Anda di halaman 1dari 4

Nama : Anies Syahfitri

NPM : 1513024045

Paper zoologi vertebrata

1. Bagaimana proses ganti kulit pada ular?

Jawab : proses ganti kulit atau shedding pada ular didahului oleh suatu periode tidak
aktif. Periode ini biasanya berlangsung 1-2 minggu, selama waktu tersebut penampilan mata
mulai memperlihatkan yaitu kusam putih kebiruan. Selama periode ini, fisik ular terganggu,
yang menyebabkan mereka agak tak terduga dan terkadang agresif. Kulit selama periode ini
cenderung memiliki penampilan membosankan secara keseluruhan. Kulit baru yang
mendasari adalah lembut dan rentan terhadap kerusakan sementara lapisan luar
mempersiapkan diri untuk mendesau pergi. Mata kembali menjadi transparan setelah 7-15
hari dan shedding dimulai. Seekor ular akan menggunakan benda kasar atau permukaan
dalam kandang untuk membantu melepaskan kulit. Shedding dimulai dengan kulit kepala.
Setelah ular telah melonggarkan dan copot kulit di sekitarnya mulut dan hidung, itu kemudian
melewati antara obyek kasar yang dapat menjebak kulit longgar dan tahan seperti ular
meluncur keluar dari kulit "lama". Kulit tampak kering dan dibuang seperti tabung atau
lembab dan kusut di gugurkan soliter. Banyak ular buang air besar setelah proses shedding
sukses, atau mengkonsumsi sejumlah besar air. Ular sehat biasanya mengalami sedikit
kesulitan atau tidak sama sekali dengan proses shedding dan cenderung untuk
menumpahkan kulit mereka dalam keadaan utuh secara keseluruhan. Pengecualian ini
termasuk ular dengan luka pada kulit dan atau timbangan yang mengakibatkan bekas luka,
dan ular ditempatkan di kandang dengan suhu sub-optimal dan atau relatif tingkat
kelembaban. terkait Tekanan dengan shedding sangat besar. Ular yang sakit atau tidak
sehat, mereka yang menderita kekurangan gizi, Ular ini cenderung untuk mengelupaskan
kulit mereka di potong. Bahkan, banyak dari potongan-potongan tetap menempel pada
kulit yang mendasari mata (mata topi dipertahankan).(kurniati,2009)

Kelembaban adalah kunci untuk mencegah masalah ganti kulit pada ular.Dimulai waktu mata
ular mulai kelabu, selalu dianjurkan untuk menyemprotkan air didalam kandang untuk
menjaga kelembaban.Tempat air juga harus ada untuk tempat ular berendam menjelang
gantikulit itu.Beberapa ular kadang mengalami kesulitan sewaktu ganti kulit yang
diakibatkan lingkungan yang kering atau bekas luka. Selalu memeriksa kulit lama yang
harusnya dalam satu bentuk dan tidak terpecah-pecah. Yakinlah kalau bagian ekor juga ikut
mengelupas. Karena pengelupasan bagian ekor yang tidak sempurna bisa mengakibatkan
kulitlama menumpuk dan membuat aliran darah ke bagian ekor tidak sempurna dan akhirnya
harus diamputasi karena membusuk. Pada bagian mata, apabila tertinggal harus
disingkirkanuntuk mencegah infeksi yang mengakibatkan kebutaan pada ular.Untuk
menyingkirkan kulit mata, basahi mata ular dengan air bersih lalu gunakan dobel tape, sentuh
bagian mata supaya kulit lama menempel. Apabila kulit di bagian mata masih juga
menempel,segera jumpai dokterhewan yang berpengalaman.(Hariyanti, 2007)
2. Apa fungsi foramen penizae pada buaya?

