shacklock
dari Cement & Conrete Association, sebagai berikut :

101
MERANCANG CAMPURAN BETON MUTU TINGGI

(CARA ERNTROY & SHACKLOCK)

KUAT TEKAN

JENIS SEMEN

JENIS AGREGAT

NR

W
WORKABILITY BESAR BTR MAX
C

AGREGAT / SEMEN

102
Perbandingan bahan dalam keadaan padat 1 M3 beton =

W + C + A = 1000

BJW BJC BJA C = kadar semen

W = kadar air A = kadar agregat

103
104
105
106
107
108
109
110
BAB VI.
BETON SERAT
6.1 Pendahuluan
Yang dimaksud dengan beton serat adalah beton yang dalam pembuatannya
ditambahkan serat kedalamnya.Tujuannya meningkatkan kuat tarik beton agar
tahan terhadap gaya tarik yang diakibatkan pengaruh iklim, temperatur dan
perubahan cuaca yang dialami oleh permukaan yang luas. Penambahan serat
mereduksi retak-retak yang mungkin timbul akibat perubahan cuaca tersebut.

6.2 Jenis serat

Untuk mencapai tujuan tersebut berbagai macam serat ditambahkan ke dalam


beton. Secara umum jenis serat dibagi menjadi dua macam.

a. Serat alam
Serat alam umumnya terbuat dari bermacam-macam tumbuhan. Karena
sifatnya umumnya mudah menyerap dan melepaskan air, serat alam
mudah lapuk sehingga tidak dianjurkan digunakan pada beton bermutu
tinggi atau untuk penggunaan khusus. Yang termasuk serat alam antara
lain rami, sisal, ijuk, jute, serabut kelapa dan lain-lain.

b. Serat buatan
Serat buatan umumnya dibuat dari senyawa-senyawa polimer. Mempunyai
ketahanan tinggi terhadap perubahan cuaca. Mempunyai titik leleh, kuat
tarik, dan kuat lentur tinggi. Digunakan untuk beton bermutu tinggi dan
yang akan digunakan secara khusus. Yang termasuk serat buatan antara
lain serat PoliPropilena, PoliEtilena, dan lain-lain.

Kadang kadang ditambahkan berbagai macam bahan, termasuk limbah,


yang diperkirakan dapat meningkatkan kuat tarik beton. Yang harus diperhatikan
adalah sifat bahan yang dianggap serat tersebut harus diketahui agar tujuan
penambahan bahan ke dalam beton dapat terpenuhi.

111
6.3 Dimensi serat

Penambahan serat menyebabkan beton menjadi sukar untuk diaduk. Untuk


mengatasinya serat dicampur dulu secara merata kedalam salah satu bahan
pembuat beton dan menjaga aspek rasio diameter dan panjangnya agar tidak
terjadi penggumpalan (bailing effect). Untuk mendapatkan hasil terbaik
dianjurkan menggunakan rasio 50 100 dimana jika diambil diameter serat 1mm,
panjangnya berkisar 50 100 mm.

6.4 Sifat fisis beton

Penambahan serat menyebabkan perubahan terhadap sifat beton tersebut.


Dibandingkan dengan beton yang bermutu sama tanpa serat, maka beton dengan
serat membuatnya menjadi lebih kaku sehingga memperkecil nilai slump serta
membuat waktu ikat awal lebih cepat juga.

6.5 Sifat mekanis beton

Pada beberapa jenis, penambahan serat sampai batas optimum umumnya


meningkatkan kuat tarik dan kuat lentur, tetapi menurunkan kekuatan tekan. Jenis
serat tertentu meningkatkan kinerja beton seperti serat baja dan serat tembaga.
Untuk mendapatkan hasil yang terbaik, sebaiknya selalu buat campuran uji coba
agar didapatkan jumlah serat yang tepat yang memberikan kekuatan optimum
pada mutu beton yang ditinjau.

6.6 Pemakaian

Beton serat digunakan pada konstruksi yang harus mempunyai permukaan luas
dimana temperatur, oksidasi dan penguapan mempunyai pengaruh besar terhadap
besarnya susut muai, seperti landasan pacu di bandar udara, plat atap, jalan, dan
lain-lain.

6.7. RINGKASAN

Tujuan penambahan serat pada beton adalah meningkatkan kuat tarik beton agar
tahan terhadap gaya tarik yang diakibatkan pengaruh iklim, temperatur dan
perubahan cuaca yang dialami oleh permukaan yang luas. Penambahan serat

112
mereduksi retak-retak yang mungkin timbul akibat perubahan cuaca tersebut. Jenis
serat disesuaikan dengan kegunaan beton. Yang harus diperhatikan adalah
perbandingan diameter dan panjang serat untuk meghindarkan penggumpalan pada
saat pengadukan. Penambahan serat membuat beton lebih kaku dan sukar
dikerjakan, pada beberapa jenis serat dapat menurunkan kekuatan tekan, tetapi jenis
tertentu meningkatkan kinerja beton. Untuk mendapatkan jumlah penambahan serat
optimum sebaiknya dilakukan dengan cara trial & error.

6.8. Soal-sol

1. Apa tujuan penambahan serat kedalam beton ?

2. Apa yang harus diperhatikan saat menambahkan serat kedalam beton ?

0000000000000000

113
BAB VII.
BETON SEMPROT (SHOTCRETE)

7.1. Pendahuluan

Beton semprot adalah beton yang mempunyai workability sangat tinggi yang
dialirkan dengan tekanan tinggi dalam instalasi pipa dengan ujung seperti jaring
(nozzle) ke tempat pengecoran. Mutu beton dibuat tinggi karena digunakan untuk
penggunaan khusus

Agregat harus bermutu sangat baik karena beton semprot dapat dikatagorikan
sebagai beton berkinerja tinggi yang terlepas dari aturan beton konvensional
dimana kekuatan berbanding terbalik dengan workability. Besar butir maksimum
harus sekecil mungkin agar dapat melewati ujung pipa berbentuk nozzle tersebut.
Untuk keperluan tertentu beton semprot tidak menggunakan agregat kasar, hanya
mortar dan bahan tambah baik kimia maupun mineral.

