Anda di halaman 1dari 13

Osteomelitis Akut dan Kronis

Lusye Diana Jacob


Mahasiswi Fakultas Kedokteran Tahun 2012Universitas Kristen KridaWacana, Jakarta
NIM: 102012058, Email: lusydiana.jc18@yahoo.com

Pendahuluan
Latar belakang
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan bertanggung jawab
terhadap pergerakan. Sistem ini terdiri dari tulang, sendi, otot rangka.tendo, ligamen,
bursa, dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkanan struktur-struktur ini.
Berbagai sistem muskluloskeletal dapat menimbulkan berbagai macam gangguan. Tanda
utama gangguan sistem muskuloskeletal adalah nyeri dan rasa tidak nyaman, yang dapat
bervaraiasi dari tinggkat yang paling ringan sampai yang sangat berat.
Salah satu gangguan tersebut adalah osteomielitis. Osteomyelitis merupakan inflamasi
pada tulang yang disebabkan infeksi piogenik atau non-piogenik seperti Micobacterium
tuberkulosa atau Staphylococcus aureus. Infeksi dapat terbatas pada sebagian kecil
tempat pada tulang atau melibatkan beberapa daerah seperti sum-sum, perioesteum, dan
jaringan lunak disekitar tulang. Dapat tersebar melalui tulang, melibatkan sumsum,
korteks, jaringan kanselosa, dan periosteum.
Osteomelitis dapat menyerang pada semua usia dan jenis kelamin. Pada anak-anak
sering ditemukan kelainan pada tulang disebabkan oleh infeksi pada tulang atau pada
bagian lunak tulang akibat dari suatu bakteri atau kontaminasi pada fraktur terbuka yang
dikenal sebagai osteomielitis. Kelainan ini dapat menimbulkan rasa nyeri serta
pembengkakan yang pada anak-anak dapat mengganggu aktivitas mereka. Jika tidak
segera ditangani akan timbul gejala klinis yang lebih serius.
Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mengetahui mengenai osteomelitis
yang meliputi, pemeriksaan , penyebab, komplikasi, dan cara penanggulangannya.
PEMBAHASAN

Anamnesis
Keluhan utama : seorang laki-laki datang dengan keluhan luka pada kaki kanan.
Keluhan tambahan : - luka mengeluarkan pus dan darah
- Demam
Pada anamnesis yang dapat kita tanyakan adalah:
Nyeri adalah alasan konsultasi rematologis yang paling sering dijumpai, tetapi sering
tidak jelas sehingga diperlukan pertanyaan spesifik. Derajat nyeri tidak berkaitan
langsung dengan keparahan penyakit.1 Pertanyaan yang dapat diajukan, yaitu :
1. Identitas pasien (nama,usia)?
2. Apa saja keluhan yang dialami?
3. Di mana nyeri terasa?
4. Sudah berapa lama merasakan nyeri?
5. Apakah nyeri menyebar ke tempat lain?
5. Tunjukkan titik yang paling nyeri
6. Apakah nyeri menjalar ke lengan atau tungkai ?1

