Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Teknik PWK Volume 2 Nomor 1 2013

Online : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/pwk
__________________________________________________________________________________________________________________

MODEL SPASIAL KERENTANAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN


TERHADAP BENCANA GUNUNG MERAPI

("Spatial Model of Social Economic and Institutional Vulnerability


Of Merapi Disaster")
Marbruno Habibi1 dan Imam Buchori2
1
Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
2
Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro
Email: habybie@gmail.com

ABSTRAK: Gunung Merapi merupakan salah gunung yang masih aktif yang ada di Indonesia dan terletak
diantara empat Kabupaten yang ada di Provinsi Jawa Tengah dan DIY. Gunung merapi tergolong gunung yang
berbahaya karena mengalami erupsi dalam jangka waktu yang relatif pendek dan disekitarnya terdapat
kawasan pemukiman sehingga dapat mengancam keselamatan penduduk. Letusan gunung merapi banyak
memakan korban jiwa dan harta benda, salah satu penyebabnya adalah kerentanan sosial, ekonomi dan
kelembagaan masyarakat pada kawasan rawan bencana gunung merapi. Penelitian dengan judul Model
Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan Terhadap Bencana Gunung Merapi ini diangkat dari
latar belakang kondisi sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat yang rentan terhadap bencana gunung
merapi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat serta kelembagaan
yang dimodelkan secara spasial untuk mengetahui tingkat kerentanan masyarakat dengan bantuan alat sistem
informasi geografis. Penelitian ini dilakukan pada Kawasan Rawan Bencana III Gunung Merapi Kecamatan
Dukun dan Srumbung Kabupaten Magelang yang terdiri dari 16 Desa dan 124 Dusun. Penelitian ini
menggunakan pendekatan analisis kuantitatif dengan metode analisis data berupa scoring analysis, deskriptif
kuantitatif dan analisis spasial. Scoring analysis dilakukan dengan pemberian skor pada setiap variabel yang
digunakan dalam penelitian, analisis deskriptif kuantitatif menggambarkan deskripsi penjelasan dan gambaran
mengenai data kuantitatif yang digunakan dalam analisis dan analisis spasial yang dilakukan dalam penelitian
ini adalah untuk pemetaan variabel dan overlay variabel. Kerentanan sosial yang merupakan kajian dalam
penelitian ini diukur dengan kepadatan penduduk, penduduk usia tua dan balita, penduduk wanita dan
pemahaman masyarakat terhadap bencana. Sedangkan kerentanan ekonomi diukur dari persentase tingkat
kemiskinan penduduk dan kerentanan kelembagaan diukur dari keberadaan lembaga penanggulangan
bencana dan forum pengurangan risiko bencana. Output dari penelitian ini adalah kerentanan sosial, ekonomi
dan kelembagaan masyarakat terhadap bencana gunung merapi yang dimodelkan secara spasial dengan
menggunakan bantuan alat sistem informasi geografis dengan hasil akhir berupa peta kerentanan sosial,
ekonomi dan kelembagaan. Hasil analisis kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan menunjukkan bahwa
dari 124 dusun yang ada di KRB III Kecamatan Dukun dan Srumbung, 37 dusun diantaranya merupakan
kerentanan rendah. Sedangkan 81 dusun dengan kerentanan sedang dan 6 dusun dengan kerentanan tinggi.

Kata Kunci: Bencana, Gunung Merapi, Kerentanan, Sosial, Ekonomi dan Kelembagaan

ABSTRACT: Mount Merapi is a mountain that is still active in Indonesia and located between the existing four
districts in Central Java and Yogyakarta. This volcano considered as a dangerous mountain due to the eruption
in a relatively short period of time. In addition the volcano is surrounded by residential areas. It could be bad
because the eruption could threaten the safety of residents. The eruption of Mount Merapi raises many
casualties and property, one of the causes is social, economic and institutional vulnerability of communities in
disaster prone areas of the volcano.The study entitled Spatial Model of Social Economic and Institutional

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |1


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

Vulnerability Of Merapi Disaster" is conducted from the background of social, economic and institutional
conditions of communities vulnerable to volcano disasters. This study aimed to assess the social and economic
vulnerabilities of communities and institutions that are spatially modeled to determine the level of vulnerability
of the community using geographic information systems tool. The research was conducted in Disater Prone
Zone III of Mount Merapi in Dukun and Srumbung Sub District Magelang which consist of 16 villages and 124
hamlet. This study uses a quantitative analytical approach to data analysis methods such as scoring analysis,
quantitative descriptive and spatial analysis. Analysis of scoring is done by giving the score on each variable
used in the study, quantitative descriptive analysis illustrates the description explanation and description of the
data used in the analysis of quantitative, and spatial analysis performed in this study is to map variables and
variable overlay. Social vulnerability assessment in this study is measured by population density, the elderly and
young children, the women and people's understanding of disasters. While economic vulnerability measured by
the percentage of the poverty level of the population and institutional vulnerability measured by the existence
of such disaster management and disaster risk reduction forum. The output of this study is the social, economic
and institutional vulnerability of communities to disasters volcanos (which) are modeled spatially using
geographic information system tools. The final result is in the form of a map of social, economic and
institutional vulnerability. The results of the economic, social and institutional vulnerability analysis shows that
of the 124 hamlets in KRB III Dukun and Srumbung Sub District, 37 hamlets have a low vulnerability. While 81
hamlets have moderate vulnerability and 6 hamlet has high vulnerability.

