Anda di halaman 1dari 19

UNIVERSITAS INDONESIA

5 LEVEL OF PREVENTION

(ALCOHOL & DRUG ABUSE)

MATA KULIAH PENCEGAHAN ORAL

Annisa Septalita, drg.

16505134

Program Magister Ilmu Kedokteran Gigi Komunitas

Fakultas Kedokteran Gigi

Universitas Indonesia

2015
Pencegahan

Pengetahuan tentang perjalanan penyakit dan faktor-faktor yang mempengaruhi


berguna untuk menemukan strategi pencegahan penyakit yang efektif. Pencegahan penyakit
adalah tindakan yang ditujukan untuk mencegah, menunda, mengurangi, membasmi,
mengeliminasi penyakit dan kecacatan, dengan menerapkan sebuah atau sejumlah intervensi
yang telah dibuktikan efektif. Tabel berikut menyajikan tiga tingkat pencegahan penyakit:
pencegahan primer, sekunder, dan tersier (Kleinbaum et al., 1982; Last, 2001).

Tabel 1
Tiga tingkat pencegahan

Sumber: Kleinbaum et al., 1982

Pencegahan primer. Pencegahan primer adalah upaya memodifikasi faktor risiko atau
mencegah berkembangnya faktor risiko, sebelum dimulainya perubahan patologis, dilakukan
pada tahap suseptibel dan induksi penyakit, dengan tujuan mencegah atau menunda
terjadinya kasus baru penyakit (AHA Task Force, 1998). Terma yang berkaitan dengan
pencegahan primer adalah pencegahan primordial dan reduksi kerugian. Pencegahan
primordial adalah strategi pencegahan penyakit dengan menciptakan lingkungan yang dapat
mengeliminasi faktor risiko, sehingga tidak diperlukan intervensi preventif lainnya (Wallace,
2007). Contoh: (1) Program eliminasi global cacar (variola), sehingga tidak diperlukan
imunisasi cacar; (2) Penciptaan lingkungan bersih sehingga tidak diperlukan pengabutan
nyamuk Aedes agypti; (3) Program eliminasi garam dari semua makanan yang jika tercapai
sangat efektif untuk mencegah hipertensi.
Pencegahan sekunder. Pencegahan sekunder merupakan upaya pencegahan pada fase
penyakit asimtomatis, tepatnya pada tahap preklinis, terhadap timbulnya gejala-gejala
penyakit secara klinis melalui deteksi dini (early detection). Jika deteksi tidak dilakukan dini
dan terapi tidak diberikan segera maka akan terjadi gejala klinis yang merugikan. Deteksi dini
penyakit sering disebut skrining. Skrining adalah identifikasi yang menduga adanya
penyakit atau kecacatan yang belum diketahui dengan menerapkan suatu tes, pemeriksaan,
atau prosedur lainnya, yang dapat dilakukan dengan cepat. Tes skrining memilah orang-orang
yang tampaknya mengalami penyakit dari orangorang yang tampaknya tidak mengalami
penyakit. Tes skrining tidak dimaksudkan sebagai diagnostik. Orang-orang yang ditemukan
positif atau mencurigakan dirujuk ke dokter untuk penentuan diagnosis dan pemberian
pengobatan yang diperlukan (Last, 2001). Skrining yang dilakukan pada subpopulasi berisiko
tinggi dapat mendeteksi dini penyakit dengan lebih efisien daripada populasi umum. Tetapi
skrining yang diterapkan pada populasi yang lebih luas (populasi umum) tidak hanya tidak
efisien tetapi sering kali juga tidak etis. Skrining tidak etis dilakukan jika tidak tersedia obat
yang efektif untuk mengatasi penyakit yang bersangkutan, atau menimbulkan trauma, stigma,
dan diskriminasi bagi individu yang menjalani skrining. Deteksi dini pada tahap preklinis
memungkinkan dilakukan pengobatan segera (prompt treatment) yang diharapkan
memberikan prognosis yang lebih baik tentang kesudahan penyakit daripada diberikan
terlambat.
Pencegahan tersier. Pencegahan tersier adalah upaya pencegahan progresi penyakit ke arah
berbagai akibat penyakit yang lebih buruk, dengan tujuan memperbaiki kualitas hidup pasien.
Pencegahan tersier biasanya dilakukan oleh para dokter dan sejumlah profesi kesehatan
lainnya (misalnya, fisioterapis). Pencegahan tersier dibedakan dengan pengobatan (cure),
meskipun batas perbedaan itu tidak selalu jelas. Jenis intervensi yang dilakukan sebagai
pencegahan tersier bisa saja merupakan pengobatan. Tetapi dalam pencegahan tersier, target
yang ingin dicapai lebih kepada mengurangi atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan
dan organ, mengurangi sekulae, disfungsi, dan keparahan akibat penyakit, mengurangi
komplikasi penyakit, mencegah serangan ulang penyakit, dan memperpanjang hidup. Sedang
target pengobatan adalah menyembuhkan pasien dari gejala dan tanda klinis yang telah
terjadi.
5 LEVEL OF PREVENTION