Pemeriksaan
A. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik
Pada kasus didapati seorang laki-laki 20 tahun datang dengan keluhan luka dikaki
kanan sejak 5 bulan yang lalu kemudian pada pemeriksaan fisik terdapat pus dan dan
darah yang keluar dari luka derta didapatkan sehu 37,9 C, tinggi dan berat badan normal,
tekanan darah 120/80 mmHg, nyeri tekan(+), edema(+), jar.granulasi(+) pada regio cruris
dextra. Didapatkan keterbatasn gerak karena nyeri.
1. Inspeksi (Look) : - compos mentis
- pada luka mengeluarkan pus dan darah
2. Palpasi (Feel) : teraba edema, terdapat rasa nyeri
3. Pergerakan (Move) : keterbatasn gerak karena nyeri
4. Suhu tubuh : 37,9C
B. Laboratorium
Analisis darah dapat memperlihatkan peningkatan hitung darah lengkap dan laju
endap darah, yang mengisyaratkan adanya infeksi yang sedang berlangsung.
Pada fase akut ditemukan CRP yang meninggi, laju endap darah yang meninggi dan
leukositosis.2
C. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Radiologik
Pada fase akut gambaran radiologik tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik
ditemukan suatu involukrum dan sekuester.
Misalnya :
- X-ray : rontagen untuk sendi/tulang yang terkena (untuk lesi litik,reaksi periosteal:
membutuhkan waktu 2 minggu untuk timbulnya abnormalitas).
- MRI (magnetic resonance imaging) untuk mengidentifikasi
involukrum/sekuestrum.
- CT-scan tulang : Scan tulang dengan menggunakan nukleotida berlabel radioaktif
dapat memperlihatkan peradangan di tulang.
Jaringan yang keras secara umum lebih baik ditunjukan oleh CT namun perubahan
jaringan lunak lebih baik terlihat menggunakan MRI. Ketika terjadi perubahan
kepadatan pada infeksi sumsum tulang, hal tersebut dapat diperiksa menggunakan CT,
namun MRI lebih baik dalam menunjukkan perluasan patologis tulang dan jaringan
lunak sekitarnya dan sangat sensitive seperti pemeriksaan scan radioisotop. Kelebihan
terakhir yaitu MRI dapat menunjukkan focus infeksi diluar dari yang diperkirakan.3
2. Kultur pus dan cairan infeksi (biopsi tulang)
3. Isotope bone scan (technetium).3
Diagnosis
Working Diagnosis
Berdasarkan kasus yang ada dapat disimpulkan bahwa pria tersebut menderita
osteomelitis. Osteomelitis adalah infeksi tulang dan sumsum tulang. Osteomelitis akut
terutama ditemukan pada anak-anak. Umumnya infeksi pada tulang panjang dimulai
pada metafisis. Tulang yang sering terkena ialah femur bagian distal, tibia bagian
proksaimal, humerus, radius, dan ulna proksimal dan distal, serta vertebra. 4 osteomelitis
terjadi karena penyebaran infeksi dari darah (osteomelitis hematogen) atau yang lebih
sering, setelah kontaminasi fraktur terbuka atau reduksi (osteomelitis eksogen atau non-
hematogen).
Osteomelitis dapat diklasifikasikan dalam dua macam osteomelitis, yaitu:
Osteomelitis primer. Penyebabnya secara hematogen dimana mikroorganisme
berasal dadri focus ditempat lain dan beredadr melalui sirkulasi darah
Osteomelitis sekunder. Terjadi akibat penyebaran kuman dari sekitarnya akibat
dari bisul, luka fraktur dan sebagainya.
Berdasarkan lama infeksi, osteomelitis terbagi menjasi 2 yaitu
1. Osteomelitis akut
Yaitu osteomelitis yang terjadi dalam 2 minggu sejak infeksi pertama atau sejak
