Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU TANAMAN PERKEBUNAN

PENANAMAN BIBIT APM (ADVANCED PLANTING MATERIAL) DAN


PEMANENAN BUAH KELAPA SAWIT

Disusun oleh:
Imelda Kusuma Wardani A14130002
Zainudin Wahidiyah A24144021
Dian P. Rajagukguk G84130080
Asrifani Hanifah H34130103
Medina Putri H34130016
Yani Istikasari I34130050

Dosen Praktikum: Dr. Ir. Supijatno, M.Si


Asisten Praktikum:
Bayu Prahmahdiyan
Rina Agustina
Dian Faradila
Iin Nurbaetum

KELOMPOK 12
HARI JUMAT

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2016
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan perkebunan melakukan investasi yang sebenarnya berupa bibit
yang ditanam di lapang. Sebab produksi selama satu generasi yang akan datang
(25-30 tahun) ditentukan oleh kualitas pokok yang ditanam. Faktor utama yang
menentukan produksi perhektar adalah dari kualitas bibit genetik dan
kesehatannya. Menurut Pahan (2007) bahwa penanaman yang baik dan benar
merupakan prasyarat mutlak untuk memaksimalkan produksi per hektar. Karena
tanpa penanaman yang benar dan perawatan yang berkelanjutan, bibit yang
berkualitas tetap tidak akan menghasilkan secara maksimal.
Pola tanam kelapa sawit umumnya berbentuk segi tiga sama sisi pada aeral
datar hingga bergelombang. Perlu dibuat teras kontur pada areal berbukit yang
kemiringannya lebih dari 12derajat. Panjang sisi harus dibuat seoptimal mungkin
sehingga setiap tanaman mendapat ruang lingkungan serta sinar matahari yang
seragam dan memadai. Bibit dipindahkan ke lapang pada umur 10-14bulan,
namun bisa juga pada saat baru berumur 8 bulan. Saat pemindahan usahakan
bahwa bibit tidak rusak dan polybag tidak pecah. Penanaman dilakukan saat awal
musim hujan, setelah hujan turun kemudian penyulaman. Tanaman yang mati atau
tumbuhnya kurang baik diganti melalui proses penyulaman, baiknya dilakukan
saat musim hujan. Bibit yang digunakan harus seumuran dengan tanaman yang
disulam yaitu berkisar 10-14bulan. Setiap hektar kebun setidaknya terdapat
sulaman sekitar 3-5%.
Kelapa sawit dapat ditanam dengan pola monokultur maupun tumpangsari.
Sebelum melakukan penanaman kelapa sawit, dibuat lubang tanam terlebih
dahulu berukuran 60x60x60 cm pada 2-4minggu sebelum waktu tanam. Saat
menggali lubang tanam , tanah bagian atas (top soil) diletakkan ke Timur lubang,
dan tanah bagian bawah diletakkan ke Barat. Lalu saat penutupan lubang tanam ,
timbun kembali tanah bagian atas tadi untuk menutupi lubang bagian atas.
1.2 Tujuan
Kegiatan praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat
1. Melakukan penanaman Kelapa Sawit yang meliputi persiapan, angkut, dan ecer
bibit ke lapang, melepaskan polibag, meletakkan bibit dalam lubang tanam dan
menutup lubang tanam.
2. Menghitung kebutuhan tenaga kerja untuk angkut bibit dari main nursey sampai
penanaman.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Kelapa sawit (Elaeis guineensis) ditanam dengan pola tanam berbentuk
segitiga sama sisi pada areal datar/rata sampai bergelombang. Areal dengan
kemiringan lebih dari 12o perlu dibuat teras kontur dengan jarak tanam sesuai
dengan ketentuan (violle lining). Ketentuan jarak tanam perlu diperhatikan
sehingga setiap tanaman mendapat ruang lingkungan serta sinar matahari yang
memadai dan seragam untuk mendapatkan produksi maksimal. Waktu penanaman
kelapa sawit berbeda-beda tergantung situasi dan iklim lokasi penanaman.
Penanaman di Indonesia biasanaya dilakukan pada musim hujan, saat kelembapan
cukup tinggi untuk merangsang perkembangan akar sehingga bibit dapat