Tujuan kesehatan masyarakat adalah baik dalam bidang promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif adalah agar setiap warga masyarakat dapat mencapai derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya baik fisik, mental, sosial serta diharapkan berumur
panjang. Leavell dan Clark (1965) dalam bukunya Preventive medicine for the doctors in his
community, mengenalkan konsep yang menarik dalam pemikiran tentang tindakan preventif
untuk semua jenis penyakit yang dinamakan LEVELS OF PREVENTION atau tingkatan
tahapan pencegahan. Tingkatan pencegahan berkelanjutan, yaitu melalui periode
prepatogenesis penyakit sampai ke periode rehabilitasi yaitu setelah penyakitnya sendiri
sudah hilang.
Secara garis besar upaya pencegahan dapat dibagi menjadi pencegahan primer,
sekunder dan tersier. Pencegahan primer implikasinya merupakan pencegahan terhadap
inisiasi penyakit yang merupakan tujuan utama dari kedokteran gigi pencegahan. Pencegahan
primer merupakan teknik mencegah suatu penyakit masuk, menghambat progres penyakit
dan menghentikan proses penyakit sebelum akhirnya dibutuhkan suatu perawatan, misalnya
dengan imunisasi atau vaksin. Pencegahan sekunder termasuk usaha pencegahan terhadap
penyakit/kelainan dan pencegahan dari kambuhnya suatu penyakit. Pencegahan sekunder
melakukan penghentian proses penyakit sehingga tidak berlanjut menjadi lebih parah dan
untuk merestorasi/mengembalikan jaringan mendekati ke keadaan normal. Pencegahan tersier
merupakan pencegahan terhadap kemungkinan timbulnya kelainan penyakit akibat kerusakan
atau cacat yang ditimbulkan, atau dikenal sebagai upaya rehabilitasi atau pengembalian
fungsi. Pencegahan tersier juga menggantikan jaringan yang hilang dan juga
mengembalikan/merehabilitasi setelah kegagalan dari kegiatan pencegahan sekunder. Hal ini
sesuai dengan konsep dan level pencegahan oleh Leavell & Clark (Preventive Dentistry, John
OF, 1981), yaitu Pencegahan Primer (Prapatogenesis), Pencegahan Sekunder (Patogenesis),
dan Pencegahan Tersier (Patogenesis).

Dalam kesehatan masyarakat ada lima tingkat pencegahan penyakit dari Leavel dan
Clark, yaitu:

1. Peningkatan kesehatan
2. Perlindungan umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu
3. Menegakkan diagnosa secara dini dan pengobatan yang cepat dan tepat
4. Pembatasan kecacatan
5. Pemulihan kesehatan

Pengembangan dari ketiga level pencegahan tersebut menjadi 5 tingkat pencegahan, yaitu:

1. Peningkatan kesehatan/Promosi kesehatan

Peningkatan kesehatan/Promosi Kesehatan merupakan bagian dari Pencegahan Primer,


yang merupakan suatu tindakan pencegahan murni yang mencakup semua usaha yang
diarahkan untuk meningkatkan kesehatan. Peningkatan kesehatan dan perlindungan
umum dan khusus terhadap penyakit-penyakit tertentu adalah usaha-usaha yang
dilakukan sebelum sakit (pre patogenesis) dan disebut dengan dengan pencegahan primer
(Primary preventif dentistry). Contohnya, edukasi tentang kesehatan guna meningkatkan
pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan.

2. Perlindungan khusus

Perlindungan khusus merupakan bagian dari Pencegahan Primer (Prapatogenesis), yang


merupakan suatu tindakan pencegahan dengan tujuan memberikan perlindungan khusus
terhadap kemungkinan terjadinya suatu penyakit. Contohnya, untuk penyakit karies gigi,
dapat dilakukan fluoridasi dan pit and fissure sealant.

3. Diagnosis dini dan perawatan segera

Diagnosis dini dan perawatan segera merupakan bagian dari Pencegahan Sekunder
(Patogenesis), yang merupakan suatu tindakan pencegahan dengan menemukan gejala
penyakit sedini mungkin dan memberikan perawatan sesegera mungkin dengan tujuan
agar penyakit tidak berlanjut. Misalnya, jika ditemukan white spot, menandakan sudah
terjadi proses karies namun untuk mencegah supaya tidak menjadi lubang, dapat
melakukan terapi remineralisasi cpp-acp.

4. Membatasi kecacatan

Membatasi kecacatan merupakan bagian dari Pencegahan Sekunder (Patogenesis), yang


merupakan suatu tindakan pencegahan dengan tujuan agar tidak terjadi kecacatan
sehingga akan menyebabkan terjadinya kelainan atau penyakit baru serta komplikasinya
yang mungkin timbul akibat kecacatan tersebut. Misalnya, dengan melakukan PSA
(Perawatan Saluran Akar) supaya gigi dipertahankan agar tidak sampai dilakukan
pencabutan yang akan menimbulkan kecacatan.
5. Rehabilitasi

Rehabilitasi merupakan bagian dari Pencegahan Tersier (Patogenesis), yang merupakan


suatu tindakan pencegahan pada tahap akhir dengan tujuan mengembalikan fungsi agar
tidak terjadi penyakit atau kelainan lain akibat gangguan fungsi tersebut. Misalnya,
membuatkan protesa gigi tiruan pada gigi yang telah dicabut.