penyakit pendahulu timbul. Osteomelitis akut ini biasanya terjadi pada anak-anak
dari pada orang dewasa dan biasanya terjadi sebagai komplikasi dari infeksi
didalam darah (osteomelitis hematogen). Osteomielitis akut merupakan radang
bagian lunak tulang, yaitu isi sumsum tulang, saluran Havers dan periosteum.
Bagian yang keras tidak terkena; hanya karena kerusakan sekunder akibat
gangguan peredaran darah, maka sebagian akan mati.
2. Osteomelitis kronis
Yaitu osteomelitis yang terjadi dalam 2 bulan atau lebih sejak infeksi pertama
atau sejak penyakit pendahuluan timbul. Osteomelitis kronis biasanya terjadi
pada orang dewasa dan biasanya terjasi karaena ada lukan atau terauma, misalnya
osteomelitis yang terjadi pda tulang yang fraktur.
Diagnosis banding (deferential diagnose)
Gambaran radiologik osteomielitis dapat menyerupai gambaran penyait-penyakit
lain pada tulang, diantaranya adalah tumor ganas primer tulang. Destruksi tulang, reaksi
periosteal, pembentukan tulang baru, dan pembengkakan jaringan lunak, dijumpai juga
pada osteosarkoma dan Ewing sarkoma.
1. Osteosarkoma
Osteosarkoma seperti halnya osteomielitis, biasanya mengenai metafisis tulang
panjang sehingga pada stadium dini sangat sukar dibedakan dengan osteomielitis. Pada
stadium yang lebih lanjut, kemungkinan untuk membedakan lebih besar karena pada
osteosarkoma biasanya ditemukan pembentukan tulang yang lebih banyak serta adanya
infiltrasi tumor yang disertai penulangan patologik ke dalam jaringan lunak. Juga pada
osteosarkoma ditemukan segitiga Codman.4
2. Ewing sarkoma
Pada tulang panjang, Ewing sarkoma biasanya mengenai diafisis; tampak
destruksi tulang yang bersifat infiltratif, reaksi periosteal yang kadang-kadang
menyerupai kulit bawang yang berlapis-lapis dan massa jaringan lunak yang besar.4
3. Artritis septik/Infektif/Artritis Bakterialis
Etiologi pada artritis septik disebabkan oleh mikrobiologis antara lain Staphylococcus
aureus, S.pyogenes, Streptokokus -hemolitikus grup B, H.influenzae (tipe b), Neisseria
gonorrhoeae, E.coli, Salmonella, P.aeruginosa, parvovirus, hepatitis B, mumps,
Mycoplasma pneumoniae, Mycobacterium tuberculosis.
Faktor predisposisi : artritis yang sudah ada sebelumnya (terutama reumatoid), injeksi
intra-artikular, implan logam, trauma, osteomielits disekitarnya, kortikosteroid, kegansan
penyalahgunaan obat intravena.3
Gambaran klinis : Nyeri dan pembengkakan sendi lutut, umumnya monoartikuler
(90%), terutama pada sendi lutut, umumnya ada penyakit yang mendasari, umumnya
demam, dan penurunan ROM (range of mtion).
Patogenesis : Bakteri patogen mencapai ruang sendi melalui : secara hematogen (>50%),
penyebaran dari infeksi kulit atau tulang sekitar sendi dan inokulasi langsung.
Patofisiologi : Bakteri mencapai ruang sendi kemudian menginfeksi pada sinovium
bakteri mengalami proliferasi dan infiltrasi PMN dan sel inflamasi lain pada membran
sinovial menimbulkan respon inflamasi berupa :6
a. memicu degerasi kartilago diperantai sitokinin dan reaksi enzimatik
b. neovaskularisasi
c. pembentukan jaringan granulisasi
Bila tidak diterapi secara tepat dapat terjadi keadaan irrevisible:
a. subchondral bone loss
b. destruksi kartilago