7.2. Sifat-sifat

Pada pembuatan beton semprot, sifat paling dominan adalah workability


sangat tinggi dimana beton dapat mengalir dengan mudah dan memadat secara
mandiri (self compacting conrete), sementara di sisi lain ia harus berkekuatan
tinggi. Pada saat bersamaan beton harus segera mengeras sesaat setelah dicor
terutama jika acuannya hanya terdiri dari satu sisi sebelah luar saja. Susut muai
dan creep agak tinggi pada proses pengeringan beton, tetapi sifat lainnya hampir
sama seperti beton mutu tinggi pada umumnya.

7.3. Penggunaan beton semprot

Untuk penggunaan khusus, misalnya :


Untuk konstruksi yang tidak memerlukan cetakan pada 2 bidang beton,
misalnya : teowongan, kanal (ukuran besar) dsb.
Untuk mengisikan beton ke dalam rongga-rongga pada suatu konstruksi
yang tidak dapat dikerjakan dengan cara biasa.

114
Untuk perbaikan bidang-bidang tertentu yang tidak dapat dicapai dengan
cara biasa,antara lain dengan cara grouting..

7.4 RINGKASAN

Beton semprot adalah beton yang mempunyai workability sangat tinggi yang
dialirkan dengan tekanan tinggi dalam instalasi pipa dengan ujung seperti jaring
(nozzle) ke tempat pengecoran. Sifat paling dominan adalah workability sangat tinggi
dimana beton dapat mengalir dengan mudah dan memadat secara mandiri (self
compacting conrete), sementara di sisi lain ia harus berkekuatan tinggi. Pada saat
bersamaan beton harus segera mengeras sesaat setelah dicor terutama jika acuannya
hanya terdiri dari satu sisi sebelah luar saja. Susut muai dan creep agak tinggi pada
proses pengeringan beton, tetapi sifat lainnya hampir sama seperti beton mutu tinggi
pada umumnya.

7.5 Soal-soal
1. Jelaskan sifat paling dominan dari beton semprot .
2. Jelaskan kegunaan beton semprot.

115
BAB VIII.
ASPAL

8.1 Pendahuluan
Pengertian Aspal
Bitumen adalah zat perekat (cementitious) berwarna hitam atau gelap,
yang dapat diperoleh di alam ataupun sebagai hasil produksi. Bitumen terutama
mengandung senyawa hidrokarbon seperti aspal, tar, atau pitch
Aspal adalah suatu bahan bentuk padat atau setengah padat berwarna
hitam sampai coklat gelap, bersifat perekat (cementitious) yang akan melembek
dan meleleh bila dipanasi, tersusun terutama dari sebagian besar bitumen yang
kesemuanya terdapat dalam bentuk padat atau setengah padat dari alam atau dari
hasil pemurnian minyak bumi, atau merupakan campuran dari bahan bitumen
dengan minyak bumi atau derivatnya
Tar adalah material berwarna coklat atau hitam, berbentuk cair atau semi
padat, dengan unsur utama bitumen sebagai hasil konsedat dalam destilasi
destruktif dari batubara, minyak bumi, atau material organik lainnya.
Pitch didefinisikan sebagai material perekat (cementitious) padat ,
berwarna hitam atau coklat tua, yang berbentuk cair jika dipanaskan. Pitch
diperoleh sebagai residu dari destilasi fraksional tar. Tar dan pitch tidak diperoleh
di alam, tetapi merupakan produk kimiawi.
Dari ketiga material pengikat di atas, aspal merupakan material yang
umum digunakan untuk bahan pengikat agregat, oleh karena itu seringkali
bitumen disebut pula sebagai aspal.
Aspal merupakan bahan perekat termoplastis, yaitu pada suhu ruang
bersifat keras atau padat tetapi akan menjadi plastis atau encer apabila
temperaturnya dinaikkan, dan akan menjadi keras kembali apabila suhunya
diturunkan.

8.2 Jenis aspal

116
Berdasarkan sumbernya, aspal dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu
aspal alam dan aspal buatan (aspal minyak). Aspal alam yaitu aspal yang didapat
secara langsung dari alam, dan dapat dipakai langsung atau diolah terlebih dahulu,
sedangkan aspal minyak adalah aspal hasil sampingan yang merupakan residu dari
pengilangan minyak bumi
1.Aspal alam
Aspal alam sumbernya ada yang berasal dari gunung seperti aspal di Pulau
Buton, dan ada pula yang diperoleh di danau seperti di Trinidad. Aspal alam
terbesar di dunia terdapat di Trinidad, berupa aspal danau (Trinidad Lake Aspalt).
Indonesia memiliki sumber aspal alam di Pulau Buton, yang berupa aspal gunung,
terkenal dengan nama Asbuton. Asbuton merupakan campuran antara bitumen
dengan bahan mineral lainnya dalam bentuk batuan. Karena asbuton merupakan
material yang ditemukan begitu saja di alam, maka kadar bitumen yang
dikandungnya sangat bervariasi dari rendah sampai tinggi. Produk asbuton dapat
dibagi menjadi dua kelompok yaitu :
1) Produk asbuton yang masih mengandung material filler, seperti asbuton
kasar,asbuton halus,asbuton mikro, dan butonite mastik asphalt.
2) Produk asbuton yang telah dimurnikan menjadi aspal murni melalui proses
ekstrasi atau proses kimiawi
2.Aspal minyak
Aspal minyak adalah aspal yang merupakan residu destilasi minyak bumi.
Setiap minyak bumi dapat menghasilkan residu jenis asphaltic base crude oil
yang banyak mengandung aspal, parafin base crude oil yang banyak mengandung
paraffin, atau mixed base crude oil yang mengandung campuran antara paraffin
dan aspal. Untuk perkerasan jalan umumnya digunakan aspal minyak jenis
asphaltic base crude oil.
Gambar 1 memberikan ilustrasi tentang proses destilasi minyak bumi.
Bensin (gasoline), minyak tanah (kerosene), dan solar (minyak diesel) merupakan
hasil destilasi pada temperatur yang berbeda-beda, sedangkan aspal merupakan
residunya. Residu aspal berbentuk padat, tetapi melalui pengolahan hasil residu