Primary preventif dentistry memiliki prioritas pencegahan yaitu mencegah sebelum


mulai terjadi penyakit, taksonomi pencegahannya adalah prepathosis, dan bentuk tindakan
yang dapat dilakukan berupa tindakan promosi kesehatan seperti cara intruksi pembersihan
plak seperti sikat gigi dan flossing, dan berupa tindakan proteksi spesifik yang bertujuan
untuk memberikan perlindungan dan mencegah suatu bakteri atau benda asing masuk ke
dalam tubuh host dan menimbulkan suatu penyakit. Contoh tindakan proteksi spesifik berupa
floridasi air minum, atau tindakan pit fissure sealant untuk mencegah terjadinya karies. Fase
prepathogenesis adalah adanya interaksi awal antara facktor host, agent, environment. Pada
fase ini penyakit belum berkembang, tetapi kondisi yang melatarbelakangi penyakit telah ada.

Secondary preventif dentistry adalah suatu tindakan pencegahan yang dilakukan pada
saat awal mulai terjadinya suatu penyakit. Secondary prevetif dentistry ini memiliki prioritas
pencegahan yaitu mencegah agak suatu penyakit yang sudah terjadi tidak berkembang dan
bertambah parah, serta mencegah rekurensi dari penyakit tersebutt. Taksonomi
pencegahannya berupa intervensi, dan tindakan pencegahan ini dapat berfungsi sebagai early
diagnosis dan prompt treatment. Contohnya dengan dilakukan perawatan yang tepat pada gigi
yang mengalami karies yang kecil dapat mencegah karies tersebut berkembang menjadi lebih
parah.

Tertiary preventif dentistry adalah tindakan pencegahan yang dilakukaan pada saat
akhir dari suatu perjalanan penyakit dengan prioritas pencegahan yaitu mencegah kehilangan
fungsi. Bentuk aktivitas pencegahan yang dapat dilakukan berupa melakukan tindakan
rehabilitasi seperti pembuatan gigi tiruan dan implan.

Prinsip dari preventif dentistry lebih di tekankan kepada pemilihan prioritas dan usaha
untuk dapat melakukan primary preventif dentistry. Bentuk tindakan primary dentistry yang
dapat dilakukan terdiri dari:

1. Community effort.
a. Community water flouride.

b. School water flouride.

c. Flouride supplement program.

d. Flouride mouthrinse program.

2. Individual effort

a. Flouride dentrifrices.

b. Oral Hygiene practices.

3. Professional effort.

a. Topical flouride application.

b. Adhesive tooth sealants.

c. Plaque control programs.

d. Diet counseling.

e. Dental caries susceptibility test.

4. Cooperative efforts.

Tindakan primary preventif dentistry yang dapat dilakukan oleh suatu komunitas
melibatkan banyak pihak, yaitu para petinggi negara, para pengambil keputusan dalam suatu
komunitas tertentu, atau organisasi-organisasi yang terdiri dari banyak orang, memiliki
sumber daya yang cukup, dan komunitas tersebut harus memiliki komitmen untuk mencegah
penyakit karies gigi. Bentuk kegiatan pencegahan yang dapat dilakukan oleh suatu komunitas
adalah:

1. Community water fluoridation

Community water fluoridation ini berupa penambahan kandungan flouride dalam


suplai air minum ke masyakat. Cara ini berhasil menurunkan kasus karies gigi sekitar
50%-70%. Flouride berperan dalam pencegahan karies gigi, karena flouride akan
berikatan dengan kistal hidroksiapatit email membentuk flouroapatit. Dimana
flouroapatit lebih tahan terhadap asam di bandingkan dengan kristal hidroksiapatit,
sehingga dapat lebih resisten terhadap proses demineralisasi.

Di Amerika Serikat, tahun 1945, pertama kali di lakukan flouridasi air minum di
kota Newburg, Kingston, dan New York, untuk membuktikan hipotesa bahwa suplai air
yang di tambahkan flouride efektif menurunkan karies sama seperti dengan suplai air
minum yang secara natural sudah memiliki kandungan flouride. Newburg dan New York
menambahkan 1 ppm flouride, sedangkan Kingston memiliki air yang memang secara
alami mengandung flouride. Ternyata setelah 10 tahun flouridasi, anak-anak usia 6-9
tahuan di Newburg dan New York menunjukkan penurunan karies gigi sekitar 56,7%, jika
di bandingkan dengan anak di Kingston. Hal ini menunjukkan bahwa ternyata flouridasi
air minum memiliki efek yang baik dalam mencegah karies gigi, baik melalui air minum
yang di tambahkan kandungan flouride 1 ppm atau pada air minum yang secara alami
sudah memiliki kandungan flouride.

The U.S. Public Health Services merekomendasikan konsentrasi flouride yang


dapat di berikan yaitu sebanyak 1 ppm untuk negara suhu dingin. Sedangkan untuk
negara suhu hangat, dimana konsumsi air minum tinggi, konsentrasi flouride yang dapat
adalah < 1 ppm.

Community water fluoridation ini sangat penting dalam pengukuran kesehatan


masyarakat karena: memiliki efektifitas yang tinggi dalam menurunkan prevalensi karies
gigi pada anak jika di konsumsi dari lahir, aman, mudah untuk di implentasikan, dan
relatif lebih murah.

2. School Water Flouridation

Community water fluoridation hanya terbatas pada area yang di suplai oleh
perusahaan air minum setempat. Untuk daerah yang tidak menerima suplai air minum
tersebut, biasanya di lakukan cara lain yaitu berupa school water fluoridation.