Etiologi
Osteomielitis adalah inflamasi akut maupun kronik pada tulang yang disebabkan oleh
infeksi oleh bakteri pyogenik. Penyebab pada osteomielitis yakni :
Mikrobiologis
- Staphylococus aureus, Streptococcus pyogenes, Haemophilus influenzae (tipe b),
Salmonella typhi,Escherichia coli,Pseudomonas aeruginosa,anaerob
- Mycobacterium tuberculosis, 3
Infeksi dapat terjadi secara :
a. Hematogen : Pada anak dan orang dewasa asalnya terutama infeksi hematogen.
Staphylococcus akan masuk aliran darah dari fokus yang jauh seperti kulit, tenggorok,
tonsil atau gigi.
b. Non-Hematogen/eksogen :
- Kontaminasi dari luar : fraktur terbuka, tindakan operasi pada tulang, trauma,dan
luka tembak.
- Perluasan infeksi jaringan ke tulang di dekatnya
Misalnya osteomielitis mandibula disebabkan oleh infeksi gigi atau suatu infeksi
tulang mastoid disebabkan oleh otitis media acuta. Tulang yang biasanya terkena
ialah femur, tibia, humerus dan radius.

Gambaran Klinis
Jika infeksi dibawah oleh darah, biasanya awitan mendadak, sering terjadi dengan
manifestasi klinis septikemia (misalnya menggigil, demam tinggi, denyut nadi cepat dan
malaise umum). Gejala sistemik pada awalnya dapat menutupi gejala lokal secara
lengkap. Setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum ke korteks tulang, akan
mengenai periosteum dan jaringan lunak, dengan bagian yang terinfeksi menjadi nyeri,
bengkak dan sangat nyeri tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang
semakin memberat dengan gerakan dan berhubungan dengan tekanan pus yang
terkumpul. Bila osteomelitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi disekitarnya atau
kontaminasi langsung, tidak ada gejala septikemia. Daerah infeksi membengkak, hangat,
nyeri dan nyeri tekan. Pasien dengan osteomelitis kronik ditandai dengan pus yang selalu
mengalir keluar dari sinus atau mengalami periode berulang nyeri, inflamasi,
pembengkakan dan pengeluaran pus. Infeksi derajat rendah dapat terjadi pada jaringan
perut akibat kurangnya asupan darah. 2