117
ini dapat pula berbentuk cair atau emulsi pada pada temperatur ruang. Jadi, jika
dilihat bentuknya pada temperatur ruang, maka aspal dibedakan atas aspal padat,
aspal cair, dan aspal amulsi.
Aspal padat adalah aspal yang berbentuk padat atau semi padat pada suhu
ruang dan menjadi cair jika dipanaskan. Aspal padat dikenal juga dengan nama
aspal keras (asphalt cement). Oleh karena aspal keras bentuknya padat atau keras
maka dalam pemakainnya harus dipanaskan terlebih dahulu sebelum digunakan
sebagai bahan pengikat agregat.
Aspal cair (cut back asphalt) yaitu aspal yang berbentuk cair pada suhu
ruang. Aspal cair merupakan aspal keras yang dicairkan dengan bahan pencair
dari hasil penyulingan minyak bumi seperti minyak tanah, bensin, atau solar.
Bahan pencair membedakan aspal cair menjadi :
a) Rapid curing cut back asphalt (RC), yaitu aspal cair dengan bahan pencair
bensin. RC merupakan aspal cair yang paling cepat menguap.
b) Medium curing cut back asphalt (MC), yaitu aspal cair dengan bahan
pencair minyak tanah (kerosene).
c) Slow curing cut back asphalt (SC), yaitu aspal cair dengan bahan pencair
solar (minyak diesel). SC merupakan aspal cair yang paling lambat
menguap.
Aspal emulsi (emulsified asphalt) adalah suatu campuran aspal dengan air
dan bahan pengemulsi, yang dilakukan di pabrik pencampur. Aspal emulsi ini
lebih cair daripada aspal cair. Di dalam aspal emulsi, butir-butir aspal larut dalam
air. Untuk menghindari butiran aspal saling menarik membentuk butir-butir yang
lebih besar, maka butiran tersebut diberi muatan listrik.
Berdasarkan muatan listrik yang dikandungnya, aspal emulsi dapat
dibedakan atas
a) Aspal kationik disebut juga aspal emulsi asam, merupakan aspal emulsi
yang butiran aspalnya bermuatan arus listrik positip.
b) Aspal anionik disebut juga aspal emulsi alkali, merupakan aspal emulsi
yang butiran aspalnya bermuatan negatif.

118
c) Aspal Nonionik merupakan aspal emulsi yang tidak mengalami ionisasi,
berarti aspal emulsi tersebut tidak bermuatan.
Berdasarkan kecepatan mengerasnya, aspal emulsi dapat dibedakan atas :
a) Rapid Setting (RS), aspal yang mengandung sedikit bahan pengemulsi
sehingga pengikatan yang terjadi cepat, dan aspal cepat menjadi padat atau
keras kembali.
b) Medium Setting (MS)
c) Slow Setting (SS), jenis aspal emulsi yang paling lambat mengeras.

Gambar .1 Proses destilasi minyak bumi

8.3 Kepekaan aspal terhadap temperatur


Telah diketahui bahwa aspal merupakan bahan perekat termoplastis.
Dengan sifat seperti ini aspal sangat peka terhadap perubahan temperatur. Setiap

119
jenis aspal memiliki kepekaan yang berbeda-beda, walaupun aspal tersebut
memiliki penetrasi dan vskositas yang sama, karena kepekaan sangat dipengaruhi
oleh komposisi bahan kimia yang dikandung aspal tersebut. Pemeriksaan sifat
kepekaan aspal terhadap perubahan temperatur perlu dilakukan untuk memperoleh
gambaran tentang temperatur yang cocok untuk pelaksanaan pekerjaan.
Pada Gambar 2 dibawah memberikan ilustrasi tentang dua jenis aspal yang
mempunyai nilai viskositas yang sama pada temperatur 60 C, tetapi berbeda pada
temperatur yang lainnya.

Aspal A dan B memi- liki viskositas yg ssamasama


Aspal A

Aspal B

60C

Gambar 2 : Kepekaan aspal terhadap temperatur

Dari Gambar di atas, aspal A lebih peka terhadap perubahan temperatur


dibandingkan dengan aspal B. Kepekaan terhadap lama waktu pelaksanaan
perkerasan jalan dan perubahan temperatur sepanjang masa pelayanan jalan, jika
menggunakan aspal A lebih tinggi daripada jika menggunakan aspal B
Aspal yang mengandung lilin (wax) lebih peka terhadap temperatur
dibandingkan dengan aspal yang tidak mengandung lilin. Kepekaan temperatur

120
akan menjadi dasar perbedaan umur aspal untuk menjadi retak/mengeras.
Parameter pengukur kepekaan aspal terhadap temperatur adalah indeks penetrasi (
Penetration index = PI )