Program ini pertama kali di lakukan tahun 1954 di St. Thomas, Amerika Serikat
oleh The U.S Public Health Service, Division of Dental Health. Air minum di sekolah di
berikan flouride dengan konsentrasi 3 kali dari konsentrasi flouride pada flouridasi air
minum. Setelah 8 tahun di ketahui terjadi penurunan kasus karies gigi sebanyak 22% jika
di bandingan dengan anak-anak sekolah yang tidak di lakukan flouridasi. Di kota Pike
County, Kentucky, di berikan konsentrasi flouride sebesar 3,3 kali dari konsentrasi
optimum flouridasi air minum. Di daerah Elk Lake, Pennsylvania, di berikan konsentrasi
flouride 4,5 kali dari konsentrasi optimum flouridasi air minum. Setelah 8 tahun, ternyata
kasus karies gigi mengalami penurunan sekitar 32% pada anak-anak di Pike County, dan
33,9% pada anak-anak di Elk Lake. Dan di Seagrove, North Carolina, setelah 8 tahun
pemberian flouride dengan konsentrasi 7 kali dari konsentrasi optimum flouridasi air
minum, terjadi penurunan kasus karies gigi sebanyak 40%.

Tetapi pemberian flouride di air minum sekolah ini memiliki keterbatasan,


terutama untuk anak usia 5-6 tahun yang baru mulai mengkonsumsi air minum
berflouride ini. Karena pada usia tersebut, gigi geligi nya sudah terkalsifikasi. Sehingga
efektifitas flouride dalam mencegah karies gigi menjadi berkurang.

Konsentrasi flouride yang di rekomendasikan untuk flouridasi air mium sekolah


adalah 4,5 kali dari konsentrasi optimum pada flouridasi air minum. Untuk dapat
menjalankan program ini agar berhasil di perlukan kerja sama dari semua pihak,
termasuk murid-murid sekolah, guru, dan orang tua si anak, serta perlu adanya pengawas
untuk mengawasi kegiatan ini. Biaya yang di perlukan untuk melakukan kegiatan ini
sekitar 0,30 dolar-1,24 dolar per anak per tahun. Tahun 1972, di North Carolina baru 40
sekolah yang menjalankan program ini, saat ini sudah 100 sekolah yang sudah
menjalankan program ini.

3. Flouride Supplement Programs

Selama 20 tahun terakhir, di Amerika Serikat telah di lakukan program


pemberian suplemen flouride sebagai alternatif tindakan pencegahan selain flouridasi air
minum dan flouridasi air minum sekolah. Program ini merupakan pemberian suplemen
flouride dengan konsentrasi 1 mg flouride per hari kepada tiap-tiap individu. Suplemen
flouride ini tersedia dalam bentuk tablet, cairan, atau seperti bentuk pelet kecil.
Suplemen flouride ini berfungsi secara topikal dan sistemik. Pada saat proses mengunyah
suplemen flouride ini, secara tidak langsung akan memberikan efek topical flouride pada
permukaan gigi sehingga dapat melindungi struktur gigi.

Suplemen flouride ini dapat di berikan setiap hari jika kandungan flouride
dalam suplai air minum di suatu area tertentu < 0,7ppm flouride.

Rekomendasi terbaru dari The Council of Dental Therapeutics, American


Dental Association tentang dosis pemberian suplemen flouride. Untuk area yang
memiliki flouridasi air minum dengan konsetrasi flouride 0-0,3ppm, maka dosis
suplemen flouride yang dapat di berikan 0,25 mg untuk anak usia 0-2 tahun, 0,5 mg
untuk anak usia 2-3 tahun, dan 1 mg untuk anak usia 3-13 tahuan. Untuk area dengan
flouridasi air minum dengan konsentrasi flouride 0,3-0,7 ppm, maka dosis suplemen
flouride yang dapat di berikan yaitu 0 mg untuk anak usia 0-2 tahun, 0,25 mg untuk anak
usia 2-3 tahun, 0,5 mg untuk anak usia 3-13 tahun.

Pemberian suplemen flouride menurut beberapa penelitian sukses dalam


membantu menurunkan prevalensi kasus karies gigi. Telah terjadi penuruanan prevalensi
karies pada gigi sulung sebanyak 50%-80% pada anak yang mulai mengkonsumsi
suplemen flouride pada usia 2 tahun dan program ini di lakukan selama 3-4 tahun.
Dilaporkan juga terjadi penurunan prevalensi karies gigi pada gigi permanen sebanyak
20%-40% pada anak yang mulai mengkonsumsi suplemen flouride antara usia 5-9 tahun
dan pemberian suplemen ini dilakukan selama 2-4 tahun.

Untuk mendapatkan hasil yang baik pemberian suplemen fluouride ini


sebaiknya mulai di lakukan ketika bayi lahir dan di lanjutkan sampai anak usia 14 tahun,
Menurut The ADAs Council in Dental Therapeutics rekomendasi pemberian suplemen
flouride ini sampai usia 13 tahun. Menurut The American Academy of Pediatric
pemberian suplemen flouride di lakukan sampai usia 16 tahun.

Program pemberian suplemen flouride telah sukses di lakukan di sekolah-


sekolah di eropa dan amerika. Pemberian suplemen flouride ini di lakukan pada saat hari
sekolah, yaitu selama 150-200 hari per tahun. Program ini telah berhasil menurunkan
prevalensi karies gigi sekitar 20-35 tahun. Biaya yang di keluarkan untuk program ini
sekitar 0,20 dolar-3,60 dolar per anak per tahun. Program ini memerlukan kerjasama
semua pihak yaitu kepala sekolah, guru-guru, murid, dan beberapa relawan.