Epidemologi
Osteomielitis akut terutama ditemukan pada ank-anak. Umumnya infeksi pada tulang
panjang dimulai pada metafisis. Tulang yang sering terkena ialah femur bagian distal,
tibia bagian proksimal, humerus, radius dan ulna bagian proksimal dan distal, serta
vertebra. Infeksi akut tulang terutama terjadi pada tulang yang sedang tumbuh, tersering
pada usia 2-10 tahun. Anak laki-laki 3 kali lebih sering daripada anak
perempuan,mungkin karena lebih sering kena trauma.4 Osteomelitis subakut atau kronik
biasanya dialami oleh orang dewasa.1
Patofisiologi
Tulang dan sumsum tulang terkena infeksi. Infeksi pada tulang dapat terjadi melalui
Perluasan langsung dari sumber atau fokus terdekat
Kontaminasi langsung, misalnya pada patah tulang atau luka terbuka, dan
Penyebaran hematogen dari pusat infeksi jauh
Pasien dengan osteomelitis akut tampak sakit berat, demam, menggigil dan ada
leukositas. Tungkai yang bersangkutan sangat sakit, bengkak dan merah ditempat infeksi,
dan kulit dangat sensitif.
Osteomielitis selalu dimulai dari daerah metafisis karena pada daerah tersebut peredaran
darahnya lambat dan banyak mengandung sinusoid. Penyebaran osteomielitis dapat
terjadi :
1. Penyebaran ke arah korteks, membentuk abses subperiosteal dan selulitis
pada jaringan sekitarnya.
2. Penyebarannya menembus periosteum membentuk abses jaringan lunak.
Abses dapat men embus kulit melalui suatu sinus dan menimbulkan fistel.
Abses dapat menyumbat atau menekan aliran darah ke tulang dan
mengakibatkan kematian jaringan tulang (sekuester).
3. Penyebaran ke arah medula
4. Penyebaran ke persendian, terutama bila lempeng pertumbuhannya
intraartikuler misalnya sendi panggul pada anak-anak. Penetrasi ke epifisis
jarang terjadi.2
Perjalanan penyakit :
Pada osteomyelitis, bakteri mencapai daerah metafisis tulang melalui darah dan
tempat infeksi di bagian tubuh yang lain seperti pioderma atau infeksi saluran nafas atas.
Trauma ringan yang menyebabkan terbentuknya hematoma diduga berperan dalam
menentukan timbulnya infeksi didaerah metafisis yang kaya akan pembuluh darah.
Hematoma tersebut merupakan media yang baik bagi pertumbuhan bakteri yang
mencapai tulang melalui aliran darah. Di daerah hematoma tersebut terbentuk suatu
fokus kecil infeksi bakteri sehingga terjadi hyperemia dan edema. Tulang merupakan
jaringan yang kaku dan tertutup sehingga tidak dapat menyesuaikan diri dengan
pembengkakan yang terjadi akibat edema dan oleh karena itu, edema akibat peradangan
tersebut menyebabkan kenaikan tekanan intraseus secara nyata dan menimbulkan rasa
nyeri yang hebat dan menetap, kemudian terbentuk pus, yang semakin meningkatkan
tekanan intraseus didaerah infeksi dengan akibat timbulnya gangguan aliran darah.
Gangguan aliran darah ini dapat mengakibatkan terjadinya trombosis vaskuler dan
kematianjaringantulang.5
Mula-mula terdapat fokus infeksi di daerah metafisis, lalu terjadi hiperemia dan udem.
Karena tulang bukan jaringan yang bisa berekspansi maka tekanan dalam tulang yang
hebat ini menyebabkan nyeri lokal yang hebat. Biasanya osteomyelitis akut disertai
dengan gejala septikemia seperti febris, malaise, dan anoreksia. Infeksi dapat pecah ke
periost, kemudian menembus subkutis dan menyebar menjadi selulitis, atau menjalar
melelui rongga subperiost ke diafisis. Infeksi juga dapat pecah ke bagian tulang diafisis
melalui kanalis medularis. Penjalaran subperiostal ke arah diafisis, sehingga
menyebabkan nekrosis tulang yang disebut sekuester. Periost akan membentuk tulang
baru yang menyelubungi tulang mati tersebut. Tulang baru yang menyelubungi tulang
matidisebutinvolukrum.6
Osteomyelitis selalu dimulai dari daerah metafisis karena pada daerah tersebut peredaran
darahnya lambat dan banyak mengandung sinusoid. Penyebaran osteomyelitis dapat
terjadi; (1) penyebaran ke arah kortek, membentuk abses subperiosteal dan sellulitis pada
jaringan sekitarnya; (2) penyebaran menembus periosteum membentuk abses jaringan
lunak. Abses dapat menembus kulit melalui suatu sinus dan menimbulkan fistel. Abses
dapat menyumbat atau menekan aliran darah ke tulang dan mengakibatkan kematian
jaringan tulangg (sekuester); (3) penyebaran ke arah medula; dan (4) penyebaran ke
persendian, terutama bila lempeng pertumbuhannya intraartikuler misalnya sendi
panggul pada anak-anak. Penetrasi ke epifisis jarang terjadi.6
Tanpa pengobatan, infeksi selanjutnya dapat menyebar ketempat lain. Penyebaran lokal
terjadi melalui struktur trabekula yang porus ke kortek metafisis yang tipis, sehingga
melalui tulang kompakta. Infeksi meluas melalui periosteum melalui kanal atau saluran
haver dan menyebabkan periosteum, yang tidak melekat erat ke tulang pada anak-anak,
mudah terangkat sehingga terbentuk abses subperiosteum, terangkatnya periosteum akan
menyebabkan terputusnnya aliran darah kekortek dibawah periosteum tersebut dan hal
ini semakin memperluas daerah tulang yang mengalami nekrosis.7 Penyebaran infeksi
kearah kavum medular juga akan menggangu aliran darah kebagian dalam kortek tulang.
Gangguan aliran darah dari 2 arah ini yaitu dari kavum medulare dan periosteum
mengakibatkan bagian kortek tulang menjadi mati serta terpisah dari jaringan tulang
yang hidup, dan dikenal sebagai sekuestrum. Sekuestrum adalah awal dari stadium
kronik. Infeksi didaerah subperiosteum kemudian dapat menjalar kejaringan lunak
menyebabkan sellulitis dan kemudian abses pada jaringan lemak. Pus akhirnya akan
keluar menuju ke permukaan kulit melalui suatu fistel.5
Dalam keadaan tenang merupakan rongga kecil dikelilingi oleh tulang dan terisi
cairan jernih. Pada masa eksaserbasi maka rongga ini akan terisi nanah,tempat dapat
ditemukan stafilokokus. Pada histologik osteomielitis kronik tampak 2 unsur yaitu
nekrosis supuratif dan iskhemik serta pemulihan jaringan ikat dan tulang.8