20 PI LogPenRB LogPen25C
50
10 PI TRB 25

Di mana
PI = Indeks Penetrasi
TRB = Temperatur titik lembek aspal, C
Pen25C = Nilai penetrasi pada suhu 25 C dengan pembebanan 100 gram
selama 5 detik
PenRB = Nilai penetrasi pada suhu TRB, pada pembebanan 100 gram
selama 5 detik, jika tidak ada data, nilai dapat diasumsikan = 800

Nilai PI antara 1 dan + 1 adalah nilai PI yang umum dimiliki oleh aspal yang
digunakan untuk material perkerasan jalan

8.4 Fungsi Aspal Sebagai Material Perkerasan Jalan


Aspal yang digunakan sebagai material perkerasan jalan berfungsi sebagai
berikut:
1. Bahan pengikat, memberikan ikatan yang kuat antara aspal dan agregat
dan antara sesama aspal
2. Bahan Pengisi, mengisi rongga antar butir agregat dan pori-pori yang ada
dalam butir agregat itu sendiri.
Untuk dapat memenuhi fungsi aspal itu dengan baik, maka aspal haruslah
memiliki sifat adhesi dan kohesi yang baik, serta pada saat dilaksanakan
mempunyai tingkat kekentalan tertentu.
Penggunaan aspal pada perkerasan jalan dapat melalui dicampurkan pada
agregat sebelum dihamparkan (prahampar), seperti lapisan beton aspal atau

121
disiramkan pada lapisan agregat yang telah dipadatkan dan ditutupi oleh agregat
yang lebih halus (pascahampar), seperti perkerasan penetrasi makadam atau
pelaburan.
Fungsi utama aspal untuk kedua jenis pembentukan perkerasan yaitu
perkerasan pencampuran prahampar dan pascahampar itu berbeda. Pada proses
prahampar aspal yang dicampurkan dengan agregat akan membungkus atau
menyelimuti butir-butir agregat, mengisi pori antar butir, dan meresap ke dalam
pori masing-masing butir.
Pada proses pasca hampar, aspal disiramkan pada lapisan agregat yang
telah dipadatkan, lalu diatasnya ditaburi butiran agregat halus. Pada proses ini
aspal akan meresap ke dalam pori-pori antar butir agregat dibawahnya. Fungsi
utamanya adalah menghasikan lapisan perkerasan bagian atas yang kedap air dan
tidak mengikat agregat sampai ke bagian bawah.
Ilustrasi tentang fungsi aspal untuk setiap butir agregat digambarkan pada
Gambar 3 dan ilustrasi fungsi aspal pada lapisan perkerasan prahampar dan pasca
hampar digambarkan pada Gambar 4

Gambar 3 Fungsi aspal pada setiap butir agregat

122
Gambar 4 Sketsa perbedaan fungsi aspal pada lapisan perkerasan jalan (Silvia
Herman)

Dengan adanya aspal dalam campuran diharapkan diperoleh lapisan


perkerasan yang kedap air sehingga mampu melayani arus lalu lintas selama masa
pelayanan jalan. Oleh karena itu aspal haruslah mempunyai daya tahan (tidak
cepat rapuh) terhadap cuaca, dan mempunyai sifat adhesi dan kohesi yang baik.

8.5 Aspal keras


Aspal keras dapat dibedakan berdasarkan nilai penetrasi atau viskositas.
Berdasarkan nilai penetrasinya, AASHTO membagi aspal keras kedalam lima
kelompok aspal keras, yaitu aspal 40-50, aspal 60-70, aspal 85-100, aspal 120-
150, dan aspal 200-300. spesifikasi dari masing-masing kelompok aspal tersebut
seperti pada Tabel 1.
Di Indonesia, aspal yang digunakan untuk perkerasan jalan dibedakan atas
aspal pen 60 dan aspal pen 80. Persyaratan kualitas aspal yang umum digunakan
di Indonesia seperti tertera pada Tabel 2. :
Tabel 8.1 Spesifikasi AASHTO M 20-70 (1990)
Jenis Aspal (sesuai penetrasi) 40-50 60-70 85-100 120-150 200-300
Penetrasi (25C, 100 gr, 5 det) 40-50 60-70 85-100 120-150 200-300
Titik nyala, cleaveland C 235 235 235 220 180
Daktilitas ( 25 C, 5 cm/men, 100 100 100 100 100

123
cm)
Solubilitas dalam CC14, % 99 99 99 99 99
Kehilangan berat, % 0,8 0,8 1 1,3 1,5
Penetrasi setelah kehilangan 58 54 50 46 40
berat
Daktilitas setelah kehilangan 50 75 100 100
berat, (25 C, 5 cm/men, cm)

Tabel 8.2 Spesifikasi Aspal Keras menurut Bina Marga (1999)


Jenis aspal (sesuai penetrasi) 60 80
Penetrasi (25C, 100 gr, 5 det) 60-79 80-99
Titik nyala, cleaveland C 200 225
Daktilitas ( 25 C, 5 cm/men, cm) 100 100
Solubilitas dalam CC14, % 99 99
Kehilangan berat, % 0,4 0,6
Penetrasi setelah kehilangan berat, % semula 75 75
Berat jenis (25C) 1 1

Spesifikasi aspal sesuai spesifikasi baru campuran beraspal panas yang


diterbitkan oleh Depkimpraswil menetapkan aspal yang digunakan untuk beton
aspal campuran panas adalah aspal keras pen 60/70, sesuai spesifikasi AASHTO
M 20-70(1990), seperti pada Tabel di atas

