Anda di halaman 1dari 5

Rezim Tektonik

Regangan (strain) adalah perubahan-perubahan yang terjadi, baik dalam wujud bentuk
maupun volume, yang terjadi pada suatu bahan (batuan) yang diakibatkan oleh adanya
tegasan. Pada batas-batas lempeng akan terjadi tegasan dan regangan dimana akan
mengalami deformasi. Elastic deformation adalah deformasi sementara tidak permanen atau
dapat kembali kebentuk awal (reversible). Begitu stress hilang, batuan kembali kebentuk dan
volume semula. Seperti karet yang ditarik akan melar tetapi jika dilepas akan kembali ke
panjang semula.

Elastisitas ini ada batasnya yang disebut elastic limit, yang apabila dilampaui batuan
tidak akan kembali pada kondisi awal. Di alam tidak pernah dijumpai batuan yang pernah
mengalami deformasi elastis ini, karena tidak meninggalkan jejak atau bekas, karena kembali
ke keadaan semula, baik bentuk maupun volumenya. Ductile deformation merupakan
deformasi dimana elastic limit dilampaui dan perubahan bentuk dan volume batuan tidak
kembali. Fracture tejadi apabila batas atau limit elastik dan ducktile deformasi
dilampaui.Deformasi rekah (fracture deformation) dan lentur (ductile deformation) adalah
sama, menghasilkan regangan (strain) yang tidak kembali ke kondisi semula. Adapun yang
menjadu pengontrol deformasi yaitu :

Gambar III.1. Contoh-contoh lipatan

Rezim Tektonik Regangan

Tektonik merupakan faktor utama yang mengontrol pembentukan dan penghancuran


akomodasi. Tanpa subsidensi tektonik, tidak akan ada cekungan sedimen. Tektonik juga
mempengaruhi laju pemasokan sedimen ke dalam cekungan. Subsidensi tektonik terjadi
melalui dua mekanisme utama yaitu ekstensional dan pembebanan fleksur (flexural loading).
Laju subsidensi itu menentukan volume sedimen yang terakumulasi dalam cekungan, setelah
dimodifikasi oleh efek pembebanan, kompaksi dan guntara. Extensional basin dapat
terbentuk pada berbagai tatanan tektonik lempeng, namun umumnya terbentuk pada tepi
lempeng konstruktif. Dalam extensional basin, laju perubahan subsidensi tektonik
berlangsung secara sistematis dari waktu ke waktu. Subsidensi pada cekungan ini diawali
oleh perioda subsidensi awal yang berlangsung cepat akibat peneraan isostatis, kemudian
diikuti oleh perioda subsidensi termal yang berlangsung lambat dan berangsur (60-100 juta
tahun) akibat pendinginan astenosfir.

Perubahan yang sistematis dari laju subsidensi tektonik sangat mempengaruhi


geometri endapan pengisi cekungan. Hubbard (1988) membagi endapan cekungan ini ke
dalam 3 paket:

Megasekuen yang terbentuk sebelum terjadinya retakan (pre-rift megasequence).

Megasekuen yang terbentuk selama berlangsungnya retakan (syn-rift megasequence)

Megasekuen yang terbentuk setelah terjadinya retakan (post-rift megasequence).

Pada model syn-rift megasequence sederhana, sedimen diendapkan dalam deposenter-


deposenter yang keberadaannya dikontrol oleh sesar-sesar aktif dalam cekungan itu.
Subsidensi diferensial di sepanjang sesar-sesar ekstensi mengontrol penyebaran fasies dalam
deposenter-deposenter tersebut. Dalam post-rift megasequence, setiap topografi yang
terbentuk selama syn-rift phase sedikit demi sedikit akan tertutup oleh sedimen yang
diendapkan pada post-rift phase. Sedimen-sedimen itu akan memperlihatkan pola onlap
terhadap tepi cekungan sehingga menghasilkan geometri streers head. Syn-rift
megasequence dan post-rift megasequence dalam cekungan bahari mengandung sekuen-
sekuen yang pembentukannya dikontrol oleh perubahan muka air laut frekuensi tinggi.

Awalnya gaya-gaya dari arus konveksi yang ada pada astenosfer terus bekerja dan
menarik batuan (extensional) kearah samping (Gerakan Divergen). Akibatnya kerak kontinen
mengalami penipisan. Dengan menipisnya kerak kontinen ini menyebabkan terjadinya intrusi
magma sehingga kerak mengalami partial melting dan memuai menyebabkan uplift disertai
timbulnya dike. Tahap pada gambar-B.Gaya-gaya dari arus konveksi terus bekerja,
menyebabkan kerak terus mengalami pemekaran, bergerak saling menjauh. Hal ini
menyebabkan zona uplift yang ada mengalami pensesaran. Berkembanglah sesar-sesar
normal, membentuk rekahan-rekahan yang sangat panjang, sepanjang pengaruh gerakan
divergen tersebut bekerja (terlihat pada gambar berwarna hijau). Semakin lama, zona
pemekaran ini membentuk lembah pemekaran (rift valleys).Tahap pada gambar-C.Dengan
terus berjalannya gerakan divergen ini, akan membentuk semakin terbukannya rift valley.
Dengan adanya siklus hidrologi, rift valley mulai tergenang oleh air. Selain itu pula ada faktor
erosi yang menyebabkan tererosinya lereng-lereng (flangks) membentuk dataran yang
rendah, menyebankan meluasnya rift valley. Sedimen hasil erosi ini kemudian terakumulasi
pada rift valley yang terbentuk.Tahap selanjutnyaPergerakan divergen terus berlangsung.
Kemudian akibat erosi dan gaya-gaya arus konveksi yang menyebankan lempeng-lempeng
semakin menjauh menyebabkan Kerak semakin menipis. Sehingga magma keluar melalui
kerak yang tipis ini. Magma yang keluar terus berkembang dan mendorong batuan yang ada
disampingnya, yang kemudian mendingin, dan membeku, tenggelam (sinking) dibawah laut
membentuk kerak samudera baru. Pergerakan ini akan terus berlangsung menyebabkan
terbentuknya cekungan samudera yang luas.

