Anda di halaman 1dari 10

PERENCANAAN PELABUHAN

A. Pendahuluan
Pembangunan pelabuhan memakan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu
diperlukan suatu perhitungan dan pertimbangan yang masak untuk memutuskan
pembangunan suatu pelabuhan. Keputusan pembangunan pelabuhan biasanya didasarkan
pada pertimbangan-pertimbangan ekonomi, politik dan teknis. Ketiga dasar pertimbangan
tersebut saling berkaitan, tetapi biasanya yang paling menentukan adalah pertimbangan
ekonomi.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan didalam pembangunan suatu pelabuhan
adalah kebutuhan akan pelabuhan dan pertimbangan ekonomi, volume perdagangan
melalui laut, dan adanya hubungan dengan daerah pedalaman baik melalui darat maupun
air.
Sebelum memulai pembangunan pelabuhan umum harus dilakukan survey dan studi
untuk mengetahui volume perdagangan baik pada saat pembangunan maupun di masa
mendatang yang dapat di antisipasi dari daerah disekitarnya. Volume perdagangan ini
penting untuk menentukan layak tidaknya pelabuhan tersebut dibangun, pada pelabuhan
khusus, produksi dari suatu perusahaan biasanya sudah diketahui, sehingga pelabuhan
dapat direncanakan untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Setelah beberapa studi diatas dilakukan, selanjutnya ditetapkan lokasi secara umum
pelabuhan, fungsi utama pelabuhan, dan jenis serta volume barang yang dilayani. Langkah
berikutnya adalah membuat studi pendahuluan dan layout pelabuhan dalam persiapan
untuk membuat penyelidikan lapangan yang lebih lengkap yang diperlukan di dalam
pembuatan perencanaan akhir pelabuhan. Beberapa penyelidikan yang perlu dilakukan
adalah survey hidrografi, dan topografi; penyelidikan tanah di rencana lokasi pemecah
gelombang, dermaga, dan bangunan-bangunan pelabuhan lainnya; angin, arus, pasang
surut dan gelombang.
Perencanaan pelabuhan harus memperhatikan berbagai faktor yang akan berpengaruh
pada bangunan-bangunan pelabuhan dan kapal-kapal yang berlabuh. Ada tiga faktor yang
harus diperhitungkan seperti yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu angin, pasang surut,
dan gelombang. Angin menimbulkan arus dan gelombang. Angin juga dapat menimbulkan
tekanan pada kapal dan bangunan pelabuhan. Pasang surut adalah penting di dalam
menentukan dimensi bangunan seperti pemecah gelombang, dermaga, pelampung
penambat, kedalaman alur pelayaran, perairan pelabuhan dan sebagainya. Gelombang
yang menyerang bangunan pantai akan menimbulkan gaya-gaya yang bekerja pada
bangunan tersebut. Bangunan harus tetap aman terhadap gaya gelombang yang bekerja
padanya. Selain itu gelombang juga akan berpengaruh pada ketenangan di perairan
pelabuhan.
B. Persyaratan dan Perlengkapan Pelabuhan
Kapal laut diusahakan oleh suatu perusahaan pelayaran untuk mengangkut barang dan
atau penumpang. Keuntungan yang diperoleh perusahaan tersebut tergantung banyak
faktor seperti banyak/sedikitnya barang dan penumpang yang diangkut, waktu pelayaran
kapal, waktu singgah di pelabuhan, dan sebagainya.
Kapal yang berada di pelabuhan harus membayar biaya jasa pelabuhan, yang meliputi
biaya labuh, tambat, air, pandu, tunda, dermaga, dsb. Berbagai kegiatan yang ada di
pelabuhan antara lain melakukan bongkar muat barang, menaik-turunkan penumpang,
penyelesaian surat-surat administrasi, pengisian bahan bakar, reparasi, penyediaan
perbekalan dan air bersih, dsb.