Keywords: Disaster, Mount Merapi, Vulnerability, Social, Economic and Institutional

Pendahuluan material. Bahaya sekunder terjadi secara tidak


Indonesia mempunyai karakteristik langsung dan umumnya berlangsung pada
bencana yang kompleks, karena terletak pada pasca letusan, misalnya lahar hujan,
tiga lempeng aktif yaitu lempeng Euro-Asia di kerusakan lahan pertanian/ perkebunan dan
bagian utara, Indo-Australia di bagian selatan rumah. Sedangkan bahaya tersier merupakan
dan lempeng Pasifik di bagian Timur. Ketiga bahaya akibat kerusakan lingkungan gunung
lempeng aktif tersebut bergerak dan saling berapi seperti hilangnya daerah resapan/
bertumbukan sehingga menyebabkan rawan hutan/ mata air. Tingkat bahaya dari suatu
bencana seperti letusan gunung berapi, gunung berapi sangat tergantung dari
gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah long- kerapatan dari suatu letusan dan kepadatan
sor. Banyak gunung berapi di Indonesia yang penduduk yang bermukim di sekitar gunung
masih aktif, salah satunya adalah gunung berapi tersebut.
merapi yang secara administrasi berada di Kerawanan bencana alam gunung
tengah-tengah dua Provinsi yaitu Provinsi merapi ini telah diperparah oleh beberapa
Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa permasalahan lain yang muncul dan memicu
Yogyakarta. Dari dua Provinsi tersebut meningkatnya kerentanan. Laju pertumbuhan
terdapat empat Kabupaten yang berbatasan penduduk akan banyak membutuhkan
langsung dengan gunung merapi yaitu kawasan hunian baru yang pada akhirnya
Kabupaten Magelang, Boyolali, Klaten dan kawasan hunian tersebut akan terus
Kabupaten Sleman. berkembang dan menyebar hingga mencapai
Gunung merapi ini memiliki wilayah marginal yang tidak aman seperti
karakteristik erupsi berupa runtuhan kubah berada pada kawasan rawan bencana dan
lava yang menyebabkan bahaya aliran awan kawasan lindung. Kerentanan non fisik yang
panas. Geofisik gunung merapi memiliki tipe berupa kerentanan sosial, ekonomi dan
khas stratolandesit dan punya bentuk lereng kelembagaan merupakan sebab dan akibat
yang konkaf. Bahaya letusan gunung api dari besarnya kerugian karena bencana
terdiri atas bahaya primer, sekunder dan gunung berapi. Kerentanan sosial
tersier. Bahaya primer adalah bahaya yang menunjukkan perkiraan tingkat kerentanan
langsung menimpa penduduk ketika letusan terhadap keselamatan jiwa/ kesehatan
berlangsung seperti awan panas dan lontaran penduduk apabila ada bahaya. Sedangkan

