Anda di halaman 1dari 3

A.

Pengakuan Kewajiban
Kewajiban pemerintah diakui jika besar kemungkinan pengeluaran sumber daya
ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban yang ada sampai saat ini, dan
kewajiban tersebut dapat diukur dengan andal.
Prasyarat peristiwa masa lalu sangat penting dalam pengakuan kewajiban. Peristiwa
tersebut menimbulkan suatu konsekuensi keuangan terhadap suatu entitas. Peristiwa yang
dimaksud mungkin dapat berupa suatu kejadian internal dalam entitas seperti timbul
kewajiban kepada pegawai organisasi pemerintah akibat pemerintah belum membayar
tunjangan pegawai, ataupun dapat berupa kejadian eksternal yang melibatkan interaksi antara
suatu entitas dengan lingkungannya seperti adanya transaksi dengan entitas lain.
Kewajiban diakui pada saat dana pinjaman diterima dan/atau pada saat kewajiban
timbul. Kewajiban dapat timbul dari:
(a) transaksi pertukaran (exchange transactions);
(b) transaksi tanpa pertukaran (non-exchange transactions), dimana pemerintah belum
melaksanakan kewajibannya sampai akhir periode akuntansi;
(c) kejadian yang berkaitan dengan pemerintah (government-related events); dan
(d) kejadian yang diakui pemerintah (government-acknowledged events).
Suatu transaksi dengan pertukaran timbul ketika masing-masing pihak dalam transaksi
tersebut mengorbankan dan menerima suatu nilai sebagai gantinya. Terdapat dua arus timbal
balik atas sumber daya atau janji untuk menyediakan sumber daya. Dalam transaksi dengan
pertukaran, kewajiban diakui ketika satu pihak menerima barang atau jasa sebagai gantinya
pemerintah berjanji untuk memberikan uang atau sumber daya lain di masa depan.

Contoh kewajiban yang timbul dari transaksi dengan pertukaran.


Pada tanggal 10 Oktober 2005, Pemkot Bandung melakukan pengadaan personal computer
(PC) dengan PT Smart Teknik dengan nilai Rp 60.000.000. Pemkot Bandung dan PT Smart
Teknik sepakat untuk pembayaran komputer tersebut dilakukan pada 1 Matret 2006.
Atas transaksi tersebut, Pemkot Bandung akan mencatat dan melaporkan di neracanya
kewajiban jangka pendek sebesar Rp 60.000.000 pada tanggal 10 Oktober 2005, ketika
komputer tersebut diterima.

Suatu transaksi tanpa pertukaran timbul ketika satu pihak dalam suatu transaksi
menerima nilai tanpa secara langsung memberikan atau menjanjikan nilai sebagai gantinya.
Hanya ada satu arah arus sumber daya atau janji. Untuk transaksi tanpa pertukaran,
kewajiban harus diakui atas jumlah terutang yang belum dibayar pada tanggal pelaporan.
Beberapa jenis hibah dan program bantuan umum dan khusus kepada entitas
pelaporan lainnya merupakan transaksi tanpa pertukaran. Ketika pemerintah pusat membuat
program pemindahan kepemilikan atau memberikan hibah atau mengalokasikan dananya ke
pemerintah daerah, persyaratan pembayaran ditentukan oleh peraturan dan hukum yang ada
dan bukan melalui transaksi dengan pertukaran.
Terdapat kewajiban pemerintah yang timbul bukan didasarkan pada transaksi namun
berdasarkan adanya interaksi antara pemerintah dan lingkungannya. Kejadian tersebut
mungkin berada di luar kendali pemerintah. Pengakuan kewajiban yang timbul dari kejadian
tersebut sama dengan kewajiban yang timbul dari transaksi dengan pertukaran.

Contoh:
Pada saat pemerintah melaksanakan suatu kegiatan secara tidak sengaja menyebabkan
kerusakan pada kepemilikan pribadi maka kejadian tersebut menciptakan kewajiban.
Kewajiban tersebut dapat dilaporkan di neraca sepanjang hukum yang berlaku
memungkinkan bahwa pemerintah akan membayar kerusakan dan sepanjang jumlah
pembayarannya dapat diestimasi dengan andal.

Kejadian-kejadian tertentu dapat mengakibatkan timbulnya kewajiban pemerintah.


Hal ini terjadi karena pemerintah memutuskan untuk bertanggung jawab terhadap suatu
kejadian bencana alam. Biaya-biaya tersebut dapat memenuhi definisi kewajiban jika
pemerintah secara formal mengakuinya sebagai tanggung jawab keuangan pemerintah, baik
biaya yang timbul dari transaksi dengan pertukaran atau tanpa pertukaran.
Sebagai contoh dalam kasus bencana alam di DIY, bagi setiap keluarga yang
rumahnya roboh akan diberikan ganti rugi Rp 30 juta. Apabila sudah dicantumkan dalam
peraturan (surat ketetapan) yang sah, tetapi belum dibayar
Pemerintah dapat mengakui kewajiban dan biaya untuk kondisi di atas jika
memenuhi dua kriteria berikut: (1) DPR/DPRD telah menyetujui atau mengotorisasi sumber
daya yang akan digunakan, (2) transaksi dengan pertukaran timbul (misalnya saat kontraktor
melakukan perbaikan) atau jumlah transaksi tanpa pertukaran belum dibayar pada tanggal
pelaporan (misalnya pembayaran langsung ke korban bencana).

B.Pengukuran Kewajiban
Kewajiban dicatat sebesar nilai nominal. Kewajiban dalam mata uang asing
dijabarkan dan dinyatakan dalam mata uang rupiah. Penjabaran mata uang asing
menggunakan kurs tengah bank sentral pada tanggal neraca.
Nilai nominal atas kewajiban mencerminkan nilai kewajiban pemerintah pada saat
pertama kali transaksi berlangsung seperti nilai yang tertera pada lembar surat utang
pemerintah. Aliran ekonomi setelahnya, seperti transaksi pembayaran, perubahan penilaian
dikarenakan perubahan kurs valuta asing, dan perubahan lainnya selain perubahan nilai pasar,
diperhitungkan dengan menyesuaikan nilai tercatat kewajiban tersebut.
Penggunaan nilai nominal dalam menilai kewajiban mengikuti karakteristik dari
masing-masing pos.

Utang kepada Pihak Ketiga (Account Payable)


Terhadap barang/jasa yang telah diterima pemerintah dan belum dibayar, termasuk
barang dalam perjalanan yang telah menjadi haknya, pemerintah mengakui kewajiban
tersebut sebagai utang di neraca.

Contoh: Kontraktor membangun fasilitas atau peralatan sesuai dengan spesifikasi


yang ada pada kontrak perjanjian dengan pemerintah. Kontraktor tersebut sudah
menyelesaikan porsi pekerjaan tahap I dan telah menyerahkan kepada pemerintah. Jumlah
tagihan termin I tersebut sampai akhir tahun belum dibayar. Oleh karena itu, jumlah tersebut
merupakan utang yang harus disajikan di neraca.

Apabila dalam jumlah kewajiban terdapat utang yang disebabkan adanya transaksi
antar unit pemerintahan, penyajiannya harus dipisahkan dari kewajiban kepada unit
nonpemerintahan.

Utang Transfer
Utang transfer adalah kewajiban suatu entitas pelaporan untuk melakukan
pembayaran kepada entitas lain sebagai akibat ketentuan perundang-undangan. Utang transfer
diakui dan dinilai sesuai dengan peraturan yang berlaku.