Untuk bisa memberi pelayanan yang baik dan cepat, maka pelabuhan harus bisa
memenuhi beberapa persyaratan berikut ini :
1. Harus ada hubungan yang mudah antara transportasi air dan darat seperti jalan raya
dan kereta api, sedemikian sehingga barang-barang dapat diangkut ke dan dari
pelabuhan dengan mudah dan cepat.
2. Pelabuhan berada di suatu lokasi yang mempunyai daerah belakang (daerah pengaruh)
subur dengan populasi penduduk yang cukup padat.
3. Pelabuhan harus mempunyai kedalaman air dan lebar alur yang cukup.
4. Kapal-kapal yang mencapai pelabuhan harus bisa membuang sauh selama menunggu
untuk merapat ke dermaga guna bongkar muat barang atau mengisi bahan bakar.
5. Pelabuhan harus mempunyai fasilitas bongkar muat barang (kran, dsb) dan gudang-
gudang penyimpanan barang.
6. Pelabuhan harus mempunyai fasilitas untuk mereparasi kapal-kapal.
Untuk memenuhi persyaratan tersebut pada umumnya pelabuhan mempunyai
bangunan-bangunan.
1. Pemecah gelombang, yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan
dari gangguan gelombang. Gelombang besar yang datang dari laut lepas akan
dihalangi oleh bangunan ini. Apabila daerah perairan sudah terlindung secara alamiah,
maka tidak diperlukan pemecah gelombang.
2. Alur pelayaran, yang berfungsi untuk mengarahkan kapal-kapal yang akan
keluar/masuk ke pelabuhan. Alur pelayaran harus mempunyai kedalaman dan lebar
yang cukup untuk bisa dilalui kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan. Apabila laut
dangkal maka harus dilakukan pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang
diperlukan.
3. Kolam pelabuhan, merupakan daerah perairan dimana kapal berlabuh untuk
melakukan bongkar muat, melakukan gerakan untuk memutar (di kolam putar), dsb.
Kolam pelabuhan harus terlindung dari gangguan gelombang dan mempunyai
kedalaman yang cukup.
4. Dermaga, adalah bangunan pelabuhan yang di gunakan untuk merapatnya kapal dan
menambatkannya pada waktu bongkar muat barang. Ada dua macam dermaga yaitu
yang berada di garis pantai dan sejajar dengan pantai yang disebut quai atau wharf;
dan yang menjorok (tegak lurus) pantai disebut pier. Pada pelabuhan barang
dibelakang dermaga harus terdapat halaman yang cukup luas untuk menempatkan
barang-barang selama menunggu pengapalan atau angkutan ke darat. Dermaga ini
juga dilengkapi dengan kran untuk mengangkut barang dari dan ke kapal.
5. Alat penambat, digunakan untuk menambatkan kapal pada waktu merapat di dermaga
maupun menunggu di perairan sebelum bisa merapat ke dermaga. Alat penambat bisa
diletakkan di dermaga atau di perairan yang berupa pelampung penambat. Pelampung
penambat ditempatkan di dalam dan di luar perairan pelabuhan. Bentuk lain dari
pelampung penambat adalah dolphin yang terbuat dari tiang-tiang yang dipancang dan
dilengkapi dengan alat penambat.
6. Gudang, yang terletak di belakang dermaga untuk menyimpan barang-barang yang
harus menunggu pengapalan.
7. Gedung terminal untuk keperluan administrasi.
8. Fasilitas bahan bakar untuk kapal.
9. Fasilitas pandu kapal, kapal tunda dan perlengkapan lain yang diperlukan untuk
membawa kapal masuk/keluar pelabuhan. Untuk kapal-kapal besar, keluar/masuknya
kapal dari/ke pelabuhan tidak boleh dengan kekuatan (mesin) nya sendiri, sebab
perputaran baling-baling kapal dapat menimbulkan gelombang yang akan
mengganggu kapal-kapal yang sedang melakukan bongkar muat barang. Untuk itu
kapal harus di tarik oleh kapal tunda, yaitu kapal kecil bertenaga besar yang dirancang
khusus untuk menunda kapal.