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |2


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

kerentanan ekonomi dilihat dari segi ekonomi 4. Membangun model spasial kerentanan
penduduk dan kerentanan kelembagaan sosial, ekonomi dan kelembagaan dengan
dilihat dari keberadaan lembaga yang ada di alat sistem informasi geografis;
daerah maupun di desa. Peningkatan 5. Mengevaluasi hasil model spasial dengan
kerentanan ini akan lebih diperparah bila cara mengecek hasil implementasi ke
aparat pemerintah maupun masyarakatnya lapangan;
sama sekali tidak menyadari dan tanggap 6. Merevisi model sekiranya diperlukan
terhadap adanya potensi bencana alam di penyempurnaan serta memberikan
daerahnya. Untuk itu diperlukan upaya-upaya kesimpulan dan rekomendasi untuk
yang komprehensif untuk mengurangi risiko perencanaan wilayah yang berbasis
bencana alam, antara lain dengan melakukan mitigasi bencana dan pengembangan
upaya mitigasi bencana. model maupun penelitian lebih lanjut.
Kecamatan Dukun dan Srumbung yang
merupakan dua Kecamatan yang ada di Kajian Literatur
Kabupaten Magelang merupakan area Kerentanan
terdampak langsung dari bencana gunung Kerentanan suatu wilayah juga terkait
merapi. Kawasan Rawan Bencana III pada dengan kondisi atau karakteristik biologis,
kedua Kecamatan tersebut yang terdiri dari 16 geografis, sosial, ekonomi, politik, sosial,
Desa dan 124 Dusun merupakan wilayah studi budaya dan teknologi suatu masyarakat di
dalam penelitian ini dengan judul Model suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu
Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan yang mengurangi kemampuan masyarakat
Kelembagaan Terhadap Bencana Gunung tersebut dalam mencegah, meredam,
Merapi. mencapai kesiapan dan menanggapi dampak
bahaya tertentu (GLG Jateng, 2008). Bila suatu
Tujuan dan Sasaran bahaya merupakan suatu fenomena atau
Tujuan dari penelitian ini adalah kondisi yang sulit diubah maka kerentanan
mengkaji kerentanan sosial dan ekonomi masyarakat relatif dapat diubah. Oleh karena
masyarakat serta kelembagaan yang itu pengurangan risiko bencana dapat
dimodelkan secara spasial sebagai bentuk dilakukan dengan cara memperkecil
pengurangan risiko bencana gunung merapi kerentanan. Kerentanan dikaitkan dengan
dengan alat sistem informasi geografis dengan kemampuan manusia untuk melindungi
hasil akhir berupa peta kerentanan sosial, dirinya dan kemampuan untuk menanggulangi
ekonomi dan kelembagaan. Sistem informasi dirinya dari dampak bahaya/ bencana alam
geografis tersebut digunakan sebagai alat tanpa bantuan dari luar. Kompleksitas arti
yang dapat mengolah dan menganalisis kerentanan bencana maka dapat didefinisikan
kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan dan dijabarkan kriteria kerentanan bencana
pada kawasan rawan bencana gunung merapi berdasarkan pada karakteristik dampak yang
sehingga dapat diketahui tingkat kerentanan ditimbulkan pada obyek tertentu. Kerentanan,
sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat ketangguhan, kapasitas, dan kemampuan
sesuai dengan variabel yang ada. merespon dalam situasi darurat, bisa
Untuk mencapai tujuan tersebut maka diimplementasikan baik pada level individu,
sasaran yang harus dilakukan dan dicapai keluarga, masyarakat dan institusi (Sunarti, E.
dalam mengkaji kerentanan sosial, ekonomi 2009).
dan kelembagaan dengan sistem informasi Faktor-faktor kerentanan meliputi (GLG
geografis adalah sebagai berikut: Jateng, 2008):
1. Mengidentifikasi karakteristik bencana a. Kerentanan fisik: prasarana dasar,
gunung merapi beserta ancaman bahaya konstruksi, bangunan
yang ditimbulkan; b. Kerentanan ekonomi: kemiskinan,
2. Mengidentifikasi karakteristik wilayah penghasilan, nutrisi
studi; c. Kerentanan sosial: pendidikan, kesehatan,
3. Mengidentifikasi kerentanan sosial, politik, hukum, kelembagaan
ekonomi dan kelembagaan masyarakat d. Kerentanan lingkungan: tanah, air,
pada wilayah studi; tanaman, hutan, lautan.

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |3


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

Setiap kerentanan dinilai tingkat kerentanan (behaviour). Ilmu hukum menegaskan


dengan skala yang sama (3-1) (GLG Jateng, pentingnya kelembagaan dari sudut hukum,
2008). aturan dan penegakan hukum serta instrumen
a. Kerentanan tinggi nilai 3
dan proses litigasinya. Ilmu ekonomi yang
b. Kerentanan sedang nilai 2
c. Kerentanan rendah nilai 1 berkembang dalam cabang barunya ilmu
ekonomi institusi baru (neo institutional
Pemodelan economics) melihat kelembagaan dari sudut
Dalam bidang keruangan, karakteristik biaya transaksi (transaction costs) dan
dunia nyata sangat kompleks dan selalu tindakan kolektif (collective action). Analisis
berubah, maka akan sulit merencanakannya dan pengembangan kelembagaan
secara absolute. Oleh karena karena itu, perlu memerlukan dukungan pedekatan analisis dari
adanya suatu bentuk yang lebih sederhana bidang tingkah laku organisasi, psikologi,
dari kondisi di dunia nyata tersebut. sosiologi, anthropologi, hukum dan ekonomi.
Pemodelan merupakan suatu langkah yang Perpaduan dari berbagai pendekatan ini dapat
tepat untuk menyederhanakan kerja yang menghasilkan analisis kelembagaan yang
berkaitan dengan data-data kompleks yang komprehensif (Retno Setiowati, 2007).
selalu berubah, seperti dalam merencanakan
jalur evakuasi untuk bencana banjir.Model Metodologi Penelitian
dibagi menjadi tiga macam (Goodchild, 1993), Metode penelitian yang akan dilakukan
pertama adalah skala yang merupakan replika pada penelitian ini antara lain meliputi
metode pengumpulan data, metode analisis,
dari fenomena yang terjadi dalam dunia
tahapan analisis, kerangka analisis dan
nyata. Kedua yaitu konseptual, yang metode pelaksanaan. Pendekatan yang
menunjukkan sistem, proses dan hubungan dilakukan dalam penelitian ini adalah
yang terjadi antar variabel. Serta yang ketiga pendekatan pemodelan spasial yang
adalah matematikal, yang terbagi menjadi menggambarkan kondisi nyata di lapangan.
dua yaitu deterministic dan statistical yang Sistem informasi geografis merupakan alat
yang digunakan dalam mengolah dan
dapat terjadi dalam keadaan tetap dan
menganalisis database kerentanan sosial,
dinamis. Beberapa dari model digunakan ekonomi dan kelembagaan kawasan rawan
untuk menjelaskan atau memperkirakan apa bencana gunung merapi sehingga dapat
yang terjadi, tidak hanya pada satu tempat diketahui tingkat kerentanan sosial, ekonomi
namun juga pada semua tempat dimana dan kelembagaan sesuai dengan variabel yang
model tersebut dapat diterapkan. Oleh ada.
karena itu model pada umumnya bersifat Pada penelitian ini metode analisis data
yang dilakukan adalah untuk menunjang
kuantitatif dan berhubungan dengan
proses pemodelan dan analisis data. Metode
dinamika dan proses dari lingkungan fisik, analisis yang digunakan dalam penelitian ini
sosial, dan ekonomi (Brimicombe, 2003). adalah scoring analysis, analisis spasial dan
deskriptif kuantitatif. Penelitian ini dilakukan
Kelembagaan dengan menguji variabel yang sudah
Menurut Retno Setiowati (2007), dalam ditentukan diawal berdasarkan kajian
bidang sosiologi dan antropologi kelembagaan literatur terkait kerentanan sosial, ekonomi
banyak ditekankan pada norma, tingkah laku dan kelembagaan serta dukungan data di
dan adat istiadat. Dalam bidang ilmu politik lapangan, variabel tersebut sudah membatasi
variabel penelitian yang digunakan. Adapun
kelembagaan banyak ditekankan pada aturan
metode analisis data yang digunakan dalam
main (the rules) dan kegiatan kolektif penelitian ini adalah sebagai berikut:
(collective action) untuk kepentingan bersama 1. Scoring Analysis
atau umum (public). Ilmu psikologi melihat Scoring analysis dilakukan dengan
kelmbagaan dari sudut tingkah laku manusia pemberian skor pada setiap variabel yang