Sifat aspal keras dan pengujiannya


Sifat aspal keras dibedakan menjadi sifat kimia dan sifat fisis.
1.Sifat kimia
Aspal dibagi menjadi dua bagian besar. Yang pertama adalah bagian padat,
disebut aspaltene. Bagian inilah yang bersifat sebagai perekat. Selanjutnya
bagian cair yang berfungsi sebagai pelarut, disebut maltene. Maltene umumnya
terdiri dari :

124
a. cairan basa nitrogen yang bersifat mendispersikan aspal keras.
b. cairan accidafin satu yang melarutkan aspal keras.
c. cairan accidafin dua besifat hampir sama dengan accidafin satu.
d. cairan parafin berupa gel yang membungkus butiran aspal keras.
Sifat dan jumlah maltene mempengaruhi sifat rekatan aspal dan
keawetannya. Agar sifat rekatan aspal optimum maka perbandingan antara jumlah
aspaltene dan maltene disebut Maltene Distribution ratio harus lebih kecil atau
sama dengan 1,5.
Maltene Distribution Ratio (MDR) = N% + A1% = 1,5
P % + A2%
2. Sifat fisis
a.Penetrasi
Untuk mengklasifikasikan aspal keras dari yang lunak sampai dengan yang keras
dilakukan pengujian penetrasi. Yang dimaksud dengan penetrasi pada pengujian
aspal adalah masuknya jarum penetrasi, berdiameter 1 inchi dengan berat 100
gram kedalam sampel aspal selama 5 detik pada suhu 25 C. Masuknya jarum ke
dalam sampel dalam satuan 0.1 mm. Jadi apabila masuknya jarum ke dalam
sampel rata-rata adalah 6,8 mm, maka aspal
tersebut memiliki Pen 68. Nilai pen ini dapat
dibaca langsung pada alat pengukur.
Karena persyaratan aspal berbeda untuk
masing-masing tingkat kekerasan aspalnya
(penetrasinya), maka pengujian ini mutlak
dilakukan sebelum pengujian yang lain
dilaksanakan.

b.Titik nyala dan titik bakar


Yang dimaksud dengan titik nyala adalah nyala singkat, kurang dari 5 detik pada
permukaan benda uji pada saat nyala penguji disimpangkan diatas nya. Sedangkan

125
yang dimaksud dengan titik bakar adalah apabila pada saat nyala penguji
disimpangkan di atas permukaan benda uji timbul nyala lebih dari 5 detik.
Pengujian ini dilaksanakan untuk mengetahui temperatur dimana aspal mulai
menyala, dan temperatur aspal mulai
terbakar. Pengujian ini berguna pada saat
pelaksanaan pemanasan aspal. Pemanasan
aspal tidak boleh melebihi titik bakar, karena
akan membahayakan, dan akan merusak sifat
kimia aspalnya.
Pengujian titik nyala dengan alat
penentu titik nyala model bejana terbuka
(cleveland open cup) .
Gambar : Alat pengujian Titik Nyala dan titik bakar
c.Penurunan Berat Aspal

Kualitas aspal dapat diketahui dari penurunan berat aspal apabila


dilakukan dengan tebal dan berat tertentu dalam waktu + 24 jam. Aspal yang
kualitasnya baik menutur standar ASTM D-6-80 adalah aspal yang mengalami
penurunan berat kurang dari 0,4%. Kehilangan berat aspal dapat diuji dengan
memanaskan contoh aspal yang telah diketahui berat asalnya dalam oven khusus
yang dilengkapi piringan yang dapat berputar pada suhu (163 1) C selama lima
jam. Setelah itu aspal ditimbang dan diuji penetrasinya, sehingga didapat
kehilangan beratnya, dan penurunan penitrasi setelah kehilangan berat.
Gambar Oven untuk pengujian Kehilangan berat

d.Kelarutan Aspal dalam Karbon Tetra Klorida

126
Untuk menguji kemurnian aspal, karena kemungkinan aspal mengandung
bahan tak larut seperti garam, kotoran abu, karbon atau mineral lainnya, dilakukan
pengujiannya dengan melarutkan aspal dalam Carbon Bisulfida (CS2), kemudian
bagian yang tidak larut ditimbang. Cairan pelarut lainnya yang biasa dipakai
adalah karbon Tetraklorida (CCL4). Cairan ini tidak mudah terbakar dibanding
dengan CS2, maka lebih sering pakai, meskipun hasilnya kurang teliti karena ada
zat karbon yang seharusnya larut dalam CS2 tapi tidak larut dalam CCl4.

e.Daktilitas Aspal

Pengujian daktilitas dibutuhkan untuk mengetahiu sifat kohesi dan


plastisitas aspal. Pengujian dilakukan dengan mencetak aspal dalam cetakan
khusus dan meletakannya kedalam tempat pengujian. Tempat pengujian berisi
airyang memiliki berat jenis yang sama dengan berat jenis aspal. Agar berat jenis
air mendekati berat jenis aspal, maka jika berat jenis air lebih tinggi dari berat
jenis aspal, air tersebut harus ditambah Methyl Alcohol, tetapi sebaliknya jika
berat jenis air lebih rendah dari berat jenis aspal, tambah dengan Sodium Klorida
(NaCl) Nilai daktilitas aspal adalah panjang contoh ketika putus pada saat
dilakukan penarikan dengan kecepatan 5 cm permenit.

