Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Gangguan mobilisasi fisik didefinisikan oleh sebagai suatu keadaan


ketika individu mengalami atau beresiko mengalami keterbatasan
fisik.

Apabila ada perubahan mobilisasi, maka setiap system tubuh


beresiko terjadi gangguan. Tingkat keparahan dari gangguan
tersebut tergantung pada umur klien dan kondisi kesehatan secara
keseluruhan, serta tingkat mobilisasi yang dialami. Misalnya
perkembangan pengaruh mobilisasi lansia berpenyakit kronik lebih
cepat dibandingkan klien yang lebih muda .

Immobilisasi yang lebih dikenal dengan keterbatasan gerak dan juga


didefinisikan oleh North American Nursing Diagnosis Association
(NANDA) sebagai suatu keadaan ketika individu mengalami atau
beresiko mengalami keterbatasan gerak fisik baik dan pasif memiliki
dampak pada system tubuh (kim et al,1995). Immobilisasi dapat
mempengaruhi fisiologi system tubuh yang abnormal dan patologi
seperti perubahan system musculoskeletal, system kardiovaskuler,
system respirasi, system unrinaria dan endokrin, system
integument, system neurosensorik, perubahan metabolisme dan
nutrisi, perubahan eliminasi bowel, perubahan social, emosi dan
intelektual (kozier dan Erb,1987).

Salah satu bentuk rehabilitasi awal pada penderita stroke adalah


dengan memberikan mobilisasi. Mobilisasi yang awal mengurangi
semua komplikasi yang berhubungan dengan tempat tidur seperti
pneumonia, deep vena, thrombosis (DVT), emboli pulmoner,
decubitus, dan tekanan darah orthostatik. Mobilisasi awal
kemungkinan juga memiliki efek psikologis yang penting. Penelitian

1
yang ada menunjukan bahwa mobiliasi yang sangat awal adalah
salah satu faktor kunci dalam perawatan pasien stroke (Gofir,2009).

Mobilisasi adalah kondisi dimana dapat melakukan kegiatan dengan


bebas (kozier,1998). Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk
bergerak secara bebas dan teratur untuk memenuhi kebutuhan
sehat menuju kemandirian dan mobilisasi yang mengacu pada
ketidakmampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas
(Potter&Perry,2006).

B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum :
Adapun pembuatan makalah ini bertujuan agar mahasiwa
mampu mengetahui dan memahami konsep dasar dan asuhan
kepepawatan pada stroke dengan gangguan mobilisasi
2. Tujuan Khusus :
1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami definisi
mobilisasi
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami etiologi
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami
patofisiologi
4. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami pathway
5. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami
manifestasi klinis
6. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami
penatalaksanaan
7. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami asuhan
keperawatan

2
BAB II

KONSEP DASAR TEORI

A. DEFINISI

Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara


bebas, mudah dan teratur yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan hidup sehat. Mobilisasi diperlukan untuk meninngkatkan
kesehatan, memperlambat proses penyakit khususnya penyakit
degeneratif dan untuk aktualisasi. Mobilisasi menyebabkan
perbaikan sirkulasi, membuat napas dalam dan menstimulasi
kembali fungsi gastrointestinal normal, dorong untuk menggerakkan
kaki dan tungkai bawah sesegera mungkin, biasanya dalam waktu
12 jam (Mubarak, 2008).

Mobilitas adalah pergerakan yang memberikan kebebasan dan


kemandirian bagi seseorang (Ansari, 2011).

Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan


kegiatan dengan bebas (Kosier, 1989 cit Ida 2009)
Stroke atau cedera serebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak
yang diakibatkan oleh berhentinya suplay darah ke bagian otak.
Seringkali ini adalah kulminasi penyakit erebrovaskuler selama
bertahun-tahun (Smeltzer & Bare,2008). Menurut Lewis (2007),

3
stroke adalah gangguan yang mempengaruhi aliran darah ke otak
dan mengakibatkan defisit neurologik. Sedangkan Black and Hawks
(2009), mendefinisikan bahwa stroke adalah suatu kondisi yang
digunakan
untuk menjelaskan perubahan neurologik yang disebabkan oleh
gangguan dalam sirkulasi darah ke bagian otak.

Adapun pengaruh stroke terhadap mobilisasi yaitu :

Kehilangan Fungsi Motorik Pergerakan tubuh dihasilkan melalui


kerjasama yang komplek antara otak, tulang belakang dan syaraf
perifer. Motor area pada kortek serebri, basal ganglia dan serebelum
mengawali setiap gerakan volunter dengan mengirimkan pesan ke
kortek spinal. Kondisi stroke menghambat komponen system syaraf
pusat dalam mekanisme penghantaran impuls sehingga
menghasilkan efek kelemahan ringan sampai berat pada sisi
kontralateral yang menyebabkan keterbatasan dalam pergerakan
(Lemone and Burke, 2004).

Stroke adalah penyakit neuron motor atas yang mengakibatkan


hilangnya kontrol volunter terhadap pergerakan motorik. Karena
motor neuron atas menyilang, maka akan terjadi gangguan pada
kontrol motorik volunteer pada satu sisi tubuh yang menunjukkan
adanya kerusakan pada bagian atas motor neuron di sisi yang
berlawanan dari otak. Hemiplegia (kelumpuhan satu sisi tubuh)
merupakan kelainan yang paling sering terjadi akibat adanya lesi
pada sisi yang berlawanan dari otak. Hemiparesis atau kelemahan
dari satu sisi tubuh, merupakan tanda lainya yang bisa ditemukan
pada pasien stroke. Pada tahap awal, gejala klinis yang muncul
mungkin hanya penurunan tonus otot atau kehilangan refleks
tendon dalam. Ketika refleks tendon dalam muncul kembali
(biasanya sampai dengan 48 jam), maka tonus otot akan meningkat
dari ekstremitas pada sisi yang terkena (Smeltzer and Bare, 2008).

4
Menurut Lemone and Burke (2004) gangguan motorik yang terjadi
pada klien stroke bisa berupa :
a. Hemiparesis, yaitu kelemahan pada satu sisi tubuh baik kanan
atau kiri. tonus otot akan meningkat dari ekstremitas pada sisi
yang terkena (Smeltzer and Bare, 2008).
b. Flaccidity, yaitu hilangnya tonus otot (hypotonia)
c. Spasticity, yaitu meningkatnya tonus otot (hipertonia), biasanya
disertai dengan kelemahan.