Punggungan Samudera

Ocean ridges merupakan batas lapisan litosfer samudra yang baru terbentuk dan
membuat permukaan bumi lebih tinggi. Punggung samudra yang semakin bergerak melebar
atau terbentuk sebagai batas piringan merupakan asal lapisan baru samudra. Tinggi puncak
punggung samudra sekitar 2-3 km lebih tinggi dari dasar samudera disekitarnya dan
topografi lokalnya tidak datar dan pararel terhadap puncaknya

Gambar III.2. Proses-proses tektonik

Gambar punggung samudera. Dengan resolusi tinggi dari profil bathymetric (alat
pengukur kedalaman laut) dari punggungan samudra yang bergerak cepat, menengah dan
lambat penyebaran rata-ratanya.EPR (East Pasific Rise), MAR (Mid Atlantic Ridge), daerah
neovulkanik dikurung oleh Vs, daerah celah dengan Fs, dan luas persesaran aktif dengan Ps.
Morfologi punggungan Samudra ditentukan oleh laju pemisahan, yaitu :

Laju rendah (10-50 mm/a), Median rift utama terbentuk di sumbu punggungan. Lebar
30-50 km, kedalaman 1500-3000 m, dengan topografi kasar.

Laju menengah (50-90 mm/a), Median rift, kedalaman 50-200 m, topografi halus.

Laju tercepat (>90 mm/a), tidak terdapat median rift, topografi halus .

Ketika beberapa piringan terpecah menjauh, lithosphere yang tipis dan terputus untuk
membentuk batas piringan yang menyebar. Pada kulit samudra proses ini dinamakan
penyebaran lantai lautan karena piringan yang terpisah menyebar satu sama lain. Di daratan,
penyebaran batas piringan membentuk beberapa lembah sesar. Pada punggung samudera
terbagi beberapa skala yang berbeda yaitu:

Digambarkan dengan zona patahan yang membagi palung pada interval 300-500 km.
Ini disebabkan adanya kegagalan transformasi nonregiol (yang mempengaruhi tingkat
kekerasan dan panas di mantel) dan luasan di daerah offset (3-5 km) OSCs yang
menimbulkan perbedaan kedalaman daerah pusat hingga ratusan meter.

Terletak pada interval 30-500 km, disebabkan adanya kegagalan transformasi


nonregiol (yang mempengaruhi tingkat kekerasan dan panas di mantel) dan luasan di
daerah offset (3-5 km) OSCs yang menimbulkan perbedaan kedalaman daerah pusat
hingga ratusan meter.

Terletak pada interval 30-100 km yang digambarkan oleh offset kecil (0.5-3 km)
OSCs dimana kedalaman kurang dari sepuluh meter.

Terletak pada interval 10-50 km yang disebabkan oleh offset sangat kecil (< 0.5 km)
dari palung. Hal ini jarang dihubungkan dengan adanya anomaly kedalaman dan dapat
dijelaskan dengan adanya gap didalam aktivitas vulkanik yang berada pada pusat
retakan atau dengan adanya variasi geokimia. OSCs merupakan migrasi segmentasi
disepanjang punggungan dengan kecepatan sampai beberapa ratus millimeter per
tahun yaitu evolusi diskontinuitas sumbu punggungan dalam hal pergerakan pulsa
magma. Dalam kondisi normal, peridotite mantel atas tidak meleleh. Tetapi,
punggung samudra dengan aliran panas tinggi memberi implikasi bahwa gradien
geotermal melintasi peridotite solid pada kedalaman sekitar 50 km. Kenaikan
astenosfer di bawah punggungan dapat mengakibatkan tarikan viskos pada listorsfer
yang baru terbentuk di kedua sisi. Tarikan ini mencegah kenaikan litosfer pada daerah
kerak sementara litosfer yang mengapitnya naik oleh pergerakan disepanjang bidang
patahan normal.

DAFTAR PUSTAKA

Bowen, N. L., 1928, The Evolution of Igneus Rocks, Princeton Univ. Press, Princeton, New
Jersey, USA.

Brownlow, A. H., 1996 Geochemistry, Prentice-Hall Ltd., London, 580 p.

Goldschmidt, V. M., 1911, Die Kontrakmetamorphose im Kristianiagebeit, Oslo Vidensh,


Skr., I., Mat. Naturv., K1., no. 11.

Hartono, H.G., 2009, Petrologi dan Batuan Beku Gunung Api, UNPAD Press.

Krauskopf, K. B. And Bird, D. K., 1995, Introduction of Geochemistry, McGraw-Hill, Inc.,


647 p.

Mason, B., 1985, Prenciples of Geochemistry, John Wiley and Sons, Inc., New York, 310 p.

Meyer , C. And Hemley, J. J., 1967, Wall rock alteration, in: Geochemistry of Hydrotermal
Ore Deposits, H. L. Barnes, Holt, Rine and Wintson, Eds., New York, 166-253.

Simandjuntak., 2009., Tektonika, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan
Geologi Pusat Survei Geologi.

Pergerakan Lempeng dan perkembangan sesar yang menyertainya _ reza firmansyah.htm


KEBENARAN.htm

Mbah Google