Penatalaksanaan
Medical Mentosa
- Antibiotik spektrum luas yang efektif terhadap gram positif maupun gram negatif.
Antibiotik dapat diberikan pada individu yang mengalami fraktur tulang atau luka
tembus jaringan lunak yang mengelilingi suatu tulang sebelum tanda-tanda infeksi
timbul. Apabila infeksi tulang memang terjadi, diperlukan terapi antibiotik agresif.
Contoh antibiotik : golongan penisilin, golongan sefalosporin gen III, golongan
kuinolon, aminoglikosida.
- Perawatan di rumah sakit
- Pemeriksaan biakan darah
- Pengobatan suportif dengan pemberian infus

- Tindakan pembedahan
Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah :
a. adanya abses
b. rasa sakit yang hebat
c. adanya sekuester
bila mencurigakan adanya perubahan ke arah keganasan (karsinoma epedermoid).
Saat yang terbaik untuk melakukan tindakan pembedahan adalah bila involukrum telah
cukup kuat untuk mencegah terjadinya fraktur pascapembedahan.2

Gambar 1. Pembersihan kaki pada pasien Osteomelitis


osteomelitis kronik lebih sukar diterapi, terapi umum meliputi pemberian antibiotik
dan debridemen. Tergantung tipe osteomelitis kronik, pasien mungkin diterapi dengan
antibiotik parenteral selama 2 sampai 6 miunggu. Meskipun, tanpa debridemen yang
adekuat, osteomelitis kronik tidak berespon terhadap kebanyakan regimen antibiotik,
berapa lama pun terapi dilakukan.7
pada osteomelitis kronik dilakukan sekuestrasi dan debridemen serta pemberian
antibiotik yang sesuai dengan hasil kultur dan tes resistensi. Debridemen berupa
pengeluaran jaringan nekrotik didinding ruang sekuester dan penyaliran.5 Debridemen
pada pasien dengan osteomelitis kronik membutuhkan teknik. Kualitas debridemen
merupakan faktor penting dalam kesuksesan penanganan. Sesudah debridemen
dengan eksisi tulang, perlu menutup dead-space yang dibentuk oleh jaringan yang
diangkat. Managemen dead-space meliputi mioplasti lokal, transfer jaringan bebas
dan penggunaan antibiotik yang dapat meresap.3
Pada fase pascaakut, subakut, atau kronik dini biasanya involukrum belum cukup kuat
untuk menggantikan tulang asli yang menjadi sekuester. Karena itu ekstremitas yang
terkena harus dilindungi dengan gips untuk mencegah patah tulang patologik, dan
debridemen serta sekuestrektomi ditunda sampai involukrum menjadi kuat. Selama
menunggu pembedahan dilakukan penyaliran nanah dan pembilasan.9
Non Medical Mentosa
- Tirah baring dan imobilisasi anggota gerak yang terkena hingga inflamasi
sendi/tulang menghilang.
- Fisioterapi intensif.3

Pencegahan

Osteomelitis hematogen akut dapat dihindari dengan pencegahan dari kontaminasi


bakteri pada tulang dari tempat jauh. Ini meliputi diagnosis yang sesuai dan terapi primer
infeksi bakteri. Osteomelitis direct/eksogen dapat dicegah dengan menajemen luka yang
baik dan pemberian antibiotik profilaksi pada saat terjadinya luka.7