Jawab : foramen pennizae pada buaya yaitu merupakan lubang yang terdapat pada tempat
pertemuan arteri sistemik kanan dan kiri, di bagian jantung. Yang memiliki fungsi untuk
memungkinkan pemberian oksigen ke alat-alat pencernaan dan untuk keseimbangan tekanan
dalam air ketika sedang menyelamdan katup khusus yang menutup jalan darah ke arteri
pulmoner berkontraksi dan mencegah darah menuju ke paru-paru. Darah yang masuk
ventrikel kanan akan langsung bergerak ke ventrikel kiri melalui Foramen Panizzae.
(Soertono 1998: 129).

karena adanya foramen panizzae, juga percampuran darah terjadi pada titik di mana arcus
aorta dekster dan sinister bersatu untuk membentuk aorta dorsalis (Radiopoetro, 1996:517).

peredaran darah dalam arteri pulmonary rendah dan tekanan yang ditimbulkan oleh ventrikel
kanan lebih rendah daripada yang ditimbulkan oleh ventrikel kiri. Darah dipompa oleh
ventrikel kiri ke dalam lengkung sistemik kanan dan lengkung sistematik kiri melalui
foramen pennizae. Karen tekanan di dalam lengkung sistematik kiri tetap lebih tinggi
daripada tekanan di dalam ventrikel kanan, maka katub pada dasar lengkung sistematik kanan
tetap tertutup selama siklus jantung. Akibatnya semua darah yang dipompakan dari ventrikel
kanan masuk ke dakam arteri pulmonary dan mengalir kr dalam paru-paru. (Maskoeri,1992)
Gambar. Foramen pannizae atau foramen panizza pada jantung buaya

3. Apa prinsip penggolongan poiletrem dan homoterm?

Jawab : prinsip penggolongan poileterm dan homoterm terjadi karena adanya thermoregulasi
pada hewan.Thermoregulasi merupakan suatu proses homeostatis untuk menjaga agar suhu
tubuh suatu hewan tetap dalam keadaan stabil dengan cara mengatur dan mengontrol
keseimbangan antara banyak energi (panas) yang diproduksi dengan energi yang dilepaskan.
Thermogenesis yang terdapat pada hewan diperoleh dari hewan sendiri atau dari absorbsi
panas lingkungan (Suripta, 1998).

Berdasarkan kemampuannya untuk mempertahankan suhu tubuh, hewan dapat


diklasifikasikan menjadi dua yaitu poikiloterm dan homeoterm. Hewan poikiloterm yaitu
hewan yang suhu tubuhnya selalu berubah seiring dengan berubahnya suhu lingkungan.
Sementara, hewan homeoterm yaitu hewan yang suhu tubuhnya selalu konstan/ tidak berubah
sekalipun suhu lingkungannya sangat berubah. Hewan poikiloterm juga dapat disebut sebagai
ektoterm karena suhu tubuhnya ditentukan dan dipengaruhi oleh suhu lingkungan
eksternalnya. Sementara, homeoterm dapat disebut endoterm karena suhu tubuhnya diatur
oleh oleh produksi panas yang terjadi didalam tubuh. (Isnaeni, 2006).

Dalam produksi panas tubuh memperoleh panas sebagai akibat dari aktivitas metabolisme
jaringan tubuh dan dari lingkungan luar bila lingkungan luar itu lebih tinggi temperaturnya
(lebih panas) ketimbang temperatur tubuh. Bentuk penyesuaian fisiologinya adalah bahwa
panas yang dihasilkan oleh tubuh akan meningkat dengan menurunnya temperatur luar.
Sebaliknya, temperatur sekitar (ambient temperature) yang tinggi akan menurunkan jumlah
panas yang panas yang dihasilkan oleh tubuh. Hal itu dapat dikaitkan melambatnya aktivitas
metabolisme, menurunnya luaran kerja, dan menurunnya tonus otot. Secara umum,
mekanisme yang berlangsung untuk menghasilkan panas meliputi peningkatan aktivitas
metabolisme jaringan, peningkatan aktivitas otot, dan produksi panas (thermogenesis) tanpa
aktivitas menggigil (Indrowati.2012).

Daftar pustaka:
Hariyanti,Rosana.2007. Atlas Binatang.Tiga Serangkai. Solo
Indrowati, Meti.2012. Modul Praktikum Fisiologi Hewan. Pendidikan Biologi FKIP UNS
Isnaeni,Wiwi. 2006. Fisiologi Hewan. Kanisius. Yogyakarta
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Vertebrata. Sinar Wijaya. Surabaya
Kurniati, tuti dkk. 2009. Zoologi Vertebrata. HMPB Painting. Bandung
Radiopoetro.1998. Zoologi. Erlangga. Jakarta
Soertono. 1998. Jenis-Jenis reptil. Pustaka Indah. Bogor
Suripta, Melvin J., and W.A Reece.1998. Dukes Physiology of Dosmetic Animals. Cornell
University Press. London.