menyesuaikan diri dengan keadaan di lapangan. Waktu penanaman yang perlu
dihindari saat penanaman kelapa sawit adalah periode kering yang
berkepanjangan dan daerah yang tergenang (Fauzi et al. 2012).
Umur bibit yang paling optimal untuk penanaman di lapanagan berkisar 12
sampai 14 bulan. Syarat utama kelapa sawit yang dapat dipindahkan ke lapangan
adalah habitusnya cukup besar sehingga cukup tahan terhadap serangan hama dan
penyakit, hanya mengalami kejutan alih-tanam yang ringan, dan tanaman dapat
menghasilkan pada periode 28 bulan pada kondisi normal. Penanaman bibit yang
lewat umur akan menyebabkan tanaman mengalami hambatan dalam
pertumbuhan (stagnasi) karena akar tanaman sudah terlalu panjang, kejutan
karena evapotranspirasi berat disebbakan oleh ketidaksesuaian kebutuhan air
dengan jangkauan akar terhadap air tanah, dan batang yang terlalu tinggi
menyebabkan tanaman mudah roboh karena angin (Setyamidjaja 1991).
Proses pemanenan tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong
tandan buah masak, memungut brondolan, dan mengangkutnya dari lapanagn ke
tempat pengumpulan hasil (TPH). Tujuan pemanenan kelapa sawit adalah
mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan kualitas yang baik. Kriteria
matang panen merupakan indikasi yang dapat membantu pemanen agar
memotong buah pada saat yang tepat. Kriteria matang panen ditentukan pada saat
kandungan minyak maksimal dan asam lemak bebas (ALB/FFA) minimal.
Tanaman dengan umur kurang dari 10 tahun dapat dipanen jika jumlah
brondolannya lebih kurang 10 butir, sedangkan tanaman dengan umur lebih dari
10 tahun jumlah brondolannya sekitar 15-20 butir. Kriteria umum yang dipakai
adalah setiap 1 kg tandan buah segar (TBS), terdapat 2 brondolan.
Cara panen dapat dibedakan berdasarkan tinggi tanaman yang dipanen,
yaitu panen jongkok untuk tanaman yang tingginya 2-5 m (dipanen dengan alat
dodos), panen berdiri untuk tanaman yang tingginya 5-10 m (dipanen dengan alat
kampak siam), dan cara egrek untuk tanaman dengan tinggi lebih dari 10 m.
Kualitas minyak sawit yang baik untuk dipanen adalah memiliki kandungan ALB
kurang dari 3% untuk diekspor dan kurang dari 5% untuk pasar lokal (Sunarko
2014).
BAB III METODE PELAKSANAAN
3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum dilaksanakan pada hari Jumat, 18 Maret 2016 pukul 08.15
08.35 (20 menit). Tempat pelaksanaan kegiatan berada di Kebun Cikabayan
bagian tanaman kelapa sawit.
3.2 Alat dan Bahan
Alat
1 Parang (2 buah)
2 Cangkul (2 buah)
3 Golok (1 buah)
4 Ember (1 buah)
5 Garpu (1 buah)
6 Cetakan besi segi empat (1 buah)
Bahan
1 Bibit tanaman kelapa sawit main nursery
2 Pupuk: SP-18, KCl
3.3 Metode
Tiap kelompok mendapatkan 1 bibit tanaman Kelapa sawit main nursery
1. Lubang tanam dibuat berbentuk kubus dengan ukuran 50 x 50 cm,
kedalaman 50 cm dari permukaan tanah, gunakan garpu sebagai
pendongkrak tanah yang keras kemudian alat bantu lainnya
2. Bersihkan lubang tanam dari akar-akar tanaman lain yang akan
mengganggu pertumbuhan bibit nantinya
3. Setelah terbentuk lubang tanam, masukkan bibit tanaman kelapa sawit
tersebut ke dalam lubang tanam dengan melepaskan poly bag terlebih
dahulu, usahakan jangan sampai hancur
4. Pastikan bibit tanaman kelapa sawit berdiri tegak dan kokoh ke atas
5. Masukkan kembali tanah, setelah memenuhi setengah lubang taburkan
pupuk sebanyak 150 gr pada tanah dalam lubang tersebut
6. Tutup lubang tanam dengan tanah hingga penuh, padatkan tanahnya
hingga sejajar dengan pangkal bawah bibit
7. Taburkan 150 gr sisa pupuk di atas permukaan tanah sekitar bibit