127
Aspal dengan angka daktilitas yang rendah dapat mengalami retak akibat lapisan
aspal mengalami perubahan suhu yang tinggi. Sifat daktilitas ini dipengaruhi oleh
sifat kimia aspal, yaitu
akibat susunan senyawa
hidrokarbon yang
dikandungnya. Bila aspal
banyak mengandung
senyawa parafin dengan
rantai panjang, daktilitas
rendah, demikian juga
dengan aspal yang didapat
dari proses blowing (blown asphalt) dimana banyak terdapat gugusan hidrokarbon
tak jenuh yang dapat menyusut, sedangkan yang banyak mengandung parafin
karena susunan rantai karbon yang kekuatan strukturnya kurang plastis.
f. Titik lembek aspal,
Yang dimaksud titik lembek adalah suhu pada saat bola baja dengan berat tertentu
mendesak turun suatu lapisan aspal suatu lapisan aspal yang tertahan dalam cincin
ukuran tertentu, sehingga aspal tersebut menyentuh plat dasar yang terletak
dibawah cincin dengan ketinggian tertentu akibat kecepatan pamanasan suhu. Alat
untuk menguji titik lembek adalah Ring and Ball

Gambar : Alat pengujian titik lembek Ring and ball

128
Titik lembek diuji untuk mengetahui pada suhu berapa aspal tersebut dari kondisi
keras menjadi lembek. Jika diketahui suhunya, maka pemakaian aspal tersebut
tidak boleh digunakan pada kondisi jalan dengan suhu permukaan lebih besar dari
suhu titik lemeknya. Jadi jika aspal memeiliki titik lembek 45C, artinya aspal
tersebut jangan dipakai pada suhu permukaan jalan lebih dari 45C.
g.Berat Jenis Aspal
Di dalam perhitungan rancangan campuran dibutuhkan parameter penunjuk berat,
yaitu berat jenis agregat. Berat jenis agregat adalah perbandingan antara berat
volume agregat dan berat volume air.Berat jenis aspal tanpa campuran biasanya
berkisar antara 1,02 sampai 1,05 pada suhu 250 C. Angka yang tinggi dicapai
untuk aspal keras, dan yang rendah untuk aspal cair. Makin keras aspal umumnya
berat jenis makin tinggi. Berat jenis dipengaruhi oleh perubahan suhu dimana
pemuaian dapat mengakibatkan perubahan volume. Pada Gambar terlihat skema
volume butir agregat, yang terdiri dari volume agregat masif (V s), volume pori
yang tidak dapat diresapi oleh air (Vi), volume pori yang dapat diresapi air (VP +
Vc), dan volume pori yang dapat diresapi aspal (VC).
VS + VP + Vi + Vc = volume total butir agregat
Vp + Vi + Vc = volume pori agregat

Vs = volume bagian masif

Vi = volume pori yang tak dapat diresapi air

Vp = volume pori yang tak dapat diresapi aspal, tetapi dapat diresapi
air

129
Vc = volume pori yang dapat diresapi aspal dan air
Gambar. Skematis bagian dari butir agregat
Terdapat tiga jenis berat jenis (specific gravity) yaitu: berat jenis bulk (bulk
specific gravity), berat jenis kering permukaan (saturated surface dry), dan berat
jenis semu (apparent specific gravity). Berat jenis efektif (efective specific
gravity), adalah berat jenis dengan memperhitungkan berat agregat dalam keadaan
kering, jadi merupakan berat agregat kering, dan volume agregat yang tak dapat
diresapi aspal (Vs+Vi +Vp). Penyerapan adalah persentase berat air yang dapat
diserap pori terhadap berat agregat kering.
Harga harga berat jenis dibutuhkan untuk membuat bermacam macam variasi
campuran aspal atau jenis jenis pengujian
aspal lainnya. Berat jenis ditentukan dengan
menggunakan metode picnometer sesuai ASTM
D-70 untuk aspal semen.
Dalam rentang suhu antara 250 C sampai 2000
koefisien pemuaian adalah 0,0006per 0C. Cara
menentukan berat jenis biasanya untuk aspal
padat menggunakan piknometer (untuk mengukur berat serta volumenya) sedang
untuk aspal cair dipakai aero meter.

9.6 Beton Aspal


Beton aspal adalah jenis perkerasan jalan yang terdiri dari campuran
agregat dan aspal, dengan atau tanpa bahan tambahan. Material-material
pembentuk beton aspal dicampur di tempat pencampur pada suhu tertentu,
kemudian diangkut ke lokasi, dihamparkan, dan dipadatkan. Suhu pencampur
ditentukan berdasarkan jenis aspal yang akan digunakan. Jika digunakan aspal
keras, maka suhu pencampuran umumnya antara 145-155C, sehingga disebut
beton aspal campuran panas. Campuran ini dikenal juga dengan nama hotmix.
Beton aspal yang mengunakan aspal cair dapat dicampur pada suhu ruang,
sehingga dinamakan coldmix.

130
Karakteristik beton aspal
Tujuh karakteristik campuran yang harus dimiliki oleh beton aspal seperti
dikutip dari buku Beton Aspal, Silvia Sukirman adalah stabilitas, keawetan atau
durabilitas, kelenturan atau fleksibilitas, ketahanan terhadap kelelahan (fatique
resistance), kekesatan permukaan atau ketahanan geser, kedap air, dan kemudahan
pelaksanaan.
Stabilitas adalah kemampuan perkerasan jalan menerima beban lalu lintas
tanpa terjadi perubahan bentuk tetap seperti gelombang, alur, dan bleeding.
Kebutuhan akan stabilitas sebanding dengan fungsi jalan, dan beban lalu lintas
yang akan dilayani. Faktor-faktor yang mempengaruhi nilai stabilitas beton aspal
adalah :
1. Gesekan internal, yang dapat berasal dari kekasaran permukaan dari butir-
butir agregat, luas bidang kontak antar butir atau bentuk butir, gradasi
agregat, kepadatan campuran, dan tebal film aspal. Stabilitas terbentuk
dari kondisi gesekan internal yang terjadi di antara butir-butir agregat,
saling mengunci dan mengisinya butir-butir agregat, dan masing-masing
butir saling terikat akibat gesekan antar butir dan adanya aspal. Kepadatan
campuran menentukan pula tekanan kontak, dan nilai stabilitas campuran.
Pemilihan agregat bergradasi baik atau rapat akan memperkecil rongga
antar agregat, sehingga aspal yang dapat ditambahkan dalam campuran
menjadi sedikit.
2. Kohesi, adalah gaya ikat aspal yang berasal dari daya lekatnya, sehingga
mampu memelihara tekanan kontak antar butir agregat. Daya kohesi
terutama ditentukan oleh penetrasi aspal, perubahan viskositas akibat
temperatur, tingkat pembebanan, komposisi kimiawi aspal, efek dari waktu
dan umur aspal.
Keawetan atau durabilitas adalah kemampuan beton aspal menerima
repitisi beban lalu lintas seperti berat kendaraan dan gesekan antara roda
kendaraan dan permukaan jalan, serta menahan keausan akibat pengaruh cuaca