B. ETIOLOGI
a. Trombosit ( bekuan darah di dalam pembuluh darah otak dan
leher)
b. Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain yang
dibawah ke otak dari bagian tubuh yang lain)
c. Iskemia (penurunan aliran darah ke otak)
d. Hemoragi cerebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan
perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang sekitar otak)

C. PATOFISIOLOGI

Stroke non hemoragik disebabkan oleh trombosis akibat plak


aterosklerosis yang memberi vaskularisasi pada otak atau oleh
emboli dari dari pembuluh darah diluar otak yang tersangkut di
arteri otak yang secara perlahan akan memperbesar ukuran plak
sehingga terbentuk trombus (sudoyo,2007). Thrombus dan emboli
didalam pembuluh darah akan terlepas dan terbawa hingga
terperangkap dalam pembuluh darah distal, lalu menyebabkan
pengurangan aliran darah yang menuju keotak sehingga sel otak
akan mengalami kekurangan nutrisi dan juga oksigen, sel otak yang
mengalami kekurangan oksigen dan glukosa akan mengakibatkan
natrium,klorida, dan air masuk ke dalam sel otak dan kalium
meninggalkan sel otak sehingga terjadi edema setempat. emudian
kalsium akan masuk dan memicu serangkaian radikal bebas

5
sehingga terjadi perusakan membrane sel lalu mengkerut dan tubuh
mengalami defisit neurologis lalu mati (Esther,2010).
Ketidakefektifan perfusi jaringan yang disebabkan oleh thrombus
dan emboli akan menyebabkan iskemia pada jaringan yang tidak
dialiri oleh darah, jika hal ini terjadi terus menerus maka jaringan
tersebut akan mengalami infark. Dan kemudian akan mengganggu
system persarafan yang ada ditubuh seperti: penurunan kontrol
volunteer yang akan menyebabkan hemiplagia atau hemiparase
sehingga tubuh akan mengalami hambatan mobilisasi. Hambatan
mobilisasi ini menyebabakan seseorang mengalami masalah-
masalah keperawatan diantaranya : defisit perawatan diri karena
tidak bisa menggerakan tubuh untuk merawat diri sendiri, gangguan
eleminasi urine karena otot spinkter pada system perkemihan
mengalami atrofi, kerusakan integritas kulit karena tirah baring yang
lama, selain itu karena adanya penurunan control volunter maka
kemampuan batuk juga akan berkurang dan akan mengakibatkan
penumpukan sekret sehingga pasien akan mengalami gangguan
jalan nafas.

PATHWAY

Trombus/embolus pada
arteri carotis Stroke Iskemik

Rangsang motorik dari kortek


serebri ke cornu anterior
ternganggu
6
Kerusakan pada fungsi upper
motor neuron di lobus frontralis

Hambatan impuls motorik dari


sistem saraf pusat ke otot

Hemiparase
/hemipelgia

ganngguan harga diri berhubungan


Gangguan mobilitas fisik
dengan perubahan biofisik, psikososial,
perseptual kognitif
Tirah baring

Defisit perawatan diri Resiko kerusakan integritas kulit Otot perkemihan Melemahnya otot
mengalmai atrofi pernapasan

Menurunnya reflek
Gangguan eleminasi urine batuk

Bersihan jalan nafas Penumpukan sekret


tidak efektif
D. MANIFESTASI KLINIS
1. Respon fisiologik dari perubahan mobilisasi, adalah
perubahan pada:
a. muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan
massa otot, atropi dan abnormalnya sendi (kontraktur) dan
gangguan metabolisme kalsium
b. kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban
kerja jantung, dan pembentukan thrombus

7
c. pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik,
dispnea setelah beraktifitas
d. metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic;
metabolisme karbohidrat, lemak dan protein;
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan
kalsium; dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi)
e. eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi
saluran perkemihan dan batu ginjal
f. integument seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan
anoksia jaringan
g. neurosensori: sensori deprivation
2. Respon psikososial dari antara lain meningkatkan respon
emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural. Perubahan
emosional yang paling umum adalah depresi, perubahan perilaku,
perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping.
3. Keterbatasan rentan pergerakan sendi
4. Pergerakan tidak terkoordinasi
5. Penurunan waktu reaksi ( lambat )

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Ronsen : Menentukan lokasi / luasnya fraktur /
trauma.
2. Scan tulang, tomogram, scan CT / MRI : Memperlihatkan
fraktur juga dapatdigunakan untuk -mengidentifikasi kerusakan
jaringan lunak.
3. Arteriogram : Dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai.
4. Hitung jumlah, komposisi dan volume darah : Ht mungkin
meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun(perdarahan
bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma
multipel).Peningkatan jumlah SDP adalah respon stres normal
setelah trauma.
5. Kreatinin : Trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk
klirens ginjal.
6. Profil koagulasi : Perubahan dapat terjadi pada kehilangan
darah, trafusi mutipes,atau
7. cedera hati.

F. PENATALAKSANAAN

8
1. Penatalaksana Umum
a. Kerjasama tim medis interdisiplin dengan partisipasi pasien,
keluarga, dan pramuwerdha.
b. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah
baring lama, pentingnya latihan bertahap dan ambulasi dini,
serta mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan
aktivitas kehidupan sehari-hari sendiri, semampu pasien.
c. Dilakukan pengkajian geriatri paripurna, perumusan target
fungsional, dan pembuatan rencana terapi yang mencakup
pula perkiraan waktu yang diperlukan untuk mencapai
target terapi.
d. Temu dan kenali tatalaksana infeksi, malnutrisi, anemia,
gangguan cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi pada
kasus imobilisasi, serta penyakit/ kondisi penyetara lainnya.
e. Evaluasi seluruh obat-obatan yang dikonsumsi; obat-obatan
yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelelahan harus
diturunkan dosisnya atau dihentkan bila memungkinkan.
f. Berikan nutrisi yang adekuat, asupan cairan dan makanan
yang mengandung serat, serta suplementasi vitamin dan
mineral.
g. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan
kondisi medis terjadi meliputi latihan mobilitas di tempat
tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif, dan aktif dengan
bantuan), latihan penguat otot-otot (isotonik, isometrik,
isokinetik), latihan koordinasi/ keseimbangan, dan ambulasi
terbatas.
h. Bila diperlukan, sediakan dan ajarkan cara penggunaan alat-
alat bantu berdiri dan ambulasi.
i. Manajemen miksi dan defekasi, termasuk penggunaan
komod atau toilet.

2. Penatalaksanaan Khusus
a. Tatalaksana faktor risiko imobilisasi
b. Tatalaksana komplikasi akibat imobilisasi.
c. Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi medik
kepada dokter spesialis yang kompeten.

9
d. Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien
pasien yang mengalami sakit atau dirawat di rumah sakit
dan panti werdha untuk mobilitas yang adekuat bagi usia
lanjut yang mengalami disabilitas permanen.