Komplikasi
Pada osteomelitis akut komplokasi yang terjadi dapat berupa kekambuhan yang dapat
mencapai 20%, cacat berupa destruksi sendi, fraktur, abses tulagn, selulitis, gangguan
pertumbuhan karena kerusakan cakram epifisis, pelepasan implant buatan, timbulnya
saluran sinus pada jaringan lunak. 5,8

Pada osteomelitis kronik komplikasi tersering adalah terus berlangsungnya infeksi


dengan eksaserbasi akut. Infeksi yang terus-menerus akan menyebabkan anemia,
penurunan berat badan, kelemahan dan amiloidosis. Osteomyelitis kronik dapat
menyebar ke organ-organ lain. Eksaserbasi akut dapat dipersulit oleh efusi hebat ke
dalam sendi di dekatnya atau oleh arhtritis purulenta. Erosi terus-menerus dan kerusakan
tulang yang progresif menyebabkan struktur tulang yang kadang-kadang menyebabkan
fraktur patologis. Sebelum penutupan epifiseal, osteomyelitis dapat menimbulkan
pertumbuhan berlebihan dari tulang panjang akibat hiperemia kronis pada lempeng
pertumbuhan. Destruksi fokal dari suatu lempeng epifiseal dapat menimbulkan
pertumbuhan yang asimetrik. Jarang-jarang setelah terjadi drainase selama bertahun-
tahun pada jaringan yang terus-menerus terinfeksi timbul karsinoma sel skuamosa atau
fibrosarkoma.10

Prognosis

Prognosisnya bermacam-macam tetapi secara nyata diperbaiki dengan diagnosis dini


dan terapi yang agresif.9 Pada osteomelitis kronis kemungkinan kekambuhan infeksi
masih besar, ini beadanya disebabkan oleh tidak komplitnya pengeluaran semua daerah
parut jaringan yang terinfeksi atqau tulang nekrotik yang tidak terpisah.10

PENUTUP

Kesimpulan
Pada kasus dalam skenario 6, anak tersebut menderita osteomielitis kronis. Gejala-
gejala yang ditunjukan seperti nyeri pada tungkai kanan, demam, kesulitan mengangkat
tungkai, luka mengeluarkan pus, edem, dan pasien telah menjalani 2 kali operasi namun tidak
sembuh-sembuh sehingga pasien harus dilakukan pembedahan, debridemen dan diberikan
antibiotik secara adekuat. Perlunya pengetahuan dan penanganan yang baik, tepat, dan segera
akan memperbaiki kondisi dan menghasilkan prognosis yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dacre J, Kopelmen P. Buku saku keterampilan klinis. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran


EGC;2004.hal.135-37.
2. Mansjoer S., Kapita selekta kedokteran. edisi ke-3. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran UI;2000.
3. Mandal BK, Wilkins EGL, Dunbar EM, Mayon RT. Lecture notes penyakit infeksi. edisi
ke-6. Jakarta:Erlangga Medical Series;2004.hal.193-195.
4. Rasad S. Radiologi diagnostik. edisi ke-2. Jakarta:Fakultas Kedokteran UI;2005.hal.62-
68.
5. Samiaji E., 2003, Osteomyelitis, Bagian Ilmu Bedah BRSD Wonosobo, Fakultas
Kedokteran UMY.
6. Corwin EJ. Buku saku patofisiologi. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran
EGC;2000.hal.301-302.
7. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam.ed 5. Jakarta:InternaPublishing;2009.p.2639-2643.
8. Patologi. Jakarta:Fakultas Kedokteran UI bagian patologi;1996.hal 437.
9. Robins, Cotran. Buku saku dasar patologis penyakit.ed 7. Jakarta:Penerbit Buku
Kedokteran EGC;2008.hal.732-735.
10. Samiaji E., 2003, Osteomyelitis, Bagian Ilmu Bedah BRSD Wonosobo, Fakultas
Kedokteran UMY