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil pembuatan lubang dan dosis pupuk yang digunakan
Jumlah lubang tanam Dosis pupuk
Jenis pupuk
(lubang) (gram/tanaman)
1 SP36 300

Tabel 2. HOK dan prestasi kerja penanaman bibit APM (Advanced Planting
Material)
Durasi Kerja Tenaga Kerja Prestasi Kerja
HOK
(jam) (orang) (pokok/HOK)
0,25 6 0,21 5

Tabel 3. Hasil panen kelapa sawit


Jumlah
TBS Status dan Fraksi Bobot TBS (kg) Brondolan
(buah)
1 Belum matang (Fraksi 2 3) 12 2
2 Matang 7,2 15
3 Matang (tidak normal) 3 -
4 Lewat matang - -

Gambar 1. Penanaman bibit APM di lapangan


Gambar 2. Proses pemanenan TBS kelapa sawit

Gambar 3. TBS Kelapa sawit belum matang

Gambar 4. TBS Kelapa sawit matang dan terlewat matang


4.2 Pembahasan
Bibit APM (Advanced Planting Material) adalah bibit dari main nursery
yang telah lewat umur penyaluran ke lahan. Bibit ini masih bisa digunakan hingga
berumur 24 36 bulan. Praktikum ini mempelajari cara menanam bibit APM ke
lapang. Bibit APM yang akan disalurkan ke lahan penanaman akan dipangkas
pelepah-pelepahnya. Pemangkasan tersebut bertujuan untuk memudahkan
pemindahan dan penyaluran bibit yang berukuran besar tersebut. Pemangkasan
yang dilakukan memiliki efek samping terhadap pertumbuhan bibit tersebut yaitu
umumnya hingga 6 bulan setelah tanam bibit tersebut mempunyai pertumbuhan
yang lambat.
Penanaman bibit APM di suatu lahan ini diawali dengan membuat lubang
tanam. Lubang tanam berukuran 50cm x 50cm x 50cm. Pembuatan lubang tanam
tersebut dibantu dengan suatu alat seperti cetakan/mal untuk memastikan bentuk
dan ukuran lubang sesuai yang diharapkan. Bentuk lubang menyempit pada
bagian bawah. Tanah yang digali dipisahkan antara top soil dan sub soil-nya.
Setelah lubang tanam selesai dibuat, tanah top soil dikembalikan ke lubang bagian
dasar setinggi 10 20 cm. Pupuk diaplikasikan dengan dosis setengahnya yaitu
SP36 150 g. Aplikasi pupuk tersebut dengan cara ditebar. Bibit APM dimasukkan
ke lubang tanam. Posisi tanaman harus tegak lurus dengan bidang horisontal
dibawahnya. Jika bibit yang digunakan miring maka posisi peletakan bibit harus
dimiringkan sedemikian rupa sehingga tanaman tetap tegak. Hal tersebut penting
dilakukan untuk menjaga pertumbuhan dan produksi kelapa sawit di masa yang
akan datang. Tutup lubang tanam dengan tanah campuran dari top soil dan sub
soil diikuti dengan pengaplikasian setengah dosis SP36 yaitu 150 g. Top soil
diletakkan di dasar lubang karena top soil memiliki kesuburan fisik, kimia, dan
biologi yang lebih baik daripada sub soil. Pupuk yang diaplikasikan setengah di
atas top soil untuk mempermudah akar menjangkau sumber hara P.
Selain melakukan penanaman bibit APM, dilakukan panen oleh seorang
peraga. Panen dilakukan pada buah yang belum matang, matang, dan lewat
matang. TBS yang dipanen dengan tingkat fraksi yang berbeda juga menunjukkan
hasil yang berbeda. Fraksi belum matang memiliki bobot TBS 12 kg dengan
jumlah brondolan 2. Jumlah brondolan tersebut menandakan TBS belum matang.
Seharusnya jumlah brondolan sekitar 24 buah. Pada TBS yang matang terdapat 15
brondolan dengan bobot 7,2 kg. Jumlah brondolan jatuh sebanyak 2 buah/kg
menunjukkan TBS siap untuk dipanen. TBS lain yang dipanen adalah TBS
matang namun buah tidak normal dan TBS terlalu lewat matang.
Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan
memotong tandan buah, memungut brondolan, dan mengangkutnya dari pohon ke
TPH serta ke pabrik (Fauzi 2008). Saat buah mulai matang, kandungan minyak
dalam daging buah (mesokarp) meningkat cepat. Peristiwa ini disebabkan karena
adanya proses konversi karbohidrat menjadi lemak dalam buah. Setelah kadar
minyak dalam buah maksimal, buah akan lepas (brondolan) dari tandannya. Asam
lemak bebas dalam buah akan terus naik. Perlu diperhatikan agar buah yang
dipanen tidak terlalu matang karena buah yang terlalu matang akan mengandung
asam lemak bebas yang tinggi yang dapat menyebabkan minyak mudah membeku
sehingga menyulitkan dalam proses transportasi minyak pada suhu kamar
(Tambunan 2011).
Pemanenan dilakukan dengan alat dodos untuk tanaman yang masih relatif
pendek. Manajemen pemanenan sangat penting dilakukan terkait jumlah dan
luasan panen, tenaga kerja dan sebagainya. Di dalam panen kelapa sawit terdapat
istilah rotasi panen. Rotasi panen yang umum digunakan adalah 6/7 artinya
selama 6 hari panen terdapat interval 7 hari untuk mencapai tanaman yang sama
untuk pemanenan. Luas panen dan jumlah TBS yang akan dipanen sangat perlu
diperhatikan untuk menentukan jumlah tenaga kerja yang diperlukan. Prediksi
panen dapat dilakukan melalui taksasi panen untuk mengetahui angka kerapatan
panen.
Di dalam pemanenan, dikenal istilah basis borong dan premi. Menurut
Pahan (2010), penetapan jumlah basis borong untuk setiap pemanen umumnya
didasarkan pada pertimbangan, yaitu rata-rata kemampuan seorang karyawan
memanen TBS, keadaan tanaman dalam blok-blok yang bersangkutan, dan
kondisi spesifik setempat. Premi dibagi menjadi 2 jenis, yakni premi siap borong
dan premi lebih borong. Premi siap borong adalah premi yang diberikan kepada
pemanen pada saat jumlah janjang panen sama dengan atau lebih dari basis
borong yang telah ditentukan sedangkan premi lebih borong adalah premi yang
diberikan kepada pemanen pada saat pemanen mendapat janjang panen yang lebih
dari jumlah janjang basis borong yang ditentukan. Pengawasan panen diperlukan
untuk mendapatkan produksi dan kualitas yang baik. Pengawasan dilakukan
dengan memeriksa hanca, mutu buah di TPH dengan tujuan agar mutu hanca dan
buah dapat terjaga serta mengurangi terjadinya losses.
BAB V KESIMPULAN
1. Penggunaan jenis dan dosis pupuk, cara peletakkan tanaman kelapa sawit, ukuran
lubang tanaman, dan jenis lahan yang akan digunakan merupakan faktor faktor
yang perlu diperhatikan dalam penanaman kelapa sawit dari main nursery ke
lahan tanam.
2. Pemanenan kelapa sawit harus tepat waktu panen agar matangnya tepat dan tidak
mentah atau busuk.
DAFTAR PUSTAKA

Fauzi Y, Widyastuti YE< Satyawibawa I, Paeru RH. 2012. Kelapa Sawit. Jakarta
(ID): Penebar Swadaya.
Fauzi Y. 2008. Kelapa Sawit: Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah, Analisis
Usaha dan pemasaran. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Pahan I. 2010. Panduan Lengkap Kelapa Sawit: Manajemen Agribisnis dari Hulu
hingga Hilir. Jakarta (ID): Penebar Swadaya.
Setyamidjaja D. 1991. Kelapa Sawit. Yogyakarta (ID): Kanisisus.
Sunarko. 2014. Budi Daya Kelapa Sawit di Berbagai Jenis Lahan. Jakarta (ID):
PT Agromedia Pustaka.
Tambunan JD. 2011. Manajemen pemanenan pada tanaman kelapa sawit (Elaeis
guineensis Jacq.) di PT Inti Indosawit Subur, Kabupaten Pelalawan,
Provinsi Riau [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.