3. Penatalaksanaan lain yaitu:


a. Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien
Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan
mobilitas, digunakan untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan
otot, dan fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut, yaitu : Posisi
fowler (setengah duduk), litotomi, dorsal recumbent, supinasi
(terlentang), pronasi (tengkurap), lateral (miring), Posisi sim,
Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)
b. Ambulasi dini
Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat meningkatkan
kekuatan dan ketahanan otot serta meningkatkan fungsi
kardiovaskular.. Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara
melatih posisi duduk di tempat tidur, turun dari tempat tidur,
bergerak ke kursi roda, dan lain-lain.
c. Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dilakukan
untuk melatih kekuatan, ketahanan, kemampuan sendi agar
mudah bergerak, serta meningkatkan fungsi kardiovaskular.
d. Latihan isotonik dan isometric
Latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih kekuatan dan
ketahanan otot dengan cara mengangkat beban ringan, lalu
beban yang berat. Latihan isotonik (dynamic exercise) dapat
dilakukan dengan rentang gerak (ROM) secara aktif, sedangkan
latihan isometrik (static exercise) dapat dilakukan dengan
meningkatkan curah jantung dan denyut nadi.Latihan Napas
Dalam dan Batuk Efektif. Latihan ini dilakukan untuk
meningkatkan fungsi respirasi sebagai dampak terjadinya
imobilitas.

e. Melakukan Postural Drainase

10
Postural drainase merupakan cara klasik untuk mengeluarkan
sekret dari paru dengan menggunakan gaya berat (gravitasi)
dari sekret itu sendiri. Postural drainase dilakukan untuk
mencegah terkumpulnya sekret dalam saluran napas tetapi
juga mempercepat pengeluaran sekret sehingga tidak terjadi
atelektasis, sehingga dapat meningkatkan fungsi respirasi. Pada
penderita dengan produksi sputum yang banyak, postural
drainase lebih efektif bila diikuti dengan perkusi dan vibrasi
dada.

f. Melakukan komunikasi terapeutik


Cara ini dilakukan untuk memperbaiki gangguan psikologis
yaitu dengan cara berbagi perasaan dengan pasien, membantu
pasien untuk mengekspresikan kecemasannya, memberikan
dukungan moril, dll.

g. Latihan Range Of Motion (ROM)


Latihan meliputi konstraksi aktif dan relaksasi otot. Latihan
dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe kontraksi otot (isotonik,
isometrik atau isokinetik) dan berdasarkan sumber energi.
Berikut adalah penjelasan dari jenis-jenis latihan tersebut
menurut Kozier, et al. (2008) :
1) Latihan isotonik Merupakan latihan pada otot yang pendek
yang menghasilkan kontraksi otot dan pergerakan aktif.
Termasuk dalam latihan ini adalah berlari, jalan, berenang,
bersepeda, dan aktivitas lain termasuk aktivitas dalam ADL
dan latihan ROM aktif. Latihan isotonik meningkatkan tonus,
masa dan kekuatan otot serta memelihara fleksibilitas sendi
dan sirkulasi darah. Selama latihan isotonik, denyut jantung
dan kardiak output meningkat dengan cepat untuk
meningkatkan sirkulasi darah ke semua area tubuh
2) Latihan isometrik Merupakan latihan dengan kontraksi otot
tanpa pergerakan sendi (tidak ada perubahan panjang otot).
Latihan isometrik dapat meningkatkan ketegangan otot,

11
tetapi tidak menambah ukuran otot. Tidak terjadi pergerakan
otot dan sendi Perbandingan latihan selama latihan
dilakukan. Latihan isometrik sedikit meningkatkan denyut
jantung dan cardiac output, tetapi tidak meningkatkan secara
khusus aliran darah ke bagian tubuh tertentu.
3) Latihan Isokinetik Latihan yang menghasilkan kontraksi otot
atau tekanan melawan tahanan, dengan demikian latihan
isokinetik bisa berupa isotonik maupun isometrik. Selama
latihan isokinetik orang bergerak atau melawan tahanan.
4) Latihan Aerobik Merupakan latihan dimana sejumlah oksigen
yang diambil dari dalam tubuh lebih banyak dibandingkan
dengan oksigen yang digunakan untuk latihan. Latihan
aerobik menggunakan kelompok otot besar yang digerakkan
berulang-ulang.
5) Latihan Anaerobik Merupakan latihan dimana aktivitas otot
tidak dapat menarik sejumlah oksigen dari pembuluh darah,
sehingga menggunakan mekanisme anaeorbik untuk
mendapatkan energi dalam jangka waktu yang pendek. Ketika
pasien mengalami keterbatasan dalam mobilisasi seperti
hemiparese yang dialami klien stroke, maka perawat perlu
menyusun intervensi keperawatan yang dapat
mempertahankan fungsi rentang gerak maksimum klien
dengan memberikan latihan yang rutin. Latihan yang dilakukan
berupa latihan Rentang Gerak atau Range of Motion (ROM).

Latihan Range of Motion (ROM) adalah kegiatan latihan yang


bertujuan untuk memelihara fleksibilitas dan mobilitas Tseng, et
al., 2007 sendi Latihan ROM dapat menggerakkan persendian
seoptimal dan seluas mungkin sesuai kemampuan seseorang
dan tidak menimbulkan rasa nyeri pada sendi yang digerakkan.
Adanya pergerakan pada persendian akan menyebabkan
terjadinya peningkatan aliran darah ke dalam kapsula sendi.
Ketika sendi digerakkan, permukaan kartilago antara kedua

12
tulang akan saling bergesekan. Kartilago banyak mengandung
proteoglikans yang menempel pada asam hialuronat yang
bersifat hidrophilik. Adanya penekanan pada kartilago akan
mendesak air keluar dari matrik kartilago ke cairan sinovial. Bila
tekanan berhenti maka air yang Perbandingan latihan keluar ke
cairan sinovial akan ditarik kembali dengan membawa nutrisi
dari cairan (Ulliya, et al., 2007). Tujuan latihan ROM menurut
Tseng, et al. (2007), Rhoad & Meeker (2009), Smith, N. (2009)
dan Smeltzer & Bare (2008), adalah sebagai berikut : 1)
Mempertahankan fleksibilitas dan mobilitas sendi,
2)Mengembalikan kontrol motoric, 3)
Meningkatkan/mempertahankan integritas ROM sendi dan
jaringan lunak, 4) Membantu sirkulasi dan nutrisi synovial,
5)Menurunkan pembentukan kontraktur terutama pada
ekstremitas yang mengalami paralisis, 6) Memaksimalkan
fungsi ADL 7) Mengurangi atau menghambat nyeri 8)
Mengurangi gejala depresi dan kecemasan 9) Mencegah
bertambah buruknya system neuromuscular 9) Meningkatkan
harga diri 10) Meningkatkan citra tubuh dan memberikan
kesenangan.