10. Peralatan bongkar muat barang seperti kran darat, kran apung, kendaraan untuk
mengangkut/memindahkan barang seperti forklift.
11. Fasilitas-fasilitas lain untuk keperluan penumpang, anak buah kapal dan muatan kapal
seperti dokter pelabuhan, karantina, bea cukai, imigrasi, keamanan, dsb.
C. Pemilihan Lokasi Pelabuhan
Pemilihan lokasi untuk membangun pelabuhan meliputi daerah pantai dan daratan.
Pemilihan lokasi tergantung pada beberapa faktor seperti kondisi tanah dan geologi,
kedalaman dan luas daerah perairan, perlindungan pelabuhan terhadap gelombang, arus
dan sedimentasi, daerah daratan yang cukup luas untuk menampung barang yang akan di
bongkar muat, jalan-jalan untuk transportasi, dan daerah industri di belakangnya. Tetapi
biasanya faktor-faktor tersebut tidak bisa semuanya terpenuhi, sehingga diperlukan suatu
kompromi untuk mendapatkan hasil optimal.
Berbagai faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi pelabuhan adalah sebagai
berikut :
1. Biaya pembangunan dan perawatan bangunan-bangunan pelabuhan, termasuk
pengerukan pertama yang harus dilakukan.
2. Biaya operasi dan pemeliharaan, terutama pengerukan endapan di alur dan kolam
pelabuhan.
Tinjauan topografi dan geologi
Keadaan topografi daratan dan bawah laut harus memungkinkan untuk membangun
suatu pelabuhan dan kemungkinan untuk pengembangan di masa mendatang. Daerah
daratan harus cukup luas untuk membangun suatu fasilitas pelabuhan seperti dermaga,
jalan, gudang dan juga daerah industri. Apabila daerah daratan sempit maka pantai harus
cukup luas dan dangkal untuk kemungkinan perluasan daratan dengan melakukan
penimbunan pantai tersebut.
Selain keadaan tersebut, kondisi geologi perlu juga diteliti mengenai sulit tidaknya
melakukan pengerukan daerah perairan dan kemungkinan menggunakan hasil pengerukan
tersebut untuk menimbun tempat lain. Di beberapa tempat, daerah pantai (daratan)
merupakan daerah rawa yang sering tergenang air pada waktu air pasang dan merupakan
tanah yang mempunyai daya dukung sangat rendah untuk mendukung bangunan-bangunan
di atasnya.
Penggunaan bahan kerukan dasar laut untuk mereklamasi daerah rawa. daerah daratan
secara periodik dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Pada saat air surut daerah daratan
kering sedang pada waktu pasang tergenang air, daerah tersebut akan di bangun suatu
pelabuhan. Tanah hasil kerukan dasar laut digunakan untuk menimbun daratan, dengan
demikian diperoleh kedalaman perairan yang cukup untuk kolam pelabuhan, sementara
daerah rawa dapat direklamasi.
Tinjauan pelayaran
Pelabuhan yang dibangun harus mudah dilalui kapal-kapal yang akan
menggunakannya. Kapal yang berlayar dipengaruhi oleh faktor-faktor alam seperti angin,
gelombang dan arus yang dapat menimbulkan gaya-gaya yang bekerja pada badan kapal.
Faktor tersebut semakin besar apabila pelabuhan teletak di pantai yang terbuka ke laut.,
dan sebaliknya pengaruhnya berkurang pda pelabuhan yang terletak di daerah yang
terlindung secara alam. Pada umumnya angin dan arus mempunyai arah tertentu yang
dominan. Diharapkan bahwa kapal-kapal yang sedang memasuki pelabuhan tidak
mengalami dorongan arus pada arah tegak lurus sisi kapal. Demikian juga, sedapat
mungkin kapal-kapal harus memasuki pelabuhan pada arah sejajar dengan arah angin
dominan.
Tinjauan sedimentasi
Pengerukan untuk mendapatkan kedalaman yang cukup bagi pelayaran di daerah
perairan pelabuhan memerlukan biaya yang cukup besar. Pengerukan ini dapat dilakukan
pada waktu membangun pelabuhan maupun selama perawatan. Pengerukan selama
perawatan harus sedikit mungkin.