Kasus flourosis jarang di temukan pada gigi sulung. Menurut penelitian,


periode kritis perkembangan mottled enamel dari gigi permanen anterior adalah saat
tahun ke 2 dan 3 kehidupan. Pada beberapa penelitian yang di lakukan di area yang tidak
memiliki kandungan flouride, dilakukan pmberian suplemen 1 mg flouride setiap 24 jam
untuk anak usia 5 tahum, dari hasil penelitian tersebut tidak di laporkan adanya kasus
flourosis.

4. Flouride Mouthrinse Program


Salah satu program pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan
flouride mouthrinse program. Program ini dapat dilakukan setiap hari, seminggu sekali
atau dua kali seminggu. Bentuk program ini adalah dengan kumur-kumur dengan larutan
flouride. Program ini dapat menurunkan prevalensi kasus karies gigi sekitar 20%-50%.

Kumur-kumur dengan flouride dapat menggunakan larutan sodium flouride


(NaF), stannous flouride (SnF2), atau acidulated phosphate flouride (APF). Lebih sering
dipakai larutan sodium flouride karena harganya relatif lebih murah. Kumur-kumur
flouride ini dilakukan selama 1 menit. Untuk usia dewasa, berkumur dengan larutan
flouride sebanyak 15 ml, sedangkan larutan flouride untuk anak kelas 1-kelas 12
sebanyak 10 ml, dan anak-anak usia TK sebanyak 12-15 ml. Program ini tidak dapat di
lakukan untuk anak usia di bawah 4 tahun sebaiknya tidak diberikan kumur-kumur
flouride karena pada usia tersebut mereka belum memiliki kemampuan berkumur yang
baik.

Menurut penelitian yang di lakukan oleh The National Institute of Dental


Research terjadi penurunan prevalensi karies untuk anak TK sampai kelas 6 sebanyak
54% setelah dilakukan kumur-kumur flouride seminggu sekali menggunakan 0,2%
larutan sodium flouride.

Prosedur program ini adalah anak-anak di sekolah di berikan gelas kecil yang
berisi larutan flouride dan serbet. Lalu anak di minta untuk kumur-kumur flouride selama
1 menit, lalu buang larutan kumur itu ke dalam gelas kertas. Lalu setelah itu, anak di
intruksikan untuk mengelap mulut mereka menggunakan serbet. Program ini di awasi
oleh personel non dental seperti guru, orang tua, dan perawat sekolah. Biaya yang di
perlukan untuk menjalankan program ini sekitar 0,50 dolar-1 dolar per anak per tahun.

Individual Effort

Individu memegang peranan penting dalam tindakan promosi dan pencegahan


terhadap suatu penyakit. Agar tindakan promosi dan preventif ini dapat berjalan dengan baik,
di perlukan penyampaian informasi yang tepat tentang hal-hal apa yang perlu dilakukan,
kapan, kenapa, dan bagaimana program ini harus di lakukan. Bentuk kegiatan promosi dan
pencegahan penyakit yang dapat di lakukan oleh individu antara lain control diet,
pemeriksaan diri, penggunaan flouride seperti penggunaan pasta gigi berflouride, dan
peningkatan oral hygiene. Salah satu contoh dari individual effort adalah:
1. Pasta gigi berflouride

Salah satu tindakan pencegahan karies gigi adalah dengan menggunakan flouride.
Penggunaan pasta gigi berflouride menjadi cara mudah untuk mengaplikasikan flouride
secara topikal dan harganya relatif lebih murah. Dilaporkan terjadi penurunan prevalensi
karies sebanyak 15% dan 30% setelah menggunakan pasta gigi berflouride yang
mengandung stannous, sodium, atau sodium monoflurophospahate. Sebanyak 70% pasta
gigi yang terjual di Amerika Serikat mengandung flouride.

2. Oral hygiene practices

Merupakan tindakan yang di lakukan setiap hari untuk membersihkan plak dan
debri dengan menggunakan sikat gigi. Terdapat hubungan antara kebiasaan menyikat gigi
dengan penyakit periodontal. Menurut penelitian, individu yang jarang menyikat gigi
akan dengan mudah terjadi gingivitis yang dapat berkembang menjadi penyakit
periodontal. Salah satu cara yang dapat di lakukan dalam program pencegahan ini
adalah:

1. Menyikat gigi.

Kebiasaan menyikat gigi sudah di lakukan sejak dahulu kala. Awalnya sikat
gigi terbuat dari kayu. Waktu untuk melakukan sikat gigi dari dahulu yaitu setelah
makan dan hanya sehari sekali. Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, paradigm
tersebut berubah dan terjadi pergeseran kebiasaan waktu menyikat gigi, yaitu dua kali
sehari, dan untuk tambahan di lakukan flossing sekali sehari.

Tujuan dari menyikat gigi adalah untuk menghilangkan plak dan sisa-sisa
makanan dari permukaan gigi. Banyak cara dan teknik dalam menyikat gigi. Secara
umum, gerakan menyikat gigi dengan gerakan memutar pada permukaan luar gigi.
Gerakan sikat gigi memutar dari arah gingiva kearah permukaan oklusal/insisal gigi,
baik di bagian bukal/labial dan bagian palatal/lingual. Bagian atas permukaan oklusal
gigi-gigi posterior juga di sikat. Setiap area yang di sikat selama 10 menit.