Jenis latihan ROM, yaitu latihan ROM aktif, Aktif dengan


penampingan dan latihan ROM pasif :

a. Latihan aktif. Gerak aktif adalah gerak yang dihasilkan oleh


kontraksi otot sendiri. Latihan yang dilakukan oleh klien
sendiri. Hal ini dapat meningkatkan kemandirian dan
kepercayaan diri klien.
b. Latihan aktif dengan pendampingan (active-assisted).
Latihan tetap dilakukan oleh klien secara mandiri dengan
didampingi oleh perawat. Peran perawat dalam hal ini
adalah memberikan dukungan dan atau bantuan untuk
mencapai gerakan ROM yang diinginkan

13
c. Latihan pasif Pada pasien yang sedang melakukan bedrest
atau mengalami keterbatasan dalam pergerakan latihan
ROM pasif sangat tepat dilakukan dan akan mendapatkan
manfaat seperti terhindarnya dari kemungkinan kontraktur
pada sendi. Setiap gerakan yang dilakukan dengan range
yang penuh, maka akan meningkatkan kemampuan
bergerak dan dapat mencegah keterbatasan dalam
beraktivitas. Ketika pasien tidak dapat melakukan latihan
ROM secara aktif maka perawat bisa membantunya untuk
melakukan latihan (Rhoad & Meeker, 2008).

Latihan dapat dilakukan oleh perawat atau tenaga kesehatan


lain. Peran perawat dalam hal ini dimulai dengan melakukan
pengkajian untuk menentukan bagian sendi yang memerlukan
latihan dan frekuensi latihan yang dipelukan. Latihan pasif
dapat dilakukan sedini mungkin pada pasien stroke walaupun
pasien belum sadar. Latihan pasif pada ekstremitas atas dapat
dilakukan sebagai berikut :
a. Gerakan menekuk dan meluruskan sendi
b. Gerakan menekuk dan meluruskan siku
c. Gerakan memutar pergelangan
d. Gerakan menekuk dan meluruskan pergelangan tangan
e. Gerakan memutar jari
f. Gerakan menekuk dan meluruskan jari tangan

Latihan harus segera dihentikan dan berikan kesempatan pada


peserta latihan untuk beristirahat apabila terjadi spasme otot
yang dimanifestasikan dengan kontraksi otot yang tiba-tiba dan
terus menerus Dosis dan intensitas latihan ROM yang
dianjurkan menunjukkan hasil cukup bervariasi. Secara teori
tidak disebutkan secara spesifik mengenai dosis dan intensitas
latihan ROM tersebut, namun dari berbagai literature dan hasil
penelitian tentang manfaat latihan ROM dapat dijadikan
sebagai rujukan dalam menerapkan latihan ROM sebagai salah
satu intervensi. Smeltzer & bare (2008) menyebutkan bahwa
latihan ROM dapat dilakukan 4 sampai 5 kali sehari, dengan

14
waktu 10 menit untuk setiap latihan, sedangkan Perry & Poter
(2006) menganjurkan untuk melakukan latihan ROM minimal 2
kali/hari. Tseng, et al. (2007) dalam penelitiannya menyebutkan
bahwa dosis latihan yang dipergunakan yaitu 2 kali sehari, 6
hari dalam seminggu selama 4 minggu dengan intensitas
masing-masing 5 gerakan untuk tiap sendi. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan bahwa responden penelitian yang
melakukan latihan tersebut mengalami perbaikan pada fungsi
aktivitas, persepsi nyeri, rentang gerakan sendi dan gejala
depresi. Pada penelitian yang dilakukan Bandy, Irion and
Bringgler (1999)

G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Aspek biologis
1) Usia : Faktor usia berpengaruh terhadap kemampuan
melakukan aktifitas, terkait dengan kekuatan muskuloskeletal.
Hal yang perlu dikaji diantaranya adalah postur tubuh yang
sesuai dengan tahap pekembangan individu.
2) Riwayat keperawatan : Hal yang perlu dikaji diantaranya
adalah riwayat adanya gangguan pada sistem
muskuloskeletal, ketergantungan terhadap orang lain dalam
melakukan aktivitas, jenis latihan atau olahraga yang sering
dilakukan klien dan lain-lain.
3) Pemeriksaan fisik, meliputi rentang gerak, kekuatan otot, sikap
tubuh, dan dampak imobilisasi terhadap sistem tubuh.
b. Aspek psikologis
Aspek psikologis yang perlu dikaji di antaranya adalah bagaimana
respons psikologis klien terhadap masalah gangguan aktivitas
yang dialaminya, mekanisme koping yang digunakan klien dalam
menghadapi gangguan aktivitas dan lain-lain.
c. Aspek sosial kultural
Pengkajian pada aspek sosial kultural ini dilakukan untuk
mengidentifikasi dampak yang terjadi akibat gangguan aktifitas

15
yang dialami klien terhadap kehidupan sosialnya, misalnya
bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan, peran diri baik
dirumah, kantor maupun sosial dan lain-lain
d. Aspek spiritual
Hal yang perlu dikaji pada aspek ini adalah bagaimana keyakinan
dan nilai yang dianut klien dengan kondisi kesehatan yang
dialaminya sekarang, seperti apakah klien menunjukan
keputusasaannya? Bagaimana pelaksanaan ibadah klien dengan
keterbatasan kemampuan fisiknya? Dan lain-lain (Asmadi, 2008).
e. Kemunduran musculoskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system
musculoskeletal adalah penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan
ketahanan otot; rentang gerak sendi; dan kekuatan skeletal.
Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk
memantau perubahan dan keefektifan intervensi.
f. Kemunduran kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung
atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas.
Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada
pembentukan trombosis. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi
eritema, edema, nyeri tekan dan tanda homans positif. Intoleransi
ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak
seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan
darah, pucat, tremor tangan, berkeringat, kesulitandalam
mengikuti perintah dan sinkop
g. Kemunduran Respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala
atelektasis dan pneumonia. Tanda-tanda awal meliputi
peningkatan temperature dan denyut jantung. Perubahan-
perubahan dalam pergerakan dada, perkusi, bunyi napas, dan gas
arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi
yang terjadi.
h. Perubahan-perubahan integument