Pelabuhan harus dibuat sedemikian rupa sehingga sedimentasi yang terjadi harus
sesedikit mungkin (kalau bisa tidak ada). Untuk itu di dalam perencanaan pelabuhan harus
ditinjau permasalahan sedimentasi. Proses sedimentasi ini sulit ditanggulangi, oleh karena
itu masalah ini harus diteliti dengan baik untuk dapat memprediksi resiko pengendapan.
Sedimen yang ada pada daerah pantai bisa berupa pasir atau sedimen suspensi. Sedimen
suspensi biasanya berasal dari sungai-sungai yang bermuara di pantai.
Tinjauan gelombang dan arus
Gelombang menimbulkan gaya-gaya yang bekerja pada kapal dan bangunan
pelabuhan. Untuk menghindari gangguan gelombang terhadap kapal yang berlabuh maka
dibuat bangunan pelindung yang disebut pemecah gelombang.
Di dalam tinjauan pelayaran, diharapkan bahwa kapal-kapal dapat masuk ke
pelabuhan menurut alur pelayaran lurus (tanpa membelok) dan alur tersebut harus searah
dengan arah penjalaran gelombang terbesar dan arah arus. Suatu mulut pelabuhan yang
besar akan memudahkan kapal memasuki pelabuhan.
Akan tetapi pada umumnya persyaratan-persyaratan untuk kemudahan pelayaran tidak
bisa semuanya dipenuhi. Mulut pelabuhan yang besar dan menghadap arah datangnya
gelombang akan menyebabkan masuknya energi gelombang yang besar ke pelabuhan,
sehingga mengganggu kapal yang sedang bongkar muat barang. Demikian juga mulut
pelabuhan yang menghadap arah arus akan menyebabkan sedimentasi di pelabuhan.
Tinjauan kedalaman air
Kedalaman laut sangat berpengaruh pada perencanaan pelabuhan. Di laut yang
mengalami pasang surut variasi muka air kadang-kadang cukup besar. Menurut
pengalaman, tinggi pasang surut yang kurang dari 5 m masih dapat dibuat pelabuhan
terbuka. Bila lebih dari 5 m, maka terpaksa dibuat suatu pelabuhan tertutup yang
dilengkapi dengan pintu air untuk memasukkan dan mengeluarkan kapal. Di sebagian
besar perairan Indonesia, tinggi pasang surut tidak lebih dari 2 m sehingga digunakan
pelabuhan terbuka.
Untuk pelayaran, kapal-kapal memerlukan kedalaman air yang sama dengan sarat
(draft) kapal ditambah dengan suatu kedalaman tambahan. Kedalaman air untuk pelabuhan
didasarkan pada frekuensi kapal-kapal dengan ukuran tertentu yang masuk ke pelabuhan.
Jika kapal-kapal terbesar masuk ke pelabuhan hanya satu kali dalam beberapa hari, maka
kapal tersebut hanya boleh masuk pda waktu air pasang. Sedang kapal-kapal kecil harus
dapat masuk ke pelabuhan pada setiap saat.
Ukuran dan Bentuk Pelabuhan
Ukuran pelabuhan ditentukan oleh jumlah dan ukuran kapal-kapal yang akan
menggunakannya serta kondisi lapangan yang ada. Ditinjau dari segi biaya, ukuran
pelabuhan harus sekecil mungkin, tetapi masih memungkinkan pengoperasian yang
mudah. Pemakaian kapal tunda untuk membantu gerak kapal di dermaga juga berpengaruh
pada ukuran pelabuhan. Luas minimum pelabuhan adalah ruang yang diperlukan untuk
dermaga ditambah dengan kolam putar (turning basin) yang terletak didepannya. Ukuran
kolam putar tergantung pada ukuran kapal dan kemudahan gerak berputar kapal, yang
dapat dibedakan dalam empat macam.