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |4


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

digunakan dalam penelitian. Hasil dari scoring Semakin padat suatu wilayah akan sangat
setiap variabel menunjukkan tingkat berpengaruh pada kerentanan sosial
kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan masyarakat. Besarnya kepadatan penduduk
pada masing-masing variabel. Dari hasil menggambarkan tingginya peluang jatuhnya
scoring masing-masing variabel kemudian korban jiwa maupun harta benda. Selain itu
dilakukan penjumlahan skor setiap variabel kepadatan penduduk yang tinggi juga akan
dan didapatkan hasil akhir berupa tingkat mempengaruhi proses evakuasi yang
kerentanan sosial, ekonomi dan kelembagaan membutuhkan waktu lebih lama. Interval
terhadap bencana gunung merapi. kerentanan sosial pada variabel kepadatan
2. Deskriptif Kuantitatif penduduk diukur dengan rumus sebagai
Metode analisis deskriptif kuantitatif ini berikut.
menggambarkan deskripsi penjelasan dan

gambaran mengenai data-data kuantitatif
yang digunakan dalam analisis yang
dilakukan. Data kuantitatif yang digunakan / /
= = ,

dalam penelitian ini berupa angka yaitu
jumlah penduduk dan luas wilayah setiap Kerentanan Rendah = 26 Jiwa/ Km2
dusun di KRB III Kecamatan Dukun dan Kerentanan Sedang = 27-52 Jiwa/ Km2
Srumbung. Kerentanan Tinggi = 53 Jiwa/ Km2
3. Analisis Spasial
Analisis spasial yang dilakukan dalam Dari 124 dusun yang ada di KRB III
penelitian ini adalah untuk pemetaan variabel Kecamatan Dukun dan Kecamatan Srumbung,
dan overlay variabel. Analisis spasial sebanyak 7 dusun atau 5,65% merupakan
dilakukan dengan menggunakan alat sistem kerentanan tinggi, 15 dusun atau 12,10%
informasi geografis berupa software ArcView kerentanan sedang dan sisanya sebanyak 102
3.3 dan ArcGIS 9.3. Analisis overlay dilakukan dusun atau 82,26% merupakan kerentanan
dengan input data variabel kerentanan sosial, rendah.
ekonomi dan kelembagaan yang digabungkan
sehingga akan dihasilkan output yang berupa Analisis Penduduk Usia Tua dan Balita
informasi baru. Input data yang digunakan Analisis ini digunakan untuk mengetahui
dalam pemetaan variabel menggunakan data rasio ketergantungan penduduk usia tua (> 65
kuantitatif dan data spasial, sedangkan tahun) dan usia balita (< 5 tahun). Tingginya
output dari model ini juga akan menghasilkan persentase penduduk usia tua dan balita
data spasial berupa peta. menggambarkan kemampuan yang relatif
Semua variabel kerentanan sosial, lebih rendah dalam proses evakuasi karena
ekonomi dan kelembagaan diberi skor dan masih mempunyai ketergantungan pada
dilakukan pemetaan, kemudian dilakukan penduduk dengan usia produktif (15-64
analisis overlay. Setelah proses tersebut tahun). Untuk penduduk usia tua juga
dilakukan maka akan diketahui tingkat dianggap tidak produktif lagi sesudah
kerentanannya berdasarkan kategori yang melewati masa pensiun, sedangkan untuk
disusun. Sedangkan asumsi unit poligon yang penduduk usia balita dianggap belum
digunakan yakni polygon dusun di setiap desa produktif. Semakin tinggi persentase
yang ada di KRB III Kecamatan Dukun dan penduduk usia tua dan balita semakin tinggi
Srumbung. Penggunaan unit polygon terkecil pula peluang jatuhnya korban jiwa akibat
dari wilayah studi yaitu dusun adalah untuk bencana gunung merapi. Kerentanan pada
mendapatkan hasil yang akurat. variabel ini dinilai berdasarkan rasio
ketergantungan penduduk usia tua dan balita
Hasil Pembahasan terhadap penduduk usia produktif. Rumus
Analisis Kepadatan Penduduk perhitungan untuk melihat rasio
Analisis kepadatan penduduk digunakan ketergantungan penduduk usia tua dan balita
untuk melihat kepadatan penduduk di setiap terhadap penduduk usia produktif adalah
dusun dimana cara untuk melihat kepadatan sebagai berikut.
penduduk adalah dengan membagi jumlah > + (< 5 )
penduduk dengan luas wilayah setiap dusun. =
( )