16
Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah
reaksi inflamasi. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit
sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan
sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam
waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan
i. Perubahan-perubahan fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-
tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen
bagian bawah, dan batas kandung kemih yang dapat diraba.
Gejala-gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan
ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada
abdomen bagian bawah
j. Perubahan-perubahan Gastrointestinal
Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman
pada abdomen bagian bawah, rasa penuh, tekanan.
Pengosonganh rectum yang tidak sempurna, anoreksia, mual
gelisah, depresi mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala.
k. Faktor-faktor lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk
intervensi. Di dalam rumah, kamar mandi tanpa pegangan, karpet
yang lepas, penerangan yang tidak adekuat, tangga yang tinggi,
lantai licin, dan tempat duduk toilet yang rendah dapat
menurunkan mobilitas klien. Hambatan-hambatan institusional
terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang, tempat
tidudan posisi yang tinggi, dan cairan pada lantai. Identifikasi dan
penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat
meningkatakan mobilitas

Pengkajian mobilisasi klien berfokus pada rentang gerak, gaya


berjalan, latihan, dan toleransi aktivitas, serta kesejajaran tubuh.

a. Rentang Gerak

17
Rentang gerak merupakan jumlah maksimum gerakan yang
mungkin dilakukan sendi pada salah satu dari tiga potongan
tubuh: sagital, frontal, dan transversal. Potongan sagital adalah
garis yang melewati tubuh dari depan ke belakang, membagi
tubuh menjadi bagian kiri dan kanan. Potongan frontal melewati
tubuh dari sisi ke sisi dan membagi tubuh menjadi bagian depan
dan belakang. Potongan transversal adalah garis horizontal yang
membagi tubuh bagian atas dan bawah.

Mobilisasi sendi di setiap potongan dibatasi oleh ligament, otot,


dan konstruksi sendi. Beberapa gerakkan sendi adalah spesifik
untuk setiap potongan. Pada potongan sagital, gerakkannya
adalah fleksi dan ekstensi (jari- jari tangan dan siku) dan
hiperekstensi (pinggul). Pada potongan frontal, gerakkanya adalah
abduksi dan adduksi (lengan dan tungkai) dan eversi dan inverse
(kaki). Pada potongan transversal, gerakkannya adalah pronasi
dan supinasi (tangan), rotasi internal dan eksternal (lutut), dan
dorsifleksi dan plantarfleksi (kaki).

Ketika mengkaji rentang gerak, perawat menanyakan pertanyaan


dan mengobservasi dalam mengumpulkan data tentang kekuatan
sendi, pembengkakan, nyeri, keterbatasan gerak, dan gerakkan
yang tidak sama. Klien yang memliki keterbatasan mobilisasi
sendi karena penyakit, ketidakmampuan, atau trauma
membutuhkan latihan sendi untuk mengurangi bahaya
imobilisasi. Latihan tersebut di lakukan oleh perawat yaitu latihan
rentang gerak pasif. Perawat menggunakan setiap sendi yang
sakit melalui rentang gerak penuh.

b. Gaya Berjalan

Istilah gaya berjalan digunakan untuk menggambarkan cara


utama atau gaya ketika berjalan. Siklus gaya berjalan di mulai
dengan tumit mengangkat satu tungkai dan berlanjut dengan
tumit mengangkat tungkai yang sama.interval ini sama dengan

18
100% siklus gaya berjalan dan berlangsung 1 detik untuk
kenyamanan berjalan.

Dengan mengkaji gaya berjalan klien memungkinkan perawat


untuk membuat kesimpulan tentang keseimbangan, postur,
keamanan, dan kemampuan berjalan tanpa bantuan. Mekanika
gaya berjalan manusia mengikuti kesesuaian sistem skeletal,
saraf, dan otot dari tubuh manusia.

c. Latihan dan Toleransi Aktivitas

Latihan adalah aktivitas fisik untuk membuat kondisi tubuh,


meningkatkan kesehatan, dan mempertahankan kesehatan
jasmani. Hal ini juga digunakan sebagai terapi memmbetulkan
deformitas atau mengembalikan seluruh tubuh ke status
kesehatan maksimal. Jika seseorang latihan, maka akan terjadi
perubahn fisologis dalam sistem tubuh.

Pengkajian tingkat energi klien meliputi pengaruh fisiologis dari


latihan dan toleransi aktivitas. Toleransi aktivitas adalah jenis dan
jumlah latihan atau kerja yang dapat dilakukan seseorang.
Pengkajian toleransi aktivitas diperlukan jika ada perencanaan
aktivitas seperti jalan, latihan rentang gerak, atau aktivitas sehari-
hari dengan penyakit akut atau kronik. Selain itu, pengetahuan
toleransi aktivitas klien dibutuhkan untuk merencanakan terapi
keperawatan lainnya.Pengkajian toleransi aktivitas meliputi data
fisiologis, emosional, dan tingkat perkembangan.

2. DIAGNOSA
a. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemipearese
atau hemiplagia, kelemahan neuromoskuler pada ekstremitas
b. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan
imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat
c. Kurangnya pemenuhan perawatan diri berhubungan diri
hemiparese/hemiplegi

19
d. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah
baring lama
e. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan
dengan penurunan refleks batuk dan menelan
f. Gangguan eliminasi urin (inkontinensia urin) berhubungan
dengan lesi pada upper motor neuron
g. ganngguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik,
psikososial, perseptual kognitif
h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
yang diterima pasien tentang penyakit yang dialami oleh
pasien

3. INTERVENSI
a. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemipearese
atau hemiplagia, kelemahan neuromoskuler pada ekstremitas
Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama ..x
24 jam mobilitas fisik teratasi, dengan kriteria hasil : klien
dapat mempertahan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi
bagian tubuh yang terkena atau kompensasi.
Intervensi :
1) Kaji kemampuan secar fungsional dengan cara yang
teratur klasifikasikan melalui skala 0-4. Rasional : untuk
mengidentifikasikan kelemahan dan dapat memberikan
informasi mengenai pemulihan.
2) Ubah posisi setiap 2 jam dan sebagainya jika
memungkinkan bisa lebih sering.
Rasional : menurunkan terjadinya terauma atau iskemia
jaringan.
3) Lakukan gerakan ROM aktif dan pasif pada semua
ekstremitas. Rasional : meminimalkan atropi otot,
meningkatkan sirkulasi dan mencegah terjadinya
kontraktur.
4) Bantu mengembangkan keseimbangan duduk seoerti
meninggikan bagian kepala tempat tidur, bantu untuk

20
duduk di sisi tempat tidur. Rasional : membantu melatih
kembali jaras saraf,meningkatkan respon proprioseptik dan
motorik.
5) Konsultasi dengan ahli fisiotrapi. Rasional : program yang
khusus dapat di kembangkan untuk menemukan
kebutuhan klien.

b. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubungan dengan


imobilisasi, intake cairan yang tidak adekuat
Tujuan : klien tidak mengalami konstipasi
Kriteria hasil : -klien dapat defekasi secara spontan dan lancar
tanpa menggunakan obat
- Konsistensi feses lunak
- Tidak teraba masa pada kolon (scibala)
- Bising usus normal ( 15-30 x/menit)

Rencana tindakan :

1) Berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab


konstipasi
Rasional : klien dan keluarga akan mengerti tentang penyebab
konstipasi
2) Auskultasi bising usus
Rasional : bising usus menandakan sifat aktivitas peristaltik
3) Anjurkan pada klien untuk makan makanan yang mengandung
serat
Rasional : diet seimbang tinggi kandungan serat merangsang
peristaltik usus dan eliminasi reguler
4) Berikan intake cairan yang cukup (2 liter/hari) jika tidak ada
kontra indikasi
Rasional : makanan cairan adekuat membantu
mempertahankan konsistensi feses yang sesuai pada usus dan
membantu eliminasi reguler
5) Lakukan mobilisasi sesuai dengan keadaan klien
Rasional : aktivitas reguler membantu eliminasi dengan
memperbaiki tonus otot abdomen dan merangsang nafsu
makan dan peristaltik
6) Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian lunak feses
(laxatif,supositoria,enema)

21
Rasional : lunak feses meningkatkan efisiensi pembasahan air
susu,yangmelunakan feses dan membantu eleminasi

c. Kurangnya pemenuhan perawatan diri berhubungan diri


hemiparese/hemiplegi

Tujuan : kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi

Kriteria hasil : - klien dapat melakukan aktivitas perawatan


diri sesuai dengan kemampuan

Pasien

- Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk


memberikan bantuan sesuai kebutuhan

Rencana tindakan :

1) Tentukan kemampuan dan tingkat kekurangan dalam


melakukan perawatan diri
Rasional : membantu dalam mengantisipasi/merencanakan
pemenuhan kebutuhan secara individual.
2) Beri motivasi kepada klien untuk tetap melakukan aktivitas
dan beri bantuan dengan sikap sungguh.
Rasional : meningkatkan harga diri dan semangat untuk
berusaha terus menerus
3) Hindari melakukan sesuatu untuk klien yang dapat dilakukan
klien sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Rasional : klien mungkin menjadi sangat ketakutan dan sangat
tergantung dan meskipun bantuan yang diberikan bermanfaat
dalam mencegah frustasi adalah penting bagi klien untuk
melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya untuk
mempertahankan harga diri dan meningkatkan pemulihan.
4) Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang
dilakukannya atau keberhasilannya.
Rasional : meningkatkan perasaan makna diri dan
kemandirian serta mendorong klien untuk berusaha secara
kontinyu
5) Kolaborasi dengan ahli fisioterapi/okupasi

22
Rasional : memberikan bantuan yang mantap untuk
mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi
kebutuhan penyokong khusus

d. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah


baring lama
Tujuan : klien mampu mempertahankan keutuhan kulit
Kriteria hasil :
- Klien mampu berpartisipasi terhadap pencegahan luka
- Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka
- Tidak ada tanda-tanda kemerahan atu luka

Rencana tindakan

1) Anjurkan untuk melakukan latihan ROM (Range Of Motion) dan


mobilisasi jika mungkin
Rasional : meningkatkan aliran darah kesemua daerah
2) Rubah posisi tiap 2 jam
Rasional : menghindari tekanan yang berlebihan dan
meningkatkan aliran darah
3) Gunakan bantal atau pengganjal yang lunak dibawah daerah-
daerah yang menonjol
Rasional : menghindari tekanan yang berlebih pada daerah
yang menonjol
4) Lakukan massage pada daerah yang menonjol yang baru
mengalami tekanan pada waktu berubah posisi
Rasional : menghindari kerusakan-kerusakan kapiler
5) Obeservasi terhadap eritema dan kepucatan dan palpasi area
sekitar terhadap kehangatan dan pelunakan jaringan tiap
merubah posisi
Rasional : hangat dan pelukan adalah tanda kerusakan
jaringan
6) Jaga kbersihan kulit dan seminimal mungkin hindari trauma,
panas terhadap kulit
Rasional : mempertahankan keutuhan kulit

e. Resiko ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan


dengan penurunan refleks batuk dan menelan
Tujuan : jalan nafas tetap efektif
Kriteria hasil :
- Klien tidak sesak nafas

23
- Tidak terdapat ronchi, weezing, atau pun suara nafas
tambahan
- Tidak retraksi otot bantu nafas
- Pernafasan teratur, RR 16-20x/menit

Rencana tindakan

1) Berikan penjelas kepada klien dan keluarga tentang sebab dan


akibat ketidak efektifan jalan nafas
Rasional : klien dan keluarga mau berpartisipasi dalam
mencegah terjadinya ketidak efektifan bersihan jalan nafas
2) Rubah posisi tiap 2 jam sekali
Rasional : perunbahan posisi dapat melepaskan secret dari
saluran pernapasan
3) Berikan intake yang adekuat (2000 cc/hari)
Rasional : air yang cukup untuk mengencerkan secret
4) Observasi pola dan frekuensi nafas
Rasional : mengetahui ada tidaknya ketidakefektifan jalan
napas
5) Auskultasi suara nafas
Rasional : untuk mengetahui kelainan suara nafas
6) Lakukan fisioterapi nafas sesuai dengan keadaan umum klien
Rasional : agar dapat melepaskan secret dan
mengembangkan paru-paru

f. Gangguan eliminasi urin (inkontinensia urin) berhubungan


dengan lesi pada upper motor neuron
Tujuan : klien mampu mengontrol eliminasi urinnya
Kriteriaa hasil :
- Klien akan melaporkan penurunan atau hilangnya
inkontinensia
- Tidak ada distensi bladder

Rencan tindakan :

1) Identifikasi pola berkemih dan kembangkan jadwal berkemih


sering
Rasional : berkemih yang sering dapat mengurangi dorongan
dari distensi kandung kemih yang berlebih
2) Ajarkan untuk membatasi masukan cairan selama malam
Rasional : pembatasan cairan pada malam hari dapat
mencegah terjadinya enuresis