2. Flossing

Menyikat gigi dapat membersihkan plak dan debri dari permukaan gigi, tetapi
sikat gigi tidak dapat menjangkau permukan proksimal gigi. Untuk itu sebaiknya
setelah menyikat gigi, perlu di lakukan flossing agak pembersihan menjadi maksimal.
Terdapat dua jenis flossing yaitu waxed dan unwaxed flossing. Tidak ada data tentang
perbedaaan keefektifan pemakaian flossing jenis ini. Cara untuk melakukan tindakan
ini adalah dengan melilitkan benang ke ujung jari telunjuk, lalu masukkan benang
secara perlahan ke permukaan proksimal gigi sampai ke dekat margin gingival, lalu
tarik benang secara perlahan benang gigi keluar dari permukaan proksimal gigi.

3. Mouthrinsing

Tujuan dari penggunaan obat kumur dapat sebagai obat cair untuk
membersihkan rongga mulut atau untuk mengobati suatu penyakit dalam rongga
mulut. Tetapi sebaiknya penggunaan obat kumur tidak boleh dilakukan dalam jangka
waktu yang panjang. Karena dapat membunuh mikroflora normal dalam mulut. Di
Amerika Serikat sendiri, hanya sedikit toko yang menjual obat kumur di karenakan
efek samping yang dapat di timbulkan yaitu berupa staining pada gigi dan lidah.

Tabel 2
Prevention concepts and health/disease continuum

Level of Prevention Primary Secondary Tertiary

Prevention concept

Priorities of Prevention of Prevention of Prevention of loss of


prevention disease initiation disease progression function
and recurrence,

Intervention.
Taxonomy of Prepathosis Replacement
Prevention

Prevention Services Early diagnosis and


Health promotion prompt treatment Disability limitation
and rehabilitation.
Specific protection

Health Disease Prepathogenesis Pathogenesis

Tabel 3
Prevention program for dental caries: individual, community, and dental professional
preventive dentistry services
Level of Primary Secondary Tertiary
Prevention

Preventive Health Specific Early Disability Rehabilitation


Services Promotion Protection diagnosis limitation
and prompt
treatment

Services Diet Appropriat Self Utilizatio Utilization of


provided Planning, e use of examinatio n of dental
by demand for flouride, n, dental services
individual preventive ingestion of utilization services
services, sufficient dental
periodic visit fluoridated services.
to the dental water, use
office of flouride
dentrifice,
oral
hygiene
practices.

Sevices Dental health Community Periodic Provision Provision of


provided education or school screening, of dental dental
by the programs, water provision of services. services
community promotion of fluoridatio dental
research n, school services.
effort, lobby flouride
efforts mouthrinse
program,
school
flouride
tablet
program

Services Patient Topical Complete Complete Removable


provided education, application examinatio restorativ and fixed
by dental plaque flouride, n, prompt e prosthodontics
professiona control flouride treatment of dentistry, , minor tooth
l program, diet supplement incipient pulpotomi movement,
counseling, or lesion, , root implant.
recall mouthrinse simple canal
reinforcement , flouride restorative therapy,
, dental prophylaxis dentistry, extraction
caries paste, pulp
activity test adhesive capping
sealant.

Penyalahgunaan Substansi Kimia dan Pencegahannya


Beberapa zat kimia yang sering digunakan untuk mengubah pikiran, untuk
mengangkat suasana hati, untuk memodifikasi perasaan (terutama tentang diri sendiri), dan
kadang-kadang untuk meningkatkan kinerja sementara. Zat kimia yang digunakan untuk
tujuan ini dapat menyebabkan masalah bahkan sebelum semua kriteria untuk kecanduan
terpenuhi, istilah yang lebih luas adalah "ketergantungan obat" dan "penyalahgunaan zat".
Ketergantungan fisik (termasuk toleransi) dan ketergantungan psikologis dapat terjadi pada
penggunaan bahan kimia untuk memodifikasi suasana hati dan untuk melarikan diri dari
kecemasan.

Penyalahgunaan Alkohol

Substansi yang paling sering disalahgunakan adalah alkohol. Jika dibandingkan


dengan yang bukan peminum, peminum alkohol yang berat memiliki risiko besar pula dalam
masalah kesehatan. Pada orang yang peminum alkohol berat, estimasi median RR (relative
risk) untuk mendapatkan sirosis yaitu hampir sebesar 8. RR untuk mengalami bunuh diri,
kecelakaan dan kanker saluran pencernaan dan saluran pernafasan, yaitu sebesar 4. Secara
keseluruhan RR untuk mengalami kematian adalah sebesar 2. Alkohol merupakan senyawa
yang dapat menekan susunan syaraf pusat dengan cara menghilangkan hambatam yang
terjadi pada pusat otak sehingga orang yang mengkonsumsinya di satu sisi akan merasa sehat,
bebas dan agresif, namun di sisi yang lain akan menurunkan keterampilan dan reaksi
mentalnya.