1. Ukuran ruang optimum untuk dapat berputar dengan mudah memerlukan diameter
empat kali panjang kapal yang menggunakannya.
2. Ukuran menengah ruang putar dengan sedikit kesulitan dalam berputar mempunyai
diameter dua kali dari panjang kapal terbesar yang menggunakannya. Gerak putaran
akan lebih lama dan dapat dilakukan oleh kapal dan bantuan kapal tunda.
3. Ruang putaran kecil yang mempunyai diameter kurang dari dua kali panjang kapal.
Gerakan berputar dapat dilakukan dengan menggunakan jangkar dan bantuan kapal
tunda.
4. Ukuran minimum ruang putaran harus mempunyai diameter 20 % lebih panjang dari
panjang kapal terbesar yang menggunakannya. Dalam hal ini untuk membantu
perputaran, kapal harus ditambatkan pada suatu titik tetap, misalnya dengan
pelampung, dermaga, atau jangkar.
Pelabuhan dengan dermaga (pier) tunggal dan kolam putar serta alur pendekatan yang
panjang dan diperlebar pada ujung dekat pantai untuk memungkinkan gerak berputarnya
kapal. Gambar tersebut menunjukkan bahwa pelabuhan tersebut memerlukan ruang
minimum dan dapat menampung dua kapal. Pelabuhan ini dibuat dengan mengeruk alur
pada air dangkal. Pelabuhan terlindung secara alam oleh suatu pulau, sehingga tidak
memerlukan pemecah gelombang. Di pelabuhan ini kapal yang akan meninggalkan
dermaga harus membelok sendiri terhadap ujung pier dan kemudian meninggalkan
pelabuhan melalui alur pendekatan.
Dalam hal ini angin dan gelombang mempunyai satu arah, dan ketenangan air di
pelabuhan diperoleh dengan membuat satu pemecah gelombang yang bermula dari garis
pantai dan kemudian membelok sejajar pantai. Kedalaman air bertambah dengan cepat dari
garis pantai, sehingga lebar pelabuhan dapat dibatasi. Pemecah gelombang dimanfaatkan
sebagai dermaga yang dapat digunakan oleh dua buah kapal. Kapal berputar dengan
menggunakan bantuan dolphin.
Bentuk pelabuhan yang panjang dan sempit dengan mulut masuk pelabuhan di satu
ujung dan mulut keluar pada ujung lain. Dermaga dapat digunakan untuk berlabuh empat
kapal. Di dekat pemecah gelombang yang sejajar pantai dilengkapi dengan alat penambat
yang digunakan sebagai tempat tunggu selama dermaga masih digunakan.
Bentuk pelabuhan dengan daerah perairan dilindungi oleh dua buah pemecah
gelombang dengan satu mulut, sejumlah dermaga dan kolam putar besar berbentuk
lingkaran dengan jari-jari sama dengan dua kali panjang kapal terbesar. Pelabuhan ini juga
dilengkapi dengan tempat penungguan sebelum kapal mendapat giliran merapat di
dermaga. Selain itu juga terdapat tempat untuk kapal-kapal kecil.
Pemecah Gelombang
Pemecah gelombang yang digunakan untuk melindungi daerah perairan pelabuhan
semi alam dan buatan. Lay out pemecah gelombang tergantung pada arah gelombang
dominan, bentuk garis pantai, ukuran minimum pelabuhan yang diperlukan untuk
melayani trafik di pelabuhan tersebut. Pemecah gelombang bisa berupa dua lengan yang
menjorok ke laut dari garis pantai dan sebuah pemecah gelombang yang sejajar pantai dan
dilengkapi dengan dua mulut untuk masuk dan keluarnya kapal. bentuk lain adalah satu
lengan pemecah gelombang yang berawal dari pantai menuju ke laut yang kemudian
membelok dan sejajar pantai. Di sini terdapat satu mulut, dan digunakan apabila angin dan
gelombang berasal dari satu arah. Pemecah gelombang bisa pula terdiri dua lengan yang
menjorok ke laut dari garis pantai dengan kedua lengan tersebut konvergen dan
membentuk suatu celah di laut untuk jalan masuk dan keluar kapal.