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |5


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

Keterangan: kelamin dibawah 100 dapat dikategorikan


RK = Rasio Ketergantungan kerentanan tinggi, karena dari 100 penduduk
P (>65Th) = Jmlh penduduk usia tua perempuan terdapat penduduk laki-laki
P (<5Th) = Jmlh penduduk usia balita dibawah jumlah 100, sehingga termasuk
P (15 64 Th) = Jmlh penduduk usia dalam kerentanan tinggi. Sedangkan rasio
produktif jenis kelamin diatas 100 dikategorikan
kerentanan rendah karena jumlah penduduk
Hasil dari perhitungan rasio laki-laki lebih banyak dari jumlah penduduk
ketergatungan penduduk usia tua dan balita perempuan. Berikut rumus perhitungan rasio
terhadap penduduk usia produktif kemudian jenis kelamin.
dilakukan perhitungan kembali untuk

menentukan kelas interval untuk =

mengkategorikan kerentanan penduduk usia
tua dan balita dengan rumus perhitungan Kelas interval kerentanan untuk variabel
sebagai berikut. penduduk wanita adalah sebagai berikut:

Kerentanan Rendah = > 100
=
Kerentanan Sedang = 100
Kerentanan Tinggi = < 100
, ,
= = ,
Variabel penduduk wanita mempunyai
Kerentanan Rendah = 13,64 41,65 kerentanan yang tinggi sebesar 65,32% atau
Kerentanan Sedang = 41,66 69,67 sebanyak 81 dusun, kerentanan sedang
Kerentanan Tinggi = 69,68 97,67 sebesar 4,84% atau sebanyak 6 dusun dan
kerentanan rendah sebesar 29,84% atau
Dari 124 dusun yang ada di KRB III sebanyak 37 dusun.
Kecamatan Dukun dan Kecamatan Srumbung,
kerentanan penduduk usia tua dan balita Analisis Pemahaman Masyarakat Terhadap
mempunyai kerentanan rendah dengan Bencana
87,10% atau sebanyak 108 dusun. Kerentanan Pemahaman masyarakat sangat
sedang dengan 11,29% atau sebanyak 14 diperlukan dalam mengantisipasi kerawanan
dusun dan kerentanan tinggi 1,61% atau bencana yang ada. Dalam hal ini yang menjadi
sebanyak 2 dusun. dasar dalam penentuan variabel yakni
didasarkan pada konsep praktis kerentanan
Analisis Penduduk Wanita bencana yang telah ada. Dengan kondisi
Analisis ini digunakan untuk melihat banyaknya masyarakat yang belum
rasio jenis kelamin penduduk laki-laki dan memahami bencana yang akan terjadi maka
wanita, dimana penduduk wanita akan menambah tinggi kerentanan
menggambarkan kemampuan yang relatif masyarakat yang ada. Data yang digunakan
rendah dalam proses evakuasi dalam hal dalam analisis pemahaman masyarakat
gender. Dengan adanya kondisi tersebut maka terhadap bencana adalah berdasarkan hasil
akan lebih rentan penduduk wanita daripada kuesioner yang disusun berdasarkan analisis
penduduk laki-laki. Kerentanan pada variabel penyusun dan Modul Wajib Latih
ini dinilai berdasarkan rasio jenis kelamin yang Penanggulangan Bencana Gunung Api 2012
membandingkan jumlah penduduk laki-laki yang disusun oleh Pasag Merapi, Padma,
dengan perempuan. Dilihat dari rasio jenis BPPTK, MRR-UNDP, PSMB UPN Veteran Yk,
kelamin, rasio jenis kelamin 100 dapat BPBD Kabupaten Sleman, BPBD Kabupaten
dikategorikan kerentanan sedang karena Magelang dan BPBD Kabupaten Klaten.
mempunyai arti bahwa setiap 100 penduduk Kuesioner yang disusun
perempuan terdapat 100 penduduk laki-laki. menggambarkan pemahaman masyarakat
Asumsi dalam analisis penduduk wanita ini terkait bencana. Pemahaman masyarakat
adalah pada saat proses evakuasi, penduduk dianggap baik apabila dapat menjawab
wanita membutuhkan penduduk laki-laki pertanyaan inti pada kuesioner khusunya
karena penduduk laki-laki dinilai mempunyai pertanyaan dimana masyarakat dapat
kemampuan fisik yang lebih baik. Rasio jenis menjelaskan minimal 2 jenis bahaya ancaman