131
dan iklim, seperti udara, air, atau perubahan temperatur. Durabilitas beton aspal
dipengaruhi oleh tebalnya film atau selimut aspal, banyaknya pori dalam
campuran, kepadatan dan kedap airnya campuran. Selimut aspal yang tebal akan
membungkus agregat secara baik, beton aspal akan lebih kedap air, sehingga
kemampuannya menahan keausan akan semakin baik. Tetapi semakin tebal
selimut aspal, maka semakin mudah terjadi bleeding yang mengakibatkan jalan
semakin licin. Besarnya pori yang tersisa dalam campuran setelah pemadatan,
mengakibatkan durabilitas beton aspal menurun. Semakin besar pori yang tersisa
semakin tidak kedap air dan semakin banyak udara di dalam beton aspal , yang
menyebabkan semakin mudahnya selimut aspal beroksidasi dengan udara dan
menjadi getas, dan durabilitasnya menurun.
Kelenturan atau fleksibilitas adalah kemampuan beton aspal untuk
menyesuaikan diri akibat penurunan (konsolidasi / settlement) dan pergerakan dari
pondasi atau tanah dasar, tanpa terjadi retak. Penurunan terjadi akibat dari repetisi
beban lalu lintas, ataupun penurunan akibat beban sendiri tanah timbunan yang
dibuat di atas tanah asli. Fleksibilitas dapat ditingkatkan dengan mempergunakan
agregat bergradasi terbuka dengan kadar aspal yang tinggi.
Ketahanan terhadap kelelahan (fatique resisitance) adalah kemampuan
beton aspal menerima lendutan berulang akibat repetisi beban, tanpa terjadinya
kelelahan berupa alur dan retak. Hal ini dapat tercapai jika mempergunakan kadar
aspal yang tinggi.
Kekesatan / tahanan geser (skid resistance) adalah kemampuan
permukaan beton aspal terutama pada kondisi basah, memberikan gaya gesek
pada roda kendaraan sehingga kendaraan tidak tergelincir, ataupun slip. Faktor-
faktor untuk mendapatkan kekesatan jalan sama dengan untuk mendapatkan
stabilitas yang tinggi, yaitu kekasaran permukaan dari butiran agregat, luas bidang
kontak antar butir atau bentuk butir, gradasi agregat, kepadatan campuran, dan
tebal film aspal. Ukuran maksimum butir agregat ikut menentukan kekesatan
permukaan. Dalam hal ini agregat yang digunakan tidak saja harus mempunyai

132
permukaan yang kasar, tetapi juga mempunyai daya tahan untuk permukaannya
tidak mudah menjadi licin akibat repitisi kendaraan.
Kedap air (impermeabilitas) adalah kemampuan beton aspal untuk tidak
dapat dimasuki air ataupun udara ke dalam lapisan beton aspal. Air dan udara
dapat mengakibatkan percepatan proses penuaan aspal, dan pengelupasan film /
selimut aspal dari permukaan agregat. Jumlah pori yang terisa setelah beton aspal
dipadatkan dapat menjadi indikator kekedapan air campuran. Tingkat
impermebilitas beton aspal berbanding terbalik dengan tingkat durabilitasnya.
Mudah dilaksanakan (workability) adalah kemampuan campuran beton
aspal untuk mudah dihamparkan dan dipadatkan. Tingkat kemudahan dalam
pelaksanaan, menentukan tingkat efisiensi pekerjaan. Faktor yang mempengaruhi
tingkat kemudahan dalam proses penghamparan adalah viskositas aspal, kepekaan
aspal terhadap perubahan temperatur, dan gradasi serta kondisi agregat. Revisi
atau koreksi terhadap rancangan campuran dapat dilakukan jika ditemukan
kesukaran dalam pelaksanaan.
Ketujuh sifat campuran beton aspal ini tak mungkin dapat dipenuhi
sekaligus oleh satu jenis campuran. Sifat-sifat beton aspal mana yang dominan
lebih diinginkan, akan menentukan jenis beton aspal yang dipilih.

9.7 Agregat untuk perkerasan jalan


Agregat didefinisikan secara umum sebagai formasi kulit bumi yang keras
dan padat. ASTM mendefinisikan agregat sebagai suatu bahan yang terdiri dari
mineral padat, berupa massa berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen .
Agregat merupakan komponen utama dari struktur perkerasan jalan, yaitu
90-95% berdasarkan persentase berat, atau 75-85% agregat berdasarkan
persentase volume. Dengan demikian kualitas perkerasan jalan ditentukan juga
dari sifat agregat dan hasil campuran agregat dengan material lain. Agregat yang
digunakan dapat berasal dari artegat alam maupun agregat buatan. Berdasarkan
pengolahannya agregat dapat dibedakan atas agregat siap pakai, dan agregat yang
perlu diolah terlebih dahulu sebelum dipakai.