Lokasi dan Lebar Mulut Pelabuhan
Untuk mengurangi tinggi gelombang di perairan pelabuhan, mulut pelabuhan tidak
boleh lebih besar dari yang diperlukan untuk keamanan pelayaran atau arus berbahaya
yang ditimbulkan oleh pasang surut. Lebar mulut pelabuhan tergantung pada ukuran
pelabuhan dan kapal-kapal yang menggunakan pelabuhan. Biasanya untuk pelabuhan kecil
lebar mulut pelabuhan adalah 100 m, pelabuhan sedang antara 100 m dan 160 m, dan untuk
pelabuhan besar adalah 160 m sampai 260 m. apabila mulut berada diantara pemecah
gelombang dengan sisi miring maka lebarnya diukur pada air rendah, yaitu sama dengan
lebar yang diperlukan ditambah dengan lebar karena kemiringan sisi bangunan pada
kedalaman tersebut. Misalnya jika lebar mulut adalah 150 m dan mulut tersebut berada
diantara pemecah gelombang dengan kemiringan 1 : 3, maka untuk pelabuhan dengan
kedalaman 10 m, lebar pada muka air rendah adalah 210 m.
Gelombang dari laut dalam akan masuk ke pelabuhan melalui mulut pelabuhan.
Dalam perjalanannya masuk ke pelabuhan, tinggi gelombang berkurang secara berangsur-
angsur karena adanya proses difraksi, yaitu menyebarnya energi gelombang ke seluruh
lebar daerah perairan pelabuhan. Tinggi gelombang di kolam pelabuhan dapat dihitung
dengan rumus Stevenson. Rumus tersebut hanya memberikan hasil perkiraan. Untuk
mendapatkan gambaran yang lebih jelas dari kondisi gelombang di kolam pelabuhan
diperlukan tes model hidraulis.
`Rumus Stevenson mempunyai bentuk :

Dengan :
Hp : tinggi gelombang di titik P di dalam pelabuhan (m).
H : tinggi gelombang di mulut pelabuhan (m).
b : lebar mulut (m).
D : jarak dari mulut ke titik P
B : lebar kolam pelabuhan di titik P, yaitu panjang busur lingkaran dengan jari- jari
D dan pusat pada titik tengah mulut (m).
Persamaan tersebut tidak berlaku pada titik yang berjarak kurang dari 15 m dari mulut.
DATA KAPAL
Daerah yang diperlukan untuk pelabuhan tergangtung pada karakteristik kapal yang
akan berlabuh. Pengembangan pelabuhan di masa mendatang harus meninjau daerah
perairan untuk alur, kolam putar, penambatan, dermaga, tempat pembuangan bahan
pengerukan, daerah daratan yang diperlukan untuk penempatan, penyimpanan dan
pengangkutan barang-barang. Kedalaman dan lebar alur pelayaran tergantung pada kapal
terbesar yang menggunakan pelabuhan. Kuantitas angkutan (trafik) yang diharapkan
menggunakan pelabuhan juga menentukan apakah alur untuk satu jalur atau dua jalur. Luas
kolam pelabuhan dan panjang dermaga sangat dipengaruhi oleh jumlah dan ukuran kapal
yang akan berlabuh. Untuk keperluan perencanaan pelabuhan tersebut, maka berikut ini
diberikan dimensi dan ukuran kapal secara umum, seperti terlihat dalam tabel 1.

Tabel 1. Dimensi dan Ukuran Kapal


Sesuai dengan penggolongan pelabuhan dalam empat sistem pelabuhan, maka kapal-
kapal yang menggunakan pelabuhan tersebut juga disesuaikan, seperti terlihat dalam tabel
2.
Tabel 2. Dimensi kapal pada pelabuhan

Gambar 1. Dimensi kapal

Dimana : B = lebar kapal,


d = tinggi bagian kapal terendam,
Lpp = panjang kapal,
Loa = panjang kapal dari muka air