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |6


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

gunung api, dapat menjelaskan minimal 1 =

bentuk sistem peringatan dini ancaman
gunung api, mampu menjelaskan minimal 2 , % , %
= = ,
risiko bencana gunung api, menjelaskan
minimal 2 cara untuk mengurangi risiko dari Kerentanan Rendah = 0,98% - 14,94%
setiap jenis ancaman letusan gunung api dan Kerentanan Sedang = 14,95% - 28,91%
mengetahui tentang peta jalur evakuasi dan Kerentanan Tinggi = 28,92% - 42,86%
peta rawan bencana gunung merapi.
Dari hasil analisis variabel kerentanan
Kerentanan pada variabel ini dinilai
tingkat kemiskinan, dapat diketahui bahwa
berdasarkan persentase yang dibagi menjadi
terdapat 82 dusun atau sebesar 66,13%
tiga kelas interval. Berikut kelas interval
kerentanan untuk variabel pemahaman dengan kerentanan rendah, 37 dusun atau
sebesar 29,84% dengan kerentanan sedang
masyarakat terhadap bencana.
dan 5 dusun atau sebesar 4,03% dengan
Kerentanan Rendah = 67%
Kerentanan Sedang = 34 66% kerentanan tinggi.
Kerentanan Tinggi = 33% Analisis Kelembagaan Penanggulangan
Bencana
Pada variabel keretanan pemahaman
Ada dan tidaknya kelembagaan
masyarakat terhadap bencana, sebesar
penanggulangan bencana juga akan
26,61% atau sebanyak 33 dusun berupa
mempengaruhi kerentanan masyarakat.
kerentanan tinggi dan 17,74% atau sebanyak
Keberadaan kelembagaan penanggulangan
22 dusun berupa kerentanan sedang. Sisanya
bencana dapat membantu dalam mengurangi
sebesar 55,65% atau sebanyak 69 dusun
kerentanan sosial masyarakat terhadap
berupa kerentanan rendah.
bencana baik lembaga penanggulangan
Analisis Tingkat Kemiskinan Penduduk bencana daerah maupun forum atau
Variabel tingkat kemiskinan dianggap organisasi pengurangan risiko bencana.
dapat mewakili kerentanan ekonomi Apabila sudah ada kelembagaan
penduduk. Adanya penduduk yang tergolong penanggulangan bencana maka perlu dikaji
miskin tentunya akan berpengaruh terhadap ulang atau dilakukan evaluasi kinerja
kesiapsiagaan terhadap bencana. Sebab kelembagaan tersebut dalam melakukan
kemampuan finansial masyarakat juga akan tugasnya dalam menanggulangi bencana.
mempengaruhi proses evakuasi saat terjadi Pada variabel kelembagaan penanggulangan
bencana. Jika dalam suatu kawasan tersebut bencana, yang menjadi indikator tingkat
terdapat banyak warga miskin tentunya akan kerentanan sosial adalah ada atau tidaknya
menyebabkan kerentanan ekonomi penduduk lembaga atau organisasi penanggulangan
tergolong tinggi dan hal itu tentunya juga bencana baik di tingkat daerah yang meliputi
dapat menilai kerentanan penduduk secara Kabupaten Magelang dan di tingkat Desa.
umumnya. Tingginya persentase penduduk Lembaga penanggulangan bencana
miskin menyebabkan semakin rentannya dibawah Pemerintah yang ada di Kabupaten
masyarakat terhadap bencana gunung merapi Magelang adalah Badan Penanggulangan
serta kemampuan bertahan masyarakat pasca Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang.
terjadinya bencana. Data yang digunakan BPBD Kabupaten Magelang berdiri pada
dalam analisis ini setiap dusunnya tanggal 22 oktober 2011. Sebelum berdirinya
berdasarkan data yang tersedia di lapangan. BPBD Kabupaten Magelang, instansi
Jumlah penduduk miskin berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Magelang yang
daftar penerima manfaat program penyaluran menanggulangi bencana adalah Kesatuan
raskin, Data Penyandang Masalah Bangsa dan Politik (KESBANGPOL dan PB) dan
Kesejahteraan Sosial (PMKS), Jaminan Penanggulangan Bencana. Lembaga atau
Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) dan organisasi lain selain di bawah Pemerintah
Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA). Kabupaten Magelang adalah Pasag Merapi.
Berikut perhitungan kelas interval kerentanan Pasag Merapi adalah paguyuban masyarakat
untuk variabel tingkat kemiskinan. merapi yang mempunyai visi dan misi yang
sama untuk mewujudkan kesadaran,