Penyalahgunaan alkohol tidak hanya merusak badan dari peminumnya, namun juga
memberikan dampak pada performance kerjanya, seringkali juga memberikan dampak pada
tingkat kecelakaan termasuk kecelakaan mobil akibat penyalahgunaan alkohol tersebut.
Penyalahgunaan alkohol seringkali memiliki dampak yang sangat efektif pada keluarganya,
dengan rata-rata tinggi penyiksaan terhadap istri/suami, anak, mengakibatkan perceraian, dan
berbagai masalah yang terkait keluarga lainnya. Berbagai macam metode termasuk
pencegahan primer, sekunder dan tersier yang disarankan untuk mengurangi risiko konsumsi
alkohol ini terhadap berbagai penyakit dan kecelakaan serta kejadian-kejadian buruk lainnya.

Di Indonesia dan di berbagai negara lain, konsumsi tuak sangat banyak di


masyarakatnya. Kadar alkohol dalam minuman tuak memiliki kurang lebih sama dengan
kadar alkohol pada minuman wine/anggur, yaitu sekitar 4-5%. Pada penelitian Rizky N
(2014), tentang pengaruh minuman tuak terhadap erosi gigi, mengemukakan bahwa
mengkonsumsi minuman tuak secara berlebihan dapat menimbulkan efek patologis dalam
rongga mulut, karena minuman tuak memiliki pH yang asam (ph 3.3 4.0) sehingga dapat
mempengaruhi terjadinya erosi gigi. pH yang rendah dapat meningkatkan konsentrasi ion
hydrogen yang akan merusak hidroksiapatit email gigi. Hasil lain dari penelitian ini
membuktikan bahwa responden yang memiliki erosi gigi dengan lesi superficial paling tinggi
adalah responden yang mengkonsumsi minuman tuak secara rutin setiap hari selama 0-5
tahun yaitu sebanyak 6 orang (42,9%) dan banyaknya minuman tuak yang dikosnsumsi setiap
kali minum adalah lebih dari 3 gelas. Dalam uji chi-square nya juga membuktikan bahwa ada
pengaruh yang signifikan antara frekuensi konsumsi minuman tuak setiap hari, lamanya
konsumsi minuman tuak, serta banyaknya tuak yang dikonsumsi setiap kali minum terhadap
kejadian erosi pada peminum tuak yang dilihat dari nilai P=0,03.

Pencegahan primer pada penyalahgunaan alkohol

Lingkungan sosial merupakan salah satu yang paling mungkin dan penting
mempengaruhi dalam pencegahan primer dari penyalahgunaan alkohol. Jika seseorang
tumbuh atau berada pada lingkungan tanpa penggunaan alkohol, maka ia akan sangat
mungkin terhindar dari penggunaan alkohol di dalam hidupnya. Promosi kesehatan dalam hal
gaya hidup juga akan menghindarkan dan menjaga sebagaian besar dari penyalahgunaan
alkohol, dapat dimulai dari fungsi keluarga dan kelompok sosial lainnya. Pengurangan akses
legal alkohol dari lingkungan anak muda dapat mengurangi konsumsi alkohol sejak dini,
namun hal ini mungkin kurang efektif dibanding dengan penanaman nilai-nilai yang
dikembangkan di keluarga. Terbatasnya promosi alkohol di media juga akan mengurangi
keinginan anak muda untuk mencoba mengkonsumsi alkohol. Peningkatan pajak pada
minuman keras akan meingkatkan harga alkohol, namun hal ini masih belum secara jelas
dalapat menurunkan rata-rata penyalahgunaan dalam konsumsi alkohol. Dengan melakukan
pencegahan primer ini juga akan mempengaruhi dalam risiko terjadinya erosi gigi, salah
satunya dengan mengurangi frekuensi konsumsi alkohol, mengurangi lamanya konsumsi
minuman alkohol, dan mengurangi jumlah konsumsi alkohol.

Pencegahan sekunder dan tersier pada penyalahgunaan alkohol


Tujuan pencegahan sekunder dan tersier adalah deteksi awal dan perawatan dini
terhadap masalah penyahgunaan alkohol ini. Untuk deteksi dini yang dilakukan oleh orang
tua atau klinisi dapat menggunakan instrumen CAGE, yang berisi 4 pertanyaan (Ewing JA,
1984). Jika pasien menjawab ya pada 2 atau lebih pertanyaan, maka seseorang tersebut
termasuk dalam kriteria ketergantungan terhadap alkohol, dan biasanya lebih besar (90%)
pada laki-laki dibandingkan wanita. Pertanyaan tersebut adalah:

C : Have you ever felt that you ought to Cut down on drinking?

A : Have people Annoyed you by criticizing your drinking?

G : Have you ever felt bad or Guilty about your drinking?

E : Have you ever had a drink first thing in the morning (as an Eye opener) to steady your
nerves or get rid of a hangover?

Screening/pemeriksaan juga penting karena banyak pasien tidak mencari bantuan


untuk mengatasi gangguan kesehatan akibat konsumsi alkohol ini sampai kejadian yang
buruk terjadi, misalnya kecelakaan pada saat mengemudi. Perawatan pada orang dengan
kecanduan alkohol sangat sulit. Terdapat medikasi yang baik untuk merawat pasien tersebut,
namun dalam jangka waktu yang panjang sangat tergantung pada komitmen perawatan,
misalnya dengan mengajurkan melakukan 12 tahap dalam program Alcoholics Anonymous.
Untuk menjaga komitmen tersebut, terbukti bahwa pendekatan religius sangat efektif.