24
3) Ajarkan teknik untuk mencetuskan refleks berkemih
( ransangan kutaneus dengan penepukan suprapubik,
manuver regangan anal)
Rasional : melatih dan membantu pengosongan kandung
kemih
4) Bila masih terjadi inkontinensia, kurangi waktu antara
berkemih pada jadwal yang telah direncanakan
Resional : kapasitas kandung kemih mungkin tidak cukup
untuk menampung volume urine sehingga memerlukan untuk
lebih sering berkemih
5) Berikan penjelasan tentang pentingnya hidrasi optimal
(sedikitnya 2000 cc/hari bila tidak ada kontraindikasi)
Rasional : hidrasi optimal diperlukan untuk mencegah infeksi
saluran perkemihan dan batu ginjal.

g. Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik,


psikososial, perseptual kognitif
Tujuan : tidak terjadi gangguan harga diri
Kriteria hasil :
- Mau berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan
perubahan yang terjadi
- Mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi

Intervensi :

1) Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat


ketidakmampuan
Rasional : penentuan faktor-faktor secara individu membantu
dalam mengembangkan perencanaan asuhan/pilihan intervensi
2) Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang
baik
Rasional : membantu peningkatan rasa harga diri dan control
atas salah satu bagian kehidupan
3) Berikan dukungan terhadap perilaku/usaha seperti peningkatan
minat/partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi
Rasional : mengisyaratkan kemampuan adaptasi untuk
mengubah dan memahami tentang peran diri sendiri dalam
kehidupan selanjutnya
4) Dorong orang terdekat agar memberi kesempatan untuk
melakukan sebanyak mungkin kesempatan pada dirinya sendiri

25
Rasional : membangun kembali rasa kemandirian dan
menerima kebanggaan diri dan meningkatkan proses
rehabilitasi
5) Rujuk pada evaluasi neuropsikologis dan/atau konseling sesuai
kebutuhan
Rasional : dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan
peran yang perlu untuk perasaan/merasa menjadi orang yang
produktif

h. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi


yang diterima pasien tentang penyakit yang dialami oleh
pasien
Tujuan : pasien mengerti tentang penyakit yang diderita
Kriteria hasil :
- Pasien dan keluarga tahu tentang penyakit yang diderita
- Pasien dan keluarga mau berperan serta dalam tindakan
keperawatan

Intervensi

1) Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga


Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki
pasien dan keluarga dan kebenaran informasi yang didapat
2) Beri penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
yang diderita
Rasional : penjelasan tentang kondisi yang sedang dialami
dapat membantu menambah wawasan pasien dan keluarga
3) Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang setiap tindakan
keperawatan yang akan dilakukan
Rasional : agar pasien dan keluarga mengetahui tujuan dari
setiap tindakan keperawatan yang dilakukan

4. IMPLEMENTASI

Implementasi Kepeawatan adalah Pengolahan dan perwujutan dari recana


keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.

Yang perlu diperhatikan pada pelaksanaan tindakan keperawatan yaitu :

26
a. Tepat waktu.
b. Pelaksaan tindakan keperawatan sesuai dengan program terapi.
c. Dalam pelaksanaan tindakan privasi pasien harus dijaga.

5. EVALUASI

Evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan


pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan dengan cara
berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lainnya.

Evaluasi atau penilaian dapat dibagi menjaji dua yaitu evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif. Evaluasi formatif adalah yang dilakukan setiap kali melakukan
tindakan keperawatan sedangkan Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan
setelah semua tindakan yang dilakukan dengan membandingkan kreteria hasil yang
telah ditetapkan dengan respon atau tanda dan gejala yang ditunjukkan pasien.

Hasil Evaluasi yang mungkin didapat adalah :

a. Tujuan tercapai seluruhnya, yaitu jika pasien menunjukkan tanda atau gejala
sesuai dengan kreteria hasil yang di tetapkan.
b. Tujuan sebagian yaitu jika pasien menunjukan tanda dan gejala sebagian dari
kreteria hasil yang sudah ditetapkan.
c. Tujuan tidak tercapai, jika pasien tadak menunjukan tanda dan gejala sesuai
dengan kreteria hasil yang sudah ditetapkan.
BAB III

TINJAUAN KASUS & PEMBAHASAN

KASUS PEMICU

Nama : Ny. A

Umur: 57 tahun

Diagnosa medis : Stroke Iskemik

27
Riwayat sebelumnya : klien menderita DM sejak 7 tahun yang lalu dan
hipertensi 2 tahun terakhir.

Data fokus

Data subjektif Data objektif


Klien mengatakan : - GCS : E4VDisatriaM6
- Tangan dan kaki tidak bisa di
mengapa dirinya seperti sekarang
gerakkan
Badan bagian kanannya terasa
- Mulut mencong ke kanan
berat - TD : 160/100mmHg
- N : 90x/mnt
beberapa kali ngompol, tidak
- RR : 20x/mnt
terasa kalau mau BAK - S : 37,50C
- Terlihat air liur mengalir dari
kenapa saya begini, kapan bisa
sudut mulut
sembuh, duh gusti... dosa apa saya
- Saat diminta menghisap dan
ini, salah apa saya ini... kok saya
menelan minuman, pasien
jadi begini
tampak batuk-batuk tidak
susah menghisap minum
terlihat gerakan (esofagus)
Mengompol, tidak terasa kalau
saat diminta menelan
mau BAK - Kekuatan otot
1111 1111
kenapa saya begini, kapan bisa
5555 5555
sembuhnya..duh gusti dosa apa - Klien terlihat menangi
saya ini.. Salah apa saya ini Kok
saya jadi begini?

ANALISA DATA

Data Etiologi Problem


Ds : pasien Kelemahan otot Gangguan mobilisasi
mengatakan
badan bagian kanan

28
terasa berat
Do :
- tangan dan kaki
tidak bisa
digerakkan
- GCS : E4 Vdisartria M6
- Kekuatan otot
1111 5555
1111 5555
- Mulut mencong
kekanan
- ST SCAN
didapatkan
iskemik area
frontal dan
parietal hemisfer
kiri
- Foto thorax :
hipertropi
ventrikel
- CTR : 60%
- GDS : 378 mg/dl
- Trigliserida : 305
mg/dl

Atrofi otot perkemihan Inkontensia urine

Ds : pasien
mengatakan sering
mengompol dan tidak
terasa jika ia BAK.
Ketidaktahuan Ansietas
Do : -
informasi tentang
penyakit
Ds : pasien
mengatakan kenapa
saya begini, kapan bisa
sembuhnya..duh gusti

29
dosa apa saya ini..
Salah apa saya ini. Kok
saya jadi begini?
Do : pasien terlihat
menangis

DIAGNOSA 1

Gangguan mobilisasi berhubungan dengan kelemahan otot ditandai


dengan

Ds : pasien mengatakan

badan bagian kanan terasa berat

Do :