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |7


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

kepedulian dan kemandirian dalam menjaga kelestarian kawasan merapi. Pasag Merapi
berada di 2 Propinsi yaitu Daerah Istimewa No Desa Lembaga/ Forum
Yogyakarta dan Jawa Tengah, 4 Kabupaten 6. Nglumut -
Siaga Merapi Srumbung
yaitu Sleman, Magelang, Klaten dan Boyolali, 7. Srumbung
(SMS)
12 kecamatan dan 62 desa. KRB III Kecamatan 8. Tegalrandu -
Dukun dan Srumbung yang menjadi wilayah Sumber: Hasil Observasi, 2012.
studi dalam penelitian ini termasuk dalam
lingkup Pasag Merapi. Dari hasil analisis kelembagaan
Kerentanan pada variabel kelembagaan penanggulangan bencana dapat diketahui
penanggulangan bencana dinilai berdasarkan bahwa di KRB III Kecamatan Dukun terdapat 5
tingkat interval sebagai berikut: Desa yang mempunyai forum pengurangan
Kerentanan Rendah = Terdapat lembaga risiko bencana, 5 Desa tersebut adalah Desa
penanggulangan bencana daerah dan Krinjing, Mangunsoko, Ngargomulyo, Sengi
forum pengurangan risiko bencana desa; dan Sumber. Sedangkan di KRB III Kecamatan
Kerentanan Sedang = Hanya terdapat Srumbung terdapat 4 Desa yang mempunyai
salah satu dari lembaga penanggulangan forum pengurangan risiko bencana yaitu Desa
bencana daerah atau forum pengurangan Kaliurang, Ngablak, Ngargosoko dan
risiko bencana desa; Srumbung. Setiap forum pengurangan risiko
Kerentanan Tinggi = Tidak terdapat bencana yang ada di Desa mewakili setiap
lembaga penanggulangan bencana daerah dusun yang ada di dalamnya.
dan forum pengurangan risiko bencana Setiap dusun yang termasuk dalam Desa
desa. yang mempunyai forum pengurangan risiko
bencana mempunyai kategori kerentanan
Lembaga penanggulangan bencana rendah. Hal ini disebabkan karena di tingkat
daerah yang ada di Kabupaten Magelang daerah sudah terdapat lembaga
adalah Badan Penanggulangan Bencana penanggulangan bencana daerah yaitu BPBD
Daerah Kabupaten Magelang sebagai instansi Kabupaten Magelang dan Pasag Merapi serta
Pemerintah dan Pasag Merapi sebagai forum pengurangan risiko bencana di setiap
paguyuban masyarakat yang berada di desa. Sedangkan dusun yang termasuk dalam
kawasan gunung merapi. Sedangkan forum desa yang tidak mempunyai forum
atau organisasi masyarakat yang ada di setiap pengurangan risiko bencana mempunyai
desa dapat dilihat pada tabel berikut ini. kategori kerentanan sedang karena hanya
terdapat BPBD Kabupaten Magelang dan
TABEL 1
Pasag Merapi sebagai lembaga
FORUM PENGURANGAN RISIKO BENCANA
penanggulangan bencana tingkat daerah dan
No Desa Lembaga/ Forum
Kecamatan Dukun tidak mempunyai forum pengurangan risiko
1. Kalibening - bencana tingkat desa.
2. Keningar -
Forum Pengurangan Risiko Analisis Kerentanan Sosial Ekonomi dan
3. Krinjing
Bencana Krinjing Kelembagaan Total
Guyub Rukun Andarbeni Setiap variabel yang menjadi bahasan
4. Mangunsoko
Merapi
dalam penelitian ini menghasilkan gambaran
Forum Pengurangan Risiko
5. Ngargomulyo
Bencana Bina Swadaya kerentanan masyarakat terhadap bencana
6. Paten - gunung merapi yang berbeda-beda. Hasil dari
Forum Pengurangan Risiko analisis setiap variabel kemudian dianalisis
7. Sengi
Bencana Sengi kembali yaitu dengan menjumlahkan skor
Forum Tanggap Bencana kerentanan setiap variabel sehingga dapat
8. Sumber
(FORTANA)
Kecamatan Srumbung
diketahui jumlah skor yang kemudian
Siaga Bencana Berbasis dilakukan perhitungan interval kerentanan
1. Kaliurang
Masyarakat (SIBAT) rendah, sedang dan tinggi.
2. Kemiren - Kerentanan tersebut mempunyai
3. Mranggen - kategori skor sebagai berikut:
Pengurangan Risiko Bencana
4. Ngablak Kerentanan Rendah = Skor 1
Desa Ngablak
5. Ngargosoko Santri Siaga Bencana (SSB) Kerentanan Sedang = Skor 2

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |8


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

Kerentanan Tinggi = Skor 3 Dusun dengan kerentanan tinggi di KRB


III Kecamatan Dukun adalah Dusun Banaran di
Dari kategori skor kerentanan tersebut Desa Keningar. Sedangkan dusun dengan
kemudian dilakukan penjumlahan pada setiap kerentanan tinggi di KRB III Kecamatan
dusun untuk setiap variabel. Hasil dari Srumbung adalah Dusun Kedawung & Nepen
penjumlahan skor setiap variabel kemudian di Desa Ngablak, Dusun Nglumut I di Desa
dilakukan perhitungan interval dengan rumus Nglumut, Dusun Jamblangan di Desa
sebagai berikut: Srumbung & Dusun Ngelo di Desa Tegalrandu.