133
Bedasarkan ukuran butirnya agregat dapat dibedakan atas agregat kasar,
agregat halus, dan bahan pengisi (filler). Batasan dari masing-masing agregat
ini seringkali berbeda, sesuai dengan institusi yang menentukannya.
The Asphalt Institut dan Depkimpraswil dalam Spesifikasi Baru Campuran
Panas, 2002 membedakan agregat menjadi :
1. Agregat kasar, adalah agregat dengan ukuran butir lebih besar dari
saringan nomor 8 (= 2,36 mm).
2. Agregat halus, adalah agregat dengan ukuran butir lebih halus dari
saringan nomor 8 (= 2,36 mm).
3. Bahan pengisi (filler), adalah bagian dari agregat halus yang lolos saringan
nomor 30 (= 0,60 mm).
Bina Marga membedakan agregat menjadi :
1. Agregat kasar, adalah agregat dengan ukuran butir lebih besar dari
saringan nomor 4 (= 4,75 mm).
2. Agregat halus, adalah agregat dengan ukuran butir lebih halus dari
saringan nomor 4 (= 4,75 mm).
3. Bahan pengisi (filler), adalah bagian dari agregat halus yang minimum
75 % lolos saringan nomor 200 (= 0,075 mm).
Sifat Agregat Sebagai Material Perkerasan Jalan
Sifat agregat merupakan salah satu faktor penentu kemampuan perkerasan
jalan memikul beban lalu lintas dan daya tahan terhadap cuaca. Oleh karena itu
perlu pemeriksaan yang teliti sebelum diputuskan suatu agregat dapat
dipergunakan sebagai material perkerasan jalan, diantaranya :
1.Gradasi Agregat
Gradasi adalah susunan butir agregat sesuai ukurannya. Ukuran butir
agregat dapat diperoleh melalui pemeriksaan analisis saringan. Untuk pengerjaan
beton aspal umumnya terdiri dari saringan berukuran 1 inci, 3/4 inci, 1/2 inci, 3/8
inci, No.4,No.8, No.16, No.30, No.50, No.100, dan No.200. Tabel 2.3
menunjukkan bukaan dari masing-masing saringan berdasarkan AASHTO.

134
Gradasi agregat dinyatakan dalam persentase lolos,
atau persentase tertahan, yang dihitung berdasarkan
berat agregat.
Gradasi agregat menentukan besarnya rongga atau
pori yang mungkin terjadi dalam agregat campuran.
Agregat campuran yang terdiri dari agregat berukuran
sama akan berongga atau berpori banyak, karena tak
terdapat agregat berukuran lebih kecil yang dapat
mengisi rongga yang terjadi. Sebaliknya, jika campuran
agregat terdistribusi dari agregat berukuran besar
sampai kecil secara merata, maka rongga atau pori yang
terjadi sedikit. Hal ini disebabkan karena rongga yang
terbentuk oleh susunan agregat berukuran besar, akan
diisi oleh agregat berukuran lebih kecil.

Jenis Gradasi Agregat, terdiri dari:

Agregat bergradasi kasar adalah agregat bergradasi baik yang mempunyai


susunan ukuran menerus dari kasar sampai dengan halus, tetapi dominan
berukuran agregat kasar.

Agregat bergradasi halus adalah agregat bergradasi baik yang mempunyai


susunan ukuran menerus dari kasar sampai dengan halus, tetapi dominan
berukuran agregat halus.

Agregat bergradasi buruk tidak memenuhi persyaratan gradasi baik. Terdapat


berbagai macam nama gradasi agregat yang dapat dikelompokkan ke dalam
agregat bergradasi buruk, seperti :
Agregat bergradasi seragam, adalah agregat yang hanya terdiri dari butir-butir
agregat berukuran sama atau hampir sama. Campuran agregat ini mempunyai pori
antar butir yang cukup besar, sehingga sering dinamakan juga agregat bergradasi
terbuka. Rentang distribusi ukuran butir yang ada pada agregat bergradasi
seragam tersebar pada rentang yang sempit.

135
Agregat bergradasi terbuka, adalah agregat yang distribusi ukuran butirnya
sedemikian rupa sehingga pori-porinya tidak terisi dengan baik.
Agregat bergradasi senjang, adalah agregat yang distribusi ukuran butirnya
tidak menerus, atau ada bagian ukuran yang tidak ada, jika ada hanya sedikit
sekali.

Secara umum terdapat perbedaan yang mendasar dari sifat campuran agregat
bergradasi baik dan buruk seperti yang terlihat pada Tabel 9.3

Gambar 9.5 Ilustrasi rentang ukuran butir pada berbagai gradasi

Tabel 9.3 Sifat agregat campuran


Agregat Agregat
Sifat
bergradasi buruk bergradasi balk
Stabilitas buruk Baik
Permeabilitas baik Buruk
Tingkat kepadatan buruk Baik
Rongga pori besar Sedikit

Ukuran Maksimum Agregat, dinyatakan dengan :


Ukuran maksimum agregat, yaitu menunjukkan ukuran saringan terkecil
dimana agregat yang lolos saringan tersebut sebanyak 100%.

Ukuran nominal maksimum agregat, menunjukkan ukuran saringan terbesar


dimana agregat yang tertahan saringan tersebut sebanyak tidak lebih dari 10%.

Ukuran maksimum agregat ikut menentukan tebal minimum lapisan


perkerasan yang mungkin dapat dilaksanakan. Sebagai patokan awal, tebal
lapisan minimum sama dengan dua kali ukuran agregat maksimum.

Tabel 9.4 menunjukan tipe-tipe gradasi agregat berdasarkan Aspalt Institute

136
137
138