Penyalahgunaan Obat-obatan Terlarang

Konsumsi obat-obatan terlarang memiliki efek pada psikis/kejiwaan, misalnya kokain


dan heroin, dan merupakan obat-obatan yang paling banyak dikonsumsi, terutama jika
konsumsinya langsung disuntikkan sehingga akan mempengaruhi peningkatan pada blood
levelnya dan efeknya adalah euphoria (senang berlebihan). Obat-obatan terlarang/drugs
memiliki kandungan opioid, misalnya heroin; bersifat depresan misalnya barbiturat atau
transquilizer; bersifat stimulan misalnya kokain atau amfetamin; dan bersifat halusinasi
seperti LSD dan marjuana. Adiksi terhadap obat-obatan ini membuktikan sudah adanya
ketergantungan baik fisik maupun psikologis pada substansi kimia ini (drugs).
Konsumsi obat-obatan terlarang selain memiliki efek psikis, yaitu dapat
meningkatkan suasana hati, juga memiliki efek pada kesehatan gigi dan mulut yaitu
meningkatkan risiko gigi erosi, terutama pada konsumsi obat ekstasi, karena mengandung pH
yang rendah / asam (Brand HS et al, 2008; Milosevic A et al, 1999).

Pencegahan primer pada penyalahgunaan obat-obatan terlarang

Beberapa ahli percaya bahwa manusia memiliki kebutuhan bawaan untuk euforia,
namun pendapat lain para ahli bahwa manusia yang memiliki keinginan untuk mengkonsumsi
drugs oleh karena keinginan untuk coba-coba untuk mendapatkan kesenangan atau pelarian
diri dari masalah atau stres. Anak muda yang merokok biasanya memiliki kecenderungan
untuk memiliki pengalaman dengan penggunaan drugs dan akan sangat berpotensi untuk
menjadi pecandu. Anak-anak merupakan awal pencegahan yang baik untuk penyalahgunaan
obat-obatan terlarang. Anak-anak dengan kondisi rumah yang religius memiliki risiko yang
rendah terhadap penggunaan ilegal drugs. Pengelolaan terhadap harga juga penting, harga
yang murah akan memicu seseorang menkonsumsinya. Agar efektif, kontrol dari program
nasional diperlukan dan merupakan strategi yang baik. Sama dengan pencegahan primer pada
penyalahgunaan alkohol, pencegahan primer untuk penyalahgunaan obat-obat terlarang
khususnya ekstasi yang sudah terbukti memiliki pH rendah, adalah dengan mengurangi
paparan asamnya, dengan mengurangi frekuensi, mengurangi lamanya konsumsi dan
mengurangi konsumsinya.

Pencegahan sekunder dan tersier pada penyalahgunaan obat-obatan terlarang

Sama dengan penyalahgunaan alkohol, pencegahan sekunder dan tersier pada


penyalahgunaan obat-obatan terlarang juga terletak pada deteksi awal dan perawatan dini dari
masalah ini. Perawatan terhadap ilegal penyalahgunaan obat-obatan terlarang terdiri dari 4
tahap: assessment, abstinence initiation, relapse prevention dan follow-up. Assessment yang
hati-hati sangat penting untuk mendapatkan perawatan yang adekuat. Abstinence initiation
seringkali melibatkan psikoterapi individual dan medikasi yang dapat menekan keinginan
konsumsi drugs. Relapse prevention merupakan cara terbaik yang dapat diraih dengan
melibatkan terapi grup. Keberhasilan jangka panjang sangat tergantung pada individu yang
mendapat support grup dan mengembangkan pola habit baru. Untuk beberapa pencandu
drugs, dapat mengikuti pendekatan program 12 tahap Narcotics Anonymous, dan terbukti
sangat membantu. Reorientasi pada kehidupan pecandu dengan pendekatan religius akan
meningkatkan kesuksesan perawatan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Armasastra Bahar. Paradigma Baru Pencegahan Karies Gigi. Lembaga Penerbit


Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia: Indonesia. 2011; 5-6, 9-10.
2. Burt Brian, A. Stephan. Dentistry, Dental Practice and the Community. 6th ed. Elsevier
Saunders: US. 2005; 36-38.
3. Daly, Blanaid, et all. Essential Dental Public Health. Oxford University Press: New
York. 2005; 5-7, 50-55.
4. Harris, NO., Garcia-Godoy, F. Primary Preventive Dentistry. Applenton & Lange: US.
1999; 3.
5. Picket, G., Hanlon, JJ. Public Health: Administration and Practice 9th Ed. Mosby
college Publishing. 1990; 6, 87-90.
6. Casamassimo, Field, McTigue and Nowak. Pediatric Dentistry, Infacy Through
Adolescence. 5th ed. Missouri: Elsevier. 2013.
7. Jong, Anthony. Dental Public Health and Community Dentitsry.St. Louis: CV Mosby.
1981: 85-102.
8. Morse Dunning, James. Principles of Dental Public Health.2 nd ed. Massachusetts:
Harvard University Press. 1975: 215-249.
9. L. Bernier, Joseph. Improving Dental Practices Through Preventive Measures. 3rd ed. St.
Louis: The CV Mosby. 1975.p811-83.p192-195.
10. Rizky Noviyanti. Pengaruh Konsumsi Minuman Tuak Terhadap Erosi Gigi di Kecamatan
Maiwa Kabupaten Enrekang. [skripsi]. Makassar: Universitas Hasanuddin. 2014.
11.