=

4.84%

= = ,
29.84%

Kerentanan Rendah =6-8 65.32%


Kerentanan Sedang = 9 - 11
Kerentanan Rendah
Kerentanan Tinggi = 12 - 14
Kerentanan Sedang
Dari hasil analisis yang dilakukan, Kerentanan Tinggi
didapatkan hasil bahwa sebesar 29,84% atau
Sumber: Hasil Analisis Penyusun, 2012.
sebanyak 37 dusun yang ada di KRB III
GAMBAR 1
Kecamatan Dukun dan Srumbung mempunyai
DIAGRAM KERENTANAN SOSIAL EKONOMI
kerentanan sosial ekonomi dan kelembagaan
DAN KELEMBAGAAN
rendah. Sedangkan 65,32% atau sebanyak 81
KRB III KECAMATAN DUKUN DAN
dusun mempunyai kerentanan sosial ekonomi
SRUMBUNG
dan kelembagaan sedang dan 4,84% atau
sebanyak 6 dusun kerentanan sosial ekonomi
dan kelembagaan tinggi.

Sumber: Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), 2001. BAKOSURTANAL dan Analisis Penyusun, 2012.
GAMBAR 2

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 |9


Model Spasial Kerentanan Sosial Ekonomi dan Kelembagaan ... Marbruno Habibi dan Imam Buchori

PETA KERENTANAN SOSIAL EKONOMI DAN KELEMBAGAAN


KRB III KECAMATAN DUKUN DAN SRUMBUNG

Kesimpulan 5. Dari hasil kuesioner, dapat diketahui


Dari hasil analisis yang dilakukan, dapat bahwa kesuburan tanah, kearifan lokal,
disimpulkan mengenai kerentanan sosial tanah kelahiran dan tempat tinggal
ekonomi dan kelembagaan terhadap bencana adalah beberapa alasan kuat dari
gunung merapi sebagai berikut: masyarakat untuk memilih hidup
1. Kerentanan sosial diukur dengan berdampingan dengan risiko bencana
kepadatan penduduk, persentase gunung merapi.
penduduk usia tua dan balita, penduduk
wanita dan pemahaman masyarakat Daftar Pustaka
terhadap bencana. Sedangkan BAPPENAS dan BAKORNAS. 2006. Rencana
kerentanan ekonomi diukur dari tingkat Aksi Nasional Pengurangan Risiko
kemiskinan penduduk dan kerentanan Bencana 2006-2009. Jakarta: Perum
kelembagaan diukur dari kelembagaan Percetakan Negara RI.
penanggulangan bencana yang terdiri BAPPENAS dan BNPB. 2010. Rencana Nasional
dari lembaga penanggulangan bencana Penanggulangan Bencana 2010-2014.
daerah Kabupaten Magelang dan forum Jakarta: Perum Percetakan Negara RI.
pengurangan risiko bencana desa di KRB Birkmann, Jorn. (ed). 2006. Measuring
III Kecamatan Dukun dan Srumbung. vulnerability to promote disaster-
2. Berdasarkan hasil analisis kerentanan resilient societies: conceptual
sosial dan ekonomi yang dilakukan, dari frameworks and definitions. Measuring
124 dusun yang ada di KRB III Kecamatan vulnerability to natural hazards:
Dukun dan Srumbung, 37 dusun towards disaster resilient societies.
diantaranya merupakan kerentanan Tokyo: United Nations University Press,
rendah. Sedangkan 81 dusun dengan 9-54.
kerentanan sedang dan 6 dusun dengan Brimicombe, Allan. 2003. GIS, Environmental
kerentanan tinggi. Modelling and Engineering. London:
3. Dusun dengan kerentanan tinggi di KRB III Taylor & Francis Ltd.
Kecamatan Dukun adalah Dusun Banaran Goodchild, Michael F. et al. 1993.
di Desa Keningar. Sedangkan dusun Environmental Modelling with GIS. New
dengan kerentanan tinggi di KRB III York: Oxford University Press.
Kecamatan Srumbung adalah Dusun Good Local Governance (GLG) Jawa Tengah.
Kedawung dan Nepen di Desa Ngablak, 2008. Pedoman Penyusunan Rencana
Dusun Nglumut I di Desa Nglumut, Dusun Aksi Daerah (RAD) Pengurangan Resiko
Jamblangan di Desa Srumbung dan Dusun Bencana (PRB) Bagi Kabupaten/Kota.
Ngelo di Desa Tegalrandu. Semarang.
4. Dari variabel kerentanan sosial ekonomi Setiowati, Retno. 2007. Kelembagaan dan
dan kelembagaan yang dianalisis, dapat Kebijakan di Indonesia. Jurnal Ilmiah
diketahui bahwa semua variabel Kebijakan Hukum, Vol. 1, No. 2, Oktober
mempunyai pengaruh terhadap 2007.
kerentanan sosial ekonomi dan Sunarti, E. 2009. Analisis Kerentanan Sosial
kelembagaan masyarakat. Hal tersebut Ekonomi Penduduk dan Wilayah untuk
dilihat dari persentase kerentanan Analisis Risiko Bencana. Makalah
sedang hingga tinggi yang diperoleh dari disampaikan sebagai bahan Penyusunan
variabel-variabel tersebut termasuk Rencana Nasional Penanggulangan
dalam persentase yang cukup besar. Bencana Indonesia 2009-2013.

Teknik PWK; Vol. 2; No. 1; 2013; hal. 1-10 | 10