Anda di halaman 1dari 4

Nama: Rodifan Maarij Firman DwI Putro

NIM: 145040200111179

Kelas: Q

Tugas Ringkasan

Sebagai makhluk hidup seperti halnya binatang atau


tumbuhan manusia juga memiliki insting supaya mampu bertahan
hidup dan berkembangbiak. Insting ini mewujudkan diri dalam
beberapa bentuk, yakni: insting berfikir (intelektual) dan insting
ketuhanan. Pola pikir dan berkembang tidaknya insting ketuhanan
inilah yang membangun ciri khas seseorang atau masyarakat untuk
melakukan pola tindak dan mentalitasnya yang kemudian
terakumulasi menjadi kebiasaan. Kebiasaan inilah dalam bahasa
sehari-hari dikenal sebagai karakter seseorang atau masyarakat
tertentu. Karakter tersebut bias berupa sifat: periang, pemarah,
tersinggungan, pendiam, pemurung, dan sebagainya.

Istilah karakter diambil dari bahasa Inggris character yang


berarti tabiat atau watak yang bersifat khusus pada setiap individu
manusia sebagai bagian dari keanekaragaman jenis yang
diekspresikan dalam bentuk perilaku. Demikian luas variasi karakter
setiap individu dapat dikatakan bahwa karakter setiap individu
manusia tidaklah sama. Membangun kebersamaan untuk mencapai
hidup yang sejahtera lahir batin dalam perbedaan karakter melalui
pendidikan, menciptakan lingkungan bermasyarakat yang kondusif,
dan kemauan politik yang sunggguh-sungguh guna mewujudkan
peradaban yang berkah.

Pendidikan merupakan metode yang paling valid dalam


transfer pengetahuan dari generasi ke generasi, yang tanpa itu
peradaban manusia tidak akan terbangun. Nilai positif pendidikan
yang bersifat pengembangan pengetahuan semata adalah
kemampuan anak bangsa untuk mampu melihat jauh ke masa
depaan mengenai kondisi atau posisi bangsa ini dibanding dengan
bangsa-bangsa lain. Dengan kemampuan tersebut akan
memunculkan etos kerja yang lebih baik. Hal ini akan terpacu
apabila nilai-nilai sosial masyarakat telah tertanam kokoh dalam
karakter bangsa. Bila hal tersebut telah berjalan berimbang maka
tentu akan muncul ketrampilan social bermasyarakat yang sangat
dinantikan.

Etos kerja suaru bangsa pada dasarnya terbangun oleh akar


budaya yang ada di dalamnya, yakni: agama atau sistem
kepercayaan, sistem sosial, dan budaya yang menjadi kebiasaanya.
Dalam masyarakat yang menganut sistem social yang sekuler tentu
saja nilai-nilai agama terpinggirkan sehingga untuk memacu etos
kerja yang memadai mereka menggunakan keunggulan material
semata, di mana waktu merupakan fungsi dari produk materi
dengan moto hidupnya time is money. Perlu adanya terobosan yang
dipercepat agar supaya bangsa kita bangkit dari lemahnya etos
kerja menjadi bangsa yang memiliki etos kerja yang mampu
bersaing dalam dimensi pluralistik yang mengglobal saat ini melalui
beberapa langkah, antara lain: alih teknologi yang tepat guna,
peningkatan pengetahuan wirausaha yang menjanjikan disertai
pendampingan yang bertanggung jawab, dan tersedianya
permodalan lunak (tanpa bunga) untuk mengembangkan sektor-
sektor usaha masyarakat yang tebina dengan benar.

Bangsa Indonesia dalam membangun bangsa seabaiknya


tidak mengadopsi mentah-mentah bahan dasar dari barat yang
notabene telah menghilangkan moral dan etika agama. Ajaran
moral dalam agama jauh lebih mengikat dibandingkan dengan yang
dibangun secara sosial-budaya. Ajaran moral dalam agama bukan
hanya menyentuh pada hal-hal yang sifatnya pribadi namun juga
masuk ke jantung kehidupan sosial bermasyarakat, karena tanpa
adanya jajaran moral yang mengikat kuat dalam anggota
masyarakat tersebut sudah pasti akan terjadi tubrukan antar nilai-
nilai yang tidak jelas mana kebenarannya. Moral yang sudah
dibangun harus dirajut menjadi aturan yang kokoh baik secara
tertulis maupun secara sosial; aturan inilah yang kita kenal sebagai
etika bermasyarakat.

Dalam ilmu pertanian makin heterogen jenis tanaman dalam


suatu hamparan lahan maka tanaman akan semakin tahan
terhadap hama dan penyakit dibandingkan dengan yang homogen.
Apabila teori ini diaplikasikan dalam teori sosial bermasyarakat,
tentu akan berdampak pada hal yang sama yakni makin heterogen
karakter anak bangsa makan akan semakin tahan terhadap nilai
luar yang dapat menghancurkan ekstensi kebangsaan kita. Jadi
sebenarnya misi utama kemanusiaan di jagad raya ini adalah untuk
saling melengkapi sehingga hidup duniawah ini menjadi berkah
dalam menuju kehidupan akhirat yang mulia. Perguruan tinggi
mempunyai peranan besar untuk membangun karakter bangsa
karena di dalamnya tersedia sumber daya manusia yang telah
terkondisikan untuk saling tukar pendapat dan bekerjasama dalam
penerapan teknologi yang baru termasuk di dalamnya soft
technology seperti membangun sistem sosial yang mempunyai etos
kerja dan moral yang tinggi.

Pertanyaan:

1. Apa itu karakter?


2. Kenapa karakter berperan penting dalam pembangunan
peradaban?
3. Siapa yang berperan dalam membangun karakter dan pola pikir
seseorang?
4. Kapan sebaiknya kita menggunakan karakter kita guna
meningkatkan etos kerja?
5. Dimana dasar atau sumber yang kita gunakan untuk
membangun suatu karakter yang berperan penting dalam etos
kerja dan pembangunan bangsa?
6. Bagaimana karakter bisa menentukan etos kerja suatu bangsa?