- tangan dan kaki tidak bisa digerakkan


- GCS : E4 Vdisartria M6
- Kekuatan otot
1111 5555
1111 5555
- Mulut mencong kekanan
- ST SCAN didapatkan iskemik area frontal dan parietal hemisfer kiri
- Foto thorax : hipertropi ventrikel
- CTR : 60%
- GDS : 378 mg/dl
- Trigliserida : 305 mg/dl

DIAGNOSA 2

A Gangguan pola eliminasi urine : inkontinensia


1 Definisi : kondisi dimana seseorang tidak mampu mengendalikan
pengeluaran urine .
2 Kemungkinan berhubungan dengan :
a Ganngguan neuromuskuler
b Spasme bladder
c Trauma pelvic
d Infeksi saluran kemih
e Trauma medulla spinalis
3 Kemungkinan data yang ditemukan :
a Inkontinensia
b Keinginan berkemih yang segera
c Sering ke toilet

30
d Menghindari minum
e Spasme bladder
f Setiap berkemih kurang gizi dari 100ml atau lebih dari 550.

Diagnosa 3

Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan informasi tentang penyakit


ditandai dengan

Ds : pasien mengatakan kenapa saya begini, kapan bisa sembuhnya


duh gusti dosa apa saya ini. Salah apa saya ini. Kok saya jadi begini

Do: pasien terlihat menangis

PERENCANAAN:

Dx 1 : Gangguan mobilisasi berhubungan dengan kelemahan otot

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada Ny. A selama


...x24 jam diharapkan gangguan mobilisasi dapat teratasi

Kriteria Hasil :

- Badan bagian kanan tidak terasa berat lagi


- GCS : E4V5M6
- Tangan dan kaki dapat digerakkan
- Kekuatan otot
5555 5555
5555 5555
- Mulut tidak mencong kanan

Intervensi :

1 Kaji kekuatan otot pasien

31
Rasional : untuk mengetahui tingkat kemampuan otot pasien
2 Kaji GCS pasien
Rasional : untuk mengetahui kesadaran, verbal, dan motorik pasien
3 Ajarkan latihan ROM
Rasional : untuk meminimalkan atropi otot, meningkatkan sirkulasi
dan mencegah terjadinya kontraktur
4 Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat trental 250 mg:
2xsehari (06.00-18.00), captopril 25 mg: 2x1 tab, insulin 3x10 ui

Dx 2: Gangguan pola eliminasi urine berhubungan dengan inkontenEnsia

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada Ny. A selama... x


24jam diharapkan gangguan pola eliminasi urine dapat teratasi

Kriteria Hasil :

- Klien dapat mengontrol pengeluaran urine setiap 4 jam


- Tidak ada tanda-tanda retensi dan inkontinensia urine.
- Klien berkemih dalam keadaan rileks.

Intervensi :

- Monitor keadaan bladder setiap 2 jam


- Tingkatkan aktivitas dengan kolaborasi dokter /fisioterapi
- Kolaborasi dalam bladder training
- Hindari faktor pencetus inkontinensia urine seperti cemas
- Kolaborasi dengan dokter dalam pengobatan dan katerisasi
- Jelaskan tentang : 1. Pengobatan
2. Kateter
3. Penyebab
4. Tindakan lainnya

Dx 3: Ansietas berhubungan dengan ketidaktahuan informasi tentang


penyakit.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kepada Ny. A selama... x


24jam diharapkan gangguan pola eliminasi urine dapat teratasi

Kriteria hasil : pasien tidak mengeluh tentang penyakitnya sekarang

32
Intervensi :

1 kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya


r : mempermudah dalam memberikan penjelasan pada klien
2 jelaskan tentang proses penyakit
R : meningkatkan pengethuan, mengurangi cemas
3 jelaskan tentang program pengobatan alternatif
R : mempermudah intervensi
4 diikuti gaya hdup yang mungkin dicegah
R : untuk mencegah keparahan penyakit
5 diskusi tentang terapi
R : memberi gambaran tentang pilihan terapi yang bisa digunakan

33
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
a. Kehilangan Fungsi Motorik Pergerakan tubuh dihasilkan melalui
kerjasama yang komplek antara otak, tulang belakang dan syaraf
perifer. Motor area pada kortek serebri, basal ganglia dan serebelum
mengawali setiap gerakan volunter dengan mengirimkan pesan ke
kortek spinal. Kondisi stroke menghambat komponen system syaraf
pusat dalam mekanisme penghantaran impuls sehingga
menghasilkan efek kelemahan ringan sampai berat pada sisi
kontralateral yang menyebabkan keterbatasan dalam pergerakan.
Stroke yang memicu gangguan mobilisasi di karena adanya
Trombosit ( bekuan darah di dalam pembuluh darah otak dan leher),
Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain yang dibawah
ke otak dari bagian tubuh yang lain), Iskemia (penurunan aliran
darah ke otak), Hemoragi cerebral (pecahnya pembuluh darah
serebral dengan perdarahan ke dalam jaringan otak atau ruang
sekitar otak). Hambatan mobilisasi menyebabkan seseorang
mengalami deficit perewatan diri, kerusan resiko integritas kulit,
gangguan eleminasi karena tirah baring menyebabkan atrofi pada
otot-otot perkemihan. Oleh karena itulah dibutuhkan peran perawat

34
agar tidak terjadi komplikasi pada system lainnya, terutama dalam
hal ini ada melatih mobilisasi pasien, seperti latihan ROM.

DAFTAR PUSTAKA

Astrid. (2008). Tesis : Pengaruh latihan range of motion (rom) terhadap


kekuatan otot, luas gerak sendi dan kemampuan fungsional pasien
stroke di RS Sint Carolus Jakarta. Depok : Program Studi Pasca
Sarjana FIK UI.Tidak dipublikasikan.

Bagg, S., Pombo, A.P. & Hopman, W. (2002). Effect of age functional
outcomeafter stroke rehabilitation. American Stroke Association, 33 ;
179-185

Irfan, M. (2010). Fisoterapi bagi insan stroke. Yogyakarta : Graha Ilmu.

35
Kozier, B., et al. (2008). Kozier and Erbs Fundamentals of nursing,
concept,process and practic, eighth edtion. New Jersey : Pearson
Education.

Martini,S. (2002). Gangguan kognitif pasca stroke dan faktor resikonya.


Berita
Kedokteran Masyarakat XVIII (4) 2002 hal.195.

Tseng, C.-N., Chen, C. C.-H., Wu, S.-C., & Lin, L.-C. (2007). Effects of a
rangeof-
motion exercise programme. Journal of Advanced Nursing, 57(2),
181-191.

36